Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label maulid nabi muhammad. Show all posts
Showing posts with label maulid nabi muhammad. Show all posts

Saturday, September 30, 2023

Apakah Perayaan Maulid Nabi Sesuatu Yang Baik Yang Bisa Mendekatkan Diri Kepada Allah Dan Surga?

Apakah Perayaan Maulid Nabi Sesuatu Yang Baik Yang Bisa Mendekatkan Diri Kepada Allah Dan Surga?
Bismillah...

Sekiranya acara perayaan maulid itu sesuatu yang baik yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan surga, tentulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan atau menyampaikan kepada para sahabat dan umatnya untuk mengadakan peringatan acara perayaan Maulid Nabi. 

Karena segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah dan kepada surga telah diperintahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan segala sesuatu yang menjauhkan dari Allah dan mendekatkan kepada neraka telah beliau melarangnya. Dan segala sesuatu kebaikan semuanya sudah ditunjukkan dan segala keburukan, semuanya sudah diperingatkan. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

ما تركت شيئاً يقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به، وما تركت شيئاً يبعدكم عن الله إلا وقد نهيتكم عنه .

"Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan telah aku perintahkan kalian dengannya dan tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan kalian dari Allah melainkan sungguh telah aku larang kalian darinya." (Riwayat At-Thabrani - Shahih Lighoirihi). 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

ما تركت من شيء يقربكم إلى الجنة إلا وقد حدثتكم به، ولا تركت من شيء يبعدكم عن النار إلا وقد حدثتكم به

"Tidaklah aku tinggalkan dari sesuatu yang mendekatkan kalian kepada surga melainkan sungguh aku telah menyampaikan kepada kalian dengannya dan tidaklah aku tinggalkan dari sesuatu yang menjauhkan kalian dari surga melainkan sungguh telah aku sampaikan kepada kalian dengannya." (Riwayat Baihaqi. Isnad Shahih). 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

إنَّهُ ليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى الجنةِ إلَّا قد أَمَرْتُكُمْ بهِ ، و ليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى النارِ إِلَّا قد نَهَيْتُكُمْ عنهُ .

"Sesungguhnya tidaklah sesuatu yang mendekatkan kalian kepada surga melainkan sungguh aku telah memerintahkan kepada kalian dengannya dan tidak lah sesuatu yang mendekatkan kalian kepada neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya." (Riwayat Thabrani - Isnad Shahih). 

Berkata Syekh Al Albani rahimahullah, 

قوله عليه الصلاة والسلام (ما تركت شيئاً يُقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به) إذا كان المولد خيراً، وكان مما يقربنا إلى الله زلفى فينبغي أن يكون رسول الله ﷺ قد دلّنا عليه. 

Ucapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam (Tidaklah aku tinggalkan sesuatu, yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan aku telah perintahkan kepada kalian dengannya). Apabila (perayaan) maulid itu baik dan ia adalah apa-apa yang mendekatkan kita kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, maka seharusnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan kepada kita atasnya (tentangnya).  (Al Hudaa wa An-Nuur 94).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0iqaBsWGHdyxaGNXLAbYnTTf3tB5ypsnSQ8uyrzq93FufDL8HCM2Xosw3gMKNjMdl&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, September 29, 2023

Keterikatan Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid Nabi

Keterikatan Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid Nabi
Bismillah...

Dalam beberapa buku sejarah disebutkan bahwa Tsuwaibah dimerdekakan oleh Abu Lahab karena sebab Tsuwaibah telah menyampaikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam. 

Dalam masalah ini perlu diberi catatan : 

[a] Syaikh Abdullah At Tuwaijiri -hafidzahullah- berkata : “Tsuwaibah adalah budak wanita milik Abu Lahab, Ia seorang wanita yang pertama kali menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itulah beliau sering mengunjunginya ketika masih di Makkah. Khadijah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga amat menghormatinya. Ketika masih menjadi budak, Khadijah radhiyallahu ‘anha pernah meminta Abu Lahab untuk menjualnya untuk dimerdekakan, akan tetapi paman nabi itu menolak, ia baru dimerdekakan oleh Abu Lahab pada waktu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah. Pada saat itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan pemberian dan pakaian kepadanya. Hanya saja keislaman dirinya masih diperselisihkan, ia wafat tahun 7 Hijriyah”. (Al Bida’ Al Hauliyyah, hal. 165, dinukil dari kitab Thobaqat Ibnu Sa’ad 1/108, Al Ishabah 4/250 no biografi : 213) 

[b] Ada riwayat yang dijadikan dasar oleh orang orang yang merayakan maulid Nabi khususnya dari kalangan sufiyah (orang-orang tasawwuf) bahwa Diantara kerabat Abu Lahab ada yang bermimpi melihat Abu Lahab lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Abu Lahab menjawab, “Aku di neraka, namun setiap malam senin siksaanku dikurangi. Aku menghisap air kira-kira sebanyak ini diantara jari-jemariku”, Dia memberikan isyarat ke ujung jari jarinya. Hal itu disebabkan aku telah memerdekakan Tsuwaibah” (Al Haawi 1/196) 

Riwayat itu bersumber dari Atsar yang disebutkan oleh Imam Bukhari rahimahullah setelah menyampaikan hadits tentang persusuan.

Imam Bukhari rahimahullah berkata :

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ 

Urwah berkata; Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, “Apa yang telah kamu dapatkan?” Abu Lahab berkata ”Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah.” (HR Bukhari : 5101) 

Atas dasar riwayat diatas mereka mengatakan, Kalau Abu Lahab yang kafir saja diringankan siksanya di Neraka karena bergembira pada malam lahirnya Nabi shalallahu alaihi wasallam maka apalagi seorang Muslim yang mencintai dan bergembira dimalam kelahirannya dan diantara bentuk menampakkan kegembiraan itu adalah dengan merayakannya hari kelahirannya. Inilah syubhat para pelaku amalan bid’ah merayakan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Syubhat ini dibantah dengan beberapa bantahan diantaranya : 

[1] Hadits diatas adalah mursal (terputus sanadnya), hadits ini dinukil secara mursal oleh ‘Urwah tanpa menyebutkan siapa yang menceritakan riwayat itu kepadanya. Hal ini menunjukan bahwa ia bukanlah ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bukan pula ucapan sahabat radhiyallahu ‘anhum. 

[2] Kalaupun statusnya muttashil (bersambung sanadnya), kandungan hadits itu hanya menunjukan mimpi yang tidak bisa di jadikan hujjah atau dalil. Sebab bisa jadi orang yang yang mengalami mimpi tersebut belum masuk islam, sehingga dengan sendirinya hadits itu tidak bisa dijadikan hujjah (Fathul baari 9/145) 

[3] Dalam hadits ‘Urwah yang mursal tadi dijelaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dalam hadits yang dituturkan oleh Ibnu Jauzi disebutkan bahwa Abu lahab memerdekakkan Tsuwaibah ketika menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian riwayat-riwayat tersebut bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh para ahli sejarah, mereka menyatakan bahwa Abu lahab memerdekakan Tsuwaibah beberapa tahun setelah ia menyusui Nabi shalallahu ‘alahi wasallam. 

Bahkan Al Hafidz Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata dalam biografi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah menyebutkan bahwa Tsuwaibah yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

وأعتقها أبو لهب بعدما هاجر النبي صلى الله عليه وسلم إلى المدينة 

Dan Abu Lahab memerdekakkan Tsuwaibah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah” (Al Isti’ab 1/12) 

Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :

وكانت ثويبة تدخل على رسول الله صلى الله عليه وسلم بعدما تزوج خديجة فيكرمها رسول الله صلى الله عليه وسلم وتكرمها خديجة ، وهي يومئذٍ أمة ، ثم أعتقها أبو لهب 

"Tsuwaibah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau menikah dengan Khadijah. Tsuwaibah masih berstatus budak ketika itu sebelum akhirnya di merdekakkan oleh Abu Lahab” (Al Wafa Bi Ahwalil Musthafa 1/178) 

[4] Tidak ada riwayat yang shahih tentang Abu Lahab bergembira dengan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau Abu Lahab diringankan siksanya di neraka karena sebab memerdekakan Tsuwaibah, bahkan hal ini bertentangan dengan dzahirnya dalil dalil dari Al Quran dan Sunnah bahwa orang kafir tidak akan diringankan siksanya di akhirat, sebagaimana amalan orang kafir tidak bermanfaat di akhirat. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا 

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (QS Fathir : 36)

Allah Ta’ala juga berfirman ;

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْماً مِنَ الْعَذَابِ . قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلالٍ 

Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari”. Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdo’alah kamu”. Dan do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS Ghofir : 49-50) 

Adapun amalan kebakan orang kafir didunia bisa saja dibalas dengan kesehatan, rizeki, dan kenikmatan dunia, akan tetapi di akhirat mereka tidak mendapatkan apapaun selain adzab yang pedih, amalan mereka berhamburan seperti debu yang berterbangan. 

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman ;

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا 

"Dan kami hadapi segala amal yang mereka (orang kafir) kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS Al Furqon : 23) 

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ ؟ قَالَ : لَا يَنْفَعُهُ ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, wahai rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyyah adalah orang baik suka silaturahim, memberi makan fakir miskin, maka apakah yang demikian itu bermanfa’at (di akhirat)” Beliau menjawab, ‘tidak bermanfa’at, karena ia tidak pernah mengatakan suatu haripun, wahai Rabbku ampuni dosa dan kesalahanku pada hari kiamat” (HR Muslim : 214) 

Demikian semoga mencerahkan. Wallahu A’lam.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02PSMdjYgg4bcazjtyDn5zUGhZjh4G6N36YsdnMQhP78BbVReH5eBnXcbjj9PzHTmfl&id=100066953493857


https://abughozie.com/keterkaitan-antara-abu-lahab-dengan-perayaan-maulid-nabi/


Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie

➖➖➖➖➖➖➖➖

📲 Abu Ghozie Official

www.abughozie.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Merayakan Wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم

Merayakan Wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم
Bismillah...

Para ulama mengatakan, tanggal 12 Rabiul Awal merupakan saat wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Al Lajnah Ad Diamah ditanya, 

متى توفي النبي صلى الله عليه وسلم؟ 

Kapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat? 

Mereka menjawab

وتوفي بالمدينة يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة. (فتاوى اللّجنة الدائمة 381/4).

Wafat di Madinah hari senin tanggal 12 Rabiulawal tahun 11 Hijriah. (Fatawa Al Lajnah Ad Diamah 4/381).

Disebutkan juga dalam Fatwa No 19239 di situs islamweb, tentang wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, 

فقد توفى النبي صلى الله عليه وسلم حين اشتد الضحى من يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من السنة الحادية عشرة للهجرة

Maka sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat pada saat waktu dhuha mulai memanas, hari Senin tanggal dua belas Rabi' al-Awwal tahun kesebelas Hijrah

Sumber : https://www.islamweb.net/ar/fatwa/19239/

Sedangkan lahirnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam para ulama berbeda pendapat. Tidak sepakat tentang tanggal kelahirannya. 

Disebutkan dalam Al Islam Sual Wa Jawab No 128530,

ليُعلم أولاً أن العلماء مختلفون في تحديد تاريخ ولادة النبي صلى الله عليه وسلم على أقوال ، فابن عبد البر رحمه الله يرى أنه صلى الله عليه وسلم وُلد لليلتين خلتا من شهر ربيع الأول ، وابن حزم رحمه الله يرجح أنه لثمانٍ خلون منه ، وقيل : لعشرٍ خلون منه ، كما يقوله أبو جعفر الباقر ، وقيل : لثنتي عشر منه ، كما يقوله ابن إسحاق ، وقيل : وُلد في شهر رمضان ، كما نقله ابن عبد البر عن الزبير بن بكَّار . انظر " السيرة النبوية " لابن كثير ( ص 199 ، 200 ) .

Hendaknya diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang tanggal persisnya kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan beberapa pendapat. Ibnu Abdul Bar rahimahullah berpendapat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tanggal 2 bulan Rabi'ul Awal. Ibnu Hazm rahimahullah menguatkan pendapat bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 8 Rabiul Awal. Ada pula yang berpendapat tanggal 10 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir. Ada pula yang berpendapat tanggal 12 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ishaq. Adapula yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadan sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abdul Bar dari Zubair bin Bakar. (As-Sirah An-Nabawiah, Ibnu Katsir, hal. 199-200).

Oleh karena itu, sungguh sangat mengherankan, ada sebagian orang yang bergembira, bersuka cita, menabuh rebana dan pesta makanan di hari kematiannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan mengatasnamakan perayaaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal itu merupakan saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat. 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid022YLow6zmBLVugeLeLzkGSn9JvmYxDDw7bsu5x5UGhcjtSUSKEGfHNo1KYWBVhqxel&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Setiap Orang Bisa Mengaku Cinta Rasulullah صلى الله عليه وسلم

Setiap Orang Bisa Mengaku Cinta Rasulullah صلى الله عليه وسلم
Bismillah...

🔓 Syaikh al-'Allamah Sulaiman bin Abdillah alu Syaikh rahimahullah berkata,

وأكثر الناس يدعي أن الرسول صلى الله عليه وسلم أحب إليه مما ذكر فلابد من تصديق ذلك بالعمل والمتابعة له وإلاَّ فالمدَّعي كاذب

"Dan mayoritas orang mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih dari siapapun. Tentu pengakuan itu haruslah dibuktikan dengan "tashdiq" (pembenaran) dengan amalan dan peneladanan, sebab jika tidak, maka itu hanyalah PENGAKUAN DUSTA. 

فإن القرآن بين أن المحبة التي في القلب تستلزم العمل الظاهر بحسبها كما قال تعالى:  قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم 

Karena Al-Qur'an menegaskan bahwa kecintaan dalam hati mengonsekuensikan amalan lahir, sebagaimana firman Allah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS Ali Imran 31)

📚 Taisirul 'Azizil Hamid (hlm. 832)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid04QMNzmL2mSmK9R82egXSu1Y7G2nZi4iPBQpKJhzjL68Yeia4AEFvgMNTJ2shpFRkl&id=100001764454087


Share Yuk | Join TELEGRAM | https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, September 28, 2023

Dialog Dengan Orang Yang Merayakan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم

Dialog Dengan Orang Yang Merayakan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم
Bismillah...

1. Apakah perayaan ini termasuk ketaatan ataukah kemaksiatan?

Jika mereka menjawab: "Perayaan ini adalah kemaksiatan", maka tidak boleh merayakannya dan selesai pembahasannya (karena mereka telah mengakui bahwa ini adalah kemaksiatan).

Jika mereka menjawab: "Perayaan ini termasuk ketaatan", maka kita tanya kepada mereka pertanyaan kedua.

2. Apakah Nabi -صلى الله عليه وسلم- mengetahui ketaatan ini ataukah beliau tidak mengetahuinya?

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- tidak mengetahuinya", maka ini adalah bentuk menuduh Nabi -صلى الله عليه وسلم-  dengan (tuduhan) jahil (bodoh) yang merupakan kezindiqkan (bahkan hukumnya kufur akbar).

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- mengetahuinya", maka kita tanya kepada mereka pertanyaan ketiga.

3. Apakah Nabi -صلى الله عليه وسلم- telah menyampaikan kepada kami (ummat) tentang ketaatan ini?

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- belum menyampaikannya", maka ini adalah bentuk menuduh Nabi -صلى الله عليه وسلم- tidak menyampaikan risalah (mengkhianati risalah), padahal Allah berfirman:

"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya". (Al-Maidah: 67)".

Jika mereka menjawab: "Nabi -صلى الله عليه وسلم- telah menyampaikannya", maka kita jawab, "Tunjukkan bukti kebenaranmu".


Diterjemahkan dari status WA Syaikh Abdul Aziz Ar-Rayyis حفظه الله oleh Ustadz Ali Dahda حفظه الله

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Diantara 2 Sebab Diadakannya Acara (Peringatan/Perayaan) Maulid Nabi

Diantara 2 Sebab Diadakannya Acara (Peringatan/Perayaan) Maulid Nabi
Bismillah...

Dimunculkan dan disemarakkanya perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, diantara penyebabnya ada dua hal. Karena kecintaan yang berlebih kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyaingi orang Nasrani yang merayakan kelahiran Yesus. 

Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah, 

سببها إما محبة الرسول عليه الصلاة والسلام

فظنوا أن هذا من مقتضى المحبة

Sebabnya karena kecintaan yang berlebihan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga mereka mengira bahwa ini (perayaan Maulid Nabi) diantara (termasuk) bukti rasa cinta.

وإما مضاهاة للنصارى ؛ لأن النصارى يقيمون عيداً

لمولد المسيح عليه الصلاة والسلام ..

Dan adakalanya persaingan dengan nasrani. Karena sesungguhnya orang nasrani mereka menegakkan (mengadakan) perayaan kelahiran Isa bin Maryam alaihimassalam. (Iqtidha' ash-Shirat al-Mustaqim). 

Sumber : https://al-maktaba.org/book/7687/5836 

Sebab PERTAMA, karena cinta yang berlebihan kepada Rasulullah.

Padahal salah satu bukti cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan SUNNAHNYA. Bukan membuat perkara baru di dalam agama. Bukan melakukan inovasi dan kreasi dalam urusan amal ibadah. Bukan mengamalkan berbagai bid'ah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

.. وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

.. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga. (Riwayat Tirmidzi. Berkata Tirmidzi : Hadits Hasan Ghorib. Berkata Imam Syatibi : Hadits Hasan). 

Sebab KEDUA, meniru orang Nasrani.

Didalam syariat islam, haram hukumnya tasabbuh, menyerupai orang-orang diluar islam. Meniru ahlul kitab dan orang-orang musyrik. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud. Berkata Syekh Al-Albany : Hadits Hasan Shahih).

Dan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani". (HR Tirmidzi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Hasan).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وذِرَاعاً بِذِرَاعٍ, حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ, الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ» ؟ . رواه البخاري

Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (kebiasaan) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka masuk ke lubang ‘Dlobb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak), niscaya kalian akan memasukinya pula”. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)”. (HR. Bukhari). 

Syekh Utsaimin rahimahullah ditanya, 

من هم أول من أحدثوا بدعة المولد النبوي وكيف جاءت ؟

Siapakah mereka yang pertama kali mengadakan bid’ah Maulid Nabi, dan bagaimana hal itu bisa terjadi ?

Beliau menjawab, 

أوّل من أحدثها الفاطميون في مصر في القرن الرابع الهجري

وفي القرن السابع أحدثها ملك أربل في العراق .

ثم انتشرت في المسلمين

Yang pertama kali mengadakan adalah (Dinasti) Fathimiyyun (Syi’ah) di Mesir pada abad ke-4 hijriyyah. Dan di abad ke 7 diadakan kembali oleh Raja Arbal di Iraq. Kemudian menyebarlah bid’ah tersebut di tengah kaum muslimin.

وسببها كما يقول شيخ الإسلام ابن تيمية

في اقتضاء الصراط المستقيم :

Dan sebabnya, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah didalam Kitab Iqtidha’ ash-Shirat al-Mustaqim;

سببها إما محبة الرسول عليه الصلاة والسلام

فظنوا أن هذا من مقتضى المحبة

Sebabnya karena kecintaan yang berlebihan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga mereka mengira bahwa ini (perayaan Maulid Nabi) diantara (termasuk) bukti rasa cinta.

وإما مضاهاة للنصارى ؛ لأن النصارى يقيمون عيداً

لمولد المسيح عليه الصلاة والسلام ..

Dan adakalanya persaingan dengan nasrani. Karena sesungguhnya orang nasrani mereka menegakkan (mengadakan) perayaan kelahiran Isa bin Maryam alaihimassalam. 

وأياً كـان السبب فكُلّ بدعة ضلالة

[ لقاء الباب المفتوح (٢١٠) ]

Yang pasti, apapun sebabnya, maka setiap bid'ah itu sesat. (Liqa’ Bab al-Maftuh, 210).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid03msjhqcCrRzRd97yZujrN2WJ1fZPwFcynR6jMArBMoZfbfPBukWQBxrBR4TCchsTl&id=100063495759389


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kalaulah Maulid Nabi Itu Bagian Dari Islam

Kalaulah Maulid Nabi Itu Bagian Dari Islam
Bismillah...

Kalaulah Maulid Nabi itu bagian dari Islam sudah pasti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi'i dan Imam Ahmad rahimahumullah membuat Bab Maulid Nabi dalam Kitab-Kitab Fiqhnya dan menuliskan dalil-dalil acuannya. Namun tidak ada.

Kalaulah Maulid Nabi itu bagian dari Islam, sudah pasti para Imam Ahli Hadits seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasai, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah, Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Darimi, Imam Daraquthni, Imam Malik, Imam Ibnu Hibban, dll rahimahumullah sudah membuat Kitab : Hari Raya dan Bab : Maulid Nabi dengan dalil-dalil Sunnah acuannya. Namun tidak ada.

Maka dapat diketahui bahwasannya Maulid Nabi itu bukan bagian dari Islam. Lantas dari mana asalnya?

Jawabannya adalah buatan Syi4h (Syi4h bukan Islam) Dinasti Fathimiyyah yang mencontoh Hari Natal Kafir Nashrani, kemudian disebarkan oleh Sufi yang menisbatkan atau dinisbatkan kepada Mazhab yang 4, kemudian diikuti oleh orang-orang bodoh hingga sekarang atas dasar cinta Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Cinta? Jika Cinta Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka PATUHLAH TERHADAP SUNNAHNYA, Dan Sunnah beliau -shallallahu 'alaihi wasallam- adalah melarang berbuat Bidah dalam Syariat.

Sehingga, jika masih melakukan Maulid Nabi, maka cinta kalian itu palsu, cinta kalian hanya sebatas di mulut saja, hanya cinta tahunan, bukan cinta selamanya.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0tEiztsLTPWgfUhwdh2KV45hnbcv7JVpiwrxgRrHSdLhsFbBDoskNWjsMh2AKYxm2l&id=100081182600047


Atha bin Yussuf

https://t.me/AthaBinYussuf

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, December 19, 2018

Anti Maulidan?

Anti Maulidan?
Kami sebenarnya tidak anti maulidan, hanya saja bagaimana maulidan yg pernah Nabi sebutkan dalam hadits? Silakan simak hadits berikut

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
.
Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Jika kita sudah tahu isi hadits di atas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada hari senin, maka salah satu bentuk mengikuti ajaran Nabi adalah dengan rutin melaksanakan puasa sunnah di hari senin.

1. Di antara keutamaan hari senin adalah dibukanya pintu surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565)

2. Nabi pun senang beramal di hari senin, karena amalan dihadapkan pada hari tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747)

3. Maka rutinkanlah puasa sunnah di hari Senin, karena itulah hari yang Nabi pilih.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. An Nasai no. 2362 dan Ibnu Majah no. 1739)

Mari maulidan sesuai dengan apa yg telah Nabi sebutkan dalam hadits-hadits di atas.

🌐 Ref: muslim.or.id

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Thursday, August 30, 2018

Benarkah 12 Rabiul Awal Hari Kelahiran Nabi?

Benarkah 12 Rabiul Awal Hari Kelahiran Nabi?
Tanggal 12 Rabi’ul Awal telah menjadi salah satu hari istimewa bagi sebagian kaum muslimin. Hari ini dianggap sebagai hari kelahiran Nabi akhir zaman, sang pembawa risalah penyempurna, Nabi agung Muhammad shallallahu alaihi wa ‘alaa alihi wa sahbihi wa sallam. Perayaan dengan berbagai acara dari mulai pengajian dan dzikir jamaah sampai permainan dan perlombaan digelar untuk memeriahkan peringatan hari yang dianggap istimewa ini. Bahkan ada di antara kelompok tarekat yang memperingati maulid dengan dzikir dan syair-syair yang isinya pujian-pujian berlebihan kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Mereka meyakini bahwa roh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang mulia akan datang di puncak acara maulid. Oleh karena itu, pada saat puncak acara pemimpin tarekat tersebut memberikan komando kepada peserta dzikir untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan roh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang hanya diketahui oleh pemimpin tarekat.

Sungguh aqidah semacam ini sama persis dengan aqidah orang-orang Hindu yang meyakini bangkitnya roh leluhur. Namun sayangnya sebagian kaum muslimin menganggap hal ini sebagai bentuk ibadah. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un, kesesatan mana lagi yang lebih parah dari kesesatan ini.

Kapankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Dilahirkan?

Pada hakikatnya para ahli sejarah berselisih pendapat dalam menentukan sejarah kelahiran Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, terutama yang terkait dengan bulan, tanggal, hari, dan tempat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dilahirkan.

Pertama: Bulan Kelahiran

Pendapat yang paling masyhur, beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awal. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahkan dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai kesepakatan ulama.

Namun ada sebagian yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan di bulan Shafar, Rabi’ul Akhir, dan ada yang berpendapat beliau dilahirkan di bulan Muharram tanggal 10 (hari Asyura). Kemudian sebagian yang lain berpendapat bahwa beliau lahir di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan dimana beliau mendapatkan wahyu pertama kali dan diangkat sebagai nabi. Pendapat ini bertujuan untuk menggenapkan hitungan 40 tahun usia beliau shallallahu ‘alahi wa sallam ketika beliau diangkat sebagai nabi.

Kedua: Tanggal kelahiran

Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari senin. Kemudian beliau menjawab, “Hari senin adalah hari dimana aku dilahirkan dan pertama kali aku mendapat wahyu.” Akan tetapi para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal berapa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dilahirkan. Di antara pendapat yang disampaikan adalah: Hari senin Rabi’ul Awal (tanpa ditentukan tanggalnya), tanggal 2 Rabi’ul Awal, tanggal 8, 10, 12, 17 Rabiul Awal, dan 8 hari sebelum habisnya bulan Rabi’ul Awal.

Pendapat yang Lebih Kuat

Berdasarkan penelitian ulama ahli sejarah Muhammad Sulaiman Al Mansurfury dan ahli astronomi Mahmud Basya disimpulkan bahwa hari senin pagi yang bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa penyerangan pasukan gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571 M, hari senin tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Rabi’ul Awal. (Ar Rahiqum Makhtum).

Tanggal Wafat

Para ulama ahli sejarah menyatakan bahwa beliau meninggal pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H dalam usia 63 tahun lebih empat hari.

Catatan Penting

Satu catatan penting yang perlu kita perhatikan dari dua kenyataan sejarah di atas. Perbedaan para ulama dalam menentukan tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan tanggal wafatnya beliau shallallahu ‘alahi wa sallam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para ulama tidak banyak memberikan perhatian terhadap tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Alasannya, penentuan kapan beliau dilahirkan sama sekali tidak terkait dengan hukum syariat (maksudnya tidak ada syariat tertentu baik berupa keyakinan maupun suatu amaliyah syar’iyah yang berkaitan dengan kelahiran beliau ed.)

Beliau dilahirkan tidak langsung menjadi nabi, dan belum ada wahyu yang turun di saat beliau dilahirkan. Beliau baru diutus sebagai seorang nabi di usia 40 tahun lebih 6 bulan. Berbeda dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, seolah para ulama sepakat bahwa hari wafatnya beliau adalah tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Perhatian para ulama mengenai hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena wafatnya beliau berhubungan dengan hukum syariat. Wafatnya beliau merupakan batas berakhirnya wahyu Allah yang turun. Sehingga tidak ada lagi hukum baru yang muncul setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alahi wa sallam.

Jika ada pertanyaan, tanggal 12 Rabi’ul Awal itu lebih dekat sebagai tanggal kelahiran Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam ataukah tanggal wafatnya beliau shallallahu ‘alahi wa sallam? Orang yang memiliki pengetahuan sejarah akan mengatakan bahwa tanggal 12 Rabi’ul Awal itu lebih dekat pada hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Karena dalam masalah tanggal kelahiran para ulama ahli sejarah berselisih sementara dalam masalah wafatnya tidak ditemukan adanya perselisihan.

Setelah kita memahami hal ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa tanggal 12 Rabi’ul Awal yang diperingati sebagai hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pada hakikatnya lebih dekat pada peringatan hari wafatnya Nabi yang mulia Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Oleh karena itu, sikap sebagian besar kaum muslimin yang selama ini memperingati hari maulid Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sebenarnya mirip dengan tindakan kaum Nasrani dalam memperingati tanggal 25 Desember. Mereka beranggapan bahwa itu adalah tanggal kelahiran Yesus padahal sejarah membuktikan bahwa Yesus tidak mungkin dilahirkan di bulan Desember. Dengan alasan apa lagi kita hendak merayakan 12 Rabi’ul Awal sebagai peringatan maulid??

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Sejarah Munculnya Peringatan Maulid Nabi

Sejarah Munculnya Peringatan Maulid Nabi
Disebutkan para ahli sejarah bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan dirinya sebagai Bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan ahli bait (keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam). Disebutkan bahwa kelompok Batiniyah memiliki 6 peringatan maulid, yaitu maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, maulid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maulid Fatimah, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid penguasa mereka. Daulah Bathiniyah ini baru berkuasa pada awal abad ke-4 H.

Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam baru muncul di zaman belakangan, setelah berakhirnya massa tiga abad yang paling utama dalam umat ini (al quruun al mufadholah). Artinya peringatan maulid ini belum pernah ada di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabat, tabi’in dan para tabi’ tabi’in. Al Hafizh As Sakhawi mengatakan: “Peringatan maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam belum pernah dinukil dari seorang pun ulama generasi terdahulu yang termasuk dalam tiga generasi utama dalam Islam. Namun peringatan ini terjadi setelah masa itu.”

Pada hakikatnya, tujuan utama daulah ini mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam adalah dalam rangka menyebarkan aqidah dan kesesatan mereka. Mereka mengambil simpati kaum muslimin dengan kedok cinta ahli bait Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. (Dhahiratul Ihtifal bil Maulid An Nabawi, Abdul Karim Al Hamdan)

Siapakah Bani Fatimiyah

Bani Fatimiyah adalah sekelompok orang Syiah pengikut Ubaid bin Maimun Al Qoddah. Mereka menyebut dirinya sebagai Bani Fatimiyah karena menganggap bahwa pemimpin mereka adalah keturunan Fatimah putri Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Meskipun aslinya ini adalah pengakuan dusta. Oleh karena itu, nama yang lebih layak untuk mereka adalah Bani Ubaidiyah bukan Bani Fatimiyah. Kelompok ini memiliki paham Syiah Rafidhah yang menentang Ahlusunnah, dari sejak didirikan sampai masa keruntuhannya berkuasa di benua Afrika bagian utara selama kurang lebih dua abad. Dimulai sejak keberhasilan mereka dalam meruntuhkan daulah Bani Rustum tahun 297 H dan diakhiri dengan keruntuhan mereka di tangan daulah Salahudin Al Ayyubi pada tahun 564 H. (Ad Daulah Al Fathimiyah, Ali Muhammad As Shalabi).

Daulah Fatimiyah ini memiliki hubungan erat dengan kelompok Syiah Al Qaramithah Bathiniyah. Perlu diketahui bahwa Kelompok Al Qaramithah Bathiniyah ini memiliki keyakinan yang sangat menyimpang dari ajaran Islam. Di antaranya mereka hendak menghilangkan syariat haji dalam agama Islam. Oleh karena itu, pada musim haji tahun 317 H kelompok ini melakukan kekacauan di tanah haram dengan membantai para jama’ah haji, merobek-robek kain penutup pintu ka’bah, dan merampas hajar aswad serta menyimpannya di daerahnya selama 22 tahun. (Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir).

Siapakah Abu Ubaid Al Qoddah

Nama aslinya Ubaidillah bin Maimun, kunyahnya Abu Muhammad. Digelari dengan Al Qoddah yang artinya mencolok, karena orang ini suka memakai celak sehingga matanya kelihatan mencolok. Pada asalnya dia adalah orang Yahudi yang membenci Islam dan hendak menghancurkan kaum muslimin dari dalam. Dia menanamkan aqidah batiniyah. Dimana setiap ayat Alquran itu memiliki makna batin yang hanya diketahui oleh orang-orang khusus diantara kelompok mereka. Maka dia merusak ajaran Islam dengan alasan adanya wahyu batin yang dia terima dan tidak diketahui oleh orang lain. (Al Ghazwul Fikr dan Ad Daulah Al Fathimiyah, Ali Muhammad As Shalabi).

Dia adalah pendiri dan sekaligus orang yang pertama kali memimpin Bani Fatimiyah. Pengikutnya menggelarinya dengan Al Mahdi Al Muntazhar (Al Mahdi yang dinantikan kedatangannya). Berasal dari Iraq dan dilahirkan di daerah Kufah pada tahun 206 H. Dirinya mengaku sebagai keturunan salah satu ahli bait Ismail bin Ja’far As Shadiq melalui pernikahan rohani (nikah non fisik). Namun kaum muslimin di daerah Maghrib (Maroko) mengingkari pengakuan nasabnya. Yang benar dia adalah keturunan Said bin Ahmad Al Qoddah. Terkadang orang ini mengaku sebagai pelayan Muhammad bin Ja’far As Shodiq. Semua ini dia lakukan dalam rangka menarik perhatian manusia dan mencari simpati umat. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak di antara orang-orang yang tidak tahu di daerah Afrika membenarkannya dan menjadikannya sebagai pemimpin. (Al Bidayah wan Nihayah karya Ibn Katsir dan Ad Daulah Al Fathimiyah karya Ali Muhammad As Shalabi).

Sikap Para Ulama Terhadap Bani Ubaidiyah (Fatimiyah)

Para ulama Ahlussunnah telah menegaskan status kafirnya klan ini. Karena aqidah mereka yang menyimpang. Para ulama menegaskan tidak boleh bermakmum di belakang mereka, tidak boleh menyalati jenazah mereka, tidak boleh adanya hubungan saling mewarisi di antara mereka, tidak boleh menikah dengan mereka, dan sikap-sikap lainnya sebagaimana yang selayaknya diberikan kepada orang kafir. Di antara ulama Ahlussunnah yang sezaman dengan mereka dan secara tegas menyatakan kekafiran mereka adalah As Syaikh Abu Ishaq As Siba’i. Bahkan beliau mengajak untuk memerangi mereka. Syaikh Al Faqih Abu Bakr bin Abdur Rahman Al Khoulani menceritakan:

“Syaikh Abu Ishaq bersama para ulama lainnya pernah ikut memerangi Bani Aduwillah (Bani Ubaidiyah) bersama bersama Abu Yazid. Beliau memberikan ceramah di hadapan tentara Abu Yazid: ‘Mereka mengaku ahli kiblat padahal bukan ahli kiblat, maka kita wajib bersama pasukan ini yang merupakan ahli kiblat untuk memerangi orang yang bukan ahli kiblat (yaitu Bani Ubaidiyah)…’” Di antara ulama yang ikut berperang melawan Bani Ubaidiyah adalah Abul Arab bin Tamim, Abu Abdil Malik Marwan bin Nashruwan, Abu Ishaq As Siba’i, Abul Fadl, dan Abu Sulaiman Rabi’ Al Qotthan. (Ad Daulah Al Fathimiyah, Ali Muhammad As Shalabi). Sampai akhirnya mereka ditaklukkan oleh Salahudin Al Ayyubi.

Setelah kita memahami hakikat peringatan maulid yang sejatinya digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan aqidah kekafiran Bani Ubaidiyah…akankah kita selaku kaum muslimin yang membenci mereka melestarikan syiar orang-orang yang memusuhi ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam?? Perlu kita ketahui bahwa merayakan maulid bukanlah wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Bukankah para sahabat, ulama-ulama Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in adalah orang-orang yang paling mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Namun tidak tercatat dalam sejarah bahwa mereka merayakan peringatan maulid. Akankah kita katakan mereka tidak mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam.

Seorang penyair mengatakan:
  • Jika cintamu jujur tentu engkau akan menaatinya…
  • Karena orang yang mencintai akan taat kepada orang yang dia cintai…
Cinta yang sejati bukanlah dengan merayakan hari kelahiran seseorang… namun cinta yang sejati adalah dibuktikan dengan ketaatan kepada orang yang dicintai. Dan bagian dari ketaatan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam adalah dengan tidak melakukan perbuatan yang tidak beliau ajarkan.

Wallahu Waliyyut Taufiq

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Monday, August 27, 2018

Halalkah Makanan Maulid Nabi Muhammad?

Halalkah Makanan Maulid Nabi Muhammad?
Bolehkan memakan makanan yang dibagikan dalam acara peringatan maulid nabi?

Jawaban:

Tidak ada dalam ajaran Islam yang murni suatu acara yang disebut dengan peringatan maulid nabi. Para sahabat, tabiin, imam mazhab yang empat ataupun ulama yang semasa dengan mereka tidak mengenal acara ini dalam agama ini. Acara maulid nabi itu pertama kali diada-adakan oleh para ahli bid’ah tepatnya orang-orang Bathiniah (sekte Syiah yang sangat ekstrem. Kemudian banyak orang yang ikut-ikutan mengadakan acara ini, padahal para ulama di sepanjang zaman dan dari berbagai kota mengingkarinya.

Menimbang hal di atas maka semua hal yang dikhususkan oleh banyak orang pada hari maulid nabi semisal mengadakan perayaan dan keramaian serta acara makan-makan itu tergolong kegiatan yang haram karena mereka ingin dengan kegiatan tersebut menyemarakkan hari raya yang mengada-ada dalam agama kita.

Syekh Salih Al-Fauzan dalam Bayan li Akhta’ Ba’dhil Kuttab Hal. 268-270 mengatakan, “Sangatlah jelas adanya perintah untuk mengikuti syariat Allah dan rasul-Nya dalam Alquran dan sunah disamping larang membuat amalan mengada-ada dalam agama. Allah berfirman,

‎قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah jika memang benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian ” (QS. Ali Imran:31).

‎اتَّبِعُواْ مَا أنزل إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah ajaran yang diturunkan kepada kalian dari Rab kalian dan janganlah kalian mengikuti tandingan-tandingan Allah. Sungguh sedikit orang yang mau mengambil pelajaran. ” (QS. Al A’raf:3).

‎وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus. Ikutilah jalan tersebut dan janganlah kalian mengikuti berbagai jalan yang hanya akan menyimpangkan kalian dari jalan-Nya” (QS. Al-An’am: 153).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎إن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk beragama adalah petunjuk Muhammad dan sejelek-jelek urusan dalam agama adalah berbagai perkara yang diada-adakan.” (HR. Nasai, no. 1578, dinilai sahih oleh Al-Albani)

‎من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد  وفي رواية لمسلم :  من عمل عملًا ليس عليه أمرنا فهو رد

Siapa saja yang mengada-ada dalam agama ini sesuatu yang sebenarnya bukanlah bagian darinya maka hal yang diada-adakan tersebut itu tertolak” (HR Bukhari dan Muslim dari Aisyah). Dalam salah satu riwayat Muslim, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang melakukan amalan yang tidak kami ajarkan maka amalan tersebut tertolak.”

Diantara amalan mengada-ada yang dibuat oleh sebagian orang adalah acara peringatan maulid nabi Muhammad yang di adakan pada bulan Rabiul Awal. Bentuk acara peringatan ini beragam:

Ada yang berupa sekedar kumpul-kumpul lalu dibacakan kisah kelahiran nabi, ada juga yang berisi ceramah dan syair yang dibacakan dalam kesempatan tersebut, ada juga berupa membuat makanan, kue, dll yang disuguhkan kepada semua hadirin, ada yang mengadakan acara tersebut di masjid, ada juga yang mengadakannya di dalam rumah, ada juga yang tidak mencukupkan diri dengan hal-hal di atas namun acara kumpul-kumpul ini dicampuri berbagai hal yang haram dan kemungkaran semisal campur baur laki-laki dan perempuan, tarian dan nyanyian. Bahkan ada yang dicampuri dengan kemusyrikan berupa berdoa meminta sesuatu kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Peringatan maulid nabi dengan berbagai bentuk dan ragamnya serta beragam niat orang-orang yang melakukannya tidak disangsikan lagi sebagai amalan mengada-ada yang baru muncul jauh setelah tiga generasi emas Islam.

Pencetus pertama yang mengadakan acara maulid nabi adalah Al-Muzhaffar Abu Said Kubburi, Raja Irbil pada akhir abad keenam atau awal abad ketujuh hijriah sebagaimana penuturan banyak ahli tafsir semisal Ibnu Katsir, Ibnu Khalikan, dll.

Abu Syamah mengatakan, “Orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid nabi di daerah Al-Mushil adalah Umar bin Muhammad Al-Mula, seorang shalih yang terkenal. Raja Irbil dan lainnya tidak lain hanyalah meneladani Umar bin Muhammad.

Ibnu Katsir dalam Bidayah 13:137 ketika menjelaskan biografi Abu Said Kubburi mengatakan, “Ia yang mengadakan maulid dengan bentuk perayaan besar-besaran pada bulan Rabiul Awal. As-Sabth mengatakan, “Sebagian orang yang menyaksikan hidangan makanan yang disajikan oleh Al-Muzhaffar dalam salah satu acara peringatan maulid nabi bercerita bahwa ketika itu Al-Muzhaffar menyediakan lima ribu kepala kambing panggang, sepuluh ribu ayam, seratus ribu mangkuk besar, dan tiga puluh ribu piring berisi kue-kue. Al-Muzhaffar juga menyelenggarakan pentas nyanyi sufi dari siang sampai pagi berikutnya bahkan Al-Muzhaffar ikut menerima bersama para sufi dalam acara tersebut.”

Jadi perkara paling penting yang digunakan oleh para penggemar maulid adalah membuat beragam makanan lalu membagikannya dan mengajak orang untuk turut menikmatinya. Sehingga seorang muslim yang bersama mereka melakukan aktivitas ini dengan memakan makanan yang mereka sediakan dan duduk di jamuan mereka, tidak diragukan lagi ia dikategorikan turut memeriahkan acara bidah dan membantu terselenggarakannya perayaan tersebut. Padahal Allah melarang tolong-menolong dalam dosa dalam firman-Nya

‎وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ) المائدة

Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah: 2).

Oleh karena itulah terdapat fatwa-fatwa ulama yang mengharamkan untuk memakan makanan yang dibagikan pada saat peringatan maulid nabi ataupun acara bidah lainnya.

Syekh Ibnu Baz sebagaimana dalam Majmu Fatawa-nya 9:74 mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa hukum sembelihan yang ada dalam acara peringatan maulid nabi?”

Syekh menjawab dengan cara merinci status hukum untuk sembelihan tersebut menjadi dua:

🔰 Pertama, jika disembelih untuk shahibul maulid (baca: mendekatkan diri kepada nabi) maka ini adalah kemusyrikan besar.

🔰 Kedua, jika disembelih untuk dimakan maka tidak mengapa memakannya namun seyogyanya tidak memakan sembelihan tersebut sebagaimana tidak menghadiri dan mendatangi acara peringatan maulid nabi dalam rangka mengingkari acara tersebut dengan ucapan dan dengan perbuatan. Akan tetapi diperbolehkan menghadiri acara peringatan maulid nabi jika dalam rangka menasihati mereka dengan catatan tidak ikut memakan makanan yang disediakan dan tidak pula mengikuti acara-acara tertentu dalam rangka peringatan maulid nabi. Demikian fatwa dan penjelasan Syekh Ibnu Baz dalam masalah ini.”

Referensi: alsalafway.com
Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Hukum Puasa Saat Hari Maulid Nabi Muhammad

Hukum Puasa Saat Hari Maulid Nabi Muhammad
Kita boleh puasa sunah tidak ketika maulid nabi? Dosa tidak? (ketika puasa di hari maulid nabi, red)

Dari: Fasah Ribu

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

☑ Pertama, kita dianjurkan puasa setiap hari senin. Puasa ini dilakukan setiap pekan, setiap hari senin.

Dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kebiasaan beliau berpuasa hari senin. Beliau menjawab,

‎ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ

Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari aku diutus.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, dalam sebuah hadis dari Usamah bin Zaid, beliau ditanya tentang alasan sering melaksanakan puasa senin dan kamis. Jawab beliau,

‎ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dua hari ini dilaporkan amal kepada Rabbul alamin, dan aku ingin, ketika amalku dilaporkan, aku dalam kondisi puasa.” (HR. An-Nasa’i, dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama menyimpulkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa sunah hari senin, karena dua alasan,
  1. Karena  pada hari itu amal para hamba dilaporkan kepada Allah, dan beliau ingin ketika amal beliau dilaporkan, beliau dalam kondisi puasa.
  2. Pada hari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dan diutus oleh Allah. Maka beliau puasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.
Namun sekali lagi, puasa senin yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, dikerjakan setiap pekan dan bukan setahun sekali atau selapan sekali. Sehingga ketika kita hendak mewujudkan rasa syukur seperti yang beliau lakukan, selayaknya puasa senin itu kita lakukan secara rutin.

☑ Kedua, terdapat banyak puasa sunah yang dianjurkan dalam Islam. Dan secara umum, puasa sunah dalam islam dibagi menjadi dua:

1. Puasa sunah mutlak

Puasa sunah mutlak adalah puasa sunah yang dikerjakan tanpa dibatasi waktu maupun tempat tertentu. Artinya bisa dikerjakan kapanpun selama tidak bertepatan dengan hari terlarang puasa, seperti hari raya, hari tasyrik, hari Jum'at saja, atau hari Sabtu saja.

2. Puasa sunah muqayad

Puasa sunah muqayad adalah puasa sunah yang dikerjakan pada hari tertentu, berdasarkan anjuran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Puasa ini ada yang tahunan, ada yang bulanan, dan ada yang mingguan. Seperti puasa Asyura di setiap tanggal 10 Muharam, puasa Arafah di setiap tanggal 9 Dzulhijjah, puasa Senin-Kamis setiap pekan, puasa hari putih (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan), 6 hari di bulan Syawal, puasa Sya’ban, dst.

Dari sekian banyak puasa sunah muqayad yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang namanya puasa hari maulid. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan puasa tahunan. Demikian pula, tidak kita jumpai beliau atau para sahabat melaksanakan puasa di hari maulid. Ini semua menunjukkan bahwa puasa maulid yang jatuh pada tanggal 12 rabi’ul awal, bukan termasuk puasa yang disyariatkan. Terlebih, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal lahirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kecuali jika tanggal 12 rabiul awal jatuh pada hari kamis. Kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa kamis, bukan karena itu hari maulid, namun karena hari itu adalah hari kamis. Namun satu catatan, tidak boleh kita yakini, puasa hari kamis saat itu memiliki nilai lebih atau keutamaan tambahan, karena  alasan bertepatan dengan hari maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam

Referensi: Fatwa Islam, no. 137931

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Menurut 4 Madzhab

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Menurut 4 Madzhab
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita semua mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua memuliakan beliau. Kami, anda, mereka, semua muslim sangat mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang menjadi pertanyaan, apakah perayaan maulid merupakan cara benar untuk mengungkapkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kita tidak tahu pasti kapan pertama kali maulid ini diadakan. Namun jika kita mengacu pada keterangan al-Maqrizy dalam kitabnya al-Khathat (1/490), maulid ini ada ketika zaman Daulah Fatimiyah, daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka membuat banyak Maulid, mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain. Dan Bani Fatimiyah berkuasa sekitar abad 4 H.

Al-Maqrizy adalah ulama ahli sejarah dari Mesir. Wafat tahun 845 H.

Inilah yang menjadi alasan, kenapa para ulama ahlus sunah yang menjumpai perayaan maulid, menginkari keberadaan perayaan ini. Karena pada hakekatnya, mereka yang merayakan peringatan maulid, melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah bathiniyah.

Kita akan simak penuturan mereka,

1. Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah w. 734 H),

‎لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون

Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm. 1).

2. Keterangan as-Syathibi (w. 790 H)

‎فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة

Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat. (Fatawa as-Syatiby, hlm. 203).

3. Keterangan as-Sakhawi (ulama Syafiiyah dari Mesir, muridnya Ibnu Hajar al-Asqalani),

‎أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة

Asal perayaan maulid as-Syarif (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak dinukil dari seorangpun dari ulama salaf yang hidup di tiga generasi terbaik. (al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, hlm. 12)

4. Pujian as-Suyuthi terhadap keterangan Abu Amr bin al-Alla’ (w. 154 H)

‎ولقد أحسن الإمام أبو عمرو بن العلاء حيث يقول: لا يزال الناس بخير ما تعجب من العجب – هذا مع أن الشهر الذي ولد فيه رسول الله وهو ربيع الأول هو بعينه الشهر الذي توفي فيه، فليس الفرح بأولى من الحزن فيه

Sungguh benar yang dinyatakan Imam Abu Amr bin al-Alla’, beliau mengatakan, “Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa dari pada bersedih karena wafatnya beliau. (al-Hawi Lil Fatawa, 1/190).

Kebahagiaan mereka di tanggal 12 Rabiul awal dengan anggapan sebagai hari maulid, bertepatan dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mana yang lebih dekat, peringatan kelahiran ataukah peringatan kematian.

5. Keterangan Imam Ibnul Hajj (w. 737 H) menukil pernyataan al-Allamah al-Anshari

‎فإن خلا – أي عمل المولد- منه – أي من السماع – وعمل طعاماً فقط، ونوى به المولد ودعا إليه الاخوان، وسلم من كل ما تقدم ذكره – أي من المفاسد- فهو بدعة بنفس نيته فقط، إذ إن ذلك زيادة

Jika kegiatan maulid itu bersih dari semua suara-suara musik, hanya berisi kegiatan makan-makan, dengan niat maulid, mengundang rekan-rekan, dan bersih dari semua aktivitas terlarang yang tadi disebutkan, maka status perbuatan ini adalah bid’ah hanya sebatas niatnya. Karena semacam ini termasuk tambahan. (al- Madkhal, 2/312)

6. Pengakuan tokoh sufi, Yusuf ar-Rifa’i,

Bahkan seorang tokoh sufi Yusuf Hasyim ar-Rifa’i menyatakan dalam kitabnya bahwa perayaan maulid, termasuk yang bentuknya berkumpul untuk mendengarkan pembacaan sirah nabawi, baru ada jauh setelah para imam madzhab meninggal dunia. Yusuf ar-Rifa’i mengatakan,

‎إن اجتماع الناس على سماع قصة المولد النبوي الشريف، أمر استحدث بعد عصر النبوة، بل ما ظهر إلا في أوائل القرن السادس الهجري

Orang berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kisah maulid as-Syarif, adalah amalan baru setelah zaman kenabian. Bahkan kegiatan ini belum semarak kecuali di awal abad ke-6 hijriyah. (ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, hlm. 153).

7. Keterangan Muhammad Rasyid Ridha,

‎هذه الموالد بدعة بلا نزاع، وأول من ابتدع الاجتماع لقراءة قصة المولد أحد ملوك الشراكسة بمصر

Peringatan maulid ini statusnya bid’ah tanpa ada perbedaan diantara ulama. Sementara orang pertama yang membuat bid’ah kumpul-kumpul untuk menceritakan kisah Maulid adalah salah satu raja Circassians di Mesir. (al-Manar, 17/111)

Maulid Menurut Ulama 4 Madzhab

Lalu bagaimana pandangan para ulama imam madzhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad terkait peringatan maulid?

Jawabannya:

Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari mereka tentang maulid, sementara peringatan maulid belum pernah ada di zaman mereka...

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Sunday, August 26, 2018

Hadits Palsu Tentang Maulid Nabi Muhammad

Hadits Palsu Tentang Maulid Nabi Muhammad
Benarkah orang yang merayakan maulid akan mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat sebuah hadis yang sering dijadikan sebagai dalil pendukung maulid. Teks hadisnya,

مَنْ عَظَّمَ مَولِدِى كُنتُ شَفيعًا لَه يَومَ القِيَامَة. وَمَنْ اَنْفَقَ دِرهَمًـا فِى مَولِدِى فَكَاَنَّمـَا اَنفَقَ جَبَلًا مِن ذَهَبٍ فِى سَبِيلِ اللهِ

Siapa yang mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada hari kiamat, dan siapa mendermakan satu dirham untuk menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di dalam perjuangan fi sabilillah.”

Status Hadits

Kami tidak pernah menjumpai hadis ini. Bahkan ada keterangan dari sebagian ulama bahwa hadis ini adalah hadis palsu, dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara Syaikh Abdullah Aljibrin. Ketika ditanya tentang hadis ini, beliau mengatakan,

هذا الحديث لا يصح، ولم يرو في أصحاب الصحيح ولا أصحاب السنن فهو مكذوب

Hadis ini tidak shahih, tidak pernah diriwayatkan para penulis kitab shahih atau penulis kitab sunan. Hadits ini dusta.

Agar Mendapatkan Syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟

Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

Wahai Abu Hurairah, sudah saya duga, tidak ada seorangpun yang bertanya kepadaku tentang masalah ini sebelum-mu. Karena saya tahu, kamu sangat semangat untuk mendapatkan hadis.

Lalu beliau bersabda,

Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” (HR. Bukhari 99 dan yang lainnya).

Makna “mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya” adalah mentauhidkan Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan pertanyaan ini. Bahkan beliau sebut itu bagian dari semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam mendapatkan hadits.

Sehingga tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan jawaban yang terbaik untuk pertanyaan ini.

Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Beliau TIDAK menjawab dengan, “Orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!?”

Namun jawaban beliau adalah “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.”

Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian..

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Saturday, August 25, 2018

Inilah Bantahan Ilmiah Tentang Perayaan Maulid Nabi

Inilah Bantahan Ilmiah Tentang Perayaan Maulid Nabi
Bantahan perkataan Ibnu Hajar Al-Haitami terhadap perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami As-Syafii Sufi rahimahullah berkata :

"Ketahuilah sesungguhnya maulid adalah bid'ah yang tidak dinukil dari seorangpun dari salaf di tiga generasi ( Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin ) yang Nabi menyaksikan kebaikan mereka, tetapi bid'ahnya adalah bid'ah hasanah, jika didalam acara maulid terdapat kebaikan yang banyak untuk fakir miskin, bacaan Al-Qur'an, banyak berdzikir, dan bacaan tentang karamah, sejarah, mukjizat mukjizat Nabi, serta menampakkan rasa senang dan gembira, karena kebaikan yang terdapat dalam acara maulid mencakup kebaikan yang sangat luas, dzikir yang banyak adalah bid'ah hasanah" [ Al-Manhul Makiyyah 179/1 ]

Bantahan

1. Tentang pembagian bid'ah hasanah dan sayyi'ah, ini pembagian yang batil, bertentangan dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru dan semua bid'ah adalah kesesatan". (HR Muslim no 2042)

Dalam riwayat An-Nasaai ada tambahan

وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

"Dan semua perkara yang baru adalah bid'ah dan seluruh bid'ah adalah kesesatan dan seluruh kesesatan di neraka" (HR An-Nasaai no 1578)

Yang ada pembagian bid'ah secara bahasa dan istilah.

2. Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam selama hidupnya tidak pernah merayakan maulid atas kelahiranya begitu pula para nabi-nabi sebelumnya, dan beliau tidak memerintahkan umatnya untuk merayakan maulid, ketika tidak terjadi maulid  pada beliau dan tidak memerintahkannya maka amalan sesudah beliau adalah bid'ah munkarat.

3. Sesungguhnya merayakan maulid tidak dikerjakan oleh salaf dengan ketetapannya, seandainya perbuatan itu baik dan benar maka salaf lebih pantas mengamalkan dari pada kita, karena mereka lebih mencintai Nabi dan mengagungkannya, dan mereka sangat menjaga perbuatan yang baik.

4. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, Ibnu Hajar menyebut hal tersebut pada pendapat beliau dengan mengatakan, wajib berserah diri dengan menganggap baik perayaan maulid karena merayakannya pada hari 12 bulan rabiul awwal dengan tidak berhenti, dan terus berjalan sebagian mereka dengan merayakan maulid siang malam di semua hari pada bulan rabiul awwal, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar dan menganggap baik orang yang mengamalkannya.

5. Sesungguhnya bulan kelahiran Nabi adalah rabiul awwal maka yang benar justru kematian beliau pada bulan rabiul awwal ini riwayat yang sahih, maka yang pantas adalah kesedihan daripada bergembira dihari kematian beliau ( Al - Madkhal 2/15 )

6. Perayaan maulid terdapat banyak hal yang munkarat, jelek yang diharamkan, nasyid dan syair syair yang mengandung kesyirikan, dan seruan akan hadirnya Nabi ditengah tengah mereka, menyia-nyiakan shalat lima waktu, nyanyi, gendang, terbangan, menari, campur laki dan perempuan, menghambur-hamburkan harta, boros, dan perbuatan yang melanggar syariat, dan perbuatan ini terus-menerus dilakukan sampai saat ini.

7. Dalil yang digunakan nama melegalkan maulid oleh Ibnu Hajar adalah dalil istihsan (menganggap baik) perayaan maulid maka dalil ini tidak sah, diantara para ulama yang menentang dalil ini adalah, Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah beliau mengatakan;"Asal perbuatan maulid adalah bid'ah tidak dinukil dari salah satu salafushalih dari tiga  abad keemasan". ( Al-Hawi Lil Fatawa 1/196 )

Bagaimana mungkin menganggap istihsan suatu bidah yang munkarat hanya karena mempertahankan perayaan maulid (pen)

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubra li Ibni Baththah, 1/219, Asy Syamilah)

Begitu pula ulama syafiiyyah yang  menganggap bid'ah sesat perayaan maulid

Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata :"

Beliau mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah).  Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” ( Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi, 1/183 )

Ditulis Oleh : Ustadz Abu Muhammad Al-Aini Muhammad Ilham hafidzahullah

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive