Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Wednesday, January 3, 2024

Mutiara Salaf : Tawadhu HANYA Karena Allah

Mutiara Salaf : Tawadhu HANYA Karena Allah
Bismillah...

🌴🌴🌴

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

ﻗﻮﻟﻪ -ﷺ:َ (ﻣَﺎ ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ)

ﻓﻠﻮ ﺗﻮﺍﺿﻊ ﻟﻴﺮﻓﻌﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺘﻮﺍﺿﻌﺎ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻘﺼﻮﺩﻩ ﺍﻟﺮﻓﻌﺔ ﻭﺫﻟﻚ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﺍﻟﺘﻮﺍﺿﻊ.

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

َﻣَﺎ ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, kecuali justru akan Allah tinggikan derajatnya..”

(HR. Muslim no. 2588)

🌴🌴🌴

Jadi seandainya seseorang bersikap tawadhu hanya bertujuan agar Allah Subhanahu wata’ala meninggikan derajatnya, maka dia bukan orang yang tawadhu. Sebab, sesungguhnya tujuan (dia) sebenarnya adalah ingin meraih ketinggian derajat, dan hal itu justru bertentangan dengan sifat tawadhu itu sendiri..”

(Al-Fatawa al-Kubro, jilid 2 hlm. 272)


======🌴🌴🌴🌴🌴======

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/65700

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, January 2, 2024

Beramal Shalih Namun Tidak Ikhlas

Beramal Shalih Namun Tidak Ikhlas
Bismillah...

Beramal shalih namun tidak ikhlas untuk mengharap wajah Allah semata, fatal akibatnya (Kisah 3 golongan yang pertama di hisab dan diadzab)

(Doing righteous deeds but not sincerely hoping only for God's face, the consequences are fatal (Story of the 3 first group to be counted and punished))

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

"Sesungguhnya orang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati karena istisyhad (mencari syahid) di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang ia dapatkan di dunia, lalu ia pun mengakuinya. Kemudian ditanya kepadanya : ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang untuk-Mu Ya Allah, sampai-sampai aku mencari syahid’. Allah berkata kepadanya : ‘Engkau dusta! Engkau berjihad supaya dikatakan seorang yang pemberani. Dan itu telah dikatakan orang-orang’. Kemudian diperintahkan para Malaikat untuk menyeret orang itu atas wajahnya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. Dan juga orang yang menuntut ilmu, ia juga mengajarkannya serta membaca Al Qur'an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya yang ia dapatkan di dunia, lalu ia pun mengakuinya. Kemudian Allah berkata kepadanya: ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, aku juga membaca Al Qur'an karena engkau ya Allah’. Allah pun berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar disebut ‘alim (orang yang berilmu), engkau membaca Al Qur'an supaya disebut qari’ (ahli membaca Al Qur'an), dan orang-orang telah mengatakannya’. Kemudian diperintahkan para Malaikat agar menyeretnya atas wajahnya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. Dan juga orang yang Allah berikan ia kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kenikmatan-kenikmatan yang ia dapatkan di dunia, lalu ia pun mengakuinya. Allah berkata kepadanya : ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan suatu jalan kebaikan kecuali saya ber-infaq di sana karena Engkau ya Allah’. Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau melakukan itu supaya disebut dermawan dan orang-orang telah mengatakan itu’. Kemudian diperintahkan para malaikat agar menyeretnya di atas wajahnya dan ia dilemparkan ke dalam neraka" (HR. Muslim no. 1905).

https://t.me/fawaid_kangaswad


The Messenger of Allah (prophet Mohammed), may God bless him and grant him peace, said:

"Indeed, the first person judged on the Day of Resurrection is the person who died because of istisyhad (seeking martyrdom) in the way of God. He was brought and shown to him the pleasures he got in the world, and he acknowledged them. Then he was asked: 'What do you do with those favors?' He replied: 'I fought for You, O Allah, until I sought martyrdom'. Allah said to him: 'You are a liar! You fight jihad to be called a brave person. And that has been said by people'. Then the Angels were ordered to drag that person on his face, then he was thrown into hell. And also the person who seeks knowledge, he also teaches it and reads the Qur'an. He is brought and shown to him the pleasures he gets in world, and he acknowledged it. Then God said to him: 'What are you doing with those blessings?' He replied: 'I seek knowledge and teach it, I also read the Qur'an because of you, O God.' God said: 'You lie! You seek knowledge to be called 'alim (knowledgeable person), you read the Qur'an to be called qari' (reciter of the Qur'an), and people have said it'. Then the Angels were ordered to drag him on his face and he was thrown into hell. And also the person whom God gave him ample sustenance and various kinds of possessions. He was brought and shown the pleasures he got in the world, then he acknowledged it. Allah said to him: 'What did you do with those blessings?' He replied: 'I never left a path of goodness except I spend there because of You, O Allah'. God said: 'You lie! You do that to be called philanthropic and people have said that'. Then the angels were ordered to drag him on his face and he was thrown into hell" (HR. Muslim no. 1905).

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Menikah Tanpa Masalah?

Menikah Tanpa Masalah
Bismillah...

Selama kita masih hidup di dunia, maka selama itu kita kan senantiasa menghadapi masalah demi masalah. Masalah itu hanya kan berakhir manakala seseorang sukses menjejakkan kakinya di surga.

Keberhasilan seseorang dalam mengarungi samudera kehidupan pasca pernikahan tidak pernah lepas asasnya adalah taufiq dari Allah semata, sebab ditanganNya segala kebaikan.

Sebaliknya segala kegagalan dalam menjalankannya juga buah dari ketentuan takdir yang tak dapat di elak, atau buah dari maksiat dan dosa dan tidak menjalankan printah Allah.

NIKAH, CERAI, DAN RUJU’

Masalah pernikahan,perceraian dan ruju adalah perkara yang ditoleransi dalam Islam selama tidak ada kesan saling menzalimi antara kedua belah pihak. Teorinya” pegang dan jaga baik-baik, atau lepaskan dengan baik-baik pula.

Nabi Ismail pernah menceraikan istrinya, Nabi Muhammad sempat menceraikan istrinya dan Allah suruh ruju' kembali, Az Zubair bin Awwam menceraikan istrinya, Zaid bin Haristah menceraikan istrinya dan tentunya masih banyak kasus-kasus percerain lainya yang tak mungkin dijelaskan semuanya.

Hidup ini tidak selalu sejalan dengan apa yang kita maui, karena kita diatur oleh Sang Pencipta bukan mengatur sendiri kehidupan kita.

IMAJINASI BURUK TENTANG PERCERAIAN

Banyak orang menganggap perceraian adalah kehancuran rumah tangga, kegagalan dalam hidup, bercerai-berainya anak-anak dst, padahal hakikatnya perceraian adalah solusi akhir terbaik yang harus dijalani kedua belah pihak bilamana keduanya tak dapat disatukan lagi. 

POLIGAMI MASALAH DAN MONOGAMI TANPA MASALAH?

Masalah tidak selalu identik dalam kehidupan berpoligami, dalam banyak kasus rumah tangga, ternyata yang monogami juga banyak yang bermasalah, gagal dan kandas ditengah jalan.

Kasus terbanyak perceraian yang ada di Peradilan Agama, ternyata kasus pernikahan monogami, namun herannya selalu saja perceraian dan kegagalan dalam poligami yang begitu di sorot dan diperhatikan, dicemooh, dihinakan, apalagi terjadi dengan tokoh publik. Targetnya jelas agar tidak ada yang namanya poligami, dihapus dalam lieterur Islam.

Pandangan ini tentunya tak lepas dari peran media, keberhasilan kaum liberal, sekuler yang selalu meng”goreng” agar syariat poligami ini menjadi momok yang menakutkan wanita, plus keinginan mereka ingin membangun citra bahwa Islam melecehkan wanita.  

Dampak doktrin agama ini bias pula kepada kaum muslimin, dibawa penjajah kaum kafirin dari Eropa nyebrang ke negeri-negeri Islam yang terjajah.

PERCERAIAN ADALAH SOLUSI AKHIR

Bilamana kaum Nashora yang merupakan ummat terbanyak di muka bumi ini dewasa ini, agama mereka mengutuk perceraian, mengharamkannya sehingga berdampak hancurnya kehidupan rumah tangga mereka yang sarat dengan perselisihan dan prahara dan tidak boleh bercerai selamanya hingga mati, berbeda dengan Islam yang menghalalkan perceraian bila mengandung maslahat besar daripada tidak berjalannya kehidupan rumah tangga dengan baik, tetapi tentulah dilakukan dengan cara yang baik-baik pula untuk menghindari kemudaratan.

Kita semua sepakat, akan ada yang menjadi menjadi korban kondisi ini, namun semua sudah menjadi ketentuan takdir Allah jua daripada kemudaratan berkumpulnya dua orang yang sudah beda visi misi ini hanya akan menambah parahnya masalah.

Karena itulah Allah subhanahu wa’ta’ala khusus menurunkan satu surat bernama surat “At-thalaq”. Agar kaum muslimin memilih jalan ini sebagai ikhtiar akhir bila semua jalan sudah buntu.

HUKUM ASAL CERAI

Hukum asal cerai adalah perkara yang tidak disukai agama kecuali bila benar-benar terbukti menjadi solusi akhir dari suatu rumah tangga. 

Kisah Iblis yang meletakkan singgasananya diatas air dalam hadis Jabir : Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya diatas air kemudian mengutus pasukannya. Prajurit yang kedudukannya paling dekat dengannya adalah prajurit yang paling besar kejahatannya. Seorang prajuritnya datang lalu berkata, "Aku sudah melakukan ini dan itu." Iblis berkata, "Engkau belum melakukan apa-apa." Nabi bersabda, "Lantas prajurit yang lain datang lalu berkata, "Aku tidak meninggalkan (manusia) sampai aku memisahkan antara dia dengan istrinya." Nabi bersabda, "Selanjutnya iblis mendekatkan prajurit itu kepada dirinya dan berkata, "Ya, engkau telah melakukannya." Al-A'masy berkata, "Aku mengira beliau bersabda, "Lantas Iblis mendekapnya”.

Ini menunjukkan perceraian suami istri itu adalah target iblis untuk menghancurkan rumah tangga kaum muslimin, karena akan tecerai berai keluarga tersebut, akan terjadi perebutan harta, anak-anak, pertikaian antara dua keluarga dst.

Karena itulah Islam menganjurkan agar mereka berdamai, sebagaimana kata Allah :” damai itu lebih baik” (An nisa:128)

SUAMI DITUNTUT BANYAK BERSABAR

Untuk menjaga keutuhan keluarga maka Allah menganjurkan agar suami banyak toleransi, memaafkan dan melupakan aib istrinya.

Allah berfirman:”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (At Thaghabun:14).

TIADA MANTAN ANAK

Bilamana ada istilah mantan istri, mantan suami, maka dalam Islam tiada mantan anak, karena anak tetap kan menjadi anak selama lamanya. 

Artinya bilama terjadi percerain dan pemutusana hubungan antara suami istri, menjadi orang asing, tapi tidak dengan anak. oleh karena itulah anak akan tetap mendapatkan hak-haknya dari ayah berupa nafkah dan kebutuhan mereka selama belum dewasa dan mampu berdiri sendiri, dan tetap dapat perhatian dari ibu.

SEMUA TERPULANG PADA TAKDIR

Akhirnya kita harus mengakui bahwa rumah tangga yang kita bina, bagian dari ketentuan takdir Allah, apapun upaya hamba dengan maksimal bilaman sudah ditakdirkan harus berpisah pasti kan berpisah, sebaliknya bila ditakdirkan untuk selalu bersatu, kan bersatu hingga di alam akhirat dan di taman-taman syurga.

Kewajiban hamba adalah ikhtiar mencari solusi terbaik agar biduk yang mereka telah layarkan sampai jua di pulau idaman, meski terkadang angin dan ombak datang menerpa, badai dan cuaca tidak bersahabat.

Semua solusi dalam syariat lengkap, tinggal adanya tekad dan keinginan kuat untuk menjadikannya pedoman dalam segala langkah hidup.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid09yZMY6BqboEu6AZdu9yfB9rU9m6XMSWmH1CYsKXqsnmfPHEFZ2ZdRuEhQicvd6xol&id=100001105385773

———-


KLIA, 20 Jumadis Tsani 1445/2 Jan 2024

Abu Fairuz Ahmad Ridwan My

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Barang Siapa Yang Allah Kehendaki Kebaikan

Barang Siapa Yang Allah Kehendaki Kebaikan
Bismillah...

َ  عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ يَقُولُ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَاللَّهُ الْمُعْطِي وَأَنَا الْقَاسِمُ وَلَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

Dari Humaid bin 'Abdur Rahman bahwa dia mendengar Mu'awiyah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan pahamkan orang itu dalam urusan agama.. 

Allah adalah Yang Maha Pemberi sedangkan aku Al-Qasim (yang membagi-bagi) dan akan senantiasa umat ini menang atas orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang urusan Allah, sedang mereka berjaya (dengan kemenangan)".

(HR. Shahih Bukhari no. 3116, Fathul Bari)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Rasulullah ﷺ bersabda, 

"Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Dia akan mengujinya".

(HR. Shahih Bukhari no. 5645, Fathul Bari)

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ قَالَ 

سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ يَخْطُبُ قَالَ

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَيُعْطِي اللَّهُ وَلَنْ يَزَالَ أَمْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُسْتَقِيمًا حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ أَوْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Dari Ibn Syihab, telah mengabarkan kepadaku Humaid berkata, aku mendengar Mu'awiyah bin Abu Sufyan berpidato dengan berkata, "Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, 

"Barang siapa yang Allah kehendaki menjadi kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai terhadap urusan agamanya, sesungguhnya aku membagi sedang Allah Sang pemberi, dan keadaan umat ini akan terus senantiasa lurus hingga kiamat tiba". (atau dengan redaksi) "Hingga keputusan Allah tiba."

(HR. Shahih Bukhari no. 7312, Fathul Bari)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Beda Antara Bersegera dan Tergesa-gesa

Beda Antara Bersegera dan Tergesa-gesa
Bismillah...

Bersegera dalam kebaikan itu baik.

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

بَادِرُوا بالأعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

"Bersegeralah untuk beramal (shalih) sebelum datangnya fitnah yang samar seperti potongan malam gelap. Sehingga seseorang di pagi hari masih beriman dan sore hari sudah kafir. Di sore hari masih beriman namun di pagi hari sudah kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan harta dunia" (HR. Muslim no.118).

Di sisi lain, sikap tergesa-gesa itu dari setan.

Dari Anas bin Malik radhiallahu'ahu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

التَّأنِّي من اللهِ و العجَلَةُ من الشيطانِ

Berhati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari setan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra [20270], Silsilah Ash Shahihah no. 1795).

Bagaimana membedakan bersegera dengan tergesa-gesa? 

Tergesa-gesa itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya.

Al Munawi menjelaskan:

العجلة فعل الشيء قبيل مجيء وقته

"Tergesa-gesa itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya" (Faidhul Qadir, 6/72).

Tergesa-gesa juga jika melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan dengan seksama terlebih dahulu.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan:

يأخذ الإنسان الأمور بظاهرها فيتعجَّل ويحْكُم على الشَّيء قبل أن يتأنَّى فيه وينظر

"Tergesa-gesa adalah seseorang mengambil lahiriyah dari sesuatu semata dan menghukumi sesuatu sebelum berhati-hati menilainya dan sebelum memperhatikan dengan seksama" (Syarah Riyadhis Shalihin, 3/573).

Maka bersegera dalam kebaikan yang dipuji adalah jika melakukannya pada waktunya yang tepat dan didahului dengan kehatian-hatian dan memperhatikan dengan seksama. 

Wallahu a'lam.


https://t.me/fawaid_kangaswad

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, January 1, 2024

Hati (muslim) yang Condong Rindu ke Baitullah

Hati (Muslim) yang Condong Rindu ke Baitullah
Bismillah...

Kota Makkah merupakan sebaik-baiknya tempat dan merupakan kota yang paling dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Hal ini sebagaimana yg beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Demi Allah, sungguh Engkau adalah sebaik-baik bumi Allah, dan yang paling dicintai olehNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu).” (HR At-Tirmizi, 3925)

Allah Ta’ala menjadikan hati umat Islam untuk condong dan cenderung ingin kembali ke Masjidil Haram (Baitullah) yang berada di Makkah.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pernah berdoa (yang diabadikan didalam Al-Quran):

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim [14]: 37)

Sangat ironis, tatkala seorang muslim bisa traveling ke penjuru dunia tapi tidak pernah menyempatkan diri untuk ziarah ke Baitullah. 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang hatinya dicondongkan oleh Allah Ta’ala untuk rindu bisa berkunjung ke Baitullah.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02NExADozVjCmZRTwmWUvf8tkdhnKLz2x3CfLAyLFyhPgDwZ3n6sERdWMz9NQ3khvyl&id=1792235719

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Mutiara Salaf : Mintalah Hidayah HANYA Kepada Allah

Mutiara Salaf : Mintalah Hidayah HANYA Kepada Allah
Bismillah...

🌴🌴🌴

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rohimahullah berkata,

ومن حكمة الرب تعالى في عدم هداية أبي طالب إلى الإسلام ليبين عباده أن ذلك إليه، وهو القادر عليه دون من سواه

Diantara hikmah Allah tidak memberi hidayah kepada Abu Thalib untuk masuk Islam adalah Allah hendak menjelaskan kepada para hamba-Nya bahwa hidayah hanya kembali kepada-Nya.

Allah lah yang Mahakuasa memberi hidayah, bukan selain-Nya.

🌴🌴🌴

فلو كان عند النبي -الذي هو أفضل خلقه- من هداية القلوب وتفريج الكروب ومغفرة الذنوب والنجاة من العذاب ونحو ذلك شيء، لكان أحق الناس بذلك وأولاهم به عمه الذي كان يحوطه ويحميه وينصره ويؤويه

Seandainya Nabi -yang merupakan makhluk Allah yang paling utama- memiliki sedikit kekuasaan untuk :

▶️ memberi hidayah

▶️ menghilangkan kesulitan

▶️ mengampuni dosa, dan

▶️ menyelamatkan seseorang dari adzab

niscaya yang berhak mendapatkan itu semua adalah pamannya. Paman beliaulah yang melindungi, menjaga, membantu, dan mendukung beliau (dan dakwahnya).

🌴🌴🌴

فسبحان من بهرت حكمته العقول، وأرشدت العباد إلى ما يدلهم على معرفته وتوحيده، وإخلاص العمل له وتجريده

Mahasuci Allah, Yang hikmah-Nya menyinari akal manusia, Yang memberi petunjuk kepada para hamba-Nya untuk mengenal, bertauhid, dan mengikhlaskan amal hanya kepada-Nya..

(Fathul Majid – hlm. 223-224)

=====🌴🌴🌴🌴🌴=====

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي

وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).”

Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” [HR. Muslim, no. 2725]

Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ

Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Shahih Al-Jami’, no. 3046)


=====🌴🌴🌴🌴🌴=====

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/65656

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive