Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Saturday, September 1, 2018

Inilah Khutbah Terakhir Iblis

Khutbah Terakhir Iblis
Pada hari kiamat nanti, ketika Allah Ta’ala sudah memberi keputusan kepada para hamba-Nya; orang-orang yang beriman masuk ke dalam surga, sedangkan orang-orang kafir  masuk ke dalam neraka. Saat itulah Iblis bangkit berdiri, kemudian berkhotbah kepada para pengikutnya, sebuah khotbah yang semakin menambah kesedihan, dan penyesalan para pengikutnya.

Iblis berkata,

《 إِنَّ الله  وَعَدَكُمْ وَعْدَ الحَقِّ وَ وَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ 》

"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian dengan janji yang benar dan aku juga menjanjikan kepada kalian namun aku menyalahinya"

Allah memberi janji melalui lisan para rasul-Nya, Dia menjanjikan kesuksesan dan keselamatan itu ada pada mengikuti mereka (para rasul), dan itu adalah janji yang benar dan berita yang jujur. Sedangkan saya menjanjikan kepada kalian namun aku menyalahinya.

《 وَ مَا كَانَ لِيَ عَلَيكُمْ مِنْ سُلْطَانً إِلَّا أَنْ دَعَيْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي 》

"Tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian melainkan aku mengajak kalian kemudian kalian memenuhi ajakanku"

Pada apa yang aku ajak kalian kepadanya, tidaklah aku  memiliki dalil dan hujjah yang membenarkan apa yang aku janjikan kepada kalian, melainkan  aku mengajak kalian kemudian kalian mau memenuhinya, hanya sebatas itu. Adapun ini (janji Allah), para rasul telah menegakkan hujjah-hujjahnya dan (mendatangkan) dalil-dalilnya yang shahih yang membenarkan apa yang mereka datang kepada kalian dengannya, namun kalian menyalahinya sehingga jadilah kalian berada di tempat kalian sekarang ini.

فَلَا تَلُومُونِي وَ لُومُوا أَنْفُسَكُمْ

"Oleh sebab itu, janganlah kalian mencercaku, namun cercalah diri kalian sendiri"

Janganlah kalian mencercaku hari ini! Namun cercalah diri kalian sendiri, karena sesungguhnya dosanya itu dosa kalian sendiri. Karena kalian menyalahi hujjah, kemudian kalian malah mengikuti aku yang hanya mengajak kalian kepada kebathilan.

《 مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَ مَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ 》

"Aku tidak dapat menolong kalian, kalian juga tidak dapat menolongku"

Aku tidaklah memberi manfaat kepada kalian sehingga aku bisa menyelamatkan dan membebaskan kalian dari apa yang kalian berada padanya sekarang, dan kalian juga tidak bisa memberi manfaat kepadaku sehingga kalian menyelamatkanku dari apa yang aku berada padanya berupa adzab dan siksaan.

《 إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ 》

"Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukanku [dengan Allah] sejak dahulu"

Lihat Tafsir Ibnu Katsir. Surat Ibrahim, ayat 22

Oleh: Syabab Anwarussunah

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Seputar Nasrani dan Yahudi

Seputar Nasrani dan Yahudi
Hukum menamai Nashara/Nasrani dengan "Masihi"/"Masehi" dan Yahudi dengan "Israel"/"Isra'il" serta hukum melaknat "Israel"

Asy-Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan حفظه الله ورعاه

Anggota Badan Persatuan Ulama Besar Saudi Arabia dan Anggota Komite Tetap Untuk Penelitian Ilmiah & Fatwa

Pertanyaan :

Syaikh yang mulia, mudah-mudahan Allah ﷻ memberikan taufik kepada anda.

Penanya ini bertanya :

Sebagian manusia menamai Nasrani dengan "Masihi", apakah penamaan ini benar?

Jawaban :

"TIDAK, Masihi adalah pengikut agama Al-Masih (Nabi Isa عليه السلام) yang benar di zamannya, inilah Masihi. Adapun yang menyelisihi agama Al-Masih maka bukan dikatakan Masihi, tapi dinamakan Nasrani. Dan penamaan Masihi adalah merupakan perkara yang diada-adakan. Yang dikenal bahwasanya mereka adalah Nashara/Nasrani.

Demikian pula Yahudi, nama yang dikenal adalah Yahudi. Akan tetapi mereka merubahnya menjadi Israel. Dan Israel/Isra'il عليه السلام beliau adalah Nabi Ya'qub bin Ishak. Dan ini merupakan talbis (pengkaburan) dari mereka.

Yang jadi masalah adalah sebagian manusia mengatakan, "Ya Allah! Laknatlah Israel!", Yakni melaknat Nabi Ya'qub عليه السلام

Hendaklah seseorang itu menghindari hal ini

Atau mereka mengatakan, "Laknat Allah atas Israel!"

TIDAK..!!

Tapi katakanlah, "Laknat Allah atas Yahudi!" Atau, "Mudah-mudahan Allah melaknat Yahudi!"

Jangan kamu katakan Israel

Na'am"

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Setiapkali Teringat Dia, Dunia Ini Terasa Tidak Ada Harganya

Sebuah kisah yang menakjubkan dan menginspirasi...

Ibnul Mubarak (TABI'UT TABI'IN) -rahimahullah- menceritakan kisahnya : “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya.

Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan : “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (TABI'UT TABI'IN) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?

Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata : “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!

Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan :
Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”

Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.
Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”

Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?

Saya jawab, “Ya.”

Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”

Saya tanya, “Memangnya kenapa?

Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”

Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.
Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!

Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”

Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?

Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?

Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.

Dia menjawab, “Tidak, disini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan. Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?

Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”

Saya bertanya, “Ke mana?

Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)b

Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apakah Keturunan Hasan dan Husain Termasuk Nasab dari Rasul?

Apakah Keturunan Hasan dan Husain Termasuk Nasab dari Rasul?
Apakah turunan dari Hasan dan Husain disebut nasab dari rasul shallallahu 'alaihi wasallam?

Jawab:

Oleh Al Ustadz Usamah Faishol Mahri hafizhahullah

Ya tentunya, ahlul bait, karena mereka membawa darah dari Fathimah, putri rasul shallallahu 'alaihi wasallam walaupun bukan dari garis lelaki. Tapi dari garis putri rasul shallallahu 'alaihi wasallam.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Bagaimana Menyikapi Para Habaib Yang Mengaku Keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

Menyikapi Para Habaib Yang Mengaku Keturunan Nabi Muhammad
Apakah masih didapati di zaman kita dari kalangan ahlul bait Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam? Dan apakah boleh bagi orang yang mengaku ahlul bait ( istilahnya "Sayyid" sebagaimana yang diakui oleh kaum Rofidhoh) dengan pengakuan bahwa mereka adalah wali Allah, kemudian mereka singgah di pedesaan, sehingga para penduduk desa memberikan hadiah hadiah dan sajian sajian kepada mereka dengan harapan mereka bisa mendatangkan kemanfaatan dan bisa menolak madhorot?

Jawab:

Kami katakan kepada mereka yang mengaku punya garis keturunan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, TUNJUKKAN BUKTI dari sisilah kalian!!

Dan perlu diketahui bahwa Rosulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tidak memiliki anak laki laki yang hidup sampai dewasa sampai menikah kemudian memiliki anak, adapun anak anak laki laki yang dinisbahkan kepada beliau bukanlah anak anak laki laki dari keturunan ashobah beliau Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

Oleh karena itu kita katakan kepada setiap orang yang mengaku ahlul bait, tunjukkan bukti silsilah kalian! Kalau mereka tidak bisa menunjukkannya maka telah jelas kebathilan dan kedustaan mereka.

Kalau seandainya mereka benar dengan silsilah mereka, maka kami katakan tidaklah dengan kalian sebagai ahlul bait merupakan kemuliaan bagi kalian, apabila kalian tidak berada diatas syareat Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, karena yang paling penting adalah kalian mengamalkan syareat Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

Kalau kalian diatas syareat yang benar maka bagi kalian hak keislaman dan hak sebagai kerabat Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

Adapun sekedar kerabat Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam tidak akan memberi manfaat sedikitpun.

Ini Abu Lahab paman Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam saudara dari bapaknya tidak bermanfaat kedekatan nasabnya dengan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, bahkan Allah menurunkan satu surat yang menceritakan kejelekannya sampai hari kiamat

(تبت يدا أبي لهب وتب، ما أغنى عنه ماله وما كسب سيصلى نارا ذات لهب...) السورة

Yang jelas kita membutuhkan pengakuan ini dengan bukti silsilah, ketika benar sisilah mereka dan mereka benar benar orang-orang yang sholih yang berjalan diatas syareat Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam secara dhohir dan batin maka bagi mereka hak islam dan hak kekerabatan dengan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

Kalau mereka bukan orang yang sholih maka mereka adalah DAJJALUN, tidak ada hak bagi mereka sedikitpun, dan tidak ada Barokah dari amalan mereka dan tidak ada barokah dari keadaan mereka.

Dan secara dhohir ketika mereka masuk di pedesaan, di tempat orang orang memiliki daya pikir yang masih rendah, kemudian mereka hanya mengaku ngaku, dan secara dhohir mereka DUSTA, mereka bukanlah orang yang berjalan diatas syareat Allah ta'ala.

Maka mereka tidak pantas dihormati dan dimuliakan, atau diberi hadiah hadiah dan yang lainnya.

--------------

Asy Syeikh Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin:
Alih bahasa: Abu Arifah Muhammad Bin Yahya Bahraisy.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Ketahuilah Pentingnya Mempelajari Tauhid

Ketahuilah Pentingnya Mempelajari Tauhid
Banyak orang yang mengaku Islam. Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat menjawabnya. Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat, bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya. Ia tidak tahu bagaimana sifat-sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib dipenuhinya. Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Wal’iyydzubillah. Maka sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya” (Syarh Ushulil Iman, 4)

Sumber : Muslim.Or.Id

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Testimoni Imam Syafi'i Saat Mempelajari Adab

Testimoni Imam Syafi'i Saat Mempelajari Adab
Ilmu yang kita dapatkan lebih berharga dari seluruh harta yang mereka kumpulkan.

Para Ulama Salaf mengatakan: "Mengulang-ngulang pelajaran itu statusnya seperti bertasbih kepada Allah Subhânahu Wa Ta'âlâ."

Agama Islam sangat menghargai proses dan sering kali yang paling berharga adalah proses bukan hasil.

Allah Subhânahu Wa Ta'âlâ Berfirman dalam Surah Al Hajj Ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."

Al Imam At Thabari رحمه الله تعالى berkata: "Upaya bertakwa kepada Allah dengan penuh keikhlasan."

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia berhak mendapat dua pahala, namun jika ia berijtihad lalu salah, maka ia mendapat satu pahala”. [ HR. Al-Bukhari no. 3609 dan Muslim no. 2214]

Dalam Hadist tersebut, jika seorang hakim benar dalam ijtihadnya akan mendapatkan dua pahala sedangkan jika salah tidak mendapat dosa, bahkan mendapatkan satu pahala. Disinilah Agama Islam menghargai sebuah Proses.

Al Hafidz Ibnu Hajar رحمه الله تعالى  berkata dalam menjelaskan hadits ini: “(Beliau) mengisyaratkan bahwa tidaklah mesti – disaat ditolak hukumnya atau fatwanya lantaran berijtihad lalu keliru – maka dia mendapat dosa dengan (kesalahan) tersebut. Akan tetapi apabila dia telah mengerahkan kemampuannya, maka ia mendapat pahala, jika (hukumnya) benar, maka digandakan pahalanya. Namun apabila dia menetapkan hukum atau berfatwa dengan tanpa ilmu maka dia mendapat dosa.” (Fathul Bari: 13/331)

Al Imam Ibnul Jama'ah رحمه الله تعالى membawakan testimoni dari Al Imam Muhammad bin Idris (Imam Syafi'i):

"Tidaklah aku mendebat seseorang/berdiskusi dengan seseorang lalu aku tidak ingin dia jatuh dalam kesalahan, aku ingin masuk keranah tersebut karena kebenaran itu muncul."

Salah satu rahasianya beliau bisa seperti itu  karena beliau sangat fokus belajar Adab.

Al Imam Syafi'i رحمه الله تعالى pernah ditanya: "Bagaimana perasaan hatimu ketika mempelajari Adab ?".

Beliau menjawab: "Aku mendengar satu huruf tentang adab yang belum aku dengar sebelumnya sehingga seluruh tubuhku ingin mempunyai pendengaran sebagaimana telinga mempunyai pendengaran."

Abu Hanifah رحمه الله تعالى mengatakan:

"Mendengar kisah-kisah Ulama terdahulu tentang Adab-adab mereka lebih aku sukai daripada mempelajari Fiqh."

Perkataan Abu Hanifah bukan untuk meremehkan Ilmu Fiqh, karena itu adalah fiqh yang nyata (riil).

Allah Subhânahu Wa Ta'âlâ Berfirman dalam Surah Al Anfal Ayat 2:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."

Ilmu itu meneduhkan, ilmu itu adalah Rahmat.

Sebagaimana yang Difirmankan Oleh Allah Subhânahu Wa Ta'âlâ dalam Surah Yunus Ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

"Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan"."

Bagaimana Imam Syafi'i رحمه الله تعالى  mencari adab tersebut ?

Al Imam Syafi'i menjawab: "Saya mencari Ilmu dan Adab seperti seorang wanita yang kehilangan anaknya dan dia tidak punya anak selain anak tersebut."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله تعالى berkata: "Imam Syafi'i menggunakan kata: Seorang Ibu, Kehilangan anak dan anak satu-satunya."

Artinya adalah:
  1. Imam Syafi'i ingin mengajarkan kepada kita bahwa penuntut ilmu harus sadar bahwa dirinya lemah, merasa dirinya bersalah. Sebagaimana seorang ibu (perempuan) ketika kehilangan anaknya ia akan menyalahkan dirinya.
  2. Ia akan mencari, ia akan mengejar Ilmu dan Adab itu. Sebagaimana seorang Ibu mencari anaknya yang hilang.
  3. Ia akan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan Ilmu tersebut. Sebagaimana seorang Ibu itu rela mengeluarkan kemampuannya untuk mencari anak satu-satunya.
-------------------------

Kitab Tadzkiratus Saami' Wal Mutakallim Fii Adabil 'Aalim Wal Muta'aalim

👤 Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, L.c حفظه الله تعالى
📆 Sabtu, 29 Rabi'ul Awwal 1439 H / 16 Desember 2017
⏰ Ba'da Maghrib - Selesai
🕌 Masjid Nurul Iman, Blok M Square Lantai 7, Jakarta Selatan.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive