Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Wednesday, January 30, 2019

Makna Khawarij Anjing Neraka?

Makna Khawarij Anjing Neraka?
Apa makna khawarij anjingnya neraka? Apakah mereka akan berubah jd anjing d neraka kelak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Khawarij termasuk salah satu sekte menyimpang pertama yang muncul dalam islam.

Syaikhul Islam mengatakan,

أَوَّلُ بِدْعَةٍ حَدَثَتْ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةُ الْخَوَارِجِ وَالشِّيعَةِ ، حَدَثَتَا فِي أَثْنَاءِ خِلَافَةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَعَاقَبَ الطَّائِفَتَيْنِ

Bid’ah pertama yang terjadi pada islam adalah bid’ah Khawarij dan Syiah. Keduanya terjadi di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Dan beliau menghukum keduanya. (Majmu’ Fatawa, 3/279).

Ulama berbeda pendapat mengenai status khawarij, apakah mereka muslim ataukah telah keluar dari islam.

Hampir semua ulama, termasuk para sahabat, mereka menilai khawarij masih muslim dan tidak keluar dari islam.

Bahkan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, khalifah pertama yang dimusuhi khawarij, tidak menganggap bahwa khawarij telah keluar dari islam.

Hanya saja, khawarij sekte menyimpang yang banyak diperingatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ

Khawarij adalah anjing-anjingnya neraka. (HR. Ahmad 19415, Ibn Majah 173 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apa makna khawarij anjingnya neraka?

Ada 2 kemungkinan makna yang disampaikan para ulama,
  1. Mereka akan dijadikan Allah dalam bentuk anjing ketika di neraka
  2. Mereka memiliki karakter sebagaimana anjing, yang dihinakan ketika di neraka.
Ali al-Qari menjelaskan,

أَيْ هُمْ كِلَابُ أَهْلِهَا، أَوْ عَلَى صُورَةِ كِلَابٍ فِيهَا

Artinya, mereka akan menjadi anjing penduduk neraka, atau mereka akan menjadi makhluk seperti anjing di neraka. (Mirqah al-Mafatih, 6/2323)

Kemudian, ada juga keterangan al-Munawi,

أي أنهم يتعاوون فيها عواء الكلاب ، أو أنهم أخس أهلها ، وأحقرهم ، كما أن الكلاب أخس الحيوانات وأحقرها

Maksudnya, mereka akan melolong seperti lolongan anjing, atau mereka menjadi penduduk neraka yang paling hina, sebagaimana anjing menjadi binatang yang paling rendah. (Faidhul qadir, 1/528).

Demikian, Allahu a’lam.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apakah ada Neraka Wail?

Apakah ada Neraka Wail?
Apa arti kata wail? Benarkah itu nama neraka?

Dari Anto

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita akan simak keterangan Ibnul Jauzi tentang kata wail, dalam tafsirnya Zadul Masir.

Ada sebagian yang menjelaskan, secara bahasa, kata wail aslinya terbentuk dari kalimat wai li fulan [وي لفلان] artinya, kesedihan bagi fulan. Karena banyaknya penggunaan, akhirnya huruf lam menjadi tersambung dan jadi satu kata wail [ويل].

Sementara arti dari sisi bahasa, para ulama lughah berbeda pendapat,
  1. Arti wail adalah adzab dan kebinasaan
  2. Wail artinya siksaan yang sangat berat. Ini pendapat Ibnul Anbari
  3. ail adalah kata yang digunakan orang arab untuk menyebut orang yang terjerumus ke dalam kebinasaan. Ini pendapat az-Zajjaj.
Ibnul Jauzi menyebutkan riwayat dari Abu Said al-Khudri bahwa Wail adalah jurang di neraka, di mana orang kafir yang memasukinya selama 40 tahun, belum sampai ujung dasarnya. (Zadul Masir, 1/89)

Kata Wail dalam al-Quran

Dalam al-Quran ada banyak surat yang diawali dengan kata wail. Dan kata ini adalah kata ancaman. Ada yang mengatakan, makna kata wail adalah salah satu jurang neraka, dan ada yang mengatakan, itu kata ancaman..

Dan cukup itu disebut menakutkan, ketika ancaman itu datang dari rabbul alamin.

Ancaman dengan kata ini dalam al-Quran, Allah sebutkan sebanyak 14 kali. Dua diantaranya, Allah sebutkan terkait masalah harta.

🔘 Pertama, tentang orang yang memiliki sifat tathfif. Semangat mengambil hak, dan malas menunaikan kewajiban.

Allah berfirman,

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ . الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ . وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi ( ) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi… (QS. al-Muthaffifin: 1 – 3)

🔘 Kedua, di surat al-Humazah. Allah sebutkan karakter humazah lumazah, adalah mereka yang suka menumpuk harta.

Allah berfirman,

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ . الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ .يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. (QS. al-Humazah: 1 – 3)

Demikian keterangan Dr. Uwaidh bin Hamud al-Athawi, Pengajar ilmu Balaghah di Universitas Tabuk.

Allahu a’lam.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Bahaya Mengingkari Takdir

Bahaya Mengingkari Takdir
Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Iman kepada qadar (takdir) termasuk rukun iman ke enam. Barangsiapa tidak beriman kepada qadar, maka imannya rusak, amalannya tertolak dan diancam dengan neraka di akhirat kelak.

MAKNA takdir (QADAR)

Qadar secara bahasa artinya: takdîr (penentuan). Sedangkan qadha’ secara bahasa artinya: hukum (keputusan). Qadha’ dan qadar adalah dua istilah, jika keduanya berpisah, maka maknanya sama, dan jika berkumpul, maknanya berbeda. Yaitu jika disebut qadar Allâh, maka semakna dengan qadha’ Allâh, begitu pula sebaliknya. Dan jika disebut bersama-sama, maka masing-masing memiliki makna yang berbeda, yaitu:

Qadar adalah: apa yang telah Allâh Azza wa Jalla tentukan semenjak dahulu akan terjadi pada makhluk-Nya.

Qadha’ adalah: apa yang Allâh Azza wa Jalla putuskan pada makhluk-Nya, yang berupa mewujudkan, meniadakan, atau merubah. Sehingga qadar mendahului qadha’. [Syarh Aqîdah Wâsithiyyah, hlm: 442, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah , penerbit: Dar Ibnil Haitsam]

Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah berkata, “Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sesuai petunjuk al-Kitab dan as-Sunnah, yaitu bahwa Allâh itu Pencipta segala sesuatu, Penguasanya dan Pemiliknya. Dan apa yang Allâh Azza wa Jalla kehendaki pasti terjadi, sedangkan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Dan bahwa Allâh Azza wa Jalla telah menakdirkan ketetapan seluruh makhluk sebelum menciptakan mereka. Allâh Azza wa Jalla telah mentakdirkan rezeki, ajal, dan amal mereka, serta menulisnya di Lauhil Mahfuzh. Allâh juga telah menulis akhir perjalanan makhluk, yang berupa kebahagiaan dan kecelakaan”. [Hasyiyah Kitab at-Tauhid, hlm. 365]

DALIL AL-QUR’AN

Banyak sekali ayat yang menetapkan qadar, sehingga kita wajib mengimaninya. Antara lain, firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allâh mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allâh. [Al-Hajj/22:70]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla mengetahui segala sesuatu dan juga menunjukkan bahwa Dia telah menulisnya di dalam kitab di sisiNya. Ini termasuk iman kepada takdir.

Juga firman-Nya:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allâh menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. [Az-Zumar/39:62]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allâh Azza wa Jalla menciptakan segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia adalah makhluk yang Allâh ciptakan.

Juga firman-Nya:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ﴿٢٣﴾ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allâh” . [Al-Kahfi/18:23-24]

Ayat ini menunjukkan bahwa segala perbuatan manusia tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

DALIL SUNNAH

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Malaikat Jibril, ketika ditanya tentang iman:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Iman yaitu engkau beriman kepada Allâh, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.” [HR. Al-Bukhâri, no. 50; Muslim, no. 9]

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” قَدَّرَ اللهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّماوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ ”

Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allâh telah mentakdirkan semua takdir sebelum menciptakan langit-langit dan bumi 50 ribu tahun”. [HR. Ahmad, no. 6579; dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth]

EMPAT BAGIAN KEPADA QADAR

Iman kepada qadar mencakup empat perkara. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Firqah Nâjiyah (golongan yang selamat), Ahli Sunnah wal Jama’ah mengimani qadar yang baik dan yang buruk. Iman kepada qadar meliputi dua derajat, setiap satu derajat memuat dua perkara.

Derajat Pertama:
Beriman bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengetahui seluruh makhluk-Nya, semua makhluk berbuat dengan pengetahuan Allâh Azza wa Jalla yang ada semenjak dahulu, yang ilmu Allâh disifati dengan azali (ada semenjak dahulu) dan abadi (terus menerus ada). Dan Dia mengetahui seluruh keadaan hamba, yang berupa ketaatan, kemaksiatan, rezeki dan ajal.

Kemudian Allâh menulis takdir-takdir seluruh makhluk di   Lauhil Mahfuzh…

Derajat Kedua:
Beriman bahwa kehendak Allâh pasti terjadi, dan kekuasaan-Nya bersifat universal. Yaitu  mengimani bahwa apa yang Allâh kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Tidak ada kejadian, baik berupa gerakan atau diam di langit dan di bumi kecuali dengan kehendak Allâh Azza wa Jalla . Tidak akan terjadi di dalam kerajaan-Nya apa yang tidak Dia kehendaki. Juga mengimani bahwa Allâh Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada satu makhluk pun di bumi dan di langit kecuali Allâh adalah penciptanya, tidak ada Pencipta selain-Nya, tidak ada Rabb (Pemilik; pengatur) selain-Nya. Bersamaan dengan itu, Dia memerintahkan para hamba-Nya untuk mentaati-Nya dan mentaati para Rasul-Nya, dan melarang mereka dari berbuat maksiat.

Allâh Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang berbuat ihsan, orang-orang yang berbuat adil, dan meridhai orang-orang yang beriman dan beramal shalih.  Dan Dia tidak mencintai orang-orang kafir dan tidak meridhai orang-orang fasiq. Dia juga tidak memerintahkan kekejian, dan tidak meridhai kekafiran untuk para hamba-Nya. Dan Dia tidak mencintai kerusakan.

Hamba adalah pelaku yang sebenarnya, sedangkan Allâh adalah Pencipta perbuatan-perbuatan mereka. Para hamba itu, ada yang Mukmin dan ada yang kafir, ada yang berbakti dan ada pula yang durhaka, ada yang melakukan shalat dan melakukan puasa. Hamba memiliki kemampuan dan kehendak terhadap perbuatan-perbuatan mereka, sedangkan Allâh adalah Pencipta mereka dan Pencipta kemampuan dan kehendak mereka. Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ﴿٢٨﴾ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allâh, Tuhan semesta alam. [At-Takwîr/81: 28-29]

Derajat (kedua) dari (iman) kepada takdir ini didustakan oleh mayoritas Qadariyyah, kelompok orang-orang yang dinamakan oleh Nabi n sebagai majusinya umat ini.

Ada juga sekelompok orang yang menetapkannya namun bersikap ghuluw (melewati batas) dalam hal ini, sehingga mereka memandang bahwa para hamba itu tidak memiliki kemampuan dan pilihan, dan mereka meniadakan hikmah dan mashlahat dari perbuatan dan hukum Allâh”. [Aqîdah Wâsithiyyah]

ANCAMAN NERAKA BAGI ORANG YANG MENGINGKARI TAKDIR

Diriwayatkan bahwa Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu anhu memberikan wasiat kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَطْعَمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ، وَلَنْ تَبْلُغْ حَقَّ حَقِيقَةِ الْعِلْمِ بِاللهِ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: قُلْتُ: يَا أَبَتَاهُ وَكَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا خَيْرُ الْقَدَرِ مِنْ شَرِّهِ؟ قَالَ: تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ، ثُمَّ قَالَ: اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ” يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ

Wahai anakku! Sungguh kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman, dan tidak akan mencapai kebenaran hakekat ilmu terhadap Allâh, sebelum kamu meyakini takdir yang baik dan yang buruk. Anaknya bertanya, “Wahai bapakku, bagaimana aku mengetahui takdir yang baik dan yang buruk?” Beliau menjawab, “Kamu mengetahui bahwa apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset. Wahai anakku, aku telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allâh adalah pena, kemudian Allâh berfirman kepadanya: “Tulislah!”. Maka terjadilah semenjak saat itu dengan apa yang terjadi sampai hari kiamat. Wahai anakku, jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, kamu pasti masuk  neraka. [HR. Ahmad, no. 22705; Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth]

AMAL TIDAK AKAN DITERIMA SAMPAI MENGIMANI TAKDIR

عَنْ ابْنِ الدَّيْلَمِيِّ، قَالَ: لَقِيتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، إِنَّهُ قَدْ وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ هَذَا الْقَدَرِ، فَحَدِّثْنِي بِشَيْءٍ، لَعَلَّهُ يَذْهَبُ مِنْ قَلْبِي. قَالَ: “لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ، لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ، كَانَتْ رَحْمَتُهُ لَهُمْ خَيْرًا مِنْ أَعْمَالِهِمْ، وَلَوْ أَنْفَقْتَ جَبَلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللهِ، مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ، وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَلَوْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ، لَدَخَلْتَ النَّارَ” قَالَ: فَأَتَيْتُ حُذَيْفَةَ، فَقَالَ لِي مِثْلَ ذَلِكَ، وَأَتَيْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ، فَقَالَ لِي مِثْلَ ذَلِكَ، وَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ، فَحَدَّثَنِي عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ

Dari Ibnu ad-Dailami, dia berkata : “Aku bertemu Ubay bin Kaab, lalu aku berkata: “Wahai Abul Mundzir, Ada sesuatu keraguan dalam hatiku tentang masalah qadar, maka ceritakanlah kepadaku tentang suatu hadits, semoga hal itu hilang dari hatiku”. Maka beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Seandainya Allâh menyiksa penduduk langit dan bumi, maka Allâh menyiksa mereka dengan tidak zhalim kepada mereka. Dan seandainya Allâh merahmati mereka, maka rahmat Allâh kepada mereka lebih baik dari pada amalan mereka. Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung uhud di jalan Allâh, Allâh tidak akan menerimanya darimu, sebelum kamu beriman kepada qadar, dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu. Dan jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, pasti kamu menjadi penghuni  neraka”.

Ibnu ad-Dailami berkata, “Lalu aku mendatangi Hudzaifah, maka beliau berkata kepadaku seperti itu.  Aku mendatangi Ibnu Mas’ud, maka beliau berkata kepadaku seperti itu. Aku juga mendatangi Zaid bin Tsabit, beliau menceritakan kepadaku hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti itu.” [HR. Ahmad, no. 21589; Abu Dawud, no. 4699; Ibnu Majah, no. 77; Ibnu Hibban, no. 727. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth. Juga oleh syaikh Al-Albani di dalam Misykatul Mashâbih, no. 37/115 dan Silsilah Ash-Shahîhah, no. 2439]

Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala selalu melindungi dari segala keburukan dan membimbing di dalam segala kebaikan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XXI/1438H/2017M]

Read more https://almanhaj.or.id/9590-bahaya-mengingkari-takdir.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Jumlah Pintu Neraka dan Namanya

Jumlah Pintu Neraka dan Namanya
Benarkah pintu neraka ada 7, dan nama pintu yg paling dalam adalah jahanam?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Neraka memiliki banyak pintu. dalilnya, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ

Ketika datang ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. (HR. Muslim 2547, Nasai 2109, dan yang lainnya)

Mengenai jumlah pintu neraka, telah Allah sebutkan dalam al-Quran,

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ . لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُوم

Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (QS. al-Hijr: 43 – 44)

Mengenai pintu neraka yang jumlahnya 7, juga disebutkan dalam hadis dari Ibnu Umar,

لِجَهَنَّمَ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ، بَابٌ مِنْهَا لِمَنْ سَلَّ سَيْفَهُ عَلَى أُمَّتِي

Jahannam memiliki 7 pintu. Satu pintu diantaranya diperuntukkan bagi orang yang menghunus pedang untuk umatku (umat islam). (Ahmad 5689, Turmudzi 3414, dan sanadnya didhaifkan Syuaib al-Anauth).

Hadis ini dhaif, meskipun redaksi pertama sesuai dengan makna ayat.

Ada sebagian buku tafsir yang memberikan rincian mengenai nama-nama pintu neraka yang tujuh itu… sayangnya, tidak ada bukti dalil yang mereka sebutkan.

Pintu pertama namanya janannam, kedua Ladza, ketiga Saqar, keempat Huthamah, kelima Jahim, keenam Sa’ir, dan ketujuh pintu Hawiyah.

Istilah-istilah ini memang ada dalam al-Quran. Namun sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama pintu neraka.

Ibnu Athiyah mengatakan,

واخْتَصَرْتُ ما ذَكَر المفسرون في المسافات التي بين الأبواب وفي هواء النار وفي كيفية الحال ، إذ هي أقوال أكثرها لا يستَنِد

Saya tidak menyebutkan keterangan mengenai jarak antar pintu, mengenai panasnya neraka, dan kondisi detailnya neraka, seperti yang umumnya disebutkan para ahli tafsir. Karena keterangan semacam ini umumnya tidak ada sanadnya (tidak berdalil). (al-Muharrar al-Wajiz, 4/131).

Sebagai mukmin, kita hanya wajib mengimani hal ghaib yang ada dalilnya. Karena masalah ghaib, manusia tidak bisa meraba dengan logikanya. Cukup kita imani bahwa neraka memiliki 7 pintu. Mengenai rinciannya, kita serahkan kepada Allah. Hanya Dia yang Maha Tahu.

Allahu a’lam

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Memberi Fatwa Tanpa Berdasarkan Ilmu

Memberi Fatwa Tanpa Berdasarkan Ilmu
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian guru ada yang memberi fatwa kepada murid-muridnya mengenai masalah syari’at tanpa berdasarkan ilmu. Bagaimana hukumnya?

Jawaban

Kami tujukan jawaban ini kepada para peminta dan pemberi fatwa. Untuk para peminta fatwa; Tidak boleh meminta fatwa, baik kepada perempuan maupun laki-laki, kecuali yang diduga berkompeten untuk memberi fatwa, yaitu yang dikenal keilmuannya, karena ini adalah perkara agama, dan agama itu harus dijaga. Jika seseorang ingin bepergian ke suatu negara, hendaknya tidak menanyakan jalannya kepada sembarang orang, tapi mencari orang yang bisa menunjukkan, yaitu yang mengetahuinya. Demikian juga jalan menuju Allah, yaitu syari’atNya, hendaknya tidak meminta fatwa dalam perkara syari’at kecuali kepada orang yang diketahuinya atau diduganya berkompeten untuk memberikan fatwa.

Kemudian untuk para pemberi fatwa ; Tidak boleh memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui”[Al-A’raf/7 : 33]

Allah menyebutkan perbuatan mempersekutukan Allah pada pembicaraan dalam hal ini yang tidak didasari ilmu. Dalam ayat lain disebutkan.

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim “[Al-An’am/6:144]

Dan telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النّاَرِ

Barangsiapa yang berdusta dengan mengatasnamakan diriku, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di neraka”[1]

Maka hendaklah orang yang ditanya tidak begitu saja memberikan jawabannya kecuali berdasarkan ilmu, yaitu mengetahui masalahnya, baik itu dari dirinya sendiri, jika ia memang mampu mengkaji dan menimbang dalil-dalilnya, atau dari orang alim yang dipercayainya. Karena ini adalah perkara agama. Pemberi fatwa itu adalah yang memberi tahu tentang agama Allah dan tentang hukum Allah serta syari’at-syari’atNya, maka hendaknya ia sangat berhati-hati.

-------------------------

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

(Dalilut Thaubah Al-Mu’minah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 38)
Read more https://almanhaj.or.id/10251-memberi-fatwa-tanpa-berdasarkan-ilmu.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Mencari Yang Tidak Bisa Dibawa Mati

Mencari Yang Tidak Bisa Dibawa Mati
Mati-matian mencari yang tidak bisa dibawa mati = Kebahagiaan semu...

Jika ditanya, apa tujuan hidup anda? Tentu semuanya menjawab mencari kebahagiaan dan kesenangan hidup. Mulai dari seorang Ibu yang bahagia dengan kesuksesan mendidik anak, sang bapak yang sukses dengan karir dan jabatan, seorang caleg yang bahagia dengan terpilih, bahkan seorang Wariapun bahagia dengan sekedar nongkrong-nongkrong “eksis”. Akan tetapi apakah yang dirasakan benar-benar kebahagiaan? Apakah kebahagiaan semu saja? Kalau memang bahagia, apakah Kebahagiaan didunia saja? Tidak diakhirat yang kekal.

Kita ambil contoh, misalnya bagaimana seorang artis misalnya artis korea, yang terlihat bahagia dan semua puncak kebahagiaan dunia ditangannya. Terkenal, dihormati, kaya, makanan enak, rumah besar dan fasiltas lengkap, wajah yang rupawan dan pasangan hidup yang menarik. Akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa artis korea atau artis secara umum hidupnya sebenarnya di bahwa tekanan. Harus selalu tampil menarik untuk mencari pujian dan ridha manusia, kehidupan selalu diekspos, kejar tayang, mengejar pekerjaan dan persaingan tidak sehat dan berat di dunia artis. Jadilah pelarian mereka ke narkoba, kawin-cerai dan berbagai skandal kehidupan. Atau yang lebih parah kebahagiaan semu para waria, yang sudah jelas bagi orang yang di hatinya masih ada sedikit nurani, maka mereka tidak setuju dengan mencari kebahagiaan dengan menjadi waria.

Dan perlu kita ingat bahwa Kebahagiaan dunia semu itu menipu dan sering kali melalaikan dari akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” [Luqmaan: 33]


Ustadz Dr. Raehanul bahraen

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Nikmatnya Menghadiri Majelis Ilmu

Nikmatnya Menghadiri Majelis Ilmu
Majelis ilmu adalah tempat mere-charge keimanan kita, setelah terkikis dengan banyaknya fitnah dunia yang kita hadapi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya”. (HR. Muslim nomor 6793)

Dan orang-orang shalih adalah pendukung dan penguat iman kita dengan saling menasehati. Di mana dengan berteman dengan mereka, maka kita akan sering mengingat akherat dan menjadi tegar kembali dalam beragama. sebagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata,

وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة

Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami  mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” (Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Asy-Syamilah)

Tidak sedikit kita mendengar berita:

– Ikhwan yang dulunya semangat mengaji dan menjadi panitia-panitia kajian, kemudian bekerja di perusahaan kota A dengan gaji yang menggiurkan sekarang sudah potong jenggot,  isbal, berpacaran dan seolah-olah menjauh dari ikhwan-ikhwan jika di sms atau ditelpon.

– Akhwat yang dulunya semangat menuntut ilmu, memakai jilbab lebar, memakai cadar bahkan purdah, kemudian melanjutkan studi S2 atau S3 dikota B atau di luar negeri, kemudian terdengar kabar bahwa ia sudah memakai jilbab ala kadar yang kecil “atas mekkah bawah amerikah”.

Terkadang kita tidak percaya dengan berita-berita seperti ini. Bagaimana mungkin dulu ia adalah guru bahasa arab, imam masjid dan jadi rujukan pertanyaan, sekarang menjadi seperti itu. semua ini bisa jadi karena tenggelam dengan kesibukan dunia dan terkikis fitnah secara perlahan-lahan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkannya seperti tikar, beliau bersabda,

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا

Fitnah-fitnah akan mendatangi hati bagaikan anyaman tikar yang tersusun seutas demi seutas”. (HR.Muslim no 144)

Demikian yang dapat kami jabarkan. Dan dampak dari beberapa kesalahan tersebut adalah:
  • Merasakan kesempitan hidup setelah mengenal dakwah ahlus sunnah
  • Dakwah tidak diterima oleh orang lain
  • Merusak nama dakwah salafiyah ahlus sunnah dan memberi kesan negatif
  • Memecah belah persatuan umat Islam
Kemudian marilah kita banyak-banyak berdoa agar diberi istiqomah beragama yang merupakan anugrah terbesar.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” artinya: ‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’ (HR. Tirmidzi no 2066. Ia berkata: “Hadits Hasan”, dishahihkan oleh Adz-Dahabi)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

-------------------------

Penyusun:  Raehanul Bahraen
Editor: Muhammad Abduh Tuasikal

Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive