Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label Sirah Nabawiyah. Show all posts
Showing posts with label Sirah Nabawiyah. Show all posts

Saturday, September 30, 2023

Krisis Keteladanan Karena Tidak Mempelajari Peri Hidup Nabi ﷺ

Krisis Keteladanan Karena Tidak Mempelajari Peri Hidup Nabi ﷺ
Bismillah...

✍🏻 Syaikh Al-'Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Si'di rahimahullah berkata, 

"Diantara jalan yang akan mengantarkan seseorang kepada keimanan dan sebab-sebab kebaikannya adalah mempelajari peri hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mengetahui keluhuran akhlak beliau serta kesempurnaan sifat-sifat beliau.

Siapa saja yang mengenali beliau dengan sebenar-benarnya maka tidak akan ragu membenarkan apa yang beliau bawa dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta agama yang haq ini. 

🧷 Allah ta'ala mengingatkan di dalam firman-Nya,

أم لم يعرفوا رسولهم فهم له منكرون

"Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka (Muhammad) karena itu mereka mengingkarinya." 

(QS. Al-Mu'minun: 69)

Siapa yang betul-betul mengenal pribadi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam serta kedudukan beliau, sungguh dirinya akan terdorong untuk berlomba-lomba menuju keimanan." 

📓 At-Taudhih wal Bayan (hlm. 29)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02Xu9VVa6wzqQtZ8ntLBGJRm31SsSJatJMeJCPr6PNiQPSpMkhB1ikzpYTzoqdJyb6l&id=100001764454087


Share Yuk | Join TELEGRAM | https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, May 28, 2023

Ini Alasan Mengapa Dakwah Rasulullah ﷺ Ditentang Kaumnya

Bismillah...

Heraklius penguasa Romawi dahulu bertanya kepada Abu Sufyan sewaktu dirinya masih musyrik.

Kata Heraklius,

ماذا يأمركم؟

Apa yang dia (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) perintahkan kepada kalian?

Abu Sufyan menjawab,

يقول: اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والزكاة والصدق والعفاف والصلة

"Dia menyerukan, 'Beribadahlah kepada Allah semata dan janganlah kalian menyekutukannya dengan sesuatupun, tinggalkanlah apa yang diajarkan oleh nenek moyang kalian'. Dan dia juga memerintahkan kami shalat, zakat, berlaku jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung tali silaturahmi.” 

(HR. Al-Bukhari 7 dan Muslim 1773)

Tiga perkara yang paling ditentang kaum musyrikin dari ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah,

1). MENTAUHIDKAN ALLAH.

Yaitu mengesakan Allah dalam seluruh penghambaan.

2). MENINGGALKAN PERBUATAN SYIRIK.

Yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun baik sosok yang dikultuskan, kuburan yang dikeramatkan, maupun benda-benda yang diyakini kuasa mendatangkan manfaat menolak mudharat.

3). MENINGGALKAN AJARAN NENEK MOYANG.

Yaitu meninggalkan tradisi-tradisi yang bersinggungan dengan tauhid dan mengantarkan pelakunya kepada kesyirikan.

Tiga hal ini yang menjadi alasan mengapa dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat dimurkai oleh kaumnya. 

Maka dakwah kepada tauhid, memperingatkan manusia dari bahaya syirik, serta meninggalkan tradisi yang bersinggungan dengan syariat merupakan setinggi-tingginya amalan ketaatan dan sebesar-besarnya perjuangan di jalan Allah.

Dan ini misi utama dakwah yang diemban oleh para Nabi 'alaihimussalam.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02nDBZPvSWoWG4ruaK77PPH59MHQyzstSMju6so7x8oAhsRAAzULmb2hMXULFPWdnJl&id=100001764454087


https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, May 24, 2023

Perbanyaklah Membaca Sirah Nabi ﷺ

Perbanyaklah Membaca Sirah Nabi ﷺ

Bismillah...

Perbanyaklah membaca sirah Nabi ﷺ, terutama pada fase dakwah di Mekah sebelum hijrah, itu akan menjadikan kita semakin tegar menghadapi cobaan dalam berdakwah..

Karena, biasanya orang yang membawa kebenaran dan memperjuangkannya, dia akan mendapatkan cobaan dan rintangan sebagaimana pendahulunya..

▪️ JIKA ADA YANG DIBOIKOT KARENA DAKWAHNYA

Maka ingatlah bahwa Beliau ﷺ dan para sahabat radhiyallahu'anhum juga pernah diboikot, bahkan hingga tiga tahun lamanya, sampai-sampai mereka harus makan dedaunan. [Lihat: Sirah Ibnu Hisyam 1/388]

▪️ BILA ADA YANG DITUDUH PENDUSTA DAN TUKANG SIHIR

Maka ingatlah bahwa Nabi ﷺ juga pernah dituduh demikian, bahkan Allah Ta'ala abadikan hal itu dalam Al-Qur’an (yang artinya),

Mereka (orang-orang kafir) heran dengan datangnya seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka sendiri, dan orang-orang kafir itu mengatakan: ‘orang ini adalah tukang sihir, tukang dusta’.” (Qs. Shad: 4)

Bahkan Beliau ﷺ sampai dikatakan gila oleh para penentang dakwahnya. Allah Ta'ala juga abadikan hal ini dalam kitab-Nya (yang artinya),

Mereka (orang-orang kafir) itu mengatakan: wahai orang yang diturunkan kepadanya Adz-Dzikr (Alqur’an), sungguh kamu benar-benar gila“. (QS. Al-Hijr: 6)

▪️ JIKA ADA YANG DITUDUH MEMECAH BELAH UMAT

Maka Beliau ﷺ juga dahulu telah menerima hal yang sama. Ketika itu ‘Utbah bin Rabi’ah pernah mengatakan kepada Beliau ﷺ,

Sungguh kamu telah datang kepada kaummu dengan masalah besar, dengannya kamu PECAH BELAH persatuan mereka, kamu rendahkan kedudukan mereka, kamu cela Tuhan dan agama mereka, dan kamu KAFIRKAN nenek moyang mereka“. (Lihat: Sirah Ibnu Hisyam, 1/359)

▪️ BILA ADA YANG DIUSIR DARI TEMPAT TINGGALNYA

Maka ingatlah bahwa Beliau ﷺ juga akhirnya terusir dari kota kelahirannya (Mekah) yang sangat Beliau ﷺ cintai, ketika akan berpisah dengan kota suci itu, beliau ﷺ mengatakan (yang artinya),

Betapa baiknya engkau sebagai negeri, dan betapa cintanya diriku kepadamu, seandainya bukan karena kaumku mengeluarkanku darimu, tentu aku tidak akan menetap di tempat selainmu“. (HR. Attirmidzi: 3926, shahih)

Bahkan di banyak kesempatan Beliau ﷺ dan para sahabatnya harus berperang dengan para penentang tersebut. Tidak lain, tujuannya adalah agar dakwah tetap bisa berlangsung dengan baik, dan kebenaran bisa sampai kepada umat manusia. Oleh karenanya dalam perang badar Beliau ﷺ bermunajat (yang artinya), 

Ya Allah, jika pasukanku dari kaum muslimin ini binasa; Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini“. (HR. Muslim: 1763)

Dan masih banyak lagi rintangan dan gangguan yang Beliau ﷺ alami. Meski demikian, Beliau ﷺ tetap saja maju di jalan dakwah yang terjal tersebut, karena itulah jalan kemuliaan di dunia dan di akhirat..

Siapa pun yang ingin mendapatkan kemuliaan seperti Beliau ﷺ, maka ikutilah jalan Beliau ﷺ.


✒️Ustadz Dr. Musyaffa' Ad Dariny, MA حفظه الله تعالى

(Dewan Pembina Yayasan Risalah Islam)

Dibagikan Oleh : Mutiara Risalah Islam

http://t.me/mutiararisalahislam

Semoga bermanfaat..

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, January 25, 2023

BAHAYANYA Da'i-da'i Sesat

Bismillah...

Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه :

"Manusia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan, karena aku khawatir akan menimpaku"

Maka aku bertanya : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulunya berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah pun mendatangkan kebaikan ini kepada kami, lantas apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan ?

Beliau ﷺ bersabda : "Ya". Aku bertanya : "Apakah setelah keburukan akan datang lagi kebaikan ?" Beliau ﷺ bersabda : "Ya, tetapi di dalamnya telah bercampur dgn kekeruhan". Aku pun bertanya : "Apakah yang dimaksud dengan kekeruhan itu ?

Beliau صلى الله عليه و سلم menjawab :

قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

"Suatu Kaum Yang Telah Beramal "Bukan Dengan Sunnahku", Dan Telah Mengikuti Petunjuk "Bukan Dengan Petunjukku". Di antara (amalan) mereka ada yang engkau tahu ("karena itu sesuai dengan sunnah") & ada juga yang engkau ingkari ("karena telah menyelisihi sunnah", yaitu beramal dengan amal-amal kebid'ahan)"

Aku bertanya lagi : "Apakah setelah itu ada keburukan ?" Beliau ﷺ bersabda :

نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

"Ya, (munculnya) para Da’i-da'i yang berada di pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang telah menerima dakwah mereka, maka mereka akan menjerumuskannya kedalam (Neraka) Jahannam"

Aku bertanya lagi : "Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami sifat mereka ?" Beliau bersabda : "Baik, mereka adalah satu kaum yang mempunyai kulit seperti kita, dan juga berbicara dengan bahasa kita". Aku bertanya : "Maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan tersebut ?

Beliau صلى الله عليه و سلم bersabda :

"Hendaknya engkau itu tetap berada di dalam jama’ah kaum muslimin dan juga imam mereka". Kemudian aku bertanya lagi : "Bagaimanakah apabila tidak ada jama’ahnya maupun imamnya ?" Beliau bersabda : "Maka tinggalkanlah olehmu firqah2 (kelompok) itu semuanya, meski engkau (nantinya) menggigit akar pohon, sampai kematian datang menjemputmu dan keadaanmu seperti itu" (HR. Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847)


Ustadz Najmi Umar Bakkar

https://telegram.me/najmiumar

Instagram : @najmiumar_official

Youtube : najmi umar official

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, December 23, 2022

Belajar Merunduk

Bismillah...

Gelar, titel, jabatan, harta, pengaruh, pengikut adalah hal yang membuat orang jadi jumawa dan ingin selalu didepan membusungkan dada. 

Semua ujian di atas, sudah sukses menjungkir balikkan posisi dan kedudukan, Firaun, Haman, Qarun di mata Allah Rabbil ‘Alamain. Begitu jugalah nasib para penerus mereka hingga akhir zaman.

Orang mulia di sisi Allah, bukan orang yang hidup bergelimang harta, bermandikan perak dan emas permata, bukan pula orang berpangkat tinggi berbintang lima, jadi raja-diraja.

Orang mulia di mata Allah adalah yang hidup berhias takwa, berpakaian tawadhu, berselimut qanaah dan ridho.

Standar hakiki menimbang manusia itu mulia atau hina di langit sana, bukan di dunia fana.  Siapa yang dianggap mulia di langit sana dialah yang mulia meski di dunia terhina. siapa yang dicap dilangit hina, maka dialah yang terhina di dunia walau agung di mata manusia.

Tak usah terlalu bangga dengan gelar dan kedudukanmu di mata manusia, siapa tahu engkau yang paling terhina di langit sana. 

Rundukkan dirimu, engkaulah makhluk yang terhina sekiranya Allah tak memuliakanmu.Tak berguna semua atribut keduniaanmu dihadapan Keagungan Allah Empunya petala langit dan bumi.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam hadis yang disepakati keduanya dari jalur Abu Hurairah, Rasulullah berkata yang maknanya : ”tidak ada bayi yang bisa berbicara dalam buaian sang ibu kecuali tiga orang saja. ketiga, seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, lewatlah seseorang yang menunggang kendaraannya yang tampak mewah dan berpenampilan bagus. Sang ibu berkata, "Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu." Lalu sang bayi melepas susu ibunya dan memandang orang itu seraya berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti orang itu!" 

Kemudian dia kembali menyusu kepada ibunya lagi. Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mempraktekkan anak yang sedang menyusu tersebut dengan mememasukkan jari telunjuknya ke mulutnya dan beliau hisap. 

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya "Lalu lewat lagi seorang budak wanita yang sedang dipukul orang-orang seraya berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri, sedangkan wanita tersebut hanya berkata, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl." Maka sang ibu berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia." Lalu anak itu melepas susuannya dan memandang ibunya, kemudian dia berkata, "Ya Allah! Jadikanlah aku seperti dia." 

Maka ibu dan anak itu saling berbicara. Sang ibu berkata, "Ketika ada orang yang berpenampilan bagus, aku berdoa, Ya Allah! Jadikan puteraku seperti dia", engkau katakan, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Lalu ketika ada seorang budak wanita yang sedang dipukuli seraya mereka berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri" Lalu aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan puteraku seperti dia". Lalu engkau berkata, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?!" 

Anak itu berkata, "Laki-laki itu adalah orang yang angkuh, maka aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Sedangkan terhadap orang yang kalian katakan, "Engkau telah berzina dan mencuri, dia tidak berzina dan tak mencuri. Maka aku berdoa, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia.

Hadis di atas menjelaskan bahwa pandangan kasat mata manusia selalu tertipu dengan yang zahir, terluput dari yang batin, dan yang zahir itu tak selalu sama dengan yang batin. 

Orang mukmin terbaik adalah mukmin yang batinnya lebih baik dari zahirnya, dan mukmin yang baik adalah yang zahir dan batinnya sama. 

Seburuk-buruk manusia adalah yang zahirnya lebih buruk dari batinnya, dan dibawahnya adalah yang zahirnya sama buruknya  dengan batinya.

Allahul musta’an.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02Z76rpncP8JT69pqMMDqPajgqa6CWZEDSzdCwbspgcRc7jKRsq3VxcudXsK8VvPGnl&id=100001105385773

————

Hotel Hilton Nusa dua Bali, 28 Jumadil Ula 1444/ 22 Des 2022


Abu Zubair My.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, December 5, 2022

Allah Yang Akan Menolongnya

Allah Yang Akan Menolongnya
Bismillah...

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا...}

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad); sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”…” (QS. At-Taubah: 40)

Dalam ayat ini ada tiga pembahasan:

PEMBAHASAN PERTAMA: MAKNA AYAT

Ayat ini -dan ayat-ayat sebelumnya- berkaitan dengan perintah kepada para Shahabat Nabi untuk berangkat ke perang Tabuk; perang yang Allah sebutkan dengan nama “saa’atul ‘usrah” (masa-masa sulit) [Lihat: QS. At-Taubah: 117]; maka kaum muslimin merasa berat untuk berangkat [Lihat: QS. At-Taubah: 38], sehingga Allah pun mengancam mereka dengan adzab yang pedih [Lihat: QS. At-Taubah: 39]. Maka Allah -‘Azza Wa Jalla- menjelaskan bahwa: jika kaum muslimin tidak mau menolong Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam peperangan ini; Allah mengingatkan tentang pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya dalam keadaan yang sangat sulit, ketika beliau diusir dari Makkah sehingga beliau hijrah ke Madinah. Dalam perjalanan hijrah tersebut beliau dikejar oleh orang-orang musyrik Makkah; sehingga beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari agar para pengejarnya pulang. Pada sekali waktu; para pengejar tersebut melewati gua persembunyian Rasul dan Abu Bakar; sehingga Abu Bakar sangat takut kalau mereka bisa mengetahui tempat persembunyian tersebut. Maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menenangkannya dengan mengatakan: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Yakni: Allah akan menguatkan dan menolong kita.

PEMBAHASAN KEDUA: PERTOLONGAN ALLAH BAGI PARA PEMBELA SUNNAH

Pertolongan Allah -‘Azza Wa Jalla- kepada Rasul-Nya -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sudah terbukti, maka Allah juga akan menolong orang-orang yang menolong Rasul-Nya; yaitu: orang-orang yang berpegang kepada kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. “Kalau ada seseorang -pada suatu tempat dan suatu masa- bersendirian dalam membawa kebenaran yang dibawa oleh Rasul, dan manusia tidak menolongnya dalam (memperjuangkan kebenaran) tersebut; maka Allah bersamanya, dan dia akan mendapat bagian dari firman-Nya:

{إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا...}

Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad); sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguh-nya Allah bersama kita.”…” (QS. At-Taubah: 40)

Karena yang dinamakan menolong Rasul adalah: menolong agama (Islam) yang beliau bawa -di mana saja dan kapan saja-. Barangsiapa yang sesuai dengan beliau (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-); maka dia adalah shahabat beliau secara makna. Kalau shahabat (orang yang menolong agama Rasul) ini menegakkan (agama) tersebut sebagaimana yang Allah perintahkan; maka sungguh Allah bersama (agama) yang dibawa oleh Rasul dan bersama orang yang menegakkannya. Dan orang yang Ittibaa’ (mengikuti) beliau (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-); maka Allah akan mencukupinya, (sebagaimana) Dia mencukupi Rasul, sesuai dengan firman-Nya -Ta’aalaa-:

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ}

Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfaal: 64).” [“Minhaajus Sunnah” (VIII/488)]

PEMBAHASAN KETIGA: ALLAH TELAH MENOLONG MEREKA…

“Demikianlah (setiap) orang berilmu, pengemban hujjah dan benar pemahamannya; jika dia menyiapkan dirinya untuk menunjuki (manusia), mengatakan kebenaran, menolong Allah, menolong agama Allah dan menjelaskan apa yang Allah perintahkan untuk dijelaskan; maka perjalanannya akan terpuji, akhir kesudahannya akan disyukuri, dan Allah -Subhaanahu- akan memperlihatkan kepadanya perbuatan-perbuatan-Nya yang mengagumkan, penjagaan-Nya yang ajaib, dan kebenaran apa yang telah Dia janjikan dalam firman-Nya:

{...وَلَيَنْصُرَنَّ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ...}

…Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya…” (QS. Al-Hajj: 40)

{...إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}

…Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

(Pertolongan-pertolongan Allah) tersebut akan menambah ke-istiqamah-annya, akan membantunya dan menguatkan hatinya dalam menolong kebenaran dan membantu orang-orang yang berada di atas kebenaran.

Barangsiapa yang memperhatikan perkara (ini) sebagaimana mestinya; maka dia akan mengetahui bahwa: setiap orang yang membawa hujjah (kebenaran dari) Allah, kalau dia jelaskan kepada manusia sesuai perintah Allah, terang-terangan dalam mambawa kebenaran dan menghadapi Ahlul Bid’ah secara langsung, maka hal itu akan menambahkan ketinggian derajatnya di dunia dan di akhirat, menambah penghargaan dari hamba-hamba Allah dan menang dengan memperoleh apa yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.

Walaupun mereka (musuh-musuh kebenaran) ingin menjatuhkannya dengan banyak ucapan (yang muncul dari mulut mereka), mencelanya dengan tuduhan-tuduhan dusta, menyusun aib-aib (yang disandarkan kepadanya) dan mengancam akan menimpakan hal-hal yang buruk dan bahaya kepadanya; maka semuanya itu akan berakhir dengan sesuatu yang di luar perkiraan mereka dan kebalikan dari persangkaan mereka. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa; sebagaimana Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman:

{...وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ...}

…Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri…” (QS. Faathir: 43)

Dan sungguh, aku telah meneliti keadaan banyak orang yang membawa kebenaran dan menyampaikan-nya sesuai dengan perintah Allah serta menunjukki (manusia) kepada kebenaran; maka aku dapati mereka mendapatkan nama baik, ketenaran, kemasyhuran, tersebarnya ilmu (mereka), dan terkenal serta diterimanya tulisan-tulisan mereka oleh manusia; yang hal itu tidak diraih oleh selain mereka.

Saya akan sebutkan untuk anda sekelompok orang yang terkenal madzhab mereka, tersebar perkataan-perkataan dan tulisan-tulisan mereka, serta ujian yang menimpa mereka:

(1) Seperti Imam “Daarul Hijrah” (Imam Kota Hijrah/Kota Madinah): MALIK BIN ANAS (wafat th. 179 H), beliau mempunyai banyak lawan dan dimusuhi oleh raja-raja; maka Allah menyebarkan madzhab beliau di berbagai kota, dan perkataan-perkataannya sangat terkenal dan memenuhi penjuru dunia.

(2) Demikian juga IMAM AHMAD BIN HANBAL (wafat th. 241 H); beliau mendapatkan ujian -yang (kemudian berubah menjadi) anugerah- yang tidak samar bagi orang yang membaca (sejarah). Beliau di pukul di hadapan (Khalifah) Al-Mu’tashim Al-‘Abbasi dengan pukulan yang menyakitkan. Mereka berkali-kali ingin membunuh beliau, mereka penjarakan beliau di tempat yang gelap, merantai beliau dengan besi dan menyiksa beliau dengan berbagai siksaan. Maka Allah menyebarkan ilmunya -sebagaimana telah kita ketahui bersama-, dan kesudahan yang baik adalah bagi beliau. Sehingga beliau menjadi Imam Dunia dan rujukan para ulama, manusia membukukan perkataan-perkataan beliau dan mereka mengambil manfaat darinya. Kalau beliau mengucapkan suatu kalimat; maka kalimat itu akan tersebar ke penjuru dunia. Kalau beliau mencela seseorang; maka manusia akan mengikuti beliau sehingga hilanglah ilmu orang yang beliau cela tersebut. Dan kalau beliau memuji seseorang; maka orang itu menjadi terpercaya sehingga tidak membutuhkan pujian dari yang lainnya.

(3) Kemudian IMAM MUHAMMAD BIN ISMA’IL AL-BUKHARI (wafat th. 256 H); beliau mendapat ujian (gangguan) dari Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dan para pengikutnya yang dengannya beliau wafat karena kesedihan yang mendalam. Kemudian Allah -Ta’aalaa- menjadikan kitab beliau “Al-Jaami’ Ash-Shahiih” (Shahih Bukhari) sebagai kitab yang paling shahih di dunia, tulisan yang paling masyhur dan rujukan yang paling mulia dalam Islam (setelah Al-Qur-an) -sebagaimana anda ketahui-.

(4) Kemudian lihatlah keadaan orang yang datang -beberapa abad- setelah mereka, seperti IBNU HAZM AL-MAGHRIBI (wafat th. 456 H); sungguh beliau ditimpa ujian-ujian yang besar disebabkan apa yang beliau tampakkan berupa: menunjukki manusia kepada dalil, terang-terangan dalam membela kebenaran dan melemahkan ilmu ra’yu (yang berdasarkan pendapat saja). (Perjuangan beliau) tersebut sampai mengantarkan beliau kepada ujian dari para raja dan hukuman mereka kepada beliau, pengusiran beliau dari tempat-tempat tinggal beliau dan pembakaran terhadap karya-karya beliau. Akan tetapi; Allah tetap menyebarkan ilmu beliau sampai ada di tangan tiap golongan, ada pada setiap negeri kaum muslimin dan ada pada tiap kelompok.

(5) Kemudian SYAIKHUL ISLAM TAQIYYUDDIN IBNU TAIMIYYAH; AHMAD BIN ‘ABDUL HALIM; (wafat th. 728 H); tatkala beliau menjelaskan kepada manusia tentang kerusakan (beragama hanya berdasarkan) ra’yu (pendapat/perkataan orang), beliau menunjukkan kepada mereka agar berpegang kepada dalil, beliau terang-terangan (dalam berpegang) dengan apa yang Allah perintahkan dan beliau tidak takut celaan orang-orang yang mencela; maka beliau dilawan oleh kelompok-kelompok yang mengaku berilmu dan mereka mempunyai jabatan/kedudukan, mereka terus berusaha mengalahkan beliau, mereka melaporkan beliau kepada raja-raja, mereka membuat majlis-majlis untuk mendebat beliau, sampai terkadang muncul fatwa dari mereka untuk menumpahkan darah beliau dan terkadang fatwa untuk memenjarakan beliau. Maka Allah menyebarkan faedah-faedah (ilmiyyah) milik beliau; dimana milik orang yang sezaman dengan beliau tidak tersebar. Allah jadikan nama beliau terangkat dan beliau menjadi terkenal.

Keterangan yang sedikit ini hanyalah bertujuan sebagai penjelasan bagi anda agar anda mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap hamba-hamba-Nya, ulama-ulama (yang membela) agama-Nya dan yang membawa hujjah (kebenaran dari)-Nya. DAN INILAH KEBIASAAN ALLAH (YANG DIA PERBUAT) TERHADAP HAMBA-HAMBA-NYA; MAKA KETAHUILAH DAN YAKINILAH!” [“Adabuth Thalab Wa Muntahal Arab” (hlm. 93-97 -cet. Maktabatul Irsyaad), karya Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani (wafat th. 1250 H) -rahimahullaah-]

-diambil dari “Al-Istinbaath” (II/211-219), karya Ahmad Hendrix


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0DmcbGQRaphjsvmRCTdv9rR3Vc1sYSatri9ejZoRtnD3ZpP1GiQzkJCU85YgjJUoEl&id=100009926563522

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Sunday, December 4, 2022

Masjid Quba dan Keikhlasan

Masjid Quba dan Keikhlasan
Bismillah...

Masjid Quba adalah masjid yang dibangun dan tegak di atas keikhlasan dan takwa, karenanya Allah abadikan dan kekalnya namanya, dan jamaah yang ada di dalamnya.

Allah berfirman :

 لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ ۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ

Sesungguhnya, masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat didalamnya. Didalam mesjid itu ada orang-orang yang ingin mensucikan diri“. [Qs: At taubah:108].

Sebaliknya Masjid Dhirar adalah masjid yang dibangun di atas kepentingan dunia, pribadi , kelompok dan golongan, dibangun diatas landasan kemunafikan, untuk memecah belah kaum muslimin dan meraih keuntungan darinya. 

Didalamnya ada orang-orang fasiq yang bengkok niat hanya mementingkan urusan dunia belaka, lain tidak. Masjid ini dihancurkan Nabi, dan dibakar, jamaahnya lari kocar-kacir karena takut resiko yang akan mereka hadapi atas niat busuknya.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

"Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadharatan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ”kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)". [at-Taubah/9:107]

Dari pelajaran diatas, siapapun yang ingin membangun sarana dakwah, baik berupa yayasan, sekolah, madrasah, perguruan tinggi, sarana televisi dan radio dakwah, bila ingin berjaya dan kekal abadi, syaratnya para pediri, penggagas, harus selalu luruskan niat, ikhlas untuk meraih wajah Allah bukan untuk meraih keuntungan dunia.

Demikian juga untuk setiap da’i, muballigh, para guri dan asatidzah maupun masyayikh, harus terus meng-evaluasi niat untuk tetap ikhlas. Meskipun ikhlas itu sangat-sangat berat kecuali untuk orang-orang yang dirahmati Allah. 

Bila ikhlas akan menyelamatkan, meng-kekalkan , mengumpulkan dan mendatangkan berkah, sebaliknya tak ikhlas akan meruntuhkan, memecah-belah, menimbulkan permusuhan dan mendatangkan murka Allah. 

Bandingkan Ka’bah, Masjidil Haram, Masjid Nabi, Masjid Quba dan Masjidil Aqsa yang kekal abadi sepanjang zaman, dengan kemegahan istana Kisra, singgasana Romawi, kerajaan Firaun dan Namrud, serta masjid dhirar yang lenyap tak bersisa, hanyalah tinggal catatan sejarah yang kelam dalam lembaran mushaf, literatur hadis dan buku sejarah.


Batam, 3 Jumadil awwal 1444/28 Nov 2022


Ditulis oleh: Abu Zubair Ahmad Ridwan My


https://www.facebook.com/100001105385773/posts/pfbid0wW37VfLSbiYFq7nJ9nD5eRGLmhNRREQ53JAg1wkPX3x6gaiyYe1Lz9hot8F9D1Kil/?mibextid=Nif5oz

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, November 7, 2022

Membongkar Penyimpangan Oknum Penulis "Nabi Dakwah 23 Th Mentahdzir Hanya 1 Kali"

Membongkar Penyimpangan Oknum Penulis "Nabi Dakwah 23 Th Mentahdzir Hanya 1 Kali"
Bismillah...

Si penulis mengatakan: "Nabi dakwah 23 th, mentahdzir hanya 1 kali, yaitu kepada 3 Sahabat yg tidak ikut jihad tanpa udzur. Kalo ada da'i dakwahnya tahdzir2an terus maka "fix" dah tidak mengikuti sunnah dakwah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam".

Dalam ucapan oknum penulis di atas ada beberapa penyimpangan:

1. Kedustaan atas nama Nabi ﷺ.

Penulis mengatakan "Nabi dakwah 23 th mentahdzir hanya 1 kali". Ini adalah bentuk kedustaan atas nama Nabi ﷺ, karena nabi ﷺ sering mentahdzir/memperingatkan kesalahan/penyimpangan, baik dalam ucapan, perbuatan, oknum maupun kelompok.

- Rasulullah ﷺ setiap khutbah jumat mentahdzir kebid'ahan.

وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

"Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (dalam urusan agama) dan setiap bid'ah itu sesat". (HR. Muslim no. 867)

- Rasulullah ﷺ mentahdzir dari Dajjal. Beliau bersabda:

ما من نبي إلا وقد أنذر أمته الأعوار الكذاب

"Tidaklah ada seorang nabi melainkan dia memperingatkan umatnya dari (Dajjal) yang cacat matanya lagi pendusta." (HR. Muslim no. 2933)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu berkata: Al-Hasil, bahwa Rasul ﷺ mentahdzir umatnya dari makhluk yang busuk ini. 

Sumber: http://bit.ly/3DOwsj4

- Rasulullah ﷺ mentahdzir Dzul Khuwaishirah dan khawarij. Beliau bersabda: 

إن من ضئضئ هذا قوما يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم....

"Sesungguhnya dari keturunan orang ini akan muncul sekelompok orang yang membaca Al-Quran tapi tidak sampai ke kerongkongan mereka." (HR. Muslim no. 1064)

- Rasulullah ﷺ mentahdzir orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat. Beliau bersabda: 

فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم

"Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyabihat (samar-samar), maka merekalah yang dimaksud oleh Allah, maka berhati-hatilah." (HR.Bukhari no. 4547)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata tentang hadits di atas: "Maksud (Rasul ﷺ) adalah tahdzir (memperingatkan) dari mendengarkan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat." (Fathul Bari 8/266)

Dan masih banyak lagi contoh tahdzirnya Rasulullah ﷺ (lihat juga Syarah Al-Ibanah Ash-Shugra 1/68, 72, 74, 80, 81, 82 oleh Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi)

Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تكذبوا علي فإنه من يكذب علي يلج النار

"Jangan berdusta atas namaku, karena barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka dia masuk neraka." (HR. Muslim di  muqaddimah bab Taghlizh Al-Kadzib 'ala Rasulillah ﷺ no.1)

2. Kegagalan paham dan Kebodohan penulis tentang makna tahdzir. Dia tidak bisa membedakan arti tahdzir (memperingatkan dari bahaya pemikiran yang menyimpang, bid'ah, syirik dan para oknumnya) dan hajr (boikot).

Imam Ath-Thabari berkata: Kisah Ka'ab bin Malik adalah landasan dalam menghajr ahli maksiat. (Fathul Bari 10/497)

Abu Sulaiman Al-Khatthabi rahimahullahu berkata: "Dahulu Rasulullah ﷺ khawatir kemunafikan atas Ka'ab dan (dua) sahabatnya ketika tidak ikut perang Tabuk, maka beliau memerintahkan untuk menghajr mereka" (Ma'alim As-Sunan 4/296 oleh Al Khatthabi)

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu berkata: "Aku berpendapat (disyariatkan) hajr ahlil bid'ah dan menjauhkan diri dari mereka hingga mereka bertaubat."

(Ad-Durar As-Saniyah 1/33)

Lihat pembahasan hajr di kitab Hajr Mubtadi' oleh Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullahu.

3. Kebid'ahan dan kesesatannya dalam menyinyiri tahdziran seperti dalam ucapannya diatas.

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahu berkata: "Kita mentahdzir orang-orang yang menyelisihi (kebenaran) secara umum dan kita katakan: Kita mengikuti metode Ahlussunnah wal jamaah dan meninggalkan orang yang menyelisihi ahlussunnah wal jamaah, baik dalam penyelisihan yang besar maupun yang kecil. Hal ini dikarenakan kalau kita meremehkan penyelisihan tersebut, maka akan terus berkembang dan menjadi besar. Penyelisihan ini tidak boleh (dibiarkan) sama sekali. Dan wajib mengikuti jalannya ahlussunnah wal jamaah, baik dalam masalah yang kecil maupun yang besar.

(Al-Ajwibah Al-Mufidah hal. 12-13)

Di footnote ucapan di atas dikatakan oleh Syaikh Jamal bin Furaihan Al-Haritsi: "Inilah jalan para salaf, yaitu mereka tidak diam (dari penyelisihan/penyimpangan) bahkan mereka mengingkari atas orang yang diam."

Muhammad bin Bundar Al-Jarjani berkata kepada Imam Ahmad rahimahullahu: "Aku berat untuk mengatakan si Fulan demikian dan demikian, maka Imam Ahmad berkata: 'Jika engkau diam dan aku diam, maka kapan orang jahil tahu mana yang benar dan mana yang salah'." (Majmu' Fatawa 28/231)

Bahkan tidakkah oknum ini tahu bahwa dalam surat Al-Fatihah yang setiap hari dibaca ada tahdziran di dalamnya. 

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullahu berkata tentang tafsir surat Al-Fatihah ayat yang terakhir 

غير المغضوب عليم ولا الضالين 

"Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat."

Di antara hidayah ayat ini adalah tahdzir dari jalan orang-orang yang dimurkai dan tahdzir dari jalan orang-orang yang sesat."

(Tafsir wa Bayan Li A'zhami Suratin Fi Al-Quran hal. 56-57 oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullahu)

Jadi dari keterangan dan bukti di atas, "fix" dah sang oknum penulis tersebut jahil kuadrat bin ngawur pol bin asbun bin gagal paham bin menyelisihi ajaran Rasul dan para salaf. Na'udzu Billah Min Dzalik

Tulisan ini juga sebagai nasihat kepada mereka yang alergi dan phobi serta nyinyiri tahdziran meskipun tahdziran yang haq di atas bukti dan keterangan yang nyata.

لِّیَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَیِّنَةࣲ وَیَحۡیَىٰ مَنۡ حَیَّ عَنۢ بَیِّنَةࣲ

"Agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata." (QS. Al-Anfal: 42)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0vHoLgt1jRwMW5CQugSLKU2ozV26F6Bmcf4zVXyb5uzFJ7BhTL2Adp2ktrrhgd3FWl&id=100044635020235

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, October 8, 2022

Alasan Rosulullah ﷺ Puasa Hari Senin

Alasan Rosulullah ﷺ Puasa Hari Senin
Bismillah...

Mengapa Rosulullah ﷺ senang berpuasa pada hari Senin? Alasan yang disebutkan dalam hadits sebagai berikut,

1. Hari kelahiran beliau.

2. Hari permulaan turunnya wahyu.

3. Hari beliau diutus.

4. Hari amalan dihadapkan kepada Allah.

5. Hari dibukanya pintu surga.

Maka Rosulullah ﷺ berpuasa dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmat tersebut bukan karena menspesialkan hari kelahiran seperti yang dipahami sebagian orang. 

Usamah bin Zaid berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ حَتَّى لاَ تَكَادَ تُفْطِرُ وَتُفْطِرُ حَتَّى لاَ تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلاَّ يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلاَ فِى صِيَامِكَ وَإِلاَّ صُمْتَهُمَا. قَالَ « أَىُّ يَوْمَيْنِ ». قُلْتُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ. قَالَ « ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ »

Aku berkata pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Wahai Rasulullah, engkau terlihat berpuasa sampai-sampai dikira tidak ada waktu bagimu untuk tidak puasa. Engkau juga terlihat tidak puasa, sampai-sampai dikira engkau tidak pernah puasa. Kecuali dua hari yang engkau bertemu dengannya dan berpuasa ketika itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa dua hari tersebut?” Usamah menjawab, “Senin dan Kamis.” Lalu beliau bersabda, “Dua hari tersebut adalah waktu dihadapkannya amalan pada Rabb semesta alam (pada Allah). Aku sangat suka ketika amalanku dihadapkan sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ahmad 5: 201)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747)

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565).

Dan momen hari kelahiran tidaklah sama dengan momen tahunan yang dikenal dengan ulang tahun atau perayaan maulid. 


https://www.facebook.com/100001764454087/posts/pfbid02dnZ9XsGwFt57hpB4yScj7e6fxDefAZR8upzzTBtbdPptiUp7diZmQC8CxREfy8Hzl/

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, January 1, 2020

Surat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Untuk Nasrani

Surat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Untuk Nasrani
Pada tahun 628 M (6 Hijriyah), Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada para Pendeta dari Biara St.Catherine (Santa Katarina) yang datang ke Madinah untuk mengunjungi Rosulullah.

Surat Asli dengan Stempel Asli Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diawetkan di Biara St. Catherine sampai tahun 1517 Masehi ketika Kekaisaran Ottoman Turki Sultan Selim I menginvasi Mesir & membawa surat asli Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut untuk dipajang di Musium Topkapi Istanbul.

Isi Suratnya:

“Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai suatu perjanjian bagi mereka yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, kami beserta mereka. Sesungguhnya aku, para hamba, para pembantu dan para pengikutku membela mereka, karena orang KRISTEN ADALAH WARGAKU; dan demi Allah! aku menahan diri untuk melakukan apapun yang menentang mereka.

TIDAK ADA PAKSAAN boleh dilakukan untuk mereka. Juga tidak boleh hakim-hakim mereka disingkirkan dari pekerjaannya, maupun para biarawan mereka dari biara-biaranya.

TIDAK BOLEH siapapun menghancurkan RUMAH AGAMA mereka, atau merusakkannya, atau mengambil sesuatupun daripadanya ke dalam rumah-rumah orang Muslim. Bilamana ada orang yang melakukan hal ini, ia menyalahi perjanjian Allah dan tidak mematuhi Nabi-Nya.

Sesungguhnya, mereka adalah SEKUTUKU dan memiliki perjanjian erat dariku melawan semua yang mereka benci. TIDAK BOLEH siapapun memaksa mereka pergi (mengusir) atau mengharuskan mereka untuk berperang.

Orang-orang Muslim HARUS BERPERANG UNTUK MEREKA. Jika seorang wanita Kristen menikah dengan seorang Muslim, tidak boleh dilakukan tanpa seizin wanita itu. Wanita itu tidak boleh dihalangi untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa. Gereja-gereja mereka HARUS DIHORMATI. Mereka tidak tidak boleh dihalangi untuk memperbaikinya atau kekudusan perjanjian-perjanjian mereka.

TIDAK ADA bangsa (Muslim) yang boleh melanggar perjanjian ini sampai AKHIR JAMAN.”

Apakah ini benar? Lalu bagaimana sikap kita?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Tidak ada manusia yang sejarahnya paling lengkap melebihi sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena semua aktivitas beliau, direkam oleh para murid beliau, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dari aktivitas kecil, terlebih aktivitas yang mengandung hukum.

Selanjutnya, informasi ini disampaikan oleh kaum muslimin, dari generasi ke generasi, hingga sampai pada zaman kodifikasi hadis, seperti yang terjadi pada masa Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Bukhari, dst.. Sehingga kaum muslimin generasi setelahnya, bisa menikmati sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui tulisan mereka.

Sisi yang luar biasa, untuk semua kegiatan di atas, semua dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Sehingga setiap sumber yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bisa dipastikan otentik. Jika ada salah satu perawi yang nilai kejujurannya diragukan, atau bahkan nilai hafalannya tidak memenuhi standar, maka informasi itu tidak dapat diterima. Dari sinilah, kita mengenal ada hadis shahih, hasan, dhaif, dhaif jiddan, maudhu, sampai la ashla lahu. Dan jika kita memahami, seperti inilah cara Allah menjaga sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, dalam melakukan kodifikasi hadis, kaum muslimin tidak butuh kehadiran umat lain. Bahkan keberadaan mereka tidak teranggap. Jangankan orang kafir, orang muslim yang ahli ibadah, bisa saja hadisnya tidak diterima, karena dia hafalannya rusak.

Karena itulah, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai ummatul isnad [أمة الاسناد] karena setiap informasi agama, disampaikan melalui jalur sanad, yaitu deretan orang jujur yang kuat hafalannya, dari generasi ke generasi, yang membawa info tentang islam sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ini menjadi keistimewaan umat islam, yang tidak dimiliki umat lainnya.

Syaikhul Islam mengatakan,

وعلم الاسناد والرواية مما خص الله به أمة محمد صلى الله عليه وسلم وجعله سلما الى الدراية فاهل الكتاب لا اسناد لهم ياثرون به المنقولات

Ilmu tentang sanad dan riwayat termasuk yang Allah khususkan untuk ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah jadikan ini sebagai cara untuk sampai pada info hadis (dirayah). Ahlul kitab tidak punya sanad dalam menyampaikan berita yang dinukil diantara mereka. (Majmu’ al-Fatawa, 1/9).

Anda ketika membuka kitab hadis, apapun itu, akan menjumpai kalimat dari si A, dari si B, dari si C, dari si D, dari sahabat fulan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Deretan itulah sanad.

Tapi kita tidak pernah tahu, dari manakah mitos trinitas yang dikembangkan nasrani atau mitos haekal Sulaiman yang diyakini yahudi. Karena sekali lagi, mereka tidak memiliki sanad.

Gereja Santa Katrina

Gereja ini berada di sebelah selatan pegunungan Sinai, di bawah bukit Katrin, bukit tertinggi di Mesir, di dekat gunungnya Musa.

Menurut sebagian sumber, gereja ini dibangun sekitar tahun 545 M, untuk tempat pertapaan para pengikut nasrani Iskandariyah.

Di masa daulah bani Fatimiyah berkuasa, di dalam gereja ini dibangun masjid kecil. Sebagian ahli sejarah mengatakan, bahwa ini bagian dari politik penguasa agar gereja ini tidak menjadi sasaran penggusuran masyarakat. Sementara orientalis mengatakan, ini sebagai penanda bahwa wilayah itu telah dikuasai daulah Fatimiyah, yang beraqidah syiah.

Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Biara Santa Katrina

Kita akan simak beberapa pertimbangan berikut,

⚜ Pertama, Ada banyak surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau kirimkan ke raja-raja kafir di jazirah arab dan luar jazirah arab. Dalam salah satu buku sirah, kurang lebih ada 8 surat yang dikirimkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada raja-raja kafir sekitar Madinah. Salah satunya, raja Mesir dan Iskandariyah, Muqauqis.

Kita tidak menolak keberadaan surat yang ditulis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada nasrani mesir. Namun teksnya tidak sebagaimana disebutkan di atas.

Kita lihat teks surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada raja Mesir dan Iskandariyah, Raja Muqauqis,

بسم الله الرحمن الرحيم

من محمد عبد الله ورسوله إلى المقوقس عظيم القبط، سلام على من اتبع الهدى، أما بعد،

فإني أدعوك بدعاية الإسلام، أسلم تسلم، وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين، فإن توليت فإن عليك إثم أهل القبط. يا أَهْلَ الْكِتابِ تَعالَوْا إِلى كَلِمَةٍ سَواءٍ بَيْنَنا وَبَيْنَكُمْ، أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ، وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً، وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنا بَعْضاً أَرْباباً مِنْ دُونِ اللَّهِ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Bismillahirrahmanirahim,

Dari Muhammad, Hamba Allah dan utusan-Nya, kepada al-Muqauqis, raja Mesir. Semoga keselamatan untuk mereka yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du,

Aku mengajak anda dengan membawa ajakan islam. Masuklah islam, anda akan selamat. Masuklah islam, Allah akan memberimu pahala 2 kali untuk anda. Jika anda tidak mengikuti islam, anda akan menanggung dosa semua penduduk Mesir.

“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.”

(Zadul Ma’ad, 3/61)..

⚜ Kedua, Isi surat untuk biara gereja katrin ini sangat berbeda dengan semua surat yang dikirim Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada raja-raja kafir. Karena semua surat yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada raja-raja kafir itu, isinya satu, ajakan kepada mereka agar masuk islam.

Kita bisa lihat, teks surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada raja romawi,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ: سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ ” وَ {يَا أَهْلَ الكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}

Bismillahir rahmanir rahiim…

Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya

Kepada Heraclius, raja Romawi

Salaamun ‘ala manit-taba’al huda, amma ba’du,

(keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, selanjutnya)

Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling (tidak menerima) maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin. Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).

(HR. Bukhari 2941, Muslim 4707, dan yang lainnya).

Dari sisi kekuatan, nasrani romawi jauh lebih kuat dibandingkan nasrani qibthy. Untuk sekelas romawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk masuk islam, tentu yang kelasnya lebih kecil, tidak ada pertimbangan politik yang lebih penting untuk menghalangi ajakan mereka agar masuk islam.

Jika dalam surat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

perjanjian bagi mereka yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sikap berbeda untuk Nasrani Romawi yang dipimpin Heraklius?? Demikian pula surat yang beliau berikan untuk Muqauqis.

⚜ Ketiga, surat gereja katrina, tidak ada yang berbahasa arab.

Teks tertua dari surat di atas, yang banyak dipampang di gambar, memang menggunakan huruf mirip arab, tapi itu bahasa persi, dengan tertulis teks di awal surat itu: [آشتی‌نامه محمد]

Karena itulah surat ini lebih dikenal dengan sebutan yang tertera di awal teks surat itu: Achtiname of Muhammad. Kata Achtiname berasal dari bahasa Persia: آشتی‌نامه محمد. Kata آشتی (Āshtī) artinya damai. Sementara نامه (nāmeh, nama) artinya surat atau tulisan.

Gabungan dua kata ini: Achtiname artinya the Book of Peace (surat perjanjian damai).

Ini sangat aneh, bagaimana mungkin surat yang diklaim berstempel Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi menggunakan bahasa persia??

Kemungkinan terbesar, surat ini buatan orang syiah. Karena di zaman Syiah berkuasa di mesir, melalui Daulah Fatimiyah, mereka melestarikan gereja ini, bahkan membangun masjid di dalamnya. Untuk upaya politik itu, mereka membuat surat palsu atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, isinya perdamaian dengan orang nasrani. Dan berbohong bagi syiah, adalah satu hal yang lumrah.

⚜ Keempat, isi surat itu sangat bertentangan dengan prinsip ajaran al-Quran dan sunah.

Di situ ada kalimat:

...orang KRISTEN ADALAH WARGAKU; dan demi Allah! aku menahan diri untuk melakukan apapun yang menentang mereka.

TIDAK ADA PAKSAAN boleh dilakukan untuk mereka. Juga tidak boleh hakim-hakim mereka disingkirkan dari pekerjaannya, maupun para biarawan mereka dari biara-biaranya.

Sesungguhnya, mereka adalah SEKUTUKU…” selesai kutipan.

Jika orang nasrani sekutu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengapa mereka harus didakwahi untuk masuk islam?

Bagaimana mungkin orang nasrani dianggap warga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dibela beliau, sementara beliau memusuhi orang yang menyatakan Allah punya anak.

Bahkan sampai beliau hampir melakukan mubahalah (bersumpah saling melaknat) yang ini Allah ajarkan dalam al-Quran,

إنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ . الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُن مِّنَ الْـمُمْتَرِينَ . فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. () (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. () Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 59 – 61).

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan keterangan dari Ibnu Ishaq dalam sirahnya, bahwa suatu ketika kota Madinah kedatangan tamu orang-orang nasrani dari daerah Najran. Diantara mereka ada 14 orang yang merupakan pemuka dan tokoh agama di Najran. dari 14 orang itu, ada 3 orang yang menjadi tokoh sentral: Aqib, gelarnya Abdul Masih. Dia pemuka kaum, yang memutuskan hasil musyawarah masyarakat. as-Sayid, dia pemimpin rombongan. Nama aslinya al-Aiham. Dan yang ketiga Abul Haritsah bin Alqamah. Dulunya orang arab, kemudian pindah ke Najran dan menjadi uskup di sana.

Ketika mereka sampai di Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat asar. Mereka kemudian masuk masjid dan shalat dengan menghadap ke timur.

As-Sayid dan Aqib menjadi jubir mereka di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalian mau masuk islam?” tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kami telah masuk islam sebelum kamu.” Jawab mereka.

Dusta, kalian bukan orang islam disebabkan: kalian menganggap Allah punya anak, kalian menyembah salib, dan makan babi.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika Isa bukan anak Allah, lalu siapa ayahnya?” Serombogan orang-orang nasrani itupun serempak mendebat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pertanyaan itu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tenang menjawab,

Bukankah kalian tahu yang namanya anak, pasti punya kemiripan dengan bapak?

Ya, tentu.” Jawab mereka.

Bukankah kalian yakin, Allah yang mewujudkan segala sesuatu, menjaganya dan memberi rizqi mereka?

Ya, kami yakin itu.” Jawab mereka.

Apakah Isa punya salah satu dari kemampuan tuhan itu?

Tidak.” Jawab mereka.

Beliau melajutkan sabdanya,

Allah menciptakan Isa di dalam rahim sesuai yang Dia kehendaki. Tuhan kita tidak butuh makan, minum, dan tidak berhadats.”

Ya, benar.” Jawab mereka.

Bukankah Isa tumbuh di rahim ibunya sebagaimana para wanita mengalami hamil, kemudian dia melahirkan sebagaimana para wanita melahirkan anaknya?

Lalu bagaimana mungkin kalian meyakini dia anak tuhan?

Kemudian mereka terdiam dan Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/50).

Kalaupun membuat kedustaan, seharusnya tidak se-vulgar ini. Mungkin mereka perlu belajar membuat kedustaan dengan bahasa yang lebih cantik dan lebih halus.

⚜ Kelima, bukankah ada bukti kertasnya, yang disimpan di musium di Turki?

Sebatas kertas tua, semua orang bisa mengklaim, bagaimana mungkin bisa dijadikan bukti otentik. Terlebih ketika kertas itu berbahasa persi. Karena bicara masalah sejarah, kita tidak boleh terfokus dengan objek.

Apalagi kreasi manusia yang tidak terkontrol, membuat semua memungkinkan untuk dipalsukan.

Jangankan cuma kertas, cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi stempel surat beliau, sangat mudah untuk dibuat versi imitasinya.

⚜ Keenam, kita tidak pernah menjumpai karya ulama islam ahlus sunah yang mencantumkan surat ini. Yang ada hanya media-media liberal dan media orang kafir yang demikian gencar menebarkan surat ini.

Sesuatu yang sangat aneh...

Di saat umat islam ini menjadi umat isnad, tapi mengapa untuk sebuah surat yang isinya sangat genting, ternyata hanya disebarkan media yang tidak jelas ujungnya???…

Konspirasi macam apa ini?

Tunjukkan satu buku sejarah karya orang muslim masa silam – bukan syiah – yang membuktikan keberadaan surat ini?

Orang bisa saja meyakini surat ini otentik, jika dia ingin menjadi korban media kafir dan liberal, atau media tidak jelas.

Jika berita muslim fasik tidak boleh diterima, bagaimana mungkin dengan berita orang kafir, apalagi liberal??

Toleransi oh Toleransi

Kami menduga, ini telah menjadi senjata iblis untuk menyudutkan kaum muslimin. Seolah digambarkan, kaum muslimin adalah sosok yang sangat tidak toleran..

Agama islam di Indonesia, datang dengan cara damai, dibawa oleh para dai yang menyebarkan kebaikan.

Sementara agama nasrani datang dengan bersamaan penjajahan. Siapa yang lebih tidak toleran??

Di negara belahan timur dunia, di daerah mayoritas muslim, tidak ada kejahatan terstruktur yang mengancam kegiatan keagamaan orang non muslim. Anda tidak akan pernah menyaksikan orang islam menyerang orang nasrani yang sedang beribadah di gereka. Kalaupun ada, itu oknum dan pelakunya teroris.

Tapi..

Di negara belahan timur dunia, di daerah muslim sebagai minoritas, anda akan dengan sangat mudah menjumpai kejahatan terstruktur yang dilakukan orang non muslim yang mengancam keselamatan umat islam.

Tragedi idul fitri berdarah di ambon, apakah sudah hilang dari ingatan kita?

Tragedi penyerangan pesantren salafiyah di Poso, apakah sudah hilang dari ingatan kita?

Hingga yang terakhir, tragedi pembakaran masjid ketika shalat ‘id di Tolikara, yang secara resmi dimotori oleh GIDI (Gereja Injili Di Indonesia), apakah sudah hilang dari ingatan kita?

Dan itu semua dilakukan secara terstruktur, karena didukung oleh pemuka agamanya??

Siapa yang lebih tidak toleran??

Anda tidak akan pernah melihat kejadian seperti di poso, ambom, nusa tenggara timur, akan terjadi di tanah jawa…

Tidak perlu mengajak umat islam untuk belajar toleransi… karena umat islam sudah sangat toleran…

Allahu a’lam.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Sunday, November 3, 2019

Kota Yang Sangat Dicintai Oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kota Yang Sangat Dicintai Oleh Rasulullah
Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terusir dari kota itu, niscaya beliau tidak akan meninggalkannya.

Ini tercermin dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)

📙(Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 3925.)

-------------------------

Referensi: https://almanhaj.or.id/2578-keutamaan-kota-suci-mekkah.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Tuesday, April 9, 2019

Baitul Izzah, Rumah di Langit Dunia

Baitul Izzah, Rumah di Langit Dunia
Betulkah ada rumah baitul izzah di langit dunia? Seperti apa keterangannya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada dua rumah di langit,
1. Baitul Ma'mur [البيت المعمور]
2. Baitul Izzah [بيت العزّة]
Mengenai baitul Ma'mur, Allah jadikan tempat ini sebagai sumpahnya di surat at-Thur:

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ

Demi Baitul Ma'mur. (QS. at-Thur: 4)

Juga disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang sangat panjang, bercerita tentang peristiwa isra’ mi’raj, dari sahabat Malik bin Sha’sha’ah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan,

فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ السَّابِعَةَ فَأَتَيْتُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَرْحَبًا بِكَ مِنِ ابْنٍ وَنَبِىٍّ، فَرُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ ، فَقَالَ : هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ ، يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

Kami mendatangi langit ketujuh. Lalu aku mendatangi Nabi Ibrahim, aku memberi salam kepadanya dan belia menyambut, “Selamat datang putraku, sang Nabi.” Lalu aku melihat Baitul Ma'mur. Akupun bertanya kepada Jibril. Lalu beliau menjawab,

“Ini adalah Baitul Ma'mur, setiap hari, tempat ini dikunjungi 70.000 Malaikat untuk melakukan shalat di sana. Setelah mereka kaluar, mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini.” (HR. Bukhari 3207 & Muslim 162).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ

Baitul Ma'mur ada di langit ketujuh, setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat, dan mereka tidak kembali lagi.. (HR. Ahmad 12558 dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keterangan selengkapnya mengenai Baitul Ma'mur, sudah kita bahas sebelumnya.

Adapun Baitul Izzah, adalah tempat di langit dunia. Mengenai keberadaannya disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

فُصِلَ القُرْآنُ مِنَ الذِّكْرِ [أي: اللّوح المحفوظ]، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ العِزَّةِ مِنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَجَعَلَ جِبْرِيلُ عليه السّلام يَنْزِلُ بِهِ عَلَى النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم

Al-Quran dipisahkan dari ad-Dzikr (Lauhul Mahfudz) lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menyampaikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak 2/223, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 10/533, dan dishahihkan oleh ad-Dzahabi).

Az-Zarqani memberikan komentar untuk riwayat Ibnu Abbas,

وهي أحاديث موقوفة على ابن عبّاس غير أن لها حكم المرفوع إلى النبيّ صلّى الله عليه وسلّم لما هو مقرّر من أنّ قول الصّحابيّ فيما لا مجال للرّأي فيه، ولم يعرف بالأخذ عن الإسرائيليّات حكمه حكم المرفوع

Hadis ini mauquf sampai Ibnu Abbas, hanya saja dihukumi marfu’ sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan kaidah bahwa perkataan sahabat, untuk masalah di luar logika, dan dia bukan termasuk orang yang suka menerima berita israiliyat, maka status perkataannya sama seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau melanjutkan,

ولا ريب أنّ نزول القرآن إلى بيت العزّة من أنباء الغيب الّتي لا تعرف إلاّ من المعصوم، وابن عبّاس رضي الله عنه لم يعرف بالأخذ عن الإسرائيليّات، فثبت الاحتجاج بها

Tidak diragukan bahwa turunnya al-Quran ke Baitul Izzah termasuk berita ghaib, yang tidak bisa diketahui kecuali melalui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma’shum. Dan Ibnu Abbas juga bukan orang yang dikenal suka menerima berita israiliyat, sehingga perkataan beliau dalam hal ini boleh dijadikan dalil. (Manahil al-Urfan, 1/45).

Demikian, Semoga bermanfaat…

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apa itu Sidratul Muntaha?

Apa itu Sidratul Muntaha?
Bersamaan dengan momen isra miraj, orang sering mendengung-dengungkan sidratul muntaha. Sebenarnya apa itu sidratul muntaha?

Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sidratul muntaha [arab: سدرة المنتهى], Allah sebutkan makhluk istimewa ini dalam Al-Quran, di surat An-Najm,

أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى  وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى  عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى  عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى  إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى  مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى  لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu  di Sidratil muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm: 12 – 18)

Tafsir Umum

Apakah orang musyrikin hendak meragukan dan membantah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Jibril. Padahal dia telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak 2 kali: (1) ketika Jibril berada di atas ufuk yang tinggi (di bawah langit dunia) dan jibril mendekat untuk menyampaikan wahyu kepadanya. (2) ketika di Sidratil muntaha di atas langit ke tujuh, pada saat beliau menjalani isra’ miraj.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril di tempat tersebut, tempat para arwah yang tinggi dan suci, yang tidak bisa didekati setan atau arwah yang buruk.

Di dekat sidratul muntaha terdapat surga yang berisi seluruh puncak kenikmatan, yang menjadi puncak angan-angan. Ini dalil bahwa surga berada di tempat yang sangat tinggi, di atas langit ketujuh.

Ketika sidratul muntaha diliputi dengan ketetapan dari Allah. Menjadi sesuatu yang sangat besar dan indah dengan gemerlap warna. Tidak ada yang bisa menggambarkan keindahannya dengan rinci kecuali Allah. Pandangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tolah toleh dari arah yang menjadi tujuannya, tidak juga melebihi batas yang diizinkan. Ini menunjukkan bagaimana adab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau melihat berbagai kejadian yang luar biasa. Beliau melihat surga, melihat neraka dan melihat kejadian gaib pada malam isra miraj.  (simak Taisir Karim Ar-Rahman, hlm. 818)

Makna kata: Sidratul Muntaha

Sidrah artinya pohon sidr (bidara), sama nama namun hakekatnya beda. Muntaha artinya puncak.

Ibnu Abbas dan para ahli tafsir mengatakan,

سميت سدرة المنتهى لأن علم الملائكة ينتهي إليها ولم يجاوزها أحد إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم وحكي عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أنها سميت بذلك لكونها ينتهي إليها ما يهبط من فوقها وما يصعد من تحتها من أمر الله تعالى

Dinamakan sidratul muntaha (pohon puncak), karena ilmu malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa dinamakan sidratul muntaha karena semua ketetapan Allah yang turun, pangkalnya dari sana dan semua yang naik, ujungnya ada di sana. (Ta’liqat ‘ala Shahih Muslim, Muhamad Fuad Abdul Baqi, 1/145).

Tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Imam As-Sa’di. Dalam tafsirnya, beliau menjelaskan alasan penamaan sidratul muntaha,

سميت سدرة المنتهى، لأنه ينتهي إليها ما يعرج من الأرض، وينزل إليها ما ينزل من الله، من الوحي وغيره، أو لانتهاء علم الخلق إليها أي: لكونها فوق السماوات والأرض، فهي المنتهى في علوها أو لغير ذلك، والله أعلم.

Dinamakan sidratul muntaha, karena tempat pohon ini merupakan puncak segala sesuatu yang naik dari bumi, dan yang Allah turunkan, pangkalnya di sidratul muntaha, baik wahyu atau lainnya. Bisa juga dimaknai, karena sidartul muntaha merupakan puncak yang diketahui makhluk. (lebih dari itu, makhluk tidak tahu), karena pohon ini berada di atas langit dan bumi. Sehingga sidratul muntaha merupakan puncak ketinggian, atau lainnya. Allahu a’lam

Sifat Sidratul Muntaha

Terdapat beberapa riwayat shahih yang menjelaskan sifat fisik Sidratul Muntaha, berikut diantaranya,

1. Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَرُفِعَتْ لِي سِدْرَةُ المُنْتَهَى، فَإِذَا نَبِقُهَا كَأَنَّهُ قِلاَلُ هَجَرَ وَوَرَقُهَا  كَأَنَّهُ آذَانُ الفُيُولِ فِي أَصْلِهَا أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ نَهْرَانِ بَاطِنَانِ، وَنَهْرَانِ ظَاهِرَانِ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: أَمَّا البَاطِنَانِ: فَفِي الجَنَّةِ، وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ: النِّيلُ وَالفُرَاتُ

Aku melihat Shidratul-Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Kemudian aku bertanya, “Wahai Jibril, apakah keduanya ini?” Dia menjawab, “Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat. (HR. Bukhari 3207)

Dalam riwayat Ahmad (12673), terdapat keterangan,

رُفِعَتْ لِي سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ

..kemudian aku melihat sidratul muntaha di langit ketujuh..

2. Hadis dari Asma binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang Sidratul Muntaha,

يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّ الفَنَنِ مِنْهَا مِائَةَ سَنَةٍ، أَوْ يَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا مِائَةُ رَاكِبٍ، فِيهَا فِرَاشُ الذَّهَبِ كَأَنَّ ثَمَرَهَا الْقِلَالُ

Orang yang naik kuda baru bisa melintasi bayang-bayangnya selama seratus tahun atau seratus penunggang kuda, bisa dinaungi bayang-bayangnya, di sana ada laron dari emas, buahnya seperti kendi besar. (HR. Turmudzi 2541 dan beliau menilai: Hasan Shahih).

3. Hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَتَّى انْتَهَى بِي إِلَى سِدْرَةِ المُنْتَهَى، وَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لاَ أَدْرِي مَا هِيَ

…hingga saya berhenti di sidratil muntaha, dan pohon ini diliputi warna, yang saya tidak tahu apa itu.”

4. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمَّا عُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ ذُهِبَ بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، …. فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَهَا، تَغَيَّرَتْ، فَمَا أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا

Ketika saya dimi’rajkan ke langit ke tujuh, saya diajak ke sidratul muntaha,… ketika pohon ini diliputi perintah Allah, dia berubah. Tidak ada seorangpun manusia yang mampu menggambarkannya, karena sangat indah. (HR. Abu Ya’la Al-Mushili 3450 dan dishahihkan Husain Salim Asad).

Dari beberapa hadis di atas, kita bisa menyimpulkan gambaran Sidratul Muntaha,

✅ Sidratul muntaha bentuknya pohon, layaknya pohon bidara. Sama nama, namun beda hakekat.

✅ Pohon ini berada di atas langit ketujuh.

✅ Pohon ini sangat besar, hingga ketika penunggang kuda hendak melintasi bayang-bayangnya, dia membutuhkan waktu 100 tahun baru bisa sampai ke ujung.

✅ Sidratul muntaha memiliki duan dan buah

✅ Daun sidratul muntaha seperti telinga gajah, dan buahnya seperti kendi yang sangat besar.

✅ Terdapat laron-laron dari emas di sana.

✅ Diliputi dengan perintah Allah, hingga warnanya berubah.

✅ Pohon sidratul muntaha sangat indah, hingga tidak ada manusia yang mampu menggambarkan keindahannya.

✅ Di dekat sidratul muntaha terdapat surga

Ya Rabb, berikan kami kekuatan istiqamah dan masukkan kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu. Amiin

Allahu a’lam

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apa itu Baitul Makmur?

Apa itu Baitul Makmur?
Apa itu baitul makmur? Saya sering mendengarnya, mohon dijelaskan? Bolehkah kita menamai masjid dg Baitul Makmur

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Nama Baitul Makmur disebutkan oleh Allah dalam al-Quran, tepatnya di surat at-Thur,

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

Demi Baitul Ma’mur. Demi atap yang ditinggikan (langit). Demi laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. at-Thur: 4 – 6)

Baitul Makmur adalah bangunan yang sangat mulia, berada di langit ketujuh. Di sanalah para Malaikat beribadah, sebagaimana manusia beribadah di sekitar Ka’bah.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani peristiwa Isra Mi’raj, sesampainya di langit ketujuh, beliau melihat Baitul Makmur.

Ketika mengisahkan peristiwa Isra Mi’raj, beliau mengatakan,

فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ السَّابِعَةَ فَأَتَيْتُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَرْحَبًا بِكَ مِنِ ابْنٍ وَنَبِىٍّ، فَرُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ ، فَقَالَ : هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ ، يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

Kami mendatangi langit ketujuh. Lalu aku mendatangi Nabi Ibrahim, aku memberi salam kepadanya dan beliau menyambut, “Selamat datang putraku, sang Nabi.” Lalu aku melihat Baitul Makmur. Akupun bertanya kepada Jibril.

Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari, tempat ini dikunjungi 70.000 Malaikat untuk melakukan shalat di sana. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini.” (HR. Bukhari 3207 & Muslim 162).

Karena itulah, Allah jadikan tempat ini sebagai sumpah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, “Demi Baitul Makmur.” Dan seperti yang kita tahu, makhluk yang Allah jadikan sebagai sumpah adalah makhluk yang mulia, yang menunjukkan keagungan Sang Penciptanya.

Baitul Makmur, Ka’bahnya Penghuni Langit

Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menjelaskan tafsir ayat di atas, beliau mengatakan,

ذاك البيت هو كعبة أهل السماء السابعة ؛ ولهذا وجد إبراهيم الخليل عليه السلام ، مسندا ظهره إلى البيت المعمور ؛ لأنه باني الكعبة الأرضية ، والجزاء من جنس العمل

Baitul makmur itu adalah ka’bah bagi penghuni langit ketujuh. Untuk itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Nabi Ibrahim ‘alahis salam menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur. Karena beliau yang membangun Ka’bah di bumi, dan balasan sejenis dengan amal. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/428)

Baitul Makmur Sejajar Ka’bah

At-Thabari meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu tentang Baitul Makmur.

Jawaban Ali Radhiyallahu ‘anhu,

بيت في السماء بحيال البيت، حرمة هذا في السماء كحرمة هذا في الأرض، يدخله كل يوم سبعون ألف ملك، ولا يعودون إليه

Itu adalah bangunan di langit, sejajar dengan Ka’bah. Kemuliaan bangunan ini di langit sebagaimana kemuliaan Ka’bah di bumi. Setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat, dan mereka tidak kembali lagi. (Tafsir at-Thabari 22/455 dan dishahihkan al-Albani).

At-Thabari juga menyebutkan riwayat yang mursal dari Qatadah (ulama tabi’in), beliau mengatakan,

ذكر لنا؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يوماً لأصحابه: هل تدرون ما البيت المعمور؟ قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: فإنه مسجد في السماء، تحته الكعبة، لو خرّ لخر عليها

Sampai kepada kami informasi bahwa satu hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda di hadapan para sahabatnya, “Tahukah kalian, apa itu Baitul Makmur?” jawab beliau, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.”

Lalu beliau menjelaskan, “Baitul Makmur adalah bangunan masjid di langit, tepat di bawahnya adalah Ka’bah. Andai masjid ini jatuh, dia akan jatuh di atas Ka’bah.” (Tafsir at-Thabari 22/456. Riwayat ini juga dikutip Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, 7/429).

Dalam Silsilah as-Shahihah dinyatakan,

وجملة القول أن هذه الزيادة ((حيال الكعبة)) ثابتة بمجموع طرقها

Kesimpulan keterangan bahwa tambahan riwayat ‘sejajar dengan Ka’bah’ statusnya shahih, dengan gabungan semua jalur periwayatannya. (as-Silsilah as-Shahihah, 1/476).

Tidak Boleh Menamai Masjid dengan Baitul Makmur

Kesimpulan ini disampaikan dalam Fatwa Islam,

وإذا كان هذا البيت بهذه المثابة والمنزلة ، فلا يجوز أن يسمى به أي بيت أو محل أو منشأة ، كما لا يجوز أن تسمى هذه الأشياء بالكعبة أو بالبيت الحرام أو بغير ذلك من الأسماء المعظمة ؛ لما في ذلك من الامتهان ، وانتفاء المشابهة

Mengingat bangunan ini memiliki kedudukan yang sangat mulia seperti yang disebutkan, maka kalimat ini tidak boleh digunakan untuk menamakan satu rumah, atau tempat, atau bangunan apapun. Sebagaimana kita tidak boleh memberi nama tempat di sekitar kita dengan nama Ka’bah atau Baitul Haram, atau nama-nama lainnya yang diagungkan. Karena termasuk bentuk penghinaan dan agar tidak dianggap menyerupakan. (Fatawa al-Islam, no. 120126)

Baca juga : Baitul Izzah, Rumah di Langit Dunia

Allahu a’lam

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Apa itu Buraq?

Apa itu Buraq?
Apa itu buroq? Karena ketika isra mi’raj, nama ini sering disebut. Dan katanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam isra mi’raj dengan menunggang buroq. Mungkin bs dijelaskn. Trim’s. Maksih pencerahannya.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Buraq atau Buroq [arab: البُرَاقُ] termasuk binatang ghaib, yang tidak akan pernah kita jumpai di alam ini. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menaikinya ketika isra’ mi’raj, itu bagian dari keistimewaan dan mukjizat beliau dari Allah, yang tentu saja tidak mungkin bisa ditiru orang lain.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Dialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al-Jin: 26 – 27)

Mengingat ini masalah ghaib, sikap yang harus kita kedepankan adalah mengikuti dan meyakini apa yang disebutkan dalam dalil. Artinya, kita hanya boleh meyakini sesuai informasi yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara bentuk dan sifat buraq yang disebutkan dalam hadis shahih,
  1. Bentuknya seperti binatang tunggangan
  2. Ukurannya lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal. (Bighal adalah peranakan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai)
  3. Berwarna putih
  4. Langkah kakinya, sejauh ujung pandangannya.
  5. Bisa diikat sebagaimana layaknya hewan tunggangan
Diantara hadis yang menceritakan sifat-sifat di atas,

a. Hadis dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian isra mi’raj. Salah satu cuplikan kisahnya,

وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، دُونَ البَغْلِ وَفَوْقَ الحِمَارِ: البُرَاقُ

Dibawakan kepadaku hewan tunggangan berwarna putih, lebih pendek dari bighal dan lebih tinggi dari pada keledai. Yaitu buraq. (HR. Bukhari 3207)

b. Hadis dari Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، يُقَالُ لَهُ: الْبُرَاقُ، فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَقَعُ خَطْوُهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ، فَحُمِلْتُ عَلَيْه

Kemudian dibawakan kepadaku seekor hewan tunggangan putih, namanya Buraq. Lebih tinggi dari pada keledai dan lebih pendek dari bighal. Satu langkah kakinya di ujung pandangannya. Lalu aku dinaikkan di atasnya. (HR. Ahmad 17835, Muslim 164, dan yang lainnya).

c. Sesampainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjidil aqsha, beliau shallallahu ’alai wa salam mengikat buraqnya di tempat yang biasa digunakan para nabi untuk mengikat tunggangannya. Beliau mengatakan

فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ

Aku mengikat buraq di salah satu pintu masjid baitul maqdis, tepat di mana para nabi mengikatkan hewan tunggangan mereka (Muslim no. 162, Abu Ya’la dalam musnadnya 3375)

Apakah Buraq punya Sayap?

Banyak yang mengilutrasikan buraq layaknya gambar kuda bersayap. Bahkan kadang ditambahi tanduk.

Kami tidak menjumpai adanya riwayat yang menjelaskan bahwa buraq bersayap. Dan sekali lagi, mengingat ini masalah ghaib, kita hanya bisa mengikuti apa yang disebutkan dalam dalil, tanpa nambah-nambahi. Membuat ilustrasi seperti kuda terbang sembrani, jelas ini menebak-nebak hal yang ghaib, yang dilarang dalam islam.

Demikian, Allahu a’lam.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive