Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label muslimah. Show all posts
Showing posts with label muslimah. Show all posts

Saturday, February 24, 2024

Bocoran Dari Nabi ﷺ Tentang Wanita Penghuni Surga

Bocoran Dari Nabi ﷺ Tentang Wanita Penghuni Surga
Bismillah...

Bahwasanya para wanita calon penghuni surga sudah dikabarkan ciri-cirinya Sebagaimana dalam hadits,

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat wanita penghuni Surga:

وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا؛ اَلَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِيْ يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha kepadaku'"

Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XIX/140, no. 307) dan Mu’jamul Ausath (VI/301, no. 5644), juga an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 257). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 287).


DSB (Team design salafy bugis)


📱 gabung bersama kami:

t.me/assunnahsulawesi

http://Instagram.com/design.salafy.bugis

http://Instagram.com/assunnahsulawesi

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, December 22, 2023

Dukung Suamimu Untuk Berbakti Pada Ibunya

Dukung Suamimu Untuk Berbakti Pada Ibunya
Bismillah...

Wahai para istri..

Jika ingin anak-mu berbakti pada-mu, dukunglah suami-mu untuk berbakti pada ibunya..

كما تدين تدان

"Sebagaimana engkau memperlakukan, begitu pula engkau akan diperlakukan".

Wahai para istri..

Jangan sampai engkau memberi pilihan, 'Pilih aku atau ibu-mu". Tapi ingatkan terus suami-mu

Agar berbakti pada ibunya. [1]

Ingatkan suami-mu, "Sudahkah ia telpon ibunya hari ini". Kalau pun sibuk sekali, maka sekedar mengirim pesan singkat, "Ibu, hari ini aku akan rapat penting, mohon do'akan".

Laki-laki jika sudah fokus suatu hal, ia cenderang lupa yang lainnya. Belum lagi sifat dasar suami yaitu cuek. [2] Sering-sering lah mengingatkan suami-mu akan ibunya..

Sangat bahagia di masa tua-mu.. 

Sekian banyak anak-anak mu, semuanya berbakti dan selalu ingat pada-mu. Karena dukungan istri dari anak-anak mu..

Jika suami-mu masuk surga, karena surga di bawah kaki ibunya..

Maka surga dan neraka-mu ada pada suami-mu..

• Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻓَﺎﻧْﻈُﺮِﻱْ ﺃﻳﻦَ ﺃَﻧْﺖِ ﻣِﻨْﻪُ، ﻓَﺈﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﺟَﻨَّﺘُﻚِ ﻭَﻧَﺎﺭُﻙِ

Lihatlah dimana keadaanmu ketika bergaul dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu".

```(HR. Ahmad 4: 341, Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)```


✒️ Ustadz Raehanul Bahraen حفظه الله تعالى


www.muslimafiyah.com


Catatan kaki :

[1] Baca tulisan kami tentang berbakti kepada ibu: http://muslimafiyah.com/pengorbanan-sel-sel-tubuh-ibu-untuk-janinnya-sejak-di-kandungan-jangan-durhakalupakan-ibu-kita.html

[2] Baca tulisan kami tentang sifat dasar cueknya suami: http://muslimafiyah.com/memahami-sifat-dasar-laki-laki-cuek.html


🌐 https://muslimafiyah.com/dukung-suami-mu-untuk-berbakti-pada-ibunya.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, November 29, 2023

Jangan Menjadi Istri Munafik

Jangan Menjadi Istri Munafik
Bismillah...

Wanita di zaman salaf terdahulu begitu memuliakan dan menghormati suaminya. Kedudukan suami bagi mereka begitu agung dan sangat terhormat, tidak sebagaimana sebagian wanita di zaman kini yang banyak durhaka kepada suaminya. Banyak membantah, membentak, melawan, mencela, menghina dan ada juga yang berani memukul suaminya. Bahkan memboikot dan mengancam meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Wanita seperti ini digolongkan sebagai wanita munafik dan tidak ditrima atau sedikit pahala shalatnya serta tidak akan mencium baunya surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُنْتَزِعَاتُ وَالْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

Para wanita yang berusaha melepaskan dirinya dari suaminya, yang suka khulu’ (gugat cerai) dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq.” (HR. Nasa’i).

Berkata Al-Munawi rahimahullah

نفاقاً عملياً والمراد الزجر والتهويل فيكره للمرأة طلب الطلاق بلا عذر شرعي

Munafiq amali (munafiq kecil). Maksudnya adalah sebagai larangan keras dan ancaman. Karena itu, sangat dibenci bagi wanita meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat.’ (At-Taisiir bi Syarh al-Jaami’ as-Shogiir, 1:607).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

اثْنَانِ لا تُجَاوِز صَلاتُهُمَا رُءُوسَهُمَا عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

Ada dua orang yang shalatnya tidak melampaui kepalanya; seorang budak yang lari dari tuannya sampai ia kembali dan seorang wanita yang tidak taat kepada suaminya sampai ia bertaubat (kembali taat).” [HR. Ath-Thabrani).

Berkata Al-Munawi rahimahullah :

ولا يلزم من عدم القبول عدم الصحة فالصلاة صحيحة لا يجب قضاؤها لكن ثوابها قليل أو لا ثواب فيها أما لو أبق لعذر كخوف قتل أو فعل فاحشة أو تكليفه على الدوام ما لا يطيقه أو عصت المرأة بمعصية كوطئه في دبرها أو حيضها فثواب صلاتهما بحاله ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

Dan tidaklah mengharuskan amalan yang tidak ditrima itu juga dihukumi sebagai amalan yang tidak sah. Shalatnya tetap sah, tidak ada kewajiban mengqodho, akan tetapi pahalanya sedikit atau tidak ada sama sekali. (Hal itu kalau tanpa alasan yang dibenarkan syari’at), adapun jika seorang budak lari karena satu alasan seperti karena takut dibunuh atau karena perbuatan keji atau karena dibebankan suatu pekerjaan terus menerus yang tidak mampu ia lakukan, atau seorang istri tidak taat ketika mau disetubuhi pada duburnya atau ketika haidnya, maka pahala sholat keduanya ketika itu tetap mereka dapatkan. Dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah Al-Khaliq.” [Faidhul Qodir, 1/195]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 2226, At-Turmudzi 1187)

Wahai para wanita, kedudukan suami begitu mulia dan begitu agung, sampai-sampai istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu anha menasehati para wanita :

يا معشر النساء لو تعلمن بحق أزواجكن عليكن لجعلت المرأة منكن تمسح الغبار عن قدمي زوجها بخد وجهها. ابن أبي شيبة في المصنف (( 4/ 305

Wahai para perempuan,sekiranya engkau tahu hak suami-suamimu niscaya seorang dari kamu akan rela mengusap debu yang ada di kedua kaki suaminya dengan pipinya “(HR. Ibnu Abi Syaibah di Mushonnif 4/305).

Bahkan seandainya ada seseorang dibolehkan menghormati orang dengan cara bersujud, maka yang paling berhak adalah seorang istri bersujud kepada suaminya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْءَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

Sekiranya aku diperintahkan agar seorang sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan perempuan untuk sujud kepada suaminya”. (HR.Ahmad dan Tirmidzi).

Untuk itu wahai para wanita, jika ingin menjadi wanita terbaik dan dijamin masuk surga, janganlah kalian durhaka kepada suamimu, hormati dan taati pemimpin dirumahmu, jangan membangkang dan melawannya. 

Berkata Abu Hurairah radhiyallahu anhu :

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ ؟ قَالَ : الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab: “Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.” (HR. An Nasa’i).

Dan berkata Abu Hurairah radhiyallahu anhu :

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّذِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya; “Wanita yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Jika dipandang (suami) ia menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara-perkara yang dibencinya, baik dalam diri maupu harta” (HR. Ahmad dan An Nasai).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المرأة إذا صلت خمسها وصامت شهرها وأحصنت فرجها وأطاعت زوجها فليدخل من أي أبواب الجنة شاءت

Wanita itu, jika (menjaga) shalat yang  lima waktu, puasa pada bulannya (ramadhan) dan menjaga kemaluannya, serta ta’at kepada suaminya, maka hendaklah ia masuk dari pintu surga mana pun yang dikehendaki“. (HR. Ibnu Hibban, Al-Bazzar, Ahmad, Ath Thabrany).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02krYfzjrSM2UJFHTM6cW2xBNwVZ14nMCXMyAMCWgysYSHCc8z4KjPhb4FQcePSJc6l&id=100067621220425


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, October 20, 2023

Bidadari Dunia

permata dunia berupa istri solehah
Bismillah...

Rumah tangga akan menjadi taman-taman surga seorang mukmin apabila ia memiliki permata dunia berupa istri solehah.

Dengannya segala beban hidup yang berat kan menjadi ringan, derai air mata menjadi tawa, duka nestapa menjadi bahagia.

Kehadirannya di rumah tangga akan merubah empedu menjadi madu, merubah cuka menjadi anggur, merubah pasir menjadi permata, merubah racun menjadi penawar.

Denyut nadi hidupnya adalah pengabdian tulus tanpa pamrih sepanjang masa kepada suami dalam rangka mencari ridho Rahman.

Sebening embun pagi murni cintanya pada suami, Selembut sutera perangai dan akhlaknya pada suami. Sungguh ialah bidadari dunia.

📖 Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ألا أخبركم بخير نسائكم من أهل الجنة! الودود الولود العئود لزوجها التي إذا ظلمت قالت: هذه يدي في يدك لا أذوق غمضاً حتى ترضى. رواه الدارقطني والطبراني، وحسنه الألباني.

Mahukah kuberitahukan kalian istri kalian yang terbaik dan calon penghuni surga? dialah wanita yang penuh cinta, subur yang senantiasa mencari ridho suaminya. Apabila ia berbuat zalim atau dizalimi suami ia segera berkata: “duhai suami… inilah tanganku yang terulur pada tanganmu memohon maafmu. Sungguh aku tak mampu memejamkan mata hingga engkau ridho padaku”.

📚 [HR. Ad-Darul Qutni, at-Thabarani dan dihasankan Syeikh Al-Albani].

🔰 Dalam riwayat imam An-Nasa’i di Sunan Kubra dengan redaksi

التي إذا آذت أو أوذيت جاءت حتى تأخذ بيد زوجها ثم تقول: والله لا أذوق غمضاً حتى ترضى.

🌷 Dialah wanita yang bila menyakiti suaminya atau disakiti suaminya segera datang merebut tangan suaminya sambil berkata: “demi Allah sungguh daku tak mampu memejamkan mata ini hingga dirimu ridho padaku”.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim, no. 1467)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu,

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik simpanan seorang lelaki, yaitu istri salehah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Daud, no. 1664.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, 

مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةٌ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ السُّوءُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ

Ada tiga hal yang membahagiakan dan menyengsarakan manusia. Yang membahagiakan manusia adalah: (1) istri salehah, (2) tempat tinggal yang baik, (3) kendaraan yang menyenangkan. Yang menyengsarakan manusia adalah: (1) istri yang tidak saleh, (2) tempat tinggal yang jelek, (3) kendaraan yang tidak menyenangkan.” (HR. Ahmad, 1:168)

Ingatlah firman Allah,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisaa’: 34)

🌷 Dialah istri qona’ah tak banyak maunya, tawadhu dan merendah kepada suaminya. Penuh kelembutan dan kesederhanaan, penyabar dan bersahaja.

🌷 Sungguh seandainya dibolehkan sujud kepada suaminya, niscaya ia takkan ragu bersimpuh sujud di kaki suaminya.

Setitik asa kepada semua wanita…

🌺 Jadilah bidadari bagi suamimu 🌺


✍️ Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, Lc., M.A حفظه الله تعالى


https://www.abufairuz.com/2016/keluarga/bidadari-dunia/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, October 3, 2023

Saatnya Memahami Islam Dengan Benar

Saatnya Memahami Islam Dengan Benar
Bismillah...

Saudariku, ketahuilah sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memilihkan Islam sebagai agamamu.

Sesungguhnya agama (yang haq) di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imron 19)

Dan Allah meridhoi Islam, menyempurnakan, dan melengkapinya untukmu agar engkau dapat meraih tujuan hidupmu yang utama yaitu beribadah kepada Allah.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3)

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.”

Engkau Bisa Meraih Nikmat Islam

Dan saudariku, ketahuilah… engkau belum bisa mendapatkan nikmat Islam dalam hatimu sampai engkau memahaminya dengan benar. Pegangan utama seorang muslimah dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.

Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof: 30)

Allah juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholallahu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,

Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syu’ara: 52)

Realita yang Engkau Hadapi

Pada realitanya, banyak sekali orang yang mengaku ber-ittiba’ (mengikuti) dan memahami Al Quran dan hadits. Sebagaimana para filosof dan orang-orang sufi mengatakan, “Kami adalah orang yang ber-ittiba’ terhadap Al Quran dan hadits dan memahaminya.” Para pengikut filsafat memang mengikuti Al Quran dan hadits, akan tetapi mereka menjadikan nash-nash Al-Qur’an dan hadits tunduk pada tuntutan akal mereka. Dengan demikian mereka sebenarnya telah meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan akal mereka sebagai Tuhan. Para pengikut sufi juga mengambil Al Quran dan hadits, namun mereka menjadikan nash-nash keduanya tunduk kepada perasaan mereka. Dengan demikian mereka pun meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan perasaan mereka sebagai Tuhan.

Kedua pemahaman tersebut merupakan contoh bahwa perpecahan telah terjadi pada umat Islam menjadi bergolong-golong. Mengapa umat Islam bisa berpecah belah? Tidak lain hal ini disebabkan manusia bersandar pada dirinya dalam memahami Al Quran dan hadits. Namun mereka tidak menyadari pemikiran manusia berbeda-beda dan tidak seragam. Di samping itu, kemampuan manusia dalam memahami Al Quran dan hadits sangat terbatas. Tidak ada satu akal pun yang sempurna, demikian juga tidak ada seorang pun yang terlepas dari kesalahan. Sehingga jadilah manusia berpecah-belah sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing.

Semua pemahaman dari golongan-golongan tersebut salah adanya selama meraka masih berpegang pada hawa nafsu yang buruk dalam memahami Al Quran dan hadits, kecuali orang-orang yang Allah berikan petunjuk. Allah mengancam penyelewengan mereka terhadap Al Quran dan hadits dengan neraka.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab terpecah menjadi 72 golongan dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan di dalam neraka dan 1 golongan berada di surga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimi, Ath Thabroni, dll.)

Ash Shan’ani rahimahullah berkata, “Penyebutan bilangan dalam hadits itu bukan untuk menjelaskan banyaknya orang yang celaka dan merugi, akan tetapi untuk menjelaskan betapa luas jalan-jalan menuju kesesatan serta betapa banyak cabang-cabangnya, sedangakan jalan menuju kebenaran hanya satu.”

Dan orang-orang yang berpecah-belah karena memahami Al Quran dan hadits dengan hawa nafsu mereka yang menyimpang adalah teman-teman setan yang mengikuti jalan kesesatan.

Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassalam membuat sebuah garis lurus dan bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat garis-garis lain di kanan kirinya, dan bersabda: ‘Ini jalan-jalan lain dan pada setiap jalan ini terdapat setan yang menyeru ke jalan-jalan tersebut.’ Beliau lalu membaca (firman Allah ta’ala): ‘Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan memecah belah kamu dari jalanNya.” (QS. Al An’am 153)

Lalu, Bagaimana Memahami Islam yang Benar?

Setelah menilik realita yang ada, kita dapat mengetahui bahwa tidak semua orang yang belajar Al Quran dan hadits mendapatkan nikmat Islam dalam hatinya. Hal ini memang merupakan hal yang sangat disayangkan. Semua golongan-golongan dalam Islam tidak akan pernah mendapat nikmat Islam karena tidak memahami Al Quran dan hadits dengan benar. Lalu, bagaimana memahami Islam yang benar?

Wahai saudariku, renungkanlah apa yang engkau baca dengan lisanmu setiap engkau sholat maka engkau akan mendapatan jawabannya. Sesungguhnya Allah berfirman, “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka.” (Qs. Al Fatihah: 6-7)

Dari sini, engkau mendapatkan jawabannya, saudariku! Bahwa untuk mendapatkan nikmat Islam adalah memahami Al Quran dan hadits dengan mengikuti orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan nikmat Islam. Siapakah mereka?

Ibnul Qoyyyim berkata, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta istiqomah mengikutinya maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus).”

Syaikh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan bahwa manusia yang paling utama yang telah Allah beri nikmat ilmu dan amal adalah para shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, karena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Dengan demikian penafsiran dan pemahaman merekalah yang paling selamat. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik dari umat ini dalam memahami Al Quran dan hadits serta mengamalkannya.

Sebaik-baik umat ini adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang yang mengikuti mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhori Muslim)

Yang dimaksud dengan generasiku adalah para shahabat beliau. Generasi orang yang mengikuti para shahabat dalam memahami Al Quran dan hadits adalah tabi’in dan yang mengikuti tabi’in adalah tabi’ut tabi’in.

Para shahabat merupakan kaum yang dipilihkan oleh Allah untuk menemani nabiNya, dan menegakkan agamaNya.

Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Allah memandang kepada hati para hambaNya. Dia mendapati Muhammad adalah yang paling baik hatinya. Lalu Allah memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Allah kembali memandang hati hamba-hambaNya yang lain. Dia mendapati para shahabat adalah orang-orang yang paling baik hatinya setelah beliau shollallahu ‘alaihi wasallam. Allah lalu jadikan mereka sebagai pembantu NabiNya dan mereka berperang membela agamaNya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dan pemahaman para shahabat sering juga disebut manhaj salafus sholih (pemahaman pendahulu yang sholih).

Wajibnya Berpegang Teguh pada Manhaj Salafus Sholih

Ketahuilah saudariku bahwa perpecahan umat menjadi bergolong-golong adalah tercela dan dibenci. Allah ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum: 31-32)

Dan meskipun perpecahan tidak diridhoi oleh Allah, namun hanya sedikit orang yang bisa selamat darinya. Dan tidaklah seseorang selamat dari bencana ini kecuali orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah bersabda yang artinya: “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan.” didalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “(Yang mengikuti aku dan para sahabatku).” (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)

Allah hanya menginginkan kebaikan dari para hambaNya agar hambaNya kembali kepada kampung halamannya, yaitu surga. Oleh karena itu, diwajibkan atas seorang hamba untuk menyelamatkan diri dari perpecahan dan berpegang teguh pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Rasulullah saw bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu yang artinya, “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain)

Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Hidayah untuk kembali kepada Allah dan meraih surga hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 137)

Allah mengancam orang yang durhaka kepada Rasulullah dan menyelisihi kaum mukmin pada zamannya (yaitu shohabat) dengan neraka jahannam.

Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mukmin, Kami biarakan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Ya Allah… mudahkanlah kami menempuh jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, yaitu orang-orang yang memeperoleh hidayah dan istiqomah. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, yang hati mereka telah rusak sehingga mereka menyimpang dari kebenaran meskipun telah mengetahuinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat yang tidak memiliki dan tidak mau belajar ilmu agama, sehingga mereka terus-menerus dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk kepada kebenaran. Amiin…

Washollallahu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam


Rujukan:

  1. Sittu Duror Landasan Membangun Jalan Selamat karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani
  2. Membedah Akar Bid’ah karya Ali Hasan Al Halabi Al Atsari
  3. Artikel ‘Sudah Saatnya Meniti Manhaj Salaf’ yang merupakan penjelasan Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali dalam ceramah beliau dalam Majalah As Sunnah edisi 01/Tahun XI/ 1428H/2007M
  4. Artikel ‘Mengapa Harus Salafi?’ karya Abu ‘Abdirrahman bin Toyyib As Salafi dari situs salafindo.com

***

Penyusun: Ummu ‘Abdirrahman

Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.


sumber: https://muslimah.or.id/64-saatnya-memahami-islam-dengan-benar.html

Via HijrahApp

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 23, 2023

Kisah Seorang Wanita Yang Bergelar Istri Sholihah

Kisah Seorang Wanita Yang Bergelar Istri Sholihah
Bismillah...

Sahabat Fillahku.....

Kisah ini mungkin sudah dibaca oleh sahabat semua, dan ana tidak bosan membacanya, bahkan sampai berulang-ulang. Disini ana posting kembali sebagai muhasabah bagi ana pribadi dan semoga bisa jadi muhasabah pula bagi yang membacanya.

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya...

Ia menikahiku pada tahun 1390 H... Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) dirumah ayahnya, sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi... 

Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya...

Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini... 

Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami... Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi...

Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (ditempat kerjanya,) dan pulang tinggal bersama kami seminggu... 

Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… 

Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H, tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh, ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik…

Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma... Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak... 

95 persen organ otaknya telah rusak... Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia...

Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya... 

Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali... 

Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya...

Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka-, yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati... 

Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut...

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada diatas muka bumi ini... 

Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain, atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki...

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah (mendidik) putri kecilku... 

Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran, hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an, padahal umurnya kurang dari 10 tahun... 

Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya...

Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu... 

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam, padahal sejak umurnya belum 7 tahun...

Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah (mendidik) putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah...

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya... 

Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi, biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku... 

Setelah keraguan menyelimutiku, akhirnya akupun mengizinkannya...

Putriku bercerita :

Aku duduk disamping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai... Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur... 

Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku, lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-...

Lalu sekali lagi, akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih ditempat sholatku... 

Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!,.. bagaimana engkau tidur, sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??,.. bagaimana engkau tidur, sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"...

Akupun bangun… seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan… lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-...

Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robbku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)… Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, 

Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan, dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kami beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., 

Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya… 

Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim… sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah… sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh… 

Ya Allah, milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh... 

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?,.. apa yang kau lakukan disini?"... 

Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun... 

Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar... 

Ia berkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku!"... 

Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'"... 

Maka ayahku pun terdiam... 

Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter... Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi, merekapun keheranan...

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu"... 

Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah, Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering"... 

Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya... 

Iapun menangis… dan berkata:

, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ 

Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah, tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan, aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat dhuha atau tidak??...

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami, sebagaimana biasanya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun... 

Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua…

Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, 

Yang telah memberi taufiq kepadaku, dan menganugerahkan keikhlasan bagiku, hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku… meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a… barangsiapa yang menjaga syari'at Allah, maka Allah akan menjaganya...

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya ditangan Allah lah pengaturan segala sesuatu… ditanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah…. 

Demikianlah, Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin 

(SELESAI)...


Diterjemahkan oleh Ustadz Dr Firanda Andirja


Janganlah pernah putus asa jika Tuhanmu adalah ALLAH..… 

Cukup ketuklah pintu-NYA dengan doamu yang tulus… 


Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada ALLAH Yang Maha Suci....

Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNYA…


Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-11-1434 H / 25 September 2013 M


sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html 


https://firanda.com/898-kisah-istri-sholehah-berhak-untuk-dibaca.htmlxyz

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, July 14, 2023

Jika Engkau Tidak Merasa Malu, Berbuatlah Semaumu

Jika Engkau Tidak Merasa Malu, Berbuatlah Semaumu
Bismillah...

Silahkan kau umbar lekuk tubuh dan auratmu..

Silahkan kau pakai pakaian ketat, tipis dan sexy..

Silahkan kau bergoyang, bejoget, melenggak lenggok dihadapan penonton atau di akun sosial mediamu..

Silahkan kau berbuat apa saja sesuka hatimu..

Tapi ingat!!

Yang pasti engkau akan diberi balasan yang setimpal atas semua perbuatanmu..

Renungkan pesan malaikat Jibril ‘alaihissalam yang pernah datang kepada Rasulullah ﷺ :

"Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan mati..

Cintailah siapa saja yang engkau suka, karena sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya..

Berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya".

```(HR. Thabrani dan dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 831)```

Saudaraku tidakkah kita merenungi dan merasa takut??. Masihkan kita tidak memiliki rasa malu untuk berbuat dosa?? 

Sehingga dengan bangga berbuat apa saja yang kita inginkan..

Ketahuilah bahwa sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah karena ia masih memiliki rasa malu. Maka siapa yang tidak memiliki rasa malu niscaya ia akan mudah melakukan perbuatan keji dan mungkar..

Dan sebaliknya, orang yang memiliki rasa malu, ia akan berusaha meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sebab ia malu, sehingga ia eggan melakukan dosa dan maksiat..

Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina..

Malu adalah salah satu bagian dari cabang iman..

Malu adalah kebiasaan akhlak para Malaikat..

Malu adalah akhlak Islam..

Malu adalah salah satu wasiat yang disampaikan oleh para Nabi. 

Dan sifat pemalu adalah sifat dimana Allah Azza wa Jalla cintai..

Maka siapa yang sedikit rasa malunya, maka sedikit pula kebaikannya. Rasulullah ﷺ adalah sosok pribadi yang sangat pemalu melebihi gadis yang dipingit di kamarnya..

Sungguh seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya..

Dan sebaliknya siapa yang hilang rasa malunya, pasti ia rusak kehormatannya, mudah mengumbar maksiat dan dosanya, dan menyebarkan kejelekannya..

Semoga kita termasuk bagian dari orang-orang yang senantiasa memiliki rasa malu dalam kemaksiatan dan dosa..


✍🏼 Habibie Quotes

Ig - www.instagram.com/habibiequotes_

Tg - https://t.me/habibiequotes

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, July 12, 2023

Kesetaraan Pahala, Bukan Kesetaraan Gender

Kesetaraan Pahala, Bukan Kesetaraan Gender
Bismillah...

Asma' binti Yazid Al-Anshariyyah radhiyallahu 'anha pernah suatu hari mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata,

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku utusan dari kaum wanita yang ada di belakangku, mereka semua berkata dengan perkataanku dan berpendapat seperti pendapatku.

Sesungguhnya Allah telah mengutus engkau kepada kaum lelaki dan wanita lalu kami mengimanimu dan mengikuti petunjukmu. Namun kami kaum wanita tidak seperti keadaan mereka kaum lelaki ruang gerak kami terbatas. 

Kami sebagai tempat penyaluran syahwat kaum lelaki dan mengandung anak mereka. Sedangkan kaum lelaki mereka diberi kelebihan dengan shalat berjamaah di masjid, menghadiri jenazah dan berjihad fi sabilillah. Dan apabila mereka keluar berjihad maka kamilah yang menjaga harta dan mendidik anak-anak mereka. Lantas apakah kami menyamai mereka kaum lelaki di dalam mendapatkan pahala wahai Rasulullah?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memandang para shahabatnya dan berkata,

"Tidakkah kalian dengar pertanyaan yang paling bagus dari wanita ini yang bertanya tentang agamanya?"

Mereka berkata, "Kami mendengarnya wahai Rasulullah." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 

انصرفي يا أسماء وأعلمي من وراءك من النّساء أنّ حسن تبعّل إحداكنّ لزوجها وطلبها لمرضاته واتّباعها لموافقته يعدل ذلك كلّ ما ذكرت للرجال 

"Pergilah wahai Asma' dan beritahukan kepada kaum wanita yang ada di belakangmu bahwa muamalah kalian yang baik kepada suaminya, usaha kalian untuk mendapatkan keridhaannya dan taatnya seorang istri kepada suaminya akan MENYAMAI seluruh apa yang engkau sebutkan untuk kaum lelaki."

Asma' kembali sembari bertahlil (mengucapkan laa ilaaha illallaah) dan bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) dengan penuh kegembiraan mendengar jawaban Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

(Al-Isti'ab Ibnu Abdil Barr, Hamisy Al-Ishabah 4/223)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0DNhCohFtw8vYbLs5kFDdLN17gdx9GZUCAFZ4gaBEFZYLgpGi7CVSpLozQCAETXEol&id=100001764454087


https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

 

Share:

Popular Posts

Blog Archive