Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Tuesday, November 22, 2022

Amalan Ketika Gempa

Amalan Ketika Gempa
Bismillah...

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Semua kejadian hebat di alam ini, Allah datangkan agar manusia menjadi akut kepada-Nya. 

• Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

"Kami tidak mengirim ayat-ayat itu melainkan untuk menakuti". (QS. Al-Isra: 59)

• Qatadah رحمه الله mengatakan,

إن الله يخوف الناس بما شاء من آية لعلهم يعتبرون، أو يذكرون، أو يرجعون، ذكر لنا أن الكوفة رجفت على عهد ابن مسعود، فقال: يأيها الناس إن ربكم يستعتبكم فأعتبوه

"Allah membuat takut manusia dengan tanda kekuasaan-Nya sesuai yang Dia kehendaki, agar mereka mengambil pelajaran, agar mereka ingat dan agar kembali.".

Diceritakan kepada kami bahwa di Kufah pernah terjadi gempa di zaman Ibnu Mas’ud. Lalu beliau mengatakan, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb kalian sedang mengingatkan kalian. Karena itu, ambillah peringatan ini". (Tafsir at-Thabari, 17/478)

Selanjutnya, ada beberapa amalan yang hendaknya dilakukan ketika gempa atau bencana lainnya :

1️⃣ Taubat kepada Allah

Sesungguhnya peristiwa ini akan membuahkan bertambahnya iman seorang mukmin, memperkuat hubungannya dengan Allah. Dia sadar bahwa musibah-musibah ini tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dosa-dosa anak manusia berupa kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan. Tidaklah terjadi suatu malapetaka melainkan karena dosa, dan malapetaka itu tidak akan dicabut oleh Allah kecuali dengan taubat.

• Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata, “Kadang-kadang Allah mengizinkan bumi bernapas sehingga mengakibatkan gempa dan tsunami yang dahsyat, sehingga hal itu menjadikan ketakutan kepada Allah, kesedihan, taubat dan berserah diri kepada Allah”.

2️⃣ Banyak berdzikir, do’a, dan istighfar kepada Allah

• Imam Syafi’i رحمه الله  mengatakan, “Obat yang paling mujarab untuk mengobati bencana adalah memperbanyak tasbih

• Imam as-Suyuthi رحمه الله berkomentar, “Hal itu karena dzikir dapat mengangkat bencana dan adzab, sebagaimana firman Allah,

فَلَوْلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُسَبِّحِينَ ﴿١٤٣﴾ لَلَبِثَ فِى بَطْنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿١٤٤﴾

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. (QS. ash-Shoffat [37]: 143–144)

Renungkanlah juga firman Allah سبحانه وتعالى

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿٣٣﴾

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (QS. al-Anfal [8]: 33)

Ayat mulia ini menunjukkan bahwa ada dua hal yang dapat melindungi manusia dari adzab :

Pertama, adanya Nabi Muhammad ﷺ di tengah-tengah manusia dan ini bersifat sementara. 

Kedua, istighfar dan meninggalkan segala dosa dan ini bersifat seterusnya sekalipun Nabi ﷺ telah meninggal dunia.

3️⃣ Membantu para korban bencana

Saudaraku, bila kita sekarang dalam kenikmatan dan kesenangan, kita bisa makan, minum, dan memiliki rumah, maka ingatlah saudara-saudaramu yang terkena bencana. Saat ini mereka sedang kesusahan dan kesulitan. Maka ulurkanlah tanganmu untuk membantu mereka semampu mungkin..

• Rasulullah ﷺ bersabda,

نْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barang siapa yang membantu menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan kesusahan darinya besok di hari kiamat”. (HR. Muslim no. 2699)

Terlebih lagi orang kaya, pengusaha, pemerintah, dan bangsawan, hendaknya mereka mengeluarkan hartanya untuk membantu para korban. Dahulu, tatkala terjadi gempa pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau menulis surat kepada para gubernurnya untuk bersedekah dan memerintah rakyat untuk bersedekah..

Dan hendaknya para relawan saling membantu dan saling melengkapi antar sesama sehingga terwujudlah apa yang menjadi tujuan mereka, jangan sampai ada terjadi pertengkaran atau perasaan bahwa dia adalah orang yang paling pantas dibanding lainnya.

4️⃣ Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sebagaimana tadi kita sebutkan bahwa termasuk faktor terjadinya gempa adalah dosa umat manusia, maka hendaknya hal itu dihilangkan. Salah satu caranya dengan menegakkan dakwah, saling menasihati, dan amar ma’ruf nahi munkar sehingga mengecillah kemungkaran. 

Adapun bila kita acuh tak acuh dan mendiamkan kemungkaran maka tak ayal lagi bencana tersebut akan kembali menimpa kita.

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَ‌ٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ ﴿٧٨﴾ كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍۢ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ ﴿٧٩﴾

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS. al-Ma’idah [5]: 78–79)


✒️Ustadz Abu Ubaidah Yusuf حفظه الله تعالى

(Dengan beberapa tambahan dari Ustadz Ammi Nur Baits حفظه الله تعالى)


🌐 https://konsultasisyariah.com/31061-amalan-ketika-gempa.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Ulama Saja Bisa Tersesat, Apalagi Cuma Thulabul Ilmi

Ulama Saja Bisa Tersesat, Apalagi Cuma Thulabul Ilmi
Bismillah...

Banyak ulama yang tersesat dan tergelincir dari jalan yang benar dan dari jalan yang lurus. Dan mati dalam keadaan su'ul khatimah. Apalagi hanya sekedar setingkat ustadz, tholabul ilmi atau masyarakat awam, lebih besar lagi kemungkinannya untuk menyimpang dari jalan yang haq.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

لا أحد يزكي نفسه، ولا أحد لا يخاف من الفتنة، ما دام على قيد الحياة اﻹنسان معرض للفتنة، ضلََّّ علماء أحبار، وزلّت أقدامهم، وختم لهم بالسّوء وهم علماء، فالخطر شديد، ولا يأمن اﻹنسان على نفسه أن تنزلق قدمه في الضلال.

"Tidak ada seorangpun yang boleh menganggap dirinya suci, dan tidak ada seorangpun yang boleh merasa tidak takut terhadap kesesatan, selama masih hidup seseorang menjadi sasaran kesesatan, telah banyak ulama yang tersesat, kaki mereka telah tergelincir, dan mereka ditimpa su'ul khatimah, padahal mereka ulama. Jadi bahaya yang mengintai sangat besar, dan seseorang tidak bisa merasa aman terhadap dirinya dari tergelincir dalam kesesatan". (I’anatul Mustafid, jilid 1 hlm. 129).

Untuk itu jangan merasa diri berilmu dan beraqidah kokoh sehingga merasa aman dari fitnah.

Berkata Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah :

المسلم لا يأمن من الفتن وإن كان على علم وعلى عمل صالح وعلى عقيدة صحيحة". شرح حديث إنا كنا في جاهلية وشر - ص

"Seorang muslim hendaknya tidak merasa aman dari FITNAH, sekalipun dia berilmu, suka beramal shalih dan berakidah yang benar." (Syarh Hadits 'inna kunna fi jahiliyyah wa syarr hal 15).

Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agama-Mu sampai ajal menjemput.

Berkata Ummu Salamah radhiyallahu anha, Nabi shallallahu alaihi wa sallam sering membaca doa :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ" ثُمَّ قَرَأَ: {رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ}

"'Ya Tuhan Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu'. Kemudian membaca ayat berikut: 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)'". Ali Imran ayat 8. (Tafsir Ibnu Katsir).


https://www.facebook.com/903924823277358/posts/pfbid0e7FqZrcbp7YCRUuP5uJaGz65SAh5Z2NzsH8dEmaZ4ECVShafC45asXK51JZQ57UUl/?mibextid=Nif5oz

AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Dulu Ada Latta, Uzza & Manat Yang Disembah Kaum Qurais, Sekarang?

Dulu Ada Latta, Uzza & Manat Yang Disembah Kaum Qurais, Sekarang?
Bismillah...

Dulu ada Latta, Uzza & Manat yang disembah oleh kaum Qurais, sekarang kuburan yang disembah para Ahlul Bid'ah, alasannya sama, yaitu Tawassul pada orang yang mereka anggap sholeh...

Mungkin kita sudah mendengar bahwa Latta adalah nama berhala yang disembah oleh orang kafir Quraisy dahulu yang berupa patung. Nama Latta disinggung oleh Allah Ta’ala dalam ayat:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى(20) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى (21) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (22) إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (23)

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta dan Al Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka” (QS. An Najm: 19-23)

Namun kebanyakan dari kaum muslimin belum mengetahui siapa sebenarnya Latta itu. Apakah ia sekedar patung? Mengapa ia disembah?

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ada 2 cara membaca اللَّاتَ. Yang pertama adalah dengan men-takhfif huruf ta’ (tidak di-tasydid). Jadi dibaca al laata, yang menunjukkan sebuah nama. Sebagian ulama mengatakan disebut al laata karena berasal dari lafadz ‘Allah’ kemudian ditambahkan ta’ ta’niits. Sebagaimana ‘Amr, menjadi ‘Amrah. Juga sebagaimana ‘Abbas menjadi ‘Abbasah. Demikianlah cara orang-orang musyrikin menyebut berhala mereka dengan nama Allah untuk mengagungkan para berhala tersebut. Dan dari nama Allah Al ‘Aziz muncul nama Al ‘Uzza. Dan mereka menganggap para berhala itu sebagai anak-anak perempuan Allah (Tafsir Ath Thabari, 22/522). 

Yang membaca dengan bacaan al laata diantaranya Qatadah, ia pun menjelaskan:

أما اللات فكان بالطائف

Adapun al laata itu letaknya ada di Tha’if” (Tafsir Ath Thabari, 22/523)

Juga Ibnu Zaid, ia berkata:

اللات بيت كان بنخلة تعبده قريش

al laata itu sebuah rumah yang berada berada di Nakhlah, daerah antara Thaif dan Makkah” (Tafsir Ath Thabari, 22/523)

Adapun bacaan yang kedua adalah dengan men-tasydid huruf ta’. Jadi dibaca al laatta, yang menunjukkan sifat dari berhala yang dimaksud. 

Bacaan ini dari riwayat Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan Abu Shalih yang mereka menyatakan:

كان رجلا يَلُتّ السويق للحاج فلما مات عكفوا على قبره فعبدوه

al latta dahulu adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti (yang dibagikan cuma-cuma) kepada jama’ah haji. Ketika ia meninggal, orang-orang beri’tikaf di kuburannya dan menyembahnya” (Tafsir Ath Thabari, 22/523)

Ibnu Katsir juga menjelaskan tentang Latta dalam Tafsir Ibnu Katsir (7/455) :

وَكَانَتِ “اللَّاتُ” صَخْرَةً بَيْضَاءَ مَنْقُوشَةً، وَعَلَيْهَا بَيْتٌ بِالطَّائِفِ لَهُ أَسْتَارٌ وسَدَنة، وَحَوْلَهُ فِنَاءٌ مُعَظَّمٌ عِنْدَ أَهْلِ الطَّائِفِ

al latta adalah patung putih yang berukir. Ia ditempatkan dalam sebuah rumah di Tha’if yang memiliki kelambu-kelambu dan juru kunci. Sekelilingnya terdapat halaman. Latta di agungkan oleh penduduk Tha’if

Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan hakikat Latta dan membawakan hadits :

عن ابن عباس رضي الله عنهما ، في قوله : { اللات والعزى } كان اللات رجلا يلت سويق الحاج

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma, beliau menafsirkan makna ayat اللات والعزى bahwa Latta adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti untuk para jama’ah haji” (HR. Bukhari no. 4859)

Singkat kata, Latta adalah sebutan untuk seorang shalih yang membuatkan roti kepada jama’ah haji dengan cuma-cuma. Ketika ia meninggal, orang-orang mengenangnya dan mendatangi kuburannya, lalu beribadah di sana. Lama-kelamaan ia diagungkan dan menjadi berhala yang disembah selain Allah.

Faedah yang bisa kita ambil, ternyata memuji dan mengkultuskan orang secara berlebihan bisa mengakibatkan ia menjadi sesembahan yang disembah. Awalnya hanya dipuja-puji, namun orang-orang selanjutnya mulai membuatkan patung, lalu dibuatkan rumah untuk patung itu, lalu lama-kelamaan mereka beri’tikaf (berdiam diri untuk beribadah) di sana, dan akhirnya orang-orang selanjutnya pun menyembahnya. 

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat mewanti-wanti umatnya untuk tidak berlebihan memujinya dan tidak mengkultuskan beliau. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تُطْروني ، كما أطْرَتِ النصارى ابنَ مريمَ ، فإنما أنا عبدُه ، فقولوا : عبدُ اللهِ ورسولُه

Jangan berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani memuja-muji Isa bin Maryam. Karena aku hanyalah hamba-Nya maka sebutlah aku: hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al Bukhari 3445)

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga mewanti-wanti agar makam beliau tidak dijadikan tempat ibadah dan disembah, beliau bersabda:

اللَّهمَّ لا تجعَلْ قبري وثنًا يُعبَدُ, اشتدَّ غضبُ اللهِ على قومٍ اتَّخذوا قبورَ أنبيائِهم مساجدَ

Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Sangat keras murka Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (HR. Ahmad 13/88)

Faedah lain, ternyata orang-orang musyrik zaman Jahiliyah bukan menyembah patung-patung yang diyakini bisa menciptakan bumi, menciptakan langit, mengatur alam semesta dan isinya. Akan tetapi mereka menyembah berhala yang merupakan representasi dari makhluk Allah yang dianggap shalih, dianggap keramat, dianggap bisa mendekatkan dan menyampaikan hajat mereka kepada Allah.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”” (QS. Az Zumar: 3).

Wallahu waliyut taufiq


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid023XW7WSFdwq2RDs19rD9SUob5QMqEHPN2TrtTXGVpviHiaynPFBbnjKKHYJa51js4l&id=100077090290340


Fahmi Iskandar Harahap


===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Dia (Suamimu) Yang Wajib Disyukuri Pemberiannya

Dia (Suamimu) Yang Wajib Disyukuri Pemberiannya
Bismillah...

Hal yang sering terluput dan bisa menggelincirkan kita ke dalam panasnya api neraka, yang menjadi sebab banyaknya jumlah wanita yang berada di neraka adalah kufur terhadap nikmat yang diberikan suami dan tidak mensyukurinya..

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُأَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ:أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟

 قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَوَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْأَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

"Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur.

Ada yang bertanya kepada beliau ﷺ, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?

 Beliau ﷺ menjawab, 

(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.”

(HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Setelah selama ini hidup sendiri dengan nafkah dari orang tua yang selalu mengalir, atau mungkin yang sudah dapat menafkahi dirinya sendiri, sekarang tibalah saatnya kita hidup berbagi dengan nafkah yang diberikan suami. Seberapa pun yang diberikannya, maka syukurilah meski dengannya kita hanya bisa makan dengan lauk tempe, namun akan terasa nikmat jika dibersamai dengan rasa syukur kepada-Nya..

☝🏼 DIA YANG WAJIB DIBERIKAN DUKUNGAN ✊🏼

Saudariku… 

Dukunglah setiap langkah suami dalam kebaikan, baik itu untuk urusan dunia terlebih untuk akherat. Jangan lupa dukung suami untuk berbhakti kepada kedua orang tuanya, apalagi jika mereka telah berusia senja dan bersabarlah dengan hal itu. Jika emosinya tidak sengaja meluap, redakanlah dengan kelembutanmu, terlebih jika itu karena kesalahanmu..

وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ لاَ أَذُوْقُ غمْضًا حَتَّى تَرْضَى

Wanita-wanita (istri-istri) kalian yang termasuk penghuni surga adalah mereka yang mencintai suami, subur, dan yang selalu datang kembali kepada suaminya. Yakni, bila suami marah, maka ia mendatangi kembali suaminya seraya meletakkan tangannya pada tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak bisa tidur  sampai engkau ridha.”

(HR. An-Nasa`i dan Ath-Thabrani, shahih)

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada para istri untuk menunaikan kewajiban kepada suami, menunaikan hak-haknya serta memenuhi perintahnya..

Menjadi raihanah yang menyebarkan bau harum kebaikan dan ketentraman di rumah dengan akhlak mulia, maka jadilah engkau mahkota terbaik untuk suamimu. Karena aku yakin sesungguhnya engkau adalah perhiasan terindah yang dimilikinya di dunia ini dan akan menyertainya hingga di surga nanti.. 

الدنيا متاع، وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة

"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”.

(HR. Muslim: 1467)


© 2022 muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/9283-untukmu-yang-berbahagia-bag-2.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, November 21, 2022

Hidayah Islam dan Hidayah Sunnah

Hidayah Islam dan Hidayah Sunnah
Bismillah...

Ada seseorang mendapatkan hidayah islam, dia keluar dari agama kufurnya dan masuk ke dalam islam.

Namun bisa jadi yang mengislamkannya, yang membina dan mendidiknya dari kelompok Jabariyyah, Qodariyyah, Khawarij, Murji'ah, Mutazilah, Liberal atau kelompok menyimpang lainnya.

Ada juga orang yang masuk islam, yang membina dan mendidiknya dari kalangan ahlussunnah. Sehingga dia menjadi seorang muslim ahlussunnah. Kelompok dan golongan yang selamat. Dia mendapatkan dua hidayah sekaligus, hidayah islam dan hidayah sunnah.

Kedua hidayah ini merupakan nikmat yang paling utama dalam hidup ini, karena tidak semua orang mendapatkannya.

Berkata Abul ‘Aliyah rahimahullah :

ما أدري أي النعمتين عَلِيّ أفضل : نعمة أن هداني الله عز وجل للإسلام ، ونعمة إذ لم يجعلني حروريا

Aku tidak tahu, nikmat mana yang paling utama, nikmat bahwasanya Allah memberikan hidayah islam kepadaku dan nikmat Dia tidak menjadikanku seorang Haruriy (khawarij).” [Tarikh Dimasyq no. 16494, Ibnu Asakir].

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah :

ودخلت يوما على بعض أصحابنا ، وقد حصل له وجد أبكاه . فسألته عنه ؟ فقال : ذكرت ما من الله به علي من السنة ومعرفتها ، والتخلص من شبه القوم وقواعدهم الباطلة ، وموافقة العقل الصريح ، والفطرة السليمة ، لما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم . فسرني ذلك حتى أبكاني.

Suatu hari aku menziarahi salah seorang sahabat kami. Ia tengah mengalami wajd (gejolak hati akan akhirat), yang lantas membuatnya menangis. Aku pun bertanya padanya ada apa gerangan. Ia menjawab: “Aku teringat akan anugerah Allah padaku berupa; anugerah SUNNAH dan mengenal sunnah, anugerah terbebas dari syubhat pemikiran sekte dan prinsip-prinsip mereka yang batil, juga anugerah pemikiran yang selaras dengan akal yang gamblang dan nurani yang selamat, dikarenakan (kemurnian) ajaran yang datang dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengingat itu, aku jadi haru bahagia, hingga aku menangis.” [Madarijus Salikin: 3/147].

Oleh karena itu jangan heran kalau ada seorang muslim sejak lahir atau seorang mualaf namun pemahamannya menyelisihi sunnah, itu menunjukkan bahwa dia hanya mendapatkan hidayah islam, namun tidak mendapatkan hidayah sunnah. 


AFM


Baca juga: https://muslim.or.id/21945-mengenal-qadariyyah-para-pengingkar-takdir.html


Catatan:

Paham Jabariyyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya.

Kelompok Qadariyah berpendapat menolak keberadaan takdir. Sehingga mereka meyakini bahwa hamba memiliki kehendak bebas dan kemampuan berbuat yang terlepas sama sekali dari kehendak dan kekuasaan Allah.

Qadariyyah meyakini bahwa Allah tidak mengetahui dan menetapkan takdir sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, dan meyakini kalau perbuatan makhluk bukan Allah yang menciptakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تشهدوهم

Qadariyyah adalah majusinya umat ini. Jika mereka sakit, jangan dijenguk. Jika mereka mati, jangan dilayat” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Misykatul Mashaabih)

Qadariyyah dinamakan majusi karena kaum majusi meyakini bahwa ada dua pencipta di dunia ini : pencipta kebaikan dan pencipta keburukan. Pencipta kebaikan adalah cahaya. Sedangkan pencipta keburukan adalah kegelapan.

Qadariyyah menyerupai majusi dari sisi ini karena qadariyyah mengatakan : peristiwa yang ada di dunia itu ada dua jenis : peristiwa akibat perbuatan Allah, maka ini adalah ciptaan Allah, dan peristiwa akibat perbuatan hamba, maka ini adalah ciptaan hamba, bukan ciptaan Allah”

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kalian tidak dapat menghehendaki (menempuh jalan yang lurus), kecuali jika dikehendaki oleh Allah, Rabb seru sekalian alam” (QS. At Takwir : 29)

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah –lah yang menciptakan diri kalian dan perbuatan kalian” (QS. Ash Shaffat : 96)

Kiranya dua ayat yang suci ini mampu meluruskan pemahaman yang menyimpang milik qadariyyah. Pertama, segala yang terjadi di dunia itu atas kehendak Allah Ta’ala, sehingga ini membantah pemahaman mereka kalau perbuatan yang dilakukan hamba terjadi di luar kehendak Allah. Kedua, perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba termasuk ciptaan Allah, sehingga ini membantah ideologi mereka kalau perbuatan hamba diciptakan oleh hamba itu sendiri

Khawarij adalah orang-orang yang memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena alasan pemutusan hukum. Diantara ciri pemahaman mereka ialah membolehkan pemberontakan kepada penguasa muslim dan mengkafirkan pelaku dosa besar.

Murji’ah berpendapat amal bukanlah bagian dari iman. Sehingga cukuplah iman itu dengan modal pengakuan hati saja. Konsekuensi pendapat mereka adalah pelaku dosa besar termasuk orang yang imannya sempurna. Meskipun dia melakukan kemaksiatan apapun dan meninggalkan ketaatan apapun.

Mu’tazilah adalah para pengikut Washil bin ‘Atha’ yang beri’tizal (menyempal) dari majelis pengajian Hasan al-Bashri. Dia menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar itu di dunia dihukumi sebagai orang yang berada di antara dua posisi (manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga tidak beriman. Akan tetapi menurutnya di akhirat mereka akhirnya juga akan kekal di dalam Neraka. Tokoh lain yang mengikuti jejaknya adalah Amr bin ‘Ubaid. Madzhab mereka dalam masalah tauhid Asma’ wa Shifat adalah menolak (ta’thil) sebagaimana kelakuan kaum Jahmiyah. Dalam masalah takdir mereka ini menganut paham Qadariyah. Sedang dalam masalah pelaku dosa besar mereka menganggapnya tidak kafir tapi juga tidak beriman.


https://www.facebook.com/100009878282155/posts/pfbid0JynqexGAWRzv1AkGDVdZym1Qcw8jup72XHNocTBtjrvQ6DhsZhqwP9FWGie325EUl/

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wahai Yang Miskin Jiwanya

Wahai Yang Miskin Jiwanya
Bismillah...

• Fudhail bin 'Iyaadh رحمه الله berkata,

يا مسكين ! أنت مسئ و ترى أنك محسن، و أنت جاهل و ترى أنك عالم، و تبخل و ترى أنك كريم، و أحمق و ترى أنك عاقل، أجلك قصير و أملك طويل و أنت ظالم و ترى أنك مظلوم و أكل للحرام و ترى أنك متورع، و فاسق و تعتقد أنك عدل، و طالب العلم للدنيا و ترى أنك تطلبه لله

"Wahai jiwa yang miskin ! Engkau berbuat jelek, tetapi engkau merasa diri berbuat baik. Engkau bodoh, tapi engkau merasa berilmu. Engkau bakhil, namun engkau merasa dermawan. Engkau dungu, tapi engkau merasa berakal. Ajalmu sangat dekat, tapi angan-anganmu sangat jauh. Engkau itu berbuat zhalim, tapi merasa telah dizhalimi. Engkau memakan harta yang haram, tetapi menganggap dirimu wara'. Engkau itu fasik, namun merasa telah berbuat adil. Engkau itu menuntut ilmu untuk dunia, namun merasa telah mencarinya karena Allah".

```(Siyar VII/405)```

Semakin seseorang banyak melupakan Allah, maka Allah pun akan menjadikan ia lupa kepada dirinya sendiri. Ia banyak berbuat dosa dan kekurangan, tapi tidak sadar dengan apa yang telah dilakukan..

• Allah عز وجل berfirman,

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

"Dan janganlah kamu itu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah pun menjadikan mereka lupa akan dirinya sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik".

```(QS. Al-Hasyr [59]: 19)```

• Imam Ibnu Hibban رحمه الله berkata,

وإن من أشد العقوبة للمرء أن يخفى عليه عيبه

"Sungguh termasuk hukuman yang paling keras bagi seseorang adalah ketika dia tidak mengetahui aib kekurangan yang dia miliki sendiri". 

```(Raudhatul 'Uqalaa' hal 22)```

• Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata,

وأعظم العقوبات: نسيان العبد لنفسه وإهماله لها وإضاعته حظها ونصيبها من الله

"Hukuman yang terbesar adalah lupanya seorang hamba terhadap dirinya sendiri, melalaikannya dan juga menyia-nyiakan bagiannya dari Allah". 

```(Kitab Ad-Daa' wad Dawaa' hal 173)```


✒️Ustadz Najmi Umar Bakkar حفظه الله تعالى


Tekegram : https://telegram.me/najmiumar

Instagram : @najmiumar_official

Youtube : najmi umar official

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Kisah Keislaman Umar bin Al-Khatthab

Kisah Keislaman Umar bin Al-Khatthab
Bismillah...

Umar masuk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun ke 6 kenabian persisnya tiga hari setelah keislaman Hamzah. Sebelumnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah berdoa,

اللَّهُـمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ

"Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai yaitu Umar bin Al-Khatthab atau Abu Jahl bin Hisyam." Maka yang lebih Allah cintai adalah Umar.

(Sunan At-Tirmidzi 2/209)

Riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang keislaman Umar menunjukkan bahwa Islam masuk ke dalam hati Umar dengan bertahap. Sebelum diceritakan kisahnya, perlu diketahui bagaimana watak Umar bin Al-Khatthab.

Umar dikenal sebagai sosok yang keras tabiat dan memiliki tekad yang kuat. Dahulu Umar sering mengganggu kaum Muslimin, meski sebetulnya ada perang batin dalam dirinya. Di satu sisi beliau harus menghormati aturan adat yang dibikin oleh para pendahulunya tetapi bersamaan dengan itu beliau takjub dengan kokohnya mental kaum Muslimin dan kesabaran mereka dalam menghadapi banyak cobaan demi mempertahankan akidah. Di samping itu muncul banyak keraguan dalam hati Umar yang tengah memperdaya dirinya, karena sebagai orang yang berakal beliau berpikir boleh jadi apa yang diajarkan oleh Islam itu lebih mulia dan lebih suci dari ajaran yang lain." (Fiqhus Sirah hlm. 92-93)

Pada suatu malam Umar bermalam di luar rumah beranjak menuju Masjidil Haram lalu masuk ke dalam tirai Ka'bah. Ketika itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang berdiri untuk shalat, beliau memulainya dengan membaca surat "Al-Haqqah", maka Umar menyimak bacaan Qur'an Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya takjub dengan kandungan ayatnya, beliau berkata, "Demi Allah! Sungguh dia ini benar-benar penyair seperti yang dikatakan Quraisy." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat, "Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya yang mulia. Dan Al-Qur'an sekali-kali bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kalian beriman kepadanya." (Al-Haqqah: 40-41)

Kemudian aku berkata, "Kalau begitu, dia ini tukang tenung!" Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan bacaannya, "Dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya. Ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam." Sampai akhir surat, saat itulah kebenaran Islam mulai mengguncang hatiku." (Tarikh Umar karya Ibnul Jauzi hlm. 6)

Inilah awal mula benih Islam masuk ke dalam hati Umar, meski sentimen jahiliah, fanatisme tradisi nenek moyang masih mengalahkan kebenaran yang dibisikkan oleh suara hatinya, sehingga Umar tetap menolak Islam tidak peduli dengan pergolakan batinnya.

Tibalah suatu hari Umar keluar sembari menghunuskan pedangnya hendak membunuh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ada orang yang berkata kepadanya:

"Wahai Umar, engkau hendak kemana?

Umar menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad!

Orang itu berkata, "Bagaimana engkau bisa merasa aman dari ancaman Bani Hasyim dan Bani Zuhrah kalau Muhammad engkau bunuh?"

Umar menjawab, "Apakah engkau sudah menjadi pengikut agama baru dan keluar dari agamamu!"

Orang itu berkata, "Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang membuatmu terkejut wahai Umar?! Sesungguhnya adik perempuanmu dan iparmu telah menjadi pengikut agama baru dan meninggalkan agamamu!"

Bertolaklah Umar mendatangi keduanya dan di sana ada Khabbab bin Al-Arits yang membawa lembaran Qur'an bertuliskan surat "Thaha" yang sedang dibacakan. Mengetahui kedatangannya, maka Khabbab menutupi lembaran Qur'an tersebut dan bersembunyi di bagian belakang rumah. Umar berkata, "Ada apa suara bisik-bisik yang aku dengar dari kalian?

Keduanya menjawab, "Tidak ada apa-apa, hanya sekedar pembicaraan di antara kami."

Umar berkata, "Tampaknya kalian sudah menjadi pengikuti agama baru!"

Iparnya berkata, "Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu jika kebenaran itu ada pada selain agamamu?!

Mendengar itu, Umar langsung melompat ke arah iparnya dan menginjaknya dengan keras. Lalu datanglah adiknya mengangkat suaminya, namun Umar malah menamparnya hingga darah mengalir di wajahnya. Maka adiknya berkata dengan marah, "Wahai Umar! Jika kebenaran ada pada selain agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah!".

Umar putus asa, merasa malu dan menyesali apa yang diperbuatnya, lalu dia berkata, "Berikan tulisan yang ada di tangan kalian kepadaku aku ingin membacanya.

Maka adiknya meminta Umar mandi karena dianggap masih kotor, lalu Umar membaca, "Bismillahirrahmanirrahim", dia bergumam, "Sungguh nama-nama yang baik dan suci." Kemudian Umar membaca surat Thaha sampai kepada ayat, "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku." (Thaha: 14)

Umar merasa takjub dengan kandungan ayat ini dan minta dibawa ke hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Mendengar hal itu, Khabbab keluar dari persembunyiannya sambil berkata, "Wahai Umar bergembiralah, karena sungguh aku berharap engkaulah yang dimaksud dalam doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada malam kamis, "Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai, Umar bin Al-Khatthab atau Abu Jahl bin Hisyam."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika itu sedang berada di rumah salah seorang shahabatnya yang berada di kaki bukit Shafa. Bersualah Umar dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau mencengkeram kerah jubah Umar dan gagang pedangnya seraya bersabda,

"Tidakkah engkau berhenti dari tindakanmu wahai Umar hingga Allah menghinakanmu dan menimpakan bencana atasmu sebagaimana yang menimpa Al-Walid bin Al-Mughirah? Ya Allah, ini Umar bin Al-Khatthab! Ya Allah, muliakanlah Islam dengannya!"

Maka Umar bersaksi dengan dua kalimat syahadat, "Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan engkau adalah utusan Allah." Maka para penghuni rumah bertakbir sampai terdengar oleh orang-orang yang berada di sekitar Masjidil Harom." (Ar-Rahiqul Makhtum hlm. 89 - 92)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02Y2izyBnqmUXWKgpSf9U1ZKx9VjoSWtEsXajshREkZSfhVE5g8mfq3WoFqBEAg4Wbl&id=100001764454087

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive