Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label bid’ah. Show all posts
Showing posts with label bid’ah. Show all posts

Saturday, December 30, 2023

Lari Dari Maksiat, Jatuh Ke Kubangan Bid'ah

Lari Dari Maksiat, Jatuh Ke Kubangan Bid'ah
Bismillah...

Sebagian orang sudah banyak rencana di akhir tahun ini untuk menghindari maksiat hingar bingarnya tahun baru dengan ritual dzikir bersama, istighotsah, shalat lail berjamaah atau beragam ibadah lainnya.

Sepintas kegiatan ini kelihatannya baik, namun ragam ibadah yang dilakukan di malam tahun baru tersebut tidak dilandasi dalil dan contoh dari Rasulullah dan para sahabatnya. Akhirnya lari dari maksiat, jatuh kepada amalan bid'ah yang sesat.

Dimana perbuatan bid'ah dalam perkara agama lebih disukai iblis dari pada pelaku maksiat. Karena pelaku maksiat, seperti pezina, peminum khamar, penjudi dan yang lainnya, mereka tahu bahwa perbuatannya itu tidak baik, sehingga mereka lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid'ah merasa bahwa amalannya itu benar, sehingga mereka susah menerima kebenaran dan susah bertaubat, kecuali yang Allah Ta'ala berikan hidayah.

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

إن أهل البدع شر من أهل المعاصي الشهوانية بالسنة والإجماع. 

Sesungguhnya AHLUL BID'AH lebih jelek daripada AHLU MAKSIAT SYAHWANIYYAH berdasarkan sunnah dan ijma'. (Majmu’ Fatawa 30/130). 

Berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullah :

إن البدعة أحب إلى إبليس من المعصية؛ لأن البدعة لا يُتاب منها والمعصية يُتاب منها 

Sesungguhnya BID'AH ITU lebih dicintai IBLIS daripada maksiat. Karena sesungguhnya BID'AH ITU pelakunya (sulit bertaubat) dari (kebid'ahan) nya, sementara maksiat pelakunya akan (mudah) bertaubat dari (maksiat) nya. (Al Hilyah 26/7).

Dan berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullah :

والبدعة أحب إلى إبليس من المعصية لأن العاصي يعلم أنه عاصٍ فيتوب، والمبتدع يحسب أن الذي يفعله طاعة؛ فلا يتوب”.

Dan BID'AH ITU lebih dicintai IBLIS daripada maksiat. Karena sesungguhnya PELAKU MAKSIAT, dia tahu bahwasanya dia bermaksiat, maka dia akan (mudah) bertaubat. Sementara PELAKU BID'AH, dia beranggapan, bahwasanya yang dia kerjakan adalah keta’atan, sehingga dia tidak (mudah) bertaubat. (Majmu Fatawa 11/633). 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0ijhjn8d571wqqBTi1oyNnpDfWiSxxFWgSBkhaX8cnAhjGXHGd2sxeDtwBNTuBur5l&id=100063495759389


AFM


https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2018/12/lari-dari-maksiat-jatuh-ke-kubangan.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, October 27, 2023

Timbangan Kebenaran Bukan Dengan Perasaan

Timbangan Kebenaran Bukan Dengan Perasaan
Bismillah...

Kadang sebagian orang, menimbang kebenaran suatu amalan dalam agama dengan perasaannya. Kalau perasaannya enak, tenang, nyaman, tentram dan sesuai hawa nafsunya serta masuk akalnya, mereka amalkan. Kalau tidak, mereka tinggalkan.

Berkata Syeikh Al-Albani rahimahullah :

الدين ليس بالعقل ولا بالعاطفة إنما بإتباع أحكام الله في كتابه وأحكام رسوله في سنته وفي حديثة سلسلة الهدي والنور٥٣٠

Agama itu bukan dengan akal dan bukan dengan perasaan, akan tetapi dengan mengikuti hukum-hukum Allah di dalam kitab-Nya, dan hukum-hukum rasul-Nya di dalam sunnahnya, dan di dalam haditsnya. (Kaset: Silsilah Al-Huda wa An-Nur 530).

Untuk itu, agama kita melarang seseorang membuat suatu keyakinan atau ibadah menurut akal dan perasaannya. Namun wajib untuk mengikuti petunjuk Nabi shollallahu 'alaihi wasallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

ليس لأحد أن يضع للناس عقيدة ولا عبادة من عنده ، بل عليه أن يتبع ولا يبتدع ، ويقتدي ولا يبتدي

"Tidaklah seorangpun diizinkan membuat aqidah maupun ibadah yang bersumber dari pikiran dan perasaannya pribadi. Bahkan (wajib) atasnya untuk  ittiba (mengikuti petunjuk Nabi shollallahu 'alaihi wasallam) bukan ibtida' (membuat perkara baru/mengada-ada), (wajib) meneladani (jalan beliau) dan bukan memulai (membuat perkara baru)" (Majmu' Fatawa 11/490).

Maka dari itu, seandainya kebenaran suatu amalan dalam agama ini ditimbang dengan perasaan, maka semua ahlul bid'ah berada diatas kebenaran. 

Berkata Syeikh Utsaimin rahimahullah :

لو كان الدين بالعاطفة لكان جميع أهل البدع على حق ! » |[ اللقاء الشهري ( ٣٣ ) ]|

Seandainya agama itu dengan PERASAAN, sungguh semua AHLUL BID'AH berada di atas KEBENARAN. (Al Liqausy Syahrii 33).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02rzSir82coKPsBtn9sLDY6a8YHA1Aw74RWJuuzGwBjZF3eJUwP9PzpryY6c2tyE4Wl&id=100009878282155


AFM


https://m.facebook.com/kangfadhelmajalengka/photos/a.904451986557975/977220279281145/?type=3

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, October 21, 2023

Sibuk Memperingatkan Kaum Muslimin

Bismillah...

Sebagian orang mengatakan, "Musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, Sekuler, Atheis dan semisalnya gencar memusuhi dan memerangi kaum muslimin, sedangkan kenapa kalian masih sibuk memperingatkan sebagian kaum muslimin dari kesyirikan dan kebid'ahan?"

Membersihkan umat islam dari amalan syirik dan bid'ah merupakan dasar kekuatan untuk melawan musuh-musuh islam. Bagaimana mungkin bisa menang melawan orang kafir kalau sebagian besar kaum muslimin masih asik bergelut dengan kesyirikan dan kebid'ahan, oleh karena itu, sudah sepatutnya mereka diperingatkan dari segala macam kesyirikan dan kebid'ahan, agar mereka memurnikan tauhidnya dan mengikuti sunnah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Surah An Nur 55).

Disebutkan dalam tafsir Al-Muyassar :

وعد الله بالنصر الذين آمنوا منكم وعملوا الأعمال الصالحة، بأن يورثهم أرض المشركين، ويجعلهم خلفاء فيها، مثلما فعل مع أسلافهم من المؤمنين بالله ورسله، وأن يجعل دينهم الذي ارتضاه لهم- وهو الإسلام- دينًا عزيزًا مكينًا، وأن يبدل حالهم من الخوف إلى الأمن، إذا عبدوا الله وحده، واستقاموا على طاعته، ولم يشركوا معه شيئًا

Allah menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang beriman dari kalian dan mengerjakan amal-amal shalih, dengan mewariskan kepada mereka tanah kekuasaan kaum musyrikin dan menjadikan mereka penguasa padanya, sebagaimana Allah memperlakukan para pendahulu mereka dari kalangan kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan menjadikan agama mereka yang diridhaiNya bagi mereka (yaitu Islam) sebagai agama mulia lagi kuat dan menggantikan keadaan mereka dari ketakutan menuju keadaan aman, bila mereka beribadah kepada Allah semata dan istiqamah di atas ketaatan kepadaNya, tidak mempersekutukan sesuatu pun bersamaNya. (Tafsir Al-Muyassar).

Syekh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah ditanya :

ﻟﻤــﺎﺫﺍ ﺍﻟﺘﺤﺬﻳــﺮ ﻣــﻦ ﺃﻫــﻞ ﺍﻟﺒــﺪﻉ وﺍﻷﻣــﺔ ﺗﺼــﺎﺭﻉ ﺍﻟﻌــﺪﺍﻭﺓ ﻣــﻊ ﺍﻟﻴﻬــﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼــﺎﺭﻯ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﻧﻴﻴــﻦ؟

Mengapa mentahdzir (memperingatkan) dari ahlul bid’ah, sedangkan ummat berseteru (konflik) permusuhan dengan Yahudi, Nashrani (Kristen), dan orang-orang sekuler?

Beliau menjawab :

ما يمكن للمسلمين أنهم يقاومون اليهود والنصارى إلا إذا قاوموا البدع التي بينهم، يعالجون أمراضهم أولًا حتى ينتصروا على اليهود والنصارى،

Tidak mungkin bagi kaum muslimin bahwasanya mereka bangkit (melawan) Yahudi dan Nashrani kecuali kalau mereka bangkit (melawan) bid’ah yang ada diantara mereka, mengobati penyakit-penyakit mereka terlebih dahulu sehingga mereka bisa mengalahkan Yahudi dan Nashrani.

أمّا ما دام المسلمون مضيِّعين لدينهم ومرتكبين للبدع والمحرمات ومقصِّرين في امتثال شرع الله فلن ينتصروا على اليهود ولا على النصارى، وإنما سُلِّطوا عليهم بسبب تقصيرهم في دينهم،

Adapun selama kaum muslimin menyia-nyiakan agama mereka, melakukan perbuatan bid’ah dan yang haram dan melalaikan dalam mematuhi syariat Allah, maka mereka tidak akan menang melawan Yahudi dan Nashrani, dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) akan menguasai atas mereka (kaum muslimin) disebabkan kelalaian mereka terhadap agama mereka.

فيجب تطهير المجتمع من البدع وتطهيره من المنكرات ويجب امتثال أوامر الله وأوامر الرسول صلى الله عليه وسلم قبل أن نحارب اليهود والنصارى، وإلا إذا حاربنا اليهود والنصارى ونحن على هذه الحالة فلن ننتصر عليهم أبدًا وسينتصرون علينا.

ﺍﻟﻤﺼﺪﺭ : ﺍﻹﺟﺎﺑــﺎﺕ ﺍﻟﻤﻬﻤــﺔ ﻓــﻲ ﺍﻟﻤﺸﺎﻛــﻞ ﺍﻟﻤﻠﻤّــﺔ

Maka wajib membersihkan masyarakat dari bid’ah dan membersihkan dari kemungkaran-kemungkaran, dan wajib menegakkan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum kita memerangi Yahudi dan Nashara, kalau tidak, apabila kita memerangi Yahudi dan Nasharani sementara keadaan kita seperti ini, maka kita tidak akan menang melawan mereka selama-lamanya, bahkan mereka akan menang atas kita, disebabkan dosa-dosa kita. (Al Ijabaat Al Muhimmah fiil Masyakil Al Mulimmah, Jilid 1, halaman 150 – 151). 

Sumber : https://ar.alnahj.net/audio/695 

Maka untuk itu janganlah marah dan kebakaran kumis kalau ada seseorang yang memperingatkan kaum muslimin dari bahaya kesyirikan dan bid'ah.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02u8ioZeAEj88UG14Qovb1c7HVa9gqtYiFVMLFC6P8PBjEE7CUAPv7yBRFWSJgzUZ7l&id=100063495759389


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 30, 2023

Berita HOAX, Nabi Menyelamatkan Anak Muda Yang Ikut (Amalan Bid'ah) Perayaan Maulidnya

Berita HOAX, Nabi Menyelamatkan Anak Muda Yang Ikut (Amalan Bid'ah) Perayaan Maulidnya
Bismillah...

Soal:

Ustadz benarkah apa yang dishare di FB ini?

Merinding bacanya 

Di manakah engkau Hai MUHAMMAD yang mengaku sebagai Nabi?

Assalaamu'alaikum wr.wb.

KISAH NYATA SEORANG ANAK NASRANI YANG TERTEMBAK SAAT PERINGATAN MAULID NABI

Pada saat itu, di Libanon Selatan, kebiasaan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, mereka rayakan secara turun temurun dan selalu dimeriahkan dengan menembakkan senjata api ke atas untuk menunjukkan kegembiraan.

Ketika itu seorang anak Nasrani dari keluarga Ghatas yang terkenal terlihat asyik menonton meriahnya peringatan Itu.

Tanpa disadari, sebuah peluru nyasar menembus kepalanya.

Anak itu pun jatuh tersungkur bersimbah darah dan seketika itu juga ibunya berteriak histeris.

Maka dengan segera anaknya dilarikan ke RS. GHASAN HAMUD.

Tetapi RSGH angkat tangan karena tidak mampu menangani pendarahan yg begitu hebat.

Lantas anak itu dirujuk ke RS. Amerika yang memiliki banyak dokter ahli dan spesialis.

Tapi begitu melihat kondisi anak itu mereka juga angkat tangan.

Karena panik penuh kecewa, ibu sang anak berteriak dengan kerasnya sambil berseru:

"Di manakah engkau Hai MUHAMMAD yang mengaku sebagai Nabi?

"Lihatlah apa yang dilakukan umatmu kepada anakku karena merayakan hari kelahiranmu"

Pada saat itu dokter kepala yang memimpin perawatan keluar ruangan menemui sang ibu dan memintanya agar melihat anaknya untuk yang terakhir kali.

Ibu nasrani itu dengan lemas dan dipapah masuk ke ruangan, diikuti dengan keluarnya para dokter.

Namun Keajaiban terjadi...

Ketika sang ibu sudah di dalam ruangan, ternyata dia melihat anaknya sedang duduk di tepi tempat tidur sambil berteriak:

"Tutup semua pintu dan jendela nya ibu!! Dia jangan diperbolehkan keluar!!

Antara percaya dan tidak Si ibu mendekati anaknya untuk memastikan kondisi anaknya.

Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal.

Kondisi anaknya begitu sehat dan bugar serta tidak ada bekas luka tembakan sama sekali di kepalanya.

Apalagi bercak darah.

"Anakku apa yang terjadi..?“

"Ibu, dia datang mengelus kepalaku sambil tersenyum.“

“Siapa dia sayang"?

“MUHAMMAD… Muhammad… Ibu.“ jawab anak itu...

Subhanallah.....

Ternyata, teriakan si ibu disambut oleh NABI AGUNG MUHAMMAD SAW.....

Beberapa menit kemudian...

Berkumpullah semua dokter untuk melihat kenyataan di hadapan mereka.

Maka ibu, anak dan semua dokter nasrani yang menyaksikan keajaiban tersebut saat itu juga mengikrarkan syahadat (masuk Islam).

"Kami bersaksi tiada Tuhan yang patut disembah kecuali ALLAH dan Muhammad benar-benar utusan dan Hamba ALLAH"

Ini kejadian nyata yang ditakdirkan oleh ALLAH untuk menunjukkan keagungan junjungan kita Sayyidina Muhammad Shalallaahu 'alaihi wasalam

Tiada yang tidak mungkin bagi ALLAH...!

Shallu 'Alan Nabi…!!!!

Kutipan - ceramah dari Ulama Libanon ...

Jawaban: 

ini BERITA HOAX yang kental kedustaannya.

NABI MUHAMMAD TELAH WAFAT

Nabi Muhammad telah wafat dan tidak akan kembali lagi ke dunia ini. Segala cerita dan berita yang menginformasikan beliau bisa kembali ke dunia adalah hoax bertentangan dengan Alquran, Sunnah dan Ijma Ulama.

Allah berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Qs: Al-Imran 144)

Allah juga berfirman:

{إنك ميت وإنهم ميتون} [الزمر : 30]

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula) (Qs: Az zumar:30)

Maka dua ayat diatas menjelaskan bahwa Nabi itu pasti kan wafat, dan telah sepakat pula sahabat Bahwa Nabi telah wafat di 12 Rabiul Awwal hari Senin pada Tahun 11 H.

Mereka juga sepakat menguburkan beliau dan Abu Bakar menggantikan beliau sebagai Khalifah kaum muslimin.

Kemudian selepas wafatnya Nabi banyak kabilah Arab yang murtad dan enggan membayar zakat, dan kondisi ummat Islam kacau balau bagaikan anak ayam kehilangan induk. Dalam kondisi genting itu Abu Bakar tampil sebagai penyelamat ummat dari kehancuran. 

Sekiranya Nabi masih bisa kembali ke dunia, maka waktu genting itulah seharusnya beliau hadir memberikan bantuan dan masukan tatkala sahabat berdebat untuk memerangi kaum murtaddin. 

Banyak pristiwa dan tragedi berdarah, antara sesama kaum muslimin dimasa para Sahabat, seperti pecahnya perang bersaudara di Shiffin maupun perang Jamal, antara sebagian sahabat disebabkan ijtihad mereka hingga terbunuh Thalhah dan Zubair bin Awwam, namun Nabi tak datang mengunjungi mereka.

Kemudian apakah masuk akal Nabi yang sudah wafat datang lagi menghadiri sebagian acara Maulid yang diyakini sebagian orang? Atau datang menemui sesorang yang sekarat dalam kisah yang di share ini menyembuhkannya dari penyakitnya?

Terus bagaiaman kondisi orang yang mengklaim berjumpa Nabi di zaman ini, apa sebutan untuknya? Apakah layak pula dia disebut sebagai sahabat Nabi ? Tentunya hal ini perkara mustahil karena seluruh sahabat dipastikan telah wafat.?

Kemudian perayaan Maulid Nabi, adakah dirayakan oleh Nabi sebagaimana yang di rayakan sebagian umatnya? Adakah pula di rayakan maulid beliau oleh Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, atau adakah dirayakan oleh Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i dan Ahmad?

Sangat mustahil Nabi hidup kembali membenarkan perayaan maulid yang tidak pernah dia lakukan, karena agama telah sempurna, tidak ada yang bertambah ataupun berkurang.

Perayaan Maulid sendiri baru ada sekitar tahun 322 Hijriyah setelah wafatnya Nabi , diadakan oleh Dinasti Fatimiyyah di era penguasa Al-Muis li dinillah yang berakidah Syiah Bathiniyyah Ubaidiyyah.

Jadi jelaslah hoaxnya kisah kedatangan Nabi pada pemuda yang tertembak kepalanya ini dan Nabi menyembuhkannya, yang tak jelas ini, tak jelas sumbernya, darimana asal-usulnya, siapa yang meriwayatkannya.

Terakhir dalam Islam dilarang meminta kepada Makhluk, apalagi bila ia telah wafat. Karena dalam Islam siapa saja yang telah wafat terputuslah amalnya dan takkan mampu melakukan amalan apapun lagi di dunia, baik amalan yang kembali manfaatnya bagi dirinya maupun untuk orang lain.

Kata Nabi: ”Bila anak Adam wafat terputuslah segala Amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat maupun anak yang sholeh yang mendoakannya”. HR Muslim. 

Bagaimana pula Nabi hidup kembali memberikan manfaat bagi orang yang hidup, datang mengabulkan doanya, padahal doa adalah ibadah yang hanya layak diberikan hanya kepada Allah. 

Kata Nabi pada Ibnu Abbas: ”Bila kau meminta maka mintalah pada Allah, bila kau berharap bantuan maka berharaplah pada Allah”. HR. Tirmizi. 

Maka Nabi suruh ummatnya berdoa meminta pada Allah, bukan pada dirinya. 

Akhirnya, menunjukkan Nabi itu ada tak perlu dengan membuat kisah-kisah dongeng semacam ini, Quran yang dia bawa ada sebagai saksi kebenaran ajarannya, sunnah Nabi juga ada sebagai warisan yang dia tinggalkan, dapat dipelajari dan teliti kebenarannya.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02aArYbDxFT6qTRBBCgC898fLCuthwyKLJe4fR3NTj7Hn8PYWis1kdSjwRHBzwvLHol&id=100001105385773


Batu pahat, 14 Rabiul Awwal 1444/ 30 Sept 2023

Abu Fairuz Ahmad Ridwan My

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Apakah Perayaan Maulid Nabi Sesuatu Yang Baik Yang Bisa Mendekatkan Diri Kepada Allah Dan Surga?

Apakah Perayaan Maulid Nabi Sesuatu Yang Baik Yang Bisa Mendekatkan Diri Kepada Allah Dan Surga?
Bismillah...

Sekiranya acara perayaan maulid itu sesuatu yang baik yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan surga, tentulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan atau menyampaikan kepada para sahabat dan umatnya untuk mengadakan peringatan acara perayaan Maulid Nabi. 

Karena segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah dan kepada surga telah diperintahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan segala sesuatu yang menjauhkan dari Allah dan mendekatkan kepada neraka telah beliau melarangnya. Dan segala sesuatu kebaikan semuanya sudah ditunjukkan dan segala keburukan, semuanya sudah diperingatkan. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

ما تركت شيئاً يقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به، وما تركت شيئاً يبعدكم عن الله إلا وقد نهيتكم عنه .

"Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan telah aku perintahkan kalian dengannya dan tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan kalian dari Allah melainkan sungguh telah aku larang kalian darinya." (Riwayat At-Thabrani - Shahih Lighoirihi). 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

ما تركت من شيء يقربكم إلى الجنة إلا وقد حدثتكم به، ولا تركت من شيء يبعدكم عن النار إلا وقد حدثتكم به

"Tidaklah aku tinggalkan dari sesuatu yang mendekatkan kalian kepada surga melainkan sungguh aku telah menyampaikan kepada kalian dengannya dan tidaklah aku tinggalkan dari sesuatu yang menjauhkan kalian dari surga melainkan sungguh telah aku sampaikan kepada kalian dengannya." (Riwayat Baihaqi. Isnad Shahih). 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

إنَّهُ ليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى الجنةِ إلَّا قد أَمَرْتُكُمْ بهِ ، و ليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى النارِ إِلَّا قد نَهَيْتُكُمْ عنهُ .

"Sesungguhnya tidaklah sesuatu yang mendekatkan kalian kepada surga melainkan sungguh aku telah memerintahkan kepada kalian dengannya dan tidak lah sesuatu yang mendekatkan kalian kepada neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya." (Riwayat Thabrani - Isnad Shahih). 

Berkata Syekh Al Albani rahimahullah, 

قوله عليه الصلاة والسلام (ما تركت شيئاً يُقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به) إذا كان المولد خيراً، وكان مما يقربنا إلى الله زلفى فينبغي أن يكون رسول الله ﷺ قد دلّنا عليه. 

Ucapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam (Tidaklah aku tinggalkan sesuatu, yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan aku telah perintahkan kepada kalian dengannya). Apabila (perayaan) maulid itu baik dan ia adalah apa-apa yang mendekatkan kita kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, maka seharusnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan kepada kita atasnya (tentangnya).  (Al Hudaa wa An-Nuur 94).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0iqaBsWGHdyxaGNXLAbYnTTf3tB5ypsnSQ8uyrzq93FufDL8HCM2Xosw3gMKNjMdl&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, September 29, 2023

Jangan Biarkan Bid'ah Tumbuh Berkembang

Jangan Biarkan Bid'ah Tumbuh Berkembang
Bismillah...

AHLUL MAULID dari kalangan orang awamnya dan tokoh-tokohnya gencar sosialisasi dan menyebarkan tentang keutamaan mengadakan perayaan MAULID, baik di media elektronik, media sosial, mimbar-mimbar dan dalam setiap kesempatan. Seharusnya para ustadz dan ikhwah yang sudah mengenal SUNNAH, lebih gencar lagi menjelaskan tentang BID'AHnya perayaan MAULID NABI. 

Karena apabila satu BID'AH tumbuh, maka akan mematikan satu SUNNAH. Dan apabila cahaya SUNNAH menyinari, maka kabut BID'AH akan menyingkir. Untuk itu, sebarkan terus matahari SUNNAH, agar kabut tebal BID'AH semakin sirna dan hilang.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah :

إذا طلعت شمس السنة في قلب العبد قطعت من قلبه ضباب كل بدعة (الإمام ابن القيم، مدارج السلكين 374/1)

Jika telah terbit matahari SUNNAH di dalam hati seorang hamba, maka kabut segala BID'AH akan menyingkir dari hatinya.” (Madarij Salikin, 1/374).

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

مَا يأَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَن

Tidaklah setiap tahun datang atas manusia, melainkan mereka mengadakan BID'AH padanya dan mereka mematikan SUNNAH, sehingga yang hidup adalah BID'AH dan SUNNAH akan mati.” (Al Ibanah Kubro Ibnu Bathah).

Berkata Hasan bin ‘Athiyah rahimahullah:

ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله من سنتهم مثلها ولا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة

Tidaklah suatu kaum melakukan BID'AH dalam urusan agama mereka, melainkan Allah akan mencabut suatu SUNNAH yang semisal dari lingkungan mereka. Allah tidak akan mengembalikan SUNNAH itu kepada mereka sampai kiamat” (Lammud Durril Mantsur, hal. 21).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02o2kzGyWkY6b9QYkScaYkqtjJ1auxDHfHff8v3g1b7umHd9ZGMUHVq8FYdy6nBaSol&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Keterikatan Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid Nabi

Keterikatan Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid Nabi
Bismillah...

Dalam beberapa buku sejarah disebutkan bahwa Tsuwaibah dimerdekakan oleh Abu Lahab karena sebab Tsuwaibah telah menyampaikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam. 

Dalam masalah ini perlu diberi catatan : 

[a] Syaikh Abdullah At Tuwaijiri -hafidzahullah- berkata : “Tsuwaibah adalah budak wanita milik Abu Lahab, Ia seorang wanita yang pertama kali menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itulah beliau sering mengunjunginya ketika masih di Makkah. Khadijah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga amat menghormatinya. Ketika masih menjadi budak, Khadijah radhiyallahu ‘anha pernah meminta Abu Lahab untuk menjualnya untuk dimerdekakan, akan tetapi paman nabi itu menolak, ia baru dimerdekakan oleh Abu Lahab pada waktu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah. Pada saat itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan pemberian dan pakaian kepadanya. Hanya saja keislaman dirinya masih diperselisihkan, ia wafat tahun 7 Hijriyah”. (Al Bida’ Al Hauliyyah, hal. 165, dinukil dari kitab Thobaqat Ibnu Sa’ad 1/108, Al Ishabah 4/250 no biografi : 213) 

[b] Ada riwayat yang dijadikan dasar oleh orang orang yang merayakan maulid Nabi khususnya dari kalangan sufiyah (orang-orang tasawwuf) bahwa Diantara kerabat Abu Lahab ada yang bermimpi melihat Abu Lahab lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Abu Lahab menjawab, “Aku di neraka, namun setiap malam senin siksaanku dikurangi. Aku menghisap air kira-kira sebanyak ini diantara jari-jemariku”, Dia memberikan isyarat ke ujung jari jarinya. Hal itu disebabkan aku telah memerdekakan Tsuwaibah” (Al Haawi 1/196) 

Riwayat itu bersumber dari Atsar yang disebutkan oleh Imam Bukhari rahimahullah setelah menyampaikan hadits tentang persusuan.

Imam Bukhari rahimahullah berkata :

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ 

Urwah berkata; Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, “Apa yang telah kamu dapatkan?” Abu Lahab berkata ”Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah.” (HR Bukhari : 5101) 

Atas dasar riwayat diatas mereka mengatakan, Kalau Abu Lahab yang kafir saja diringankan siksanya di Neraka karena bergembira pada malam lahirnya Nabi shalallahu alaihi wasallam maka apalagi seorang Muslim yang mencintai dan bergembira dimalam kelahirannya dan diantara bentuk menampakkan kegembiraan itu adalah dengan merayakannya hari kelahirannya. Inilah syubhat para pelaku amalan bid’ah merayakan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Syubhat ini dibantah dengan beberapa bantahan diantaranya : 

[1] Hadits diatas adalah mursal (terputus sanadnya), hadits ini dinukil secara mursal oleh ‘Urwah tanpa menyebutkan siapa yang menceritakan riwayat itu kepadanya. Hal ini menunjukan bahwa ia bukanlah ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bukan pula ucapan sahabat radhiyallahu ‘anhum. 

[2] Kalaupun statusnya muttashil (bersambung sanadnya), kandungan hadits itu hanya menunjukan mimpi yang tidak bisa di jadikan hujjah atau dalil. Sebab bisa jadi orang yang yang mengalami mimpi tersebut belum masuk islam, sehingga dengan sendirinya hadits itu tidak bisa dijadikan hujjah (Fathul baari 9/145) 

[3] Dalam hadits ‘Urwah yang mursal tadi dijelaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dalam hadits yang dituturkan oleh Ibnu Jauzi disebutkan bahwa Abu lahab memerdekakkan Tsuwaibah ketika menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian riwayat-riwayat tersebut bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh para ahli sejarah, mereka menyatakan bahwa Abu lahab memerdekakan Tsuwaibah beberapa tahun setelah ia menyusui Nabi shalallahu ‘alahi wasallam. 

Bahkan Al Hafidz Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata dalam biografi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah menyebutkan bahwa Tsuwaibah yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

وأعتقها أبو لهب بعدما هاجر النبي صلى الله عليه وسلم إلى المدينة 

Dan Abu Lahab memerdekakkan Tsuwaibah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah” (Al Isti’ab 1/12) 

Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :

وكانت ثويبة تدخل على رسول الله صلى الله عليه وسلم بعدما تزوج خديجة فيكرمها رسول الله صلى الله عليه وسلم وتكرمها خديجة ، وهي يومئذٍ أمة ، ثم أعتقها أبو لهب 

"Tsuwaibah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau menikah dengan Khadijah. Tsuwaibah masih berstatus budak ketika itu sebelum akhirnya di merdekakkan oleh Abu Lahab” (Al Wafa Bi Ahwalil Musthafa 1/178) 

[4] Tidak ada riwayat yang shahih tentang Abu Lahab bergembira dengan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau Abu Lahab diringankan siksanya di neraka karena sebab memerdekakan Tsuwaibah, bahkan hal ini bertentangan dengan dzahirnya dalil dalil dari Al Quran dan Sunnah bahwa orang kafir tidak akan diringankan siksanya di akhirat, sebagaimana amalan orang kafir tidak bermanfaat di akhirat. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا 

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (QS Fathir : 36)

Allah Ta’ala juga berfirman ;

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْماً مِنَ الْعَذَابِ . قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلالٍ 

Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari”. Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdo’alah kamu”. Dan do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS Ghofir : 49-50) 

Adapun amalan kebakan orang kafir didunia bisa saja dibalas dengan kesehatan, rizeki, dan kenikmatan dunia, akan tetapi di akhirat mereka tidak mendapatkan apapaun selain adzab yang pedih, amalan mereka berhamburan seperti debu yang berterbangan. 

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman ;

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا 

"Dan kami hadapi segala amal yang mereka (orang kafir) kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS Al Furqon : 23) 

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ ؟ قَالَ : لَا يَنْفَعُهُ ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, wahai rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyyah adalah orang baik suka silaturahim, memberi makan fakir miskin, maka apakah yang demikian itu bermanfa’at (di akhirat)” Beliau menjawab, ‘tidak bermanfa’at, karena ia tidak pernah mengatakan suatu haripun, wahai Rabbku ampuni dosa dan kesalahanku pada hari kiamat” (HR Muslim : 214) 

Demikian semoga mencerahkan. Wallahu A’lam.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02PSMdjYgg4bcazjtyDn5zUGhZjh4G6N36YsdnMQhP78BbVReH5eBnXcbjj9PzHTmfl&id=100066953493857


https://abughozie.com/keterkaitan-antara-abu-lahab-dengan-perayaan-maulid-nabi/


Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie

➖➖➖➖➖➖➖➖

📲 Abu Ghozie Official

www.abughozie.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Merayakan Wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم

Merayakan Wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم
Bismillah...

Para ulama mengatakan, tanggal 12 Rabiul Awal merupakan saat wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Al Lajnah Ad Diamah ditanya, 

متى توفي النبي صلى الله عليه وسلم؟ 

Kapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat? 

Mereka menjawab

وتوفي بالمدينة يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة. (فتاوى اللّجنة الدائمة 381/4).

Wafat di Madinah hari senin tanggal 12 Rabiulawal tahun 11 Hijriah. (Fatawa Al Lajnah Ad Diamah 4/381).

Disebutkan juga dalam Fatwa No 19239 di situs islamweb, tentang wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, 

فقد توفى النبي صلى الله عليه وسلم حين اشتد الضحى من يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من السنة الحادية عشرة للهجرة

Maka sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat pada saat waktu dhuha mulai memanas, hari Senin tanggal dua belas Rabi' al-Awwal tahun kesebelas Hijrah

Sumber : https://www.islamweb.net/ar/fatwa/19239/

Sedangkan lahirnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam para ulama berbeda pendapat. Tidak sepakat tentang tanggal kelahirannya. 

Disebutkan dalam Al Islam Sual Wa Jawab No 128530,

ليُعلم أولاً أن العلماء مختلفون في تحديد تاريخ ولادة النبي صلى الله عليه وسلم على أقوال ، فابن عبد البر رحمه الله يرى أنه صلى الله عليه وسلم وُلد لليلتين خلتا من شهر ربيع الأول ، وابن حزم رحمه الله يرجح أنه لثمانٍ خلون منه ، وقيل : لعشرٍ خلون منه ، كما يقوله أبو جعفر الباقر ، وقيل : لثنتي عشر منه ، كما يقوله ابن إسحاق ، وقيل : وُلد في شهر رمضان ، كما نقله ابن عبد البر عن الزبير بن بكَّار . انظر " السيرة النبوية " لابن كثير ( ص 199 ، 200 ) .

Hendaknya diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang tanggal persisnya kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan beberapa pendapat. Ibnu Abdul Bar rahimahullah berpendapat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tanggal 2 bulan Rabi'ul Awal. Ibnu Hazm rahimahullah menguatkan pendapat bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 8 Rabiul Awal. Ada pula yang berpendapat tanggal 10 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir. Ada pula yang berpendapat tanggal 12 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ishaq. Adapula yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadan sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abdul Bar dari Zubair bin Bakar. (As-Sirah An-Nabawiah, Ibnu Katsir, hal. 199-200).

Oleh karena itu, sungguh sangat mengherankan, ada sebagian orang yang bergembira, bersuka cita, menabuh rebana dan pesta makanan di hari kematiannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan mengatasnamakan perayaaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal itu merupakan saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat. 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid022YLow6zmBLVugeLeLzkGSn9JvmYxDDw7bsu5x5UGhcjtSUSKEGfHNo1KYWBVhqxel&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Setiap Orang Bisa Mengaku Cinta Rasulullah صلى الله عليه وسلم

Setiap Orang Bisa Mengaku Cinta Rasulullah صلى الله عليه وسلم
Bismillah...

🔓 Syaikh al-'Allamah Sulaiman bin Abdillah alu Syaikh rahimahullah berkata,

وأكثر الناس يدعي أن الرسول صلى الله عليه وسلم أحب إليه مما ذكر فلابد من تصديق ذلك بالعمل والمتابعة له وإلاَّ فالمدَّعي كاذب

"Dan mayoritas orang mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih dari siapapun. Tentu pengakuan itu haruslah dibuktikan dengan "tashdiq" (pembenaran) dengan amalan dan peneladanan, sebab jika tidak, maka itu hanyalah PENGAKUAN DUSTA. 

فإن القرآن بين أن المحبة التي في القلب تستلزم العمل الظاهر بحسبها كما قال تعالى:  قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم 

Karena Al-Qur'an menegaskan bahwa kecintaan dalam hati mengonsekuensikan amalan lahir, sebagaimana firman Allah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS Ali Imran 31)

📚 Taisirul 'Azizil Hamid (hlm. 832)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid04QMNzmL2mSmK9R82egXSu1Y7G2nZi4iPBQpKJhzjL68Yeia4AEFvgMNTJ2shpFRkl&id=100001764454087


Share Yuk | Join TELEGRAM | https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, September 28, 2023

Dialog Dengan Orang Yang Merayakan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم

Dialog Dengan Orang Yang Merayakan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم
Bismillah...

1. Apakah perayaan ini termasuk ketaatan ataukah kemaksiatan?

Jika mereka menjawab: "Perayaan ini adalah kemaksiatan", maka tidak boleh merayakannya dan selesai pembahasannya (karena mereka telah mengakui bahwa ini adalah kemaksiatan).

Jika mereka menjawab: "Perayaan ini termasuk ketaatan", maka kita tanya kepada mereka pertanyaan kedua.

2. Apakah Nabi -صلى الله عليه وسلم- mengetahui ketaatan ini ataukah beliau tidak mengetahuinya?

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- tidak mengetahuinya", maka ini adalah bentuk menuduh Nabi -صلى الله عليه وسلم-  dengan (tuduhan) jahil (bodoh) yang merupakan kezindiqkan (bahkan hukumnya kufur akbar).

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- mengetahuinya", maka kita tanya kepada mereka pertanyaan ketiga.

3. Apakah Nabi -صلى الله عليه وسلم- telah menyampaikan kepada kami (ummat) tentang ketaatan ini?

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- belum menyampaikannya", maka ini adalah bentuk menuduh Nabi -صلى الله عليه وسلم- tidak menyampaikan risalah (mengkhianati risalah), padahal Allah berfirman:

"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya". (Al-Maidah: 67)".

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- telah menyampaikannya", maka kita jawab, "Tunjukkan bukti kebenaranmu".


Diterjemahkan dari status WA Syaikh Abdul Aziz Ar-Rayyis حفظه الله oleh Ustadz Ali Dahda حفظه الله

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Diantara 2 Sebab Diadakannya Acara (Peringatan/Perayaan) Maulid Nabi

Diantara 2 Sebab Diadakannya Acara (Peringatan/Perayaan) Maulid Nabi
Bismillah...

Dimunculkan dan disemarakkanya perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, diantara penyebabnya ada dua hal. Karena kecintaan yang berlebih kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyaingi orang Nasrani yang merayakan kelahiran Yesus. 

Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah, 

سببها إما محبة الرسول عليه الصلاة والسلام

فظنوا أن هذا من مقتضى المحبة

Sebabnya karena kecintaan yang berlebihan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga mereka mengira bahwa ini (perayaan Maulid Nabi) diantara (termasuk) bukti rasa cinta.

وإما مضاهاة للنصارى ؛ لأن النصارى يقيمون عيداً

لمولد المسيح عليه الصلاة والسلام ..

Dan adakalanya persaingan dengan nasrani. Karena sesungguhnya orang nasrani mereka menegakkan (mengadakan) perayaan kelahiran Isa bin Maryam alaihimassalam. (Iqtidha' ash-Shirat al-Mustaqim). 

Sumber : https://al-maktaba.org/book/7687/5836 

Sebab PERTAMA, karena cinta yang berlebihan kepada Rasulullah.

Padahal salah satu bukti cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan SUNNAHNYA. Bukan membuat perkara baru di dalam agama. Bukan melakukan inovasi dan kreasi dalam urusan amal ibadah. Bukan mengamalkan berbagai bid'ah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

.. وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

.. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga. (Riwayat Tirmidzi. Berkata Tirmidzi : Hadits Hasan Ghorib. Berkata Imam Syatibi : Hadits Hasan). 

Sebab KEDUA, meniru orang Nasrani.

Didalam syariat islam, haram hukumnya tasabbuh, menyerupai orang-orang diluar islam. Meniru ahlul kitab dan orang-orang musyrik. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud. Berkata Syekh Al-Albany : Hadits Hasan Shahih).

Dan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani". (HR Tirmidzi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Hasan).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وذِرَاعاً بِذِرَاعٍ, حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ, الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ» ؟ . رواه البخاري

Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (kebiasaan) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka masuk ke lubang ‘Dlobb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak), niscaya kalian akan memasukinya pula”. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)”. (HR. Bukhari). 

Syekh Utsaimin rahimahullah ditanya, 

من هم أول من أحدثوا بدعة المولد النبوي وكيف جاءت ؟

Siapakah mereka yang pertama kali mengadakan bid’ah Maulid Nabi, dan bagaimana hal itu bisa terjadi ?

Beliau menjawab, 

أوّل من أحدثها الفاطميون في مصر في القرن الرابع الهجري

وفي القرن السابع أحدثها ملك أربل في العراق .

ثم انتشرت في المسلمين

Yang pertama kali mengadakan adalah (Dinasti) Fathimiyyun (Syi’ah) di Mesir pada abad ke-4 hijriyyah. Dan di abad ke 7 diadakan kembali oleh Raja Arbal di Iraq. Kemudian menyebarlah bid’ah tersebut di tengah kaum muslimin.

وسببها كما يقول شيخ الإسلام ابن تيمية

في اقتضاء الصراط المستقيم :

Dan sebabnya, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah didalam Kitab Iqtidha’ ash-Shirat al-Mustaqim;

سببها إما محبة الرسول عليه الصلاة والسلام

فظنوا أن هذا من مقتضى المحبة

Sebabnya karena kecintaan yang berlebihan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga mereka mengira bahwa ini (perayaan Maulid Nabi) diantara (termasuk) bukti rasa cinta.

وإما مضاهاة للنصارى ؛ لأن النصارى يقيمون عيداً

لمولد المسيح عليه الصلاة والسلام ..

Dan adakalanya persaingan dengan nasrani. Karena sesungguhnya orang nasrani mereka menegakkan (mengadakan) perayaan kelahiran Isa bin Maryam alaihimassalam. 

وأياً كـان السبب فكُلّ بدعة ضلالة

[ لقاء الباب المفتوح (٢١٠) ]

Yang pasti, apapun sebabnya, maka setiap bid'ah itu sesat. (Liqa’ Bab al-Maftuh, 210).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid03msjhqcCrRzRd97yZujrN2WJ1fZPwFcynR6jMArBMoZfbfPBukWQBxrBR4TCchsTl&id=100063495759389


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Menteladani Atau Mencontoh Para Sahabat Dalam Beragama

Menteladani Atau Mencontoh Para Sahabat Dalam Beragama
Bismillah...

Slogan kembali kepada alquran dan assunnah di dalam berislam agar tidak sesat dan menyimpang, sudah sangat populer dan familiar, kelompok-kelompok islam terdahulu pun mendengungkannya. 

Dan memang benar, kalau tidak kembali kepada alquran dan assunnah akan sesat dari jalan yang lurus dan akhirnya akan terlempar ke dalam neraka jahim.

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى.  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ٰ

Maka jika datang dariku petunjuk kepada kalian,  maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS. Thaha 123).

Petunjuk yang datang kepada nabiNya berupa kitabullah dan sunnaturrasul untuk membimbing umatnya agar tidak tersesat dari jalan yang benar.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه الموطأ مالك).

Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitab Allah (alquran) dan sunnah NabiNya (al hadits). (HR. Imam Malik - Al Muwaththo).

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah:

وكل طريق لم يصحبها دليل القرآن و السنة و هي من طرق الجحيم و الشيطان الرجيم

Setiap jalan yang tidak berlandaskan padanya dalil alquran dan as sunnah maka dia adalah diantara jalan-jalan (yang menuju) neraka jahim dan jalan-jalan syaitan yang terkutuk. Madarijus Salikin 2/439.

Berkata As Syaikh Rabie hafidzahullah :

"دليلنا هو القرآن والسنة فمن فقدهما في أي ميدان من الميادين ضل" مرحباً يا طالب العلم ٢٤٥

"Dalil kami adalah Al Qur'an dan Sunnah, maka barangsiapa yang menghilangkan keduanya di salah satu bidang dari semua bidang (agama) maka dia sesat" ( kitab marhaban yaa thalibin ilmi: halaman 245).

Namun slogan kembali kepada alquran dan assunnah belumlah cukup membuat seseorang terhindar dari penyimpangan dan kesesatan. Karena yang menjadi masalah berikutnya adalah di pemahaman. Salah dalam memahami dan menafsiri, bisa keliru dan sesat dari jalan kebenaran.

Kalau memahami keduanya (alquran dan assunnah) dengan akal, perasaan dan hawa nafsunya sendiri, atau dengan akal, perasaan dan hawa nafsu gurunya, maka akan menyimpang dari jalan yang lurus.

Untuk itu, agar pemahamannya benar, maka hendaklah memahami alquran dan assunnah sebagaimana yang dipahami para salaf terdahulu, dari tiga generasi terbaik dalam islam (sahabat, tabiiin dan tabiut tabiin) dan para ulama yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa 115).

Berkata Syekh As Sa'di rahimahullah :

أي: ومن يخالف الرسول صلى الله عليه وسلم ويعانده فيما جاء به { مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى ْ} بالدلائل القرآنية والبراهين النبوية. { وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ ْ} وسبيلهم هو طريقهم في عقائدهم وأعمالهم { نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى ْ} أي: نتركه وما اختاره لنفسه، ونخذله فلا نوفقه للخير، لكونه رأى الحق وعلمه وتركه، فجزاؤه من الله عدلاً أن يبقيه في ضلاله حائرا ويزداد ضلالا إلى ضلاله. كما قال تعالى: { فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ْ} 

Maksudnya, barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah dan membangkang terhadap apa yang dibawa olehnya, “sesudah jelas kebenaran baginya” dengan dalil-dalil ALQURAN dan penjelasan ASSUNNAH, “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin (para sahabat),” jalan mereka adalah cara mereka dalam berakidah dan beramal, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,” yaitu Kami membiarkannya dengan apa yang dipilih untuk dirinya dan Kami menghinakannya, Kami tidak membimbingnya kepada kebaikan, karena ia telah menyaksikan kebenaran dan mengetahuinya, namun tidak mengikutinya, maka balasan baginya dari Allah adalah sebuah keadilan yaitu membiarkannya tetap dalam kesesatannya dengan kondisi bingung hingga kesesatannya bertambah di atas kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, " Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaff:5). (Tafsir As Sa'di).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

من ظن أنه يأخذ من الكتاب والسنة بدون أن يقتدي بالصحابة ويتبع غير سبيلهم، فهو من أهل البدع.

Siapa yang menyangka bahwa dia cukup mengambil al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa perlu meneladani para Shahabat dan dia mengikuti selain jalan yang mereka tempuh, maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, hlm. 556)

Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

نعم،من خالف الكتاب المستبين والسنة المستفيضة او ما أجمع عليه سلف الأمة خلافا لا يعذر فيه فهذا يعامل بما يعامل به اهل البدع"(الفتاوى:٢

Na'am, siapa saja yang menyelisihi Al-Kitab (alquran) yang sangat jelas dan As-Sunnah yang terperinci atau apa yang menjadi kesepakatan salaf, maka tidak ada udzur padanya dan dia disikapi seperti menyikapi ahli bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 24/172).

Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

مَنْ عَدَلَ عَنْ مَذَاهِبِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَفْسِيرِهِمْ إلَى مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ كَانَ مُخْطِئًا فِي ذَلِكَ بَلْ مُبْتَدِعًا وَإِنْ كَانَ مُجْتَهِدًا مَغْفُورًا لَهُ خَطَؤُهُ.

Siapa yang berpaling dari madzhab Shahabat dan Tabi’in serta berpaling dari tafsir mereka kepada hal-hal yang menyelisihinya, maka dia salah dalam hal tersebut, bahkan dia menjadi mubtadi’ walaupun dia seorang mujtahid yang jika berijtihad pada perkara-perkara yang jika salah akan diampuni kesalahannya.” (Majmu’ Al-Fatawa 13/361).

Contoh pemahaman terhadap ayat-ayat  alquran yang tidak sesuai dengan pemahaman salaf.

Allah Ta'ala berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Surah Thaha 14).

Orang-orang shufi ekstrim dan para pemimpinnya menafsirkan dan memahami ayat ini, bahwa kalau sudah ingat Allah atau istilah jawa sudah ILING, tidak perlu lagi shalat, yang masih shalat itu masih tingkatkan syariat, tingkatan paling rendah menurut mereka.

Dan Allah Ta'ala berfirman :

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Surah Albaqarah 115).

Orang-orang yang menyimpang menafsirkan ayat ini,  bahwa shalat menghadap kemana pun tidak masalah berdasarkan ayat ini yang mereka pahami.

Dan Allah Ta'ala berfirman :

وَٱلسَّلَٰمُ عَلَيَّ يَوۡمَ وُلِدتُّ وَيَوۡمَ أَمُوتُ وَيَوۡمَ أُبۡعَثُ حَيّٗا

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Surah Maryam, Ayat 33).

Orang liberal memahami bahwa ayat ini sebagai dalil bolehnya ucapan selamat natal.

Dan Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِـِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi'in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan amal shaleh, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Surah Al-Baqarah 62).

Orang liberal memahami ayat ini bahwa orang-orang Nasrani dan Yahudi diterima amal shalehnya.

Dan masih banyak ayat dan hadits yang lain yang dipahami atau ditafsiri yang tidak sesuai dengan yang dipahami para salaf. Sehingga mereka menyimpang dan tersesat dari jalan kebenaran.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1462278620778067&substory_index=1242703309697445&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, September 24, 2023

Imam Syafi'i Membolehkan Maulid Nabi?

Imam Syafi'i Membolehkan Maulid Nabi?
Bismillah...

Pertama, Kapan Imam Asy Syafi'i rahimahullah wafat? Jawabannya tahun 204 H.

Kapan Dinasti Ubaidiyyah Fatimiyyah Syi'4h yang membuat-buat Maulid Nabi itu ada? Jawabannya tahun 297 H

Lantas bagaimana mungkin Imam Asy Syafi'i rahimahullah membolehkan Maulid sedangkan Bidah Maulid Nabi baru ada sekitar tahun 300 H?

Akal kalian dimana? kalau bodoh, janganlah keterlaluan.

Kedua, terdapat nukilan di sosmed yang berseliweran jika Imam Asy Syafi'i rahimahullah membolehkan Maulid Nabi, dimana beliau mengatakan,

"Barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi karena kecintaan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin.”

MAKA TOLONG BAWAKAN PERKATAAN BELIAU MENGENAI HAL TERSEBUT DALAM KITAB-KITAB INDUK BELIAU YAITU : AR RISALAH DAN AL - UMM, ADA NGGA ?

JAWABANNYA NGGA ADA.

Kata-kata itu bukanlah kata-kata Imam Asy Syafi'i rahimahullah, melainkan perkataan yang dinisbatkan kepada Al Yafi Al Yumna di dalam kitab Raudhatuth Thalibin

"Al Yafi Al Yumna berkata: Barangsiapa berkumpul untuk acara Maulid Nabi karena kecintaan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan berjama’ah dan menyediakan makanan dan tempat, juga berlaku baik, niscaya karena sebab ini, Allah akan bangkitkan di hari kiamat bersama para shiddiqin, syuhada dan para shalihin, dan akan berada di surga yang penuh kenikmatan.” (Raudhatuth Thalibin, III/415)."

Dalam kitab Ar Risalah, Imam Asy Syafi’i berkata,

وما سن رسول الله فيما ليس لله فيه حكم فبحكم الله سنة

Apa yang disunnahkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang tidak ada hukumnya dalam Al Qur’an, maka ajaran beliau pun berdasarkan hukum Allah sudah menjadi ajaran bagi kita” (Ar Risalah, hal. 151).

Imam Syafi’i menerangkan dalam kitab Ar Risalah dengan membawakan ayat berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’: 59). Kata Imam Syafi’i, maksud ulil amri dalam ayat tersebut adalah para ulama yang sejalan dengan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu setelah itu beliau berkata,

فأموا أن يطيعوا أولى الأمر الذين أمرهم رسول الله , لا طاعة مطلقا بل طاعة مستثناة,فيما لهم وعليهم فقال: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ  يعني إن اختلفتم في شيء

Orang beriman diperintahkan untuk mentaati ulil amri (para ulama) namun ketaatan tersebut ketika sejalan dengan ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ketataan pada para ulama bukanlah ketaatan secara mutlak, namun ketaatan jika sejalan dengan perintah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jadi yang diikuti adalah kebaikan mereka, bukan yang keliru. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Jika kalian berselisih dalam suatu pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah” Maksud ayat ini adalah ketika kalian berselisih dalam (segala) sesuatu"." (Ar Risalah, hal. 145-146).

Jadi, intinya janganlah terus membohongi umat demi bisnis agama.

Hei! Bidah itu sulit dihilangkan ditengah orang-orang bodoh karena banyak orang yang mencari makan melalui Bidah.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02eE6BftXzSYrHGwqg5vwkw89jHkg55V1w4Y9qA7m8bZ9h3jgS3fUEHDcU8aSrqDUPl&id=100081182600047


Atha bin Yussuf

https://t.me/AthaBinYussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, September 22, 2023

Ahlusunnah dan Ahli Bid'ah

Sepatutnya seorang ahlussunnah selalu & senantiasa bersama dengan ahlussunnah yang lainnya
Bismillah...

Fudhail bin Iyadh رحمه الله berkata:

"Orang mukmin ketika melihat kepada orang mukmin yang lainnya (ahlussunah), maka akan menjernihkan hati, sedangkan apabila melihat kepada orang dari ahli bid'ah, maka Allah akan timpahkan kebutaan, yaitu kebutaan di hati"

(Al Ibanah Ash Sughro | Hal. 63 | No. 185 )

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Sepatutnya seorang ahlussunnah selalu & senantiasa bersama dengan ahlussunnah yang lainnya juga, baik tentang mengambil ilmu agama, teman duduk, sahabat karib, teman bermajelis, hatta seorang pendamping hidup.

Jangan sampai kita mempunyai teman atau sahabat dari ahli bid'ah, atau mereka masih mengambil ilmu dari ahli bid'ah, atau mereka masih mengambil ilmu dari para ustadz atau dai yang aqidah & manhajnya tidak lurus.

Jangan pernah juga sekolah/ngampus di markas-markasnya ahli bid'ah, karena apa? awalnya kita mengingkari, namun karena setiap hari bertemu akhirnya mentolerir, akhirnya mulai kendor aqidah & manhajnya, maka sepatutnya berhati-hati, karena lambat laun, banyak atau sedikit akan terpengaruh dengan racun bid'ah nya ataupun syubhat nya.

Jangan pernah meremehkan ahli bid'ah dengan bid'ahnya atau dengan syubhatnya sekecil apapun, apabila kita berpaling dari kebenaran maka Allah palingkan kita kemana kita berpaling, Allah timpahkan kebutaan hati kita, akhirnya tidak bisa membedakan mana kebenaran & mana kebathilan, mana ahlul haq & mana ahlul bathil.

Semoga Allah istiqomahkan kita diatas aqidah manhaj yang haq ini & semoga Allah menjauhkan kita dari bid'ah serta syubhatnya ahlul bathil.

Wallahu a'lam

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, September 21, 2023

Merayakan (Peringatan) Ulang Tahun

Merayakan (Peringatan) Ulang Tahun
Bismillah...

Sungguh sangat mengherankan sebagian orang di zaman sekarang ini, yang senantiasa merayakan ulang tahunnya disetiap tanggal kelahirannya dengan penuh kegembiraan. Bahkan perayaannya penuh dengan berbagai macam maksiat. Seperti adanya musik dan nyanyian, campur baur laki dan perempuan, minuman keras dan berbagai kemaksiatan lainnya. 

Berbeda dengan para salaf, setiap bertambah umurnya, bertambah pula kesedihannya. Karena mereka menyadari bahwa jatah hidup semakin berkurang, kematian pun semakin dekat, sedangkan amal shaleh untuk bekal di akhirat belum maksimal, itupun belum tentu diterima dan dosa semakin bertambah, yang entah diampuni atau tidak. 

Imam Malik Bin Anas rahimahullah ditanya, 

"كيفَ أصبحتَ؟ فقال: في عُمُرٍ ينقُصُ وذُنُوبٍ تَزيدُ". (مقدّمة شرح الزرقاني على الموطأ)(١/ ٥٤)

Bagaimana keadaan Engkau pagi ini? 

Beliau berkata :

UMUR semakin BERKURANG dan DOSA semakin BERTAMBAH. (Syarah Az Zarqani Ala Muwatha 1/54).

Berkata Basyr bin Al Harits rahimahullah,

مررت برجل من العُبَّاد بالبصرة وهو يبكي فقلت ما يُبكيك فقال أبكي على ما فرطت من عمري وعلى يومٍ مضى من أجلي لم يتبين فيه عملي

Aku melewati seorang laki-laki dari ahlu ibadah di Bashroh, ia sedang menangis. 

Aku bertanya, 'Apa yang menyebabkanmu menangis?' 

Dia menjawab, 'Aku menangis karena umur yang luput dariku dan atas hari yang telah berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku'.” (Mujalasah wa Jawahir Al ‘Ilm). 

Berkata Ibnu Aun rahimahullah :

لا تثق بكثرة العمل ؛ فإنك لا تدري أيقبل منك أم لا، ولا تأمن ذنوبك ؛ فإنك لا تدري أكفرت عنك أم لا ، إن عملك مغيب عنك كله.

"Janganlah engkau mengandalkan banyaknya amalan, karena engkau tidak tahu apakah DITERIMA (amal) darimu ataukah tidak, dan janganlah engkau merasa aman dari dosa-dosamu, karena engkau tidak tahu apakah telah TERHAPUSKAN (dosa) darimu ataukah tidak, sesungguhnya seluruh amalanmu adalah perkara yang tersembunyi darimu". (Jami'ul Ulum wal Hikam (187)). 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0b6N2yhMfsPnspt3yZBdgzQhFECxsBEcgbybN2fuUmypcsm38HmbaUYdk4kKeie1Sl&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, September 19, 2023

Abu Lahab dan Dalil Sunnahnya Peringatan Maulid Nabi

Abu Lahab dan Dalil Sunnahnya Peringatan Maulid Nabi
Bismillah...

BENARKAH ABU LAHAB DIRINGANKAN AZABNYA KARENA GEMBIRA DENGAN KELAHIRAN NABI ﷺ ⁉️ DAN JADI DALIL SUNNAHNYA PERINGATAN MAULID?

Al-Imam Bukhari rahimahullah dalam "Shahihnya" (No. 4711) meriwayatkan sampai dengan sanadnya kepada Urwah bin Zubair yang berkata :

وَثُوَيْبَةُ مَوْلاَةٌ لأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ‏

"Tsuwaibah adalah hamba sahaya milik

Abu Lahab yang dia merdekakan kemudian menyusui NABI ﷺ. Tatkala Abu Lahab mati sebagian keluarganya melihat dalam mimpi dalam kondisi memprihatinkan. Lalu keluarganya tersebut bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi?".

Abu Lahab berkata, "aku tidak mendapatkan nikmat apapun sepeninggal kalian, kecuali aku diberi minum karena memerdekakan Tsuwaibah."

Urwah bin Zubair adalah seorang Tabi'in. Barangkali yang dimaksud dengan anggota keluarga yang bermimpi tersebut adalah al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu anhu, sebagaimana ini keterangan dari Al-Imam as-Suhailiy yang mengatakan :

أَنَّ الْعَبَّاس قَالَ : لَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَب رَأَيْته فِي مَنَامِي بَعْد حَوْل فِي شَرّ حَال فَقَالَ : مَا لَقِيت بَعْدكُمْ رَاحَة , إِلَّا أَنَّ الْعَذَاب يُخَفَّف عَنِّي كُلّ يَوْم اِثْنَيْنِ

"Al-Abbas mengatakan, "ketika Abu Lahab mati, aku melihatnya dalam mimpiku, dalam kondisi yang jelek, lalu Abu Lahab berkata, "aku tidak mendapatkan kesempatan istirahat (dari siksa), kecuali azabku diringankan SETIAP HARI SENIN."

Baca juga : 

- https://nasihatsahabat.com/antara-abu-lahab-dan-maulid-nabi/

- https://almanhaj.or.id/8016-syubhat-peringatan-maulid-nabi-dengan-alasan-kisah-abu-lahab-yang-memerdekakan-budaknya.html


Ada beberapa catatan terhadap 2 atsar diatas, sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama dengan sangat gamblang :

1. Riwayatnya Urwah memang shahih sanadnya sampai kepadanya, namun Urwah adalah seorang Tabi'in, sehingga statusnya adalah mursal. Kemudian telah maklum bahwa mursal termasuk kategori hadis dhoif. 

2. Urwah menceritakan dari orang yang majhul perihal mimpi diatas, sehingga ini juga lemah secara ilmu hadis. 

3. Adapun riwayat al-Abbas radhiyallahu anhu, maka al-Imam as-Suhailiy yang masa hidupnya 508 - 581 H, jelas tidak bertemu langsung dengan al-Abbas, beliau adalah ahli sejarah dan memiliki karya tulis yang khusus membahas sirah NABI yang berjudul ar-Raudh al-Anf. Sedangkan beliau disini tidak menyebutkan sanad yang mengantarkannya kepada perkataan al-Abbas radhiyallahu anhu diatas, sehingga status sanadnya tidak bisa kita validasi.

Sebenarnya ketiga poin diatas sudah cukup melemahkan riwayat yang kita bahas ini, maka disana tidak ada peluang bagi para pendukung acara BID'AH MAULID untuk menjadikan atsar ini sebagai argumen, karena dalil mereka lemah, selemah rumah laba-laba. 

Namun baiklah kalau kita menerima asumsi yang mereka ajukan, bahwa riwayat al-Abbas radhiyallahu anhu shahih sampai kepadanya, maka masih tertinggal catatan terhadapnya :

A. Konteksnya, al-Abbas radhiyallahu anhu menceritakan mimpinya sesaat setelah perang Badar, karena Abu Lahab mati beberapa hari setelah kekalahan kafir Quraiys pada waktu perang Badar. Jika demikian, maka al-Abbas masih kafir ketika itu, karena beliau masuk Islam pada saat penaklukkan Mekkah. Oleh sebab itu, mimpinya orang kafir tidak dapat dijadikan pegangan. 

B. Anggaplah mimpi tersebut setelah al-Abbas radhiyallahu anhu masuk Islam, maka tetap saja mimpi tidak dapat dijadikan hujjah, karena berita ghaib seperti nikmat dan siksa kubur dan akhirat, hanya diketahui melalui jalan wahyu dari Al-Qur'an dan Hadits. 

Terakhir, taruklah kita menerima riwayat yang kita bahas ini adalah shahih, maka tetap saja ini bukan alasan disyariatkannya peringatan MAULID NABI. Bagaimana bisa faedah dari kisah ini luput dari para sahabat yang sangat paham dengan seluk-beluk kehidupan NABI, bagaimana juga ini bisa lolos dari kalangan Tabi'in yang semangatnya juga tidak kalah besar, dan bagaimana bisa Imam Mazhab yang empat tidak tergugah untuk mengambil faedah darinya, padahal mereka Mujtahid yang penelitiannya terhadap dalil-dalil syar'i sangat detail sekali dan sangat bersemangat untuk mengamalkan dan menyebarkannya. 

Maka inilah fiqih Salafy yang tegak lurus terhadap dalil-dalil syar'i dan pemahaman para sahabat yang senantiasa berpegang dengan petunjuk mereka, bahwa fix, peringatan MAULID NABI adalah BID'AH dalam agama ini. 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0ZRbvNu2FVaenRMWyASTcJZTBF5FyxqW6fxqdBZZs5mPybtMtfNZqS1De7Y1SmwWQl&id=100034708846450


Abu Sa'id ath-Thighali

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kapan Acara Maulid Nabi Pertamakali Diadakan?

Kapan Acara Maulid Nabi Pertamakali Diadakan?
Bismillah...

Para pendukung acara maulid lebih suka menyebutkan hasil penelitian Imam Suyuthi (w. 911 H) rahimahullah yang mengatakan dalam kitabnya "Husn al-Maqsud fî 'Amal al-Maulid" :

وأول من أحدث المولد صاحب إربل الملك المظفر أبو سعيد كوكبري بن زين الدين علي

"Yang pertama kali mengadakan maulid adalah penguasa Arbil -sekarang masuk wilayah Irak- yaitu Raja al-Mudhofir Abu Sa'id Kaukaburiy."

Raja ini wafat pada tahun 630 H, al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah memberikan komentar terhadapnya dalam kitabnya "as-Siyar" (22/355) :

وكان متواضعا ، خيرا ، سنيا ، يحب الفقهاء والمحدثين

"Beliau ini seorang yang tawadhu, orang baik, SUNI dan menyukai ahli fiqih dan ahli hadis."

Barangkali penguasa Arbil ini mendapatkan masukan dari ulamanya pada waktu itu, sebagimana yang dikatakan oleh al-Imam Abu Syâmah rahimahullah dalam kitabnya "al-Bâits 'ala inkar al-Bida' Wa al-Hawâdits" yang mengatakan :

وأن أول من احتفل بذلك بالموصل ، والشيخ عمر بن محمد الملا  أحد الصالحين المشهورين وبه اقتدى في ذلك صاحب إربل

"Yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid Nabi di Mosul -sebuah kota di Irak saat ini-, adalah asy-Syaikh Umar bin Muhammad al-Malâ, salah satu orang shalih yang terkenal dan kemudian dijadikan panutan oleh penguasa Arbil."

Asy-Syaikh al-Malâ wafat pada tahun 570 H, yang kemudian dikomentari oleh al-'Allâmah az-Zrekliy rahimahullah dalam kitabnya "al-A'lam (5/60-61) :

كان صالحا زاهدا عالما

"Beliau adalah orang yang shalih, zuhud dan orang yang alim."

Tentunya ini yang mereka masyhurkan agar mendapat kesan bahwa acara ini diinisiasi oleh tokoh-tokoh Sunni dan mendapatkan dukungan dari para ulama ahlus sunnah setelahnya. 

Akan tetapi jika kita membuka penelitian ulama, terutama yang membid'ahkan acara maulid Nabi, bahwa fakta sejarahnya tidak seperti itu. Acara ini bahkan telah diinisiasi oleh tokoh-tokoh syiah jauh sebelum itu. 

Para ulama kita menemukan bahwa al-Imam al-Maqriziy (w. 845 H) dalam kitabnya "al-Mawâ'idh Wa al-I'tibar" (2/436 cet. DKI) mengatakan :

وكان للخلفاء الفاطميين في طول السنة: أعياد ومواسم، وهي: موسم رأس السنة، وموسم أوّل العام، ويوم عاشوراء، ومولد النبيّ صلّى الله عليه وسلّم، ومولد عليّ بن أبي طالب رضي الله عنه، ومولد الحسن، ومولد الحسين عليهما السلام، ومولد فاطمة الزهراء عليها السلام، ومولد الخليفة الحاضر

"Para penguasa bani fatimiyyah dalam sepanjang tahun mereka punya agenda beberapa perayaan, yaitu : perayaan akhir tahun, awal tahun, hari Asyura, MAULID NABI ﷺ .....".

Al-Imam al-Maqrizi sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah :

وقال عنه أحد المؤرخين: (إن المقريزي كان متبحرا في التاريخ على اختلاف أنواعه، ومؤلفاته تشهد له بذلك)

"Salah satu ahli sejarah mengatakan, "al-Maqrizi ini adalah ulama yang merupakan lautan dalam ilmu sejarah dengan berbagai macam variasainya dan tulisan-tulisan beliau telah membuktikannya."

Para pakar sejarah mengatakan bahwa daulah Fatimiyyah mulai masuk ke Mesir dibawah pemerintahan al-Muiz Ma'ad bin Ismail pada tahun 362 H atau ada yang mengatakan juga tahun 363 H dan pemerintahan daulah Fatimiyyah baru berakhir kekuasaannya dengan meninggalnya raja terakhir mereka al-Mu'adhid pada tahun 567 H. 

Sedangkan penguasa Arbil di atas wafatnya pada tahun 630 H, sehingga kita dapat pastikan bahwa acara maulid ini dipelopori jauh sebelum penguasa Arbil ini, yaitu pada sekitar pertengahan abad keempat hijriyyah.

Daulah Fatimiyyah adalah pemerintahan Syiah bukan ahlus sunnah, mereka adalah pengikut sekte sesat Syiah Ismailiyyah yang lebih kepada kebatinan, ini adalah sekte sesat terbesar lainnya dalam Syiah, selain aliran Itsna Asyarah (Imam 12).

Namun apapun itu, sekalipun tetap ngotot bahwa amalan perayaan Maulid dipelopori oleh pemerintahan ahlus sunnah, tetap saja amalan ini tidak dikenal oleh 3 generasi terbaik umat ini. Oleh sebab itu, perayaan Maulid Nabi tidak hanya diingkari oleh ulama yang komitmen berpegang dengan sunnah pada hari ini, namun ulama ahlus sunnah pada zaman perayaan ini mulai merebak juga sudah mengingkarinya. Sebut saja semisal al-Imam Tajuddin al-Fâkihâniy rahimahullah yang dalam kitabnya "al-Maurid fî Hukm al-Maulid" memberikan fatwa dengan tegas seputar hukum perayaan Maulid Nabi :

لا أعلم لهذا المولد أصلا في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدّمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون

"aku tidak tahu bahwa perayaan Maulid ini memiliki landasan dari al-Qur'an maupun hadis, tidak dinukil juga dari salah seorang ulama umat yang mereka adalah teladan dalam agama dan berkomitmen kuat berpegang kepada atsarnya para pendahulu, bahkan Maulid ini adalah BID'AH yang dibuat-buat oleh orang-orang yang batil...."

Al-Imam al-Fâkihâniy ini wafat pada tahun 734 H, al-'Allâmah az-Zrekliy dalam kitabnya "al-A'lam" memberikan komentar tentang beliau :

كان فقيها فاضلا متفنّنا في الحدث، والفقه، والعربية، والأدب، وكان على حظّ وافر من الدين المتين، والصلاح العظيم، واتّباع السّلف الصالح.

"(Al-Imam) adalah ahli fikih, kokoh dalam hadis, fiqih, bahasa Arab, syair dan beliau pakar dalam agama ini, kebaikannya sangat luar biasa dan senantiasa mengikuti Salafus Shalih."

Oleh sebab itu, tidak memperingati perayaan Maulid Nabi adalah perkara yang BENAR dalam agama ini, karena ini adalah kesepakatannya para sahabat yang mulia yang kecintaan mereka kepada Nabi lebih besar dari generasi siapapun. 

Asy-Syaikh 'Aqîl bin Muhammad al-Maqthiriy dalam khutbah Jum'atnya mengatakan :

 إجماع الصحابة منعقد إجماع التابعين منعقد إجماع تابع التابعين، منعقد إجماع الأئمة الأربعة، منعقد على أنهم ما كانوا يحتفلون بمولد النبي صلى الله عليه وآله وسلم

"Telah sah Ijma sahabat, ijma Tabi'in, ijma Tabi'it Tabi'in dan Ijmanya Imam Mazhab yang empat, bahwa mereka semuanya tidak pernah merayakan maulid Nabi ﷺ."


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid078GHsmMqH1NsuzhaLVGKgc2nmaHdBR5USpFKjdqh1JdVoit4LYehRCdQ66g3X8N6l&id=100034708846450


Abu Sa'id ath-Thighali

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, August 9, 2023

Ketahuilah Dampak Buruk Bid'ah dan Jauhilah

Ketahuilah Dampak Buruk Bid'ah dan Jauhilah
Bismillah...

Alhamdulillahilladzi arsala rosulahu bilhuda wa diinil haq, liyuzh-hirohu alad diini kullih wa kafaa billahi syahida. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Sudah sepatutnya kita menjauhi berbagai macam bid’ah mengingat dampak buruk yang ditimbulkan. Berikut beberapa dampak buruk dari bid’ah.

● Pertama, amalan bid’ah tertolak

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Orang yang berbuat bid’ah inilah yang amalannya merugi. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

"Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi [18] : 103-104)

● Kedua, pelaku bid’ah terhalangi untuk bertaubat selama dia terus menerus dalam bid’ahnya. Oleh karena itu, ditakutkan dia akan mengalami su’ul khotimah

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

"Allah betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Thabrani. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 54)

● Ketiga, pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa’at beliau shallallahu alaihi wa sallam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

"Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan dihadapanku beberapa orang diantara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, Wahai Rabbku, ini adalah umatku. Lalu Allah berfirman, 'Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049)

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

"(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu. Kemudian aku (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) mengatakan, Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)

Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah. Ibnu Baththol mengatakan,

"Demikianlah, seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadits ini.” (Lihat Syarh Ibnu Baththol, 19/2, Asy Syamilah) -Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat, Amin Ya Mujibad Du’a.

● Keempat, pelaku bid’ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid’ahnya diikuti orang lain

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

"Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)

Wahai saudaraku, perhatikanlah hadits ini. Sungguh sangat merugi sekali orang yang melestarikan bid’ah dan tradisi-tradisi yang menyelisihi syari’at. Bukan hanya dosa dirinya yang akan dia tanggung, tetapi juga dosa orang yang mengikutinya. Padahal bid’ah itu paling mudah menyebar. Lalu bagaimana yang mengikutinya sampai ratusan bahkan ribuan orang? Berapa banyak dosa yang akan dia tanggung? Seharusnya kita melestarikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa harus melestarikan tradisi dan budaya yang menyelisihi syari’at? Jika melestarikan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -seperti mentalqinkan mayit menjelang kematiannya bukan dengan talqin setelah dimakamkan- kita akan mendapatkan ganjaran untuk diri kita dan juga dari orang lain yang mengikuti kita. Sedangkan jika kita menyebarkan dan melestarikan tradisi tahlilan, yasinan, maulidan, lalu diikuti oleh generasi setelah kita, apa yang akan kita dapat? Malah hanya dosa dari yang mengikuti kita yang kita peroleh.

MARILAH BERSATU DI ATAS KEBENARAN

Saudaraku, kami menyinggung masalah bid’ah ini bukanlah maksud kami untuk memecah belah kaum muslimin sebagaimana disangka oleh sebagian orang jika kami menyinggung masalah ini. Yang hanya kami inginkan adalah bagaimana umat ini bisa bersatu diatas kebenaran dan diatas ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang benar. Yang kami inginkan adalah agar saudara kami mengetahui kebenaran dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang kami ketahui. Kami tidak ingin saudara kami terjerumus dalam kesalahan sebagaimana tidak kami inginkan pada diri kami. Semoga maksud kami ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

"Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11] : 88)

Inilah sedikit pembahasan mengenai bid’ah, kerancuan-kerancuan di dalamnya dan dampak buruk yang ditimbulkan. Semoga dengan tulisan yang singkat ini kita dapat semakin mengenalinya dengan baik. Hal ini bukan berarti dengan mengetahuinya kita harus melakukan bid’ah tersebut. Karena sebagaimana perkataan seorang penyair,

عَرَّفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ … وَمَنْ لاَ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ

Aku mengenal kejelekan, bukan berarti ingin melakukannya, tetapi ingin menjauhinya

Karena barangsiapa tidak mengenal kejelekan, mungkin dia bisa terjatuh didalamnya Ya Hayyu, Ya Qoyyum. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami, walaupun hanya sekejap mata. Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa shohbihi wa sallam.


Sumber : https://rumaysho.com/180-ketahuilah-dampak-buruk-bidah-dan-jauhilah.html


Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal,MSc

Dipublikasikan ulang oleh

𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏 

Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive