Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label nasehat. Show all posts
Showing posts with label nasehat. Show all posts

Monday, August 5, 2024

Menuntut Ilmu, Jalan Mudah Menuju Syurga

Bismillah...

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Makna Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, ada empat makna sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali:

Pertama: Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga.

Kedua: Menuntut ilmu adalah sebab seseorang mendapatkan hidayah. Hidayah inilah yang mengantarkan seseorang pada surga.

Ketiga: Menuntut suatu ilmu akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan pada surga.

Sebagaimana kata sebagian ulama kala suatu ilmu diamalkan,

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Siapa yang mengamalkan suatu ilmu yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak ia ketahui.

Sebagaimana kata ulama lainnya,

ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا

Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.”

Begitu juga dalam ayat disebutkan,

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

Juga pada firman Allah,

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17)

Keempat: Dengan ilmu, Allah akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang d atas neraka menuju surga.

Sampai-sampai Ibnu Rajab simpulkan, menuntut ilmu adalah jalan paling ringkas menuju surga. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 297-298)

Semoga dengan ilmu agama, kita dimudahkan untuk masuk surga.


Sumber : referensi Rumaysho.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, August 4, 2024

4 Langkah Setan

Bismillah...

4 Langkah Setan:

• Banyak Memandang, 

• Banyak Makan, 

• Banyak Bicara, 

• Dan Banyak Bergaul


Empat langkah inilah yang menjadi langkah setan dalam menyesatkan manusia menurut Ibnul Qayyim rahimahullah.

Dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:816), Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

إِمْسَاكُ فُضُوْلِ النَّظَرِ وَالكَلاَمِ وَالطَّعَامِ وَمُخَالَطَةِ النَّاسِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِنَّمَا يَتَسَلَّطُ عَلَى اِبْنِ آدَمَوَيَنَالُ مِنْهُ غَرَضَهُ مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ الأَرْبَعَةِ فَإِنَّ فُضُوْلَ النَّظَرِ يَدْعُو إِلَى الإِسْتِحْسَانِ وَوُقُوْعِ صُوْرَةِالمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ فِي القَلْبِ وَالإِشْتِغَالِ بِهِ وَالفِكْرَةِ فِي الظَفْرِ بِهِ

Hendaknya menahan diri dari pandangan yang tak bisa terjaga, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul. Hal-hal ini merupakan empat pintu setan dalam menguasai manusia dan jalan setan mencapai tujuannya. Enggan menundukkan pandangan akan mengantarkan pada menganggap baik (istihsan), yang dilihat akan menancap dalam hati, pikiran pun akan sibuk membayangkannya, hingga berpikiran agar tercapai tujuan.

Empat hal ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam poin kesepuluh setelah menyebutkan sembilan kaidah bermanfaat untuk melindungi hamba dari setan dan menyelamatkan dari gangguannya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid, 2:809-816.


Pertama : Banyak memandang

Contohnya adalah memandang lawan jenis.

Dalam surah An-Nuur sendiri diperintahkan untuk menundukkan pandangan,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُم

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya'.” 

(QS. An-Nuur : 30)

Wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya'.” 

(QS. An-Nuur : 31)

Dalam hadits disebutkan,

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ

Zina kedua mata adalah dengan melihat.” 

(HR. Muslim, no. 6925)

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” 

(HR. Muslim, no. 2159)


Kedua : Banyak Bicara

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ،

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik, ataukah diam.” 

(HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

Semoga ibumu kehilanganmu! (Kalimat ini maksudnya adalah untuk memperhatikan ucapan selanjutnya). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.’” 

(HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan).


Ketiga : Banyak Makan

Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.”

(HR. Ahmad, 4:132; Tirmidzi, no. 2380; Ibnu Majah, no. 3349. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiqqah, terpercaya).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, 

Manfaat dari sedikit makan bagi baiknya hati adalah hati akan semakin lembut, pemahaman semakin mantap, jiwa semakin tenang, hawa nafsu jelek tertahan, dan marah semakin terkendali. Hal ini berbeda dengan kondisi seseorang yang banyak makan.” 

(Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:469)


Keempat : Banyak Bergaul

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” 

(HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih)

Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim dalam Badaai’ Al-Fawaid:

  • Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama.
  • Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit.
  • Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara.
  • Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya.

Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:824-825), 

Siapa yang tersadarkan dengan menjaga diri dari empat hal yang merusak yaitu tidak menjaga pandangan, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul, padahal empat hal ini adalah yang merusak alam, lalu ia menempuh sembilan langkah untuk menjaga diri dari godaan setan tersebut, maka ia berarti telah mendapatkan taufik, mencegah dirinya dari pintu Jahannam, dan membuka pintu rahmat.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari gangguan setan.


Referensi :

  • At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah.
  • Badaa-i’ Al-Fawaid. Cetakan ketiga, Tahun 1433 H. Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid.


Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

(Artikel Rumaysho)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, March 8, 2024

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.4)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.4)
Bismillah...

✒️ Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

Dan diantara perkara yang dilakukan untuk menyambut kedatangan bulan suci ini adalah :

"Banyak-banyak memanjatkan do'a agar diberikan keberkahan dalam waktu dan umurnya dan senantiasa diberikan limpahan barokah di bulan Sya'ban dan Ramadhan dan semoga di bulan Ramadhan ini ia tergolong menjadi orang orang yang bersegera dalam melakukan kebajikan..

Karena seorang hamba bagaimana pun kondisinya, ia butuh kepada do'a, karena sekiranya tanpa taufiq dan hidayah dari Allah ﷻ ia takkan mungkin berbuat sekecil apapun. Sehingga selain berusaha hendaknya dibarengi dengan iringan do'a, karena Allah ﷻ Maha Karim dan tidak akan menyia nyiakan orang yang telah berusaha mengetuk pintu kemurahan-Nya..

Sebagai penutup, marilah kita dengarkan untaian nasehat dari Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah, 

"Wahai orang-orang yang telah menyia-nyiakan waktu-waktunya yang mulia, meninggalkan puing-puing kenistaan  dan alangkah kejinya. Bulan Rajab telah lewat sedangkan engkau tidak berbuat kebajikan dan ini bulan Sya'ban yang penuh berkah.."

"Wahai orang-orang yang berbuat kebodohan dengan menelantarkan waktunya, hendaklah bangun dari tidurmu dan berhati-hatilah menyambut kerugianmu. Sesungguhnya engkau akan meninggalkan kelezatan dunia secara paksa, dan engkau akan diselimuti kematian dengan penuh kebencian menuju rumah abadimu. Oleh karenanya bersegeralah merubah hidup mu dengan berusaha menghapus segala kesalahan dengan taubat yang tulus.."

"Bercita-citalah menggapai keselamatan dari Neraka Jahim, karena sebaik-baik orang yang bersalah adalah berubah.."

اللهم بلغنا رمضان، ووفقنا للاستعداد له وتدارك ما انفرط من الأعمار، اللهم أصلح أحوال المسلمين، وبصّرهم بمواطن الضعف فيهم، اللهم بصّرهم بمكائد أعدائهم، اللهم واخذل أعداء الملة، واحم حوزة الدين، وانصر عبادك المجاهدين في كل مكان.

"Ya Allah, sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan, dan berilah kami taufiq untuk memperbaiki segala kesalahan yang terdahulu, Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin dan kuatkanlah segala kelemahan mereka, dan menangkanlah atas musuh-musuh mereka, Ya Allah, lenyapkanlah musuh agama ini, dan lindungilah para pembela agama, dan tolonglah para mujahidin di setiap tempat Ya Robbal Alamin.."

الـلَّهمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبراهيم وعلى آل إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبراهيم وعلى آل إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حميد مجيد.


*= S E L E S A I =*


Dalam Naungan Ilmu Kumpulan Catatan Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, March 7, 2024

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.3)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.3)
Bismillah...

✒️Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

Diantara perkara yang dapat membantu memaksimalkan ketika bulan Ramadhan adalah :

"Melatih beramal mulai dari sekarang, seperti berpuasa pada bulan Sya'ban, mengerjakan sholat malam, memperbanyak tilawah Al-Qur'an dan sebagainya..

Dan membiasakan berpuasa merupakan sarana unruk memudahkan perkara diatas, ketika seseorang bangun sebelum subuh, mengerjakan sholat witir, yang akan membawa perubahan pada hati dan melembutkannya serta dapat menjauhkan dari segala perbuatan sia-sia, demikian pula memudahkan untuk tilawah Al-Qur'an dan seterusnya, bahwa tiga ibadah ini senantiasa membawa dampak kebaikan yang lain, dan jika ia belum mampu berpuasa, maka janganlah meninggalka yang lainnya.."

Dan diantara perkara yang membantu untuk mempersiapkan Ramadhan adalah : "Mengingatkan keluarga tentang dekatnya kedatangan tamu yang agung ini, dan melatih keluarga untuk melakukan tiga ibadah diatas atau sebahagian nya..

Allah ﷻ berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى 

"Dan perintahkan keluargamu untuk senantiasa mendirikan shalat, dan ajaklah untuk bersabar diatas nya, sesungguhnya Kami  (Allah) tidak meminta kepada mereka rizki, bahkan Kami lah yang menurunkan rizki bagi mereka, dan sesungguhnya akibat yang baik hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa." ```(Qs Thoha : 132)```

Jika engkau telah melakukan tahapan amalan diatas pada bulan Sya'ban ini, maka berusahalah untuk melakukan evaluasi dalam setiap harinya, hingga mengetahui kekurangan yang masih tersisa, dari mana kekurangan ini datang..

Dan jika bulan Ramadhan datang maka niscaya engkau telah mengkondisikan diri secara maksimal dan telah memperoleh jawaban dari mana kekurangan datang, hingga dapat memanfaatkan bulan mulia ini dengan baik.." 

Diantara amalan yang hendaknya dipersiapkan menjelang kedatangan bulan suci ini, adalah :

"Hendaknya kita memiliki waktu-waktu khusus untuk berkholwah berdzikir kepada Allah ﷻ, guna melembutkan hati dan mengingat perjumpaan dengan-Nya, apa yang telah kita persiapkan dari amalan yang terdahulu, dan apakah perbuatan kita yang sekarang mampu mendatangkan ridho Allah ﷻ..

Dengan sarana berdzikir dan ingat akan hal ini merupakan sarana untuk melembutkan hati dan membersihkan jiwa dan mampu membuahkan tetesan air mata, hingga ketika memasuki bulan suci ini hati kita telah Allah ﷻ berikan kesiapan dan menggolongkan sebagai hamba yang diberikan naungan di hari yang tiada naungan kecuali mereka-mereka yang Allah Ta'ala berikan naungan.."

Dan diantara persiapan untuk menyambut kedatangan bulan suci ini adalah :

"Tidak banyak berinteraksi dengan manusia kecuali secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak banyak mengobrol, seperti ketika dalam pekerjaan atau menyelesaikan tugas tertentu, hendaknya meminimalkan interaktif kecuali yang mendatangkan maslahat, dikarenakan bisa jadi waktu akan terbuang sia sia, sebagaimana kenyataan hanya menimbulkan kerasnya hati, maka hendaknya jangan dilakukan hal tersebut diwaktu bulan kemuliaan telah datang.."

Diantara cara terbaik sebagaimana dilakukan oleh sebagian kita, meminta ijin untuk keluar dari semua bentuk koneksi seperti kumpulan WA atau FB atau Twitter akan bergabung kembali setelah usai Lebaran yang penuh berkah..


♻️ BERSAMBUNG  اإن شآء الله


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Banyak Yang Tidak Lulus Dengan Ujian Kekayaan

Banyak Yang Tidak Lulus Dengan Ujian Kekayaan
Bismillah...

Sebagaimana kita ketahui bahwa ujian itu bisa berupa kebaikan dan keburukan, bisa berupa kekayaan dan kemiskinan. Sebagaimana firman Allah,

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian/ftinah.” (Al-Anbiyaa: 35)

Ternyata banyak yang tidak lulus dengan ujian yang diberikan berupa kekayaan. Buktinya adalah MAYORITAS PENDUDUK SURGA ADALAH ORANG MISKIN. Berarti banyak orang kaya yang tidak lulus ujian kekayaan dan orang miskin banyak yang lulus. Orang kaya juga banyak yang tertahan (lama hisabnya) untuk masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga). Hanya saja, penduduk neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka.”

Mengapa demikian? Karena orang kaya merasa cukup dengan hartanya sehingga kurang merasa butuh Allah apalagi ditambah dengan kesombongan akan hartanya.

Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan hadits ini,

Orang kaya merasa dirinya sudah cukup dengan hartanya sehinga mereka sedikit beribadah dibandingkan orang miskin.”

Inilah maksud Ayat bahwa manusia akan melampui batas ketika merasa berkecukupan dengan hartanya.

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup". (Al ‘Alaq: 6-8).

Apakah tidak boleh Kaya? Tentu boleh, bahkan jika memang ia bisa menjadi kaya, maka jadilah orang kaya dan tidak lupa gunakan kekayaan itu untuk membantu agama Allah dan menolong sesama manusia. Yang perlu diingat:

Semakin kaya semakin dermawan, bukan semakin meningkatkan gaya hidup


Selengkapnya: https://muslimafiyah.com/banyak-yang-tidak-lulus-dengan-ujian-kekayaan.html


Penyusun: Raehanul Bahraen

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.2)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.2)
Bismillah...

✒️Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

Wahai kaum muslimin..

Dikarenakan inilah dahulu para Generasi Salaf terdahulu menjadikan bulan Sya'ban menjadi sarana untuk melatih diri sebelum masuk dalam medan perlombaan, pintu gerbang telah terbuka lebar untuk memasuki babak perjuangan, sebagaimana kuda-kuda yang tidak terlatih, tidak akan pernah menyelesaikan perlombaan yang baik sebagaimana yang diharapkan, bahkan bisa jadi ia akan berhenti di tengah perjalanan..

Dan yang demikian banyak dipraktikkan oleh kebanyakan manusia, mereka semangat di permulaan bulan Ramadhan, namun terjadi kemunduran pada pertengahan bulan bahkan hingga akhir bulan Ramadhan.!!

Demikian juga sebahagian manusia berhati-hati pada permulaan bulan Ramadhan hingga tidak terasa telah melewati seperempat, bahkan sepertiga bulan, namun mereka masih dalam kondisi melatih membiasakan diri, hingga mereka kehilangan kebaikan yang sangat banyak..

Oleh karena itu, tatkala syariat sholat merupakan ibadah yang agung, maka Allah ﷻ menjadikan amalan-amalan tertentu sebagai pendamping dan pendahulu, seperti disyari’atkan Adzan, disyari’atkan berjamaah dimasjid, disyari’atkan sholat sunnah Rowatib, baik sebelum atau sesudahnya, hingga seorang hamba benar-benar terkondisikan untuk mengerjakan ibadah agung ini, yang merupakan kewajiban fardhu yang paling wajib, hingga meminimalkan dari segala dampak kekurangan yang sekiranya terjadi..

Adapun orang-orang yang cerdik, ia dapat mengetahui nilai keagungan waktu dan nilai kemuliaan hidup nya, serta mengagungkan musim kebajikan untuk akhirat nya, dan mempersiapkan diri untuknya dari sekarang dan mengkondisikan hati untuk menyambut kemuliaan dari Allah ﷻ dengan hati yang bersih, meninggalkan bersibuk dari kelezatan dunia untuk melakukan ketaatan-ketaatan..

Diantara perkara yang dapat membantu seseorang untuk merealisasikan anjuran diatas adalah : Senantiasa menyelesaikan urusan dan hajat yang sekiranya menyibukkan ketika bulan Ramadhan dari sekarang, diantaranya yang paling menonjol dari kaum lelaki dan perempuan adalah sibuk menyiapkan hari lebaran dan segala kebutuhannya, hingga di pertengahan bulan Ramadhan ia menyibukkan diri dari perkara ini, seolah olah hari lebaran datang sekonyong konyong..


♻️ BERSAMBUNG  اإن شآء الله


Dalam Naungan Ilmu Kumpulan Catatan Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, March 6, 2024

Buka Lembaran Baru

Saat Ramadhan telah datang
Bismillah...

Saudaraku rahimakumullaah..

Saat Ramadhan telah datang, biarkan pergi kabut dosa masa lalu, bersama dengan turunnya hujan taubatmu..

Biarkan Ramadhan bersemi indah dalam kalbumu, agar mewarnai gerak langkahmu..

Sambut sejuknya musim ampunan dan rahmat Rabbmu, biarkan membasahi kemarau jiwamu..

Buka lembaran baru, agar terbit mentari amal shalih dalam hidupmu..

Wahai pencari kebaikan sambutlah, wahai pencari kejelekan berhentilah..

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Apabila masuk hari pertama di bulan Ramadhan, setan-setan dan para jin yang paling durhaka itu dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak satu pun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka, tidak satu pun yang ditutup, dan berserulah seorang penyeru: 'Wahai Pencari kebaikan sambutlah, wahai Pencari kejelekan berhentilah', dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka, dan itu di setiap malam Ramadhan.”

```(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 759)```

• Al-‘Allamah As-Sindi رحمه  الله تعالى berkata,

قَوْلُهُ (يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ) مَعْنَاهُ يَا طَالِبَ الْخَيْرِ (أَقْبِلْ) عَلَى فِعْلِ الْخَيْرِ فَهَذَا شَأْنُكَ تُعْطَى جَزِيلًا بِعَمَلٍ قَلِيلٍ (وَيَا طَالِبَ الشَّرِّ) أَمْسِكْ وَتُبْ فَإِنَّهُ أَوَانُ قَبُولِ التَّوْبَةِ

Sabda Nabi ﷺ, "Wahai Pencari kebaikan sambutlah".

Maknanya adalah, "Wahai Pencari kebaikan bersegeralah melakukan kebaikan, inilah urusanmu, engkau akan diberikan pahala besar walau dengan amalan kecil".

Dan sabda beliau ﷺ, "Wahai Pencari kejelekan berhentilah".

Maknanya adalah, "Berhentilah berbuat dosa dan bertaubatlah, karena sungguh bulan Ramadhan adalah waktu diterimanya taubat".

```(Haasyiyatus Sindi, 1/503)```


✒️Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc حفظه الله تعالى


•════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══•

🌐 https://www.instagram.com/p/CNlWT6ahkqu/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, March 5, 2024

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.1)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.1)
Bismillah...

✒️Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

إنِ الْحَمْدَ لِله، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، ونَعُوذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وأَنْتمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبً

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ..

Amma ba'du..

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya setiap hati orang-orang yang beriman senantiasa menanti kedatangan bulan yang agung ini, yaitu bulan Ramadhan yang menjadi tamu yang mulia, yang kita memandang ini merupakan nikmat yang besar dan hadiah yang sangat agung dari Allah Robb Yang Maha Pemurah.. 

Oleh karenanya para generasi Salaf terdahulu radhiyallahu anhum menjadikan masuknya bulan Sya'ban untuk persiapan menyambut kedatangan bulan Ramadhan, dan telah melatih jiwa-jiwa mereka untuk berbuat ketaatan..

Dan sungguh terdapat teladan dari Nabi Muhammad ﷺ dalam amalan menyambut kedatangan Ramadhan, beliau ﷺ memperbanyak puasa pada bulan sya'ban, hingga Ummu Mukminin A'isyah radhiyallahu anha berkata,

وما رأيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا رمضان، وما رأيته في شهر أكثر منه صيامًا في شعبان

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa penuh satu bulan kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat  beliau banyak berpuasa dalam hari-harinya kecuali pada saat bulan Sya'ban."

```(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)```

Dan dalam riwayat sunan An-Nasa'i dengan sanad yang dikuatkan oleh sebagian ahli Ilmu, terdapat penjelasan tentang sebab Nabi ﷺ banyak berpuasa dalam hari-hari bulan Sya'ban, dengan sabdanya,

ذاك شهر يغفل عنه الناس

"Bulan tersebut, banyak manusia yang melalaikannya.."

قال ابن رجب رحمه الله: "وفيه دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة، وأن ذلك محبوبٌ لله عز وجل...، ولذلك فُضّلَ القيامُ في وسط الليل لشمول الغفلة لأكثر الناس فيه عن الذِّكر"٠

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Didalam hadits ini terdapat anjuran untuk memakmurkan waktu-waktu yang manusia sedang dalam kondisi lalai dari perbuatan taat, dan ini merupakan perbuatan yang dicintai oleh Allah ﷻ. Oleh karenanya, menunaikan sholat di tengah malam ketika kebanyakan manusia terlena memiliki keutamaan yang agung."


♻️ BERSAMBUNG  اإن شآء الله


Dalam Naungan Ilmu Kumpulan Catatan Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

 🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, February 25, 2024

Nasibmu Ada Pada Sholatmu

Nasibmu Ada Pada Sholatmu
Bismillah...

👉 Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab.👈 Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi)


https://rumaysho.com/4953-13-kedudukan-shalat-dalam-islam.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, February 24, 2024

Bocoran Dari Nabi ﷺ Tentang Wanita Penghuni Surga

Bocoran Dari Nabi ﷺ Tentang Wanita Penghuni Surga
Bismillah...

Bahwasanya para wanita calon penghuni surga sudah dikabarkan ciri-cirinya Sebagaimana dalam hadits,

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat wanita penghuni Surga:

وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا؛ اَلَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِيْ يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha kepadaku'"

Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XIX/140, no. 307) dan Mu’jamul Ausath (VI/301, no. 5644), juga an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 257). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 287).


DSB (Team design salafy bugis)


📱 gabung bersama kami:

t.me/assunnahsulawesi

http://Instagram.com/design.salafy.bugis

http://Instagram.com/assunnahsulawesi

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, February 23, 2024

Manhaj Salaf : Sebuah Renungan Dalam Pertemanan

Manhaj Salaf : Sebuah Renungan Dalam Pertemanan
Bismillah...

💧Jika didalam sirkel pertemananmu di sosial media tidak ada yang mengingatkanmu tentang kebaikan akhirat, untuk jaga shalat, belajar ilmu agama, menutup aurat, taubat, meninggalkan dosa, inget mati, halal dan haram. Maka kamu harus segera rubah sirkel pertemanmu, 

💧Sebab baik atau buruknya apa yang kita lihat dan lewat di beranda kita sejatinya adalah merupakan cermin dari bagaimana keadaan orang yg menjadi teman atau orang yg kita ikuti dalam akun kita,

💧Karena itu pentingnya kita berteman dengan orang2 yang shalih, yang dapat membawa manfaat kebaikan dunia dan akhirat.

💧Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

"Bergaul dengan orang-orang shaleh dapat merubahmu dari 6 perkara menuju 6 perkara lainnya:

1. Dari ragu menjadi yakin

2. Dari riya menjadi ikhlas

3. Dari lalai menjadi ingat kepada Allah

4. Dari cinta dunia menjadi cinta akhirat 

5. Dari sombong menjadi tawadhu'

6. Dari niat yang buruk menjadi niat yang baik." (Ighotsatul Lahfan 1/136)

💌Keberadaan teman bagi seseorang memang sangat mempengaruhi, Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shaleh.

💌Oleh karena itu hendaknya kita selektif dalam memilih teman dan memperhatiakan bagaimana akhlak dan agama siapa yang menjadi teman dekat kita, sebab keberadaan teman itu sangat mempengaruhi.

📚Sebagaimana dalam sebuah hadits Rasululah ﷺ menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman, beliau sabda :

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

🤲🏼Semoga Allah ﷻ berikan hidayah kepada kita semua dan anugerahkan teman-teman yang shaleh yang dapat memberikan safaat dan manfaat kebaikan di dunia dan akhirat. Aamiin


Habibie Quotes, 13/05/22

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, February 22, 2024

Ibadah Isti’anah

Ibadah Isti’anah
Bismillah...

Isti’anah artinya meminta pertolongan atau bantuan. Yaitu meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wata’ala dalam perkara dunia dan akhirat. Isti’anah adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla yang tidak boleh diminta kepada selain-Nya. 

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan” [QS. Alfatihah: 5]

Ayat ini menerangkan bahwa kita hanya meminta pertolongan kepada Allah.

Makna kalimat “Hanya kepadaMu kami beribadah” yaitu kami tidak akan beribadah kecuali hanya kepada-Mu. Maka dalam ayat ini seseorang membatasi ibadahnya hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. 

Adapun makna kalimat “hanya kepadaMu kami meminta pertolongan” adalah membatasi pertolongan hanya kepada Allah saja. Dan ini dalam perkara-perkara yang tak mampu dilakukan selain Allah. Dalam kalimat ini ada keterangan berlepas dirinya seseorang dari semua daya dan kekuatan. Manusia tak punya kekuatan dan tak mampu melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan Allah subhanahu wata’ala. Inilah tujuan puncak peribadatan. Yaitu ketika seseorang berlepas diri dari kesyirikan dan kekuatan dan daya upaya selain dari Allah subhanahu wata’ala.

Mengapa Demikian ?

Karena Isti’anah adalah ibadah yang paling agung yang di dalamnya terkandung dua pokok, yaitu percaya kepada Allah dan menyandarkan diri kepada-Nya. Maka jika seoarang muslim beristi’anah kepada selain Allah, maka ia telah menduakan Allah dalam ibadah isti’anah. Ini dalam perkara yang seseorang tidak bisa melakukannya selain Allah ta’ala. Atau seseorang meminta pertolong kepada sesuatu yang tidak bisa apa-apa. Seperti meminta pertolongna kepada orang yang telah meninggal, atau benda-benda mati seperti batu, jimat, dan lain-lain. Maka ini semua adalah bentuk kesyirikan. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah hanya kepada Allah” [HR. Tirmidzi (2516), Ahmad (1/307, 1/303, 1/293]

Baca juga

https://muslim.or.id/27754-5-macam-istianah-meminta-pertolongan.html


Bolehkan Meminta Tolong Kepada Manusia Dalam Hal Yang Ia bisa Lakukan ?

Iya ini perkara yang dibolehkan. Seperti meminta bantuan mengangkatkan barang, atau meinjam uang, atau yang lain yang bisa dilakukan oleh seseorang. Karena Isti’anah meminta bantuan bisa kita rinci menjadi 5 bagian:

1. Meminta pertolongan kepada Allah, yaitu isti’anah yang terkandung padanya rasa merendahkan diri seorang hamba kepada Rabbnya, menyerahkan penuh urusannya kepada Allah, dan meyakini hal itu sudah mencukupinya. Maka isti’anah dengan model ini tidak boleh diberikan kepada selain Allah.

2. Meminta pertolongan kepada seseorang yang mampu ia lakukan. Maka ini tergantung jenis permintaan yang ia minta. Jika permintaannya dalam hal kebaikan, maka hal itu boleh-boleh saja, bahkan disyariatkan. Namun jika permintaannya dalam hal kejelekan dan dosa, maka hal tersebut tidak diperbolehkan.

3. Meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup, ada dihadapan kita, namun tak mapu melakukan permintaan kita. Maka ini adalah kesia-siaan. Seperti meminta kepada seorang yang buta untuk membaca.

4. Meminta kepada orang yang telah meninggal atau yang masih hidup dalam perkara-perkara ghaib yang tak mampu ia sentuh dengan panca indranya. Seperti minta dilancarkan rezekinya, atau dihindarkan dari bahaya, dan lain-lain. Maka ini adalah kesyirikan. Karena haik tersebut tidak akan dilakukan oleh seseorang kecuali jika ia menyakini bahwa yang mereka mintai pertolongan mampu mengendalikan keadaan atau mengatu alam.

5. Meminta pertongan dengan perantaraan amalan, dan sesuatu yang Allah cintai, maka ini adalah perkara yang disyariatkan sesuai perintah Allah ‘azza wa jalla. 

Allah berfirman:

اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ

Minta pertolonganlah kalian dengan sabar dan shalat” [QS. Al Baqarah: 153]


Rujukan

  • Hasyiyah Tsalatsatil Ushul karya Abdurrahman bin Muhammad al Qahthaniy.
  • Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syeikh Shalih al Fauzan
  • Al Jami’ al Kabir karya Muhammad bin Isa at Tirmidzi
  • Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin


🌴🌴🌴

http://abuubaidillah.com/ibadah-istianah


Ditulis oleh: Bambang Abu Ubaidillah

17-10-2016

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, February 21, 2024

Kejujuran dan Kedustaan

Kejujuran dan Kedustaan
Bismillah...

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

حَدَّثَنَا مِنْجَابُ بْنُ الْحَارِثِ التَّمِيمِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ مُسْهِرٍ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرْ فِي حَدِيثِ عِيسَى وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ مُسْهِرٍ حَتَّى يَكْتُبَهُ اللَّهُ

Dari 'Abdullah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah".

(HR. Shahih Muslim no. 4721  Kitab : Bir Wasshilah Wal adab)

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ 

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 

"Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun ia hanya bergurau, Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak mulia".

(HR. Imam Avu Daud no. 4801 hadits hasan menurut Muhammad Nashiruddin Albani)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, February 18, 2024

Mutiara Salaf : Jauhilah 2 Perbuatan Ini

Mutiara Salaf : Jauhilah 2 Perbuatan Ini
Bismillah...

🌴🌴🌴

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‎من ضحك من الناس ضُحك منه، ومن عيَّر أخاه بعمل ابتلي به ولا بد.

Siapa yang mentertawakan orang lain maka ia akan ditertawakan lagi .. dan siapa yang menjelekkan saudaranya karena sebuah perbuatan maka biasanya ia akan jatuh kepada perbuatan tersebut..” (Al Furusiyah halaman 446)

🌴🌴🌴

Beliau juga berkata,

‎مامن عبد يعيبُ على أخيه ذنباً ، إلا و يُبتلى به ، فإذا بلغك عن فلان سيئةً فقل : غفر الله لنا وله

Tidak ada seorang hambapun yang memburuk-burukkan orang lain karena sebuah dosa, maka biasanya ia akan jatuh kepada dosa tersebut. Apabila sampai kepadamu tentang kesalahan seseorang maka ucapkanlah, “Semoga Allah mengampuni kita dan dia..”


Diterjemahkan oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى


======🌴🌴🌴🌴🌴======

Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).


======🌴🌴🌴🌴🌴======

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/66446

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, February 16, 2024

Makmur Luar Dalam

Bahagia Memakmurkan Masjid
Bismillah...

Alhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah…

Keimanan itu aslinya berpusat di hati. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

“التَّقْوَى هَاهُنَا” وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.

Takwa itu disini”. Sambil beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Sesuatu yang berada di dalam hati aslinya tidak terlihat. Sebab tersembunyi didalamnya.

Namun keimanan yang berada di dalam hati, bisa diketahui keberadaannya dengan tanda-tanda lahiriah yang terlihat mata.

Diantara tanda keimanan tersebut adalah memakmurkan masjid. 

Allah ta’ala berfirman,

“إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ”

Yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah golongan yang selalu mendapat petunjuk”. QS. At-Taubah (9): 18.

Berbagai keterangan para ulama tafsir mengenai makna memakmurkan masjid, bisa disimpulkan menjadi dua:

1. Memakmurkan fisik bangunannya.

2. Memakmurkan kegiatan di dalamnya. [Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauziy (halaman 572) dan Jâmi’ al-Bayân karya al-Ijiy (halaman 373).]

Atau dengan kata lain menjaga masjid agar senantiasa makmur luar dan dalam.

Memakmurkan fisik bangunan masjid, dimulai dari mendirikan masjid baru. Kemudian juga merawat bangunan masjid yang sudah ada. Baik fasilitas penerangannya, pengairannya, sirkulasi udaranya, karpetnya, hingga kebersihan dalam dan luar masjid.

Adapun memakmurkan kegiatan di masjid, terutama adalah dengan menggunakannya untuk shalat fardhu berjamaah tepat waktu. Kemudian juga mengisinya dengan majlis taklim secara rutin. Untuk mengkaji al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik yang diperuntukkan buat kaum dewasa, maupun untuk anak-anak.

Bahagia Memakmurkan Masjid

Siapapun orang yang memiliki keimanan di hatinya, ia akan merasa bahagia untuk memakmurkan masjid. Atau minimal merasa bahagia melihat masjid-masjid dimakmurkan.

Maka, orang yang terjangkiti kegalauan dan kegelisahan saat melihat suatu masjid makmur, ini pertanda keimanannya bermasalah. Yang lebih parah dari itu, ada orang yang merasa lebih senang melihat masjid sepi dibanding makmur. Bahkan berusaha membuat sepi masjid yang telah makmur. Cuma hanya karena beda ormas atau pilihan politik.

Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang terjangkiti hasad, iri, dengki dan berbagai penyakit hati lainnya. Amien…


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 R. Tsani 1440 / 14 Desember 2018


🌴🌴🌴

https://www.facebook.com/share/p/57dd4Tsru2n98h2e/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, February 9, 2024

Kekuasaan Itu Ujian (Hidup)

Kekuasaan Itu Ujian (Hidup)
Bismillah...

Orang yang bisa menahan diri, menjaga etika dan bertakwa pada Allah ketika berkuasa, akan jadi sosok pribadi yang besar & hebat. Bahkan penguasa yang adil itu jadi urutan pertama yang disebut oleh Rasulullah ﷺ tentang siapa yang dapat naungan dari Allah di hari kiamat.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ

(1) imam (pemimpin, penguasa) yang adil"

(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Iblis juga tahu persis kelemahan Adam dalam urusan ini, karenanya kekuasaan yang langgeng jadi kampanye iblis buat ngegoda Adam.

{ فَوَسۡوَسَ إِلَیۡهِ ٱلشَّیۡطَـٰنُ قَالَ یَـٰۤـَٔادَمُ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكࣲ لَّا یَبۡلَىٰ }

"Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” [QS Ṭā-Hā: 120]

Nabi ﷺ juga mengancam dengan ancaman berat banget: pemimpin yang menipu rakyatnya, haram masuk surga.

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدِ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً, يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ, وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ, إِلَّا حَرَّمَ اَللَّهُ عَلَيْهِ اَلْجَنَّةَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ma’qil Bin Yasâr Radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya". [Muttafaq alaih]

[al-Bukhâri dalam al-Ahkâm bab manistur’iya ra’iyyatan falam yanshah, no. 7150, Imam Muslim, no. 142]

Memang, gak ada yang bisa sempurna memimpin seperti Rasulullah ﷺ. Tapi kalo ada kesempatan punya pemimpin yang cerdas dan baik, jangan disia-siakan.


🌴🌴🌴

https://www.facebook.com/share/nknbQVnaYpppgpD7/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, February 5, 2024

Pengaruh Istri Terhadap Pekerjaan Suami

Pengaruh Istri Terhadap Pekerjaan Suami
Bismillah...

🔸Dari Kholid bin Yazid, ia berkata : Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:

"Aku datang kepada seorang pedagang kain di Makkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan,

"Tidaklah layak beli dari orang semacam itu", lalu aku pun beli baju dari pedagang yang lain.

🔹Dua tahun setelah itu aku (pergi untuk menunaikan ibadah) haji, dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah. lalu aku bertanya kepadanya : "Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?"

Ia menjawab : "Ya benar!"

Aku bertanya lagi : "Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang?! Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan mu dan (mengumbar) sumpah!"

🔸Lantas ia pun bercerita : "Dahulu aku mempunyai istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rejeki, maka ia meremehkannya, dan jika aku datang kepadanya dengan rejeki yang banyak maka ia (akan) menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Yang jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata :

'Wahai suamiku, bertakwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku melainkan dengan yang thoyyib (halal), dan jika engkau datang kepadaku dengan sedikit rejeki, aku akan menganggapnya banyak. Dan jika engkau tidak dapat apa-apa, (maka) aku akan membantumu memintal (kain).'"

[Al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (V/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan bin Muhammad ad-Dainuri al-Qodhi al-Maliki]

🔹Sungguh begitu berpengaruhnya tabiat seorang istri dalam rumah tangga terhadap pekerjaan sang suami, lihat tak jarang kita saksikan ada seorang suami yg rela melakukan korupsi, menipu, mencuri, terlilit hutang riba, semua itu terkadang karena desakan kebutuhan yg berlebihan dari sang istri atau demi menyenangkan gaya hidup sang istri.

🔸Dan sebaliknya ada pula seorang suami yg tetap sabar mencari penghasilan yg halal, walau pun gajinya kecil, karena berkat dukungan dan pesan dari sang istri agar ia senantiasa membawa harta yg halal untuk dirinya dan anak-anaknya.

🔹Maka dari sinilah betapa pentingnya sifat qonaah dan ketaqwaan seorang istri, sebab hal itu juga dapat memberi pengaruh terhadap bagaimana pekerjaan sang suami. 

🔸Dan hendaknya seorang istri tidak menuntut suami melebihi kemampuannya, sebab dalam islam seorang suami memang di wajibkan oleh Allah Ta'ala agar memberikan nafkah sesuai kemampuannnya bukan berdasarkan banyaknya kebutuhan istri.

🔹Semoga dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran dan menjadikan bekal dalam mengarungi kehidupan berumahtangga.


🔸🔸💠🔹🔹

✍ Habibi Quotes, 07 September 2014.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, February 4, 2024

Nasehat dan Renungan Untuk Diriku Sendiri...

Nasehat dan Renungan Untuk Diriku Sendiri...
Bismillah...

🚦Ku dapati orang-orang yang banyak menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Lalu ku perhatikan diriku, ternyata aku masih jauh ketinggalan dari mereka.

🚦Ku dapati orang-orang yang senantiasa bangun mengerjakan shalat malam.

Lalu ku perhatikan diriku, ternyata aku masih jauh ketinggalan dari mereka.

🚦Ku dapati orang-orang yang rajin menjalankan puasa sunnah.

Lalu ku perhatikan diriku, ternyata aku masih jauh ketinggalan dari mereka.

🚦Ku dapati orang-orang yang menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, membaca Al Qur'an, senantiasa bertaubat.

Lalu ku perhatikan diriku, ternyata aku masih jauh ketinggalan dari mereka.

🚦Ku dapati orang-orang yang sabar, ikhlas, qonaah, menjaga lisan, berakhlak baik.

Lalu ku perhatikan diriku, ternyata aku pun juga masih jauh ketinggalan dari mereka.

🚦Sungguh aku menyadari, ternyata aku masih banyak kekurangan dalam amal shalih daripada mereka.

Dan aku semakin merasa bersalah...

🚦Ketika teringat hampir seluruh waktuku tersita untuk mengerjakan tugas-tugas dunia. Sedangkan untuk Allah hanya kuberi waktu sisa.

🚦Lantas entah apa yang akan kukatakan pada-Nya,

Jika sedetik kemudian Dia memanggilku ?!


~~~~~~~🍁🌻⭕~~

✍ Habibie Quotes, 17/01/23

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, February 3, 2024

Manhaj Salaf : Belum Tentu...

Belum tentu yang rajin ibadah masuk surga
Bismillah...

🍁 Belum tentu yang rajin ibadah masuk surga...

Karena semua amalan itu bisa hilang dengan adanya rasa ujub dan riya' juga sum'ah meskipun amalannya sebanyak air di bumi...

Pahalanya batal dan tertolak sebab adanya sifat² tercela, merasa telah mampu membooking surga dengan segelintir ibadahnya...

🍁 Belum tentu juga yang sering maksiat masuk neraka...

Karena dosa² dan maksiat dapat dihapuskan dengan taubatan nasuha...

Sang pelaku maksiat bisa saja benar² insaf dan bertaubat sehingga Allâh yang maha pengampun mengampuni dosa²nya meskipun sebanyak pasir di pantai...

🍁 Surga adalah kenikmatan yang Allâh berikan kepada siapa yang Dia kehendaki...

Sehingga tidaklah kita dijamin masuk surga dengan amalan yang tidak seberapa ini kecuali para Sahabat yang telah disebutkan dalam dalil yang shohih...

🍁 Jadi belum tentu seseorang yang melakukan ibadah masuk Surga dan seorang yang melakukan maksiat masuk Neraka, semua itu keikhlasan dan penutupan akhir hidupnya...

Tiada amalan yang mampu memasukkan seorang hamba ke Surga tanpa rahmat Allâh Ta'alaa...

🍁 Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

🍁 “Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya kedalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).


Penulis Penuntut Ilmu

Dikoreksi oleh: Ustadz Wukir Saputro Lc,M.Pd.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, February 2, 2024

Manhaj Salaf : Sebuah Renungan

Manhaj Salaf : Sebuah Renungan
Bismillah...

🔺Mustahil kita hidup bisa menyenangkan semua orang, Sebab di antara sunatullah kehidupan adalah sunnah tadaffu’ (sunah pertarungan).

🔻Maka meski sebaik apa pun diri kita, baik dalam perilaku, tutur kata, berpendapat, atau tulisan, bahkan ketika diam pun tetap saja akan selalu ada orang yang tidak menyukai kita.

🔺Dan bagaimana mungkin kita berharap hidup semua orang menyukai kita, sedangkan Allah ﷻ saja ada yang tidak menyukai bahkan dimusuhi, Padahal mereka adalah hambaNya, dan Dia adalah pencipta dan pemberi rezki bagi mereka.

🔺Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

Wahai orang-orang beriman, jangan kau jadikan musuhKu dan musuhmu sebagai auliya’ (pemimpin, penolong, pelindung, kawan dekat). (QS. Al Mumtahanah: 1)

Dan seluruh Nabi ‘Alaihimussalam pun memiliki musuh, padahal mereka hidup putih bersih dari alif sampai ya’ kehidupannya.

🔺Allah ﷻ berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ

Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi, musuh dari goloangan syetannya manusia dan jin. (Qs. Al An’am: 112)

🔻Oleh karena itu, Benar apa yang dikatakan Imam Nashirus Sunnah, Asy Syafi'iy Rahimahullah:

رضا النّاس غاية لا تدرك فعليك بما فيه صلاح نفسك فالزمه

(Mencari) ridhanya manusia adalah tujuan yang tidak pernah tercapai, maka hendaknya kamu mencari sesuatu bermanfaat bagimu dan peganglah baik-baik itu. (Nadhratun Na'im, 3/630)

🔺lmam Sufyan Ats Tsauri  Rahimahullah juga mengatakan:

رضا الناس غاية لا تدرك ، فأحمق الناس من طلب من لا يدرك

Ridha manusia adalah tujuan yang tidak bisa tercapai, dan majusia paling bodoh adalah orang yang mencari-cari sesuatu yang tidak pernah tercapai. (Qutul Qulub, 2/389)

🤲🏼Maka, berjalanlah di atas sunah kehidupan, dan memohonlah kepada Allah ﷻ  pertolongan dan perlindungan dari kezaliman orang-orang yang tidak menyukai kita.

Wallahu A'lam wa Lillahil 'Izzah


✍ Habibie Quotes, 04/05/18

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive