Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Thursday, May 2, 2019

Hikmah Diwajibkannya Puasa

Hikmah Diwajibkannya Puasa
Apa hikmah diwajibkan puasa?

Jawaban:

Jika kita membaca firman Allah,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Kita tahu apa itu hikmah kewajiban puasa, yaitu agar kita bertakwa dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa adalah meninggalkan larangan-larangan. Secara khusus takwa adalah mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, selalu mengerjakannya dan tidak meninggalkan kebodohan, maka Allah tidak akan memberikan pahala atas puasanya.” (HR. al-Bukhari)

Dari sini jelaslah bahwa orang yang berpuasa dan melaksanakan segala kewajiban, maka dia akan menjauhi perbuatan haram baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, sehingga dia tidak mencaci manusia, tidak berbohong, tidak mengadu domba di antara mereka, tidak menjual barang haram dan menjauhi segala macam perbuatan haram. Jika manusia bisa melakukan semua itu dalam sebulan penuh, maka dirinya akan berjalan lurus pada bulan-bulan berikutnya.

Tetapi sayang, banyak orang berpuasa yang tidak membedakan antara hari puasa dengan hari biasa. Pada bulan Ramadhan, mereka berperilaku seperti biasanya, meninggalkan kewajiban, melakukan perbuatan haram, dan tidak merasa bahwa dirinya sedang berpuasa. Memang perbuatan itu tidak membatalkan puasa, tetapi bisa mengurangi pahalanya. Mungkin ketika ditimbang kelak memang ada catatan puasanya, tetapi pahalanya hilang.

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Wednesday, May 1, 2019

Apakah Penyakit 'Ain Bisa Melalui Gambar atau Video?

Apakah Penyakit 'Ain Bisa Melalui Gambar atau Video?
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

ﻭﻧﻔﺲ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻻ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﺗﺄﺛﻴﺮﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻋﻤﻰ ﻓﻴﻮﺻﻒ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻓﺘﺆﺛﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ، ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺋﻨﻴﻦ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺭﺅﻳﺔ

Jiwa orang yang menjadi penyebab ‘ain bisa saja menimbulkan penyakit ‘ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu kepadanya, jiwanya bisa menimbulkan penyakit ‘ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab ‘ain yang bisa menjadi sebab terjadinya ‘ain, hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung” (Zadul Ma’ad 4/1493)

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan,

ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻗﺪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺴﻤﻊ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻓﻴﺼﻴﺒﻪ ﺑﻌﻴﻨﻪ ، ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

Oleh karena itu, jelaslah bahwa penyebab ‘ain bisa jadi ketika melihat gambar seseorang atau melalui televisi, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian orang itu terkena ‘ain. Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah. (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272)

TANDA-TANDA TERKENA ‘AIN

Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,

ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين

Kenapa anak kecilmu ini menangis ? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain ?” (HR. Imam Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304)

Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan ?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka !” (HR. Imam Muslim, Imam Ahmad dan Imam Al-Baihaqi)


Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc حفظه الله تعالى
Sumber : https://rumaysho.com/3308-pandangan-hasad-lewat-gambar.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Jangan Pernah Menyepelekan Do'a..!!

Jangan Pernah Menyepelekan Do'a..!!
Kepada saudaraku yang hatinya terluka… kalbunya dimakan kesedihan dan kegelisahan…

Kepada saudaraku yang dilindas dan digilas beratnya kemiskinan… dililit hutang yang menggunung…

Kepada saudaraku yang memikul segunung problematika… yang merasa seluruh jalan dan sebab telah tertutup…

Apakah kau lupa senjatamu yang sangat ampuh? Do’a… dialah permohonan yang ditujukan kepada Pencipta alam semesta ini… Apakah kau meremehkannya?

Al-Imam As-Syaafi’i rahimahullah berkata :

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيهِ *** وَمَا تَدْرِي بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ

Apakah engkau mengejek doa dan menyepelekannya…Tidakkah engkau tahu apa yang bisa diperbuat oleh do’a?

سِهَامُ اللَّيلِ لا تُخْطِي وَلَكِنْ *** لَهَا أَمَدٌ وَلِلْأَمَدِ انْقِضَاءُ

Anak panah yang dilepaskan di malam hari, tidak akan meleset, akan tetapi…
Anak panah tersebut ada waktunya/tempo untuk mengenai… dan setiap waktu pasti ada akhirnya”

Janganlah pernah meremehkan do’a… Ia adalah senjata kaum sholihin… Bahkan senjata para Nabi ‘alaihim as-salaam.

Angkatlah kedua tanganmu… mintalah kepada Robb-mu… jangan pernah malu untuk meminta kepada Robb-mu yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang kepada para hambaNya…

Curahkan segala keluh kesahmu kepada Robb-mu yang lebih rahmat kepada seorang hamba dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya…

Masihkah engkau berburuk sangka kepadaNya…Masihkah engkau enggan untuk berdo’a?!

Bangunlah di gelapnya malam tatkala semua orang tertidur pulas…keluhkan seluruh bebanmu kepada Allah…

لاَ تَسْأَلَنَّ بَنِي آدَمَ حَاجَةً *** وَسَلِ الَّذِي أَبْوَابُهُ لاَ تُحْجَبُ

Jangan sekali-kali engkau meminta hajatmu kepada anak Adam… Akan tetapi mintalah kepada Dzat yang pintu-pintunya tidak pernah tertutup

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ *** وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Allah murka jika engkau tidak meminta kepadaNya.. Adapun anak Adam jika engkau meminta-minta kepadanya maka ia marah”.

Oleh Ustadz Dr. Abu 'Abdil Muhsin Firanda, MA  حفظه الله تعالى
Sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/35851

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Agar Allah Menolong Kita...

Agar Allah Menolong Kita...
Bila kita ingin ditolong oleh Allah, maka tolong dan belalah agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang orang yang beriman jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kaki kalian (di atas agama-Nya).” (QS: Muhammad: 7)

Membela agama Allah dengan cara terus bersabar dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan menyebarkannya. Dan terus istiqomah di atas ketakwaan walaupun ujian terus mendera.

Dengan sabar dan taqwa semua makar orang orang yang bermakar menjadi sirna. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu tetap bersabar dan bertaqwa, nizcaya tidak akan membahayakan kalian makar mereka sedikitpun. Sesungguhnya Allah meliputi perbuatan mereka.” (QS: Ali Imron: 120).

Jangan khawatir Allah tidak akan merealisasikan janji-Nya. Tapi khawatirlah keimanan kita menjadi lemah dan keyakinan kita kepada Allah terkikis oleh fitnah.

Oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Mungkinkah Ini Ramadhan Terakhir Bagi Kita?

Mungkinkah Ini Ramadhan Terakhir Bagi Kita?
Bulan Ramadhan...

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika dokter memvonis anda bahwa secara perhitugan fisik, tubuh kita tidak bisa bertahan lebih lama. Kami yakin, anda akan melakukan hal terbaik dalam hidup, demi mendapatkan kebahagiaan setelah kematian.

Karena itulah, islam mengajarkan kepada kita, agar kita sering mengingat kematian. Dalam arti, selalu menghitung, bekal apa yang harus kita persiapkan setelah kematian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang semacam ini sebagai orang cerdas. Beliau bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang yang cerdas adalah orang yang memaksa dirinya untuk beramal yang manfaat setelah kematian. Sementara orang yang lemah adalah selalu mengikuti keinginan hawa nafsunya, kemudian dia berharap diampuni Allah. (HR. Ahmad 17588, Turmudzi 2647, Ibnu Majah 4401 dan dishahihkan al-Albani)

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika ramadhan tahun ini adalah ramadhan terakhir bagi anda?

Kita sangat yakin, anda akan mempersiapkannya sebaik mungkin. Anda akan berpuasa dengan serius, memperbanyak ketaatan, berusaha menjauhi segala maksiat, dst.
Semoga bermanfaat

Sumber : https://konsultasisyariah.com/25043-mungkin-ini-ramadhan-terakhir-bagi-kita.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Amalan Hamba Yang Pertama Kali Dihisab Pada Hari Kiamat

Amalan Hamba Yang Pertama Kali Dihisab Pada Hari Kiamat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya.

Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. 
Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi.

Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’
Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.

Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.”

HR. Abu Daud. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Masyobih no. 1330


Penulis: Rahmat Ariza Putra
Muroja’ah: M. A. Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Al-Qur'an dan As-Sunnah Meliputi Semua Perbuatan Hamba Sebagaimana Takdir Allah Meliputinya

Al-Qur'an dan As-Sunnah Meliputi Semua Perbuatan Hamba
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

Dzikri Amri (syari’at Allah) meliputi semua perbuatan para mukallaf (orang yang dibebani untuk melaksanakan syari’at); baik berupa: perintah, larangan, izin (tentang hal yang dibolehkan), atau ‘afwu (yang dimaafkan).

Sebagaimana Dzikri Qadari (takdir Allah) meliputi semuanya; berupa: ilmu Allah, kitabah (penulisan), maupaun qadar (takdir). Maka ilmu-Nya, penulisan-Nya, dan takdir-Nya telah meliputi semua perbuatan hamba-Nya, sebagaimana perintah-Nya, larangan-Nya, pembolehan-Nya, dan ma’af-Nya...telah meliputi semua perbuatan hamba yang berkaitan dengan taklif (pembebanan syari’at).

Maka tidak ada satu pun perbuatan hamba yang keluar dari salah satu dari 2 (dua) hukum: kauni (takdir) atau syar’i amri.

Sungguh, Allah -Subhaanahu- telah menjelaskan melalui lisan Rasul-Nya -dengan firman-Nya dan sabda Rasul-Nya-:
  • semua yang Dia perintahkan,
  • semua yang Dia larang,
  • semua yang Dia halalkan,
  • semua yang Dia haramkan,
  • dan semua yang Dia ma’afkan.
Dengan inilah agama-Nya telah sempurna, sebagaimana yang Allah -Ta’aalaa- firmankan:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي...}

...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu...” (QS. Al-Maa-idah: 3)

Akan tetapi terkadang pemahaman kebanyakan manusia kurang mampu untuk memahami apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil, dan segi serta tempat pendalilannya. Dan umat ini berbeda-beda dalam tingkatan pemhaman terhadap (maksud) Allah dan Rasul-Nya dengan (tingkatan-tingkatan) yang tidak ada yang mampu untuk menghitungnya kecuali Allah. Kalaulah semua pemahaman adalah sama; maka tentunya akan sama juga pijakan (kekuatan) para ulama dalam ilmu.”

Kemudian beliau -rahimahullaah- berkata:

Dalil-dalil telah meliputi hukum-hukum tentang segala yang terjadi. Dan Allah dan Rasul-Nya tidak mengarahkan kita kepada ra’yu (pendapat) dan tidak juga qiyas. Bahkan Allah telah menjelaskan semua hukum secara keseluruhan, dan dalil-dalil telah mencukpi dan meliputi semuanya. Dan qiyas yang shahih; maka itu benar dan pasti sesuai dengan dalil, sehingga menjadi dua dalil: Al-Kitab dan Al-Mizan (qiyas), dimana terkadang penunjukkan dalil tersamar atau tidak sampai kepada seorang ulama sehingga (ulama tersebut) berpaling kepada qiyas; kemudian terkadang tampak kesesuaiannya dengan dalil sehingga menjadi qiyas yang shahih, dan terkadang tampak penyelisihannya terhadap dalil sehingga menjadi qiyas yang fasid (rusak).

Beliau juga pernah berkata ketika menjelaskan faedah firman Allah:

{...فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ...}

...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apa pun); maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya),...”. (QS. An-Nisaa’: 59)

“Firman-Nya:

{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ}

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apa pun)

(Kata شيء) di sini adalah “isim nakiroh” dalam kalimat berbentuk “syarth” sehingga berlaku umum mencakup segala yang diperselisihkan oleh kaum mukminin dalam masalah-masalah agama; baik yang kecil maupun yang besar, dan baik yang jelas maupun yang samar. Kalaulah di dalam Kitabullah (Al-Qur-an) dan (Sunnah) Rasul-Nya tidak ada penjelasan tentang hukum dari apa yang diperselisihkan oleh mereka; maka (keduanya) tidaklah mencukupi, dan tentunya Allah tidak akan perintahkan untuk mengembalikan kepadanya. Karena, tidak mungkin Allah -Ta’aalaa- memerintahkan -ketika terjadi perselisihan- untuk kembali kepada yang tidak ada pemutus perselisihan.”

[“I’laamul Muqwaqqi’iin” (II/90 & 97) dan (I/92) -cet. II)]

Diterjemahkan dan diberi judul Oleh Ustadz Ahmad Hendrix Eskanto حفظه الله تعالي

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive