Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label puasa. Show all posts
Showing posts with label puasa. Show all posts

Friday, March 8, 2024

Hal-Hal yang Disunnahkan di Bulan Ramadhan

Hal-Hal yang Disunnahkan di Bulan Ramadhan
Bismillah...

1. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bulan Ramadlan merupakan bulan Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah : 185). Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya telah memberikan keteladanan bagi kita dalam hal ini. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa membaca ulang Al-Qur’an/bertadarus di hadapan Jibril setiap malam bulan Ramadlan, sebagaimana yang dikhabarkan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن

Jibril biasa menemui beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadlan untuk bertadarus Al-Qur’an” (HR. Bukhari no. 6).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an” (HR. Al-Bukhari no. 5027, Abu Dawud no. 1452, At-Tirmidzi no. 2909, dan Ibnu Majah no. 211).

الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan baik, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata (tidak lancar – tapi tetap berkemauan keras), maka baginya dua pahala” (HR. Al-Bukhari no. 4937, Muslim no. 798, Abu Dawud no. 1454, ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 4194; ini adalah lafadh Muslim).

مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن كمثل الأترجة ريحها طيب وطعمها طيب ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن كمثل التمرة لا ريح لها وطعمها حلو ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة ليس لها ريح وطعمها مر

Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, baunya wangi dan lezat rasanya. Sedangkan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, maka ia seperti tamr (kurma), tidak berbau tetapi manis rasanya. Permisalan seorang munafiq yang membaca Al-Qur’an seperti raihan, baunya wangi akan tetapi rasanya pahit. Sedangkan permisalan seorang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an, maka ia seperti buah handhalah, tidak wangi lagi pahit rasanya” (HR. Al-Bukhari no. 5427 dan Muslim no. 797).

Selain membaca Al-Qur’an, kita juga dituntut untuk mentadaburi dan mengamalkannya.

2. Memperbanyak Shadaqah.

Bershadaqah adalah satu kesempatan bagi kita untuk mencari keridlaan Allah serta maghfirah-Nya di bulan Ramadlan. Shadaqah yang kita berikan haruslah berasal dari harta yang halal untuk diberikan kepada faqir miskin, sanak kerabat, tetangga, anak-anak yatim piatu, dan kaum muslimin pada umumnya. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا

Sesungguhnya Allah itu Maha Bagus, Allah tidak akan menerima kecuali yang baik (halal)” (HR. Muslim no. 1015).

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن فلرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadlan pada saat Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau di setiap malam di bulan Ramadlan untuk bertadarus Al-Qur’an. Maka pada saat itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus” (HR. Al-Bukhari no. 6).

3. Memberi Makanan Berbuka kepada Orang yang Sedang Berpuasa.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

من فطر صائما كان له مثل أجرهم من غير أن ينقص من أجورهم شيئا

Barangsiapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi dari pahala orang berpuasa itu sedikitpun” (HR. Ahmad 4/114, At-Tirmidzi no. 807, dan Ibnu Majah no. 1746. Shahih Sunan Ibni Majah 2/85 no. 1428).

4. Memperbanyak Do’a.

Ketahuilah wahai saudaraku muslimin, bahwa doa orang yang berpuasa sangat mustajab. Mari kita ambil kesempatan itu untuk banyak berdoa dengan hati yang ikhlash, mengikuti sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan berkeyakinan bahwa doa kita akan dikabulkan oleh Allah ta’ala.

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

ثلاث دعوات مستجابات : دعوة الصائم ودعوة المظلوم ودعوة المسافر

Ada tiga doa yang dikabulkan : Doa orang yang berpuasa, doa orang yang dianiaya, dan doa orang yang bepergian (musafir)” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman no. 3324; Ash-Shahiihah no. 1797)

5. I’tikaf.

Yaitu berdiam diri di masjid untuk beribadah dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah ta’ala. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadlan.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان

Dari ‘Abdillah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan i’tikaf apabila masuk malam-malam sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan” (HR. Al-Bukhari no. 2025 dan Muslim no. 1171).

6. Melakukan ‘Umrah.

Dalil yang menunjukkan keutamaan ber-‘umrah pada bulan Ramadlan adalah sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang wanita Anshar yang tidak sempat berhaji bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

فإذا جاء رمضان فاعتمري فإن عمرة فيه تعدل حجة

Apabila datang bulan Ramadlan, maka ber-umrah-lah kamu, sesungguhnya ‘umrah di bulan Ramadlan itu nilainya sama dengan ibadah haji” (HR. Muslim no. 1256).

7. Melatih Anak-Anak untuk Berpuasa.

Melatih anak-anak sedini mungkin untuk berpuasa (sesuai dengan kadar kesanggupannya) sangatlah penting untuk menanamkan rasa cinta terhadap syari’at Islam. Selain itu, fisik mereka akan terlatih di kemudian hari tahapan-demi tahapan sehingga pada satu waktu, si anak dapat mengerjakan ibadah puasa secara sempurna (mulai fajar shadiq sampai matahari terbenam). 

Ada teladan yang cukup baik dari para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini :

عن الربيع بنت معوذ قالت أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار من أصبح مفطرا فليتم بقية يومه ومن أصبح صائما فليصم قالت فكنا نصومه بعد ونصوم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan di suatu pagi hari ‘Asyuura (10 Muharram) di pedesaan kaum Anshar. Ia berkata : ‘Barangsiapa di waktu pagi tidak berpuasa, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa di waktu pagi berpuasa, maka teruskanlah puasanya itu’. Maka Rubayyi’ berkata : “Kami pun berpuasa dan menyuruh anak-anak kami berpuasa. Kami memberikan boneka-boneka dari wol apabila mereka menangis karena lapar dan haus. Hal itu terus berlangsung hingga waktu berbuka tiba” (HR. Al-Bukhari no. 1859).


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

https://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/09/ringkasan-hukum-hukum-dalam-bulan.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Hal-Hal yang Harus Ditinggalkan oleh Orang yang Berpuasa

Hal-Hal yang Harus Ditinggalkan oleh Orang yang Berpuasa
Bismillah...

Untuk meraih kesempurnaan puasa, orang yang berpuasa selayaknya tidak hanya menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa saja. Namun ia juga harus menahan diri dari akhlaq-akhlaq yang tercela dan perbuatan dosa lainnya. Salah satu tujuan yang diinginkan oleh seorang yang berpuasa adalah mencapai derajat taqwa, sebagaimana firman Allah ta’ala :

يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلّكُمْ تَتّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah : 183).

Beberapa hal yang harus ditinggalkan oleh orang yang berpuasa diantaranya adalah :

1. Perkataan Dusta.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak memerlukan (puasa orang itu yang) meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari no. 1903).

2. Pembicaraan yang Tidak Bermanfaat dan Kata-Kata Kotor.

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

ليس الصيام من الأكل والشرب إنما الصيام من اللغو والرفث فإن سابك أحد أو جهل عليك فلتقل إني صائم إني صائم

Puasa itu bukan hanya dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu (menahan diri) dari kata-kata tidak bermanfaat dan kata-kata kotor. Oleh karena itu jika ada orang yang mencacimu atau membodohimu, maka katakanlah kepadanya : 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa'” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996 dan Al-Hakim no. 1571 dengan sanad shahih; ini adalah lafadh Ibnu Khuzaimah).

3. Ghibah (Menggunjing/Ngrumpi).

Ghibah adalah menceritakan keburukan seseorang dimana orang tersebut tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain. 

Allah telah berfirman :

وَلاَ يَغْتَب بّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya “ (QS. Al-Hujuraat : 12).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أتدرون ما الغيبة قالوا الله ورسوله أعلم قال ذكرك أخاك بما يكره قيل فرأيت إن كان في أخي ما أقول قال إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته وإن لم يكن فيه فقد بهته

Apakah kalian tahu apa ghibah itu? Mereka menjawab : ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu’. Beliau bersabda : ‘Jika kamu menyebut saudaramu tentang apa yang ia benci, (maka kamu telah melakukan ghibah)’. Beliau ditanya : ‘Bagaimana jika sesuatu yang aku katakan ada pada saudaraku?’ Beliau menjawab : ‘Bila sesuatu yang kamu bicarakan ada padanya maka kamu telah melakukan ghibah, dan apabila yang kamu bicarakan tidak ada maka kamu telah membuat kebohongan atasnya “ (HR. Muslim no. 2589, At-Tirmidzi no. 1934, Malik no. 1998, dan Ahmad 2/384; ini adalah lafadh Muslim).

4. Namimah (Mengadu Domba).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

لا يدخل الجنة نمام

Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba” (HR. Al-Bukhari no. 6056 dan Muslim no. 105; ini adalah lafadh Muslim).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa namimah itu lebih buruk daripada ghibah, karena ia merupakan satu oengkhianatan dan kehinaan yang kemudian akan berakhir dengan percekcokan dan pemutusan silaturahim.

5. Mengumbar Syahwat.

Fenomena yang hampir terjadi di setiap tempat di sekitar kita adalah banyaknya kaum muslimin yang menghabiskan waktu sehabis sahur dan menjelang berbuka untuk “nongkrong”, “mejeng”, berdua-duaan dengan lain mahram, dan yang semisalnya dengan alasan jalan sehat, cuci mata, atau ngabuburit. Alangkah meruginya mereka dengan perbuatan sia-sia dan maksiat itu. 

Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menundukkan pandangan dan memelihara kemaluannya :

قُلْ لّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضّواْ مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُواْ فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَىَ لَهُمْ إِنّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ* وَقُل لّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنّ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…." (QS. An-Nuur : 30-31).

عن جرير بن عبد الله قال سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة فأمرني أن أصرف بصري

Dari Jabir bin Abdillah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari pandangan tidak sengaja (terhadap sesuatu yang diharamkan), maka beliau memerintahkan kepadaku untuk memalingkan pandanganku” (HR. Muslim no. 2159).

كُتِبَ عَلَى ابْنِ أدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌُ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657, ini adalah lafadh Muslim)

Oleh karena itu, muncul ancaman keras dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bagi orang-orang yang melakukan keburukan-keburukan tersebut di atas. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya” (HR. Ibnu Majah no. 1690, Al-Hakim no. 1572, Ahmad 2/373, dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa no. 8097; ini adalah lafadh Ibnu Majah. Shahih Sunan Ibni Majah 2/81 no. 1380).

Hal ini dikarenakan orang yang berpuasa tersebut tidak memahami hakikat puasa yang sebenarnya sebagaimana yang Allah ta’ala telah perintahkan kepada kita sehingga Allah membalasnya dengan mengharamkan pahala dan ganjaran puasanya.


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

https://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/09/ringkasan-hukum-hukum-dalam-bulan.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Yang Boleh Dilakukan Oleh Orang yang Berpuasa

Yang Boleh Dilakukan Oleh Orang yang Berpuasa
Bismillah...

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لولا أن أشق على أمتي أو على الناس لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة

Jika aku tidak takut menyulitkan umatku – atau menyulitkan manusia – , niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat” (HR. Al-Bukhari no. 887 dan Muslim no. 252; ini adalah lafadh Al-Bukhari).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengkhususkan hal itu hanya pada orang yang tidak berpuasa saja. Namun secara umum berlaku untuk orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Dan bahkan, bersiwak ini sangat dianjurkan……

2. Masuk Waktu Fajar dalam Keadaan Junub (Belum Mandi).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bangun pagi ketika fajar, sedangkan beliau dalam keadaan junub setelah bercampur dengan istrinya, lalu beliau mandi setelah terbit fajar dan kemudian berpuasa. Hal ini berdasarkan hadits :

عن عائشة وأم سلمة - رضي الله عنهما- : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يدركه الفجر وهو جنب من أهله ثم يغتسل ويصوم

Dari Aisyah dan Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhuma : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati fajar telah terbit dan ketika itu beliau dalam keadaan junub setelah bercampur dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa (HR. Al-Bukhari no. 1926 dan Muslim no. 1109; ini lafadh Al-Bukhari).

3. Berkumur dan Memasukkan Air ke dalam Hidung (Ketika Wudlu’).

Hal ini karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berkumur dan memasukkan air ke hidung saat beliau berpuasa. Hanya saja beliau melarang orang yang berpuasa untuk berlebih-lebihan dalam melakukan kedua hal tersebut. 

Laqith bin Shabirah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

... وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً

Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung saat berwudlu’) kecuali bila kalian berpuasa” (HR. At-Tirmidzi no. 788, Abu Dawud no. 142, Ibnu Abi Syaibah no. 84, Ibnu Majah no. 407, dan Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 87; Irwaa’ul-Ghalil no. 935).

4. Bercumbu dan Berciuman Bagi Suami Istri yang Sedang Berpuasa (bagi yg mampu menahan syahwat).

Hal ini ditegaskan oleh hadits berikut :

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل وهو صائم ويباشر وهو صائم ولكنه أملككم لإربه

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ta’ala ‘anhaa bahwasannya ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu pada saat beliau sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya diantara kalian” (HR. Al-Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106; ini adalah lafadh Muslim).

Hal itu dimakruhkan bagi orang yang masih muda dan tidak bagi yang sudah tua. 

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma ia berkata :

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فجاء شاب فقال يا رسول الله أقبل وأنا صائم قال لا فجاء شيخ فقال أقبل وأنا صائم قال نعم قال فنظر بعضنا إلى بعض فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد علمت لم نظر بعضكم إلى بعض ان الشيخ يملك نفسه

Kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang pemuda mendekati beliau seraya berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku mencium istriku sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Tidak boleh”. Kemudian datang seorang yang telah tua seraya berkata, "Apakah aku boleh mencium (istriku) sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”. Beliau menjawab, "Boleh”. Abdullah berkata, "Lalu kami saling berpandangan, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang sudah tua tersebut mampu untuk menahan nafsunya (HR. Ahmad 2/185 dan 2/220. Silsilah Ash-Shahiihah no. 1606).

5. Tranfusi Darah dan Suntikan yang Tidak Dimaksudkan Sebagai Makanan.

Syaikh Ibnu ’Utsaimin pernah ditanya tentang hukum suntikan untuk pengobatan yang dilakukan di siang hari bulan Ramadlan bagi orang yang berpuasa, maka beliau menjawab : ”Suntikan pengobatan ada dua : Pertama, suntikan infus dimana dengan suntikan ini bisa mencukupi kebutuhan makan dan minum. Maka dalam hal ini orang yang melakukannya termasuk dalam orang yang telah berbuka (batal puasanya). Nash-nash syar’i bertemu dengan satu makna yang mencakup satu bentuk dari keumuman bentuk-bentuk hukum dalam nash, maka hal itu dihukumi dengan nash tersebut. Adapun jenis yang kedua adalah suntikan yang tidak mengandung makanan dan minuman. Maka orang yang melakukannya ini bukan termasuk orang yang berbuka (tidak batal puasanya). Hal itu disebabkan karena suntikan tersebut tidak tercakup dalam konteks nash secara lafadh maupun makna. Ia bukanlah termasuk cakupan makan dan minum. Bukan pula sesuatu yang mempunyai makna makan dan minum. Hukum asal (seseorang yang melakukan puasa) adalah sah puasanya hingga tetap adanya sesuatu yang menyebabkan rusaknya berdasarkan dalil syar’i” (Fataawaa Ash-Shiyaam oleh Ibnu ’Utsaimin, hal. 58; dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad). [17]

6. Berbekam.

Pada awalnya berbekam (canduk) termasuk perkara yang membatalkan puasa sebagaimana hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

أفطر الحاجم والمحجوم

Telah berbuka (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam” (HR. At-Tirmidzi no. 774; Abu Dawud no. 2367, 2370,2371; Ibnu Majah no. 1679. Shahih Sunan Abi Dawud 2/68).

Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum ini di-mansukh (dihapuskan) sehingga berbekam tidaklah membatalkan puasa. [18] 

Hal ini terlihat dari perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau berbekam pada saat berpuasa, sebagaimana hadits berikut :

عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم احتجم وهو محرم واحتجم وهو صائم

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu anhuma bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam saat beliau dalam keadaan ihram (haji) dan pernah berbekam dalam keadaan berpuasa (HR. Bukhari no. 1938, 1939).

عن أبي سعيد الخدري قال : رخص للصائم في الحجامة والقبلة

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata : ”Telah diberikan keringanan bagi orang yang berpuasa untuk berbekam dan mencium istrinya (tidak menyebabkan batal)” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1969 dan Ad-Daruquthni no. 2262; ini adalah lafadh Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam ta’liqnya atas Shahih Ibni Khuzaimah bahwa sanad hadits ini shahih).

7. Mencicipi Makanan.

Mencicipi makanan dibolehkan bagi orang yang berpuasa dengan catatan tidak sampai masuk ke tenggorokan (tertelan). 

Hal tersebut didasarkan atsar dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

لا باس أن يذوق الخل ، أو الشيء ما لم يدخل حلقه وهو صائم

Tidak ada masalah untuk mencicipi cuka atau yang lainnya selama tidak dimasukkan ke dalam kerongkongannya, sedangkan dia dalam keadaan berpuasa” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 9369 dengan sanad hasan).

8. Celak, Obat Tetes Mata, dan Semisalnya yang Dimasukkan ke dalam Mata.

Memakai celak dan obat tetes mata tidak termasuk perkara yang membatalkan puasa, baik pengaruh rasanya sampai tenggorokan maupun tidak. Pendapat ini dikuatkan (ditarjih) oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah di dalam risalahnya Haqiiqatush-Shiyaam, dan juga oleh muridnya Ibnul-Qayyim dalam Zaadul-Ma’aad.

Imam Bukhari berkata dalam Shahih-nya :

ولم ير أنس والحسن وإبراهيم بالكحل للصائم بأسا

Anas, Al-Hasan, dan Ibrahim tidak mempermasalahkan celak mata bagi orang yang berpuasa” (HR. Al-Bukhari 2/39 secara mu’allaq). [19]

9. Membasahi Kepala dengan Air Dingin dan Mandi.

Al-Bukhari dalam Shahih-nya bab Ightisal Ash-Shaaim, "Ibnu Umar membasahi baju (dengan air) lalu memakainya, sedang dia berpuasa. [20] 

Asy-Sya’bi masuk ke kamar mandi, sedang dia berpuasa. [21] 

Al-Hasan berkata, "Tidak ada masalah dengan berkumur-kumur dan mendinginkan (badan) bagi orang yang berpuasa”. [22] 

Dalam suatu hadits disebutkan :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصب الماء على رأسه من الحر وهو صائم

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menyiramkan air di atas kepalanya, sedang dia berpuasa karena kepanasan. (HR. Abu Dawud no. 2365 dan Ahmad 4/63, 5/376. Shahih Sunan Abi Dawud 2/61)


Footnote:

[17] Dinukil melalui perantaraan kitab Al-Fataawaa Asy-Syar’iyyah fil-Masaailil-’Ashriyyah min Fataawaa ’Ulamaa Al-Baladil-Haraam oleh Dr. Khalid Al-Juraisy, hal. 295-296.

[18] Ada ulama lain yang berusaha menjama’ (menggabungkan) beberapa hadits yang seakan-akan bertentangan dengan penjelasan bahwasannya berbekam saat puasa itu makruh bagi orang yang fisiknya lemah yang dengan ia berbekam bisa menjadi sebab batal puasanya. Namun sebaliknya, hal itu bukan menjadi satu kemakruhan bagi orang yang mempunyai fisik kuat dimana jika ia berbekam tidak menyebabkan badannya lemah yang dengan itu bisa membatalkan puasa. (Lihat penjelasan Asy-Syaukani dalam Nailul-Authaar 4/228)

Pembolehan berbekam saat berpuasa (dan tidak menyebabkan batal) ini merupakan pendapat yang dipegang oleh Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu Mas’ud, Ummu Salamah, Al-Hasan bin ’Ali, ’Urwah bin Az-Zubair, Sa’id bin Jubair, dan imam yang tiga (kecuali Ahmad). Adapun Imam Ahmad berpendapat batalnya orang yang berpuasa karena berbekam atau membekam karena beliau men-ta’lil tambahan lafadh (واحتجم وهو صائم) ”dan berbekam dalam keadaan berpuasa”. Yang benar, tambahan lafadh tersebut adalah shahih. Silakan lihat Taudlihul-Ahkaam min-Buluughil-Maraam (2/489-493 – dalam kitab ini berbeda kesimpulan dengan apa yang kami sebutkan di sini).

[19] Atsar Anas diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia mendla’ifkannya dari jalan marfu’. Atsar Al-Hasan disambungkan sanadnya oleh ’Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah (3/47) dengan sanad shahih darinya. Adapun atsar Ibrahim, disambungkan sanadnya oleh Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah, dan Abu Dawud dengan beberapa jalan darinya, dan riwayat tersebut berkualitas shahih. (Mukhtashar Shahih Al-Bukhari 1/560 no. 368-370).

[20] HR. Bukhari 2/603 secara mu’allaq. Disambungkan sanadnya oleh Al-Bukhari dalam At-Taarikh dan Ibnu Abi Syaibah dari jalan ’Abdullah bin Abi ’Utsman bahwasannya ia melihat Ibnu ’Umar melakukan hal tersebut. (Mukhtashar Shahh Al-Bukhari 1/560 no. 359).

[21] Idem. Disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih darinya. (Mukhtashar Shahh Al-Bukhari 1/560 no. 360).

[22] Idem. Disambungkan sanadnya oleh ’Abdurrazzaq dengan lafadh yang semakna dengannya. Dikeluarkan juga oleh Malik dan Abu Dawud yang semisal dengannya secara marfu’. (Mukhtashar Shahh Al-Bukhari 1/560 no. 362).


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

https://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/09/ringkasan-hukum-hukum-dalam-bulan.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, December 18, 2023

Amal Manusia Dihadapkan Kepada Allah Pada Hari Senin dan Kamis

Amal Manusia Dihadapkan Kepada Allah Pada Hari Senin dan Kamis
Bismillah...

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلَّا عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا أَوْ ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,

"Seluruh amal manusia dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dua kali dalam sepekan. Yaitu pada hari Senin dan Kamis. Lalu Allah mengampuni dosa setiap hamba-Nya yang mu'min, kecuali orang yang bermusuhan. Maka dikatakan kepada mereka, 'Tinggalkanlah dahulu kedua orang ini, sampai mereka berdamai'."

(HR. Shahih Muslim no. 4654 Kitab Al bir wa shilah wal adab)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Pada hari Senin dan Kamis semua amalan dinaikkan kepada Allah ta'ala, maka saya lebih suka amalanku dinaikkan kepada-Nya ketika saya sedang berpuasa.." 

Abu 'Isa berkata, "Dalam hal ini hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan gharib."

(HR. Tirmidzi no. 678 Kitab As shaum)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, November 20, 2023

Puasa Sunnah Dalam Setahun

Puasa Sunnah Dalam Setahun
Bismillah...

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Diantara ganjaran puasa disebutkan dalam hadits berikut, "Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim no. 1151).

Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun)."[1] Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506).

Pada kesempatan kali ini, Buletin At Tauhid mencoba mengangkat pembahasan puasa sunnah yang bisa diamalkan sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.

■ PUASA SENIN KAMIS

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, beliau mengatakan, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa  menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih)

■ PUASA TIGA HARI SETIAP BULAN HIJRIYAH

Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Mu’adzah bertanya pada Aisyah, Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya? Aisyah menjawab, "Iya. Mu’adzah lalu bertanya, Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut? Aisyah menjawab, Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” (HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih)

Namun, hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid.[2] Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2345. Hasan). Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda padanya, "Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)

■ PUASA DAUD

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

Cara melakukan puasa Daud adalah sehari berpuasa dan sehari tidak. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.”[3]

■ PUASA DI BULAN SYA'BAN

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan, "Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156). Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas harinya (bukan seluruh harinya."[4]) sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul Munir."[5] Para ulama berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib."[6]

■ PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

■ PUASA DI AWAL DZULHIJJAH

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: Tidak pula jihad di jalan Allah? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab:" Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih). Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya."[7] Diantara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari Asyura."(10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[8], …” (HR. Abu Daud no. 2437. Shahih).

■ PUASA AROFAH

Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arofah? Beliau menjawab, "Puasa Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162). Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, "Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” (HR. Tirmidzi no. 750. Hasan shahih).

■ PUASA ASYURA

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”[9]

Keutamaan puasa Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qotadah diatas. Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertekad  di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani. Lantas beliau mengatakan, "Apabila tiba tahun depan insya Allah." (jika Allah menghendaki) kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan. Ibnu Abbas mengatakan, Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

■ KETENTUAN DALAM MELAKUKAN PUASA SUNNAH

▪︎ Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata, "Pada suatu hari, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, Apakah kamu mempunyai makanan? Kami menjawab, Tidak ada. Beliau berkata, Kalau begitu, saya akan berpuasa. Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju). Maka beliau pun berkata, Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal." (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. 

▪︎ Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits Aisyah diatas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut."[10]

▪︎ Ketiga: Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits diatas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan.”[11] Beliau rahimahullah menjelaskan pula, Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.”[12]

Semoga Allah beri taufik untuk beramal sholih.


Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc


Sumber : https://muslim.or.id/5472-puasa-sunnah-dalam-setahun.html


Dipublikasikan ulang oleh 𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏 Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, October 23, 2023

Pahala Melimpah Bagi Orang Yang Berpuasa Sunnah

Pahala Melimpah Bagi Orang Yang Berpuasa Sunnah
Bismillah...

Dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah ﷺ bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, _'Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat & makanan karena-Ku'

Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka & kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi”.

(HR. Muslim no. 1151)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, August 11, 2023

Puasa Sunnah Lalu Jima'

Puasa Sunnah Lalu Jima'
Bismillah...

🔒Pertanyaan :

"Saya sering melakukan puasa sunnah pada hari Senin dan Kamis. Suatu hari, pada saat saya sedang puasa sunnah, istri mengajak melakukan hubungan suami istri. Yang kami tanyakan, apakah hukum perbuatan kami ini ? Apakah yang kami lakukan ini termasuk dosa besar ? Jazâkumullâh khairan".

🔓Jawaban :

Barangsiapa yang telah berniat melakukan puasa sunnah, maka sebaiknya ia menyempurnakan puasanya. Tetapi, ia juga boleh membatalkan puasa sunnah. Sebab dalam masalah puasa sunnah, pelaku bisa mengatur dirinya. Berdasarkan dalil-dalil di bawah ini :

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ

Aisyah berkata, Rasulullah bertanya kepadaku, “Apakah kamu memiliki sesuatu (makanan)?".

Aku menjawab, “Tidak ada apa-apa”. 

Beliau bersabda, “Kalau begitu aku akan melanjutkan puasaku”. Lalu beliau keluar. 

Kemudian kami diberi hadiah, atau seseorang berziarah kepadaku (dengan membawa hadiah). Tatkala Rasulullah pulang, aku berkata, “Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah atau ada seseorang yang berziarah kepadaku, dan aku telah menyisakan buatmu”. 

Kemudian beliau bertanya, “Apa itu?”.

Aku berkata, “Haisun (sejenis makanan dari kurma, minyak samin dan tepung)” 

Beliau berkata, “Bawalah kemari”. 

Lalu aku menghidangkannya. Kemudian Beliau memakannya dan berkata, “Sungguh aku tadi telah berniat untuk puasa

(HR Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Bagi Imam Syâfi’i rahimahullah dan para ‘Ulama yang sependapat dengannya, dalam riwayat yang kedua terdapat dalil yang jelas, bahwa puasa nâfilah (sunat) boleh dibatalkan, dan makan di tengah-tengah hari dan batal puasanya karena ia adalah nâfilah. Puasa nâfilah ada pada pilihan manusia, baik waktu memulai atau diteruskan atau tidak. Ini adalah merupakan pendapat kebanyakan para Sahabat, Imam Ahmad, Ishâk dan yang lainnya. Hanya saja, mereka sepakat bahwa menyempurnakan puasa sunnah adalah disunnahkan”. 

(Syarah shahîh muslim, 4/291)

Pendapat ini pun diperkuat oleh hadits Abu Juhaifah, Tentang kisah Salmân dan Abu Darda Radhiyallahu anhuma,

آخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فَقَالَ كُلْ قَالَ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ قَالَ فَأَكَلَ فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ قَالَ نَمْ فَنَامَ ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ نَمْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمْ الْآنَ فَصَلَّيَا فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ سَلْمَانُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salmân dan Abu Darda Radhiyallahu anhuma. Maka Salmân Radhiyallahu anhu membuat makanan buat Abu Darda Radhiyallahu anhu, kemudian ia berkata kepada Abu Darda Radhiyallahu anhu, “Makanlah” ! 

Ia berkata, “Aku sedang puasa”.

Salmân Radhiyallahu anhu berkata, “Aku tidak akan makan sehingga kamu makan”. Lalu Abu Darda Radhiyallahu anhu makan. 

Salmân Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda Radhiyallahu anhu, “Sesungguhnya bagi rabb-Mu memiliki hak atasmu dan jiwamu memiliki hak atasmu, juga keluargamu mimiliki  atasmu ada hak. Maka, berikan setiap hak kepada memiliki hak”. 

Lalu Abu Darda Radhiyallahu anhu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau berkata kepadanya, “Benar ucapan Salmân"

(HR Bukhâri, no. 1967)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Abu Darda Radhiyallahu anhu berbuka setelah ia meniatkan puasa dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkannya untuk mengqadha puasanya.

Demikian juga dikuatkan oleh hadits,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

Jâbir bin ‘Abdillâh berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu diundang kepada suatu makanan (perjamuan), maka penuhilah undangannya. Apabila hendak memakannya maka makanlah, dan apabila tidak ingin maka tinggalkanlah

(HR Muslim ,at-Timidzi, Ibnu Mâjah, Ahmad, al-Baihaqi)

Juga hadits,

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ وَهِيَ جَدَّتُهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْفَتْحِ فَأُتِيَ بِإِناَءٍ فَشَرِبَ ثُمَّ ناَوَلَنِيْ فَقُلْتُ إِنِّيْ صَائِمَةٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرٌ نَفْسَهُ فَإِنْ شِئْتِ فَصُوْمِيْ وَإِنْ شِئْتِ فَأَفْطِرِيْ

Dari Umi Hâni, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam masuk kepadanya pada hari putuh Mekah, lalu didatangkan kepadanya air, lalu beliau meminumnya, kemudian Nabi memberikan kepadaku. 

Maka aku berkata, “Aku sedang puasa". 

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang puasa sunnah, maka ia adalah amir atas dirinya. Jika kamu mau puasa maka puasalah, dan apabila ingin buka maka bukalah.

(HR al-Hâkim, al-Baihaqi, an-Nasâi dan Ahmad. Hadit ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni)

Maka tidak berdosa apabila seorang sedang puasa sunnah, membatalkan puasanya karena istrinya mengajak jima` atau sebaliknya, berdasarkan dalil-dalil di atas.


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Edisi 06-07/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta]

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, July 28, 2023

Rasulullah ﷺ Ditanya Tentang Puasa

Rasulullah ﷺ Ditanya Tentang Puasa
Bismillah...

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِهِ قَالَ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِبَيْعَتِنَا بَيْعَةً قَالَ فَسُئِلَ عَنْ صِيَامِ الدَّهْرِ فَقَالَ لَا صَامَ وَلَا أَفْطَرَ أَوْ مَا صَامَ وَمَا أَفْطَرَ قَالَ فَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمَيْنِ وَإِفْطَارِ يَوْمٍ قَالَ وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ وَإِفْطَارِ يَوْمَيْنِ قَالَ لَيْتَ أَنَّ اللَّهَ قَوَّانَا لِذَلِكَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ وَإِفْطَارِ يَوْمٍ قَالَ ذَاكَ صَوْمُ أَخِي دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ قَالَ فَقَالَ صَوْمُ ثَلَاثَةٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانَ إِلَى رَمَضَانَ صَوْمُ الدَّهْرِ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنْ رِوَايَةِ شُعْبَةَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَسَكَتْنَا عَنْ ذِكْرِ الْخَمِيسِ لَمَّا نُرَاهُ وَهْمًا و حَدَّثَنَاه عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ كُلُّهُمْ عَنْ شُعْبَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ و حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا غَيْلَانُ بْنُ جَرِيرٍ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بِمِثْلِ حَدِيثِ شُعْبَةَ غَيْرَ أَنَّهُ ذَكَرَ فِيهِ الِاثْنَيْنِ وَلَمْ يَذْكُرْ الْخَمِيسَ

Dari Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai puasanya, maka serta merta Rasulullah ﷺ marah, lalu Umar pun mengucapkan, "Kami rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul. Kami berlindung kepada Allah, dari murka Allah dan rasul-Nya dan baiat kami sebagai suatu baiat".

Kemudian beliau ﷺ ditanya tentang puasa Dahr (sepanjang masa), maka beliau ﷺ menjawab, 

"Hal itu seakan ia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka (karena terbiasa)". 

Kemudian beliau ﷺ ditanya lagi mengenai puasa dua hari dan berbuka sehari. Beliau ﷺ menjawab, 

"Dan siapa yang mampu untuk mengerjakannya?".

Kemudian beliau ﷺ ditanya mengenai puasa sehari dan berbuka dua hari. Beliau ﷺ menjawab, 

"Semoga Allah memberikan kekuatan pada kita untuk melakukannya".

Kemudian beliau ﷺ ditanya mengenai puasa sehari dan berbuka sehari, maka beliau ﷺ menjawab, 

"Itu adalah puasa yang dilakukan oleh saudaraku -yaitu- Dawud 'Alaihissalam."

Lalu beliau ﷺ ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau ﷺ menjawab, 

"Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan aku diutus (sebagai Rasul) atau pada hari itulah wahyu diturunkan kepadaku."

Kemudian beliau ﷺ bersabda, 

Puasa tiga hari pada setiap bulan dan puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya murapakan puasa Dahr.

Kemudian beliau ﷺ ditanya tentang puasa pada hari Arafah, maka beliau ﷺ menjawab, 

"Puasa itu akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang".

Kemudian beliau ﷺ ditanya tentang puasa pada hari 'Asyura`, beliau ﷺ menjawab, 

"Itu akan menghapus dosa-dosa pada tahun yang telah berlalu".

Dan didalam hadits ini, yakni dari riwayat Syu'bah, ia berkata, "Dan beliau ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin dan Kamis". Namun kami tidak menyebutkan puasa Kamis, karena menurut kami padanya terdapat Wahm (berita yang kurang akurat). 

Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz tentang hadits tersebut, "Telah menceritakan kepada kami bapakku -dalam riwayat lain- dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Syababah -dalam riwayat lain- dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami An Nadlr bin Syumail, semuanya dari Syu'bah dengan isnad ini. Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa'id Ad Darimi, telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal, telah menceritakan kepada kami Aban Al 'Aththar, telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir dalam isnad ini, sebagaimana hadits Syu'bah, "Hanya saja ia menyebutkan hari Senin, namun tidak menyebutkan hari Kamis".

(HR. Imam Muslim no. 1162 Kitab Puasa, Syarh Shahih Muslim)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive