Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label fiqih sholat. Show all posts
Showing posts with label fiqih sholat. Show all posts

Sunday, January 21, 2024

Cara Shalat Rasulullah ﷺ

Cara Shalat Rasulullah ﷺ
Bismillah...

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اعْتَدَلَ قَائِمًا وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ ثُمَّ اعْتَدَلَ فَلَمْ يُصَوِّبْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُقْنِعْ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا ثُمَّ أَهْوَى إِلَى الْأَرْضِ سَاجِدًا ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ جَافَى عَضُدَيْهِ عَنْ إِبْطَيْهِ وَفَتَخَ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَيْهَا ثُمَّ اعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا ثُمَّ أَهْوَى سَاجِدًا ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ ثَنَى رِجْلَهُ وَقَعَدَ وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ ثُمَّ نَهَضَ ثُمَّ صَنَعَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا قَامَ مِنْ السَّجْدَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا صَنَعَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ ثُمَّ صَنَعَ كَذَلِكَ حَتَّى كَانَتْ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا صَلَاتُهُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Rasulullah ﷺ jika berdiri shalat selalu tegak dan berimbang lalu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya. Jika beliau ingin rukuk, maka beliau kembali mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya dan mengucapkan ALLAHU AKBAR. Lalu rukuk dan berimbang, tidak mengangkat atau menundukkan kepalanya, lalu meletakkan kedua tangannya pada lutut..

Setelah itu beliau mengucapkan SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH seraya mengangkat kedua tangannya secara berimbang hingga setiap tulang kembali ke tempatnya. Kemudian beliau sujud dengan diiringi ucapan ALLAHU AKBAR, beliau merenggangkan kedua tangannya menjauh dari ketiak dan melenturkan jari-jari kakinya. Beliau lalu melipat kaki kirinya dan duduk di atasnya secara berimbang hingga setiap tulang kembali ke tempatnya. Setelah itu beliau kembali sujud seraya mengucapkan ALLAHU AKBAR, lalu melipat kaki kirinya dan duduk dengan seimbang hingga setiap tulang kembali ke tempatnya. Setelah itu beliau bangkit dan melakukan seperti itu pada rakaat yang kedua..

Hingga ketika beliau bangkit dari dua sujud, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahu sebagimana ketika membuka shalat (Takbiratul Ihram). Beliau lalu melakukan seperti itu hingga rakaat yang terakhir, beliau melipat kaki kirinya dan duduk Tawaruk kemudian mengucapkan salam."

Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan shahih."

(HR. Imam Tirmidzi no. 280 Kitab Ash Shalah)

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

"Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur'an kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan Thuma'ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar Thuma'ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan Thuma'ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh shalat (rakaat) mu".

(HR. Shahih Bukhari no.715 )

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, December 19, 2023

Minimal 17 Kali..

Sehari minimal baca Al Fatihah 17 kali, disunnahkan mengucap aamiin
Bismillah...

Sehari minimal anda membaca Al Fatihah sebanyak 17 kali, dan disunnahkan mengucapkan aamiin, yang artinya terima dan ijabahilah.

Orang yang tidak membaca al fatihah sebanyak itu maka bisa jadi ia sedang haid atau nifas.

Jadi walau sedang pilpres tidak usah takut mengucapkan aamiin, dan tidak boleh diganti dengan ijabahilah, atau kabulkanlah.

Aamiin adalah ibadah, so, jangan diganti dengan lainnya, bisa rusak solat anda.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya bersamaan dengan ucapan âmîn para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhâri no. 111 dan Muslim 4/128)

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan âmîn dan malaikat di langit juga mengucapkan âmîn lalu saling berbarengan maka diampuni dosanya yang telah lalu. [Muttafaqun ‘alaihi].

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الْيَهُوْدَ قَوْمٌ حَسَدٌ وَ إِنَّهُمْ لاَ يَحْسِدُوْنَنَا عَلَى شَيْءٍ كَمَا يَحْسِدُوْنَنَا عَلَى السَّلاَمِ وَ عَلَى (آمِيْنَ )

Sesungguhnya yahudi adalah kaum yang penuh hasad dan mereka tidak hasad kepada kami tentang sesuatu yang melebihi hasadnya mereka kepada kita dalam salam dan ucapan âmîn.

(HR Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1/73/2, Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah 2/312)

Semoga mencerahkan, ijabahilah ya Allah.


https://www.facebook.com/100044302190144/posts/pfbid0fGyA6LTu1JV2gUFYDmW4CQNzmgpez8tRD2hvnduc7KPc4bmrfLpWHFjHK6Rim28sl/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, November 15, 2023

Keutamaan Menyambung dan Mengisi Shaff Dalam Shalat Berjamaah

Keutamaan Menyambung dan Mengisi Shaff Dalam Shalat Berjamaah
Bismillah...

Rasullullah ﷺ bersabda,

أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ وَ حَاذُوْا بَيْنَ اْلمـَنَاكِبِ وَ سُدُّوا اْلخَلَلَ وِ لِيْنُوْا بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ وَ لَا تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَ مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَ مَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ

Tegakkan shaff-shaff, sejajarkan pundak-pundak, tutuplah celah-celah, lunakkanlah (bahu kalian) di antara tangan-tangan saudara kalian dan janganlah engkau membiarkan celah-celah untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shaff maka Allah akan menyambung (rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskan shaff maka Allah juga akan memutuskan (rahmat-Nya)”.

(HR Imam Abu Daud no. 666 shahih menurut Muhammad Nashiruddin al-Albani)

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya selalu mendo'akan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaf yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allah satu tingkat".

(HR. Imam Ibnu Mâjah no. 995; shahih menurut Muhammad Nashiruddin al-Albani)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, October 19, 2023

Fiqih Ringkas Seputar Qunut Nazilah

Fiqih Ringkas Seputar Qunut Nazilah
Bismillah...

Diringkas dari tulisan sahabat kami Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman sebagaimana dalam link https://artikel.alfurqongresik.com/qunut-nazilah-apa-dan-bagaImana

Berikut panduan praktis tentang fiqih Nazilah yang perlu diketahui, lebih-lebih saat kondisi sekarang ini.

Defenisi

Qunut Nazilah adalah doa karena ada suatu peristiwa yang menimpa kaum muslimin, untuk menghilangkan gangguan musuh, menghilangkan bala, dan sebagainya.

Syariat Qunut Nazilah

Qunut nawazil disyariatkan pada seluruh shalat lima waktu. Di antara dalil yang menerangkan hal tersebut ialah hadits Anas bin Malik berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلًا، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللهَ وَرَسُولَهُ

Nabi pernah qunut selama sebulan mendoakan laknat bagi suku Ri‘l, Dzakwan, dan Ushaiyah karena perbuatan mereka yang memaksiati Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari: 3170 dan Muslim: 677)

Juga hadits Ibnu Abbas dia berkata:

قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ، يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

Rasulullah صلى الله عليه وسلم qunut nazilah selama satu bulan. Beliau melakukannya berturut-turut pada shalat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh di setiap akhir shalat jika telah membaca ‘Sami‘allāhu liman hamidah’ dari rakaat yang terakhir mendoakan kejelekan untuk sekelompok kaum dari Bani Sulaim, Ri‘l, Dzakwan, dan Ushaiyah. Para Sahabat yang shalat di belakang beliau mengaminkan doanya.” (HR Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim. An-Nawawi berkata dalam al-Majmū‘ (3/482), “Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan atau shahih.” Ibnul Qayyim berkata, “Hadits ini shahih.” (Zādul-Ma‘ād 1/280) Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahīh Sunan Abū Dāwūd no. 1443).

Dua hadits diatas menunjukkan beberapa faedah dan pelajaran, diantaranya:

1. Disyariatkannya qunut ketika terjadi suatu peristiwa besar.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Qunut disunnahkan ketika terjadi suatu peristiwa besar. Inilah pendapat yang dipilih oleh fuqaha ahli hadits, dan qunut ini telah diriwayatkan dari para Khulafau Rasyidin.”  (Majmū‘ Fatāwá 23/108)

2. Qunut nazilah dikerjakan pada setiap shalat lima waktu.

Syaikhul-Islam berkata, “Disyariatkan qunut ketika terjadi suatu peristiwa mendoakan kebaikan untuk kaum muslimin dan mendoakan kejelekan untuk kaum kafir di dalam shalat Subuh dan shalat yang lain. Demikian contohnya telah datang dari Umar bin Khattab رضي الله عنه tatkala memerangi kaum Nasrani".

3. Tempat doa qunut adalah di rakaat terakhir shalat setelah bangkit dari rukuk.

Doa Qunut itu hendaknya ringan tidak panjang

Maka bagi yang mengerjakan qunut nazilah dalam shalat hendaknya membaca doa yang ringan tidak panjang, berdasarkan hadits Anas رضي الله عنه tatkala ditanya:

هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

Apakah Rasulullah qunut di shalat Subuh?” Anas  menjawab, “Ya, setelah rukuk, sebentar.” (Muslim 677)

Maka orang yang berbahagia adalah yang mengikuti sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dengan membaca doa qunut yang ringan tidak panjang.

Doa Qunut Nawazil tidak ada lafaz yang khusus

Akan tetapi, hendaknya berdoa ketika qunut nazilah dengan doa yang sesuai dengan kondisi.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Yang sunnah, hendaknya qunut ketika terjadi suatu peristiwa dengan doa yang sesuai kondisi kaum yang menyerang.”

(Majmū‘ Fatāwá 21/155)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0i2pRiEDtyZ5F4XBCRtGndg3WeK83DAi9Yzn8W761sfuCuhc6fAwzYXYnMMgwARh6l&id=100011809698436


Ditulis oleh : Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi


🌐 Website : abiubaidah.com

📱Facebook: FB.com/YusufAbuUbaidah

💻YouTube : bit.ly/youtubeYAU

📲Instagram: bit.ly/YAUig

🖥Twit: twitter.com/YusufAbuUbaidah

📟Telegram: t.me/ilmu20

📚 Ebook: abiubaidah.com/ebook

┈┉┅━━••••━━┅┉┈

Contoh dalam kasus Palestina, bisa dengan lafadz ini:

DOA QUNUT NAZILAH

اللّهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ

اللّهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ

اللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَمَنْ شَايَعَهُمْ وَأَعَانَهُمْ، يَا عَزِيْزُ يَا جَبَّارُ

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيِّ يُوْسُفَ

Imam mengeraskan suaranya ketika doa qunut nazilah

Berdasarkan hadits Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ، قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ، فَرُبَّمَا قَالَ: إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الوَلِيدَ بْنَ الوَلِيدِ، وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ ” يَجْهَرُ بِذَلِكَ

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bila hendak mendoakan kejelekan atau kebaikan pada seseorang, beliau qunut setelah rukuk. Beliau berkata setelah mengucapkan ‘Sami‘allāhu liman hamidah Rabbanā lakal-hamdu’: ‘Ya Allah, selamatkanlah al-Walid bin al-Walid, Salamah bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi‘ah. Ya Allah, kuatkanlah siksa-Mu kepada Mudhar, jadikanlah mereka mendapat musibah seperti keadaan pada tahun-tahun Nabi Yusuf.’ Beliau mengeraskan doanya.” (HR. Bukhari)

Al-Imam an-Nawawi berkata, “Hadits qunutnya Nabi صلى الله عليه وسلم ketika terbunuhnya para qurrā’ menunjukkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم mengeraskan bacaan qunutnya, dan yang shahih atau yang benar adalah dianjurkannya membaca doa qunut dengan jahar (mengeraskan bacaan).” (Al Majmu 3/482)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Sungguh menjadi jelas bagiku hikmah mengapa doa qunut tempatnya setelah i‘tidal padahal saat sujud adalah kondisi mustajab doa, karena yang diinginkan dari qunut nazilah adalah makmum dan imam bersama dalam doa dan dalam mengaminkan. Dari sinilah para ulama sepakat bahwa doa qunut itu dibaca jahar.” (Fat·hul-Bārī 2/570)

Makmum mengaminkan doanya imam

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang telah disebutkan di atas:

Rasulullah صلى الله عليه وسلم qunut nazilah selama satu bulan. Beliau melakukannya berturut-turut pada shalat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh di setiap akhir shalat jika telah membaca ‘Sami‘allāhu liman hamidah’ dari rakaat yang terakhir mendoakan kejelekan untuk sekelompok kaum dari Bani Sulaim, Ri‘l, Dzakwan, dan Ushaiyah, para sahabat yang shalat di belakang beliau mengaminkan doanya.” (HR Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim. An-Nawawi berkata dalam al-Majmū‘ (3/482), “Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan atau shahih.” Ibnul Qayyim berkata, “Hadits ini shahih.” (Zādul-Ma‘ād 1/280) Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahīh Sunan Abū Dāwūd no. 1443).

Dianjurkan mengangkat kedua tangan ketika doa qunut nazilah

Berdasarkan hadits Anas رضي الله عنه:

فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

Sungguh aku telah melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada shalat Subuh beliau mengangkat kedua tangannya mendoakan kejelekan bagi mereka.” (HR Ahmad. Al-Imam an-Nawawi berkata dalam al-Majmū‘ (3/479), “Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanadnya yang shahih atau hasan.”)

Tidak disyariatkan mengusap wajah selesai membaca doa qunut

Sebab, hadits yang menerangkan hal tersebut derajatnya lemah. Al-Imam al-Baihaqi berkata, “Adapun mengusapkan kedua tangan ke wajah ketika selesai berdoa maka hal itu suatu yang tidak aku ketahui dari kalangan salaf ketika berdoa qunut. Mengusap wajah ketika di dalam shalat adalah amalan yang tidak ditetapkan dari hadits yang shahih, tidak ada atsar yang kuat, dan tidak ada kiasnya. Maka dari itu, yang lebih utama adalah tidak mengerjakannya dan mencukupkan diri dengan apa yang dikerjakan oleh para salaf yang mereka mengangkat kedua tangan tanpa mengusapkannya ke wajah ketika shalat.” (Sunan al-Baihāqī 2/212)

Apakah qunut nawazil disyaratkan izin dari imam kaum muslimin?

Sebagian para ahli fikih mengatakan, “Qunut nawazil hanya dikerjakan oleh imam kaum muslimin, sedangkan umumnya manusia tidak boleh.” 

Pendapat ini perlu diteliti lagi, karena:

1. Hukum asalnya perbuatan yang dilakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم adalah umum untuk seluruh kaum muslimin, kecuali ada dalil yang jelas menunjukkan kekhususan.

2. Hadits Malik bin Huwairits رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” adalah hadits yang sangat jelas menunjukkan bahwa perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم di dalam shalat adalah untuk keumuman kaum muslimin.

3. Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, bukan imam kaum muslimin, bersamaan dengan itu beliau mengerjakan qunut nazilah sebagaimana dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَأُقَرِّبَنَّ صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْنُتُ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ، وَصَلَاةِ العِشَاءِ، وَصَلَاةِ الصُّبْحِ، بَعْدَ مَا يَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الكُفَّارَ

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, “Aku akan mencontohkan kepada kalian shalatnya Nabi صلى الله عليه وسلم.” Lantas Abu Hurairah رضي الله عنه qunut pada rakaat terakhir dari shalat Zuhur, Isya, Subuh setelah mengucapkan “Sami‘allāhu liman hamidah”, beliau mendoakan kaum mukminin dan melaknat kaum kafirin

(HR al-Bukhari: 797)

Maka selama pemerintah tidak melarang qunut nazilah maka hukum asalnya boleh, dan tidak harus menunggu izin pemerintah, apalagi jika sudah ada himbauan dari pemerintah dan ulama.

Demikian fiqih ringkas tentang fiqih nazilah. Semoga bermanfaat.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 2, 2023

Memejamkan Mata Ketika Shalat

Memejamkan Mata Ketika Shalat
Bismillah...

Pertanyaan:

Apakah hukumnya memejamkan mata saat sholat? 

Karena saat memejamkan mata rasanya lebih khusyuk?

Dari: Danya

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat sebuah hadis dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلا يَغْمِضْ عَيْنَيْهِ

Apabila kalian melakukan shalat makan janganlah memejamkan kedua mata kalian.”

Hadis ini diriwayatkan oleh at-Thabrani (w. 360 H) dalam Mu’jam as-Shagir no. 24. dari jalur Mus’ab bin Said, dari Musa bin A’yun, dari Laits bin Abi Salim.

Hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama pakar hadis, karena dua alasan,

1. Laits bin Abi Salim dinilai dhaif karena mukhtalat (hafalannya kacau), dan dia perawi mudallis (suka menutupi)

2. Mus’ab bin Said, dinilai sangat lemah oleh para ulama. Ibnu Adi mengatakan tentang perawi ini,

يحدث عن الثقات بالمناكير ويصحف عليهم ، والضعف على حديثه بيِّن

Beliau membawakan hadis-hadis munkar atas nama perawi terpercaya dan menyalahi ucapan mereka. Status dhaif hadisnya sangat jelas.”

(al-Fatawa al-Haditsiyah, al-Huwaini, 1/45 – 46).

Kesimpulannya, hadis diatas adalah hadis dhaif dan Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) menilainya munkar. Karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil.

Memejamkan Mata Ketika Shalat Hukumnya Makruh

Hanya saja para ulama menegaskan, memejamkan mata ketika shalat hukumnya makruh. Kecuali ketika hal ini dibutuhkan, karena pemandangan di sekitarnya sangat mengganggu konsentrasi shalatnya.

Mengenai alasan dihukumi makruh, ada beberapa keterangan dari para ulama, diantaranya,

a. Memejamkan mata ketika shalat, bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnul Qoyim (w. 751 H) mengatakan,

ولم يكن من هديه صلى الله عليه و سلم تغميض عينيه في الصلاة

Bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat.” (Zadul Ma’ad, 1/283)

b. Memejamkan mata ketika shalat, termasuk kebiasaan shalat orang yahudi. Dalam ar-Raudhul Murbi’ – kitab fikih madzhab hambali – pada penjelasan hal-hal yang makruh ketika shalat, dinyatakan,

ويكره أيضا تغميض عينيه لأنه فعل اليهود

Makruh memejamkan mata ketika shalat, karena ini termasuk perbuatan orang yahudi.” (ar-Raudhul Murbi’, 1/95).

c. Karena memejamkan mata bisa menyebabkan orang tertidur, sebagaimana keterangan dalam Manar as-Sabil (1/66).

Untuk itu, sebagian ulama membolehkan memejamkan mata ketika ada kebutuhan. Misalnya, dengan memejamkan mata, dia menjadi tidak terganggu dengan pemandangan di sekitarnya. Ibnul Qoyim mengatakan,

والصواب أن يقال : إن كان تفتيح العينين لا يخل بالخشوع فهو أفضل ، وإن كان يحول بينه وبين الخشوع لما في قبلته من الزخرفة والتزويق أو غيره مما يشوش عليه قلبه ، فهنالك لا يكره التغميض قطعًا ، والقول باستحبابه في هذا الحال أقربُ إلى أصول الشرع ومقاصده من القول بالكراهة

Kesimpulan yang benar, jika membuka mata (ketika shalat) tidak mengganggu kekhusyuan, maka ini yang lebih afdhal. Tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyuan, karena di arah kiblat ada gambar ornamen hiasan, atau pemandangan lainnya yang mengganggu konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini tidak makruh memejamkan mata. Dan pendapat yang menyatakan dianjurkan memejamkan mata karena banyak gangguan sekitar, ini lebih mendekati prinsip ajaran syariat dari pada pendapat yang memakruhkannya. (Zadul Ma’ad, 1/283).

Allahu a’lam


Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, August 12, 2023

Cara Takbiratul Ihram yang Benar

Cara Takbiratul Ihram yang Benar
Bismillah...

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Takbiratul ihram merupakan takbir yang pertama kali dibaca ketika shalat, sebagai pembuka shalat. Disebut takbiratul ihram yang artinya takbir yang mengharamkan, karena takbir ini menjadi batas diharamkannya melakukan hal lain yang tidak berkaitan dengan shalat.

Berikut rincian tata cara takbiratul ihram yang disimpulkan dari al-Quran dan sunah yang shahih,

1. Takbiratul Ihram merupakan rukun shalat. Harus dilakukan baik menjadi imam, makmum, maupun shalat sendirian.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Kunci shalat adalah bersuci, memulainya dengan takbir, dan mengakhirinya dengan salam.” (HR. Abu Daud 61, Turmudzi 3, & disahihkan al-Albani).

2. Yang dimaksud takbiratul ihram adalah ucapan: Allaahu akbar…, dan bukan mengangkat tangan ketika takbir. Sementara mengangkat tangan ketika takbiratul ihram hukumnya dianjurkan dan tidak wajib.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

رفع اليدين عند تكبيرة الإحرام، وعند الركوع، وعند الرفع منه، وعند القيام من التشهد الأول سنة

Mengangkat tangan ketika talbiratul ihram, ketika rukuk, ketika i’tidal, dan ketika bangkit ke rakaat ketiga dari tasyahud awal, hukumnya sunah.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin volume 13).

3. Keadaan telapak tangan ketika takbir:

a. Telapak tangan dibentangkan secara sempurna dan tidak menggenggam

b. Jari-jari telapak tangan tidak terlalu lebar dan tidak terlalu rapat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya dengan dibentangkan.” (HR. Abu Daud 753, Turmudzi 240, dan dishahihkan al-Albani)

c. Telapak tangan dihadapkan ke kiblat dan diangkat setinggi pundak atau telinga

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya setinggi pundak, ketika memulai shalat.” (HR. Bukhari 735 & Muslim 390).

Dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا كَبَّرَ، وَإِذَا رَكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ حَتَّى بَلَغَتَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ

Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya ketika takbiratul ihram, ketika rukuk, ketika i’tidal, hingga setinggi daun telinga.” (HR. Nasai 1024, dan yang lainnya).

4. Cara mengangkat tangan ketika takbir ada 3:

a. Mengangkat tangan sampai pundak lalu membaca takbir

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumma,

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا قام إلى الصلاة؛ رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه، ثم كبَّر

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga setinggi pundak, kemudian beliau bertakbir. (HR. Muslim 390).

b. Mengangkat tangan lalu sedekap bersamaan dengan takbir

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

رأيت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه حين يكبر

Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai takbiratul ihram ketika shalat, beliau mengangkat kedua tangannya  ketika takbir. (HR. Bukhari 738)

c. Membaca takbir, lalu mengangkat tangan

Dari Malik bin al-Huwairits,

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبر؛ رفع يديه

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika usai takbir, beliau mengangkat tangan” (HR. Muslim 391).

5. Takbiratul harus dilakukan dalam keadaan posisi tubuh tegak sempurna dan tidak boleh sambil condong mau rukuk. Karena syarat sah-nya takbiratul ihram adalah dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu.

6. Takbiratul ihram tidak disyaratkan harus dibarengkan dengan niat shalat. Menggabungkan dua hal ini adalah mustahil. Karena anggapan inilah, banyak orang yang ditimpa penyakit was-was ketika takbir, sehingga takbirnya dilakukan berulang-ulang.

Al-Kasani mengatakan,

إن تقديم النية على التحريمة جائز عندنا إذا لم يوجد بينهما عمل يقطع أحدهما عن الآخر

Boleh mendahulukan niat dari pada takbiratul ihram menurut madzhab kami (hanafi), jika tidak ada kegiatan apapun yang menyelai antara niat dan takbiratul ihram.” (Badai as-Shanai, 1/329).

Ibnu Qudamah juga menegaskan,

قال أصحابنا: يجوز تقديم النية على التكبير بالزمن اليسير

Para ulama madzhab kami (hambali) mengatakan, ‘Boleh mendahulukan niat sebelum takbiratul ihram, selama jedahnya tidak lama.” (al-Mughni, 1/339).

7. Takbiratul ihram hanya dilakukan sekali dan tidak perlu diulang-ulang, yang ini umumnya terjadi karena was-was. Untuk mengobatinya, anda bisa pelajari artikel Cara Mengobati Was-was

8. Orang yang shalat sendirian atau makmum, takbirnya dibaca pelan. Hanya terdengar dirinya sendiri.

Allahu a’lam


Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, May 31, 2023

Siapa Yang Berhak Jadi Imam?

Siapa Yang Berhak Jadi Imam?
Bismillah...

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ

Dari Abu Said Al Khudri ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Jika seseorang bertiga, hendaklah salah seorang diantara mereka menjadi imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur'annya".

(HR. Shahih Muslim no. 672)

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

قَالَ الْأَشَجُّ فِي رِوَايَتِهِ مَكَانَ سِلْمًا سِنًّا

Dari Abu Mas'ud Al Asnhari, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan kitabullah (Al-Qur'an), jika dalam bacaan kapasitasnya sama, maka yang paling tahu terhadap sunnah, jika dalam as sunnah (hadits) kapasitasnya sama, maka yang paling dahulu hijrah, jika dalam hijrah sama, maka yang pertama-tama masuk Islam, dan jangan seseorang mengimami seseorang di daerah wewenangnya, dan jangan duduk di rumah seseorang di ruang tamunya, kecuali telah mendapatkan izin darinya".

Kata Al Asyaj dalam periwayatannya dengan redaksi, "Maka yang menjadi pertimbangan kapasitas adalah keislaman dan usia".

(HR. Shahih Muslim no. 673)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, May 20, 2023

Apakah Dianjurkan Tidak Mengubah Posisi Kakinya Selepas Shalat Maghrib dan Shalat Shubuh?

Apakah Dianjurkan Tidak Mengubah Posisi Kakinya Selepas Shalat Maghrib dan Shalat Shubuh?
Bismillah...

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Ghanm hadits sebagai berikut,

من قال قبل أن ينصرف ويثني رجله من صلاة المغرب والصبح: لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد بيده الخير يحيي ويميت وهو على كل شيء قدير عشر مرات كتب له بكل واحدة عشر حسنات ومحيت عنه عشر سيئات ورفع له عشر درجات وكانت حرزا من كل مكروه وحرزا من الشيطان الرجيم ولم يحل لذنب يدركه إلا الشرك وكان من أفضل الناس عملا إلا رجلا يفضله

"Barangsiapa sebelum berpaling atau sebelum mengubah posisi kakinya dari shalat Maghrib dan shalat Shubuh ia membaca, 

"Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiit biyadihil khairu wa huwa 'ala kulli syai'in qadiir".

(Tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dia-lah Dzat yang menghidupkan dan mematikan, Di TanganNya-lah seluruh kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Sebanyak sepuluh kali.

Maka setiap satu kalimat dari dzikir tersebut ditulis untuknya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejelekan dan diangkat baginya sepuluh derajat dan menjadi pelindung baginya dari kejelekan dan dari setan yang terkutuk, dan tidak ada dosa yang membinasakan dirinya selain kesyirikan dan dia termasuk orang yang paling baik amalannya kecuali orang yang mengungguli dia dalam bacaannya." 

(HR. Ahmad 17990)

Hadits ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Diantara ulama ada yang menghasankannya dan ada pula yang menghukuminya dha'if disebabkan kelemahan Syahr bin Hausyab dan berstatus mursal karena Abdurrahman bin Ghanm disangsikan kedudukannya sebagai shahabat.

Menurut sebagian ulama yang lain riwayat yang derajatnya paling hasan tanpa redaksi, "Sebelum berpaling atau mengubah duduk tahiyyatnya".

Jadi kalimat dzikir tersebut bisa dibaca setelah berpaling ataupun setelah mengubah posisi duduk tahiyyat; dalam hal ini ada kelonggaran, yang terpenting dibaca setelah membaca istighfar tiga kali allaahumma antassalaam wa minkassalaam tabaarakta rabbanaa yaa dzal jalaali wal ikraam.

Dan ini sunnah dalam pengertian mustahab (anjuran) sehingga yang meninggalkannya tidak dikatakan SALAH atau MENYIMPANG DARI SUNNAH seperti kata sebagian orang.

Adapun yang mengikuti pendapat ulama yang melemahkan riwayatnya maka ia juga diatas ilmu tidak dikatakan meninggalkan sunnah atau sunnah yang terlupakan.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02H6MQV3YURK2jMFDk5t7LCvVLzbDDx2MijSNRrntYkMDQy2icRcPuUNaaDV3dTtURl&id=100001764454087


https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive