Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label jin. Show all posts
Showing posts with label jin. Show all posts

Thursday, November 23, 2023

Iblis Tidak Akan Pernah Berhenti Untuk Menyesatkan Manusia

Iblis Tidak Akan Pernah Berhenti Untuk Menyesatkan Manusia
Bismillah...

Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ: وَعِزَّتِكَ يَا رَبِّ، لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْسَادِهِمْ، قَالَ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي

Iblis bersumpah, "Demi keagungan-Mu ya Rabb, aku tidak akan pernah berhenti untuk menyesatkan hamba-hamba-Mu, selama ruh mereka masih dikandung jasad."

Allah ﷻ berfirman, 

Demi keagungan dan kumuliaan-Ku, Aku akan senantiasa memberikan ampunan untuk mereka, selama mereka memohon ampun kepada-Ku”. 

(HR. Ahmad 11237, dihasankan Syuaib al-Arnauth)

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ، ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ ، وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ، وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka..

Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)".

(QS. al-A’raf: 16 – 17)

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَىْءٍ مِنْ شَأْنِهِ

"Sesungguhnya setan mendatangi kalian dalam segala urusan kalian". 

(HR Muslim 5423)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, November 29, 2022

Pelaku Bunuh Diri Tak Ada Hubungan Dengan Keimanan?

Pelaku Bunuh Diri Tak Ada Hubungan Dengan Keimanan?
Bismillah...

Psikologis modern ala barat mengatakan,

"Pelaku bunuh diri itu sebenarnya masih memiliki keinginan untuk hidup tapi karena beban hidupnya terlalu berat, baik secara mental, psikologi dan fisik, dan beban itu sudah ngga bisa dihadapi lagi, maka mereka memilih untuk mengakhirkan hidup mereka agar melepaskan diri dari beban berat yang ada. Dan ngga ada hubungannya dengan kerasukan setan atau kemasukan Jin, dan ngga ada hubungannya dengan keimanan seseorang."

[Mental Health Foundation. The impact of spirituality on mental health.

Live Science. God Help Us? How Religion is Good (And Bad) For Mental Health.]

Saya jawab,

"Kalau dia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla maka dia akan beriman bahwa segala bencana, kesengsaraan, kesulitan, ujian dan musibah itu datangnya dari Allah Azza Wa Jalla, Dan Allah Azza Jalla pula lah yang mampu menghilangkannya.

Kalau dia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla, maka dia akan sabar menghadapi segala bencana, kesengsaraan, kesulitan, ujian dan musibah yang didatangkan oleh Allah Azza Wa Jalla, bukan malah bunuh diri.

Kalau dia beriman kepada Allah Azza Wa Jalla, maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah Azza Wa Jalla untuk menghilangkan segala bencana, kesengsaraan, kesulitan, ujian dan musibah, bukan malah bunuh diri.

Karena lemahnya pemahaman Tauhid dan lemahnya Iman, maka itu mengundang Setan (Jin) untuk membisikan hatinya dan dirinya agar bunuh diri yang merupakan dosa Besar, Dan merupakan pekerjaan Setan menjerumuskan anak Adam ke dalam dosa.

Dan setan memiliki kemampuan untuk berjalan di dalam darah manusia, kemudian membisikan untuk berbuat dosa, dalam perkara ini adalah berbuat perbuatan dosa Besar, yaitu Bunuh diri.

Ngga percaya ? Mari kita simak ayat Al Quran dan Haditsnya ...

Allah Azza Jalla berfirman,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَا سِ ۙ الْخَـنَّا سِ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّا س مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ

"Dari kejahatan (bisikan) setan  yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia" (QS. An-Nas [114] : 4 - 6)

Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ghaylan : telah bercerita kepada kami 'Abdur Razaq : telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhriy, dari 'Ali bin Husain, dari Shafiyyah binti Huyay berkata, Ketika Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan iktikaf aku datang menemui beliau di malam hari, lalu aku berbincang-bincang sejenak dengan beliau, kemudian aku berdiri hendak pulang, beliau juga ikut berdiri bersama aku untuk mengantar aku. Saat itu Shafiyyah tingal di rumah Usamah bin Zaid. (Ketika kami sedang berjalan berdua itu) ada dua orang laki-laki yang lewat, dan tatkala melihat Nabi ﷺ keduanya bergegas. Maka Nabi ﷺ, "Kalian tenang saja. Sungguh wanita ini adalah Shofiyah binti Huyay." Maka keduanya berkata, "Mahasuci Allah, wahai Rasulullah." Lalu Nabi ﷺ bersabda,

"Sesungguhnya setan berjalan lewat aliran darah dan aku khawatir setan telah memasukkan perkara yang buruk pada hati kalian berdua."

- HR. Bukhari no. 3039 | Fathul Bari no. 3281

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قتل نفسه بشيء عذب به يوم القيامة

Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

كان فيمن كان قبلكم رجل به جرح فجزع فأخذ سكيناً فحز بها يده فما رقأ الدم حتى مات . قال الله تعالى : بادرني عبدي بنفسه حرمت عليه الجنة

Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, ia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga ia mati. Allah Ta’ala berfirman: ”Hambaku mendahuluiku dengan dirinya, maka aku haramkan baginya surga” (HR. Bukhari no. 3463, Muslim no. 113).

Dan bisa jadi, dampak stress berat atau depresi berkepanjangan yang dialami oleh Pelaku Bunuh Diri juga akibat bisikan Setan (Jin) yang menutup akalnya dan membuat kalut pikiran seseorang, sehingga tidak dapat berpikiran jernih, yang dilihatnya hanyalah Hawa Nafsu untuk mencari jalan yang paling mudah terlepas dari beban yang ada, yaitu Bunuh Diri.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02xvvYxrScm34eqvpoewjqvxHZaMSesvv8WT3i2WTXXD3kfuzgSpDAvVJEh6B8nqB7l&id=100081182600047

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, October 4, 2022

Lorong-lorong Syetan Untuk Menyesatkan Manusia

Lorong-lorong Syetan Untuk Menyesatkan Manusia
Bismillah...

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan dosa dan maksiat. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diturunkan al-Qur`an kepadanya, sebagai pengobat hati dan badan, juga kepada keluarga dan sahabatnya hingga hari pembalasan. Adapun sesudah itu,

Sesungguhnya pada perbuatan maksiat terdapat celah-celah dan pintu-pintu yang apabila hamba menutupnya dengan kuat dan selalu menjaganya dengan sabar, niscaya syetan tidak mendapatkan jalan untuk menjerumuskannya ke dalam dosa dan maksiat, lalu ia kembali dalam keadaan merugi. Dan sebaliknya, apabila seorang hamba tidak menjaga celah-celah dan pintu-pintu itu, tentu syetan mendapatkan jalan kepadanya. Celah-celah dan pintu-pintu tersebut memudahkannya menyerang hamba tersebut dan menjerumuskannya ke dalam perbuatan maksiat sedikit demi sedikit.

CELAH-CELAH INI ADALAH, PANDANGAN MATA, BISIKAN HATI, UCAPAN LISAN DAN LANGKAH KAKI

Ibnu al-Qayyim rahimahullah telah berbicara tentang empat celah ini, menjelaskan bahaya melalaikannya, dan tata-cara menjaganya, supaya hamba selamat dari serangan syetan dan bisikannya. Di antara perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah: ‘Manakala langkah pertama maksiat tersebut adalah dari sisi pandangan mata, dijadikanlah perintah menundukkan pandangan didahulukan terhadap memelihara kemaluan. Sesungguhnya segala peristiwa berawal dari pandangan, sebagaimana api besar bersumber dari percikan api kecil. Maka berawal dari pendangan mata, kemudian bisikan hati, kemudian langkah, kemudian kesalahan.

Dan karena sebab inilah dikatakan: Barangsiapa yang memelihara empat perkara ini niscaya ia memelihara agamanya: Pandangan mata, Bisikan hati, Ucapan lisan, dan Langkah kaki.

Maka hamba harus menjadi penjaga dirinya terhadap empat pintu ini dan selalu menjaga celah-celahnya karena musuh akan masuk melaluinya, lalu menyerang secara merajalela dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang dia kuasai. Oleh karena kebanyakan masuknya maksiat terhadap seorang hamba berasal dari empat pintu ini, maka kami akan menyebutkan satu pasal yang sesuai di setiap bab.

Pertama: Pandangan Mata

Adapun pandangan adalah pemandu syahwat dan utusannya.Dan menjaganya adalah dasar untuk menjaga kemaluan. Maka barangsiapa yang melepaskan pandangannya, berarti ia mendatangkan dirinya kepada sumber-sumber kebinasaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ اْلأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ.

Janganlah engkau meneruskan pandangan pertama dengan pandangan kedua, sesungguhnya hanya boleh bagimu pada pandangan pertama, dan tidak boleh pada pandangan kedua.” [HR. Ahmad].

Referensi : -

Dan beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَاْلجُلُوْسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ. قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ, مَجَالِسُنَا مَالَنَا بُدٌّ مِنْهَا. قَالَ: إِنْ كُنْتُمْ لاَ بُدَّ فَاعِلِيْنَ, فَأَعْطُوْا الطَّرِيْقَ حَقَّهُ. قَالُوْا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ اْلأَّذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ.

Hindarilah duduk-duduk di jalanan.’ Mereka berkata, Wahai Rasulullah, ia adalah mejelis-majelis kami, kami tidak bisa meninggalkannya.’ Beliau bersabda, Jika kamu memang tetap melakukan, maka berikanlah hak jalanan. Mereka bertanya, Apakah haknya?’ Beliau menjawab, Menahan pandangan, tidak mengganggu, dan menjawab salam.” [Muttafaqun ‘alaih].

Pandangan mata umumnya merupakan sumber berbagai peritiwa yang menimpa manusia. Sesungguhnya pandangan melahirkan bisikan hati. Kemudian bisikan hati melahirkan pikiran. Kemudian pikiran melahirkan syahwat. Kemudian syahwat melahirkan keinginan. Kemudian keinginan itu bertambah kuat, lalu menjadi semangat yang mantap. Lalu terjadilah perbuatan dan memang mesti terjadi, selama tidak ada penghalang. Dan dalam hal ini dikatakan: (sabar terhadap pandangan mata lebih mudah daripada sabar terhadap yang sesudahnya).

Bahaya Pandangan: Mengakibatkan Kerugian Dunia Akhirat

Seorang Penyair berkata:

Dan apabila engkau melepaskan pandangan matamu sebagai pemandu-  bagi hatimu pada suatu hari, niscaya segala pandangan itu menyusahkan engkau.

Engkau melihat yang tidak semuanya engkau mampu- atasnya dan tidak pula engkau sabar dari sebagiannya.

Berapa banyak orang yang melepaskan pandangannya, maka ia ia tidak bisa berlepas diri darinya melainkan telah berlumuran darah di antaranya dalam keadaan terbunuh.

Dan yang aneh, pandangan mata orang yang memandang merupakan panah yang tidak sampai kepada yang dipandang, sehingga ia menyediakan tempat di hati yang memandang.

Dan yang lebih aneh dari hal itu, sesungguhnya pandangan menorehkan luka di hati, maka diikuti torehan luka yang lain. Kemudian perihnya luka tidak dapat menghalanginya untuk mengulanginya. Dan sungguh dikatakan: ‘Menahan pandangan mata lebih mudah daripada terus merugi.

Kedua: Bisikan Hati

Adapun bisikan hati, maka urusannya lebih sulit. Sesungguhnya ia adalah sumber kebaikan dan keburukan. Darinya terlahir segala keinginan, rencana dan semangat. Maka barangsiapa yang menjaga bisikan hatinya, niscaya ia telah memegang tali kendali dirinya dan menguasai hawa nafsunya. Dan barangsiapa yang dikuasai oleh bisikan hatinya, maka hawa nafsunya lebih menguasainya. Dan barangsiapa yang meremehkan bisikan hatinya, niscaya ia akan menuntunnya kepada kebinasaan secara paksa.

Dan bisikan hati senantiasa mendatangi hati, sehingga ia menjadi angan-angan yang batil:

كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْئَانُ مَآءً حَتَّى إِذَا جَآءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. [An-Nuur/24 :39]

Angan-angan palsu:

Manusia yang paling rendah cita-citanya dan paling hina jiwanya adalah orang yang senang menukar realita dengan angan-angan palsu, menariknya untuk dirinya, dan berpakaian dengannya. Padahal demi Allah ia adalah modal orang-orang yang rugi dan pusat perdagangan para penganggur. Ia adalah makanan jiwa yang kosong, yang merasa cukup menyambung dengan kekuatan khayalan dan meninggalkan realita menuju angan-angan palsu.

Ia adalah yang paling berbahaya terhadap manusia, melahirkan kelemahan dan kemalasan, dan melahirkan kerugian dan penyesalan.

Pembagian Bisikan Hati:

Kemudian setelah itu, bisikan-bisikan hati terdiri dari beberapa bagian yang berkisar di atas empat dasar:

  1. Bisikan hati yang menarik manfaat-manfaat duniawi.
  2. Bisikan hati yang menarik bahaya-bahaya duniawi.
  3. Bisikan hati yang menarik kepentingan-kepentingan akhirat.
  4. Bisikan hati yang menarik bahaya-bahaya akhirat.

Maka hendaklah hamba memperhitungkan bisikan hati, pikiran, dan cita-citanya pada empat bagian ini. Apabila bisikan-bisikan hati saling bertabrakan karena begitu banyak ketergantungannya, ia mendahulukan yang lebih penting yang dikhawatirkan terlepasnya dan menunda yang kurang penting dan tidak dikhawatirkan lepasnya.

Maka bisikan hati dan pikiran orang yang berakal tidak melewati hal itu. Dengan hal itulah datangnya syari’at. Dan segala kepentingan dunia dan akhirat tidak berdiri kecuali atas hal itu. Dan pemikiran yang paling tinggi, paling besar, dan paling bermanfaat adalah: yang untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan negeri akhirat. Dan pemikiran yang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala terdiri beberapa macam:

Referensi :

●  Pertama: memikirkan ayat-ayat yang diturunkan dan merenunginya, serta memahami kehendak-Nya darinya. Dan karena sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkannya, tidak hanya sekedar membacanya, tetapi membaca adalah sarana.

Sebagian salaf berkata, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Qur`an untuk diamalkan, maka jadilah membacanya sebagai amal.

●  Kedua: memikirkan ayat-ayat yang disaksikan dan mengambil pelajaran darinya, serta mengambil dalil dengannya atas asma, sifat, hikmah, ihsan, kebaikan, dan kemurahan-Nya.

●  Ketiga: memikirkan segala karunia, ihsan, dan nikmat-Nya terhadap makhluk-Nya dengan berbagai macam nikmat, keluasan rahmat, ampunan, dan santun-Nya.

●  Keempat: Memikirkan aib diri dan penyakitnya, dan pada aib amal.

●  Kelima: Memikirkan kewajiban terhadap waktu dan tugasnya, serta mengumpulkan semua cita-cita atasnya.

Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa mengatur waktunya dengan baik. Karena jika ia menyia-nyiakannya, niscaya sia-sialah segala mashlahatnya. Sesungguhnya semua mashlahat bermula dari waktu, dan jika ia menyia-nyiakannya niscaya ia tidak bisa menyusulnya untuk selamanya.

NILAI WAKTU

Imam asy-Syafii rahimahullah berkata: ‘Aku telah bergaul dengan kalangan sufi, maka aku tidak mendapatkan faedah dari mereka selain dua huruf: salah satunya adalah ucapan mereka: ‘Waktu adalah pedang, jika engkau memotongnya (engkau beruntung) dan jika tidak niscaya ia memotongmu.’ Kedua: jiwamu, jika engkau tidak menggunakannya dengan benar, dan jika tidak niscaya ia menggunakan engkau dengan kebatilan.

Pada hakekatnya, waktu manusia adalah usianya. Ia adalah sumber kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan yang tetap, dan sumber kehidupannya yang sempit dalam siksaan yang pedih. Ia berlalu lebih cepat daripada awan. Jika waktunya yang digunakan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena-Nya, maka ialah hidup dan usianya. Dan selain yang demikian itu tidak terhitung dalam kehidupannya. Dan jika ia hidup padanya, ia hidup seperti kehidupan binatang. Apabila ia menghabiskan waktunya dalam lupa, syahwat, dan angan-angan palsu dan sebaik-baik yang memotongnya adalah tidur dan menganggur. Maka kematian ini lebih baik daripada hidupnya.

Apabila seorang hamba dan ia sedang shalat- ia tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali yang ia ingat darinya, maka tidak ada untuknya dari umurnya kecuali yang diperuntukkan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena-Nya.

Dan bisikan-bisikan hati dan pikiran selain bagian ini, maka bisa jadi ia adalah was-was syetan dan bisa jadi angan-angan palsu dan penipuan yang bohong, seperti bahaya orang-orang yang sakit di akal mereka, berupa orang-orang yang mabok dan pecandu narkotik.

Kondisi orang-orang tersebut mengatakan saat terbukanya kebenaran:

Jika kedudukanku di padang mahsyar di sisimu – apa yang telah kutemui, sungguh aku telah menyia-nyiakan hari-hariku

Angan-angan yang didapatkan jiwaku di satu masa- dan pada hari ini aku menganggapnya bagaikan mimpi-mimpi kosong.

Dan ketahuilah, sesungguhnya datangnya bisikan hati tidak berbahaya. Yang berbahaya hanyalah panggilan dan percakapannya. Bisikan hati bagaikan orang yang lewat di jalan. Jika engkau tidak memanggilnya dan engkau membiarkannya, niscaya ia lewat dan berlalu dari engkau. Dan jika engkau memanggilnya, niscaya ia menyihir engkau dengan omongan, tipu daya dan kepalsuannya. Bisikan hati adalah yang paling ringan terhadap jiwa kosong yang sedang menganggur, dan yang paling berat atas hati dan jiwa mulia yang tenang.

Maka manusia paling sempurna adalah yang paling banyak bisikan hati, pemikiran, dan keinginan dalam memperoleh keridhaan Rabbnya. Sebagaimana manusia yang paling kurang adalah yang paling banyak bisikan hati, pemikiran dan keinginan untuk bagian dan hawa nafsunya di manapun ia berada.

Inilah Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, bisikan-bisikan hati saling berdesakan atanya dalam mendapatkan ridha Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Maka terkadang ia menggunakannya dalam shalat, dan ia menyiapkan tentaranya, sedangkan dia dalam shalat. Berarti ia telah menggabungkan di antara jihad dan ibadah. Dan ini adalah bab masuknya berbagai macam ibadah dalam satu ibadah.

Ketiga: Ucapan Lisan

Adapun ucapan adalah menjaganya agar tidak keluar ucapan yang percuma, tidak berbicara kecuali pada sesuatu yang diharapkan keuntungan dan faedah dalam agamanya. Apabila ia ingin berbicara satu kata, ia berpikir: apakah ia mendapatkan keuntungan dan faedah ataukah tidak? Maka jika tidak ada keuntungan padanya, ia berpikir: apakah ia akan kehilangan kata yang lebih menguntungkan darinya, maka ia tidak menyia-nyiakannya dengan ini?

Dan apabila engkau ingin mengambil bukti terhadap yang ada di dalam hati, maka ambillah bukti atasnya dengan gerakan lisan. Sesungguhnya ia memperlihatkan kepadamu apa yang ada dalam hati. Pemiliknya menghendaki atau tidak.

Yahya bin Mu’adz berkata: hati itu seperti panci, mendidih dengan apa yang ada padanya, dan lisannya adalah gayungnya. Maka perhatikanlah seorang laki-laki saat berbicara, sesungguhnya lisannya menimba untukmu sesuatu yang ada dalam hatinya, manis dan asam, tawar dan asin, dan selain yang demikian itu. Dan menjelaskan kepadamu rasa hatinya dengan gayungan lisannya.

Dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu yang marfu’:

لاَ يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيْمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيْمُ لِسَانُهُ

Tidak istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya, dan tidak istiqamah hatinya sehingga istiqamah lisannya.” [HR. Ahmad, dan baginya ada beberapa syahid].

وَسُئِلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ فَقَالَ: الفَمُ وَالْفَرَجُ.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka? Beliau menjawab, ‘Mulut dan kemaluan.” [HR. at-Tirmidzi, dan ia berkata: hasan shahih].

Dan anehnya, sesungguhnya manusia bisa dengan mudah menjaga diri dari memakan yang haram, berbuat zalim, berzina, mencuri, meminum arak, memandang yang diharamkan dan selain yang demikian itu, dan sangat sulit atasnya menjaga diri dari gerakan lisannya. Dan berapa banyak engkau melihat laki-laki yang wara’ (menjaga diri) dari perbuatan keji dan zalim, sedangkan lisannya memfitnah pada kehormatan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia, dan ia tidak perduli dengan ucapannya.

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا, يَهْوِي بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ

Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang tidak jelas padanya, dia terjerumus dengan sebabnya di neraka lebih jauh di antara Timur dan Barat.” [HR. Muslim].

Dan dalam ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dalam hadits marfu’:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam”.

Sebagian salaf berkata: Setiap ucapan anak manusia adalah membahayakannya, tidak berguna baginya, kecuali zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang mengikutinya.

Keempat: Langkah Kaki

Adapun langkah kaki, maka memeliharanya adalah dengan cara tidak melangkahkan kakinya kecuali pada sesuatu yang dia mengharapkan pahalanya. Maka jika tidak ada tambahan pahala dalam langkahnya, maka duduk darinya lebih baik baginya. Dan ia bisa mengeluarkan diri dari setiap langkah yang mubah (boleh) menjadi ibadah dengannya dan meniatkannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka langkahnya menjadi ibadah.

Dan tatkala tergelincir itu ada dua: tergelincir kaki dan tergelincir lisan, datanglah salah satu dari keduanya disertai yang lain dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعِبَادُ الرَّحْمَانِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَاخَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلاَمًا

Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”.  [Al-Furqan/25:63]

Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala memberikan sifat istiqamah kepada mereka pada ucapan lisan dan langkah kaki mereka, sebagaimana Dia Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan di antara pandangan mata dan bisikan hati dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

يَعْلَمُ خَآئِنَةَ اْلأَعْيُنِ وَمَاتُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.  [Ghafir/40:19]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tempat meminta pertolongan, Dia yang mencukupkan kita dan sebaik-baik berserah diri. Semoga rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesejahteraan  selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.


(Diterjemahkan dari risalah ‘Madakhil asy-Syaithan li ighwai al-Insan‘  min kalam al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. diringkas oleh divisi ilmiyah Dar al-Wathan)

***************

[Disalin dari مداخل الشيطان لإغواء الإنسان Penulis Divisi ilmiyah Dar al-Wathan,  Penerjemah : Muhammad Iqbal Ghazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2009 – 1430]


Referensi : https://almanhaj.or.id/61671-lorong-lorong-syetan-untuk-menyesatkan-manusia.html


Dipublikasikan ulang oleh,

Admin MediaSunnahNabi

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 24, 2022

Wakil Iblis di Dunia

Wakil Iblis di Dunia
Bismillah...

Ada orang yang bersemangat untuk menuntut ilmu agama, namun ada saja orang yang menghalang-halanginya untuk menghadiri majlis ilmu.

Dia cegah manusia mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dia provokasi manusia agar tidak mendekat. Dia sebarkan isu yang macam-macam agar manusia lari dari majlis ilmu.

Siapakah dia itu? Dialah wakil IBLIS di muka bumi ini.

Berkata Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah :

نُواب إبليس في الأرض وهم الذين يُثبِّطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين، فهؤلاء أضرّ عليهم من شياطين الجن.

Wakil-wakil iblis di muka bumi, yaitu orang-orang yang menghalangi manusia dari menuntut ilmu dan mempelajari agama, mereka ini lebih membahayakan manusia dibandingkan para syaithan dari golongan jin.” (Miftah Daaris Sa’adah, jilid 1 hlm. 160).

Iblis, musuh utama anak cucu Adam ‘alaihissalam, dialah yang dahulu bersumpah di hadapan Allah subhanahu wata’ala untuk menggelincirkan umat manusia. Sebagaimana yang di kabarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ، ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf: 16-17)

Allah berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Shad: 82-83).

Allah berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus” (QS. Al A’raf: 16).

Dari Sabrah bin Abi Al Fakah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ الشَّيطانَ قعد لابنِ آدمَ بطرقِه , قعد له بطريقِ الإسلامِ , فقال : أتسلِمُ وتذرُ دينَك ودينَ آبائِك ؟ . قال : فعصاه وأسلم . قال : وقعد له بطريقِ الهجرةِ , فقال : أتهاجرُ وتدعُ أرضَك وسماءَك , وإنَّما مثلُ المهاجرِ كالفرسِ في الطِّوَلِ ؟ فعصاه وهاجر , ثمَّ قعد له بطريقِ الجهادِ , وهو جهادُ النَّفسِ والمالِ , فقال : تقاتلُ فتُقتلُ , فتُنكحُ المرأةُ ويُقسَّمُ المالُ ؟ . قال : فعصاه , فجاهد . قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فمن فعل ذلك منهم فمات , كان حقًّا على اللهِ أن يدخلَه الجنَّةَ

Sesungguhnya setan selalu duduk (menggoda) di semua jalan kebaikan anak Adam. Ia duduk di jalan Islam sambil berkata: “Mengapa kamu masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapak dan nenek moyangmu?”. Lalu hamba itu tidak menghiraukannya dan ia tetap masuk Islam. Kemudian setan duduk di jalan hijrah sambil berkata: “Mengapa kamu hijrah dan meninggalkan tempat tinggal dan hartamu?”. Hamba itu tidak mempedulikannya, dan ia pun tetap hijrah. Kemudian setan duduk di jalan jihad, yaitu jihad jiwa-raga serta harta, setan lalu berkata: “(kalau kamu jihad) kamu itu saling membunuh dan kamu akan terbunuh, istri kamu akan dinikahi orang lain dan harta kamu akan dibagi-bagi”. Hamba tadi tidak memperdulikannya, ia pun tetap berjihad. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda lalu: “Barangsiapa yang melakukan hal demikian, lalu mati, maka hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya dan An Nasa’i)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1756360941369832&substory_index=0&id=100009878282155

AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 10, 2022

Dulunya Jin Takut Kepada Manusia

Dulunya Jin Takut Kepada Manusia
Bismillah...

Allah ta'ala berfirman,

وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا

Bahwasanya ada beberapa laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin maka jin-jin itu menjadikan mereka semakin bertambah ketakutannya." (Al-Jin: 6)

Para mufassirin menjelaskan,

"Dahulu jin takut kepada manusia sebagaimana manusia sekarang takut kepada jin. Mulanya manusia apabila singgah di suatu tempat maka jin-jin yang menghuni tempat itu pergi menjauhkan diri.  

Akan tetapi keadaan berbalik tatkala manusia meminta perlindungan kepada jin saat melintasi suatu lembah atau menyusuri hutan atau tempat yang mengerikan seraya berkata, "Kami berlindung kepada tetua jin penunggu lembah ini". 

Perlakuan manusia yang merendah seperti itu membuat para jin menjadi sombong dan berani menakut-nakuti manusia hingga akhirnya manusia dibuat ketakutan kepada mereka." 

(Tafsir Ibnu Katsir 4/428)

Dari ayat di atas kita mengambil pelajaran bahwa isti'adzah (meminta perlindungan) kepada para jin merupakan tradisinya masyarakat jahiliah.

Selain itu ada peringatan keras dari meminta bantuan kepada dukun dan paranormal yang mereka sering mempersembahkan pengagungan berupa sesajian dan tumbal kepada para jin yang semua itu tergolong kesyirikan dan pelakunya tidak akan diampuni Allah sampai dirinya bertaubat.

Lalu wirid apa yang kita baca apabila kita singgah di suatu tempat? 

Rosulullah ﷺ mengajarkan, 

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

"A'uudzubikalimaatillaahit taammaat min syarri maa kholaq" (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya). (HR. Muslim 2708)

Siapa yang membaca wirid ini atas dasar iman dan hati bersandar penuh kepada Allah maka Allah akan melindungi dirinya hingga dia berpaling dari tempat tersebut.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0yDu4KKurioU5jbJtzXQZ3aYUqn45Da1BKc43BhrckCeZLc6qTquG1ScLh6iyXMMNl&id=100001764454087

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, September 6, 2022

Diantara Bentuk Kebodohan Orang Yang Percaya Dukun

Diantara Bentuk Kebodohan Orang Yang Percaya Dukun
Bismillah...

1️⃣ Ia meminta dukun untuk menanyakan perkara yang ghaib, padahal sang dukun sendiri juga tidak tahu bagaimana masa depannya dan kapan ajalnya..

2️⃣ Ia meminta dukun menolak dan menahan hujan, padahal dia sendiri juga kehujanan dan ia juga tidak bisa menahan air kencingnya..

3️⃣ Ia meminta dukun untuk dicarikan istri yang cantik, padahal istri sang dukun sendiri jelek. Bahkan sang dukun juga ingin punya istri cantik..

4️⃣ Ia meminta dukun agar bisa kaya, padahal sang dukun sendiri juga miskin, sebab itu dia buka praktek perdukunan untuk mencukupi ekonominya..

5️⃣ Ia meminta dukun agar bisa menghilangkan sakitnya dengan kesaktiannya, padahal dukun sendiri jika sakit juga berobat ke dokter..

Karena itu kaum muslimin perlu mengetahui bahwa dukun, ahli nujum, paranormal, siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, sejatinya ia adalah pendusta, karena mengetahui perkara yang ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al An’am:59)

Begitu pula dalam ayat lainnya disebutkan,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah". (QS. An Naml:65).

Karena yang mengetahui perkara ghaib hanya Allah, maka syari’at Islam melarang umatnya mempercayai dan mendatangi dukun. Seperti contohnya orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib, mampu meramal apa yang akan terjadi, mampu menahan hujan, mampu menerawang tempat barang yang hilang atau di curi, mampu melihat isi hati orang, dan semacamnya.

Walaupun di masyarakat dikenal dengan sebutan kyai, orang pintar, paranormal, orang tua, pawang atau lainnya. Semua itu tetap haram hukumnya..


✍🏼 Habibie Quotes

Ig - www.instagram.com/habibiequotes_

Tg - https://t.me/habibiequotes

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, September 5, 2022

Sepercik Karamah dan Khawariq Asy Syaitani

Sepercik Karamah dan Khawariq Asy Syaitani
Bismillah...

Kita percaya adanya Karamah, yaitu hal atau kejadian yang luar biasa di luar akal dan kemampuan manusia biasa, Akan tetapi, Karamah itu BUKAN sesuatu yang terwujud atas kehendak seseorang secara sengaja. Itu dulu saja yang dipahamkam.

Adalagi yang namanya Khawariq Asy Syaitani, semacam karamah dimata orang awam yang jauh dari ilmu, Akan tetapi ia sesuatu yang dapat terwujud atas kehendak seseorang secara sengaja.

Biasanya ini, entah seseorang itu memang bersekutu dengan Jin yang memang melakukan perjanjian dengan Jin, atau ia melakukan perbuatan Bid'ah atau Kesyirikan sehingga secara tidak sadar Jin telah menjadi teman baiknya kemudian membantu dirinya untuk mengeluarkan atau mewujudkan "Karamah" sesuai dengan kehendak hatinya yang ia sangka bahwa itu datang dari Allah Azza Wa Jalla untuk terus menyesatkannya dari jalan Allah dan menganggap dirinya di atas kebenaran, dengan alasan, "Jika saya mengamalkan yang tidak benar, mana mungkin saya diberi kekuatan luar biasa oleh Allah." Disitulah ia telah ditipu oleh Jin (setan). Kasihan dia.

Karena itu untuk membedakan mana yang Wali Allah atau Wali Setan, maka BUKAN dilihat dari Karamahnya apalagi penampilannya, TAPI lihat dari sisi Aqidahnya dan Amalannya

Silakan baca Kitab Wali Allah VS Wali Setan, Syaikh Al Islam Abu Al Abbas Taqi Ad Din Ahmad Al Harrani rahimahullah.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Yp6YTmL698VjDyXUSPrFxUqtotBZCYaFNb6Jeaq1ZTNEvPUmWed58GMtBibv4nULl&id=100081182600047

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, August 26, 2022

Dusta Dukun Yang Mengaku Mendapatkan Bisikan Gaib Datang Langsung Dari Allah

Bismillah...

Jika ada dukun yang mengatakan bahwa bisikan gaib yang mereka dapatkan itu datangnya langsung dari Allah Azza Wa Jalla, maka MEREKA ADALAH PENDUSTA DAN PADA HAKIKATNYA DUKUN ADALAH PENDUSTA. Bisikan gaib itu datangnya dari JIN KAFIR (SETAN) yang mencuri kabar dari langit.

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Telah menceritakan kepada kami Sufyan Telah menceritakan kepada kami Amru dia berkata; Aku mendengar Ikrimah berkata; Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ketika Allah menetapkan suatu urusan di langit, malaikat lantas meletakkan sayapnya dalam rangka tunduk pada perintah Allah. Firman Allah yang mereka dengarkan itu seolah-olah seperti suara gemerincing rantai di atas batu. Hal ini memekakkan mereka. Apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka mengucapkan, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Perkataan yang benar. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.

JIN-JIN PENCURI BERITA MENDENGARKANNYA (MEREKA BERSUSUN-SUSUN) SEBAGIAN DI ATAS SEBAGIAN YANG LAINNYA. MEREKA MENCURI DENGAR KALIMAT LALU MENYAMPAIKANNYA KEPADA YANG BERADA DI BAWAHNYA.

Bisa jadi JIN itu diterjang bintang sebelum menyampaikannya kepada yang dibawahnya,  kemudian mereka menyampaikannya kepada lisan DUKUN ATAU TUKANG SIHIR. Bisa jadi mereka tidak diterjang oleh bintang sehingga dapat menyampaikannya, kemudian di campur dengan 100 kebohongan. maka kalimat yang didengar bisa sesuai dengan yang di langit.”

- HR. Bukhari no. 4426 | Fathul Bari no. 4800 dan Ibnu Majah no. 190 | no. 194. Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari.

Telah bercerita kepada kami Malik bin Isma'il : telah bercerita kepada kami Isra'il dari Al Mughirah dari Ibrahim dari 'Alqamah berkata : "Aku mengunjungi negeri Syam, lalu aku bertanya : "Siapa orang yang ada disini?". 

Mereka menjawab : "Abu Darda' radhiyallahu 'anhu". 

Dia ('Alqamah) berkata : "Apakah benar bersama kalian ada orang yang telah Allah pelihara dari setan sebagaimana diucapkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam ?" Telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Harb telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Mughirah, dan dia berkata : "Orang yang telah Allah pelihara dari Syetan sebagaimana diucapkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam adalah 'Ammar". Dia berkata : dan Al Laits berkata : telah bercerita kepadaku Khalid bin Yazid dari Sa'id bin Abi Hilal bahwa Abu Al Aswad mengabarkan kepadanya dari 'Urwah dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

PARA MALAIKAT SALING BERBICARA DI ATAS AWAN-AWAN YANG GELAP TENTANG BERBAGAI URUSAN YANG AKAN TERJADI DI BUMI LALU DIDENGAR OLEH SETAN-SETAN KEMUDIAN SETAN-SETAN ITU MEMBISIKANNYA PADA TELINGA PARA DUKUN SEBAGAIMANA BOTOL DITIUP LALU SETAN-SETAN ITU MENAMBAH URUSAN YANG DIDENGARNYA ITU DENGAN 100 KEDUSTAAN.”

- HR. Bukhari no. 3045 | Fathul Bari no. 3287, 3288


https://t.me/AthaBinYussuf

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, August 25, 2022

Memberi Makan Jin, Standard Kesaktian?

Memberi Makan Jin, Standard Kesaktian?
Bismillah...

Kalaulah para dukun bodoh lagi dungu itu mengatakan bahwa salah satu standard kesaktian seseorang adalah memberi makan Jin. Maka setiap Muslim sudah pasti sakti. Bagaimana tidak?

Karena setiap hari setiap Muslim dari golongan manusia, baik secara sengaja atau tidak sengaja, memberi makan saudara Muslim dari golongan Jin, dengan bekas makanan yang terdapat tulang dari hewan yang dibacakan Bismillah ketika disembelih. Di mata manusia terlihat dan tampak tulang, namun bagi golongan Jin Muslim itu memiliki daging yang banyak.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna : telah menceritakan kepada kami Abdul 'A'la, dari Dawud, dari Amir, dia berkata : "Saya bertanya kepada Alqamah : “Apakah dahulu Ibnu Mas'ud menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam malam jin ?” Perawi berkata, 'Lalu Alqamah berkata : “Aku bertanya Ibnu Mas'ud, lalu aku berkata : “Apakah salah seorang dari kalian hadir bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada malam jin ?“ Dia menjawab, 'Tidak, akan tetapi kami pernah pada suatu malam bersama Rasulullah, lalu kami kehilangan beliau sehingga kami mencarinya di lembah dan setapak jelan ke gunung. Maka kami berkata, 'Jin membawanya pergi atau membunuhnya secara sembunyi-sembunyi.” Maka kami bermalam dengan malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam itu. Pada pagi harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira'. Perawi berkata : "Kami berkata : “Wahai Rasulullah, kami telah kehilanganmu, lalu mencarimu, maka kami tidak mendapatkanmu hingga kami bermalam pada malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam-malam itu.' Beliau menjawab : “Seorang dai dari kalangan jin mendatangiku, maka aku pergi bersamanya, lalu aku membaca al-Qur'an di hadapan mereka.” Perawi berkata : “Lalu beliau beranjak pergi bersama kami untuk menunjukkan jejak-jejak mereka dan jejak perapian mereka. Dan mereka (Jin) meminta kepadanya bekal, maka beliau bersabda,

“Kamu mendapatkan setiap tulang yang disebutkan nama Allah atasnya (ketika disembelih), yang mana di tangan kalian lebih banyak menjadi daging dan setiap kotoran hewan adalah makanan untuk hewan tunggangan kalian.”

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Maka janganlah kalian beristinjak dengan keduanya (maksudnya kotoran hewan dan tulang), karena keduanya adalah makanan saudara kalian.”

- HR. Muslim no. 682 | Syarh Shahih Muslim no. 450


https://www.facebook.com/100081182600047/posts/pfbid02GQ1e9eruY25QpRUzMNixJjKkVuCJrpbDq4DXmtdcyyAjCFaq54wnVjqn6pP28S1El/

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Sunday, August 14, 2022

Perbedaan Sihir, Dukun, Peramal, dan Ramalan Bintang

Perbedaan Sihir, Dukun, Peramal, dan Ramalan Bintang
Bismillah...

Pertanyaan: Sihir, Dukun, Ramalan Bintang dan Peramal; beda dari segi maknanya dan apakah sama dalam hukum?

✅. Jawaban:

Sihir meliputi segala sesuatu yang berupa jimat dan jampi-jampi yang dilakukan oleh para penyihir dengan tujuan memberikan pengaruh kepada orang lain, dengan pembunuhan, penyakit atau memisahkan di antara suami-istri. 

Ini adalah kufur, perbuatan keji dan penyakit sosial terburuk yang harus dilenyapkan, serta membebaskan umat Islam dari keburukannya.

Kahanah (perdukunan) adalah mengklaim mengetahui perkara gaib lewat permohonan bantuan kepada jin. 

Syaikh Abdurrahman bin Hasan berkata dalam Fath al-Majid, “Kebanyakan yang terjadi dalam hal ini ialah apa yang diberitakan oleh jin kepada para kekasihnya dari bangsa manusia tentang perkara-perkara gaib, yaitu berita-berita yang bakal terjadi di muka bumi, lalu orang yang bodoh menganggapnya sebagai penyingkapan tabir dan karamah. 

Banyak manusia tertipu dengan hal itu. Mereka mengira orang yang memberitakan hal itu dari jin sebagai wali Allah, padahal mereka adalah wali setan.

⬛️ Tidak boleh pergi kepada dukun. 

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Barangsiapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim no. 2186, kitab as-Salam)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. at-Tirmidzi no. 135, kitab ath-Thaharah, Ibnu Majah, no. 659, Ahmad dalam al-Musnad, no. 9252)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir keapda apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan at-Tirmidzi)

Diriwayatkan oleh imam yang empat dan al-Hakim; ia menilai shahih berdasarkan syarat keduanya,

Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Al-Baghawi berkata, “Arraf (peramal, orang pintar) adalah orang yang mengklaim mengetahui banyak hal lewat pendahuluan-pendahuluan untuk mengetahui barang yang dicuri dan tempat binatang tersesat. Konon, ia adalah dukun.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiiyah mengatakan, “Arraf adalah nama untuk dukun, peramal perbintangan, dan sejenisnya dari kalangan yang berbicara untuk mengetahui berbagai hal dengan jalan ini.”

Ramalan bintang ialah mencari petunjuk dengan keadaan bintang atas kejadian-kejadian di bumi. Ini termasuk perbuatan Jahiliyah, dan ini adalah syirik besar, jika ia berkeyakinan bahwa bintang mengatur di alam semesta ini.

Al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, jilid 2, hal. 56-57

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan IV

Sumber: https://konsultasisyariah.com/15627-perbedaan-sihir-dukun-peramal-dan-ramalan-bintang.html

------------------------------

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, February 14, 2019

Dzikir Penangkal Gangguan Jin dan Sihir

Dzikir Penangkal Gangguan Jin dan Sihir
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

1001 manfaat bagi orang yang merutinkan dzikir pagi-sore.. di dua waktu ini, Allah memotivasi kita untuk kita jadikan sebagai waktu berdzikir.

Allah perintahkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu istighfar dan banyak berdzikir setiap pagi dan sore,

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

Mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55).

Allah perintahkan Nabi Zakariya untuk rutin berdzikir setiap pagi dan sore,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

Perbanyaklah berdzikir menyebut nama Rabmu, dan sucikan Dia setiap sore dan pagi. (QS. Ali Imran: 41).

Allah juga memuji orang yang rajin dzikir dan berdoa setiap pagi dan petang,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya…” (QS. al-Kahfi: 28).

Mengapa Ditekankan Dzikir Pagi & Petang?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

Gunakanlah waktu pagi dan waktu sore, serta sebagian waktu malam untuk beribadah. (HR. Bukhari 39).

Imam Ali al-Qori menjelaskan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dzikir setiap pagi dan sore, dan dua waktu ini adalah waktu istirahat dan waktu orang lalai.

Di samping itu, dua waktu ini menjelang pergantian suasana hari, dari gelap ke terang atau terang ke gelap.

Sehingga manusia butuh perlindungan untuk modal melintasi waktu malam atau waktu siang.

Ibnul Qoyim mengatakan,

أذكار الصباح والمساء بمثابة الدرع كلما زادت سماكته لم يتأثر صاحبه، بل تصل قوة الدرع إلى أن يعود السهم فيصيب من أطلقه

Dzikir pagi dan sore ibarat baju besi. Semakin banyak lapisan lempengnya, senjata tidak akan bisa menembus pemakainya. Bahkan, kekuatan baju besi bisa mencapai keadaan, dimana tombak bisa mental dan balik menyerang orang yang melemparnya.

Kapan Waktu Pagi dan Sore itu?

Mengenai waktu tepatnya, telah Allah sebutkan dalam al-Quran,

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Bersabarlah terhadap komentar yang mereka ucapkan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya matahari. (QS. Thaahaa: 130).

Dan ketika kita tidak sempat melakukannya karena ketiduran atau ada kesibukan, kita bisa membacanya setelah terbit matahari untuk pagi atau terbenam matahari untuk waktu sore.

Baca Sambil Beraktivitas

Anda tidak harus membaca dzikir ini sambil duduk di atas sajadah, dengan tangan memegang tasbih. Anda bisa membaca dzikir ini dalam kondisi apapun. Kecuali di tempat yang tidak layak untuk menyebut nama Allah, seperti di toilet. Karena dzikir yang dipuji dalam al-Quran adalah dzikir yang dibaca setiap saat dan setiap kesempatan. Allah memuji Ulul Albab. Diantara sifat mereka adalah,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

Orang-orang yang rajin berdzikir kepada Allah ketika posisi berdiri, duduk, dan ketika berbaring.

Ketika anda berangkat kerja, anda bisa dzikir di kendaraan. Ketika pekerjaan anda padat di sore hari, anda bisa bekerja sambil berdzikir. Atau anda berdzikir di perjalanan pulang.

Allahu a’lam.

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apakah Jin Bisa Mati?

Apakah Jin Bisa Mati?
Apakah Jin Bisa Mati? dan bagaimana dengan iblis? berapa usianya.

Dari: Bocah

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

⚜ Pertama, sesungguhnya semua makhluk bisa mati dan binasa. Dan itu keyakinan kita sebagaimana yang telah Allah firmankan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Semua yang ada di atas bumi akan binasa. Dan kekal wajah Rabmu Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan karena itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kalian dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 28)

Semua makhluk, apapun dan siapapun dia, bisa mati dan binasa, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

⚜ Kedua, diantara golongan jin, ada yang bernama Iblis. Dalil bahwa iblis termasuk golongan jin dan bukan malaikat adalah firman Allah

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Ingatlah ketika Aku perintahkan kepada para malaikat, sujudlah kalian kepada Adam. Merekapun sujud, kecuali Iblis. Dia termasuk golongan jin, dan inkar kepada perintah Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 50).

Untuk makhluk yang satu ini (Iblis), telah Allah berikan jaminan, tidak akan mati sampai kiamat. Allah mengkisahkan dalam Alquran. Setelah Iblis diusir untuk turun ke bumi karena sikapnya yang sombong, Iblis minta syarat kepada Allah:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis berkata: Ya Tuhanku, berilah aku waktu sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.

Allah merespon keinginan Iblis:

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ( ) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi waktu. Sampai batas waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hijr: 37 – 38).

Dalam Tafsir al-Jalalain dinyatakan:

وقت النفخة الأولى

Yaitu waktu tiupan sangkakala yang pertama.” (al-Jalalain, Al-Hijr: 38).

Berdasarkan firman Allah di atas, Iblis ditetapkan oleh Allah sebagai makhluk yang tidak akan mati sampai hari kiamat.

⚜ Ketiga, golongan jin selain Iblis, bisa mati sebelum kiamat. Karena jin termasuk keumuman firman Allah di surat Ar-Rahman di atas.

Sedangkan beberapa dalil sunah yang menunjukkan bahwa jin bisa mati sebelum kiamat,

1. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu doanya, beliau melantunkan:

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang  tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Dzat yang tidak akan mati. Sementara jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)

2. Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan Uzza. Pohon keramat yang disembah orang musyrik jahiliyah. Setelah khalid bin walid menebang ketiga pohon yang dikeramatkan di tempat itu, dan membantai setiap orang yang mencoba menghalangi, beliau menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

ارجع فإنك لم تصنع شيئا

Kembali, kamu belum melakukan apapun.”

Khalid pun segera kembali. Tiba-tiba banyak orang naik ke bukit. Mereka memanggil-manggil; “Wahai Uzza, Wahai Uzza.” Khalid pun mendatanginya. Ternyata ada wanita telanjang, rambutnya terjuntai, di atas kepalanya ada pasirnya. Khalid dengan sigap menusukkan pedangnya, sampai dia mati. Setelah diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تلك العزى

Itulah Uzza.” (HR. Nasai dalam Sunan al-Kubro 11547, al-Mushili dalam Musnad-nya 866).

3. Kisah seorang sahabat muda yang membunuh ular jadi-jadian yang ada di rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

Allahu a’lam

📚 Referensi: ‘Alamul Jinni wa asy-Syayathiin, Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apakah Jin bisa Membunuh Manusia?

Apakah Jin bisa Membunuh Manusia?
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. apakah jin bisa membunuh manusia?

Dari sdr. Muhamad W

Jawaban:

Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat riwayat, bahwa sahabat Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal karena dipanah oleh jin. Namun riwayat ini diperselisihkan kebenarannya. Ibnu Abdil Bar menceritakan kisah kematian sahabat Sa’d bin Ubadah,

ولم يختلفوا أنه وجد ميتا في مغتسله وقد اخضر جسده

Para ahli sejarah bersepakat bahwa beliau ditemukan telah meninggal di tempat mandinya, dan jasadnya telah menghijau.

Kemudian, Ibnu Abdil Bar mengatakan,

ولم يشعروا بموته حتى سمعوا قائلا يقول؛ ولا يرون أحدا

قتلنا سيد الخزرج سعد بن عبادة  رميناه بسهم فلم يخطئ فؤاده

Mereka tidak ada yang tahu tentang kematian Sa’d bin Ubadah, hingga mereka mendengar ada sosok tanpa jasad yang mengucapkan bait syair:

”Kami telah membunuh pemuka Khazraj, Sa’d bin Ubadah

Kami lempar dia dengan tombak, dan tidak meleset dari jantungnya.

(al-Isti’ab fi Ma’rifah al-As-hab, hlm. 180).

Hanya saja, beberapa ulama ahli hadis menilai kisah ini statusnya lemah. Diantaranya, Syaikhul Islam dalam Minhajus Sunah (8/581), dan Imam al-Albani. Alasan bahwa kisah ini lemah,

1. Secara sanad, keterangan ini lemah. Ketika menyebutkan keterangan Ibnu Abdil Bar, Imam al-Albani mengatakan,

ولكني لم أجد له إسناداً صحيحاً على طريقة المحدثين ؛ فقد أخرجه ابن عساكر عن ابن سيرين مرسلاً ، ورجاله ثقات

Namun aku tidak menjumpai sanad yang shahih sesuai dengan metode para ahli hadis. Disebutkan oleh Ibnu Asakir dari Ibnu Sirin secara Mursal, dan Rijalnya tsiqah. (Irwa’ al-Ghalil, 1/95)

2. Andai info itu benar, dalam arti, suara itu benar-benar ada dan didengar oleh orang yang disekitar Sa’d bin Ubadah, ini belum cukup untuk dijadikan dasar bahwa beliau meninggal karena dibunuh jin. Karena bisa saja, jin berdusta kemudian dia ngaku-ngaku telah membunuh Sa’d radhiyallahu ‘anhu. dan info dari jin tidak bisa diterima 100% kebenarannya.

Jin Bisa Bertindak Jahat Kepada Manusia

Terdapat beberapa riwayat shahih yang menunjukkan bahwa jin bisa bertindak jahat kepada manusia. Diantaranya, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan,

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلاَتِي، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبُطَهُ عَلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ دَعْوَةَ أَخِي سُلَيْمَانَ رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي فَرَدَدْتُهُ خَاسِئًا

Sesungguhnya jin Ifrit tiba-tiba menggangguku untuk memutus shalatku tadi malam. Kemudian Allah memberi kemampuan kepadaku untuk mengalahkannya, lalu akupun memegangnya. Kemudian aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid, sehingga kalian semua bisa melihatnya. Namun aku teringat doa saudaraku Nabi Sulaiman: Wahai Rabku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. Kemudian akupun melepaskannya sementara dia dalam kondisi terhina. (HR. Bukhari 3423).

Dalam riwayat lain, jin Ifrir ini membawa obor api, untuk menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis ini menunjukkan bisa saja jin mengganggu manusia secara fisik, sehingga bisa dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau shalat.

Kemudian, ketika jin berubah wujud menjadi benda lain yang bisa terlihat manusia, jin memungkinkan untuk menyakiti atau bahkan membunuh manusia.

Abu Said al-Khudri menceritakan,

Bahwa dulu ada seorang pemuda yang baru menikah. Ketika peristiwa Khandaq, siang hari, dia meminta izin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pulang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkannya dan berpesan agar dia membawa senjata, karena khawatir akan dibunuh orang Yahudi Quraidzah.

Ketika sampai di rumah, dia melihat istrinya berdiri di pintu. Pemuda inipun cemburu, hingga hendak memukul istrinya.

Istrinya segera mengatakan, ’Tahan dulu, masuklah ke dalam rumah, dan lihat apa yang menyebabkan aku keluar.

Diapun masuk, ternyata di dalam rumah terdapat ular besar yang melingkar di atas kasur.

Hingga terjadilah perkelahian antara pemuda dan ular, dan keduanya mati. Tidak diketahui, siapa yang lebih dulu mati, ular ataukah pemuda.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Sesungguhnya di Madinah ini ada segolongan jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat satu dari mereka, maka mintalah kepada mereka untuk keluar (dalam jangka waktu) tiga hari. Jika ia tetap menampakkan diri kepada kalian setelah itu, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya dia itu setan”. (HR. Muslim 2236)

Selalu Tawakkal dan Jangan Takut

Allah menegaskan dalam al-Quran bahwa tipu daya setan, sangatlah lemah.

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Perangilah para pasukan setan, sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76)

Karena itu, selama seseorang berusaha menjaga imannya, dan bersandar kepada Allah, setan tidak akan memiliki kesempatan untuk bisa mengganggu manusia.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ( ) إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Apabila kamu membaca al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan untuk mengganggu orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. An-Nahl: 98 – 99) .

Karena itu, orang mukmin tidak perlu takut dengan jin, sebagaimana yang sering digambarkan di televisi. Jin sama sekali TIDAK memiliki kemampuan mencelakakan manusia selama dia menjaga imannya dan bertawakkal kepada Allah.

Sementara ketika ada orang yang dicelakakan oleh jin, itu BUKAN karena jin memiliki kekuatan yang hebat, namun karena orang ini membuka peluang bagi setan untuk mengendalikan dirinya. Sehingga jadilah dia budak setan, seperti yang terjadi pada dukun dan peramal.

Allah berfirman menceritakan keadaan orang munafik,

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan setan. ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (QS. Mujadilah: 19).

Kata As-Sudi – ahli tafsir zaman tabiin – (w. 127 H) menjelaskan ayat ini,

وهذا أيضًا تودد منهم إليهم، فإنهم كانوا يصانعون هؤلاء وهؤلاء؛ ليحظوا عندهم ويأمنوا كيدهم، وما ذاك إلا لضعف إيمانهم، وقلة إيقانهم

Ini karena mereka saling mencintai, karena satu sama lain melakukan hubungan saling menguntungkan, untuk saling mengambil manfaat dan menghindari tipu daya lawannya. Itu terjadi karena lemahnya iman mereka dan tipisnya keyakinan mereka. (Ibnu Katsir, 2/436)

Ternyata Jin Lebih Takut kepada Manusia

Imam Mujahid – ulama besar, ahli tafsir tabiin, muridnya Ibnu Abbas – (w. 104 H), beliau menceritakan,

بينا انا ذات ليلة أصلي إذ قام مثل الغلام بين يدي قال فشددت عليه لآخذه فقام فوثب فوقع خلف الحائط حتى سمعت وقعته فما عاد إلي بعد ذلك

Suatu malam ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba muncul makhluk sebesar anak laki-laki di hadapan saya. Lalu saya desak dia untuk menangkapnya. Tiba-tiba dia bangun dan lompat ke belakang dinding sehingga saya mendengar jatuhnya. Setelah itu, dia tidak penah datang lagi.” (Riwayat Ibnu Abi Dunya).

Dalam riwayat lain, Imam Mujahid menegaskan,

الشيطان أشد فرقا من أحدكم منه فإن تعرض لكم فلا تفرقوا منه فيركبكم ولكن شدوا عليه فإنه يذهب

Setan itu sebenarnya sangat takut terhadap kalian (manusia), melebihi ketakutan kalian kepadanya. Oleh karena itu, setan menampakkan diri kepada kalian, janganlah kalian lari ketakutan. Karena jika kalian takut, ia akan menunggangi kalian (mengganggu), akan tetapi bersikaplah keras kepadanya, pasti dia akan pergi”. (Riwayat Ibn Abi Dunya)

Semoga Allah melindungi kita dari tipuan setan.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

3 (Tiga) Sebab Kerasukan Jin

3 (Tiga) Sebab Kerasukan Jin
Ana sering lihat orang kesurupan, yg jadi pertanyaannya adalah mengapa seorang manusia bisa kerasukan jin? Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya sudah pernah dibahas, benarkah kerasukan jin itu ada? Di artikel tersebut kami simpulkan bahwa bagian dari aqidah ahlus sunah, kerasukan jin itu benar adanya.

Lalu apa yang menyebabkan seseorang mudah kerasukan jin?

Dengan memahami sebabnya, kita berharap bisa menghindarinya agar terhindar dari kerasukan jin.

Syaikhul Islam menjelaskan sebab seseorang mudah kerasukan jin,

إن صرع الجن للإنس قد يكون عن شهوة وهوى وعشق كما يتفق للإنس مع الإنس …

Jin yang merasuki manusia bisa saja terjadi karena dorongan syahwat atau hawa nafsu atau karena jatuh cinta. Sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia…

وقد يكون وهو الأكثر عن بغض ومجازاة مثل أن يؤذيهم بعض الإنس أو يظنوا أنهم يتعمدون أذاهم إما يبول على بعضهم وإما يصب ماءً حاراً وإما بقتل بعضهم ، وإن كان الإنس لا يعرف ذلك ، وفي الجن جهل وظلم فيعاقبونه بأكثر مما يستحقه ، وقد يكون عن عبث منهم وشر بمثل سفهاء الإنس

Bisa juga terjadi – dan ini yang paling banyak – karena kebencian atau kedzaliman (yang dilakukan manusia), misalnya ada orang yang mengganggu jin atau jin mengira ada seseorang yang sengaja mengganggu mereka, baik dengan mengencingi jin atau membuang air panas ke arah jin atau membunuh sebagian jin, meskipun si manusia sendiri tidak mengetahuinya. Namun jin juga bodoh dan dzalim, sehingga dia membalas kesalahan manusia dengan kedzaliman melebihi yang dia terima. Terkadang juga motivasinya hanya sebatas main-main atau mengganggu manusia, sebagaimana yang dilakukan orang jelek di kalangan manusia.” (Majmu’ al-Fatawa, 19/39).

Dalam karyanya yang lain, Syaikhul Islam menyimpulkan,

وصرع الجن للإنس هو لأسباب ثلاثة:

تارة يكون الجني يحب المصروع ليتمتع به وهذا الصرع يكون أرفق من غيره وأسهل

وتارة يكون الإنسي آذاهم إذا بال عليهم أو صب عليهم ماء حارا أو يكون قتل بعضهم أو غير ذلك من أنواع الأذى هذا أشد الصرع وكثيرا ما يقتلون المصروع

وتارة يكون بطريق العبث به كما يعبث سفهاء الإنس بأبناء السبيل

Jin merasuki tubuh manusia karena 3 sebab:

1. Terkadang karena seorang jin menyukai orang yang kesurupan, agar dia bisa menikmati kebersamaan dengannya. Kesurupan semacam ini yang paling mudah untuk disembuhkan dibandingkan yang lainnya.

2. Terkadang karena manusia itu mengganggu jin ketika dia mengencingi mereka atau menyiramkan air panas ke mereka atau membunuh sebagian jin atau bentuk gangguan lainnya. Ini jenis kesurupan yang paling susah, bahkan banyak kejadian jin membunuh manusia yang kesurupan.

3. Terkadang karena jin main-main, seperti gaya preman di kalangan manusia yang suka ganggu orang di jalan. (Daqaiq at-Tafsir, 2/137).

Memahami hal ini, kita menekankan, hindari semua yang bisa mengganggu jin. Seperti membuang air panas sembarang tempat atau mengencingi lubang, dst.

Jangan lupa untuk merutinkan dzikir pagi dan sore, agar Allah menjaga kita dari gangguan jin dan sihir.

Demikian, Allahu a’lam.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Kesurupan Jin dalam Pandangan Islam

Kesurupan Jin dalam Pandangan Islam
Assalamu’alaikum Ustadz.

Saya mau tanya bagaimana pandangan dalam Islam mengenai orang kesurupan jin/setan. Dan status hukum orang yang berusaha menyembuhkan.

Mohon penjelasannya.

Wassalam

Dari: Surono

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Bismillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

Manusia terkait dengan fenomena kesurupan jin, terbagi menjadi dua golongan:

1. Mereka yang mempercayainya dan meyakininya. Itulah keyakinan umumnya kaum muslimin.

2. Mereka yang mengingkarinya, dan menganggap itu bukan kesurupan jin. Keyakinan ini menjadi salah satu prinsip aliran liberal, mengikuti pemahaman pendahulunya, sekte Mu’tazilah. Untuk yang kedua ini tidak perlu dilirik, karena mereka lebih mengedepankan akal dan logika sederhana, ketimbang dalil Alquran dan sunah.

Lalu Bagaimana Islam Memandang?

Berikut beberapa catatan yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan untuk membuat kesimpulan yang lebih benar:

✅ Pertama, terdapat banyak dalil dari Alquran dan hadis yang menggambarkan keberadaan penyakit kesurupan jin. Diantaranya,

1. Allah berfirman, menceritakan keadaan pemakan riba ketika dibangkitkan,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا

Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba…” (QS. Al-Baqarah: 275)

Keterangan Ibnu Katsir,

أي لا يقومون من قبورهم يوم القيامة إلا كما يقوم المصروع حال صرعه وتخبط الشيطان له ، وذلك أنه يقوم قياماً منكراً ، وقال ابن عباس : آكل الربا يبعث يوم القيامة مجنوناً يخنق

Maksud ayat, pemakan riba tidak akan dibangkitkan dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti bangkitnya orang yang kesurupan dan kerasukan setan. Karena dia berdiri dengan cara tidak benar. Ibnu Abbas mengatakan, “Pemakan riba, dibangkitkan pada hari kiamat seperti orang gila yang tercekik.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:708).

Terkait fenomena al-Qurtubi menegaskan,

هذه الآية دليل على فساد إنكار من أنكر الصرع من جهة الجن ، وزعم أنه من فعل الطبائع وأن الشيطان لا يسلك في الإنسان ولا يكون منه مس

Ayat ini dalil tidak benarnya pengingkaran orang terhadap fenomena kesurupan karena kerasukan jin. Mereka menganggap bahwa itu hanya murni penyakit badan. Sedangkan setan tidak bisa mengalir di dalam tubuh manusia dan tidak bisa merasuk ke dalam tubuhnya.” (Tafsir a-Qurtubi, 3:355)

2. Disebutkan dalam hadis dari Abul Aswad as-Sulami, bahwa diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرِيقِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ…

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa benda keras, aku berlindung kepada-Mu dari mati terjatuh, aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam dan kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari keadaan setan merasuki badanku ketika mendekati kematian…” (HR. Nasai 5533 dan dishahihkan al-Albani)

Al-Munawi menjelaskan,

…setan merasuki badanku ketika mendekati kematian…”: dengan gangguan yang yang bisa menggelincirkan kaki, merasuki akal dan pemikiran. Terkadang setan menguasai seseorang ketika hendak meninggal dunia, sehingga dia bisa menyesatkannya dan menghalanginya untuk bertaubat… (Faidhul Qadir, 2:148)

✅ Kedua, kesurupan dengan jin masuk ke tubuh manusia adalah kejadian yang hakiki, kenyataan dan bukan khayalan.

Abdullah bin Imam Ahmad pernah bertanya kepada ayahnya,

إنَّ قَوْمًا يَزْعُمُونَ أَنَّ الْجِنِّيَّ لَا يَدْخُلُ فِي بَدَنِ الْإِنْسِيِّ

Sesungguhnya ada beberapa orang yang berpendapat, bahwa jin tidak bisa masuk ke badan manusia.”

Imam Ahmad menjawab,

يَا بُنَيَّ يَكْذِبُونَ هُوَ ذَا يَتَكَلَّمُ عَلَى لِسَانِهِ

Wahai anakku, mereka dusta. Jin itulah yang berbicara dengan lisan orang yang dirasuki.

Setelah membawakan keterangan ini, Syaikhul Islam memberi komentar,

وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ أَمْرٌ مَشْهُورٌ فَإِنَّهُ يَصْرَعُ الرَّجُلَ فَيَتَكَلَّمُ بِلِسَانٍ لَا يَعْرِف مَعْنَاهُ وَيُضْرَبُ عَلَى بَدَنِهِ ضَرْبًا عَظِيمًا لَوْ ضُرِبَ بِهِ جَمَلٌ لَأَثَّرَ بِهِ أَثَرًا عَظِيمًا. وَالْمَصْرُوعُ مَعَ هَذَا لَا يُحِسُّ بِالضَّرْبِ وَلَا بِالْكَلَامِ الَّذِي يَقُولُهُ

Apa yang disampaikan Imam Ahmad adalah masalah yang terkenal di masyarakat. Orang yang kerasukan berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dipahami maknanya. Terkadang dia dipukul sangat keras, andaikan dipukulkan ke onta, pasti akan menimbulkan sakit. Meskipun demikian, orang yang kesurupan tidak merasakan pukulan dan tidak menyadari ucapan yang dia sampaikan.”

Beliau juga menegaskan,

ومن شاهدها أفادته علماً ضرورياً بأن الناطق على لسان الإنس ، والمحرك لهذه الأجسام جنس آخر غير الإنسان

Orang yang menyaksikan kejadian kesurupan, dia akan mendapatkan kesimpulan yang meyakinkan bahwa yang bicara dengan lidah manusia dan yang menggerakkan badannya adalah makhluk lain, selain manusia (Majmu’ al-Fatawa, 24:277).

✅ Ketiga, ulama sepakat, jin bisa merasuki tubuh manusia

Hal ini sebagaimana ditegaskan Syaikhul Islam dalam fatwanya,

وليس في أئمة المسلمين من ينكر دخول الجن بدن المصروع وغيره، ومن أنكر ذلك وادعى أن الشرع يُكذب ذلك فقد كذب على الشرع، وليس في الأدلة الشرعية ما ينفي ذلك

Tidak ada satupun ulama islam yang mengingkari jin bisa masuk ke badan orang yang kesurupan dan lainnya. Orang yang mengingkari hal ini dan mengklaim bahwa syariat mendustakan anggapan jin bisa masuk ke badan manusia, berarti dia telah berdusta atas nama syariah. Karena tidak ada satupun dalil syariat yang membantah hal itu.” (Majmu’ al-Fatawa, 24:277).

Kesimpulan:

Fenomena kerasukan jin adalah kenyataan yang tidak mungkin dibantah. Di samping kejadian di lapangan, realita ini juga dibuktikan dengan dalil Alquran, hadis dan kesepakatan ulama. Satu-satunya golongan yang mengingkari realita ini adalah mu’tazilah, dan para pemuja akal sedernhana yang mengikuti jejaknya. Ada banyak sebab, mengapa jin merasuk ke dalam tubuh manusia, bisa karena motivasi cinta dan bisa sebaliknya, karena kebencian.

Allahu a’lam

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Bisakah Jin Menyembunyikan Pesawat?

Bisakah Jin Menyembunyikan Pesawat?
Apakah jin bisa menyembunyikan pesawat? Karena ada yg pernah bilang, pesawat Malaysia mh370 disembunyikan jin. Terlepas dari benar dan tidaknya info ini. Terima kasih.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

🔘 Pertama, jin memiliki kemampuan memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Dalam kisah Nabi Sulaiman ’alaihis salam, beliau pernah menawarkan kepada rakyatnya, siapa diantara mereka yang mampu memindahkan istana Bilqis. Dan makhluk yang pertama kali angkat tangan adalah Jin Ifrit. Allah kisahkan:

قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ

Ifrit, dari golongan jin, berkata: Aku sanggup membawa istana itu kepada Anda (Sulaiman) sebelum Anda berdiri dari tempat Anda…” (QS. An-Naml: 39)

Nabi Sulaiman tidak mengingkari kemampuan si Jin itu. Hanya saja beliau ingin proses pemindahan itu dilakukan lebih cepat. Dan manusia soleh yang bisa melakukannya, dengan bantuan Malaikat.

Ini menunjukkan bahwa jin memiliki kemampuan memindahkan benda. Jangankan satu pesawat, istana kerajaan yang jauh lebih besar, bisa dipindahkan oleh jin.

🔘 Kedua, sebagaimana manusia bisa menyembunyikan, jin juga bisa menyembunyikan. Jika manusia bisa menyembunyikan benda di tempat yang aman menurut dia, jin juga memiliki kemampuan yang sama.

Dalam riwayat Baihaqi, dari Ubaid bin Umair, beliau menceritakan,

Ada salah seorang penduduk Madinah yang hilang di zaman khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu, hingga istrinya lapor kepada Umar dan mengadukan suaminya yang hilang. Kemudian Umar menyuruhnya,

إنطلقي فتربصي أربع سنين

Pulanglah, dan tunggu (jangan menikah) sampai 4 tahun.”

Setelah 4 tahun berlalu, wanita ini datang lagi karena suaminya belum kunjung datang. Kemudian Umar berpesan,

إنطلقي فاعتدي أربعة أشهر وعشراً

Pulanglah, dan jalani masa iddah selama 4 bulan 10 hari.”

Seusai masa iddah, Umar memanggil keluarga suaminya, dan Umar menyuruhnya mewakili si suami untuk menceraikannya. Selanjutnya, Umar mengatakan,

إنطلقي فتزوجي من شئت

Pulanglah dan silahkan menikah dengan lelaki lain yang dia cintai.

Setelah berselang beberapa lama, suaminya datang. Umarpun bertanya kepadanya, “Dari mana saja kau ini?

Jawab orang ini,

إستهوتني الشياطين ، فوالله ما أدري في أي أرض، حتى غزاهم جن مسلمون ، فكنت فيمن غنموه، فقالوا لي : أنت رجل من الإنس ، وهؤلاء الجن ، فما لك وما لهم ؟ فأخبرتهم خبري ، فقالوا : بأية أرض الله تحب أن تصبح ؟ فقلت : بالمدينة : هي أرضي ، فأصبحت وأنا أنظر إلى الحرة

Setan-setan (jin kafir) menahanku. Demi Allah, saya tidak tahu di mana saya berada. Hingga datang jin-jin muslim memerangi mereka (hingga mereka kalah), dan saya termasuk orang yang menjadi rampasan perang itu. Para jin muslim itu mengatakan, ”Kamu manusia, sementara mereka jin. Apa urusanmu dengan mereka?” Akupun menceritakan kejadian yang aku alami. Kemudian mereka menawarkan, kamu mau balik ke daerah mana? Aku jawab: ’Madinah, itu kampungku.’ Tiba-tiba saya sampai Madinah dan saya melihat bebatuan madinah.”

Kemudian Umar memberikan pilihan kepada orang ini, untuk kembali kepada istrinya ataukah menerima pengembalian mahar istri sebagai bentuk diterimanya gugat cerai dari istri. (HR. Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil, 6/151).

Riwayat di atas shahih dan kejadian itu sebuah realita. Karena itu, kita boleh meyakini bahwa jin bisa menculik manusia untuk dibawa ke alamnya. Terkait informasi masalah pesawat, selama kita tidak mendapatkan informasi yang valid mengenai keberadaannya, kita tidak bisa memastikannya. Selama ini, semua kesimpulan tentang pesawat itu hanya dalam tataran teori.

🔘 Ketiga, sekalipun jin memiliki kemampuan bisa menculik manusia, namun kita tidak boleh terlalu cemas atau takut. Karena Allah menegaskan dalam al-Quran bahwa tipu daya setan, sangatlah lemah.

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Perangilah para pasukan setan, sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76)

Selama seseorang berusaha menjaga imannya, dan bersandar kepada Allah, setan tidak akan memiliki kesempatan untuk bisa mengganggu manusia.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ( ) إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Apabila kamu membaca al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan untuk mengganggu orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. An-Nahl: 98 – 99)

Oleh karena itu, janganlah kita memberi peluang kepada mereka untuk menguasai kita. Misalnya dengan menampakkan rasa takut kita kepada jin. Beberapa orang ketika melewati tempat yang dianggap anker, atau yang jarang dijamah manusia, dia menyatakan kulo nuwun, minta izin kepada jin. ”Permisi mbah, cucunya mau lewat. Mohon jangan diganggu.” atau ketika hendak melewati tempat sunyi, dia pasang klakson kendaraan, tanda minta izin. Atau yang semacamnya.

Perbuatan menistakan diri semacam ini masih banyak dilakukan kaum muslimin. Yang justru membuat jin semakin sombong dan terobsesi untuk menguasai dirinya. Karena jin merasa, dia lebih mulia dari pada manusia, disebabkan mereka meminta perlindungan kepada jin.

Allah mengingatkan,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka manusia itu semakin menambah sombong jin-jin itu.” (QS. Al-Jin: 6)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kebiasaan ’minta izin’ semacam ini ketika memasuki tempat yang anker, termasuk tradisi masyakarat jahiliyah. Sehingga membuat mereka semakin bergantung kepada jin.

كنا نرى أن لنا فضلا على الإنس؛ لأنهم كانوا يعوذون بنا، إي: إذا نزلوا واديا أو مكانا موحشا من البراري وغيرها كما كان عادة العرب في جاهليتها

Maksud ayat, kami (para jin) menganggap bahwa kami lebih mulia dari pada manusia, karena mereka meminta perlindungan kepada kami. yaitu apabila seseorang singgah di lembah atau tempat yang anker atau semacamnya. Sebagaimana ini menjadi kebiasaan masyarakat arab jahiliyah. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/239)

🔘 Keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita, doa yang sangat ringkas, agar dibaca ketika kita singgah atau memasuki tempat asing, yang jarang dijamah manusia. Redaksi doa itu,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A’udzu bi Kalimaatillaahit Taammaati Min Syarri Maa Kholaq

Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala makhluq

Dari Khoulah bintu Hakim dan Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

Barangsiapa yang singgah di suatu tempat, kemudian membaca: A’udzu bi Kalimaatillaahi…., maka tidak akan ada yang membahayakannya sampai dia pergi dari tempat itu. (HR. Muslim 2708).

Doa seperti inilah yang selayaknya kita amalkan. Allahu a’lam.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive