Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Friday, October 28, 2022

Al-Qur'an Terpelihara dari Kerancuan

Al-Qur'an Terpelihara dari Kerancuan
Bismillah...

Allah ta'ala berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikan didalamnya 'iwaj (kebengkokan)." (Al-Kahf: 1)

Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari menjelaskan, 

"Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah mengutus Nabi-Nya Muhammad ﷺ untuk menyampaikan risalah-Nya dan menurunkan kepadanya Al-Qur'an sebagai petunjuk yang lurus yang tiada kebengkokan di dalamnya.

Ibnu Abbas rodhiyallahu 'anhuma berkata yang dimaksud 'iwaj (kebengkokan) adalah kerancuan, Allah tidak menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an mengandung kerancuan."

(Jami'ul Bayan 8/173-174)

Al-Qur'an kitab paling sempurna dari segala sisinya, memuat kabar gembira dan peringatan, keadilan dan keseimbangan, dan tidak mengandung ucapan dusta dan sia-sia. 

Diturunkannya Al-Qur'an adalah kenikmatan yang besar yang patut kita syukuri dengan selalu membacanya dan mentadabburinya. Karena di dalamnya ada keberuntungan yang besar, membersihkan hati, mensucikan jiwa.

Adapun bagi orang-orang yang zalim maka tidaklah menambah kepadanya selain kerugian.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02hsSfaoZpZUraskgsquU4wpnaL55ML2bBJH7gfHq3NQRcZ2UjyLwWZ6gSuCyigYY9l&id=100001764454087

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

11 Pertanyaan Seputar Perayaan Maulid Nabi

11 Pertanyaan Seputar Perayaan Maulid Nabi
Bismillah...

Ijma ulama dan MUI indonesia telah menetapkan bahwasanya syiah bukanlah islam. lantas apa kaitannya dengan maulid Nabi?, kita kaum muslimin hanya memiliki 2 perayaan yaitu idul fitri dan idul adha. Lantas adakah maulid Nabi masuk dalam perayaan islam?.

Banyaknya mucul perayaan termasuk maulid Nabi berawal dari kerajaan fatimiyyah yang beraqidah syiah.

Tidaklah pantas seorang muslim mengatakan kepada saudaranya yang tidak merayakan maulid disebut “wahabi”, apa yang salah dengan dakwah syeikh muhammad bin abdil wahhab at-tamimi ?

Wahai saudaraku sesama muslim, renungi 11 pertanyaan dibawah ini, jika antum memang cinta Nabi, tentu antum akan mengutamakan mengamalkan apa yang Beliau perintahkan dari pada membela mati-matian dan ikut merayakan maulid yang tidak ada tuntunan dari Beliau shallahu alahi wasallam

1. Berapa kali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam merayakan hari kelahirannya/mengadakan acara maulid Nabi?

2. Berapa kali Keluarga Nabi dan Khulafa' Rasyidin (Abu Bakr, Umar, Usman dan Ali) melaksanakan acara maulid Nabi?

3. Dimanakah pertama kali para sahabat Nabi -radhiyallahu 'anhum- melaksanakan maulid Nabi? Dan kapan? Harap sebutkan dalilnya!

4. Nasyid apakah yang selalu disenandungkan oleh para sahabat dalam acara maulid Nabi?

5. Apakah Para Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in seperti Imam Syafii dan lainnya juga melaksanakan maulid Nabi?

6. Apa perbedaan antara peringatan maulid nabi dan acara natal yang dilaksanakan oleh kaum nasrani sebagai peringatan kelahiran Isa (sebagaimana yang mereka klaim)? Apakah di acara maulid nabi dan acara natal di gereja ada acara bernyanyi?

7. Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengetahui keutamaan merayakan hari kelahirannya? atau Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sebenarnya mengetahuinya tapi beliau tidak menyampaikan kepada kita? Mungkinkah itu?

8. Jika Khulafa' Rasyidin dan para sahabat lainnya tidak pernah melakukannya, apakah karena mereka tahu hukumnya atau tidak mengetahui hukumnya?

9. Jika Khulafa' Rasyidin dan para sahabat lainnya mengetahui hukumnya tapi mereka tidak mengerjakannya, apakah karena mereka tidak mencintai Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam?

10. Pada abad keberapa diadakan maulid Nabi & siapakah pencetus perayaan ini, apakah shalahuddin al-ayyubi atau raja fatimiyyah yang beraqidah syiah?

11. Adakah hadits shohih tentang keutamaan merayakan maulid nabi?

Jika anda tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, kalau begitu dari mana anda dapatkan amalan yang baru ini (Maulid Nabi), yang tak pernah dikerjakan oleh Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak pula Khulafa' Rasyidin, dan tidak pula para sahabat???!!! Atau anda lebih tahu dari mereka???!!! Karena agama Islam ialah apa-apa yang diajarkan oleh Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam dan diamalkan oleh para sahabatnya radhiyallohu 'anhum.

Demikian beberapa pertanyaan ini diutarakan, semoga ini lebih memantapkan kita untuk berilmu sebelum beramal. Memang sulit meninggalkan sesuatu yang telah lama kita jalani, namun adanya kemauan, insyaa Allah, Allah akan mudahkan jalan.

Mari....berdiri diatas tauhid, hidupkan sunnah Nabi semampu kita. Salam ukhwah islamiyyah


Pertanyaan 1-9 ini dikutip dari :ust muhammad elvi syam

© 11 pertanyaan seputar perayaan maulid Nabi ?

Selengkapnya: https://www.dakwahpost.com/2014/01/11-pertanyaan-seputar-perayaan-maulid.html?m=1


Kamis 27 Oktober 2022 Masehi | 1 Rabiul Tsani 1444 Hijriah   

By dakwahpost.com at 2/01/2014

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Berlindunglah Dari Da'i-da'i Penyeru Neraka Jahannam

Berlindunglah Dari Da'i-da'i Penyeru Neraka Jahannam
Bismillah...

Syubhat memang samar bagi penuntut 'ilmu, tapi tidak kepada ahli 'ilmu (para 'ulama).

Merekalah para da'i yang mengajak kepada Neraka Jahannam dengan membawa kesesatan dan penyimpangan di dalam Islam berupa syirik, bid'ah dan lain-lainnya

Da'i penyeru ke neraka jahannam

Dari Hudzaifah bin al-Yamaan رضي الله تعالىٰ عنه berkata,

"Orang-orang (para Shahabat) bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang (perkara) kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau ﷺ tentang (perkara) kejelekan (keburukan), khawatir kejelekan tersebut menghampiri (menimpaku)."

Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejahiliyahan dan kejelekan (keburukan), kemudian Allah سبحانه و تعالىٰ mendatangkan kebaikan kepada kami, lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?"

Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya."

Aku bertanya, "Apakah setelah keburukan tersebut ada kebaikan?"

Beliau ﷺ menjawab, "Ya, tapi didalamnya ada asap (kekeruhan)."

Aku bertanya, "Apa kekeruhan itu?"

Beliau ﷺ menjawab, "Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku (berbuat bid'ah), dan memberi petunjuk bukan dengan petunjukku. Engkau mengetahui mereka dan engkau mengingkarinya."

Lalu aku bertanya, "Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan?"

Beliau ﷺ menjawab, "Ya, akan muncul para da'i-da'i ('ulamaa penyeru) yang menyeru ke Neraka Jahannam, siapa yang menjawab (mengikuti) seruan (ajakannya) maka mereka akan melemparkan orang itu ke dalamnya."

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, terangkan ciri-ciri (sifat-sifat) mereka kepada kami."

Beliau ﷺ menjawab, "Ya (mereka adalah) suatu kaum yang kulit mereka sama dengan kulit (kaum kita) dan mereka berbicara dengan bahasa kita."

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai hal itu?"

Beliau ﷺ menjawab, "Engkau harus tetap komitmen (istiqomah) terhadap jama'ah kaum muslimin dan imam mereka."


By.Dakwah post.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Allah Yang "Membeli"

Allah Yang "Membeli"
Bismillah...

Menggunakan hitung-hitungan yang rasional dalam dunia bisnis, tentu menjadi hal yang penting untuk menunjang keberlangsungan usaha seseorang. Sebab selain secara logika, bisnis itu harus untung, agama kita juga mengajarkan kita menghitung, menganalisa sebab akibat dan menimbang maslahat dan mafsadat.

Tetapi kalkulasi matematis tidak selalu menjadi acuan dalam bertransaksi dan melakukan deal-deal bisnis. Ada kalanya kita menyediakan ruang untuk tidak untung secara finansial atau bahkan rugi, namun hakikatnya kita untung dengan benefit yang berbeda. Bahkan, keuntungan seperti ini seringkali berlipat-lipat dibandingkan kalkulasi kita secara matematis dalam transaksi yang normal.

Katakanlah, sebagai pedagang buku, saya menjual satu produk kitab kepada seorang ustadz dengan harga HPP atau bahkan di bawah itu. Maka tentu hitungan matematisnya saya rugi dong. Tapi ada suatu kebahagiaan tersendiri yang disisipkan oleh Allah di dalam hati ketika kita dapat membuat orang lain bahagia. Nah, itulah yang disebut BERKAH. Sampai di sini nikmatnya sudah begitu terasa. Belum lagi jika kostumer tersebut melirihkan doanya sambil berucap Barokallahu lakum, maka pada detik-detik setelah itu berlipat benefit akan Allah hadirkan dari jalur yang lainnya.

Dalam Sirah Nabawiyah, ada satu episode ketika kata berkah ini terucap dari sosok lelaki yang belum lagi beriman ketika itu, al-Harits bin Abd al-'Izz, suami dari Halimah as-Sa'diyyah. Ibnu Ishaq meriwayatkan kisah yang panjang bagaimana Halimah beserta rombongannya datang ke Mekkah untuk menjual jasa penyusuan untuk bayi-bayi Mekah. Saat itu musim paceklik, tak ada tanaman yg tampak hijau di desa mereka. Ternak-ternak kurus kering tanpa setetes susu yang dapat diperah. Bahkan selama berada di mekah pun, Halimah dan suaminya dibuat tidak dapat tidur oleh bayinya yang tidak henti-henti menangis karena kekurangan ASI.

Setelah beberapa hari di Mekah, semua perempuan yang datang bersama Halimah, sudah mendapatkan bayi yang akan dibawa pulang untuk disusui dengan imbalan yang sudah disepakati dengan orang tua mereka, kecuali Halimah. Sampai rombongan akan berangkat, dia belum kunjung mendapatkan sesosok bayi yang akan dibawa pulang ke Bani Saad. 

Akhirnya, dia terpikir untuk membawa bayi yatim bernama Muhammad. Bayi yang oleh perempuan-perempuan lain ditolak karena mereka berpikir tidak ada keuntungan finansial yang akan mereka dapatkan dari menyusui bayi yatim itu. Halimah berkata kepada suaminya, "Demi Allah, saya tidak mau pulang bersama rombongan tanpa membawa bayi susuan. Bagaimanapun, saya akan bawa bayi yatim itu" Suaminya menimpali, "Tak mengapa engkau ambil saja bayi itu. Siapa tahu Allah menghadirkan BERKAH buat kita padanya."

Begitu bayi mulia itu berada dalam dekapan Halimah, keberkahan itu mulai terasa. Air susunya mulai keluar deras. Begitu juga dengan hewan ternak mereka, berisi dan melimpah susunya. Kendaraan mereka yang awalnya berjalan tertatih-tatih, berubah gesit dan melaju kencang. Kampung halaman mereka yang tadinya tandus, dengan kehadiran Muhammad saw menjadi hijau. Itulah berkah. Selain ia adalah karena sosok mulia yang kelak diangkat menjadi Nabi, ia juga hadir karena harapan luhur bahwa Allah lah yang akan "membeli".


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02zmpgTPTkNaFz9hVA6Xnm2SFpLosYHnYd6Wc17USHQQVc7wT8VtXK1PtPP1Gd5N1Zl&id=1043963826

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Tiga Prinsip Kaidah Seorang Muslim

Tiga Prinsip Kaidah Seorang Muslim
Bismillah...

Para ulama sering menjelaskan tiga prinsip akidah yang harus jadi pegangan setiap muslim. Jika prinsip ini dipegang, barulah ia disebut muslim sejati.

Para ulama mengatakan, Islam adalah:

الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله

Berserah diri pada Allah dengan mentauhidkan-Nya, patuh kepada-Nya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik.

Prinsip pertama: Berserah diri pada Allah dengan bertauhid

Maksud prinsip ini adalah beribadah murni kepada Allah semata, tidak pada yang lainnya. Siapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka ia termasuk orang-orang yang sombong. Begitu pula orang yang berserah diri pada Allah juga pada selain-Nya (artinya: Allah itu diduakan dalam ibadah), maka ia disebut musyrik. Yang berserah diri pada Allah semata, itulah yang disebut muwahhid (ahli tauhid).

Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Sesembahan itu beraneka ragam, orang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31).

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).

Dalam ayat lain, Allah menyebutkan mengenai Islam sebagai agama yang lurus,

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40). Inilah yang disebut Islam. Sedangkan yang berbuat syirik dan inginnya melestarikan syirik atas nama tradisi, tentu saja tidak berprinsip seperti ajaran Islam yang dituntunkan.

Prinsip kedua: Taat kepada Allah dengan melakukan ketaatan

Orang yang bertauhid berarti berprinsip pula menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Jadi tidak cukup menjadi seorang muwahhid (meyakini Allah itu diesakan dalam ibadah) tanpa ada amal.

Prinsip ketiga: Berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik

Tidak cukup seseorang berprinsip dengan dua prinsip di atas. Tidak cukup ia hanya beribadah kepada Allah saja, ia juga harus berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik. Jadi prinsip seorang muslim adalah ia meyakini batilnya kesyirikan dan ia pun mengkafirkan orang-orang musyrik. Seorang muslim harus membenci dan memusuhi mereka karena Allah. Karena prinsip seorang muslim adalah mencintai apa dan siapa yang Allah cintai dan membenci apa dan siapa yang Allah benci.

Demikianlah dicontohkan oleh Ibrahim ‘alaihis salam di mana beliau dan orang-orang yang bersama beliau[1] berlepas diri dari orang-orang musyrik. Saksikan pada ayat,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah.” (QS. Al Mumtahanah: 4). Ibrahim berlepas diri dari orang musyrik dan sesembahan mereka.

كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4).

Dalam ayat lain disebutkan pula,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah: 23).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1).

Demikianlah tiga prinsip agar disebut muslim sejati, yaitu bertauhid, melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik.

Semoga Allah memudahkan kita menjadi hamba-hambaNya yang bertauhid.

Dikembangkan dari tulisan Syaikhuna -guru kami- Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafizhohullah dalam kitab Durus fii Syarh Nawaqidhil Islam”, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahun 1425 H, hal. 14-16.


Footnote:

[1] Ada yang mengatakan yang bersama beliau yang sama-sama berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya adalah para nabi. Sebagian lainnya maknakan orang beriman. Demikian dua pendapat yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir.


Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 

Sumber : https://rumaysho.com/2778-3-prinsip-akidah-seorang-muslim.html

https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2022/10/menantang-neraka.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Menantang Neraka

Bismillah...

Seseorang mengatakan, 

"Lagian gue kan juga udah bilang, gua nggak tergila-gila sama surga, say. Gue mah di neraka juga nggak apa-apa. Gue happy," ujarnya kembali dengan mimik ceria.

"Gue mending masuk neraka aja, banyak ketemu artis-artis. Bukan artis Indonesia ya. Males banget," tuturnya. 

Orang yang memiliki iman, mesti merasa takut dengan ancaman Allah Ta'ala berupa neraka. Dimana neraka adalah tempat yang paling buruk untuk menetap, yang panasnya 70 kali lipat panas api di dunia. 

Allah Ta’ala berfirman,

إنها سآءت مستقراً ومقاماً

Sesungguhnya neraka Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (QS. Al-Furqan: 66).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

نَارُكم هذِه ما يُوقدُ بنُو آدمَ جُزْءٌ واحدٌ من سبعين جزءاً من نار جهنَّم

Api yang dinyalakan oleh Ibnu Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api Jahannam” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Didalamnya tidak ada kesejukan, tidak ada minuman, kecuali air yang mendidih dan nanah yang bisa menghancur leburkan usus-usus. 

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا

"Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah” (QS. An Naba’: 24-25).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman,

وَسُقُوا مَاء حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءهُمْ

Mereka (penghuni neraka) diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong usus-usus mereka” (QS. Muhammad: 15). 

Siksaan neraka yang paling ringan saja membuat otak mendidih, bagaimana lagi dengan yang lebih dari itu. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ أهْوَنَ أهل النارِ عذاباً مَنْ لَهُ نَعْلانِ وشِرَاكانِ من نارٍ يَغلي منهما دماغُه كما يغلي المِرْجَل ما يَرَى أنَّ أحداً أشدُّ منهُ عَذَاباً وإنَّهُ لأهْونُهمْ عذاباً

Penduduk neraka yang paling ringan siksaannya di neraka adalah seseorang yang memakai dua sandal neraka yang memiliki dua tali. Kemudian otaknya mendidih karena panasnya sebagaimana mendidihnya air di kuali. Orang tersebut merasa tidak ada orang lain yang siksanya lebih pedih dari siksaannya. Padahal siksaannya adalah yang paling ringan diantara mereka” (HR. Muslim no. 213). 

Para penghuni neraka berteriak kepada Allah Ta'ala penuh penyesalan minta dikembalikan ke dunia untuk beramal shaleh dan menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. 

Allah Ta'ala berfirman, 

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (37)

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun. (Fathir 37.)

Berita terbaru orang yang menantang neraka ini berteriak-teriak menangis karena akan dimasukkan kedalam sel. Itu baru sel di dunia sudah berteriak-teriak, bagaimana lagi kalau dijebloskan ke dalam neraka. 

Ya Allah, ancaman nerakaMu sangat mengerikan kepada orang-orang yang berbuat dosa, namun diri-diri ini masih terus lalai dan terjatuh berulang kali dalam perbuatan dosa.

نستغفر الله ونتوب اليه


https://www.facebook.com/100009878282155/posts/pfbid02ZkdxssGJX6r3JMWXn4nCBMPV4LcoxRxeY9KLwzsSGwrMniU7bgCQV49U3R3aJZCTl/

AFM

https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2022/10/menantang-neraka.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Iman Akan Mendatangkan Aman

Iman Akan Mendatangkan Aman
Bismillah...

● Jika ingin merasa aman, maka kuatkan iman.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ

Orang-orang yang BERIMAN dan tidak mengotori imannya dengan kedzaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan KEAMANAN..” (QS. Al-An’am: 82)

● Itu juga yang ditunjukkan dalam firman-Nya,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ () الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Ingatlah, sungguh para wali (kekasih) Allah, tidak ada KETAKUTAN sedikitpun pada mereka, dan mereka tidak akan bersedih yaitu: orang-orang yang BERIMAN dan bertaqwa..” (QS. Yunus: 62-63)

Oleh karenanya, di saat-saat genting, hanya orang yang imannya sangat kuat yang masih tenang dan merasa aman..

● Lihatlah jawaban Nabi ﷺ kepada sahabat Abu Bakar saat di goa Tsaur dan musuh sudah di depan mata, beliau dengan rasa aman dan tenang mengatakan,

مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا

Apa anggapanmu wahai Abu Bakar, terhadap dua orang yang Allah adalah orang ketiganya..” (HR. Bukhari dan Muslim)

● Lihat pula jawaban Nabi ﷺ ketika dikagetkan dari tidur beliau ﷺ oleh seorang musuh yang telah menghunuskan pedangnya di hadapan beliau, dan mengatakan,

مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟

“Siapa yang bisa menghalangiku membunuhmu..?!”

Dengan sangat tenang, beliau menjawab, “Allah..

Dan dengan jawaban ini, orang tersebut gemetar sampai pedang yang di tangannya jatuh sendiri. Lalu pedang itu diambil oleh Nabi ﷺ..”. (HR. Ahmad: 14929, shahih)

● Lihatlah, Kekuatan Iman Yang Sangat Istimewa. Oleh Karenanya, mari pupuk iman dengan ilmu yang lurus dan amal yang shahih. Semoga kita Bisa Meraihnya, Aamiin.

Semoga bermanfaat dan Allah berkahi, aamin..


✒️Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny, MA حفظه الله تعالى

(Dewan Pembina Yayasan Risalah islam).

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Popular Posts

Blog Archive