Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Friday, March 8, 2024

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.4)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.4)
Bismillah...

✒️ Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

Dan diantara perkara yang dilakukan untuk menyambut kedatangan bulan suci ini adalah :

"Banyak-banyak memanjatkan do'a agar diberikan keberkahan dalam waktu dan umurnya dan senantiasa diberikan limpahan barokah di bulan Sya'ban dan Ramadhan dan semoga di bulan Ramadhan ini ia tergolong menjadi orang orang yang bersegera dalam melakukan kebajikan..

Karena seorang hamba bagaimana pun kondisinya, ia butuh kepada do'a, karena sekiranya tanpa taufiq dan hidayah dari Allah ﷻ ia takkan mungkin berbuat sekecil apapun. Sehingga selain berusaha hendaknya dibarengi dengan iringan do'a, karena Allah ﷻ Maha Karim dan tidak akan menyia nyiakan orang yang telah berusaha mengetuk pintu kemurahan-Nya..

Sebagai penutup, marilah kita dengarkan untaian nasehat dari Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah, 

"Wahai orang-orang yang telah menyia-nyiakan waktu-waktunya yang mulia, meninggalkan puing-puing kenistaan  dan alangkah kejinya. Bulan Rajab telah lewat sedangkan engkau tidak berbuat kebajikan dan ini bulan Sya'ban yang penuh berkah.."

"Wahai orang-orang yang berbuat kebodohan dengan menelantarkan waktunya, hendaklah bangun dari tidurmu dan berhati-hatilah menyambut kerugianmu. Sesungguhnya engkau akan meninggalkan kelezatan dunia secara paksa, dan engkau akan diselimuti kematian dengan penuh kebencian menuju rumah abadimu. Oleh karenanya bersegeralah merubah hidup mu dengan berusaha menghapus segala kesalahan dengan taubat yang tulus.."

"Bercita-citalah menggapai keselamatan dari Neraka Jahim, karena sebaik-baik orang yang bersalah adalah berubah.."

اللهم بلغنا رمضان، ووفقنا للاستعداد له وتدارك ما انفرط من الأعمار، اللهم أصلح أحوال المسلمين، وبصّرهم بمواطن الضعف فيهم، اللهم بصّرهم بمكائد أعدائهم، اللهم واخذل أعداء الملة، واحم حوزة الدين، وانصر عبادك المجاهدين في كل مكان.

"Ya Allah, sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan, dan berilah kami taufiq untuk memperbaiki segala kesalahan yang terdahulu, Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin dan kuatkanlah segala kelemahan mereka, dan menangkanlah atas musuh-musuh mereka, Ya Allah, lenyapkanlah musuh agama ini, dan lindungilah para pembela agama, dan tolonglah para mujahidin di setiap tempat Ya Robbal Alamin.."

الـلَّهمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبراهيم وعلى آل إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبراهيم وعلى آل إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حميد مجيد.


*= S E L E S A I =*


Dalam Naungan Ilmu Kumpulan Catatan Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, March 7, 2024

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.3)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.3)
Bismillah...

✒️Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

Diantara perkara yang dapat membantu memaksimalkan ketika bulan Ramadhan adalah :

"Melatih beramal mulai dari sekarang, seperti berpuasa pada bulan Sya'ban, mengerjakan sholat malam, memperbanyak tilawah Al-Qur'an dan sebagainya..

Dan membiasakan berpuasa merupakan sarana unruk memudahkan perkara diatas, ketika seseorang bangun sebelum subuh, mengerjakan sholat witir, yang akan membawa perubahan pada hati dan melembutkannya serta dapat menjauhkan dari segala perbuatan sia-sia, demikian pula memudahkan untuk tilawah Al-Qur'an dan seterusnya, bahwa tiga ibadah ini senantiasa membawa dampak kebaikan yang lain, dan jika ia belum mampu berpuasa, maka janganlah meninggalka yang lainnya.."

Dan diantara perkara yang membantu untuk mempersiapkan Ramadhan adalah : "Mengingatkan keluarga tentang dekatnya kedatangan tamu yang agung ini, dan melatih keluarga untuk melakukan tiga ibadah diatas atau sebahagian nya..

Allah ﷻ berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى 

"Dan perintahkan keluargamu untuk senantiasa mendirikan shalat, dan ajaklah untuk bersabar diatas nya, sesungguhnya Kami  (Allah) tidak meminta kepada mereka rizki, bahkan Kami lah yang menurunkan rizki bagi mereka, dan sesungguhnya akibat yang baik hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa." ```(Qs Thoha : 132)```

Jika engkau telah melakukan tahapan amalan diatas pada bulan Sya'ban ini, maka berusahalah untuk melakukan evaluasi dalam setiap harinya, hingga mengetahui kekurangan yang masih tersisa, dari mana kekurangan ini datang..

Dan jika bulan Ramadhan datang maka niscaya engkau telah mengkondisikan diri secara maksimal dan telah memperoleh jawaban dari mana kekurangan datang, hingga dapat memanfaatkan bulan mulia ini dengan baik.." 

Diantara amalan yang hendaknya dipersiapkan menjelang kedatangan bulan suci ini, adalah :

"Hendaknya kita memiliki waktu-waktu khusus untuk berkholwah berdzikir kepada Allah ﷻ, guna melembutkan hati dan mengingat perjumpaan dengan-Nya, apa yang telah kita persiapkan dari amalan yang terdahulu, dan apakah perbuatan kita yang sekarang mampu mendatangkan ridho Allah ﷻ..

Dengan sarana berdzikir dan ingat akan hal ini merupakan sarana untuk melembutkan hati dan membersihkan jiwa dan mampu membuahkan tetesan air mata, hingga ketika memasuki bulan suci ini hati kita telah Allah ﷻ berikan kesiapan dan menggolongkan sebagai hamba yang diberikan naungan di hari yang tiada naungan kecuali mereka-mereka yang Allah Ta'ala berikan naungan.."

Dan diantara persiapan untuk menyambut kedatangan bulan suci ini adalah :

"Tidak banyak berinteraksi dengan manusia kecuali secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak banyak mengobrol, seperti ketika dalam pekerjaan atau menyelesaikan tugas tertentu, hendaknya meminimalkan interaktif kecuali yang mendatangkan maslahat, dikarenakan bisa jadi waktu akan terbuang sia sia, sebagaimana kenyataan hanya menimbulkan kerasnya hati, maka hendaknya jangan dilakukan hal tersebut diwaktu bulan kemuliaan telah datang.."

Diantara cara terbaik sebagaimana dilakukan oleh sebagian kita, meminta ijin untuk keluar dari semua bentuk koneksi seperti kumpulan WA atau FB atau Twitter akan bergabung kembali setelah usai Lebaran yang penuh berkah..


♻️ BERSAMBUNG  اإن شآء الله


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.2)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.2)
Bismillah...

✒️Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

Wahai kaum muslimin..

Dikarenakan inilah dahulu para Generasi Salaf terdahulu menjadikan bulan Sya'ban menjadi sarana untuk melatih diri sebelum masuk dalam medan perlombaan, pintu gerbang telah terbuka lebar untuk memasuki babak perjuangan, sebagaimana kuda-kuda yang tidak terlatih, tidak akan pernah menyelesaikan perlombaan yang baik sebagaimana yang diharapkan, bahkan bisa jadi ia akan berhenti di tengah perjalanan..

Dan yang demikian banyak dipraktikkan oleh kebanyakan manusia, mereka semangat di permulaan bulan Ramadhan, namun terjadi kemunduran pada pertengahan bulan bahkan hingga akhir bulan Ramadhan.!!

Demikian juga sebahagian manusia berhati-hati pada permulaan bulan Ramadhan hingga tidak terasa telah melewati seperempat, bahkan sepertiga bulan, namun mereka masih dalam kondisi melatih membiasakan diri, hingga mereka kehilangan kebaikan yang sangat banyak..

Oleh karena itu, tatkala syariat sholat merupakan ibadah yang agung, maka Allah ﷻ menjadikan amalan-amalan tertentu sebagai pendamping dan pendahulu, seperti disyari’atkan Adzan, disyari’atkan berjamaah dimasjid, disyari’atkan sholat sunnah Rowatib, baik sebelum atau sesudahnya, hingga seorang hamba benar-benar terkondisikan untuk mengerjakan ibadah agung ini, yang merupakan kewajiban fardhu yang paling wajib, hingga meminimalkan dari segala dampak kekurangan yang sekiranya terjadi..

Adapun orang-orang yang cerdik, ia dapat mengetahui nilai keagungan waktu dan nilai kemuliaan hidup nya, serta mengagungkan musim kebajikan untuk akhirat nya, dan mempersiapkan diri untuknya dari sekarang dan mengkondisikan hati untuk menyambut kemuliaan dari Allah ﷻ dengan hati yang bersih, meninggalkan bersibuk dari kelezatan dunia untuk melakukan ketaatan-ketaatan..

Diantara perkara yang dapat membantu seseorang untuk merealisasikan anjuran diatas adalah : Senantiasa menyelesaikan urusan dan hajat yang sekiranya menyibukkan ketika bulan Ramadhan dari sekarang, diantaranya yang paling menonjol dari kaum lelaki dan perempuan adalah sibuk menyiapkan hari lebaran dan segala kebutuhannya, hingga di pertengahan bulan Ramadhan ia menyibukkan diri dari perkara ini, seolah olah hari lebaran datang sekonyong konyong..


♻️ BERSAMBUNG  اإن شآء الله


Dalam Naungan Ilmu Kumpulan Catatan Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, March 6, 2024

Buka Lembaran Baru

Saat Ramadhan telah datang
Bismillah...

Saudaraku rahimakumullaah..

Saat Ramadhan telah datang, biarkan pergi kabut dosa masa lalu, bersama dengan turunnya hujan taubatmu..

Biarkan Ramadhan bersemi indah dalam kalbumu, agar mewarnai gerak langkahmu..

Sambut sejuknya musim ampunan dan rahmat Rabbmu, biarkan membasahi kemarau jiwamu..

Buka lembaran baru, agar terbit mentari amal shalih dalam hidupmu..

Wahai pencari kebaikan sambutlah, wahai pencari kejelekan berhentilah..

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Apabila masuk hari pertama di bulan Ramadhan, setan-setan dan para jin yang paling durhaka itu dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak satu pun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka, tidak satu pun yang ditutup, dan berserulah seorang penyeru: 'Wahai Pencari kebaikan sambutlah, wahai Pencari kejelekan berhentilah', dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka, dan itu di setiap malam Ramadhan.”

```(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 759)```

• Al-‘Allamah As-Sindi رحمه  الله تعالى berkata,

قَوْلُهُ (يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ) مَعْنَاهُ يَا طَالِبَ الْخَيْرِ (أَقْبِلْ) عَلَى فِعْلِ الْخَيْرِ فَهَذَا شَأْنُكَ تُعْطَى جَزِيلًا بِعَمَلٍ قَلِيلٍ (وَيَا طَالِبَ الشَّرِّ) أَمْسِكْ وَتُبْ فَإِنَّهُ أَوَانُ قَبُولِ التَّوْبَةِ

Sabda Nabi ﷺ, "Wahai Pencari kebaikan sambutlah".

Maknanya adalah, "Wahai Pencari kebaikan bersegeralah melakukan kebaikan, inilah urusanmu, engkau akan diberikan pahala besar walau dengan amalan kecil".

Dan sabda beliau ﷺ, "Wahai Pencari kejelekan berhentilah".

Maknanya adalah, "Berhentilah berbuat dosa dan bertaubatlah, karena sungguh bulan Ramadhan adalah waktu diterimanya taubat".

```(Haasyiyatus Sindi, 1/503)```


✒️Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc حفظه الله تعالى


•════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══•

🌐 https://www.instagram.com/p/CNlWT6ahkqu/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, March 5, 2024

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.1)

Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan (Bag.1)
Bismillah...

✒️Prof. DR. Umar ibnu Abdillah Al-Muqbil حفظه الله تعالى 

إنِ الْحَمْدَ لِله، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، ونَعُوذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وأَنْتمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبً

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ..

Amma ba'du..

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya setiap hati orang-orang yang beriman senantiasa menanti kedatangan bulan yang agung ini, yaitu bulan Ramadhan yang menjadi tamu yang mulia, yang kita memandang ini merupakan nikmat yang besar dan hadiah yang sangat agung dari Allah Robb Yang Maha Pemurah.. 

Oleh karenanya para generasi Salaf terdahulu radhiyallahu anhum menjadikan masuknya bulan Sya'ban untuk persiapan menyambut kedatangan bulan Ramadhan, dan telah melatih jiwa-jiwa mereka untuk berbuat ketaatan..

Dan sungguh terdapat teladan dari Nabi Muhammad ﷺ dalam amalan menyambut kedatangan Ramadhan, beliau ﷺ memperbanyak puasa pada bulan sya'ban, hingga Ummu Mukminin A'isyah radhiyallahu anha berkata,

وما رأيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا رمضان، وما رأيته في شهر أكثر منه صيامًا في شعبان

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa penuh satu bulan kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat  beliau banyak berpuasa dalam hari-harinya kecuali pada saat bulan Sya'ban."

```(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)```

Dan dalam riwayat sunan An-Nasa'i dengan sanad yang dikuatkan oleh sebagian ahli Ilmu, terdapat penjelasan tentang sebab Nabi ﷺ banyak berpuasa dalam hari-hari bulan Sya'ban, dengan sabdanya,

ذاك شهر يغفل عنه الناس

"Bulan tersebut, banyak manusia yang melalaikannya.."

قال ابن رجب رحمه الله: "وفيه دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة، وأن ذلك محبوبٌ لله عز وجل...، ولذلك فُضّلَ القيامُ في وسط الليل لشمول الغفلة لأكثر الناس فيه عن الذِّكر"٠

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Didalam hadits ini terdapat anjuran untuk memakmurkan waktu-waktu yang manusia sedang dalam kondisi lalai dari perbuatan taat, dan ini merupakan perbuatan yang dicintai oleh Allah ﷻ. Oleh karenanya, menunaikan sholat di tengah malam ketika kebanyakan manusia terlena memiliki keutamaan yang agung."


♻️ BERSAMBUNG  اإن شآء الله


Dalam Naungan Ilmu Kumpulan Catatan Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc


•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

 🌐 https://bbg-alilmu.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, April 28, 2023

Apakah Melemah Dalam Beribadah Selepas Ramadhan Tanda Amalan Tertolak?

Apakah Melemah Dalam Beribadah Selepas Ramadhan Tanda Amalan Tertolak?
Bismillah...

هل الفتور في عَمَلِ الصالحات بَعدَ رمضانَ دَليلٌ عَلَى عَدم الْقَبُولِ، فأنا أحس بفتور وأخشى ألا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبّلَ مِنّي؟

"Apakah semangat beramal kebaikan yang melemah setelah (berlalunya) Ramadhan merupakan pertanda tertolaknya sebuah amalan?

Karena saya merasakan lemah semangat dan khawatir jikalau Allah tidak menerima ibadah saya.."

🎙️Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin رحمه الله تعالى menasehati,

لا، ليس دليلا على أنّ الله لم يقبل مِنك، لكنه دليل على ضعف الهمّة وعدم الرغبة، ولذلك ينبغي للإنسان أنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ، وَأَنْ يَحمِلَها عَلَى الْعَمَلِ الصالح؛ لأن رمضانَ مدرسة في الواقع، ثلاثونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَة وَعِشرُونَ يَوْمَا تمضي وأنتَ متلبس بالعبادات المتنوعة، فَلا بُدّ أن يُؤَثِّرَ على قلبك وعلى مَسِيرك، فاغتَنِم هذه الفرصة أمّا أنْ نقول: إنّ مَنْ عَادَ إلَى الْمعَاصِي بَعَد رمضان؛ فإنه علامة على عَدم القبول. فلا نستطيع أنْ نَقُولَ هكذا.

Tidaklah seperti itu, hal itu bukanlah sebagai tanda bahwa Allah tidak menerima amalanmu. Namun itu menunjukkan akan lemahnya semangat dan sifat malas yang ada pada dirimu..

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang itu melatih dirinya untuk terus bersabar dan membawanya untuk terus melakukan amal shalih, _dikarenakan bulan Ramadhan itu layaknya madrasah dalam kehidupan nyata..

Tiga puluh atau dua puluh sembilan hari telah kamu lewati dengan beragam macam bentuk ibadah. Maka semestinya hal tersebut memberikan pengaruh baik di dalam hati dan dalam kehidupanmu. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut..

Adapun untuk kita katakan bahwa, orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan itu pertanda ibadahnya tidak diterima, maka kita tidak berani untuk mengatakan demikian".

```📚 (Sumber: al-Liqaatus Syahriyah, Jilid: 3/hal. 93)```


🌐 https://t.me/alilmoe

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, April 21, 2023

Tamu Itu Akan Pergi Kembali

Semoga Kita Masih Dipertemukan Dengan Ramadhan Esok..aamiin ya rabbal 'aalamiin..
Bismillah...

Sebulan lalu dengan rasa bahagia kita berkata,

"AHLAN WA SAHLAN WA MARHABAN YAA RAMADHAN.."

"Selamat datang dengan penuh kehangatan wahai Ramadhan.."

Namun hari ini berbalut sedih kita berucap,

"MAHLAN MAHLAN YAA RAMADHAN..

"Pelan-pelan jangan engkau bergegas pergi wahai Ramadhan.."

Sungguh, ada semburat kesedihan kala akan berpisah dengan bulan Ramadhan..

Timbul segumpal kekhawatiran adakah amal diterima?

Muncul setumpuk ketakutan apakah dosa-dosa telah terampuni?

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَان ،  ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

"Dan celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu ia melewatinya dalam keadaan dosa-dosa belum terampuni."

```(Hasan shahih, HR at-Tirmidzi: 3545)```

Yang pergi akan datang kembali namun bisa jadi kita tak menyambutnya lagi..


@sahabatilmu

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, April 20, 2023

Bolehkah Berpuasa Saat Ada yang Sudah Berlebaran Duluan?

Bolehkah Berpuasa Saat Ada yang Sudah Berlebaran Duluan?
Bismillah...

Tahun 2023, Idul Fitri akan ada dua hari di negeri kita ini:

Jumat, 21 April 2023, saudara kita dari Muhammadiyah berhari raya karena hasil dari hisab Wujudul Hilal, posisi hilal sudah ada di atas ufuk lebih dari nol derajat. 

Sabtu, 22 April 2023, saudara kita dari NU, Persatuan Islam (Persis), dan pemerintah sebagaimana hasil hisab imkanur rukyat yang memakai kriteria Neo MABIMS (Mentri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana tinggi hilal masih di bawah tiga derajat. 

Bagi yang bertaklid kepada Muhammadiyah bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka ia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa.

Namun, bagi yang mengikuti pemerintah bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka ia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan (istikmal). 

Sehingga haram baginya untuk tidak berpuasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya.

Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan.

Tinggal pilih saja, mau taklid dengan hasil ijtihad yang mana?

Jika seseorang mau bertaklid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka ia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. 

Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. 

Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya DOSA BESAR

Coba perhatikan dalil berikut yang menunjukkan dosanya orang yang enggan puasa padahal masih waktunya berpuasa (belum lebaran).

Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal". 

Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. 

Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25).

Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. 

Sebab mereka yang lebaran hari Jumat telah bertaklid kepada ulama mereka. Sedangkan, yang berlebaran di hari Sabtu, bertaklid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silakan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya.

Adapun dalil dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani).

Hadits di atas bukanlah menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu.

Mengapa?

Karena dalil diatas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya.

Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya.

Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebaliknya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas.

Sebagian ulama menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan adalah berpuasa dan berhari raya dengan al jama’ah (pemerintah) dan kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 25:115)

Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits di atas dengan berkata,

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”.

Begitu pula, jika Saudi Arabia sudah berlebaran duluan dan sudah bertakbir, bukan berarti Indonesia tidak berpuasa lagi.

Namun, sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. 

Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat dua pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja.

Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر

Apabila seorang hakim menghukumi lalu berijtihad dan benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia menghukumi lalu berijtihad dan salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari, no. 7352)

Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin. Semoga suatu saat nanti, di negeri kita ini, hari raya itu tidak berbeda-beda lagi dan terus bersatu.


Kamis, 20 April 2023, 29 Ramadhan 1444 H

@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/HdziGSljjeu7mXYdPxEDu8

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Penentunya Ada Di "Sesi Penutup"

Bismillah...

Penentu dari setiap amal, ada di penghujungnya..

• Dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنه, Nabi ﷺ mengingatkan,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Bahwa nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya".

```(HR. Ahmad 22835, Bukhari 6607 dan yang lainnya)```

Karena itu, perjuangan besar seharusnya kita lakukan ketika kita berada di penghujung amalan. Termasuk ketika di penghujung Ramadhan..

• Al-Hafidz Ibnu Rajab رحمه الله تعالى berkata,

يا عباد الله  إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل  فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

"Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa saja yang sudah berbuat baik didalamnya hendaklah ia sempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menyudahinya dengan yang terbaik.."

• Al-Imam Ibnu Al-Jauziy رحمه الله تعالى berkata,

إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع...

"Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish ia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu..

Karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Untuk itu,  jika  kamu termasuk dari yang tidak baik dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.."             

• Imam Ibnu Taimiyyah رحمه الله تعالى berkata,

العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات.

"Yang akan menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir dari sebuah amal dan bukan buruknya permulaan.."             

• Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله تعالى  berkata,

أحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فاغتنم ما بقي فلا تدري متى تدرك رحمة الله...

"Perbaiki apa yang tersisa bagimu, maka Allah akan mengampuni atas apa yang telah lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih.."     

• Abu Bakr as-Shiddiq رضي الله عنه berdo'a,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي أَخِيرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاك

"Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dengan-Mu". 

```(HR. Ibnu Abi Syaibah 30124)```

🤲🏼 Yaa Allah.. 

Jadikanlah sebaik-baik amalanku adalah pada penutupannya..

Selamat menikmati hidangan Allah ﷻ yang terbaik di "MALAM-MALAM TERAKHIR.."

Semoga Allah ﷻ takdirkan keberuntungan "DI AKHIR PERJALANAN.."

بارك اللّٰه فيكم وتقبل الله منا ومنكم ..

Baarakallahu fiikum wa Taqobbalallaahu minna waminkum..


🌐 https://konsultasisyariah.com/28066-penentunya-ada-di-sesi-penutup.html


📲 TG: Telegram.me/STaushiyyah

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, April 19, 2023

Diantara 3 Tanda Amalan Diterima, Termasuk Amalan Di Bulan Ramadhan

Diantara 3 Tanda Amalan Diterima, Termasuk Amalan Di Bulan Ramadhan
Bismillah...

Semua orang menginginkan amalannya diterima. Baik shalatnya, puasanya, hajinya, membaca alqurannya, sedekahnya dan lain sebagainya. Lantas bagaimana caranya untuk mendeteksi kalau amalan itu diterima?

Pertama, Senantiasa Terus Melakukan Ketaatan

Diantara tandanya adalah Allah memberikan taufik kepada kita untuk terus menerus melakukan ketaatan.

Berkata Al Hasan Al Basri rahimahullah :

"إنَّ مِن جزاءِ الحسَنةِ الحسَنة بَعْدَها، ومِن عقوبةِ السيئةِ السيئةُ بعدها، فإذا قبل اللهُ العبدَ فإنه يُوفِّقه إلى الطاعة، ويَصْرفه عن المعصية

Sesungguhnya diantara balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Dan diantara balasan kejelekan adalah kejelekan sesudahnya. Maka apabila Allah menerima (amal) seorang hamba, ia memberikannya taufik kepada ketaatan dan berpaling dari maksiat. 

Sumber : https://www.alukah.net/sharia/0/8961/#ixzz5p6YJsR8a

Berkata Al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah :

فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى و علامة ردها أن يعقب تلك الطاعة بمعصية ما أحسن الحسنة بعد السيئة تمحوها و أحسن منها بعد الحسنة تتلوها و ما أقبح السيئة بعد الحسنة تمحقها و تعفوها ذنب واحد بعد التوبة أقبح من سبعين ذنبا

Maka tanda diterimanya amalan adalah dia akan terus-menerus melakukan ketaatan yang lainnya setelah itu. Dan tanda tertolaknya sesuatu amalan ialah apabila amalan itu diikuti dengan maksiat. Apa saja kebaikan yang dilakukan setelah kejahatan, akan menghapuskan kejahatan tersebut, dan sudah pasti yang terbaik ialah melakukan kebaikan selepas melakukan kebaikan yang lain. Yang paling buruk ialah melakukan kejahatan selepas kebaikan yang akan menghapuskan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan. Melakukan dosa setelah seseorang bertaubat itu lebih buruk daripada tujuh puluh dosa sebelumnya. (Lathaif al-Ma’arif : 181).

Berkata Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafidzohullôh :

وإن من علامة قبول التوبة والأعمال في رمضان أن يكون الإنسان بعد رمضان أحسن حالاً في الطاعة عما قبل رمضان 

Dan diantara tanda diterimanya taubat dan diterimanya amalan di bulan Ramadhan adalah dengan menjadi bertambah baiknya seseorang tersebut didalam melakukan ketaatan setelah ramadhan, jauh lebih baik dari sebelum Ramadhan.

ومن علامة الردّ والخذلان أن يكون الإنسان بعد رمضان أسوأ حالاً مما قبله فتنبَّهوا لأنفسكم رحمكم الله وانظروا حالكم بعد رمضان

Dan diantara tanda ditolaknya amalan dan bentuk kerendahan adalah seseorang setelah bulan Ramadhan, jauh lebih jelek amalannya dari sebelum Ramadhan.

Maka perhatikanlah diri-diri kalian semoga Allah merahmati kalian. Perhatikan diri kalian setelah berlalunya bulan Ramadhan.

واعلموا أنَّ باب التوبة مفتوح دائماً في رمضان وفي كل زمان ممن فاتته التوبة في رمضان فلا يقنطْ من رحمة الله بل يبادر التوبة في أي وقت كان

Dan ketahuilah bahwa pintu taubat selalu terbuka baik di bulan Ramadhan ataupun setelahnya.

Barang siapa yang luput darinya untuk bertaubat di bulan Ramadhan, maka jangan dia berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan selayaknya dia bersegera untuk bertaubat di setiap waktu.

فإن الله يتوب على من تاب ويغفر الذنوب لمن رجع إليه وأناب قـالـ تعالى : ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ. وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ. وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ ﴾ [ الزمر : 53-55 ]

Karena sesungguhnya Allah menerima taubat orang yang bertaubat. Dan Allah mengampuni dosa bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS az Zumar 53].

وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُۥ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong”. [QS Az Zumar :54]

وَٱتَّبِعُوٓا۟ أَحْسَنَ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an) dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadari”. [QS az Zumar :55]

حافظوا على ما كسبتم في رمضان من الحسنات ولا تُفسدوه بالرجوع إلى المعاصي والسيئات فتهدموا ما بنيتُم وتبطلوا ما قدَّمتم

Maka jagalah atas apa yang kamu usahakan di bulan Ramadhan dari kebaikan-kebaikan. 

Jangan kalian rusak dengan perbuatan kalian dengan kembali melakukan berbagai kemaksiatan.

Sehingga dengannya kalian telah merusak apa yang telah kalian bangun (selama Ramadhan)

Dan dengannya kalian membatalkan apa yang telah kalian persembahkan untuk Allah di bulan Ramadhan.

فإن السيئات إذا كَثُُرت أهلكت الإنسان ورجحت بحسناته في الميزان ﴿ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ ﴾

Karena sesungguhnya kejelekan apabila banyak dilakukan akan menghancurkan seseorang dan meringankan timbangan kebaikannya.

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم

Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri”. [QS al A’raf :9]. 

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14046

Kedua, Beramal Kebaikan Lainnya, Setelah Beramal Kebaikan

Diantara tanda amalan diterima lainnya adalah jika seseorang setelah beramal kebaikan, kemudian beramal kebaikan yang lain sesudahnya, itu pertanda amalan diterima.

Contoh misalkan, membiasakan berpuasa lagi (puasa sunnah) setelah berpuasa ramadhan. Membiasakan sedekah, membaca alquran, shalat jamaah, shalat malam dan amal kebaikan lainnya setelah bulan ramadhan.

Allah Ta'ala berfirman :

ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. (QS. Asy-Syura 23).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

أي : ومن يعمل حسنة ( نزد له فيها حسنا ) أي : أجرا وثوابا ، كقوله ( إن الله لا يظلم مثقال ذرة وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجرا عظيما ) [ النساء : 40 ] .

وقال بعض السلف : [ إن ] من ثواب الحسنة الحسنة بعدها ، ومن جزاء السيئة ( السيئة )بعدها .

Yakni barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan, maka Kami tambahkan baginya dalam kebaikan itu kebaikan lagi, sebagai imbalan dan pahalanya. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang, walaupun sebesar zarrah. Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS. An-Nisa: 40)

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa sesungguhnya sebagian dari pahala kebaikan ialah kebaikan yang lain sesudahnya, dan sesungguhnya balasan keburukan ialah keburukan lain sesudahnya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dan Berkata Al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah :

أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها

Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.” (Lathaif Al-Ma’arif : 388).

Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafidzohullôh :

أيها الناس : اتقوا الله تعالى وتابعوا فعل الخيرات بعد رمضان فإنَّ من علامةِ قبول الحسنة فعل الحسنة بعدها وما شهرُ رمضان إلا منشِّطٌ على الخير ومبدأ للتوبة والعمل الصالح

ونهاية العمل تكون بالموت لا بخروج رمضان

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan iringilah kepergian Ramadhan ini dengan terus melakukan amalan kebaikan.

Dikarenakan termasuk tanda diterimanya amalan kebaikan (di bulan Ramadhan) adalah dimudahkannya dia beramal setelah Ramadhan.

Tidaklah Ramadhan ini melainkan sebagai penyemangat untuk melakukan berbagai kebaikan serta merupakan awal dari sebuah taubat dan batu loncatan untuk beramal shaleh (setelahnya).

Dikarenakan akhir dari sebuah amalan adalah dengan berakhirnya umur, bukan dengan berakhirnya Ramadhan.

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14046

Ketiga, Ada Perasaan Amalan Belum Maksimal

Tanda amal diterima lainnya adalah ketika ada perasaan bahwa amal shaleh yang dilakukan belum ada apa-apanya, masih sangat jauh dari maksimal, sangat sedikit dan sangat hina dan kecil.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah :

وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك حتى إن العارف ليستغفر الله عقيب طاعته وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من الصلاة استغفر الله ثلاثا وأمر الله عباده بالاستغفار عقيب الحج ومدحهم على الاستغفار عقيب قيام الليل وشرع النبي صلى الله عليه وسلم عقيب الطهور التوبة والاستغفار، فمن شهد واجب ربه ومقدار عمله وعيب نفسه : لم يجد بدا من استغفار ربه منه واحتقاره إياه واستصغاره

Tanda diterimanya amal shalihmu adalah saat hati merasa bahwa amal shalih masih hina dan kecil. Sampai orang-orang yang benar-benar mengenal Allah, selalu beristighfar setiap usai melakukan ibadah. Adalah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bila selesai salam dari sholat, beliau beristighfar sebanyak tiga kali. Allah juga telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk beristighfar setelah selesai melakukan ibadah haji. Allah juga memuji mereka yang beristighfar setelah melakukan sholat malam. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan taubat dan istighfar usai berwudhu.

Maka siapa yang mengetahui kewajibannya kepada Tuhannya, dan menyadari kualitas amalnya, serta aib-aib yang melekat pada jiwanya, niscaya dia akan selalu beristighfar usai melakukan amal ibadah, merasa amalannya masih sangat penuh kekurangan. (Madarijus Salikin 2/62).

Sungguh kalau membaca penjelasan ulama diatas tentang tanda amalan diterima, sepertinya diri-diri kita ini jauh dari harapan. Terutama saya sendiri. Namun kita berharap kepada Allah, mudah-mudah ada amalan yang bisa diterima walaupun hanya sedikit.


https://www.facebook.com/903924823277358/posts/pfbid02rAB5wvVmn712CzFJqxVKCp1bGJymikg1pgk3FkhyVkHR8hvXtYv6DioxhfTa1Sb1l/


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Bulan Ramadhan Berlalu Dalam Keadaan Dosa Belum Diampuni

Bulan Ramadhan Berlalu Dalam Keadaan Dosa Belum Diampuni
Bismillah...

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Subhanahu wa ta’ala)”. 

(HR. Ahmad [2/254], Al-Bukhari dalam al-Adabul mufrad No. 644, Ibnu Hibban No. 907 dan al-Hakim [4/170]; dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani)

من لم يغفر له في رمضان فلن يغفر له فيما سواه

Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya".

(Imam Ibnu Rajab dalam Kitab Latha-iful ma’aarif, hal. 297)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّنَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَجِبْرِيْلُ يَدْعُوْ قَالَ الصَّحَابَةُ : أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ الله قَالَ:جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ : بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّانِيَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّالِثَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ آمِيْن 

Sesungguhnya Nabi ﷺ mengucapkan amin sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdo'a.

Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amin..” 

Beliau ﷺ menjawab, 

Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amin”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata, “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amin”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amin”.

(HR. Imam Al Hakim Al-Mustadrak 4/154 diishahihkan Syekh Al Albani)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah?

Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah?
Bismillah...

Di bulan Ramadhan saat ini, kita sering mendengar ada sebagian da’i yang menyampaikan bahwa tidur orang yang berpuasa adalah ibadah.* Bahkan dikatakan ini adalah sabda Nabi ﷺ. Sehingga dengan penyampaian semacam ini, *orang-orang pun akhirnya bermalas-malasan di bulan Ramadhan bahkan mereka lebih senang tidur daripada melakukan amalan karena termotivasi dengan hadits tersebut..

Dalam tulisan yang singkat, kami akan mendudukkan permasalahan ini karena ada yang salah kaprah dengan maksud yang disampaikan dalam hadits tadi. Semoga Allah memudahkan dan menolong urusan setiap hamba-Nya dalam kebaikan..

DERAJAT HADITS SEBENARNYA

Hadits yang dimaksudkan,

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan".

Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437

Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan..

Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah).

KESIMPULAN :

Hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).

TIDUR YANG BERNILAI IBADAH YANG SEBENARNYA

Setelah kita menyaksikan bahwa hadits yang mengatakan “Tidur orang yang berpuasa adalah ibadah” termasuk hadits yang dho’if (lemah), sebenarnya maknanya bisa kita bawa ke makna yang benar..

Sebagaimana para ulama biasa menjelaskan suatu kaedah bahwa setiap amalan yang statusnya mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan suami istri) bisa mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan ibadah. 

Sebagaimana An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) mengatakan,

أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ

Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran)".

Jadi tidur yang bernilai ibadah jika tidurnya adalah demikian..

*Ibnu Rajab* رحمه الله تعالى pun menerangkan hal yang sama, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah".

```(Latho-if Al Ma’arif, 279-280)```

Intinya, semuanya adalah tergantung niat. Jika niat tidurnya hanya malas-malasan sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.

Jadi ingatlah “Innamal a’malu bin niyaat”, setiap amalan tergantung dari niatnya..

Semoga Allah menganugerahi setiap langkah kita di bulan Ramadhan penuh keberkahan. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmatnya, segala kebaikan menjadi sempurna..


Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam, wal hamdu lillahi robbil ‘alamin..


📚 RUJUKAN :

•• As Silsilah Adh Dho’ifah, Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Al Ma’arif Riyadh.

••Asy Syamilah

Latho-if Al Ma’arif fil Mawaasim Al ‘Aam minal Wazho-if, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy.

•• Syarh Muslim, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi.

•• Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah http://www.dorar.net/enc/hadith/نوم الصائم /pt


✒️Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله تعالى


🌐 https://rumaysho.com/454-tidurnya-orang-yang-berpuasa-adalah-ibadah.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Haid Datang Saat 10 Hari Terakhir Atau Saat Malam Lailatul Qadar

Haid Datang Saat 10 Hari Terakhir Atau Saat Malam Lailatul Qadar
Bismillah...

Jangan berkecil hati. Meski tidak bisa melaksanakan ibadah shalat, puasa, tidak boleh membaca Al-Quran dengan memegang mushaf menurut banyak ulama tapi masih bisa melakukan ibadah atau hal-hal lainnya yang bermanfaat, sehingga mudah-mudahan ia pun bisa mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar 

1. Berdzikir & Berdo'a

Seperti do'a yg diajarkan kepada Nabi,

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

"Ya Allah sesungguhnya Engkau pemaaf dan mencintai permohonan maaf. Maka maafkanlah aku."

2. Menyimak orang yang membaca Al-Quran. Semisal duduk di pelataran masjid yang bukan area masjid mendengarkan bacaan Imam shalat taraweh. 

3. Mendengarkan Murattal atau ceramah dari YouTube dsb.

4. Membaca buku-buku Islam spt tafsir dan lainnya.

5. Ikhlas dan Ridha dengan ketentuan Allah. 

Bahwa dia tidak mengerjakan ibadah-ibadah yang dilarang bagi wanita haid juga dikarenakan ketundukan dalam menjalankan syariat Islam yang melarang wanita haid melakukan ibadah-ibadah tertentu dan dia mengharapkan ganjarannya dari Allah.

Semoga bermanfaat. 


Senin pagi di peristirahatan.

26 Ramadhan 1444

17 April 2023

R@R


Copas Ridwan Abu Rayhana

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

SETIAP Orang Akan Bertemu Dengan Lailatul Qadar

SETIAP Orang Akan Bertemu Dengan Lailatul Qadar
Bismillah...

Namun yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kondisi kita pada malam tersebut?

• Ada orang di Lailatul Qadar membaca Al-Quran..

• Ada orang di Lailatul Qadar banyak berdoa..

• Ada orang di Lailatul Qadar bertaubat..

• Ada orang di Lailatul Qadar bersedekah..

• Ada orang di Lailatul Qadar belajar/mengajarkan ilmu agama..

• Ada orang di Lailatul Qadar sedang berdzikir..

• Ada orang di Lailatul Qadar silaturahim ke kerabat..

Dan mengerjakan amal shalih lainnya, maka orang-orang itu termasuk orang yang sangat beruntung..

☝🏼SEBALIKNYA..

• Ada orang di Lailatul Qadar nonton bioskop..

• Ada orang di Lailatul Qadar pacaran..

• Ada orang di Lailatul Qadar jalan-jalan ke Mall..

• Ada orang di Lailatul Qadar nonton film dewasa..

• Ada orang di Lailatul Qadar ghibah..

• Ada orang di Lailatul Qadar judi..

• Ada orang di Lailatul Qadar mabuk..

Dan melakukan dosa dan maksiat lainnya, maka orang-orang ini adalah termasuk orang yang rugi..

Demikianlah sejatinya setiap kita bertemu Lailatul Qadar tapi bagaimana kondisi kita pada malam tersebut?

Apakah kita termasuk orang yang sedang beribadah kepada Allah atau justru kita termasuk orang yang sedang bermaksiat kepada Allah ﷻ..

☝🏼 Karena itu hendaknya setiap muslim harus berusaha di 10 malam terakhir Ramadhan untuk melakukan ibadah dan mengerjakan amal shalih. Dengan demikian kesempat kita untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar akan semakin besar..

🤲🏼 Semoga Allah ﷻ memberikan Taufiq dan Hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita termasuk orang-orang yang dapat meraih keutamaan Lailatul Qadar dalam keta'atan mengerjakan amal shalih. Aamiin..


✍🏼 Habibie Quotes

Ig - www.instagram.com/habibiequotes_

Tg - https://t.me/habibiequotes

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, April 18, 2023

Lailatul Qadar Pada Malam Ke 27?

Lailatul Qadar Pada Malam Ke 27?
Bismillah...

عَنْ زِرٍّ قَالَ قُلْتُ لِأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ

أَنَّى عَلِمْتَ أَبَا الْمُنْذِرِ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ قَالَ بَلَى أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا لَيْلَةٌ صَبِيحَتُهَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ فَعَدَدْنَا وَحَفِظْنَا

وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهَا فِي رَمَضَانَ وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَلَكِنْ كَرِهَ أَنْ يُخْبِرَكُمْ فَتَتَّكِلُوا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Zirr berkata; "Aku bertanya kepada Ubay bin Ka'ab, 'Wahai Abu Mundzir, dari mana engkau tahu bahwa Lailatul Qadar pada malam Dua Puluh Tujuh?"

Dia menjawab, "Memang demikian, telah mengabarkan kepada kami Rasulullah ﷺ bahwa itu adalah malam yang mana pagi harinya matahari terbit tanpa bersinar, lalu tanda tersebut kami hapalkan..

Demi Allah sebenarnya Ibnu Mas'ud mengetahui tanda tersebut pada bulan Ramadhan. Dan itu pada malam ke Dua Puluh Tujuh, namun dia tidak ingin mengabari kalian karena takut kalian hanya akan menunggu tanpa beramal."

Abu 'Isa berkata, "Ini merupakan hadits hasan shahih."

(HR. Imam Tirmidzi no.723 Kitab : Puasa)

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ

تَذَاكَرَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ أَنَا وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ أَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَخْبَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ تَمْضِي مِنْ رَمَضَانَ وَآيَةُ ذَلِكَ أَنَّ الشَّمْسَ تُصْبِحُ الْغَدَ مِنْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ تَرَقْرَقُ لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ

فَزَعَمَ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ أَنَّ زِرًّا أَخْبَرَهُ أَنَّهُ رَصَدَهَا ثَلَاثَ سِنِينَ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ يَدْخُلُ رَمَضَانُ إِلَى آخِرِهِ فَرَآهَا تَطْلُعُ صَبِيحَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ تَرَقْرَقُ لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ

Dari Ubay bin Ka'b dia berkata, "Para sahabat Rasulullah ﷺ sedang menyebut-nyebut tentang malam Lailatul Qadar.."

Maka berkatalah Ubay, "Aku, demi Dzat yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, aku tahu malam apa dia terjadi, yaitu malam yang Rasulullah ﷺ telah ceritakan kepada kami, malam ke Dua Puluh Tujuh dalam bulan Ramadhan, dan tanda-tandanya adalah bahwa pada pagi hari dari malam tersebut matahari akan bersinar tanpa ada panas teriknya."

Maka Salamah bin Kuhail menyangka bahwa Zir telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia selalu mengamati selama tiga tahun dari awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan, bahwa pada pagi hari di hari yang ke Dua Puluh Tujuh, matahari bersinar terang tanpa terik panas."

(HR. Imam Ahmad no. 20247 Kitab Musnad Al Anshar)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Bekal Ramadhan #29 : Air mata perpisahan Ramadhan

Bekal Ramadhan #29 : Air mata perpisahan Ramadhan
Bismillah...

Waktu berjalan begitu cepat, seakan baru kemarin ramadhan datang menyapa kita. Tanpa dirasa ramadhan telah membawa kita di penghujungnya, pertanda Ramadhan akan meninggalkan kita. Ramadhan layaknya tamu, tamu agung sebentar lagi akan pergi. Ramadhan pasti akan datang kembali, tetapi belum pasti apakah taqdir akan membawa kita bertemu kembali.

Kesedihan Dalam Keimanan

Tamu agung akan pergi, tersisa kesedihan bagi seorang mukmin yang selama sebulan ramadhan ia rasakan nikmatnya ibadah kepada Allah.

Seorang mukmin tentu akan bersedih dengan perginya Ramadhan. Karena Bulan ketaatan, bulan kemuliaan, bulan penuh ampunan dan amalan akan dilipat gandakan sebentar lagi akan meninggalkannya. Sedangkan, belum tau apakah ditahun mendatang akan menjumpainya kembali?

Al-Hafizh Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata,

كيف لا تجري للمؤمن على فراق رمضان دموع

وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوع

Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak menetes tatkala berpisah dengan Ramadhan, Sedang ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.” (Lathaaiful Ma’aarif: 232)

Semoga Amalan Kita Diterima

Tidak ada jaminan amalan kita selama sebulan penuh Ramadhan akan diterima Allah subhanahu wata’ala. Kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga apa yang telah kita lakukan selama ramadhan diterima dan kita masih diberi kesempatan berjumpa kembali dengan ramadhan. 

Dari itu, salah satu doa yang nabi shallallahu alaihi wasallam ajarkan ketika hari raya ied adalah: 

تقَبَّلَ الله ُمِنَّا وَمِنْكُمْ

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan kalian semua di bulan ramadhan.” 

Tetap Istiqomah Dalam Kebaikan

Jangan buru-buru kita gulung sajadah. Karena Ramadhan boleh berlalu, tetapi ketaatan kepada Allah subhahuwata’ala harus selalu kita lakukan disetiap waktu. 

Dan diantara tanda amal seseorang diterima adalah dengan terus melakukan amalan kebaikan setelahnya (istiqomah) 

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

Diantara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 583).

Allah ﷻ berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad: 7)

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ

Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” (QS. Al-Hajj: 40)

Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Wahai Anak Adam! berinfaklah, maka aku akan membalas infakmu.” (HR. Muslim no. 993)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Para penyayang disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah penduduk bumi, maka yang di langit akan sayang kepada kalian.” (HR. At-Tirmizi no. 1924)

Barang siapa yang menyebut nama Allah ﷻ, maka Allah pun mengingatnya,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Barang siapa ingin disebut-sebut oleh Allah ﷻ, maka hendaknya dia mengingat Allah ﷻ. 

Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, Allah ﷻ berfirman,

مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَطْيَبَ

Barang siapa yang mengingatku di dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya dalam jiwaku. Barang siapa yang mengingatku di depan banyak orang, maka aku akan menyebutnya di hadapan makhluk yang lebih banyak dan lebih baik dari mereka.” (yakni: para malaikat) (HR. Ahmad no. 8650)

Semoga kita senantiasa istiqomah dalam ketaatan walaupan Ramadhan telah pergi meninggalkan. Dengan harapan semoga masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu bulan ramadhan di tahun depan.


https://hamalatulquran.com/bekal-ramadhan-29-air-mata-perpisahan-ramadhan/

•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

Ditulis oleh: Zusuf Affandi, Lc

(Alumni dan Pengajar di Pondok Pesantren Hamalatul Quran, Yogyakarta)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, April 17, 2023

Hakikat I'tikaf

Hakikat I'tikaf
Bismillah...

Di zaman ini, banyak orang yang ber-i’tikaf hanya sebatas tinggal di masjid. Sedikit beribadah, asyik dengan HP dan ngobrol dengan kawan. Padahal bukan demikian i’tikaf Nabi ﷺ ..

Dahulu Nabi ﷺ menyuruh untuk dibuatkan kemah di masjid untuk tempat i’tikaf beliau ﷺ. Di sanalah beliau ﷺ menyendiri beribadah kepada Allah dan tidak bergaul dengan manusia selama 10 hari..

• Al Hafidz Ibnu Rojab رحمه الله تعالى berkata, “Hakikat i’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan makhluk untuk benar-benar berkhidmat kepada sang pencipta”. 

```(Lathoiful Ma’arif hal 349)```

• Imam Ibnu Qayyim رحمه الله تعالى berkata, “Semua itu (yaitu menyendiri di kemah) adalah untuk menghasilkan maksud i’tikaf dan rohnya. Tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil yang menjadikan i’tikaf untuk bergaul dan ngobrol. Bentuk i’tikaf ini tidak sesuai dengan i’tikaf Nabi ﷺ.

```(Zaadul Ma’ad 2/90)```


✒️Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc  حفظه الله تعالى


🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/28616

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Teruslah Bersemangat Dalam Mencari Lailatul Qadr

Teruslah Bersemangat Dalam Mencari Lailatul Qadr
Bismillah...

• Syaikh Shalih Al-Fauzan حفظه الله تعالى berkata,

فيا أيها المسلمون: اجتهدوا في هذه الليلة المباركة بالصلاة والدعاء والاستغفار والأعمال الصالحة فإنها فرصة العمر ، والفرص لا تدوم؛

فإن الله سبحانه أخبر أنها خير من ألف شهر ، وألف شهر تزيد على ثمانين عاما ، وهي عمر طويل لو قضاه الإنسان كله في طاعة الله ، فليلة واحدة وهي ليلة القدر خير منه ، وهذا فضل عظيم .

"Wahai segenap kaum muslimin, bersemangatlah kalian di malam-malam yang diberkahi ini (10 hari terakhir ramadhan) untuk menjalankan ibadah shalat, do'a, istighfar, dan berbagai amal saleh. Karena ini merupakan kesempatan (emas) di dalam umur kita dan yang namanya kesempatan tidak selamanya ada.. 

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitakan bahwa (Lailatul Qadar) lebih baik daripada seribu bulan. Seribu bulan apabila dikalkulasikan maka itu lebih dari delapan puluh tahun, dan itu merupakan masa (tahun) yang sangat panjang..

Seandainya seseorang menghabiskan waktu selama itu untuk ketaatan kepada Allah, maka SATU HARI INI SAJA (Lailatul Qadar) AKAN LEBIH BAIK DARINYA..

Sungguh ini merupakan suatu keutamaan yang sangat besar..".

```📚 (Majalis Syahri Ramadhan, 247)```


https://shahihfiqih.com/teruslah-bersemangat-dalam-mencari-lailatul-qadr/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kebanyakan Lailatul Qadar Di Malam 27 Ramadhan

Kebanyakan Lailatul Qadar Di Malam 27 Ramadhan
Bismillah...

Sahabat yang mulia Ubay bin Ka'ab radhiallahu 'anhu berkata,

وَاللهِ إِنِّي لَأَعْلَمُهَا، وَأَكْثَرُ عِلْمِي هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

"Demi Allah, aku benar-benar mengetahui tentang lailatul qadar, dan kebanyakan yang aku ketahui adalah malam yang kami diperintahkan Rasulullah ﷺ untuk sholat padanya, yaitu malam 27 Ramadhan.

[HR. Muslim]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullah berkata,

وَأَكْثَرُ مَا تَكُونُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ كَمَا كَانَ أبي بْنُ كَعْبٍ يَحْلِفُ أَنَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

"Dan kebanyakan lailatul qadar terjadi pada malam 27 Ramadhan sebagaimana Ubay bin Ka’ab pernah bersumpah bahwa lailatul qadar itu pada malam 27 Ramadhan.

[Majmu' Al-Fatawa, 25/285]

Disebutkan dalam fatwa Kumpulan Ulama Besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah,

والصواب أنها  تتنقل في العشر، ولا تنحصر في ليلة السابع والعشرين، ولكن الناس لما سمعوا ليلة السابع والعشرين هي أرجى الليالي، صاروا يتحرون الصدقة فيها مضاعفة لأنه جل وعلا قال: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، والمعنى أن الصدقة فيها، والعمل الصالح يضاعف مضاعفة كثيرة، أفضل من العمل في ألف شهر، وهذا شيء عظيم، ينبغي على الناس الاستفادة في الإنفاق فيها والإحسان فيها، والصلاة وغير ذلك

"Yang benar adalah lailatul qodr itu bisa terjadi kapan saja di sepuluh hari terakhir Ramadhan, tidak terbatas di malam 27, akan tetapi ketika manusia mendengar (bahwa terdapat hadits yang shahih) malam 27 adalah malam yang paling diharapkan terjadinya lailatul qodr maka mereka pun berusaha untuk bersedekah lebih banyak di malam tersebut karena Allah jalla wa 'ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Lailatul qodr lebih baik daripada 1000 bulan." [Qs Al-Qodr: 3]

Maknanya adalah bersedekah dan beramal shalih di malam tersebut lebih baik daripada amalan selama 1000 bulan. Ini adalah sesuatu yang agung. Sepantasnya bagi manusia untuk memanfaatkan malam ini dengan berinfak, berbuat kebaikan, sholat dan amalan lainnya."

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 16/487-488 no. 327]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

═══ ❁✿❁ ═══

Bimbingan Umroh & Haji Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullah

Insya Allah Umroh & Haji 2023

- Awal Syawwal Plus Thaif 8-16 Mei 2023

- Akhir Muharram (UMROH PLUS DAUROH KITAB) 17-25 Agustus 2023

- Haji Furoda 2023 (Langsung Berangkat Tahun Ini Insya Allah, Bisa Menggunakan Notaris)

HUBUNGI wa.me/628118247111

═══ ❁✿❁ ═══

GABUNG TELEGRAM

t.me/taawundakwah

t.me/sofyanruray

t.me/kajian_assunnah

t.me/videokitabtauhid

t.me/kaidahtauhid

t.me/akhlak_muslim


WA GROUP KAJIAN ISLAM

Ketik: Daftar

Kirim ke wa.me/628111833375

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

I'tikaf Walau Hanya Sesaat

I'tikaf Walau Hanya Sesaat
Bismillah...

-Salah satu pendapat ulama: Boleh i'tikaf walaupun sesaat di masjid mana saja

-Bagi yang sibuk/harus kerja, boleh i'tikaf malam hari dan pagi hari masuk kerja

-Usahakan bisa i'tikaf terutama 10 malam terakhir

•═════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

Sering menjadi pertanyaan yaitu bagaimana melaksanakan iktikaf bagi orang yang punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan seperti pekerja, pedagang dan lain-lain. 

Mereka tidak bisa i'tikaf di masjid selama 10 hari atau dalam sehari-semalam pasti ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.

Memang terdapat perbedaan pendapat ulama, berapa lama batas minimal i'tikaf. 

Ada pendapat yang menyatakan 10 hari dan ada juga pendapat yang menyatakan minimal sehari-semalam. 

Dalam hal ini kami lebih memegang pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa batas minimal i'tikaf adalah beberapa saat saja (lahdzah), artinya bisa beberapa saat semisal 30 menit, satu jam, setengah hari dan tidak harus satu hari penuh sehari semalam, asalkan berniat melakukan i'tikaf.

Dengan demikian, ini menjadi kabar gembira bagi mereka yang sibuk tadi, untuk tetap melakukan i'tikaf selama Ramadhan. 

Semisal pagi atau siangnya bekerja, sore atau malam melakukan i'tikaf.

Yang menjadi dasar pendapat jumhur ulama adalah hadits dari Ya’la bin Umayyah radhiallahu ‘anhu , beliau berkata,

ﺇﻧﻲ ﻷﻣﻜﺚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ، ﻭﻣﺎ ﺃﻣﻜﺚ ﺇﻻ ﻷﻋﺘﻜﻒ

Saya berdiam beberapa saat di masjid, dan tidaklah aku berdiam kecuali untuk i’tikaf.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf).

An-Nawawi menjelaskan pendapat jumhur ulama dalam hal ini, beliau berkata,

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺃَﻗَﻞُّ ﺍﻻﻋْﺘِﻜَﺎﻑِ ﻓَﺎﻟﺼَّﺤِﻴﺢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻗَﻄَﻊَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺠُﻤْﻬُﻮﺭُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﻟُﺒْﺚٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ , ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺍﻟْﻜَﺜِﻴﺮُ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻘَﻠِﻴﻞُ ﺣَﺘَّﻰ ﺳَﺎﻋَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻟَﺤْﻈَﺔٍ

"Adapun batas minimal i'tikaf yang shahih adalah apa yang ditegaskan oleh jumhur bahwa dipersyaratkan tinggal/menetap di masjud dan boleh lama atau sedikir bahkan sampai beberapa saat (lahdzah)." [Al-Majmu' 6/514]


Sumber: https://muslim.or.id/40366-itikaf-walau-hanya-sesaat.html


Penyusun: Ustadz Raehanul Bahraen

------------------------------

> Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

> Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA >>> Click  https://chat.whatsapp.com/HdziGSljjeu7mXYdPxEDu8

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive