Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Thursday, October 27, 2022

Perbanyaklah Berdo'a Kepada Allah Azza Wa Jalla

Perbanyaklah Berdo'a Kepada Allah Azza Wa Jalla
Bismillah...

Perbanyaklah berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla agar selalu diberi hidayah dan petunjuk untuk dipahami ilmu dan ditambahkan ilmu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ٨٣ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ٨٤ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ٨٥

Rabbi Hab Lī Ḥukmaw Wa Al Ḥiqnī Biṣ-Ṣhāliḥīn, Waj'al Lī Lisāna Ṣidqin Fil-Ākhirīn, Waj'alnī Miw Waraṡati Jannatin-Na'īm

Ya Rabbku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan

- QS Asy Syu’ara [26] : 83-85

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا ١١٤

Rabbi Zidnī 'Ilmā

Ya Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku

- QS Thaha [20] : 114

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al 'Ala : telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dia berkata : aku mendengar 'Ashim bin Kulaib dari Abu Burdah dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda kepada saya : Hai Ali, ucapkanlah doa,

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

Allahummaadinii Wasaddidnii Wadzkur Bilhudaa Hidaayah Ath Thariiqa Wassadaadi Sadaad As Sahmi

Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku Berilah aku jalan yang lurus Jadikan petunjuk-Mu sebagai jalanku dan kelurusan hidupku selurus anak panah”.

- HR Muslim no 4904 | Syarh Shahih Muslim no 2725

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib : telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair, dari Musa bin 'Ubaidah, dari Muhammad bin Tsabit dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (berdoa),

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا

Allahumman Fa'nii Bimaa 'Allamtanii Wa 'Allimnii Maa Yanfa'unii Wa Zidnii 'Ilma

Ya Allah! Berilah manfaat terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadaku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah kepadaku ilmu”.

- HR Tirmidzi no 3523 | no 3599 dan Ibnu Majah no 247, 3823 | no 251, 3833 Lafazh dan sanad di atas milik Tirmidzi


https://wwwfacebookcom/100081182600047/posts/pfbid02kboBnCeq1uP9Ys9jqoznm7snZymbnzqej464TrG4peQzC5ag1Us86XQonDVj3Y2Al/

Atha bin Yussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Wednesday, October 26, 2022

Bersegeralah (Beramal Shalih)

Bismillah...

Sebagian orang, dalam beramal kebaikan, selalu ditunda-tunda. Mereka katakan, "Nanti-nanti, sebentar-sebentar, masih ada waktu, tanggung nih belum selesai", akhirnya ajal datang menjemputnya, barulah mereka menyesal. 

Ketahuilah, ajal itu datang tidak bisa ditunda-tunda, tidak bisa nanti-nanti, tidak bisa sebentar lagi dan tidak bisa nunggu-nunggu. 

Allah Ta'ala berfirman, 

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah tidak akan sama sekali menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya... (Al-Munafiqun: 11). 

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

أي : لا ينظر أحدا بعد حلول أجله 

Yakni tidak memberi tangguh kepada seorang pun bila telah datang saat ajalnya. (Tafsir Ibnu Katsir). 

Berkata Abu Darda Radhiyallahu Anhu, 

ذَكَرْنَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزِّيَادَةَ فِي الْعُمْرِ فَقَالَ: " إِنَّ اللَّهَ لَا يُؤَخِّرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجْلُهَا، وَإِنَّمَا الزِّيَادَةُ فِي الْعُمْرِ أَنْ يَرْزُقَ اللَّهُ العبدَ ذُرية صَالِحَةً يَدْعُونَ لَهُ، فَيَلْحَقُهُ دُعَاؤُهُمْ فِي قَبْرِهِ" أخرجه ابن أبي حاتم كما في "تفسير ابن كثير" (3/ 550) 

Bahwa kami membincangkan tentang penambahan usia di hadapan Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam Maka beliau Shalallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan menangguhkan usia seseorang apabila telah tiba saat ajalnya. Sesungguhnya penambahan usia itu hanyalah bila Allah memberi kepada seseorang hamba keturunan yang saleh yang mendoakan untuknya, maka doa mereka sampai kepadanya di alam kuburnya." (Ibnu Abi Hatim - Tafsir Ibnu Katsir). 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).

Oleh karena itu bersegeralah dalam beramal kebaikan, jangan sampai ajal mendahului sedangkan amal kebaikan belum pula dikerjakan. 

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah, 

 فبادر هذا، لأنك لا تدري ربما تموت وأنت تخاطب أهلك، 

Maka bergegaslah ini (dalam beramal), karena sesungguhnya kamu tidak tahu, boleh jadi kamu mati dan kamu sedang berbincang-bincang dengan keluargamu

أو تموت وأنت على فراشك، أو تموت وأنت على غدائك، أو تموت وأنت في سيارتك، أو في سفرك، إذاً فبادر!

Atau kamu mati dan kamu di atas kasurmu. Atau kamu mati dan kamu selagi makan siang. Atau kamu mati dan kamu di dalam mobilmu. Atau kamu ketika safar. Jika demikian, maka bergegaslah (untuk beramal). Syarah Riyadhush Shalihin (2/290)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid022RP5aEqQcGXviUiWqFVUqFGzA5vMtYCJc7Pr3reqSZUT9zidwA6qjPzPvB6VWGHjl&id=100009878282155

AFM

https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2022/10/bersegeralah.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Setelah Salam Imam Atau Makmum Dulu yang Meninggalkan Tempat?

Bismillah...

Pertanyaan: 

Apakah yang paling utama bagi imam adalah pergi setelah shalat langsung ataukah menunggu sedikit?

Jawaban: 

Yang lebih utama bagi imam adalah tetap menghadap kiblat dengan kadar waktu untuk istighfar tiga kali dan mengucapkan :

اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

kemudian ia menghadap ke makmum. (HR Muslim 591)

Adapun kapan boleh meninggalkan tempat? Maka perlu diperhatikan, jika seandainya ia berdiri dan melangkahi pundak-pundak makmum maka yang lebih utama adalah tetap di tempatnya sampai menemukan kelonggaran untuk pergi, namun jika tidak demikian, maka ia boleh meninggalkan tempat kapanpun.

Adapun untuk makmum, yang lebih utama adalah tidak meninggalkan tempat sebelum imam, berdasarkan sabda Nabi “Kalian mendahuluiku meninggalkan tempat”. Akan tetapi jika imam duduk lama menghadap kiblat lebih dari melakukan amalan yang sunnah maka makmum boleh segera meninggalkan tempatnya. (Fatwa al-Utsaimin)


https://firanda.com/9711-setelah-salam-imam-atau-makmum-dulu-yang-meninggalkan-tempat.html

Selengkapnya : https://bekalislam.firanda.com/panduan-tata-cara-sholat-lengkap

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Keutamaan Memuji Allah Tatkala Sedang Sakit

Bismillah...

🌴🌴🌴

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إذا مرِض العبدُ بعث اللهُ إليه ملكين فقال: انظرا ما يقولُ لعوَّادِه؟ فإنْ هو إذا جاءوه حمِد اللهَ وأثنى عليه رفعَا ذلك إلى اللهِ وهو أعلمُ

Apabila seorang hamba sakit, Allah mengutus kepadanya dua malaikat. Allah berfirman kepada keduanya, “Lihatlah oleh kalian berdua, apa yang dikatakan hamba-Ku kepada para penjenguknya..

Ketika penjenguknya datang, dia (hamba yang sakit tsb) memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kedua malaikat itu mengangkat perkara tersebut kepada Allah dan Allah lebih mengetahuinya.

Allah Ta’ala berfirman,

لعبدي عليَّ أنْ أدخلَه الجنَّةَ وإن أنا شفيتُه أنْ أبدلَه لحمًا خيرًا من لحمِه وأنْ أُكفرَ عنه سيئاتِه.

Jika Aku wafatkan hamba-Ku tersebut, wajib bagi-Ku untuk memasukkannya ke dalam surga. Namun, bila Aku menyembuhkannya, Aku akan gantikan untuknya daging yang lebih baik daripada dagingnya, darah yang lebih baik daripada darahnya, dan Aku hapuskan darinya kesalahan-kesalahannya..”

● HR. Imam Malik dalam al-Mawaththo dan al-Mundziri dalam at-Targhiib wat Tarhiib, Syaikh Al-Albani mengatakan hadits hasan lighoyrihi dalam Shohih at-Targhiib no. 3431

[ ‘Uddatush Shoobirin, hal.125]


🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/59743

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, October 25, 2022

Bekalilah Dirimu Wahai Musafir!

Bismillah...

Setiap kali hati tergerak mencintai dunia dan berambisi kepadanya maka ingatlah dunia begitu cepat sirna dan setelah itu hanya menyisakan duka dan penyesalan tiada akhir.

Allah mengumpamakan dunia ibarat hujan yang begitu lama dinantikan oleh para petani, kemudian menumbuhkan tanaman yang mengagumkan mereka, tidak lama berselang tanaman itu menjadi kering, lalu menguning dan hancur diterpa angin.

Allah ta'ala berfirman, 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan saling berbangga-bangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam memperbanyak harta dan keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang pedih serta ada ampunan Allah dan keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia ini hakikatnya tiada lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Akhirat adalah akhir tujuan perjalanan seorang mukmin, negeri yang kekal, surga yang di dalamnya tidak ada kepayahan, mengalir di bawahnya sungai-sungai, bebatuannya dari mutiara dan tanahnya dari kasturi.

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (107) وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108)

Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Huud: 106-108)

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ ، وَ أَهْلُ النَّارِ النَّارَ ، ثُمَّ يَقُومُ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ يَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ ، وَيَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ ، خُلُودٌ

Jika penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka telah memasuki neraka, kemudian seseorang akan meneriaki di antara mereka, “Wahai penduduk neraka, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Wahai penduduk surga, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Kalian akan kekal di dalamnya. (HR. Bukhari no. 6544 dan Muslim no. 2850).

Allah berfirman tentang penduduk surga,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ (34) الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

Para ahli surga berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri. ( ) Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. Fathir: 34 – 35)

Di ayat yang lain, Allah juga menegaskan,

لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ

Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari surga” (QS. Al-Hijr: 48).

Adapun dunia, maka seorang mukmin menempatkan dirinya seperti musafir yang tinggal bukan di negeri asalnya, berlalu darinya satu perjalanan menuju perjalanan lain, dan sebaik-sebaik bekal perjalanannya adalah takwa.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun telah mengingatkan,

مَا لِي وَللِدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Apa urusanku dengan dunia? Keberadaanku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon, kemudian meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim; Shahihul Jami’ ash-Shagir wa Ziyadatuhu, no. 5669)


https://www.facebook.com/100001764454087/posts/pfbid02wpaaUfUjLBMMGcY7RrVqU38Xhv4963G7Gm8yyp7H6fvDmTGL1LRutBnqESdsrCYgl/

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kenikmatan dan Kebenaran (Ada Jasad Yang Hasad)

Bismillah...

Ketika seseorang diberikan kenikmatan, mungkin berupa keluarga yang harmonis, isteri yang cantik, anak-anak yang sukses, jabatan yang tinggi, penghasilan yang besar, rumah yang indah, mobil yang mewah dan kenikmatan lainnya, pasti tidak semua manusia senang melihatnya, senantiasa ada saja orang yang hasad atau dengki padanya. 

Orang yang membawa dan menyampaikan kebenaran mesti ada yang menentang, mengingkari atau memusuhinya. Itu sudah sunnatullah. Kalau menyampaikan kebenaran tidak ada yang menentang, mengingkari atau memusuhinya, jangan-jangan bukan kebenaran yang dibawa dan disampaikan, tetapi pembenaran. 

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, 

لا بد لكلِّ نعمة مِن حاسد، ولكلِّ حقٍّ مِن جاحدٍ ومعاند

Setiap kenikmatan mesti ada orang yang hasad dan setiap kebenaran mesti ada yang mengingkari dan menentang. (Miftah Daaris Sa’adah, jilid 1 hlm. 216). 

Oleh karena itu, orang yang diberi kenikmatan dan orang yang menyampaikan kebenaran, hendaklah senantiasa berdoa meminta perlindungan kepada Allah Ta'ala dari kejahatan-kejahatan makhlukNya. 

Allah Ta'ala berfirman, 

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad.” (Surah Al Falaq 1-5).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan doa berlindung dari kejahatan makhluk, 

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang Dia ciptakan. (HR. Muslim) 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0iMWY8QWm4dFsjHDca26gWQeczLYbnk25dwh3yAVZupfHkYHbB5yEnpfRTsA1Yp9Vl&id=100009878282155

AFM

https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2022/10/kenikmatan-dan-kebenaran.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Mutiara Salaf : Lebih Berat Dari Dosa Besar

Bismillah...

🌴🌴🌴

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

الرِيَاءُ ، والعُجبُّ ، والكِبرُ ، والفَخرُ ، والخُيَلاءُ ، والقُنوطُ مِن رَحمةِ اللهِ ، واليَأسُ مِن رُوحِ اللهِ ، والأمنُ مِن مَكرِ اللهِ ، والفَرحُ والسرُورُ بِأذَى المُسلمِين ، والشَمَاتةُ بِمُصِيبَتِهم ، ومَحبَةُ أن تَشِيعَ الفَاحِشَةَ فِيهم ، وحَسدُهم عَلى مَا آتاهُم اللهُ مِن فَضلهِ ، وتَمنِي زَوالُ ذلِكَ عَنهُم أشدُّ تَحرِيمًا مِن الزِنَا ، وشُربِّ الخَمرِ ، وغَيرُهمَا مِن الكَبَائِر الظَاهِرَة ، ولا صَلاحُ للقَلب ، ولا للجَسَدِ إلا بِاجتنَابِهَا ، والتَوبَةُ مِنهَا ؛ وإلا فَهو قَلبٌ فَاسِد .

Riya, ujub, sombong, angkuh, putus asa dari rahmat Allah, merasa aman dari makar Allah, gembira dengan menyakiti kaum muslimin, senang ketika kaum muslimin ditimpa musibah, merasa suka perbuatan maksiat tersebar pada kaum muslimin, dengki kepada nikmat yang diberikan kepada kaum muslimin dan berharap nikmat itu hilang dari mereka lebih haram dari dosa zina, minum arak dan dosa-dosa besar lainnya yang tampak..

🌴🌴🌴

Hati dan jasad tidak mungkin menjadi lurus kecuali dengan menjauhinya dan bertaubat darinya. Jika tidak maka hatinya rusak..

[ Madaarijus Saalikin 402/1 ]

Allah Ta’ala berfirman,

 وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87)

Allah Ta’ala berfirman,

اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ

Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 99)

قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ

Dia (Ibrahim) berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 56)


🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/59669


Diterjemahkan oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive