Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label jin. Show all posts
Showing posts with label jin. Show all posts

Thursday, November 23, 2023

Iblis Tidak Akan Pernah Berhenti Untuk Menyesatkan Manusia

Iblis Tidak Akan Pernah Berhenti Untuk Menyesatkan Manusia
Bismillah...

Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ: وَعِزَّتِكَ يَا رَبِّ، لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْسَادِهِمْ، قَالَ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي

Iblis bersumpah, "Demi keagungan-Mu ya Rabb, aku tidak akan pernah berhenti untuk menyesatkan hamba-hamba-Mu, selama ruh mereka masih dikandung jasad."

Allah ﷻ berfirman, 

Demi keagungan dan kumuliaan-Ku, Aku akan senantiasa memberikan ampunan untuk mereka, selama mereka memohon ampun kepada-Ku”. 

(HR. Ahmad 11237, dihasankan Syuaib al-Arnauth)

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ، ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ ، وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ، وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka..

Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)".

(QS. al-A’raf: 16 – 17)

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَىْءٍ مِنْ شَأْنِهِ

"Sesungguhnya setan mendatangi kalian dalam segala urusan kalian". 

(HR Muslim 5423)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, November 29, 2022

Pelaku Bunuh Diri Tak Ada Hubungan Dengan Keimanan?

Pelaku Bunuh Diri Tak Ada Hubungan Dengan Keimanan?
Bismillah...

Psikologis modern ala barat mengatakan,

"Pelaku bunuh diri itu sebenarnya masih memiliki keinginan untuk hidup tapi karena beban hidupnya terlalu berat, baik secara mental, psikologi dan fisik, dan beban itu sudah ngga bisa dihadapi lagi, maka mereka memilih untuk mengakhirkan hidup mereka agar melepaskan diri dari beban berat yang ada. Dan ngga ada hubungannya dengan kerasukan setan atau kemasukan Jin, dan ngga ada hubungannya dengan keimanan seseorang."

[Mental Health Foundation. The impact of spirituality on mental health.

Live Science. God Help Us? How Religion is Good (And Bad) For Mental Health.]

Saya jawab,

"Kalau dia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla maka dia akan beriman bahwa segala bencana, kesengsaraan, kesulitan, ujian dan musibah itu datangnya dari Allah Azza Wa Jalla, Dan Allah Azza Jalla pula lah yang mampu menghilangkannya.

Kalau dia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla, maka dia akan sabar menghadapi segala bencana, kesengsaraan, kesulitan, ujian dan musibah yang didatangkan oleh Allah Azza Wa Jalla, bukan malah bunuh diri.

Kalau dia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla, maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah Azza Wa Jalla untuk menghilangkan segala bencana, kesengsaraan, kesulitan, ujian dan musibah, bukan malah bunuh diri.

Karena lemahnya pemahaman Tauhid dan lemahnya Iman, maka itu mengundang Setan (Jin) untuk membisikan hatinya dan dirinya agar bunuh diri yang merupakan dosa Besar, Dan merupakan pekerjaan Setan menjerumuskan anak Adam ke dalam dosa.

Dan setan memiliki kemampuan untuk berjalan di dalam darah manusia, kemudian membisikan untuk berbuat dosa, dalam perkara ini adalah berbuat perbuatan dosa Besar, yaitu Bunuh diri.

Ngga percaya ? Mari kita simak ayat Al Quran dan Haditsnya ...

Allah Azza Jalla berfirman,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَا سِ ۙ الْخَـنَّا سِ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّا س مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ

"Dari kejahatan (bisikan) setan  yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia" (QS. An-Nas [114] : 4 - 6)

Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ghaylan : telah bercerita kepada kami 'Abdur Razaq : telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhriy, dari 'Ali bin Husain, dari Shafiyyah binti Huyay berkata, Ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan iktikaf aku datang menemui beliau di malam hari, lalu aku berbincang-bincang sejenak dengan beliau, kemudian aku berdiri hendak pulang, beliau juga ikut berdiri bersama aku untuk mengantar aku. Saat itu Shafiyyah tingal di rumah Usamah bin Zaid. (Ketika kami sedang berjalan berdua itu) ada dua orang laki-laki yang lewat, dan tatkala melihat Nabi ﷺ keduanya bergegas. Maka Nabi ﷺ, "Kalian tenang saja. Sungguh wanita ini adalah Shofiyah binti Huyay." Maka keduanya berkata, "Mahasuci Allah, wahai Rasulullah." Lalu Nabi ﷺ bersabda,

"Sesungguhnya setan berjalan lewat aliran darah dan aku khawatir setan telah memasukkan perkara yang buruk pada hati kalian berdua."

- HR. Bukhari no. 3039 | Fathul Bari no. 3281

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قتل نفسه بشيء عذب به يوم القيامة

Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

كان فيمن كان قبلكم رجل به جرح فجزع فأخذ سكيناً فحز بها يده فما رقأ الدم حتى مات . قال الله تعالى : بادرني عبدي بنفسه حرمت عليه الجنة

Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, ia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga ia mati. Allah Ta’ala berfirman: ”Hambaku mendahuluiku dengan dirinya, maka aku haramkan baginya surga” (HR. Bukhari no. 3463, Muslim no. 113).

Dan bisa jadi, dampak stress berat atau depresi berkepanjangan yang dialami oleh Pelaku Bunuh Diri juga akibat bisikan Setan (Jin) yang menutup akalnya dan membuat kalut pikiran seseorang, sehingga tidak dapat berpikiran jernih, yang dilihatnya hanyalah Hawa Nafsu untuk mencari jalan yang paling mudah terlepas dari beban yang ada, yaitu Bunuh Diri.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02xvvYxrScm34eqvpoewjqvxHZaMSesvv8WT3i2WTXXD3kfuzgSpDAvVJEh6B8nqB7l&id=100081182600047

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, October 4, 2022

Lorong-lorong Syetan Untuk Menyesatkan Manusia

Lorong-lorong Syetan Untuk Menyesatkan Manusia
Bismillah...

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan dosa dan maksiat. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diturunkan al-Qur`an kepadanya, sebagai pengobat hati dan badan, juga kepada keluarga dan sahabatnya hingga hari pembalasan. Adapun sesudah itu,

Sesungguhnya pada perbuatan maksiat terdapat celah-celah dan pintu-pintu yang apabila hamba menutupnya dengan kuat dan selalu menjaganya dengan sabar, niscaya syetan tidak mendapatkan jalan untuk menjerumuskannya ke dalam dosa dan maksiat, lalu ia kembali dalam keadaan merugi. Dan sebaliknya, apabila seorang hamba tidak menjaga celah-celah dan pintu-pintu itu, tentu syetan mendapatkan jalan kepadanya. Celah-celah dan pintu-pintu tersebut memudahkannya menyerang hamba tersebut dan menjerumuskannya ke dalam perbuatan maksiat sedikit demi sedikit.

CELAH-CELAH INI ADALAH, PANDANGAN MATA, BISIKAN HATI, UCAPAN LISAN DAN LANGKAH KAKI

Ibnu al-Qayyim rahimahullah telah berbicara tentang empat celah ini, menjelaskan bahaya melalaikannya, dan tata-cara menjaganya, supaya hamba selamat dari serangan syetan dan bisikannya. Di antara perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah: ‘Manakala langkah pertama maksiat tersebut adalah dari sisi pandangan mata, dijadikanlah perintah menundukkan pandangan didahulukan terhadap memelihara kemaluan. Sesungguhnya segala peristiwa berawal dari pandangan, sebagaimana api besar bersumber dari percikan api kecil. Maka berawal dari pendangan mata, kemudian bisikan hati, kemudian langkah, kemudian kesalahan.

Dan karena sebab inilah dikatakan: Barangsiapa yang memelihara empat perkara ini niscaya ia memelihara agamanya: Pandangan mata, Bisikan hati, Ucapan lisan, dan Langkah kaki.

Maka hamba harus menjadi penjaga dirinya terhadap empat pintu ini dan selalu menjaga celah-celahnya karena musuh akan masuk melaluinya, lalu menyerang secara merajalela dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang dia kuasai. Oleh karena kebanyakan masuknya maksiat terhadap seorang hamba berasal dari empat pintu ini, maka kami akan menyebutkan satu pasal yang sesuai di setiap bab.

Pertama: Pandangan Mata

Adapun pandangan adalah pemandu syahwat dan utusannya.Dan menjaganya adalah dasar untuk menjaga kemaluan. Maka barangsiapa yang melepaskan pandangannya, berarti ia mendatangkan dirinya kepada sumber-sumber kebinasaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ اْلأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ.

Janganlah engkau meneruskan pandangan pertama dengan pandangan kedua, sesungguhnya hanya boleh bagimu pada pandangan pertama, dan tidak boleh pada pandangan kedua.” [HR. Ahmad].

Referensi : -

Dan beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَاْلجُلُوْسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ. قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ, مَجَالِسُنَا مَالَنَا بُدٌّ مِنْهَا. قَالَ: إِنْ كُنْتُمْ لاَ بُدَّ فَاعِلِيْنَ, فَأَعْطُوْا الطَّرِيْقَ حَقَّهُ. قَالُوْا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ اْلأَّذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ.

Hindarilah duduk-duduk di jalanan.’ Mereka berkata, Wahai Rasulullah, ia adalah mejelis-majelis kami, kami tidak bisa meninggalkannya.’ Beliau bersabda, Jika kamu memang tetap melakukan, maka berikanlah hak jalanan. Mereka bertanya, Apakah haknya?’ Beliau menjawab, Menahan pandangan, tidak mengganggu, dan menjawab salam.” [Muttafaqun ‘alaih].

Pandangan mata umumnya merupakan sumber berbagai peritiwa yang menimpa manusia. Sesungguhnya pandangan melahirkan bisikan hati. Kemudian bisikan hati melahirkan pikiran. Kemudian pikiran melahirkan syahwat. Kemudian syahwat melahirkan keinginan. Kemudian keinginan itu bertambah kuat, lalu menjadi semangat yang mantap. Lalu terjadilah perbuatan dan memang mesti terjadi, selama tidak ada penghalang. Dan dalam hal ini dikatakan: (sabar terhadap pandangan mata lebih mudah daripada sabar terhadap yang sesudahnya).

Bahaya Pandangan: Mengakibatkan Kerugian Dunia Akhirat

Seorang Penyair berkata:

Dan apabila engkau melepaskan pandangan matamu sebagai pemandu-  bagi hatimu pada suatu hari, niscaya segala pandangan itu menyusahkan engkau.

Engkau melihat yang tidak semuanya engkau mampu- atasnya dan tidak pula engkau sabar dari sebagiannya.

Berapa banyak orang yang melepaskan pandangannya, maka ia ia tidak bisa berlepas diri darinya melainkan telah berlumuran darah di antaranya dalam keadaan terbunuh.

Dan yang aneh, pandangan mata orang yang memandang merupakan panah yang tidak sampai kepada yang dipandang, sehingga ia menyediakan tempat di hati yang memandang.

Dan yang lebih aneh dari hal itu, sesungguhnya pandangan menorehkan luka di hati, maka diikuti torehan luka yang lain. Kemudian perihnya luka tidak dapat menghalanginya untuk mengulanginya. Dan sungguh dikatakan: ‘Menahan pandangan mata lebih mudah daripada terus merugi.

Kedua: Bisikan Hati

Adapun bisikan hati, maka urusannya lebih sulit. Sesungguhnya ia adalah sumber kebaikan dan keburukan. Darinya terlahir segala keinginan, rencana dan semangat. Maka barangsiapa yang menjaga bisikan hatinya, niscaya ia telah memegang tali kendali dirinya dan menguasai hawa nafsunya. Dan barangsiapa yang dikuasai oleh bisikan hatinya, maka hawa nafsunya lebih menguasainya. Dan barangsiapa yang meremehkan bisikan hatinya, niscaya ia akan menuntunnya kepada kebinasaan secara paksa.

Dan bisikan hati senantiasa mendatangi hati, sehingga ia menjadi angan-angan yang batil:

كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْئَانُ مَآءً حَتَّى إِذَا جَآءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. [An-Nuur/24 :39]

Angan-angan palsu:

Manusia yang paling rendah cita-citanya dan paling hina jiwanya adalah orang yang senang menukar realita dengan angan-angan palsu, menariknya untuk dirinya, dan berpakaian dengannya. Padahal demi Allah ia adalah modal orang-orang yang rugi dan pusat perdagangan para penganggur. Ia adalah makanan jiwa yang kosong, yang merasa cukup menyambung dengan kekuatan khayalan dan meninggalkan realita menuju angan-angan palsu.

Ia adalah yang paling berbahaya terhadap manusia, melahirkan kelemahan dan kemalasan, dan melahirkan kerugian dan penyesalan.

Pembagian Bisikan Hati:

Kemudian setelah itu, bisikan-bisikan hati terdiri dari beberapa bagian yang berkisar di atas empat dasar:

  1. Bisikan hati yang menarik manfaat-manfaat duniawi.
  2. Bisikan hati yang menarik bahaya-bahaya duniawi.
  3. Bisikan hati yang menarik kepentingan-kepentingan akhirat.
  4. Bisikan hati yang menarik bahaya-bahaya akhirat.

Maka hendaklah hamba memperhitungkan bisikan hati, pikiran, dan cita-citanya pada empat bagian ini. Apabila bisikan-bisikan hati saling bertabrakan karena begitu banyak ketergantungannya, ia mendahulukan yang lebih penting yang dikhawatirkan terlepasnya dan menunda yang kurang penting dan tidak dikhawatirkan lepasnya.

Maka bisikan hati dan pikiran orang yang berakal tidak melewati hal itu. Dengan hal itulah datangnya syari’at. Dan segala kepentingan dunia dan akhirat tidak berdiri kecuali atas hal itu. Dan pemikiran yang paling tinggi, paling besar, dan paling bermanfaat adalah: yang untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan negeri akhirat. Dan pemikiran yang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala terdiri beberapa macam:

Referensi :

●  Pertama: memikirkan ayat-ayat yang diturunkan dan merenunginya, serta memahami kehendak-Nya darinya. Dan karena sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkannya, tidak hanya sekedar membacanya, tetapi membaca adalah sarana.

Sebagian salaf berkata, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Qur`an untuk diamalkan, maka jadilah membacanya sebagai amal.

●  Kedua: memikirkan ayat-ayat yang disaksikan dan mengambil pelajaran darinya, serta mengambil dalil dengannya atas asma, sifat, hikmah, ihsan, kebaikan, dan kemurahan-Nya.

●  Ketiga: memikirkan segala karunia, ihsan, dan nikmat-Nya terhadap makhluk-Nya dengan berbagai macam nikmat, keluasan rahmat, ampunan, dan santun-Nya.

●  Keempat: Memikirkan aib diri dan penyakitnya, dan pada aib amal.

●  Kelima: Memikirkan kewajiban terhadap waktu dan tugasnya, serta mengumpulkan semua cita-cita atasnya.

Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa mengatur waktunya dengan baik. Karena jika ia menyia-nyiakannya, niscaya sia-sialah segala mashlahatnya. Sesungguhnya semua mashlahat bermula dari waktu, dan jika ia menyia-nyiakannya niscaya ia tidak bisa menyusulnya untuk selamanya.

NILAI WAKTU

Imam asy-Syafii rahimahullah berkata: ‘Aku telah bergaul dengan kalangan sufi, maka aku tidak mendapatkan faedah dari mereka selain dua huruf: salah satunya adalah ucapan mereka: ‘Waktu adalah pedang, jika engkau memotongnya (engkau beruntung) dan jika tidak niscaya ia memotongmu.’ Kedua: jiwamu, jika engkau tidak menggunakannya dengan benar, dan jika tidak niscaya ia menggunakan engkau dengan kebatilan.

Pada hakekatnya, waktu manusia adalah usianya. Ia adalah sumber kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan yang tetap, dan sumber kehidupannya yang sempit dalam siksaan yang pedih. Ia berlalu lebih cepat daripada awan. Jika waktunya yang digunakan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena-Nya, maka ialah hidup dan usianya. Dan selain yang demikian itu tidak terhitung dalam kehidupannya. Dan jika ia hidup padanya, ia hidup seperti kehidupan binatang. Apabila ia menghabiskan waktunya dalam lupa, syahwat, dan angan-angan palsu dan sebaik-baik yang memotongnya adalah tidur dan menganggur. Maka kematian ini lebih baik daripada hidupnya.

Apabila seorang hamba dan ia sedang shalat- ia tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali yang ia ingat darinya, maka tidak ada untuknya dari umurnya kecuali yang diperuntukkan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena-Nya.

Dan bisikan-bisikan hati dan pikiran selain bagian ini, maka bisa jadi ia adalah was-was syetan dan bisa jadi angan-angan palsu dan penipuan yang bohong, seperti bahaya orang-orang yang sakit di akal mereka, berupa orang-orang yang mabok dan pecandu narkotik.

Kondisi orang-orang tersebut mengatakan saat terbukanya kebenaran:

Jika kedudukanku di padang mahsyar di sisimu – apa yang telah kutemui, sungguh aku telah menyia-nyiakan hari-hariku

Angan-angan yang didapatkan jiwaku di satu masa- dan pada hari ini aku menganggapnya bagaikan mimpi-mimpi kosong.

Dan ketahuilah, sesungguhnya datangnya bisikan hati tidak berbahaya. Yang berbahaya hanyalah panggilan dan percakapannya. Bisikan hati bagaikan orang yang lewat di jalan. Jika engkau tidak memanggilnya dan engkau membiarkannya, niscaya ia lewat dan berlalu dari engkau. Dan jika engkau memanggilnya, niscaya ia menyihir engkau dengan omongan, tipu daya dan kepalsuannya. Bisikan hati adalah yang paling ringan terhadap jiwa kosong yang sedang menganggur, dan yang paling berat atas hati dan jiwa mulia yang tenang.

Maka manusia paling sempurna adalah yang paling banyak bisikan hati, pemikiran, dan keinginan dalam memperoleh keridhaan Rabbnya. Sebagaimana manusia yang paling kurang adalah yang paling banyak bisikan hati, pemikiran dan keinginan untuk bagian dan hawa nafsunya di manapun ia berada.

Inilah Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, bisikan-bisikan hati saling berdesakan atanya dalam mendapatkan ridha Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Maka terkadang ia menggunakannya dalam shalat, dan ia menyiapkan tentaranya, sedangkan dia dalam shalat. Berarti ia telah menggabungkan di antara jihad dan ibadah. Dan ini adalah bab masuknya berbagai macam ibadah dalam satu ibadah.

Ketiga: Ucapan Lisan

Adapun ucapan adalah menjaganya agar tidak keluar ucapan yang percuma, tidak berbicara kecuali pada sesuatu yang diharapkan keuntungan dan faedah dalam agamanya. Apabila ia ingin berbicara satu kata, ia berpikir: apakah ia mendapatkan keuntungan dan faedah ataukah tidak? Maka jika tidak ada keuntungan padanya, ia berpikir: apakah ia akan kehilangan kata yang lebih menguntungkan darinya, maka ia tidak menyia-nyiakannya dengan ini?

Dan apabila engkau ingin mengambil bukti terhadap yang ada di dalam hati, maka ambillah bukti atasnya dengan gerakan lisan. Sesungguhnya ia memperlihatkan kepadamu apa yang ada dalam hati. Pemiliknya menghendaki atau tidak.

Yahya bin Mu’adz berkata: hati itu seperti panci, mendidih dengan apa yang ada padanya, dan lisannya adalah gayungnya. Maka perhatikanlah seorang laki-laki saat berbicara, sesungguhnya lisannya menimba untukmu sesuatu yang ada dalam hatinya, manis dan asam, tawar dan asin, dan selain yang demikian itu. Dan menjelaskan kepadamu rasa hatinya dengan gayungan lisannya.

Dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu yang marfu’:

لاَ يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيْمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيْمُ لِسَانُهُ

Tidak istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya, dan tidak istiqamah hatinya sehingga istiqamah lisannya.” [HR. Ahmad, dan baginya ada beberapa syahid].

وَسُئِلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ فَقَالَ: الفَمُ وَالْفَرَجُ.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka? Beliau menjawab, ‘Mulut dan kemaluan.” [HR. at-Tirmidzi, dan ia berkata: hasan shahih].

Dan anehnya, sesungguhnya manusia bisa dengan mudah menjaga diri dari memakan yang haram, berbuat zalim, berzina, mencuri, meminum arak, memandang yang diharamkan dan selain yang demikian itu, dan sangat sulit atasnya menjaga diri dari gerakan lisannya. Dan berapa banyak engkau melihat laki-laki yang wara’ (menjaga diri) dari perbuatan keji dan zalim, sedangkan lisannya memfitnah pada kehormatan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia, dan ia tidak perduli dengan ucapannya.

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا, يَهْوِي بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang tidak jelas padanya, dia terjerumus dengan sebabnya di neraka lebih jauh di antara Timur dan Barat.” [HR. Muslim].

Dan dalam ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dalam hadits marfu’:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam”.

Sebagian salaf berkata: Setiap ucapan anak manusia adalah membahayakannya, tidak berguna baginya, kecuali zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang mengikutinya.

Keempat: Langkah Kaki

Adapun langkah kaki, maka memeliharanya adalah dengan cara tidak melangkahkan kakinya kecuali pada sesuatu yang dia mengharapkan pahalanya. Maka jika tidak ada tambahan pahala dalam langkahnya, maka duduk darinya lebih baik baginya. Dan ia bisa mengeluarkan diri dari setiap langkah yang mubah (boleh) menjadi ibadah dengannya dan meniatkannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka langkahnya menjadi ibadah.

Dan tatkala tergelincir itu ada dua: tergelincir kaki dan tergelincir lisan, datanglah salah satu dari keduanya disertai yang lain dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعِبَادُ الرَّحْمَانِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَاخَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلاَمًا

Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”.  [Al-Furqan/25:63]

Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala memberikan sifat istiqamah kepada mereka pada ucapan lisan dan langkah kaki mereka, sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan di antara pandangan mata dan bisikan hati dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

يَعْلَمُ خَآئِنَةَ اْلأَعْيُنِ وَمَاتُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.  [Ghafir/40:19]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tempat meminta pertolongan, Dia yang mencukupkan kita dan sebaik-baik berserah diri. Semoga rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesejahteraan  selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.


(Diterjemahkan dari risalah ‘Madakhil asy-Syaithan li ighwai al-Insan‘  min kalam al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. diringkas oleh divisi ilmiyah Dar al-Wathan)

***************

[Disalin dari مداخل الشيطان لإغواء الإنسان Penulis Divisi ilmiyah Dar al-Wathan,  Penerjemah : Muhammad Iqbal Ghazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]


Referensi : https://almanhaj.or.id/61671-lorong-lorong-syetan-untuk-menyesatkan-manusia.html


Dipublikasikan ulang oleh,

Admin MediaSunnahNabi

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 24, 2022

Wakil Iblis di Dunia

Wakil Iblis di Dunia
Bismillah...

Ada orang yang bersemangat untuk menuntut ilmu agama, namun ada saja orang yang menghalang-halanginya untuk menghadiri majlis ilmu.

Dia cegah manusia mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dia provokasi manusia agar tidak mendekat. Dia sebarkan isu yang macam-macam agar manusia lari dari majlis ilmu.

Siapakah dia itu? Dialah wakil IBLIS di muka bumi ini.

Berkata Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah :

نُواب إبليس في الأرض وهم الذين يُثبِّطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين، فهؤلاء أضرّ عليهم من شياطين الجن.

Wakil-wakil iblis di muka bumi, yaitu orang-orang yang menghalangi manusia dari menuntut ilmu dan mempelajari agama, mereka ini lebih membahayakan manusia dibandingkan para syaithan dari golongan jin.” (Miftah Daaris Sa’adah, jilid 1 hlm. 160).

Iblis, musuh utama anak cucu Adam ‘alaihissalam, dialah yang dahulu bersumpah di hadapan Allah subhanahu wata’ala untuk menggelincirkan umat manusia. Sebagaimana yang di kabarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ، ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf: 16-17)

Allah berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Shad: 82-83).

Allah berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus” (QS. Al A’raf: 16).

Dari Sabrah bin Abi Al Fakah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ الشَّيطانَ قعد لابنِ آدمَ بطرقِه , قعد له بطريقِ الإسلامِ , فقال : أتسلِمُ وتذرُ دينَك ودينَ آبائِك ؟ . قال : فعصاه وأسلم . قال : وقعد له بطريقِ الهجرةِ , فقال : أتهاجرُ وتدعُ أرضَك وسماءَك , وإنَّما مثلُ المهاجرِ كالفرسِ في الطِّوَلِ ؟ فعصاه وهاجر , ثمَّ قعد له بطريقِ الجهادِ , وهو جهادُ النَّفسِ والمالِ , فقال : تقاتلُ فتُقتلُ , فتُنكحُ المرأةُ ويُقسَّمُ المالُ ؟ . قال : فعصاه , فجاهد . قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فمن فعل ذلك منهم فمات , كان حقًّا على اللهِ أن يدخلَه الجنَّةَ

Sesungguhnya setan selalu duduk (menggoda) di semua jalan kebaikan anak Adam. Ia duduk di jalan Islam sambil berkata: “Mengapa kamu masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapak dan nenek moyangmu?”. Lalu hamba itu tidak menghiraukannya dan ia tetap masuk Islam. Kemudian setan duduk di jalan hijrah sambil berkata: “Mengapa kamu hijrah dan meninggalkan tempat tinggal dan hartamu?”. Hamba itu tidak mempedulikannya, dan ia pun tetap hijrah. Kemudian setan duduk di jalan jihad, yaitu jihad jiwa-raga serta harta, setan lalu berkata: “(kalau kamu jihad) kamu itu saling membunuh dan kamu akan terbunuh, istri kamu akan dinikahi orang lain dan harta kamu akan dibagi-bagi”. Hamba tadi tidak memperdulikannya, ia pun tetap berjihad. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda lalu: “Barangsiapa yang melakukan hal demikian, lalu mati, maka hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya dan An Nasa’i)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1756360941369832&substory_index=0&id=100009878282155

AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 10, 2022

Dulunya Jin Takut Kepada Manusia

Dulunya Jin Takut Kepada Manusia
Bismillah...

Allah ta'ala berfirman,

وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا

Bahwasanya ada beberapa laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin maka jin-jin itu menjadikan mereka semakin bertambah ketakutannya." (Al-Jin: 6)

Para mufassirin menjelaskan,

"Dahulu jin takut kepada manusia sebagaimana manusia sekarang takut kepada jin. Mulanya manusia apabila singgah di suatu tempat maka jin-jin yang menghuni tempat itu pergi menjauhkan diri.  

Akan tetapi keadaan berbalik tatkala manusia meminta perlindungan kepada jin saat melintasi suatu lembah atau menyusuri hutan atau tempat yang mengerikan seraya berkata, "Kami berlindung kepada tetua jin penunggu lembah ini". 

Perlakuan manusia yang merendah seperti itu membuat para jin menjadi sombong dan berani menakut-nakuti manusia hingga akhirnya manusia dibuat ketakutan kepada mereka." 

(Tafsir Ibnu Katsir 4/428)

Dari ayat di atas kita mengambil pelajaran bahwa isti'adzah (meminta perlindungan) kepada para jin merupakan tradisinya masyarakat jahiliah.

Selain itu ada peringatan keras dari meminta bantuan kepada dukun dan paranormal yang mereka sering mempersembahkan pengagungan berupa sesajian dan tumbal kepada para jin yang semua itu tergolong kesyirikan dan pelakunya tidak akan diampuni Allah sampai dirinya bertaubat.

Lalu wirid apa yang kita baca apabila kita singgah di suatu tempat? 

Rosulullah ﷺ mengajarkan, 

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

"A'uudzubikalimaatillaahit taammaat min syarri maa kholaq" (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya). (HR. Muslim 2708)

Siapa yang membaca wirid ini atas dasar iman dan hati bersandar penuh kepada Allah maka Allah akan melindungi dirinya hingga dia berpaling dari tempat tersebut.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0yDu4KKurioU5jbJtzXQZ3aYUqn45Da1BKc43BhrckCeZLc6qTquG1ScLh6iyXMMNl&id=100001764454087

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, September 6, 2022

Diantara Bentuk Kebodohan Orang Yang Percaya Dukun

Diantara Bentuk Kebodohan Orang Yang Percaya Dukun
Bismillah...

1️⃣ Ia meminta dukun untuk menanyakan perkara yang ghaib, padahal sang dukun sendiri juga tidak tahu bagaimana masa depannya dan kapan ajalnya..

2️⃣ Ia meminta dukun menolak dan menahan hujan, padahal dia sendiri juga kehujanan dan ia juga tidak bisa menahan air kencingnya..

3️⃣ Ia meminta dukun untuk dicarikan istri yang cantik, padahal istri sang dukun sendiri jelek. Bahkan sang dukun juga ingin punya istri cantik..

4️⃣ Ia meminta dukun agar bisa kaya, padahal sang dukun sendiri juga miskin, sebab itu dia buka praktek perdukunan untuk mencukupi ekonominya..

5️⃣ Ia meminta dukun agar bisa menghilangkan sakitnya dengan kesaktiannya, padahal dukun sendiri jika sakit juga berobat ke dokter..

Karena itu kaum muslimin perlu mengetahui bahwa dukun, ahli nujum, paranormal, siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, sejatinya ia adalah pendusta, karena mengetahui perkara yang ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al An’am:59)

Begitu pula dalam ayat lainnya disebutkan,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah". (QS. An Naml:65).

Karena yang mengetahui perkara ghaib hanya Allah, maka syari’at Islam melarang umatnya mempercayai dan mendatangi dukun. Seperti contohnya orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib, mampu meramal apa yang akan terjadi, mampu menahan hujan, mampu menerawang tempat barang yang hilang atau di curi, mampu melihat isi hati orang, dan semacamnya.

Walaupun di masyarakat dikenal dengan sebutan kyai, orang pintar, paranormal, orang tua, pawang atau lainnya. Semua itu tetap haram hukumnya..


✍🏼 Habibie Quotes

Ig - www.instagram.com/habibiequotes_

Tg - https://t.me/habibiequotes

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, September 5, 2022

Sepercik Karamah dan Khawariq Asy Syaitani

Sepercik Karamah dan Khawariq Asy Syaitani
Bismillah...

Kita percaya adanya Karamah, yaitu hal atau kejadian yang luar biasa di luar akal dan kemampuan manusia biasa, Akan tetapi, Karamah itu BUKAN sesuatu yang terwujud atas kehendak seseorang secara sengaja. Itu dulu saja yang dipahamkam.

Adalagi yang namanya Khawariq Asy Syaitani, semacam karamah dimata orang awam yang jauh dari ilmu, Akan tetapi ia sesuatu yang dapat terwujud atas kehendak seseorang secara sengaja.

Biasanya ini, entah seseorang itu memang bersekutu dengan Jin yang memang melakukan perjanjian dengan Jin, atau ia melakukan perbuatan Bid'ah atau Kesyirikan sehingga secara tidak sadar Jin telah menjadi teman baiknya kemudian membantu dirinya untuk mengeluarkan atau mewujudkan "Karamah" sesuai dengan kehendak hatinya yang ia sangka bahwa itu datang dari Allah Azza Wa Jalla untuk terus menyesatkannya dari jalan Allah dan menganggap dirinya di atas kebenaran, dengan alasan, "Jika saya mengamalkan yang tidak benar, mana mungkin saya diberi kekuatan luar biasa oleh Allah." Disitulah ia telah ditipu oleh Jin (setan). Kasihan dia.

Karena itu untuk membedakan mana yang Wali Allah atau Wali Setan, maka BUKAN dilihat dari Karamahnya apalagi penampilannya, TAPI lihat dari sisi Aqidahnya dan Amalannya

Silakan baca Kitab Wali Allah VS Wali Setan, Syaikh Al Islam Abu Al Abbas Taqi Ad Din Ahmad Al Harrani rahimahullah.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Yp6YTmL698VjDyXUSPrFxUqtotBZCYaFNb6Jeaq1ZTNEvPUmWed58GMtBibv4nULl&id=100081182600047

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, August 26, 2022

Dusta Dukun Yang Mengaku Mendapatkan Bisikan Gaib Datang Langsung Dari Allah

Bismillah...

Jika ada dukun yang mengatakan bahwa bisikan gaib yang mereka dapatkan itu datangnya langsung dari Allah Azza Wa Jalla, maka MEREKA ADALAH PENDUSTA DAN PADA HAKIKATNYA DUKUN ADALAH PENDUSTA. Bisikan gaib itu datangnya dari JIN KAFIR (SETAN) yang mencuri kabar dari langit.

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Telah menceritakan kepada kami Sufyan Telah menceritakan kepada kami Amru dia berkata; Aku mendengar Ikrimah berkata; Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ketika Allah menetapkan suatu urusan di langit, malaikat lantas meletakkan sayapnya dalam rangka tunduk pada perintah Allah. Firman Allah yang mereka dengarkan itu seolah-olah seperti suara gemerincing rantai di atas batu. Hal ini memekakkan mereka. Apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka mengucapkan, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Perkataan yang benar. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.

JIN-JIN PENCURI BERITA MENDENGARKANNYA (MEREKA BERSUSUN-SUSUN) SEBAGIAN DI ATAS SEBAGIAN YANG LAINNYA. MEREKA MENCURI DENGAR KALIMAT LALU MENYAMPAIKANNYA KEPADA YANG BERADA DI BAWAHNYA.

Bisa jadi JIN itu diterjang bintang sebelum menyampaikannya kepada yang dibawahnya,  kemudian mereka menyampaikannya kepada lisan DUKUN ATAU TUKANG SIHIR. Bisa jadi mereka tidak diterjang oleh bintang sehingga dapat menyampaikannya, kemudian di campur dengan 100 kebohongan. maka kalimat yang didengar bisa sesuai dengan yang di langit.”

- HR. Bukhari no. 4426 | Fathul Bari no. 4800 dan Ibnu Majah no. 190 | no. 194. Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari.

Telah bercerita kepada kami Malik bin Isma'il : telah bercerita kepada kami Isra'il dari Al Mughirah dari Ibrahim dari 'Alqamah berkata : "Aku mengunjungi negeri Syam, lalu aku bertanya : "Siapa orang yang ada disini?". 

Mereka menjawab : "Abu Darda' radhiyallahu 'anhu". 

Dia ('Alqamah) berkata : "Apakah benar bersama kalian ada orang yang telah Allah pelihara dari setan sebagaimana diucapkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam ?" Telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Harb telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Mughirah, dan dia berkata : "Orang yang telah Allah pelihara dari Syetan sebagaimana diucapkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam adalah 'Ammar". Dia berkata : dan Al Laits berkata : telah bercerita kepadaku Khalid bin Yazid dari Sa'id bin Abi Hilal bahwa Abu Al Aswad mengabarkan kepadanya dari 'Urwah dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

PARA MALAIKAT SALING BERBICARA DI ATAS AWAN-AWAN YANG GELAP TENTANG BERBAGAI URUSAN YANG AKAN TERJADI DI BUMI LALU DIDENGAR OLEH SETAN-SETAN KEMUDIAN SETAN-SETAN ITU MEMBISIKANNYA PADA TELINGA PARA DUKUN SEBAGAIMANA BOTOL DITIUP LALU SETAN-SETAN ITU MENAMBAH URUSAN YANG DIDENGARNYA ITU DENGAN 100 KEDUSTAAN.”

- HR. Bukhari no. 3045 | Fathul Bari no. 3287, 3288


https://t.me/AthaBinYussuf

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive