Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Sunday, September 2, 2018

Hukum Turut Serta Dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru

Hukum Turut Serta Dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru
Berikut penjelasan seorang ‘ulama besar international, Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Mufti Besar Kerajaan Saudi Arabia (kini telah wafat):

Tidak boleh bagi muslim dan muslimah untuk ikut serta dengan kaum Nashara, Yahudi, atau kaum kafir lainnya dalam acara perayaan-perayaan mereka. Bahkan wajib meninggalkannya.

Karena barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari sikap menyerupai mereka atau berakhlaq dengan akhlaq mereka. Maka wajib atas setiap mukmin dan mukminah untuk waspada dari hal tersebut, dan tidak boleh membantu untuk merayakan perayaan-perayaan orang-orang kafir tersebut dengan sesuatu apapun, karena itu merupakan perayaan yang menyelisihi syari’at Allah dan dirayakan oleh para musuh Allah. Maka tidak boleh turut serta dalam acara perayaan tersebut, tidak boleh bekerja sama dengan orang-orang yang merayakannya, dan tidak boleh membantunya dengan sesuatu apapun, baik teh, kopi, atau perkara lainnya seperti alat-alat atau yang semisalnya.

Allah juga berfirman:

﴿وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾

Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” [Al-Maidah : 2]

Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk meninggalkannya.

Tidak selayaknya bagi seorang yang berakal jernih untuk tertipu dengan perbuatan-perbuatan orang lain. Yang wajib atasnya adalah melihat kepada syari’at dan aturan yang dibawa oleh Islam, merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sebaliknya tidak menimbangnya dengan aturan manusia, karena kebanyakan manusia tidak mempedulikan syari’at Allah. Sebagaimana firman Allah:

﴿وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللهِ﴾

Kalau engkau mentaati mayoritas orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” [Al-An’am: 116]

Allah juga berfirman:

﴿وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ﴾

Kebanyakan manusia tidaklah beriman walaupun engkau sangat bersemangat (untuk menyampaikan penjelasan).” [Yusuf : 103]

Maka segala perayaan yang bertentangan dengan syari’at Allah tidak boleh dirayakan meskipun banyak manusia yang merayakannya. Seorang mukmin menimbang segala ucapan dan perbuatannya, juga menimbang segala perbuatan dan ucapan manusia, dengan timbangan Al-Quran dan As-Sunnah. Segala yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah atau salah satu dari keduanya, maka diterima meskipun ditinggakan manusia. Sebaliknya, segala yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah atau salah satunya, maka ditolak meskipun dilakukan oleh manusia.

[Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah rahimahullah I - (405)]

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Sakratul Maut

Sakratul Maut
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan barokah kepada kita semua.

Imam Al Ghozali berkata,

Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Atsar Al-Hasan).

Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam bersabda,

Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR. Bukhari)

Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR. Tirmidzi)

Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”. (Ka’b Al-Ahbar, sahabat Rasulullah Shalallahu'alaihi wa Sallam)

Imam Ghazali berkata,

Sakaratul maut lebih dahsyat daripada pukulan pedang, lebih tajam dari mata gunting dan gergaji. Kalau satu urat saja ditarik dari tubuh manusia, niscaya ia akan menjerit kesakitan. Lalu bagaimana kalau yang ditarik dari tubuh itu ruhnya, yang tidak ditarik dari satu urat saja, tapi dari semuanya. Kemudian setiap anggota tubuhnya akan mati secara bertahap. Pertama kakinya terasa dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Setiap anggota tubuh merasakan sekarat dan kepedihan sampai kerongkongannya. Pada saat itu terputuslah pandanganya dari dunia dan keluarganya, tertutup pintu taubatnya, dan penyesalan pun meliputi pikiranya.” (Ihya’ Ulumiddin: 4/419).

Allahumma a'inni 'alla sakaraatil maut.

Semoga bermanfaat.

Indahnya Hidup Bersama Dakwah

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Adab Bertamu

Adab Bertamu
Bertamu ini adalah Ibadah jika berniatkan karena Allah Subhânahu Wa Ta'âlâ untuk mengunjungi teman, kerabat, saudara dll. Bertamu yang paling tinggi kedudukan pahalanya adalah bertamu kepada Kerabat, Khususnya Kedua Orang Tua kita.

Seorang Muslim meyakini kewajiban menghormati tamu. Sebagaimana dengan Sabda Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

"Barangsiapa yang beriman Kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamu." (H.R Al-Bukhari no. 6018; Muslim no. 47)

Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian (Kiamat), maka hendalah memuliakan tamunya dengan memberikan ja'izahnya (hak tamu atas pemilik rumah)." Para sahabat bertanya, "Apa saja ja'izahnya?" Beliau menjawab, "Sehari semalam, dan menjamu adalah selama tiga hari. Maka selebihnya adalah sedekah." (H.R Al-Bukhari no. 6019; Muslim no. 48)

Maka dari itulah seorang Muslim berpegang teguh pada adab-adab berikut:

A. UNDANGAN PERTAMUAN

1. Hendaklah mengundang orang-orang bertakwa untuk bertakwa, bukan orang-orang yang fasik dan durhaka.

Sebab Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ

Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa.” (H.R Ahmad no. 10944; Abu Dawud no. 4832; at-Tirmidzi no. 2395; Ibnu Hibban, 2/314 dan al-Hakim, 4/143. Hadist Shahih.)

2. Jangan hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk bertamu dengan mengabaikan orang-orang miskin.

Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (H.R Al-Bukhari no. 5177; Muslim no. 1432.)

3. Tidak bermaksud bermewah-mewahan dan berbangga diri dengan bertamu, melainkan untuk mengikuti Sunnah Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan para nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim 'Alaihissalâm yang dijuluki "Abu adh-Dhifan" (Orang yang suka mengundang tamu).

4. Jangan mengundang orang yang sudah mengetahui sulit untuk hadir atau orang yang terganggu oleh saudara-saudara yang hadir lainnya.

B. ADAB MEMENUHI UNDANGAN JAMUAN

1. Hendaklah seseorang Muslim selalu memenuhi Undangan, tidak melalaikannya  kecuali ada Udzur. Sebab Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ

"Barangsiapa diundang, hendaklah ia memenuhinya." (H.R Muslim no. 1430.)

2. Hendaknya tidak membeda-bedakan antara orang fakir dan orang kaya dalam memenuhi undangan.

3. Hendaklah tidak membeda-bedakan dengan yang jauh dengan yang dekat. Jika ada dua undangan hendaknya kita dahulukan yang pertama dengan meminta maaf kepada pengundang yang belakangan.

4. Hendaknya jangan tidak memenuhi undangan karena alasan berpuasa (Sunnah), akan tetapi segera menghadirinya.

Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ

Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim no. 1431.)

5. Ketika memenuhi undangan hendaknya berniat menghormati saudaranya sesama Muslim agar mendapat pahala.

C. ADAB MENGHADIRI UNDANGAN.

1. Hendaknya tidak terlambat datang agar tidak membuat mereka gelisah, dan juga tidak tergesa-gesa untuk datang, agar tidak membuat mereka kaget karena belum siap.

2. Apabila memasuki ruangan majelis hendaknya tidak mengedepankan diri, akan tetapi hendaknya bersikap tawadhu' (rendah hati). Apabila dipersilahkan duduk, maka duduklah disitu dan jangan meninggalkannya.

3. Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena segera menyuguhkan hidangan itu pertanda memuliakannya.

Rasulullah Shallallâhu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

"Barangsiapa yang beriman Kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamu." (H.R Al-Bukhari no. 6018; Muslim no. 47)

4. Hendaknya tidak segera mengangkat (menarik kembali) makanan sebelum mereka benar-benar tidak mengambilnya dan semua hadirin benar-benar selesai makan.

5. Hendaknya menghidangkan untuk tamu secukupnya, karena menyedikitkan itu menodai wibawa dan kehormatan diri, sedangkan berlebih-lebihan adalah sikap memaksakan diri dan ada unsur pamernya.

6. Apabila seorang Muslim menginap, hendaknya tidak lebih dari tiga hari, kecuali jika tuan rumahnya yang memaksanya untuk tinggal lebih dari itu.

7. Hendaknya mengantarkan tamu hingga keluar rumah, karena yang demikian itu kebiasaan para as-Salaf ash-Shalih.

8. Hendaknya tamu pulang dengan lapang dada, sekalipun ia merasakan ada kekurangan dari tuan rumah, yang demikian itu termasuk ciri Husnul Khuluq (budi pekerti yang luhur) yang bisa mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat malam.

9. Hendaknya setiap muslim mempunyai tiga ruang tidur. Yang satu untuk dirinya, yang satu untuk keluarganya dan satu untuk tamu.

-------------------------

Kitab Minhajul Muslim - Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri رحمه الله تعالى

👤 Ustadz Dr. Khalid Basalamah, M.a حفظه الله تعالى
📆 01 Rabi'ul Akhir 1439 H / 18 Desember 2017
⏰ Ba'da Isya - Selesai
🕌 Masjid Al-Ikhlas, Komplek Karang Tengah Permai, Ciledug, Tangerang Banten.


===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Saturday, September 1, 2018

Tadabur Al-Qur'an, Surah Al-Hajj (1-4)

Tadabur Al-Qur'an, Surah Al-Hajj (1-4)
Surah Al-Hajj, 1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

Surah Al-Hajj, 2:

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu,  semua wanita yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak  yang disusuinya dan setiap  wanita yang hamil akan keguguran kandùngannya dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.

Surah Al-Hajj, 3:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَّرِيدٍ

Diantara manusia ada orang yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu  dan hanya mengikuti para syaitan yang sangat  jahat,

Surah Al-Hajj, 4:

كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَن تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

(tentang syaitan) ,  telah ditetapkan bahwa siapa yang berkawan dengan dia, maka  dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Tadabur Al-Qur'an, Surah Al-Anbiya (81-86)

Tadabur Al-Qur'an, Surah Al-Anbiya (81-86)
Surah Al-Anbiya, 81:

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.

Surah Al-Anbiya, 82:

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,

Surah Al-Anbiya, 83:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

Surah Al-Anbiya, 84:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Maka Kamipun memperkenankan doanya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Surah Al-Anbiya, 85:

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.

Surah Al-Anbiya, 86:

وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُم مِّنَ الصَّالِحِينَ

Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

3 Ujian yang Sering Terlupakan

Allah berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS.Al-Mulk:2)

Kehidupan manusia sepenuhnya adalah cobaan. Begitu pula dunia jika kita lihat dari sisi manapun tetaplah ujian.

Kaya adalah ujian. Miskin juga ujian.
Kesembuhan adalah ujian. Sakit pun ujian.

Segala kondisi yang kita jalani dan segala sesuatu yang kita miliki adalah ujian.

Namun kali ini kita akan membahas tiga ujian yang setiap hari kita lewati namun tanpa sadar kita melaluinya begitu saja. Kita jarang sekali memikirkan tiga ujian yang pasti menimpa manusia ini.

1. Umur yang berkurang setiap hari.

Setiap hari umur kita berkurang sementara kita tidak pernah resah dan memikirkan hal itu. Namun ketika harta yang hilang atau berkurang, kita merasa sangat sedih dan tak henti mengganggu pikiran kita. Padahal harta masih bisa dicari dan ditambah. Sementara umur terus berkurang tanpa bisa diganti.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada Abu Dzar,

يَا ابا ذر، كن على عمرك أشح منك على درهمك و دينارك

“Wahai Abu Dzar,  jadilah engkau lebih kikir terhadap umurmu daripada terhadap (harta) dirham dan dinarmu.”

2. Nikmat yang dinikmati setiap hari.

Setiap hari manusia menikmati fasilitas yang diberikan oleh Allah. Setiap hari pula ia memakan rezeki yang diberikan oleh-Nya. Sementara ia tidak memikirkan segala nikmat yang ia dapatkan setiap harinya.

Padahal bila ia memperoleh rezeki dengan cara yang halal, ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah, untuk apa rezeki dan fasilitas kenikmatam itu digunakan. Dan bila ia mendapatkan rezeki dengan cara yang haram, maka ia akan mendapatkan sanksi dari-Nya.

Manusia tak pernah memikirkannya. Ia tidak pernah berpikir tidak peduli dengan apa akibat dari sesuatu yang ia makan. Apakah nikmat itu akan lolos saat dimintai pertanggung jawaban atau akan mendapatkan sanksi.

3. Lebih dekat kepada ajal setiap hari.

Semakin bertambah hari, manusia semakin dekat dengan ajalnya. Ia semakin dekat dengan alam kubur dan alam pertanggung jawaban. Dan ia pun semakin menjauh dari kehidupan dunianya.

Amiril Mukminin Ali bin Abi Tholib pernah berpesan, “Setiap nafas anak Adam akan mendekatkannya menuju kepada ajalnya.”

Setiap hari langkah kita semakin mendekatkan pada alam akhirat, sementara kita tidak pernah memikirkannya. Waktu kita habis untuk memikirkan dunia yang fana. Yang pada akhirnya semua akan habis dan sirna.

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ – وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.” (QS.Al-Qiyamah:20)

Sementara disaat manusia dibagi menjadi dua kelompok, kita pun tak pernah tau, apakah kita termasuk golongan ahli surga ataupun ahli neraka.

Tiga hal ini adalah ujian yang kita hadapi setiap hari namun sungguh kita sering lalai bahkan lupa untuk memikirkannya. Semuanya berjalan begitu saja seperti tak terjadi apa-apa. Padahal setiap nafas kita adalah ujian yang akan dimintai pertanggung jawaban.

Semoga bermanfaat

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Ketika Masjid Al Aqsha dikuasai Zionis...

Kita sedih... mencela... marah2 kepada zionis...

Ketika Masjid Al Aqsha dijaga tentara Israel hingga muslim susah menunaikan shalat disana...

Kita mengutuk... membenci... kesel... bahkan nangis...

Itu bagus... TAPI

Mesjid dekat rumah anda tidak dikuasai Israel...

Mesjid dekat rumah anda tidak dijaga Israel dan dilarang...

Anda pada kemana waktu sholat tiba?

Anda gak nangis? Gak marah? Gak kecewa? Gak bisa shalat ke mesjid Deket rumah anda?

Atau...

APAKAH KITA HARUS DIJAJAH DULU BARU SADAR BAHWA KITA BUTUH MESJID UNTUK BERIBADAH...?? NAUZUBILLAH

Gunakan kebebasan untuk taat kepada ﷲﷻ sebelum kebebasan itu berubah jadi sebuah konflik.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive