Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label perayaan non-muslim. Show all posts
Showing posts with label perayaan non-muslim. Show all posts

Sunday, December 31, 2023

Sejarah Tahun Baru 1 Januari

Sejarah Tahun Baru 1 Januari
Bismillah...

• Tahukah anda sejarah Tahun Baru 1 Januari??

"Semenjak abad ke 46 SM, Raja Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai Hari Permulaan Tahun. Orang Romawi mempersembahkan hari 1 Januari kepada Janus, Dewa segala gerbang, pintu-pintu dan permulaan (waktu)..

Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu Dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menghadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu.."

```(THE WORLD BOOK ENCYCLOPEDIA Vol.14 hal.237)```

Yang merayakan malam tahun baru dengan cara apa pun, adalah mereka mengikuti kaum penyembah berhala (Paganis) yang merayakan hari Janus, dengan mengitari api unggun, meniup terompet berpesta dan bernyanyi ber-sama..

Selamat atas para peniru kaum Paganis Romawi yang telah merayakan malam tahun baru atau hari Janus..

Bagi yang TIDAK ikut-ikutan, selamatlah anda, karena anda tetap terus berkomitmen dengan Al-Quran surat Al-An'am, ayat 161-163,

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰٮنِيْ رَبِّيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۚ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ 

لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَ نَاۡ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

"Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik..

Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,

Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim)."

• Al-Quran surat Al-An'am, ayat 79,

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ حَنِيْفًا وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۚ 

"Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."


✒️Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc  حفظه الله تعالى


🌐 http://www.salamdakwah.com/artikel/743-sejarah-tahun-baru-1-januari

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, December 27, 2023

Tahun Baru Akan Tiba

Huklum Islam seputar perayaan Tahun Baru
Bismillah...

Ketika tahun baru masehi tiba, banyak kaum muslimin ikut bergembira dan merayakannya. Padahal agama kita memerintahkan untuk menjauhi perayaan musuh-musuh Allah. Namun karena kurangnya ilmu dan pemahaman agama yang benar, sebagian kaum muslimin larut dengan berbagai macam acara dalam rangka menyambut tahun baru.

Berkata Umar bin Al-Khatthab radhiallahu ‘anhu:

" اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ ؛ الْيَهُودَ , وَالنَّصَارَى ، فِي عِيدِهِمْ يَوْمَ جَمْعِهِمْ , فَإِنَّ السَّخَطَ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ , فَأَخْشَى أَنْ يُصِيبَكُمْ , وَلا تَعْلَمُوا بِطَانَتَهُمْ فَتَخَلَّقُوا بِخُلُقِهِمْ "

"Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah yaitu kaum Yahudi dan Nashara dalam perayaan 'Ied mereka saat hari berkumpulnya mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah turun atas kaum tersebut. Oleh karenanya aku khawatir kalian tertimpa murka Allah. Dan janganlah kalian mengenal kalangan orang kepercayaan mereka karena kalian akan terpengaruh tabiat mereka."

(HR. Baihaqiy Dalam Kitabnya Syu'aibul Iman).

Jika kaum muslimin sampai akhir hayatnya masih tetap merayakan tahun baru orang-orang kafir dan tidak bertaubat, maka pada hari kiamat nanti akan dibangkitkan bersama mereka.

Berkata ’Abdullâh bin ’Umar radhiyallahu 'anhuma :

«مَنْ بَنَى بِبِلَادِ الْأَعَاجِمِ وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” (HR. Baihaqi Dalam Kitabnya As Sunan Al Kabir).

Artikel-artikel Islami terkait perayaan Non-Muslim yang sejatinya HARUS ditinggalkan oleh kaum Muslimin : Perayaan Non-Muslim


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2098453007160622&substory_index=279335075121940&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, December 30, 2022

Peringatan Tahun Baru dan Niat

Peringatan Tahun Baru dan Niat
Bismillah...

Sebagian orang mengatakan,"Di malam tahun baru saya ada acara makan-makan dan bakar jagung, niatnya sekedar kumpul-kumpul, bukan merayakan tahun baru".

Ada juga yang mengatakan, "Di malam tahun baru saya ingin melihat pesta kembang api, sekedar menikmati kembang api saja bukan merayakan, kan semua tergantung niatnya".

Maka kita katakan, kita semua tahu bahwa perayaan tahun baru masehi adalah kebiasaan orang-orang non Muslim. Dan kita semua tahu hadits,

من تشبه بقوم فهو منهم

Orang yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut”. (HR. Abu Daud, 4031, dihasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, dishahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152)

Dan perbuatan yang dilarang karena tasyabbuh, tidak memandang niat pelakunya. Karena tasyabbuh itu sudah riil terjadi ketika adanya keserupaan secara zahir, tanpa melihat niatnya.

Contohnya, kalau ada laki-laki memakai lipstik, bedak, maskara, dan make up wanita lainnya, kemudian jalan lenggak-lenggok, maka kita katakan ini lelaki yang menyerupai wanita (baca: Tasyabbuh terhadap wanita). Tanpa perlu kita tanyakan apa niatnya.

🪶Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin رحمه الله تعالى menyatakan,

ما حصل به التشبه لا يشترط فيه نية التشبه، إذن التشبه تحصل صورته ولو بلا قصد فإذا حصلت صورة التشبه كانت ممنوعاً ولا فرق في هذا بين التشبه بالكفار أو تشبه المرأة بالرجل أو الرجل بالمرأة فإنه لا يشترط فيه نية التشبه ما دام وقع على الوجه المشبه

Suatu perbuatan yang merupakan tasyabbuh, tidak disyaratkan adanya niat untuk tasyabbuh. Maka, bentuk dari perbuatan tasyabbuh itu terjadi walau tidak dimaksudkan demikian. Maka jika terjadi suatu perbuatan yang merupakan bentuk dari tasyabbuh, hukumnya terlarang. Ini tidak dibedakan baik dalam tasyabbuh dengan orang kafir atau tasyabbuh-nya wanita dengan laki-laki atau tasyabbuh-nya laki-laki dengan wanita. Tidak disyaratkan adanya niat, selama di sana terjadi satu bentuk tasyabbuh (maka terlarang)”.  (Fatawa Nuurun ‘alad Darbi)

Dalam kitab al Qaulul Mufid, beliau رحمه الله تعالى juga menjelaskan,

لأن الحكم عُلق على مجرد صورته , فهذا العمل لا يحتاج إلى نية لأنه مُعلق بمجرد الفعل . فالنية تؤثر في الأعمال الصالحة وتصحيحها, وتؤثر في الأعمال التي لايقدر عليها فيعطى أجرها , وما أشبه ذلك , بخلاف ما علق على فعل مجرد , فلا حاجة فيه إلى نية

... Karena hukum tasyabbuh ini hanya terkait dengan bentuk zahirnya. Maka perbuatan ini tidak membutuhkan pengecekan niat, karena hukumnya hanya dikaitkan dengan amal. Adapun niat itu berpengaruh pada amal-amal shalih yaitu berpengaruh pada sah atau tidaknya amal shalih tersebut. Juga niat berpengaruh pada amal-amal yang tidak disebut batasan pahalanya, sehingga seseorang diberi pahala karena niatnya, atau amalan-amalan semacam itu. Ini tidak berlaku pada yang hanya dikaitkan dengan amalannya saja. Dalam hal ini maka tidak perlu pengecekan niat”.

Maka aktivitas apa saja yang bisa disangka secara zahir sebagai bentuk merayakan tahun baru, ini semua terlarang. Walaupun tidak berniat merayakannya..

Sikap yang benar dalam melewati malam tahun baru Masehi adalah melewatinya sebagaimana malam-malam biasanya, tidak ada yang istimewa. 

Sebagaimana firman Allah ﷻ,

والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما

(Orang beriman adalah) orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur (perayaan orang kafir) dan bila melewatinya, ia lewat dengan  penuh wibawa”. (QS. Al Furqan: 72)


Wallahu a'lam..


✒️Ustadz Yulian Purnama حفظه الله تعالى


🌐 https://t.me/fawaid_kangaswad

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, December 29, 2022

Apa Untungnya Ikut Perayaan Tahun Baruan?

Apa Untungnya Ikut Perayaan Tahun Baruan?
Bismillah...

Bagi kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakan tahun baru, mari pikirkan baik-baik..

1. Apa yang Anda dapatkan dari pergantian tahun ini?

Anda dapat uang kah? atau dapat pahala? atau dapat kesehatan darinya? atau naik pangkat karenanya? atau ada nikmat lain dengan bergantinya tahun ini?!

Jika tidak, bahkan sebaliknya, uang Anda akan banyak berkurang… Anda akan mendapatkan banyak dosa… bahkan bisa jadi ada bahaya menimpa Anda? … Lalu mengapa anda merayakannya?!

2. Apa alasan Anda melakukannya?

Kalau ikut-ikutan tren, siapa yang Anda ikuti? Nabi Muhammad ﷺ kah, atau kiyai kah, atau ustadz kah, atau sebenarnya Anda mengikuti non muslim?

Tahun baru masehi itu kalender siapa?

Bukankah kalender kaum muslimin adalah kalender hijriyah?

Apakah masehi itu kalender Islam, atau kalender dari non muslim?

Lalu mengapa Anda merayakannya?!

3. Anda sebagai kaum muslimin, adalah umat yang besar!

Oleh karena itu, tidak pantas anda menjadi ekor bagi umat lain, kemanapun mereka pergi Anda ikuti!

Yang pantas bagi Anda adalah mengikuti manusia terbaik dan paling sempurna, Nabi agung Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.

Lihatlah bagaimana beliau menyikapi tahun baru yang dirayakan di zamannya. 

Sahabat Anas -rodhiallohu anhu- mengisahkan:

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر

"Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dahulu ketika datang ke Madinah, masyarakat di sana memiliki dua hari (istimewa) yang dimeriahkan dengan acara permainan.

Maka beliau bertanya: “Ada apa dengan dua hari ini?”.

Mereka menjawab: “Dahulu di zaman jahiliyah, kami biasa memeriahkannya dengan permainan”.

Maka beliaupun mengatakan: “Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya; itulah hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri”.

[HR. Abu Dawud: 1134].

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah juga menjelaskan:

وَاسْتُنْبِطَ مِنْهُ كَرَاهَةُ الْفَرَحِ فِي أَعْيَادِ الْمُشْرِكِينَ وَالتَّشَبُّهِ بِهِمْ

Diambil istinbath (kesimpulan hukum) dari hadits ini (hadits Anas) bahwa terlarangnya bersenang-senang di hari raya kaum musyrikin dan tasyabbuh (menyerupai) kebiasaan mereka” (Fathul Baari, 2/442).

Para pensyarah hadits ini, menjelaskan bahwa dua hari yg dirayakan oleh masyarakat Madinah ketika itu adalah hari Nairuz (hari pertama tahun syamsiyah/masehi) dan hari Mihrojan (hari pertengahan tahun syamsiyah/masehi).

Dua hari ini dirayakan oleh mereka, karena keadaan cuaca yang baik, cuacanya sedang; tidak panas dan tidak dingin, dan waktu malam dan siangnya seimbang lamanya. [sumber: Aunul Ma’bud 3/341].

👉🏿Jadi, sekali lagi, apa untungnya ikut perayaan tahun baru ?! Lebih baik, gunakanlah untuk yang ibadah dan amal kebaikan yang akan sangat besar manfaat dan untungnya bagi diri Anda.


✒ Ditulis oleh, Ustadz. DR. Musyaffa' Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

 

Share:

Wednesday, December 28, 2022

Daripada Malam Tahun Baru Berbuat Maksiat, Lebih Baik...

Daripada Malam Tahun Baru Berbuat Maksiat, Lebih Baik...
Bismillah...

Mereka pikir,

"Daripada malam tahun baru berbuat maksiat, lebih baik dzikir dan doa bersama dalam satu suara dan satu komando di akhir tahun (Masehi)"

adalah kebaikan ?

Tidak ! itu bukan kebaikan Justru mereka berbuat KEMAKSIATAN terbesar kedua kepada Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana Bid'ah dalam Syariat merupakan kemaksiatan terbesar setelah Kesyirikan

Ditimbang dari sebabnya Sebab acara itu ada, diadakan, dibuat dan diciptakan karena kekhususan Akhir Tahun Masehi (malam tahun baru) dan Hari Tahun Baru Masehi Tidak ada dalil, petunjuk dan landasannya dalam Islam untuk merayakan tahun baru, baik itu tahun baru Hijriyah, apalagi tahun baru Masehi yang merupakan penanggalan buatan Kafir dan juga berasal dari ritual penyembahan Dewa Janus Maka mereka telah membuat, mengada-adakan dan menciptakan sebab untuk beramal yang baru yang tidak ada dalil, petunjuk, dan landasannya dalam Islam

Ditimbang dari jenisnya Tidak terdapat satu pun dalil, petunjuk, dan landasannya dalam Islam perkara jenis amalan khusus Akhir Tahun Masehi (malam tahun baru) dan Tahun Baru Masehi Apa hubungannya Islam dengan penanggalan Masehi buatan Kafir ? Tidak ada Maka mereka telah membuat, mengada-adakan dan menciptakan jenis amalan baru yang tidak ada dalil, petunjuk, dan landasannya dalam Islam

Ditimbang dari waktunya Waktu acara itu diadakan, dibuat dan diciptakan dengan mengkhususkan hari terakhir dalam tahun Masehi, maka ini sama saja telah mengadakan, membuat dan menciptakan Hari Ied (Hari Raya) baru dalam Islam Maka mereka telah membuat, mengada-adakan dan menciptakan pengkhususan waktu dalam Hari Ied (Hari Raya) yang tidak ada dalil, petunjuk, dan landasannya dalam Islam

Ditimbang dari Kaif (cara)nya Tata cara peribadahannya yang dikhususkan waktunya tersebut dengan dilakukan Dzikir dan doa bersama dalam satu suara dan satu komando Tidak ada dalil, petunjuk dan landasannya berdzikir dan doa bersama dalam satu suara dan satu komando Maka mereka telah membuat, mengada-adakan dan menciptakan Kaif (cara) baru dalam beramal yang tidak ada dalil, petunjuk, dan landasannya dalam Islam

Maka, mereka pikir mereka sedang berbuat kebaikan Dan berbuat sebaik-baiknya ? Tidak, justru mereka menghancurkan Islam dari dalam dengan paling terdepan membuat, mengada-adakan dan menciptakan perkara baru dalam Syariat, yakni Bid'ah dalam Syariat

Hei ! Perkara malam Tahun Baru Masehi yang merupakan penyembahan Dewa Janus oleh Bangsa Kafir Paganisme penyembah berhala, Romawi, itu sudah ada sejak dahulu, bahkan di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Dan Para Sahabat radhiyallahu 'anhu jami'an

Tapi apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Dan Para Sahabat radhiyallahu 'anhu jami'an mengkhususkan waktunya untuk beramal kala itu ? Jawabannya Tidak !

Maka jangan lancang mendahului Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam Hal apapun Ingat itu ! 


https://wwwfacebookcom/100081182600047/posts/pfbid02bUAPRK13RuooTusfS2wSnCsHxdPePwYbvsUP5WyWs1A1mzsjVaJ6dvTfgKdRG8Tbl/?mibextid=Nif5oz


Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Monday, December 26, 2022

Mengapa Kita TIDAK Merayakan Perayaan Keagamaan Non-Muslim?

Mengapa Kita TIDAK Merayakan Perayaan Keagamaan Non-Muslim?
Bismillah...

Kenapa kita tidak mau turut merayakan peringatan keagamaan umat lain seperti natalan misalnya, alasannya adalah,"Perayaan agama non muslim itu sama dengan _Yasyhaduuna az-Zuur_ alias menyaksikan kebohongan.."

Sebagaimana firman Allah,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya". (QS. Al Furqon : 72)

Bagaimana tidak, karena kebohongan mereka sangat mungkar hingga nyaris pecah langit..

Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا (٨٨)  لَقَ‍‍دْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (٨٩) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَ‍‍نْشَ‍‍قُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (٩٠) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا (٩١) وَمَا يَ‍‍نْبَ‍‍غِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَّ‍‍تَّخِذَ وَلَدًا (٩٢) إِنْ كُ‍‍لُّ مَ‍‍نْ فِ‍‍ي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَ‍‍بْ‍‍دًا (٩٣)

Dan mereka berkata, “Rabb Yang Maha Pemurah mempunyai anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.  Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak". (QS. Maryam : 88-93)

Turut merayakan dan mengucapkan selamat Natal, tak ubahnya seperti menyetujui bahwa Allah itu memiliki anak..

Wal'iyadzubillah..


ℳـ₰✍

​✿❁࿐❁✿​

@abinyasalma


Al-Wasathiyah Wal-I'tidāl https://t.me/alwasathiyah 

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, December 24, 2022

Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah

Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah
Bismillah...

Sebagian di antara para tokoh agama yang membolehkan natal bersama atau ucapan “selamat Natal” berdalih dengan firman Allah:

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾ إِنَّمَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَـٰتَلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰٓ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ﴿٩﴾

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim". (QS al-Mumtaḥanah [60]: 8–9)

Mereka telah lalai atau pura-pura lalai bahwa berbuat baik kepada orang kafir, sekalipun memang boleh, bukan berarti kita mengorbankan akidah dan prinsip kita dengan melakukan loyalitas dan cinta kepada mereka yang  terlarang dalam agama.

Allah Ta‘āla berfirman:

لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَ‌ٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٢٢﴾

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah ḥizbullāh (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ḥizbullāh (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung". (QS al-Mujādilah [58]: 22)

Ibn al-Jauzi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan ketika menafsirkan QS al-Mumtaḥanah [60]: 8, “Ayat ini merupakan keringanan tentang bolehnya menyambung tali kerabat terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin dan bolehnya berbuat baik kepada mereka sekalipun loyalitas (saling mencintai) terputus dari mereka.

Bahkan dalam surat al-Mumtaḥanah itu sendiri terdapat penjelasan gamblang tentang prinsip pokok akidah walā’(loyalitas kepada setiap muslim) dan barā’(membenci dan memusuhi orang kafir) seperti firman Allah Ta‘āla:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلْحَقِّ يُخْرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَـٰدًۭا فِى سَبِيلِى وَٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِى ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعْلَمُ بِمَآ أَخْفَيْتُمْ وَمَآ أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿١﴾

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus". (QS al-Mumtaḥanah [60]: 1)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَ‌ٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَ‌ٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَ‌ٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَ‌ٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ﴿٤﴾

"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 4)

Nah, di antara bentuk loyalitas kepada orang kafir yang terlarang adalah ikut serta dalam hari raya mereka dan mengucapkan selamat natal kepada mereka. 

Jadi, masalah ini merupakan masalah akidah bukan masalah adat semata. 

Ingat, di zaman Nabi sudah ada Umat Nashrani dan Yahudi yg memiliki hari besar, namun tidak pernah Nabi dan sahabat ikut memeriahkan perayaan mereka. Apakah kita berani mengatakan kalau Nabi dan sahabat tidak toleran ?! Pikirkanlah....


Ust. Abu Ubaidah As Sidawi

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Taubat Seseorang yang Telah Mengucapkan ‘Selamat Natal’

Taubat Seseorang yang Telah Mengucapkan ‘Selamat Natal’
Bismillah...

Pertanyaan:

Ustadz, saya ingin bertanya bagaimana cara bertaubat seseorang yang telah mengucapkan ‘selamat natal’ dan kata-kata yang memiliki arti semacamnya padahal sudah tau hukumnya.

Terima kasih ustadz, jazakallahu khairan.

(Disampaikan oleh Fulanah, sahabat BiAS).

Jawaban:

Cara bertaubat dari melakukan dosa atau maksiat adalah kembali kepada Allah Ta’ala dengan jujur, bisa dilihat dengan kualitas amalan shalih semakin baik dan meningkat, menyesal telah menentang hukum Allah Yang Maha Adil, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, serta memperbanyak istighfar dalam setiap keadaan, sembari berdo’a bahwa Allah Yang Maha Pemurah agar menganugerahkan keistiqamahan.

Allah Yang Maha Pengasih Dan Pemurah berfirman,

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).

Menambah Ilmu dan Rasa Yakin, Kepada Siapa Engkau Berbuat Dosa?

Dahulu sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah berkata,

Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah sebuah bukit, ia takut kalau bukit itu roboh menimpanya. Sedangkan orang yang fasik memandang dosa-dosanya seakan-akan ada lalat yang menempel di hidungnya, lalu ia berbuat seperti ini –yakni dengan tangannya- ia menyingkirkan lalat itu.” (HR. Bukhari, no. 5949).

Ahli ilmu menjelaskan bahwa dosa yang kecil apabila dilakukan tanpa ada rasa malu, tidak peduli sama sekali dan hilangnya rasa takut kepada Allah Yang Maha Kuasa disertai sikap meremehkan bisa menjadikannya dosa besar. Maka bagaimana pendapatmu jika itu adalah dosa besar, dosa kekufuran?

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq kepada kita. Aamiin

Wallahu Ta’ala A’lam.


Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله

Kamis, 18 Sya’ban 1442 H / 1 April 2021 M


Baca selengkapnya: https://bimbinganislam.com/taubat-seseorang-yang-telah-mengucapkan-selamat-natal/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, December 22, 2022

Surat Maryam Ayat 33 BUKAN Dalil Bolehnya Selamat Natal

Surat Maryam Ayat 33 BUKAN Dalil Bolehnya Selamat Natal
Bismillah...

Allah ﷻ menukilkan perkataan Nabi Isa, beliau 'alaihissalam berkata,

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali..” (QS. Maryam: 33)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini,

إثبات منه لعبوديته لله عز وجل وأنه مخلوق من خلق الله يحيا ويمات ويبعث كسائر الخلائق ولكن له السلامة في هذه الأحوال التي هي أشق ما يكون على العباد صلوات الله وسلامه عليه

Dalam ayat ini ada PENETAPAN UBUDIYAH Isa kepada Allah, yaitu bahwa ia adalah MAKHLUK ALLAH yang hidup dan BISA MATI dan beliau juga akan dibangkitkan kelak sebagaimana makhluk yang lain. Namun Allah memberikan keselamatan kepada beliau pada kondisi-kondisi tadi (dihidupkan, dimatikan, dibangkitkan) yang merupakan kondisi-kondisi paling sulit bagi para hamba. Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada beliau..” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 5-230)

Maka ayat ini justru dalil yang membatalkan akidah trinitas dan membatalkan keyakinan bahwa Nabi Isa adalah tuhan. Nabi Isa berdo'a demikian karena beliau adalah seorang hamba. Hamba berdoa kepada Rabb-Nya..

Sehingga aneh kalau ayat ini dijadikan sebagai "DALIL" untuk mengucapkan selamat natal. Bahkan ini adalah dalil tentang haramnya ucapan selamat natal. Karena ucapan selamat natal artinya menyetujui akidah trinitas dan keyakinan bahwa Nabi Isa adalah tuhan..

Semoga Allah memberi taufik..


Ustâdz Yulian Purnama حفظه الله تعالى


@ /fawaid_kangaswad

📝Editor : Admin Asy-Syamil.com

•════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═════•

🌐 https://t.me/Alkhansasoepomo

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, December 21, 2022

Seorang Muslim Tidak Mengucapkan Selamat Kepada Kaum Yang Tidak Selamat

Seorang Muslim Tidak Mengucapkan Selamat Kepada Kaum Yang Tidak Selamat
Bismillah...

Mengucapkan selamat natal dari seorang Muslim kepada Nashrani jelas haram hukumnya. Orang yang berakal sehat pasti menolak hal ini. Logika mudahnya saja, tidak perlu dipersulit dengan bermacam-macam syubhat dan keraguan serta pelintiran ayat dan hadits. Perayaan Natal adalah kesyirikan dan kesyirikan adalah dosa terbesar karena menyekutukan Allah yang Maha Esa dalam ibadah. Jika kita ucapkan selamat, tentu kita ikut berbahagia atau minimal ridha terhadap hal tersebut..

Misalnya ada yang membunuh Ibu atau keluarga kita (dosa membunuh lebih ringan dari dosa kesyirikan), kemudian kita berikan selamat pada pembunuh tersebut? Apakah ini logis? Padahal ibu kita yang melahirkan, membesarkan dan mendidik kita dengan kasih sayang dan tidak akan bisa kita balas? Nah, bagaimana jika kita malah memberi selamat terhadap orang yang melakukan pelanggaran terhadap hak Allah? 

Padahal Allah yang menciptakan dan memberikan taufik kepada Ibu kita agar mencurahkan kasih sayang kepada kita? Allah yang telah memberikan segalanya kepada kita?

Belum lagi logika yang lain, bahwa ternyata Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, karena sumber dari kitab mereka sendiri, Yesus lahir pada musim panas. Atau dalil dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam lahir ketika musim kurma yaitu musim panas..

Allah Ta’ala berfirman,

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا {٢٢} فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَـٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا {٢٣} فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا {٢٤} وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا {٢٥}

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”. (Qs Maryam: 22-25)

Dan berbagai dalil logika lainnya. Belum lagi dalil dalam syariat yang menyatakan agar kita berlepas diri dari perbuatan dan perayaan orang kafir. Dan masih banyak dalil-dalil lainnya yang MELARANG seroang muslim mengucapkan selamat natal..

Satu kalimat yang fatal akibatnya namun pelakunya merasa ringan dan biasa saja. Terkadang diucapkan kalimat yang terlarang dalam agama, yang bisa saja dianggap ringan atau biasa saja oleh pelakunya, namun di sisi Allah besar dan membuat Allah murka.. 

Allah Ta’ala berfirman,

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّـهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong (termasuk berita bohong kelahiran Yesus, pent ) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”. (Qs An-Nuur : 15)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إن الرجل ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يرى بها بأسا فيهوي بها في نار جهنم سبعين خريفا

Sungguh ada seseorang yang mengucapkan suatu kalimat yang membuat Allah murka, ia menganggap perkataan itu biasa saja, padahal hal itu menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam sejauh 70 tahun perjalanan”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).

Jadi janganlah kita termasuk orang yang mendapat murka Allah karena kalimat Ucapan selamat Natal, dan kita merasa ucapan ini biasa saja dan ringan, ini biasa karena toleransi beragama. Padahal bisa jadi ucapan tersebut berakibat fatal, yaitu menjerumuskan kita ke api neraka.

Yang benar toleransi adalah membiarkan mereka beribadah dan kita tidak perlu ikut campur, tidak perlu mengucapkan selamat. 

Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”. (Qs Al-Kafirun: 6)

Dan kita diperintahkan agar berlepas diri dari segala sesuatu yang mendukung penyembahan selain Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّـهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”. (Qs Al Mumtahanah: 4)

Masih banyak dalil yang lainnya lagi akan tetapi kami cukupkan lagi dengan hadits larang mendahului ucapan selamat kepada orang Yahudi dan Nashrani. Maka ucapan “selamat natal” termasuk dalam larangan ini.. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَتَبْدَءُواالْيَهُودَوَلاَالنَّصَارَىبِالسَّلاَمِ

Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).”. (HR. Muslim no. 2167).

Demikian semoga bermanfaat.


✒️ Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

(Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah "Kesehatan Muslim")


Artikel www.muslim.or.id


🌐 https://muslim.or.id/19360-ucapan-selamat-natal-satu-kalimat-yang-fatal-akibatnya.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, December 16, 2022

Konsekuensi Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal, Walaupun Tidak Merayakannya

Konsekuensi Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal
Bismillah...

Barangsiapa yang jujur (ridho) mengucapkan selamat natal terhadap hari raya mereka kafir nashrani, maka mau tidak mau dia membenarkan, bahwa :

1. Sepakat bahwa Allōh Subhānahu wa Ta'ālā memilikinya anak

2. Sepakat dengan konsep TRINITAS (Tuhan 3 dalam 1).

3. Sepakat bahwa ada agama lain selain Islam yang benar dan dijadikan wala' (loyalitas).

Maka, Allōh Subhānahu wa Ta'ālā sendiri yang langsung membantah manusia tersebut.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata,

“Sesungguhnya Allōh itu dialah Al-Masih putra Maryam".

Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, 

“Wahai Bani Israil !! Sembahlah Allōh, Tuhanku dan Tuhanmu".

Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allōh, maka sungguh, Allōh mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang dzholim itu".

(Qs. Al-Ma'idah : 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan, bahwa Allōh adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih".

(Qs.Al-Ma'idah : 73)

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ۞  أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا ۞ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

"Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu), Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak".

(Qs.Maryam : 90-92)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

"Sesungguhnya agama di sisi Allōh hanyalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka". 

(Qs. Ali 'Imron:19).

"Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal berarti menyerupai tradisi kaum Kristiani, maka ia dianggap bagian dari mereka. Dengan demikian, hukum ucapan dimaksud adalah haram".

(HR Abu Daud, nomor 4031).

Maka bersegeralah BERTAUBAT !! 

 ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allōh , maka sungguh, Allōh sangat cepat perhitungan-Nya.


Allah a'lam...

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, December 4, 2022

Memperbanyak Bertaubat dan Istighfar di Bulan Desember

Memperbanyak Bertaubat dan Istighfar di Bulan Desember
Bismillah...

Saya tidak melihat satu amalan yang sangat penting di bulan Desember kecuali memperpanyak taubat dan istighfar, karena sepanjang bulan Desember terjadi pencelaan, penghinaan dan pencacimakian terhadap Allah Azza Wa Jalla oleh kafir Kristen dan juga terdapat satu hari dimana Allah Azza Wa Jalla dicaci maki, dihina dan dicela oleh kafir Kristen bahwa Dia memiliki anak dan juga bahwa Dia menitis ke dalam anak-Nya sehingga disebut sebagai Tuhan Anak Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ جِئۡتُمۡ شَيًۡٔا إِدّٗا  (89) تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا  (90) أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا  (91) وَمَا يَنۢبَغِي لِلرَّحۡمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا  (92) إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا  (93)

Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu), karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba” (QS Maryam [19] : 89-93)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman : telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari 'Abdullah bin Abu Husain : telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, Allah Ta'ala berfirman :

كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ، فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

Sebagian keturunan Adam telah mengatakan kebohongan tentang Aku padahal mereka sama sekali tidak berhak melakukan demikian Dan mereka mencelaku, padahal mereka tidak punya hak untuk mencelaku Kebohongan yang mereka perbuat tentang-Ku adalah mereka menganggap Aku tidak mampu menciptakan kembali sebagaimana dulu telah ciptakan ADAPUN CELAANNYA (CACI MAKI) KEPADA-KU, YAITU MEREKA MENGATAKAN BAHWA AKU MEMPUNYAI ANAK MAHA SUCI AKU, SAMA SEKALI AKU TIDAK MENGAMBIL ISTRI DAN TIDAK MEMPUNYAI ANAK

- HR Bukhari no 4122 | Fathul Bari no 4482

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفْئًا أَحَدٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Allah berfirman : “Anak Adam telah mendustakan-Ku, padahal ia tidaklah mempunyai alasan sedikit pun Dan ia juga telah mencemooh-Ku (mencaci maki-Ku) padahal ia tidak mempunyai alasan melakukan hal itu Ada pun kedustaannya kepada-Ku adalah perkataan, “Dia tidak akan mengembalikanku sebagaimana ia telah menciptakanku pertama kali” Padahal menciptakan pertama tidak lebih mudah daripada hanya sekedar mengembalikannya ADAPUN PELECEHAN (CACI MAKI) NYA  KEPADA-KU ADALAH PERKATAANNYA, “ALLAH TELAH MENJADIKAN ANAK UNTUK DIRI-NYA” SEMENTARA AKU ADALAH RABB YANG MAHA ESA, YANG TIDAK BERANAK DAN TIDAK PULA DIPERANAKKAN, DAN TIDAK ADA SESUATU PUN YANG SERUPA DENGAN-KU

- HR Bukhari no 2954, 4592, 4593 | Fathul Bari no 3193, 4874, 4975, Nasa’i no 2051 | no 2078 dan Ahmad no 7873, 8256 Lafazh dan sanad di atas milik Bukhari no 4593 | Fathul Bari no 4975

Hal itu, sudah cukup alasan bagi Allah Azza Wa Jalla untuk menurunkan azab-Nya yang keras secara merata di tengah manusia karena kemungkaran caci maki, hinaan dan celaan kafir Kristen kepada Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Suci dan Maha Agung, dan ketika azab-Nya diturunkan secara merata, maka itu akan mengenai siapa saja yang didalamnya, meski orang yang beriman sekalipun

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman : telah mengabarkan kepada kami Abdullah : telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri : telah mengabarkan kepada kami Hamzah bin Abdullah bin Umar, ia mendengar Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Jika Allah menurunkan adzab, maka adzab itu akan mengenai siapa saja yang berada ditengah-tengah mereka, lantas mereka dihisab sesuai amalan mereka"

- HR Bukhari no 6575 | Fathul Bari no 7108 dan Ahmad no 4743, 5624, 5930

Telah menceritakan kepada kami Husain dia berkata : telah menceritakan kepada kami Khalaf, yaitu ibnu Khalifah dari Laits dari Al Qomah bin Martad dari Al Ma'rur bin Suwaid dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, isteri Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, berkata : saya telah mendengar Rasulullah shalallahu'alahi wa salam bersabda

"Apabila kemaksiatan (kejahatan/keburukan) telah tampak merajalela pada umatku, maka Allah akan mengirim adzab dari sisi-Nya secara umum (merata)"

Saya bertanya : "WAHAI RASULULLAH ! BAGAIMANA BILA PADA HARI ITU TERDAPAT ORANG-ORANG SHALIH?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : "Benar" Ia berkata, : "Apa yang diperbuat oleh mereka" Beliau bersabda,

"MEREKA AKAN IKUT TERTIMPA SEBAGAIMANA ORANG LAINNYA TERTIMPA Kemudian mereka akan kembali kepada ampunan dan keridhaan dari Allah"

- HR Ahmad no 25382 Ash-Shahihah no 1372 dan no 3156 dari jalur Aisyah radhiyallahu 'anha

Dan agar tidak didatangkan azab-Nya yang keras secara merata, maka kita yang hidup di tengah mereka berbuat kemungkaran adalah memperbanyak bertaubat dan istighfar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ  (33)

Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada diantara mereka Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan” (QS Al Anfal [8] : 33)

Maka perbanyaklah bertaubat dan istighfar di bulan Desember ini

Dan ini juga menjadi hujjah bagi orang Liberal, munafik dan orang-orang awam yang mengikuti mereka kalau bolehnya mengucapkan selamat Natal kepada mereka

Mengucapkan selamat Natal kepada mereka, sama halnya kalian ridha bahwa Rabb semesta alam, Allah Azza Wa Jalla, yang menciptakan kalian itu dicela, dicacimaki dan dihina oleh kafir Kristen Orang yang masih memiliki keimanan meskipun sedikit tidak akan ridha jika Allah Azza Wa Jalla dicela, dihina dan dicacimaki


https://mfacebookcom/storyphp?story_fbid=pfbid02CMAAuhRNnz4dXZFydbfsF9BGxvGtSXPdvVoDXHqiGdT3tUyrs5v7V4iqqRmicGG7l&id=100081182600047

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Monday, October 24, 2022

Apa Hukum Melayat Orang Kafir?

Apa Hukum Melayat Orang Kafir?
Bismillah...

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, Barakallahu fikum ustadz,

Ana mohon penjelasan bagaimana cara kita bermuamalah dengan tetangga orang kristen/kafir misalkan pada saat:

- Mereka meninggal, apakah kita boleh takziyah, dan jika boleh apa yang harus kita ucapkan?

- Mereka mengundang untuk acara pernikahan keluarga mereka apakah kita boleh memenuhi undangannya?

- Mempunyai/melahirkan anak, apakah kita 

boleh memberikan selamat?

Jazaakallah khoiron

✅ Jawab: 

Wa’alaikumsalam. Wa fiika barakallahu.

Islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik dan bermuamalah yang baik kepada orang-orang kafir selama mereka tidak memerangi kita dan tidak mengusir kita dari negeri kita.

Allah ta’ala berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.الممتحنة:8

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. 60:8)

Berkata Syeikh Abdurrahman As-Sa’dy:

لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة

Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan , berbuat adil kepada orang-orang musyrik, dari keluarga kalian dan yang lain selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” (Tafsir As-Sa’dy hal 856-857)

Namun disana ada aturan-aturan yang harus kita perhatikan dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir. 

Diantaranya kita tidak diperbolehkan mengorbankan agama untuk mencari ridha mereka.

Syeikh Sulaiman Ar-Ruhaily dalam sebagian ceramah beliau menyebutkan bahwa untuk menjaga keseimbangan supaya perbuatan baik kita tidak berujung kepada loyalitas kepada mereka maka setiap kita berbuat baik kepada mereka (orang kafir), harus senantiasa kita ingat bahwa mereka adalah orang-orang kafir, musuh-musuh Allah ta’ala, yang kalau suatu saat mereka menguasai kita mereka akan berusaha membinasakan kita (Kaset Al-Wala wal Bara, yang beliau sampaikan di masjid Quba, Al-Madinah)

🔲 1. Pertama:

Para ulama telah berselisih pendapat tentang hukum ta’ziyah muslim terhadap orang kafir, ada yang mengatakan boleh secara mutlak, dan ada yang mengatakan haram. 

Dan yang kuat wallahu a’lamu: ta’ziyah ahlul kitab adalah boleh dengan syarat-syarat, diantara syarat-syarat tersebut:

- Mereka (orang kafir) tersebut tidak menganggap bahwa ta’ziyah yang kita lakukan adalah penghormatan untuk mereka (Fatawa Syeikh Muhammad Al-utsaimin 2/304 )

- Didalamnya ada mashlahat, seperti mengharapkan keislaman keluarganya atau menghindari gangguan mereka terhadap dirinya atau kaum muslimin (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 9/132 )

- Tidak mengikuti upacara keagamaan mereka atau mendengarkan ceramah mereka, karena Allah berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ.الأنعام:68

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (maka larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang. orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Qs. 6:68)

Tidak ada dalil khusus tentang apa yang kita ucapkan ketika berta’ziyah kepada orang kafir, yang penting ucapan yang tidak ada larangan syar’i seperti mendoakan rahmat dan ampunan untuk orang kafir.

Allah berfirman:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ.التوبة:113

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.” (Qs. 9:113)

Sebagian ulama menyebutkan bahwa diantara doa yang bisa kita ucapkan ketika berta’ziyah kepada orang kafir adalah:

أخلف الله عليك ولا نقص عددك

“Semoga Allah menggantinya untukmu dan tidak mengurangi jumlahmu (yaitu supaya tetap banyak jizyahnya).” (Lihat Al-Majmu’, Imam An-Nawawy 5/275, dan Al-Mughny, Ibnu Qudamah 2/487)

🔲 2. Kedua:

Diperbolehkan memenuhi undangan makan orang kafir selama untuk menarik hatinya kepada islam. 

Namun kalau ditakutkan justru kita yang terpengaruh atau justru nanti kita merasa berhutang jasa maka tidak diperbolehkan.

Rasulullah dahulu pernah menerima undangan seorang yahudi sebagaimana dalam hadist Anas:

عن أنس : أن يهوديا دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى خبز شعير وأهالة سنخة فأجابه

Dari Anas bahwasanya seorang yahudi mengundang Nabi shalallallahu alaihi wa sallam untuk makan roti dan ahalah (sejenis lauk) yang berubah baunya, maka beliau menerima undangan tersebut. (HR. Ahmad 3/270, berkata Syu’aib Al-Arnauth: Isnadnya shahih atas syarat Muslim)

Adapun memenuhi undangan pernikahan maka sebagian ulama memandang tidak diperbolehkan karena acara pernikahan orang kafir tidak terlepas dari perkara-perkara yang haram seperti: ikhtilath (campur laki-laki perempuan), musik, minuman keras, dihidangkannya makanan haram (daging babi, anjing dll)

🔲 3. Ketiga:

Mengucapkan selamat pada acara-acara yang bukan syiar agama mereka (seperti pernikahan, kelahiran, kedatangan) maka diperbolehkan tapi harus menghindari ucapan-ucapan yang menunjukkan keridhaan kita dengan agamanya, seperti: 

Semoga Allah membahagiakanmu dengan agamamu dll.

Diantara ucapan yang diperbolehkan: Semoga Allah memuliakanmu dengan keislaman. (Lihat Ahkamu Ahli Adz-Dzimmah, Ibnul Qayyim 3/441)

Wallahu a’lam.


Ustadz Abdullah Roy, Lc.

------------------------------

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Gabung dalam WAGroup Kajian ISLAMADINA ▶️ Click  https://chat.whatsapp.com/FMoCjNYpVRnEl81yyKtjMl

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, October 9, 2022

Diantara Dua Sebab Diadakannya Acara Maulid Nabi

Diantara Dua Sebab Diadakannya Acara Maulid Nabi
Bismillah...

Dimunculkan dan disemarakkannya perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, diantara penyebabnya ada dua hal. Karena kecintaan yang berlebih kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyaingi orang Nasrani yang merayakan kelahiran Yesus. 

Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah, 

سببها إما محبة الرسول عليه الصلاة والسلام

فظنوا أن هذا من مقتضى المحبة

"Sebabnya karena kecintaan yang berlebihan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga mereka mengira bahwa perayaan Maulid (Natal) Nabi adalah bukti rasa cinta.

وإما مضاهاة للنصارى ؛ لأن النصارى يقيمون عيداً

لمولد المسيح عليه الصلاة والسلام ..

Persaingan dengan Kristen. Karena orang kristen mereka merayakan Natal (Maulid) kelahiran Isa bin Maryam alaihimassalam". (Iqtidha' ash-Shirat al-Mustaqim). 

Sumber : https://al-maktaba.org/book/7687/5836 

Sebab PERTAMA, karena cinta yang berlebihan kepada Rasulullah.

Padahal salah satu bukti cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan SUNNAHNYA. Bukan membuat perkara baru di dalam agama. Bukan melakukan inovasi dan kreasi dalam urusan amal ibadah. Bukan mengamalkan berbagai bid'ah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

.. وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

"...Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga". (Riwayat Tirmidzi. Berkata Tirmidzi : Hadits Hasan Ghorib. Berkata Imam Syatibi : Hadits Hasan). 

Rasulullah melarang bersikap ghuluw (berlebihan)

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ، فَإِنَّمَـا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِيْ الدِّيْنِ

...Dan jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama.’

(Ahmad (I/215, 347); An-Nasâi (V/268); Ibnu Mâjah (no. 3029); Ibnu Khuzaimah (no. 2867); Ibnu Hibbân (no. 3860-at-Ta’lîqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibbân) dan (no. 1011-Mawâriduzh Zham‘âan ila Zawâidi Ibni Hibbân); Ibnul Jârûd (no. 473); Al-Hâkim (I/466), ia menshahihkannya sesuai dengan syarat al-Bukhâri dan Muslim dan adz-Dzahabi menyepakatinya; Al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (V/Sunanul Kubra Muslim dan adz-Dzahabi menyepakatinya, 127).

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تُـطْـرُوْنِـيْ كَمَـا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَـرْيَمَ، فَإِنَّمَـا أَنَـا عَبْدُهُ، فَـقُوْلُوْا عَبْـدُ اللّـهِ وَرَسُوْلُـهُ

"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘‘Abdullâh wa Rasûluhu (hamba Allâh dan Rasul-Nya).’" (HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtashar asy-Syamaa-il al-Muhammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Shahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu)

‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penguasa) kami!” Spontan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

Sayyid (penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!

Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Serta merta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ.

Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan.” [HR. Abu Dawud (no 4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no 211/ Shahiihul Adabil Mufrad no 155), an-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rawi-rawi-nya shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul Baari V/179)]

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku diatas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.” [HR. Ahmad (III/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.]

Sebab KEDUA, meniru orang Nasrani.

Di dalam syariat islam, haram hukumnya tasabbuh, menyerupai orang-orang diluar islam. Meniru ahlul kitab dan orang-orang musyrik. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud).

Dan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani". (HR Tirmidzi).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وذِرَاعاً بِذِرَاعٍ, حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ, الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ» ؟ . رواه البخاري

“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (kebiasaan) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka masuk ke lubang ‘Dlobb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak), niscaya kalian akan memasukinya pula”. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)”. (HR. Bukhari). 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid026gqoSJzVpmzjvZjUAvqokwQCgsK5XrGJLqvF5Ke86aGzMq2ZLfGUZkgUafYrU8DBl&id=100009878282155

AFM

https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2022/10/diantara-sebab-diadakannya-acara-maulid.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, September 29, 2022

Sunnatullah, Ahlul Bid'ah Akan Mengikuti Jejak Orang Kafir

Sunnatullah, Ahlul Bid'ah Akan Mengikuti Jejak Orang Kafir
Bismillah...

🌴🌴🌴

Nasharo merayakan kenaikan isa almasih

Ahlul bid'ah merayakan kenaikan rosululloh (isra' mi'raj)

🌴🌴🌴

Nasharo merayakan tahun baru masehi

Ahlul bid'ah ikut2an merayakannya tahun baru hijriyah keliling kampung

🌴🌴🌴

Nasaro merayakan kelahiran Isa Almasih (Natal)

Ahlul bid'ah merayakan kelahiran nabi Muhammad (Maulid)

🌴🌴🌴

Yang merayakan kenaikan Isa, Isra' Mi'raj, tahun baru Masehi & Hijriyah, Natal dan Maulid beralasan cinta Nabi namun ibadah ritualnya tak pernah diajarkan Nabi Isa & hawariyyin maupun Nabi Muhammad & para sahabatnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” 

Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” 

Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” 

Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” 

Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669)


https://www.facebook.com/100077090290340/posts/pfbid0JBTPTKqaGidtSqwTFzLKCCWPE8fcbBZLhzAUBxwSntjbpBorZKYsi4Z5UDkgzfsql/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, September 12, 2022

Pesta Duka di Hari Asyura #2

Pesta Duka di Hari Asyura
Bismillah...

Lanjutan dari Pesta Duka di Hari Asyura #1...

SESATNYA PESTA DUKA DI HARI ‘ASYURA

Kekeliruan dan kesesatan acara pesta duka tidak sulit untuk dilacak. Sebab terdapat banyak pelanggaran terhadap ajaran Islam. Berikut ini keterangannya :

1️⃣ Ibnu Katsîr رحمه الله berkata,“Setiap muslim akan merasa sedih atas terbunuhnya Husain رضي الله عنهما. Sesungguhnya dia adalah salah seorang dari generasi terkemuka kaum muslimin, juga salah seorang ulama di kalangan para Sahabat, dan anak dari putri kesayangan Rasulullah ﷺ. Ia adalah seorang ahli ibadah, seorang pemberani dan pemurah..

Tentang apa yang dilakukan Syiah (di hari ‘Asyura) seperti bersedih-sedih dan berkeluh-kesah merupakan tindakan tidak pantas. Boleh jadi, itu mereka lakukan adalah karena pura-pura dan riya. Sesungguhnya ayah Husain (‘Ali bin Abi Thâlib رضي الله عنهما) jauh lebih afdhal (utama) darinya. Beliau juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Akan tetapi, mereka tidak menjadikan hari kematiannya sebagai hari berkabung layaknya hari kematian Husain رضي الله عنهما  (yang diperingati). ‘Ali bin Abi Thâlib رضي الله عنه terbunuh pada hari Jum’at saat keluar rumah mau melaksanakan shalat Subuh, pada tanggal tujuh belas Ramadhan, tahun 40 H..

Demikian juga ‘Utsmân رضي الله عنه beliau lebih mulia dari ‘Ali رضي الله عنه dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau dibunuh saat terjadi pengepungan terhadap rumahnya, pada hari tasyriîq di bulan Dzulhijjah, tahun 36 H. Beliau disembelih dari urat nadi ke urat nadi. Tidak pernah ada orang berduka di hari kematiannya..

Demikian pula halnya ‘Umar bin Khaththâb رضي الله عنه. Beliau lebih afdhal dari ‘Utsmân dan ‘Ali رضي الله عنهما. Terbunuh di mihrab saat shalat Subuh saat sedang membaca al-Qur’ân. Namun, tidak ada orang yang menjadikan hari kematiannya sebagai hari berduka..

Dan demikian juga Abu Bakar ash-Shiddîq رضي الله عنه. Beliau lebih afdhal dari ‘Umar رضي الله عنه. Akan tetapi, tidak pernah hari kematiannya dijadikan sebagai hari berkabung..

(Terakhir), Allah عز وجل telah memanggil Rasulullah ﷺ, penghulu anak Adam di dunia dan akhirat, sama seperti para nabi sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun menjadikan hari wafat beliau sebagai hari bela sungkawa, atau melakukan perbuatan orang-orang dari sekte Syiah pada hari kematian Husain. Tidak seorang pun menyebutkan bahwa terjadi sesuatu sebelum atau sesudah hari kematian mereka, seperti apa yang disebutkan Syiah pada hari kematian Husain. Seperti terjadinya gerhana matahari, adanya cahaya merah di langit dan lain-lain”.

[al-Bidâyah wan Nihâyah (8/208)]

2️⃣ Syaikh Fâdhil ar-Rûmi رحمه الله, seorang ulama Dinasti Utsmaniyah mendudukkan kesalahan Syiah dalam masalah ini, “Adapun menjadikan tanggal sepuluh Muharram sebagai hari berduka karena terbunuhnya Husain bin Ali رضي الله عنهما yang dilakukan kaum Syiah, hal itu adalah perbuatan orang-orang sesat sewaktu di dunia. Tetapi, mereka mengira telah melakukan sesuatu yang amat baik. Padahal, Allah عز وجل dan Rasul ﷺ saja tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari musibah para nabi atau hari kematian mereka sebagai hari berduka. Apalagi terhadap hari kematian orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka…"

[Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37]

Pada kesempatan lain beliau menyatakan, “Diantara bentuk bid’ah yang dilakukan sebagian manusia pada hari ‘Asyura adalah menjadikan hari tersebut sebagai hari berduka. Mereka meratap dan bersedih serta menyiksa diri pada hari tersebut. Disamping itu, mereka mencaci para Sahabat Rasululullah ﷺ yang telah meninggal, berdusta atas nama keluarga Nabi ﷺ, dan melakukan berbagai kemungkaran lainnya yang dilarang dalam al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah ﷺ serta kesepakatan kaum Muslimin..

Sesungguhnya, Husain رضي الله عنهما telah dimuliakan Allah عز وجل dengan menjadikannya sebagai orang yang mati syahid pada hari tersebut. Dia dan saudaranya Hasan رضي الله عنهما adalah dua pemuda penghuni Jannah. Sekalipun terbunuhnya dua orang bersaudara tersebut merupakan musibah besar, akan tetapi Allah عز وجل mensyariatkan bagi kaum muslimin ketika mengalami musibah untuk mengucapkan kalimat istirjâ’ (innâ lillâh wa innâ ilaihi raji’ûn)".

[Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37]

Kalimat istirjâ’ merupakah salah satu anugerah yang hanya diberikan kepada umat Islam. Sa’id bin Jubair رضي الله عنه berkata,

لَمْ يُعطَ الْاسْتِرْجَاعُ لِأُمَّةٍ مِنَ الْأُمَمِ إِلاَّّ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَلَوْ أعْطِيَ لِأَحَدٍ لَأُعْطِيَ يَعْقُوْبُ النبيّ أَلا تَرَى أَنَّهُ قَالَ فِيْ مَقَامِ الْاستِرْجَاعِ: يَا أَسَفَى عَلَى يُوْسُفَ

Kalimat istirjâ’ tidak diberikan bagi umat-umat lain kecuali untuk umat ini (umat Nabi Muhammad ﷺ). Jika seseorang diberi (sebelumnya) tentu akan diberikan kepada Nabi Ya’qub عليه سلم. Tidakkah anda perhatikan beliau mengucapkan sebagai ganti kalimat istirjâ’ 'aduhai, betapa sedihnya kehilangan Yusuf '."

[Diriwayatkan Imam ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya 13/39]

Dalam hadits, Rasulullah ﷺ telah menyampaikan kalimat istirjâ’. Beliau ﷺ bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, maka ia ucapkan ‘innâ lillâh wa innâ ilaihi raji’ûn’, (dan berdo'a) ya Allah beri aku pahala atas musibah yang menimpaku, gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya, melainkan Allah akan memberinya pahala untuknya atas musibah itu dan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik dari yang ia alami”.

[HR. Muslim 2/632 no. 918]

3️⃣ Adapun melakukan sesuatu yang dilarang Nabi ﷺ pada hari peringatan musibah setelah berlalu dalam masa yang cukup lama, perbuatan ini dosanya akan lebih besar lagi. Apalagi, jika disertai dengan memukul-mukul muka, merobek-robek baju, berteriak-teriak yang merupakan kebiasaan bangsa Jahiliyyah, melaknat dan mencaci orang-orang Mukmin (para Sahabat Nabi رضي الله عنهم), serta membantu orang-orang zindiq untuk merusak Islam.

[Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37]

Rasulullah ﷺ telah menerangkan hukum menyiksa diri atas peristiwa musibah yang menimpa seseorang dalam hadits berikut ini,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul muka, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah”.

[HR. al-Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda,

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ : الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ. وَقَالَ : النَّائِحَةُ إذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطْرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Ada empat perkara yang termasuk perkara jahiliyah terdapat di tengah umatku; berbangga dengan kesukuan, mencela keturunan (orang lain), meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayat”.

Kemudian beliau ﷺ menambahkan,

Wanita yang meratapi mayat apabila tidak bertaubat sebelum meninggal, ia akan dibangkit pada hari kiamat dengan memakai mantel dari tembaga panas dan jaket dari penyakit kusta”.

[HR. Muslim]

Abu Musa al-Asy ‘ari رضي الله عنه berkata,

أَنَا بَرِيءٌ مِمَّا بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِيءٌ مِنْ الْحَالِقَةِ , وَالصَّالِقَةِ , وَالشَّاقَّةِ

Aku berlepas diri dari orang-orang yang Rasulullah berlepas diri dari mereka. Sesungguhnya Rasulullah berlepas diri dari wanita yang mencukur rambutnya, wanita yang berteriak-teriak dan wanita yang merobek-robek baju (saat ditimpa musibah)”.

(HR. al-Bukhâri dan Muslim)

4️⃣ Pelanggaran lain dalam bentuk mencela para Sahabat Rasulullah ﷺ. Banyak sekali ayat maupun hadits yang menerangkan keutaman Sahabat. Dan sebaliknya juga terdapat nash-nash yang mengharamkan melaknat dan mencaci para Sahabat. Secara khusus, Rasulullah ﷺ telah melarang dengan tegas umatnya mencela para Sahabat رضي الله عنهم,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Jangan kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan sampai (nilainya) segenggam (pahalanya) salah seorang mereka dan tidak pula separohnya”.

[HR. al-Bukhari dan Muslim]

Maka, berdasarkan hadits ini, seorang mukmin wajib memuliakan mereka dan menyebut mereka dengan kebaikan serta menahan lisan dari mencela mereka..

Peristiwa terbunuhnya ‘Utsmân dan Husain رضي الله عنها menyebabkan terjadinya fitnah yang besar dan tersebarnya kedustaan yang banyak. Akibatnya, muncul berbagai bentuk kesesatan dan bid’ah-bid’ah, menjerumuskan sebagian generasi umat ini sejak dulu sampai sekarang. Beragam kedustaan dan kesesatan serta bid’ah-bid’ah semakin hari semakin bertambah dan berkembang. Dan telah menimbulkan berbagai akibat-akibat yang tidak mungkin kita urai dalam bahasan singkat ini.

[Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37]

Imam al-Ghazâli رحمه الله dan ulama lainnya berkata, “Diharamkan para penceramah untuk meriwayatkan kisah terbunuhnya Husain رضي الله عنهما, juga tentang hal-hal yang terjadi antara sesama para Sahabat dalam perselisihan dan pertikaian mereka. Karena, hal itu dapat memotivasi orang untuk membenci para Sahabat رضي الله عنهم dan mencela mereka. Mereka adalah teladan umat, dimana para ulama mendapatkan ilmu melalui mereka. Kemudian ilmu tersebut sampai kepada kita melalui para ulama yang mengambil ilmu dari mereka. Maka, orang yang mencela mereka adalah orang yang mencela diri dan agamanya”.

Ibnu Shalâh dan Imam Nawawi رحمه الله, “Para Sahabat seluruhnya adalah adil (terpercaya). Saat wafatnya Rasulullah ﷺ, jumlah Sahabat mencapai seratus empat belas ribu (114.000) orang. Al-Qurân dan Hadits telah menyatakan akan keadilan (ketakwaan) dan kemuliaan mereka. Dan segala sesuatu yang terjadi di antara mereka, terdapat pertimbang-pertimbangan (yang membuat mereka tidak dihukumi telah berbuat kesalahan murni) yang tidak mungkin kita sebutkan satu-persatu dalam tulisan singkat ini"

[Lihat “Ash shawa’iq Al Muhriqoh” Al Haitamy: 2/640]

Imam asy-Syafi’i رحمه الله, “Itu adalah peristiwa pertumpahan darah yang Allah menghindarkan tangan-tangan kita darinya. Maka hendaklah kita mensucikan lidah kita dari membicarakannya”.

Semoga Allah عز وجل melindungi kita dari berbagai bentuk kesesatan dan kebathilan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 085290093792, 08122589079]


✒️Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra MA حغظه الله تعالى

🌐 https://almanhaj.or.id/2607-pesta-duka-di-hari-asyura.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, September 8, 2022

Pesta Duka di Hari Asyura #1

Pesta Duka di Hari Asyura
Bismillah...

Hari ‘Asyura, orang-orang Syiah meyakininya sebagai hari sial yang membawa celaka. Sejak awal bulan Muharram (bahkan selama sebulan penuh) mereka tidak melakukan hal-hal penting di rumah, seperti tidak bepergian, tidak melakukan pernikahan, tidak berhias, tidak memakai pakaian yang bagus, tidak memakan makanan yang enak dan lain-lain. Anak yang lahir di bulan Muharram mereka yakini bernasib sial..

Secara khusus, pada hari ‘Asyura, mereka melakukan ritual yang amat mengerikan dengan menyiksa diri dengan benda-benda keras dan tajam. Semangat untuk menyakiti dan melukai tubuh sendiri akan kian terlucut dengan rangsangan sya’ir-sya’ir kisah terbunuhnya Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu di padang Karbala yang diperdengarkan, karya tokoh-tokoh Syi’ah. Kisah tersebut dibumbui dengan berbagai kebohongan serta cacian terhadap para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

Jika para pembaca kurang yakin silakan saksikan apa yang sedang berlangsung di padang Karbala pada hari Asyura. Mereka berdatangan dari berbagai negara, dengan berpakaian serba putih. Sambil bergoyang pelan, mereka melantunkan kata ‘haidar’, ‘haidar’. Selanjutnya, sebilah pedang mereka ayun-ayunkan ke salah satu bagian tubuh secara perlahan, sehingga tubuh mereka bersimbah darah. Perayaan duka di Karbala ini lebih dikenal di kalangan Syiah dengan sebutan ritual al-Husainiyyah.[1]

Penyiksaan diri pada hari ‘Asyura tersebut tidak hanya dilakukan di bumi Karbala saja, tetapi juga dilakukan oleh kelompok Syiah di berbagai tempat lain. Menurut mereka, kegiatan penyiksaan diri pada sepuluh Muharram itu memiliki nilai ibadah yang tinggi, sebagaimana diungkapkan oleh imam-imam mereka.

UNGKAPAN PARA TOKOH SYIAH TENTANG HUKUM DAN KEUTAMAAN PESTA DUKA DI HARI ‘ASYURA

Salah seorang dari tokoh Syiah telah menulis buku khusus tentang ritual pada hari ‘Asyura di Karbala dengan judul al-Mâjalis al-Fâkhirah Fi Ma’âtimil ‘Ithrahi ath-Thâhirah[2] atau menurut penulis, kitab tersebut berjudul Manâsik al-Husainiyyah.

Salah seorang tokoh mereka menyebutkan, bahwa ritual penyiksaan diri pada hari ‘Asyura di Karbala dimulai pada abad IV Hijriah pada masa dinasti al-Buwaihi. Kemudian berlanjut pada masa dinasti al-Fathimiyah. Acara tersebut sekarang ini diselenggarakan di negara-negara berpenduduk mayoritas orang-orang Syiah. Seperti Irak, Iran, India, Siria, dll. (Lihat Man Qatalal Husain, hal: 56)

Ad-Dimastâni, ulama Syiah yang lain menegaskan, “Meratapi kematian Husain dengan berteriak-teriak hukumnya wajib ‘aini (wajib atas setiap pribadi)” (Lihat Man Qatalal Husain, hal: 65)

Ayatullah al-‘Uzhma syaikh Muhammad Husain an-Nâti berkata, “Tidak ada masalah tentang hukum bolehnya memukul pipi dan dada dengan tangan sampai merah dan menghitam. Dan lebih ditekankan lagi, memukul pundak dan punggung dengan rantai sampai kulit kemerahan dan gosong. Bahkan lebih ditekankan lagi jika hal itu menyebabkan keluarnya darah. Begitu pula mengeluarkan darah dari kening dan puncak kepala dengan pedang.” (Lihat Man Qatalal Husain, hal: 66)

Setelah kita menyimak berbagai ungkapan tokoh-tokoh Syiah Rofidhoh di atas dapat kita ketahui bahwa apa yang dinisbahkan kepada mereka itu benar. Dan bukanlah sebuah isu yang dibuat-buat..

Bila ungkapan-ungkapan tersebut kita sorot dengan cahaya al-Qur’ân dan petunjuk Sunnah serta keyakinan para ulama Salaf, niscaya akan dijumpai jurang pemisah yang sangat dalam antara keyakinan orang-orang Syiah dengan keyakinan kaum Muslimin..


♻️ Bersambung ke Pesta Duka di Hari Asyura #2...  إن شآء الله


✒️Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra MA حغظه الله تعالى

https://almanhaj.or.id/2607-pesta-duka-di-hari-asyura.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive