Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label doa & dzikir. Show all posts
Showing posts with label doa & dzikir. Show all posts

Tuesday, March 5, 2024

Do'a Menyambut Ramadhan

Do'a Menyambut Ramadhan
Bismillah...

Tanya :

Adakah do'a ketika menyambut bulan Ramadhan??

Jawab :

Bismillah was shalatu was salamu 'ala rasuulillah, amma ba'du..

PERTAMA :

Kami tidak menjumpai adanya do'a khusus ketika menyambut Ramadan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabat. Hanya saja para sahabat dan para ulama generasi setelahnya menyambut Ramadhan ini dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Mereka ungkapkan kegembiraan ini dengan kalimat-kalimat yang mengandung do'a kebaikan dan harapan..

Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan satu riwayat yang menunjukkan semangat mereka dalam menyambut Ramadan. Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl (ulama tabi’ tabiin) yang mengatakan,

Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdo'a agar Allah mempertemukan mereka dengan Ramadhan. Kemudian selama enam bulan sesudah Ramadhan mereka berdo'a agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.”

(Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Satu harapan yang luar biasa. Karena mereka menilai Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa, sehingga mereka tidak akan menjadikannya kesempatan kesempatan yang sia-sia..

Kemudian Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang mereka lantunkan. Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir (seorang ulama tabi’in), bahwa beliau mengatakan,

"Diantara do'a sebagian sahabat ketika datang Ramadan,

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

Allahumma sallimnii ilaa Romadhoona wa sallim lii Romadhoona wa tasallamhu minnii mutaqobballaa.

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”."

(Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

KEDUA :

Ada satu do'a yang dianjurkan untuk dibaca ketika masuk Ramadhan. Do'a itu adalah do'a melihat hilal. Akan tetapi sejatinya do'a ini adalah do'a umum, berlaku untuk semua awal bulan Hijriyah, ketika seseorang melihat hilal dan tidak khusus untuk bulan Ramadhan.

Teks do'a itu,

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا نُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alainaa bil-amni wal iimaan, wassalaamati wal Islaami, wat taufiiqi limaa nuhibbu wa tardho, robbanaa wa robbukallaah

"Allahu akbar, ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.”

(HR. Ahmad 888, Ad-Darimi dalam Sunannya no. 1729, dan dinilai shahih oleh Syua’ib Al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, 3/171).

Keterangan :

Do'a ini hanya dibaca ketika seseorang melihat hilal di awal bulan. Karena itu, bagi yang tidak melihat hilal, tidak disyariatkan membaca do'a ini ketika masuk awal bulan. Sebagaimana keterangan Dr. Sa’id Al-Qahthani dalam syarh Hisnul Muslim, hlm. 262.

Allahu a’lam


Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits حفظه الله تعالى

(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)


🌐 https://konsultasisyariah.com/19029-doa-menyambut-Ramadan.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, February 23, 2024

Ibadah Inabah

Ibadah Inabah
Bismillah...

Inabah artinya kembali. Ini semakna dengan makna taubat. Jadi taubat dan inabah memiliki makna yang sama. 

Ada sebagian ulama yang membedakan antara inabah dan taubat. Menurut mereka inabah memiliki makna lebih khusus dari taubat. Pada inabah ada penekanan makna, karena inabah mengandung makna taubat yang disertai dengan menyambut seruan Allah dan tidak merasa berat terhadap ajakan tersebut. Karena kadang ada orang yang bertaubat, lalu meninggalkan kesalahannya dan tidak kembali melakukannya, namun rasa sambutannya kepada Allah sangat lemah. Merasa berat meninggalkan maksiatnya, walau ia bisa meninggalkannya. Oleh karena itu Allah berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan *kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya* sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54)

Maksudnya kembalilah kalian dan sambutlah seruan Allah, sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Taubat dan inabah itu dibatasi oleh waktu. Taubat dan inabah akan Allah terima sebelum adzab datang dan nyawa sampai di tenggorokan, dan sebelum matahari terbit dari timur. Ayat diatas menunjukkan bahwa inabah termasuk ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” (Qs. An-Nisa : 18)

Dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membuka tanganNya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tanganNya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga matahari terbit dari barat." [HR Muslim (no. 2759)]

Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan." [At Tirmidzi (no. 3537), Al Hakim (IV/257), Ibnu Majah (no. 4253)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ.

Barangsiapa taubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya“. [Muslim (no. 2703), dari sahabat Abu Hurairah]

[Diringkas oleh Ustadz Abu Ubaidillah al Atsariy dari kitab Syarah al ushul Ats Tsalatsah karya DR. Shalih Fauzan]


======🌴🌴🌴🌴🌴======

https://abuubaidillah.com/ibadah-inabah

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kemuliaan Bagi Seorang Hamba

Kemuliaan Bagi Seorang Hamba
Bismillah...

🌴🌴🌴

Dari Ali bin Abi Thalib, Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الله ليعجب إلى العبد إذا قال:

‏لا إله إلا أنت إني قد ظلمت نفسي، فاغفر لي ذنوبي إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت .

‏قال: عبدي عرف أن له ربا يغفر ويعاقب .

Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya yang berkata:

Laa ilaaha illaa Anta

Innii qod zholamtu nafsii

Faghfirlii dzunuubii

Innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa Anta.

(yang artinya)

Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau

Sesungguhnya aku telah menzholimi diriku.

Maka ampunilah dosa dosaku.

Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.

🌴🌴🌴

Allah berfirman, “Hambaku yakin bahwa Robbnya mengampuni dosa dan memberi siksa..

(HR. Al-Hakim No. 2482, Silsilah Shohiihah 1653)

Memohon ampunan kepada Allah adalah kemuliaan bagi hamba..

Karena semua kita membutuhkan ampunan Allah dan karunia-Nya..


Penulis, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى


======🌴🌴🌴🌴🌴======

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/66472

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, February 22, 2024

Ibadah Istighotsah

Ibadah Istighotsah
Bismillah...

Istighotsah ( الإستغاثة ) adalah salah satu jenis dari ibadah yaitu meminta pertolongan dikala kondisi yang sulit.

Jika seseorang tertimpa suatu kesulitan, maka dia meminta pertolongan ke hanya kepada Allah serta meminta jalan keluar dari kesulitan tersebut.

Beda Istighotsah dan Isti’anah

Perbedaannya terletak pada momennya.

Istighotsah itu terjadi khusus ketika kondisi yang sulit, sedangkan Isti’anah maknanya lebih umum yaitu meminta pertolongan dalam kondisi sulit ataupun tidak.

Allah memerintahkan kita untuk melakukan ibadah Istighotsah ini hanya kepada-Nya. Jika seseorang beristighotsah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, maka orang tersebut telah menduakankan Allah dalam ibadah Istighotsah. Ini adalah perkara yang haram yang dilarang di dalam Islam.

Allah berfirman

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107)

Dan janganlah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 106-107)

Istighotsah Yang Salah

Kita banyak melihat di tengah masyarakat masih ada orang-orang yang beristighotsah kepada selain Allah, misalnya kepada laut, kepada sungai, kepada pohon, kepada batu, dan yang lain. Jika mereka tertimpa sebuah musibah, maka mereka mendatangi laut untuk melemparkan hasil bumi yang mereka sebut dengan sedekah bumi atau mungkin mereka mendatangi sungai untuk melakukan ritual-ritual meminta keselamatan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah Ta’ala telah berfirman :

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada sesembahan haq (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat (keagungan-Nya)”. (QS. An-Naml : 62) 

Istighotsah Yang Benar

Allah berfirman

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya permintaan itu bagimu” [QS. Al Anfal: 9]

Ayat ini berkaitan dengan peristiwa perang Badar yang terjadi antara kaum muslimin dengan orang-orang musyrik. Dimana jumlah kaum muslimin yang sedikit dan jumlah orang kafir yang banyak menyebabkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk meminta pertolongan. Inilah yang disebut dengan Istighotsah karena Nabi meminta pertolongan di kondisi sulit. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu,

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ وَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ

Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang. Kemudian Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo’a: Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini’.

Demikianlah, beliau senantiasa berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya. Abu Bakar lalu mendatangi beliau seraya mengambil selendang dan menaruhnya di bahu beliau, dan dia selalu menyertai di belakang beliau.” 

Abu Bakar kemudian berkata, “Ya Nabi Allah, cukuplah kiranya engkau bermunajat kepada Allah, karena Dia pasti akan menepati janji-Nya kepada anda.” [HR. Muslim 3309]

Maka Allahpun menurunkan ayat ini dan mengabulkan istighosah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengirimkan bala bantuan 1000 malaikat. 

Allah berfirman,

فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Lalu Allah memperkenankan doamu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut“. [QS. Al Anfal: 9]

Pembagian Istighotsah

Istighotsah ada dua jenis:

■ Istighotsah kepada makhluk pada perkara yang tidak ada yang bisa melalukannya kecuali Allah saja. Maka ini adalah kesyirikan karena telah memalingkan hak Allah kepada selain-Nya. Jadi jika ada seseorang beristighotsah kepada jin, manusia yang tidak hadir di dihadapannya, batu, laut, orang mati, maka orang itu telah berbuat kesyirikan. Ini perbuatan haram yang harus dijauhi.

■ Istighotsah kepada makhluk dalam perkara yang ia bisa lakukan. Maka ini boleh-boleh saja dan bukan termasuk perbuatan Syirik. Allah subhanahu wata’ala berfirman berkaitan kisah Musa yang dimintai tolong oleh sukunya untuk melindungi mereka dari kedzaliman orang-orang dari suku Fir’aun. 

Dalam al Qur’an disebutkan,

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ

Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya (beristighotsah), untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya” [QS. Al Qashosh: 15]

Jadi mereka meminta pertolongan dalam kondisi sulit atau disebut dengan Istighotsah kepada Nabi Musa alaihissalam. Dan ini menunjukkan bahwa hal tersebut diperbolehkan. Wallahu a’lam bishawab.

Demikianlah sekelumit penjelasan yang berkaitan dengan ibadah Istighosah. Semoga betmanfaat.


Rujukan:

  • Al Qur’an Al Karim
  • Shahih Muslim
  • Syarh al Ushul ats Tsalatsah, Syeikh Dr. Shalih Al Fauzan
  • Al Jami’ Li ahkamil Qur’an, Al Qurthubiy


🌴🌴🌴

http://abuubaidillah.com/ibadah-istighotsah


written by Bambang Abu Ubaidillah

31-10-2016

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, January 8, 2024

Tidak Akan Kecewa Hamba Yang Meminta Kepada Rabbnya

Tidak Akan Kecewa Hamba Yang Meminta Kepada Rabbnya
Bismillah...

• Al Imam Ibnul Qayyim -Muhammad bin Abi Bakar, wafat 751 H- رحمه الله تعالى berkata,

فَسُؤَالُ الْمَخْلُوقِ لِلْمَخْلُوقِ سُؤَالُ الْفَقِيرِ لِلْفَقِيرِ، وَالرَّبُّ تَعَالَى كُلَّمَا سَأَلْتَهُ كَرُمْتَ عَلَيْهِ، وَرَضِيَ عَنْكَ، وَأَحَبَّكَ. وَالْمَخْلُوقُ كُلَّمَا سَأَلْتَهُ هُنْتَ عَلَيْهِ وَأَبْغَضَكَ وَمَقَتَكَ وَقَلَاكَ.

Permintaan hamba kepada hamba adalah permintaan makhluk yang lemah kepada yang lemah, sedangkan Allah ﷻ, setiap kali engkau meminta kepada-Nya; maka engkau akan bertambah mulia disisi-Nya, dan Allah akan meridhoi dan mencintaimu..

Sedangkan manusia, setiap kali engkau meminta kepadanya, engkau pun akan semakin terhina dihadapannya, semakin bertambah kebencian dan ketidaknyamanan mereka kepadamu”.

(Sumber: Madarijus Salikin jilid: 2/hal. 131) 


•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈• 


📲 WA alilmoe: 

https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b

🌐 Website alilmoe: https://alilmoe.com/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, January 6, 2024

Hanya Ada 2 Alhamdulillah

Hanya Ada 2 Alhamdulillah
Bismillah...

💐 Saudaraku yang semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepadamu, 

Pernah aku ditanya oleh seorang teman bagaimana pekerjaanmu? Terus aku jawab hanya ada 2 kata yang bisa mewakili jawabanku yaitu Alhamdulillah dan Alhamdulillah karena itu adalah bentuk syukurku kepada Rabb Yang Maha Pemberi Rizki dan tidak ada yang selain-Nya yang bisa memberikan Rizki. Diapun tersenyum lalu terdiam :

📝Berikut penjelasannya:

Allah Ta’ala berfirman :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu , dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. “ (Al Baqarah :152)

☑Hadits detail yang mulia dari Suri Teladan Shallahu’alaihi wasallam:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْرَقُ أَبُو مَرْوَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مَنْصُورِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أُمِّهِ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ» ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

Telah menceritaan: kepada kami (Imam Ibnu Majah) Hisyam bin Khalid Al Azraq Abu Marwan telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Manshur bin Abdurrahman dari ibunya yaitu Shafiyah binti Syaibah dari 'Aisyah dia berkata; "Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat sesuatu yang ia senangi, beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna." dan apabila melihat sesuatu yang dibenci, beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan." (HR. Ibnu Majah no. 3803, Al-Hakim no. 1840, Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 265)

✅ Tidak ada sesuatu hal yang paling dicintai oleh Allah selain pujian untukNya. Dinyatakan dalam hadits:

وَمَا مِنْ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْحَمْدِ

Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain pujian (untukNya) (H.R Abu Ya’la dalam al-Maqshod al-Aly fi Zawaid Abi Ya’la al-Mausily no. 1070 , Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 1572).

✅ Karena itu, bentuk dzikir yang berupa pujian dan tauhid (Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin) mengandung pahala yang lebih besar. 

Dalam sebuah hadits dinyatakan:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

Sesungguhnya Allah memilih 4 ucapan : 

🔸Subhaanallah (Maha Suci Allah),

🔸Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) 

🔸Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah), 

🔸Allaahu Akbar (Allah Maha Besar). 

🔹Barangsiapa yang mengucapkan: Subhaanallah, Allah tulis baginya 20 kebaikan atau dihapus darinya 20 keburukan. 

🔹Barangsiapa yang mengucapkan Allaahu Akbar, maka juga terhitung demikian. 

🔹Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka juga terhitung demikian. 

🔹Barangsiapa yang mengucapkan Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin sungguh tulus dalam jiwanya, tercatat untuknya 30 kebaikan dan dihapuskan baginya 30 keburukan. (H.R an-Nasaai dalam Amal Al-Yaum wal Lailah no 840, Ahmad no.8012 , Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf no. 29827, Shohih at-Targhib wat Tarhiib no. 1554).

قال الحليمي : هذا على حسن الظن بالله تعالى وأنه لم يأت بالمكروه إلا لخير علمه لعبده فيه وأراده به فكأنه قال اللهم لك الخلق والأمر تفعل ما تريد وأنت على كل شيء قدير

Telah berkata al-Halimiy (Al-Husain bin Al-Hasan bin Muhammad al-Bukhori – Abu Abdillah wafat tahun 403 H) : ini adalah bentuk Berbaik Sangka (husnudzon) kepada Allah dan menyakini bahwa Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang tidak disenangi hamba-Nya kecuali semata-mata untuk kebaikan hamba-Nya dan Allah menghendaki kebaikan tercurah kepada hamba-Nya (melalui hal-hal yang tidak disenangi oleh hamba-Nya) seolah-olah dia berdoa (dengan mengucapkan Alhamdulillah ‘Ala kulli haal) sama maknanya dengan Ya Allah Engkaulah yang mempunyai penciptaan dan segala urusan, Engkau berbuat menurut apa yang Engkau kehendaki, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faidhul Qadiir Syarah al-Jaami’ as-Shoghiir 5/88 no. 6528 cetakan almaktabah al tijariyah a kubro )

✏Guratan hati yang ternaungi kegundahan

〰〰〰〰〰〰〰

🔸Kubandingkan terus nikmatku dan nikmatnya... 

🔸Hanya kecewa dan gelisah adanya... 

🔸Terjerembab nafsu yang tak ada ujungnya... 

🔸Meradang terusik tiada tenang akibatnya... 

🔸Lupa terhadap berbagai nikmat yang didapatkannya... 

🔸Yang berlimpah sebanyak Tarikan napasnya....

🔸Ya Allah berikanlah aku rasa untuk menghargainya... 

🔸Dengan untaian kata yang hangat untuk merabanya... 

🔸Alhamdulillah dan Alhamdulillah hanya untuk Nya... 

🔸Semoga bibirku lapang tuk selalu mengucapkannya 

✅ Hikmah 🚿

1⃣ Pentingnya menisbatkan semua kenikmatan hanya kepada Allah, tidak ada Yang Maha Pemberi Rizki kecuali Allah Ar Razzaq

2⃣ Mencukupkan dengan dua lafazh yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam yaitu 

💧Alhamdulillah ala kulli haal ketika menjumpai sesuatu yang tidak disenangi dan 

💧Alhamdulillah aladzi bini'matihi tatimusholihaat jika mendapati sesuatu yang menyenangkan. 

3⃣ Husnuzhzhon berbaik sangka kepada Allah dengan keimanan bahwa Allah tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya dan Allah senantiasa memberikan yang terbaik. 

4⃣ Bisa jadi tampak nya tidak sesuai dengan harapan namun pasti ada hikmah kebaikan dibalik itu semua, simaklah Firman Allah yang tidak keraguan didalamnya:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al Baqarah :216)

Semoga bermanfaat 


🚰 Abu Usaid Zaki Rakhmawan


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02VmnxJxDCtMMHDNeRnfTaBfff3CdX1P7WCvTmRF2BfX2ZaPzdVeR9TNwBVonyy6xxl&id=100005755713312

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, January 3, 2024

Hisab Yang Mudah

Hisab Yang Mudah
Bismillah...

حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا هَلَكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى

{ فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا }

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُذِّبَ

Al Qasim bin Muhammad telah menceritakan kepadaku Aisyah, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

"Tidak seorang pun yang di (paparkan) hisabnya melainkan akan celaka.."

Maka aku bertanya, "Wahai Rasulullah, Bukankah Allah ﷻ berfirman;

'Barangsiapa yang diberi kitabnya dari sebelah kanan, maka ia menghadapi hisab yang mudah?" .(QS. Al Insyiqaq 7-8).

Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Yang dimaksudkan ayat itu adalah saat amal diperlihatkan, dan tidaklah seseorang hisabnya diperdebatkan, melainkan ia akan disiksa.."

(HR. Shahih Bukhari no. 6056 Kitab : Ar Riqaq)

عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ *اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا* فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ أَنْ يَنْظُرَ فِي كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْه إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْه حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ

Dari Abbad bin Abdillah bin Az-Zubair dari Aisyah berkata, "Saya telah mendengar Nabi ﷺ pada sebagian shalatnya membaca,

"Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah..". 

Ketika beliau ﷺ berpaling aku bekata, "Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?"

Beliau ﷺ bersabda, 

"Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah, dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.."

(HR. Ahmad no. 23082 Kitab : Baqi Musnad Al Anshar. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih selain perkataan: “Saya telah mendengar Nabi ﷺ pada sebagian shalatnya membaca: “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo”. Ini adalah tambahan dimana Muhammad bin Ishaq bersendirian dalam meriwayatkannya)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, December 31, 2023

Kitapun Sejatinya Banyak Aib & Dosa

Kitapun Sejatinya Banyak Aib & Dosa
Bismillah...

Adakah diantara umat ini yang lebih utama, lebih semangat dalam beramal sholih & lebih menjaga diri dari dosa dibanding Abu Bakr radhiyallahu anhu?

Namun demikian, perhatikan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallah alaihi wa sallam kepada beliau. Abu Bakar bertanya, 

عَلِّمْنِي دُعاءً أدْعُو به في صَلاتِي، قالَ: قُلْ: 

اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، ولا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلّا أنْتَ، فاغْفِرْ لي مَغْفِرَةً مِن عِندِكَ، وارْحَمْنِي، إنَّكَ أنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

الراوي: أبو بكر الصديق • البخاري، صحيح البخاري (٦٣٢٦) • [صحيح] • أخرجه البخاري (٦٣٢٦)، ومسلم (٢٧٠٥)

(Wahai Rasulullah), ajarkan aku doa yang aku bisa baca doa tersebut dalam sholatku.”

Nabi shallahu alaihi wa sallam bersabda, "Ucapkan:

ALLAHUMMA INNI DHOLAMTU NAFSI DHULMAN KATSIRO, WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUBA ILLA ANTA. FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN INDIK, WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFURUR ROHIM

(Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diri sendiri, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka berilah aku ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun & Penyayang)." [HR. Bukhori & Muslim]

Sesungguhnya aib & dosa kita sangatlah banyak, namun alhamdulillah Allah berkenan menutupinya. Perbanyaklah istighfar, karena istighfar itu:

ستر العبد فلا ينفضح و وقايته من شر الذنب  فلا يعاقب عليه

Menutup aib seorang hamba sehingga tidak terbongkar & melindunginya dari keburukan dosa sehingga tidak diadzab.

Jangan suka membongkar aib orang jika tidak ada maslahat penting & jelas di sana, karena sesungguhnya kitapun banyak aib & dosanya...

Semoga Allah tutup aib-aib kita di dunia & akherat, serta melindungi kita dari pengaruh buruk dosa di dunia & akherat...


ASTAGHFIRULLAH...

ASTAGHFIRULLAH..

ASTAGHFIRULLAH…


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02CHzbzeSwUGwTCnsL58MXJwrkpVj3DwKwJvmSn8tjpYcEQwnqw31h8xUGZf7ePbd8l&id=100014232969661

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive