Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Wednesday, December 27, 2023

Hakikat Istiqamah adalah Komitmen Diatas Manhaj yang Lurus

Hakikat Istiqamah adalah Komitmen di Atas Manhaj yang Lurus
Bismillah...

Diriwayatkan dari sahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, bahwasanya beliau pernah membaca ayat berikut ini diatas mimbar:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami adalah Allah", kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian mereka)." (QS Fushilat [41]: 30)

Kemudian beliau menjelaskan bahwa:

لم يروغوا روغان الثعلب

"Mereka (orang-orang yang istiqamah) itu tidak berubah-ubah (kesana kemari) seperti tipuan rubah (musang)."

('Asyra Qawa'id fil Istiqamah, karya Syaikh 'Abdurrazaq bin 'Abdul Muhsin Al-'Abbad Al-Badr, hal 11-12)

Terkait istilah "روغان الثعلب" yang kami artikan diatas dengan "tipuan rubah (musang)", maka kami telah bertanya kepada guru kami Al-Ustadz Abdurrahman At-Tamimi hafizhahullah tentang maknanya. 

Beliau pun menjelaskan (via telpon) yang intinya bahwa ثعلب atau yang biasa kita sebut dengan rubah (sebagian orang menyebutnya sebagai musang), biasanya digunakan untuk menggambarkan sosok yang tidak bisa dipercaya (mencla-mencle), licik, penuh tipu daya.

Hal ini bisa kita lihat tatkala rubah atau musang mengincar mangsanya. Hewan ini akan mengendap-endap dengan cerdik, berpura-pura, atau berlalu lalang kesana kemari sembari mengincar mangsanya, sehingga tatkala ada kesempatan mereka bisa dengan cepat menangkap mangsa yang diincarnya. 

Maka, seseorang yang istiqamah itu hakikatnya tidak memiliki sifat sebagaimana rubah, musang, atau yang sejenisnya. Karena seseorang yang istiqamah itu memiliki keteguhan dan komitmen yang kuat dalam menjaga ketaatannya kepada Allah Ta'ala sesuai dengan manhaj yang lurus. Tidak akan mudah pula berubah-ubah, plin plan, dan mudah goyah dalam hal keimanan dan ketaatannya kepada Allah Ta'ala.

Yang mengatakan bahwa “Allah adalah Tuhan kami”, itu banyak. Namun, yang bisa istiqamah dengan syariat Allah itu sedikit.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai yang sedikit itu, yaitu para ahli istiqamah. Aamiin


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02SycTvsfyhZitH8XS8NW5phqr1E1zqaj2kMDp3kMtEs9ouz4k4TXt2q9ioxnZS27Kl&id=1792235719

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, December 26, 2023

Memilih Itu Berbeda dengan Kampanye

Memilih Itu Berbeda dengan Kampanye
Bismillah...

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi ditanya: wahai Syaikh, kami memiliki pemimpin yang tidak memenuhi janjinya bahkan mengingkari janjinya. maka muncullah gerakan untuk merubah pemimpin kami, bagaimana nasehat anda?

Jawaban: 

"Nampaknya anda masih muda dan tidak banyak mengerti tentang perpolitikan, seluruh pemimpin di dunia ini, siapa di antara mereka yang memenuhi janji kampanyenya?

Anda saja, berapa presiden yang sudah berkuasa di Indonesia dan aku tau sebagiannya, Soekarno kemudian Soeharto, dan yang lainnya sampai sekarang, siapa diantara mereka yang memenuhi janjinya? Tidak ada kan?

Dan ini juga berlaku sama di negaraku, akan tetapi yang perlu anda ketahui bahwa krisis yang ada merupakan limpahan dari pemerintahan sebelumnya kemudian sebelumnya dan sebelumnya dan sangat rumit. 

Dan apabila ada dari salah satu calon yang mudharatnya paling ringan, janganlah kalian menampakkan dukungan kalian secara terang-terangan kepadanya, karena kalian akan dianggap menjadi oposisi, dan kita tahu dimana pun itu di dunia, bahwa oposisi akan selalu dipersulit oleh petahana.”

(Faedah dari Liqa Du'at berasama Syaikh Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah di Hotel Gren Alia Jakarta yang dirangkum oleh Ustadz Dika Wahyudi pada, 6 April 2019)

https://www.facebook.com/dika.wahyudi.140

———

Kalau pesta demokrasi sudah mulai, banyak ikhwah yang mendadak amnesia atau mungkin lupa belajar dari yang sebelum-sebelumnya (tidak kapok). Maka bagi yang punya pendapat “mau memilih”, semoga nasihat Syaikh Ali Hasan Al-Halabi rahimahullah ini bisa bermanfaat.

Bagi yang berpendapat tidak memilih, maka tetap jangan ikutan bablas yang akhirnya ikutan menjelek-jelekkan pemerintah.

Baca juga : Bagaimana Kriteria Pemimpin yang Baik dalam Islam?


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid09qN6M1TwFmNAFhpgtwsaYmH8UqbV3RZKSkfVC95oc7dhsrHV7ZP7dUeAtF7H7mobl&id=1792235719

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Dengki

Dengki
Bismillah...

🌴🌴🌴

الحقد أصل الشرِّ، ومن أضمر الشر في قلبه أنبت له نباتًا مرًّا مذاقه، نماؤه الغيظ، وثمرته الندم

(روضة العقلاء ص ١٣٤)

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

Dengki adalah pokok keburukan.. siapa yang menyembunyikan keburukan di hatinya maka akan tumbuh pohon yang pahit rasanya.. 

Tumbuhnya dari kemarahan, dan buahnya adalah penyesalan..

[ Roudhotul ‘Uqolaa – 134 ]

🌴🌴🌴

Dengki yang membuat iblis tak mau tunduk kepada perintah Allah untuk sujud kepada Adam 'alaihissalam..

Dengki yang membuat kaum yahudi tak mau beriman kepada nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam..

Dengki seringkali menghinggapi orang yang diberi kelebihan lalu ada saingan yang melebihinya..

🌴🌴🌴

Hampir tak ada hati yang selamat dari dengki..

Karena hidup tak lepas dari persaingan..

Namun orang-orang mulia berusaha memadamkan kedengkiannya..


Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

=====🌴🌴🌴🌴🌴=====

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/48923

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, December 25, 2023

Setiap Kita Punya Aib

Setiap Kita Punya Aib
Bismillah...

كلنا عيوب لو لا ستر الله

Setiap kita memiliki aib, seandainya Allah tidak menutupi (aib-aib kita, sungguh akan malu diri-diri kita ini).

Kita ini dianggap baik oleh orang lain, bukan karena kebaikan-kebaikan kita, tetapi karena Allah menutupi aib-aib kita.

Seandainya Allah Ta'ala ungkap aib seseorang ke publik, niscaya dia tidak akan mampu menanggung malu. Apalagi tatkala dia lagi dalam kesendirian, dia bermaksiat dan berbuat dosa, malu rasanya dirinya. Syukurlah Allah tutup aib-aibnya.

Berkata Abdullah Bin Muhammad Al Andalusia rahimahullah dalam qashidahnya :

والله لو علِمـوا قبيـح سريرتـي

لأبى السـلامَ علـيّ مـن يلقانـي

ولأعرضوا عني و ملّوا صُحبتي

ولبـؤتُ بعـدَ كرامـةٍ بـهـوانِ

لكنْ ستـرتَ معايبـي و مثالبـي

و حَلمتَ عن سقطي و عن طغياني

فلـك المحامـدُ و المدائـحُ كلهـا

بخواطري و جوارحـي و لسانـي

Demi Allah, seandainya mereka tahu akan buruknya yang tersembunyi dariku,

Sungguh enggan salam kepadaku, setiap orang yang menjumpaiku.

Dan sungguh mereka berpaling dariku dan bosan menemaniku, dan sungguh kudapati kehinaan setelah kemuliaan.

Akan tetapi Engkau telah menutupi aib-aibku dan kekurangan-kekuranganku,

Engkau tetap penyantun dan meski diriku terjatuh dan melampaui batas

"Maka bagiMu puji-pujian dan puja-puja semuanya, kami puji dengan segenap jiwa, badan dan lisan"

Sumber : http://www.almeshkat.net/vb/archive/index.php/t-52255.html 

Seorang ulama salaf, yang sangat dimuliakan oleh masyarakat dan murid-muridnya, ketika beliau ke pasar dan memikul sendiri barangnya, orang-orang pun datang menawarkan diri untuk membantunya, namun beliau menolaknya. Dan seakan-akan beliau mengatakan, seandainya mereka tahu tentang aibku, tidak akan berbuat seperti itu kepadaku.

Para hafidz berkata:

ﺭﺃﻳﻨﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻮﻕ ﺑﻐﺪﺍﺩ، ﻓﺎﺷﺘﺮﻯ ﺣﺰﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻄﺐ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ ، ﻓﻠﻤﺎ ﻋﺮﻓﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺗﺮﻙ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺘﺎﺟﺮ ﻣﺘﺎﺟﺮﻫﻢ ، ﻭﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻛﺎﻛﻴﻦ ﺩﻛﺎﻛﻴﻨﻬﻢ ، ﻭﺗﻮﻗﻒ ﺍﻟﻤﺎﺭﺓ ﻓﻲ ﻃﺮﻗﻬﻢ ، ﻳﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﻧﺤﻤﻞ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺤﻄﺐ ، ﻓﻬﺯ ﻳﺪﻩ ،ﻭﺍﺣﻤﺮ ﻭﺟﻬﻪ ،ﻭﺩﻣﻌﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﻗﺎﻝ : نحن ﻗﻮﻡ ﻣﺴﺎﻛﻴﻦ ، ﻟﻮﻻ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻓﺘﻀﺤﻨﺎ

Kami pernah melihat Imam Ahmad pergi ke sebuah pasar di kota Baghdad. Di sana beliau membeli seikat kayu bakar, kemudian memikulnya di atas bahu beliau. Tatkala orang-orang mengetahui beliau, para pedagang pun meninggalkan barang dagangan mereka, para pemilik warung meninggalkan warung-warung mereka dan orang-orang lewat turut berhenti di jalan-jalan mereka. Mereka pun mengucapkan salam kepada beliau dan berkata:  “Kami akan membawakan kayu bakar ini untukmu.”

Beliau pun menolak dengan lambaian tangan, wajahnya memerah dan matanya tiba-tiba berlinang air mata. Beliau pun berkata:

“Kami adalah kaum faqir. Andai saja Allah tidak menutupi, niscaya Allah akan menyingkap (aib) kami.”

Suatu ketika seorang laki-laki datang untuk memuji Imam Ahmad. Lantas beliau rahimahullah berkata kepadanya:

ﺃﺷﻬﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻘﺘﻚ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ،ﻭﺍﻟﻠﻪ ، ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ ﻟﺤﺜﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻲ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ .

ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺍﻟﺸﻬﺮﺓ، ﻳﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺏ ﻣﻜﺔ ﻣﺎ ﻋﺮﻓﻨﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ

“Aku persaksikan kepada Allah. Sungguh aku murka atas ucapanmu ini. Demi Allah, andai engkau tahu dosa dan kesalahan yang ada pada diriku, pastilah engkau akan menaburi kepalaku dengan pasir.”

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Andai saja aku tidak terkenal seperti ini. Andai aku berada di satu lembah di lembah-lembah kota Mekkah, tak ada seorangpun mengenaliku.” (Al Hilyah Li Abi Nu’aim,  9:181).

Untuk itu, sibukkanlah dengan aib-aib diri sendiri. Perbaiki diri dan banyak bertaubat kepada Allah, daripada sibuk mengurus dan membicarakan aibnya orang lain, pastilah akan menjadi manusia yang beruntung.

Berkata Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah :

طوبى لمن شغله عَيبه عن عُيوب الناس، وويل لمن نسي عَيبه وتفرغ لعُيوب الناس، فالأول: علامة السعادة، والثاني: علامة الشقاوة.

"Beruntunglah bagi orang yang menyibukkan diri dengan aibnya daripada (menyibukkan dirinya) dengan aib-aibnya orang lain. Dan celakalah orang yang melupakan aib dirinya namun justru meluangkan waktu untuk mengurusi aib-aibnya orang lain. 

Yang pertama merupakan tanda kebahagiaan, sedangkan yang kedua merupakan tanda kesengsaraan." (Thariqul Hijratain, I/172).

Dan berkata Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah :

من علامة الشقاوة نسيان عيوب النفس والتفرغ لعيوب ‎الناس.

"Termasuk tanda kesengsaraan adalah melupakan aib-aib diri sendiri dan justru menyibukkan diri untuk mengurusi aib-aib orang lain." Miftah Daris Sa'adah, I/297

Doa yang senantiasa harus dipanjatkan oleh seseorang :

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ 

Ya Allah, tutupilah aib-aibku.

Dzikir yang dibaca di pagi dan petang

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (Dibaca 1 x)

Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan do’a ini di pagi dan petang hari. Didalamnya berisi perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah

HR. Abu Daud no. 5074 dan Ibnu Majah no. 3871


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1359157454423518&substory_index=894149809007861&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kekuasaan Itu Dipergilirkan

Kekuasaan Itu Dipergilirkan
Bismillah...

Masa kejayaan (kemenangan) dan kehancuran itu dipergilirkan, tidak ada yang kekal abadi. Suatu waktu akan berjaya, suatu waktu akan hancur. Suatu waktu menang, suatu waktu akan kalah. Begitulah sunnatullah kehidupan. 

Allah Ta'ala berfirman, 

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (Ali Imran: 140).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

أي : نديل عليكم الأعداء تارة ، وإن كانت العاقبة لكم لما لنا في ذلك من الحكم

Yaitu Kami pergilirkan kemenangan itu bagi musuh kalian atas diri kalian dalam sesekali waktu, sekalipun pada akhirnya akibat yang terpuji kalian peroleh, juga kemenangan. Kami lakukan demikian itu karena kebijaksanaan Kami yang mengandung hikmah (buat kalian). (Tafsir Ibnu Katsir) 

Berkata Syekh As Sadi rahimahullah, 

ومن الحكم في ذلك أن هذه الدار يعطي الله منها المؤمن والكافر، والبر والفاجر، فيداول الله الأيام بين الناس، يوم لهذه الطائفة، ويوم للطائفة الأخرى؛ لأن هذه الدار الدنيا منقضية فانية، وهذا بخلاف الدار الآخرة، فإنها خالصة للذين آمنوا.

Dan diantara hikmah lain adalah bahwa dunia ini telah Allah berikan kepada orang yang beriman dan orang kafir, orang baik dan orang jahat. Begitulah Allah menggilir hari (masa kejayaan dan keruntuhan) di antara manusia, hari ini untuk kelompok itu dan hari yang lain untuk kelompok lainnya, karena negeri dunia ini musnah dan fana, hal ini tentunya berbeda dengan negeri akhirat, karena negeri itu khusus bagi orang-orang yang beriman. (Tafsir As Sadi). 

Begitu pula kepemimpinan, kerajaan atau kekuasaan, ini pun dipergilirkan. Dan sejarah telah mencatat silih bergantinya siapa yang memegang tampuk kepemimpinan dalam suatu negeri. Dulu si pulan berkuasa dan sekarang si alan. 

Boleh jadi bergilirnya kekuasaan tersebut mungkin karena digantikan, mungkin karena dipecat, mungkin karena dikudeta dan yang lainnya. Namun yang pasti, karena ajal menjemputnya. 

Allah Ta'ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنزعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu". (QS.Ali Imran : 26).

Oleh karena itu, walaupun manusia berusaha keras untuk mempertahankan kekuasaan, tetaplah kekuasaan itu akan beralih ke yang lainnya. Begitu pula, walaupun manusia berusaha keras untuk meraih kekuasaan, namun jika belum dikehendaki Allah Ta'ala, maka kekuasaan itu pun tidak akan pula diraihnya. Semua atas kehendak dan ketetapan takdir Allah Ta'ala. 

Berkata Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu anhu :

يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَطْعَمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ، وَلَنْ تَبْلُغْ حَقَّ حَقِيقَةِ الْعِلْمِ بِاللهِ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: قُلْتُ: يَا أَبَتَاهُ وَكَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا خَيْرُ الْقَدَرِ مِنْ شَرِّهِ؟ قَالَ: تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ، ثُمَّ قَالَ: اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ” يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ

Wahai anakku! Sungguh kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman, dan tidak akan mencapai kebenaran hakekat ilmu terhadap Allâh, sebelum kamu meyakini takdir yang baik dan yang buruk. Anaknya bertanya, “Wahai bapakku, bagaimana aku mengetahui takdir yang baik dan yang buruk?” Beliau menjawab, “Kamu mengetahui bahwa apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset. Wahai anakku, aku telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allâh adalah pena, kemudian Allâh berfirman kepadanya: “Tulislah!”. Maka terjadilah semenjak saat itu dengan apa yang terjadi sampai hari kiamat. Wahai anakku, jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, kamu pasti masuk neraka. (HR. Ahmad. Berkata Syu'aeb Al Arnuth : Hadist Shahih).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0tKubnueeFhYWiTYn2ixFrdVrgB8FsuKQeSiS25iK6ucTJGiCSZETnGEjAYQuSg4El&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, December 24, 2023

Manhaj Salaf : Mari Merenungi Hakekat Hidup Ini

Manhaj Salaf : Mari Merenungi Hakekat Hidup Ini
Bismillah...

🌴🌴🌴

Setiap hari sebenarnya semua orang selalu mendapatkan musibah, namun seringkali dia tidak menyadarinya, apalagi mengambil pelajaran darinya.

🌴🌴🌴

MUSIBAH PERTAMA: Umur yang terus berkurang.

Ironisnya pada hari ketika umurnya berkurang, dia tidak sedih karenanya, tapi apabila uangnya berkurang, dia bersedih.. padahal uang bisa dicari lagi, sedangkan umur tidak mungkin dicari gantinya.

🌴🌴🌴

MUSIBAH KEDUA: Setiap hari dia memakan dari rezeki Allah.

Bila rezeki itu haram; dia akan disiksa karenanya.. dan bila rezeki itu halal; dia tetap akan dihisab untuk mempertanggung jawabkannya, dan dia tidak tahu apakah dia akan selamat dalam hisab itu atau tidak.

🌴🌴🌴

MUSIBAH KETIGA: Setiap hari, dia semakin mendekat kepada akherat, dan semakin menjauh dari dunia.

Meskipun begitu, dia tidak memperhatikan akheratnya yang kekal sebagaimana dia memperhatikan dunianya yang fana… padahal dia tidak tahu, pada akhirnya nanti dia akan ke surga ataukah ke neraka.

🌴🌴🌴

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia, sebagai tujuan terbesar hidup kami dan tujuan akhir ilmu kami..

Ya Allah.. Hindarkanlah kami dari nerakaMu, dan jadikanlah rumah abadi kami adalah surgaMu, amin.


Ditulis oleh, Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA. حفظه الله تعالى

Ref : http://bbg-alilmu.com/archives/12614

=====🌴🌴🌴🌴🌴=====

https://t.me/+RgB48I76X-_s1peo

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Hadits : Jangan Tinggalkan Sholat Berjama'ah di Masjid

Jangan Tinggalkan Sholat Berjama'ah di Masjid
Bismillah...

● Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

Siapa yang senang bertemu Allah besok dalam keadaan muslim maka jagalah sholat-sholat (berjama’ah) di tempat asal panggilan (adzan) nya.

Karena Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian shollallahu ‘alayhi wasallam sunnah-sunnah hidayah. Dan itu (sholat berjama’ah di masjid) termasuk dari sunnah-sunnah hidayah.

Jika kalian hanya sholat di rumah-rumah kalian, seperti pembangkang yang sholat di rumahnya ini, maka itu artinya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.

Aku sudah melihat bahwa tidak ada seorang pun yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali munafik yang jelas kemunafikannya.

(Karena sedemikian bahayanya meninggalkan sholat berjama’ah) sampai-sampai orang yang lemah harus dipapah dua orang laki-laki untuk bisa berbaris di dalam shof..

(HR. Muslim no. 654)

● Dalam riwayat Muslim yang lain, Abdullah bin (Ibnu) Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِى الْمَسْجِدِ الَّذِى يُؤَذَّنُ فِيهِ

Sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam telah mengajarkan pada kami suatu petunjuk yang baik. Yang termasuk ajaran yang baik tersebut adalah sholat di masjid yang dikumandangkan adzan di sana..

(HR. Muslim no. 654)

Artikel Terkait :

- Wahai Kaum Pria.. Anda Akan Menyesal Tidak Sholat Berjama’ah Di Masjid


● Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah menerangkan,

Setiap ajaran Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam itu adalah petunjuk, cahaya dan syari’at dari Allah. Dan yang dimaksud dalam hadits adalah sholat yang lima waktu.

Sholat tersebut adalah bagian dari petunjuk Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam. Maka benarlah apa yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud. Bahkan sholat lima waktu adalah petunjuk terbesar setelah dua kalimat syahadat dalam rukun Islam..

(Syarh Riyadhus Sholihin, 5: 76).

● Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan  hafizhohullah mengatakan,

Seseorang yang meninggalkan sholat berjama’ah menunjukkan akan beratnya dia menjalankan sholat. Ini pertanda bahwa hatinya terdapat sifat kemunafikan. Untuk lepas dari sifat tersebut, marilah menjaga sholat berjama’ah..

(Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Maram, 3: 365)


🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/65530

•┈┈┈┈•⊰✿✿✿⊱•┈┈┈┈•

• Dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ ، فَإنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ في بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوبَةَ

Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baiknya shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib”.

(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781)


https://t.me/JadwaLKajianKaskus

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive