Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label tauhid. Show all posts
Showing posts with label tauhid. Show all posts

Friday, January 3, 2020

Tauhid Adalah Sebab Dihapuskannya Dosa (Kesalahan)

Tauhid Adalah Sebab Dihapuskannya Dosa (Kesalahan)
Dalam hadits qudsi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, Allah Ta’ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. Tirmidzi, no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

-------------------------

Referensi: https://rumaysho.com/18082-tsalatsatul-ushul-pentingnya-belajar-tauhid.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Wednesday, January 1, 2020

Pengikut Nasrani Bertanya Tentang Nabi Isa Dalam Al-Quran

Pengikut Nasrani Bertanya Tentang Nabi Isa Dalam Al-Quran
Pertanyaan (bahasa inggris).

InteResting reading… As a devoted christian, I of course know, what the bible says about Jesus/Isa. It is therefore very interesting for me to get to know, what the quran says about him.

especially the “Al Muharrar Al Wajiz”, which to some extent bears the same message as the revelation of st. john, the theologian. (correct me if i´m wrong) i have a question to this: The article states: All muslim agree to have faith upon the content of hadith mutawatir. Should the term muslim be understood as, a person WHO submits til the will of god or does it Refer to, a peson of the islamic faith?

In my personal view, Jesus certainly is very much alive. i have witnessed terminally sick people recovering to perfect Health by praying to Jesus/isa and being prayed for.

I am very keen to learn more about islam and the quran, as i, beeing the christian i am, have sworn to protect the children of Abraham.

And you are perfectly right, god knows best, god is greater.

E-mail: basedon@gmail.com

Terjemah Pertanyaan

Artikel yang menarik tentang kenaikan Yesus… Sebagai pengikut loyal agama nasrani, saya tentu saja telah mengetahui, apa yang Injil katakan tentang Jesus/Isa. Oleh karena itu saya sangat tertarik untuk mengetahui apa yang disebutkan dalam al-Quran tentang beliau.

Terutama dengan “Al Muharrar Al Wajiz” yang pada beberapa bahagian menunjukkan kesamaan dengan wahyu saint john sang teologis.

Saya punya pertanyaan mengenai hal ini: dalam artikel dikatakan: “Umat Islam sepakat untuk mengimani kandungan hadis yang mutawatir”. Apakah istilah muslim disini perlu dipahami sebagai, seseorang yang tunduk dan patuh terhadap keinginan Tuhan, atau apakah muslim disini ditujukan ke orang yang menganut agama Islam?

Pendapat pribadi saya, Yesus tentu saja sangatlah ‘hidup’. Saya telah menyaksikan orang yang menderita sakit sangat parah, kemudian berangsur-angsur sembuh secara total dengan cara berdoa kepada Yesus/Isa atau dengan didoakan kepada Yesus.

Saya sangat tertarik untuk belajar Islam dan Quran, sebagaimana saya, seorang nasrani, telah mengambil sumpah untuk melindungi seluruh anak cucu Nabi Ibrahim.

Dan Anda sungguh benar, bahwa Tuhan lah yang paling mengetahui, dan Tuhan lah yang paling berkuasa.

E-mail: basedon@gmail.com

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ini untuk pertama kalinya kami melakukan diskusi serius tentang masalah agama dengan penganut nasrani. Karena itu, mohon maaf jika kami tidak bisa melakukan perbandingan dengan apa yang ada dalam injil. Sehingga kami hanya akan memfokuskan pembahasan tentang Isa dan konsep agama yang diajarkan oleh Isa sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran.

Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan terkait Nabi Isa dan ajarannya,

☑ Pertama, tentang prinsip tauhid

Al-quran menjelaskan bahwa semua nabi dan rasul yang diutus oleh Allah memiliki misi tunggal yang sama, yaitu mengajarkan manusia untuk mengesakan Tuhan, dan tidak menyekutukannya. Tak terkecuali Nabi Isa. Beliau diutus oleh Allah, juga dalam rangka mengajarkan tauhid kepada manusia. Agar semua manusia hanya beribadah kepada Allah dan bukan selainnya.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sungguh Aku telah mengutus seorang rasul untuk tiap umat, tujuannya agar mereka beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut” (QS. An-Nahl: 36).

Thaghut adalah semua makhluk yang disembah selain Allah.

Allah juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Tidaklah Aku mengutus rasul sebelum engkau (wahai Muhamad), kecuali Aku wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Aku. Karena itu beribadahlah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiya: 25)

Ayat yang menyebutkan tentang ini dalam al-Quran sangat banyak sekali. Semoga dua ayat di atas sudah sangat mewakili.

☑ Kedua, siapakah Isa dan ibunda Maryam

Kami sangat yakin bahwa muslim dan nasrani sama-sama sepakat bahwa yesus dan ibunda Maryam, keduanya manusia. Makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Allah berfirman,

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya Isa itu seperti Adam. Allah ciptakan dia dari tanah, kemudian Allah berfirman ’Kun’ muncullah, maka muncullah dia.” (QS. Ali Imran: 59)

Diantara bukti bahwa Nabi Isa dan ibunda Maryam hanya manusia, mereka mengkonsumsi makanan dan hidup layaknya manusia lainnya. Allah berfirman,

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ

Al-Masih Isa bin Maryam hanyalah utusan Allah. Sudah ada banyak utusan-utusan sebelumnya. Sementara ibunya adalah wanita yang jujur. Keduanya mengkonsumsi makanan.” (QS. Al-Maidah: 75).

Hanya saja, kita sepakat bahwa Isa dan Ibunda Maryam adalah hamba yang dekat dengan Tuhan, makhluk yang istimewa di sisi Tuhan. Dalam arti, mereka adalah orang yang sangat taat kepada Tuhannya. Meskipun mereka istimewa dan dekat dengan Tuhan, apakah kemudian mereka akan menjadi Tuhan? Atau mereka memiliki salah satu sifat Tuhan?

Kami yakin, kita semua akan sepakat menjawab: Tidak. Karena mustahil, makhluk bisa menjadi seperti Tuhan, atau memiliki salah satu sifat Tuhan.

Seperti inilah yang diajarkan Nabi Isa seperti yang Allah sebutkan dalam al-Quran.

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Allah berfirman: ”Wahai Isa bin Maryam, apakah engkau pernah mengatakan kepada umat manusia, jadikanlah aku dan ibuku sebagai tuhan selain Allah…

Apa jawaban Nabi Isa setelah mendapatkan pertanyaan ini,

قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

Isa berkata: ”Maha Suci Engkau. Aku tidak pernah mengucapkan sesuatu yang tidak berhak kuucapkan. Jika aku pernah mengucapkannya, sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam jiwaku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui masalah ghaib.” (QS. Al-Maidah: 116).

Karena itulah, Allah sangat mengingkari orang yang menganggap Isa sebagai anak tuhan dan bagian dari trinitas ketuhanan.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا . لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا . أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا . وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

Mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mengatakan bahwa Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. (QS. Maryam: 88 – 92).

Allah juga mencela orang yang menjadikan makhluk-Nya sebagai bagian trinitas ketuhanan,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ

Sungguh telah kafir mereka yang mengatakan, Allah itu salah satu dari 3 trinitas. Padahal tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Tuhan yang Esa.” (QS. Al-Maidah: 73).

Kami tidak tahu secara menyeluruh, sejauh mana status Nabi Isa bagi orang nasrani. Yang jelas, jika orang nasrani menganggap Isa sebagai anak Tuhan, ada banyak hal yang membuat kami keheranan,

Bagaimana mungkin Tuhan mengangkat makhluk-Nya di kalangan manusia sebagai anak? Yang kami tahu, ini keyakinan paganisme yang mengganggap adanya anak dewa. Satu keyakinan primitif yang sangat tidak masuk akal. Jika Nabi Isa anak Tuhan, mengapa Tuhan membiarkannya mati disalib – sebagaimana gambar patung yang banyak dipajang oleh orang nasrani? Seharusnya anak Tuhan memiliki kekuatan yang luar biasa, apalagi hanya melawan beberapa pasukan yang hendak membunuhnya.

Jika itu alasannya sebagai penebusan dosa. Dan Nabi Isa membiarkan orang-orang menyimpang itu, mensalib dirinya. Namun ini juga masih membuat kami keheranan, apakah seperti itu yang diajarkan dalam nasrani? Menebus dosa dengan cara disalib. Bukankah ini ajaran yang sangat mengerikan?

Mungkin ada yang beralasan, itu masalah prinsip yang hanya bisa diikuti tanpa kritik. Jika demikian, ini mengundang keheranan, jika memang itu prinsip, mengapa prinsip semacam ini tidak ditiru oleh penganut Isa. Kami tidak pernah mendengar ada gerakan Paus atau Pastur secara bersama-sama menggantung diri atau mensalib dirinya sebagai bentuk penebusan dosa bagi seluruh umatnya. Bukankah prinsip Nabi itu harus diikuti dan dilestarikan?

☑ Ketiga, Status Nabi Muhammad dan Nabi Isa

Bagi kami, Nabi Isa dan Nabi Muhammad statusnya sama. Keduanya manusia, makhluk Allah, yang Allah utus sebagai nabi dan rasul. Yang membedakan antara kami dan umat nasrani, kami berkeyakinan bahwa nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang menjadi penghujung dakwah para nabi sebelumnya.

Dalam al-Quran Allah menegaskan bahwa Nabi Isa telah menyampaikan berita tentang kedatangan Nabi terakhir ini kepada umatnya, yaitu Bani Israil,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan datangnya seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. As-Shaf: 6).

Dan kami memiliki dugaan sangat kuat, bahwa sejatinya di Injil telah disebutkan mengenai kehadiran nabi terakhir ini. Artinya orang nasrani sepakat bahwa akan ada Nabi yang menjadi penghujung nabi-nabi sebelumnya.

Yang membuat kami keheranan, mengapa hingga sekarang kaum nasrani tidak bersedia beriman kepada Nabi terakhir ini?

Baik, anggap bahwa orang nasrani tidak mengakui bahwa Muhammad adalah nabi terakhir. Tapi bukankah mereka meyakini akan ada nabi terakhir setelah Isa? Lalu jika bukan Muhammad, kapan munculnya nabi terakhir itu?

Hingga saat ini, kami belum mendengar keberadaan nabi terakhir versi nasrani. Apa berarti injil berdusta ketika mengabarkan adanya nabi terakhir?

☑ Keempat, Kritik untuk pernyataan anda

Berikutnya, kami ingin mengkritisi pernyataan anda, “Pendapat pribadi saya, Yesus tentu saja sangatlah ‘hidup’. Saya telah menyaksikan orang yang menderita sakit sangat parah, kemudian berangsur-angsur sembuh secara total dengan cara berdoa kepada Yesus/Isa atau dengan didoakan

Sebelumnya perlu dibedakan antara mengobati dan menyembuhkan. Manusia bisa mengobati, namun tidak bisa menyembuhkan. Karena bagi kami, satu-satunya yang bisa menyembuhkan hanyalah Tuhan Sang Pencipta. Manusia, siapapun dia, tidak mampu menyembuhkan. Sekalipun dia seorang nabi.

Karena itu, ketika muslim mengharapkan kesembuhan, dia berobat ke dokter atau tabib, kemudian kami minta kepada Allah agar diberi kesembuhan.

Dengan demikian, pernyataan anda di atas, kami anggap sebagai perbuatan yang bermasalah. Bagaimana mungkin Nabi Isa bisa menyembuhkan, sementara menurut keyakinan anda, beliau sudah mati disalib? Bagaimana mungkin Nabi Isa bisa menolong orang lain, sementara ketika beliau disalib, beliau tidak bisa menolong dirinya sendiri.

Pada pernyataan di atas, anda beralasan bahwa penyembuhan dengan doa itu terbukti dan terjadi. Seperti yang anda nyatakan, ”Saya telah menyaksikan orang yang menderita sakit sangat parah, kemudian berangsur-angsur sembuh secara total dengan cara berdoa kepada Yesus”.

Bagi kami, ini alasan yang tidak kurang tepat. Karena terbukti sembuh, bukan alasan untuk membenarkan suatu praktek pengobatan yang salah.

Orang budha mencari kesembuhan dengan berdoa kepada patung budha shidarta dan terkadang itu sembuh. Apa ini bisa jadi alasan bahwa patung budha shidarta ‘hidup’?

Orang hindu mencari kesembuhan dengan berdoa kepada patung wisnu, dan terkadang itu sembuh. Apa ini bisa jadi alasan bahwa patung wisnu itu ‘hidup’?

Betapa banyak orang yang berobat ke tukang sihir (dukun) kemudian dia sembuh. Apakah ini bisa dijadikan bukti bahwa praktek si tukang sihir itu benar?

Ada orang yang berobat dengan cara menghisap darah binatang atau bahkan darah manusia, kemudian dia sembuh. Apakah berarti prakteknya bisa dibenarkan?

Sebagaimana ada orang yang ingin kaya, kemudian dia menggunakan cara yang tidak dibenarkan, seperti sihir atau ilmu hitam, dan kemudian dia sukses. Apakah berarti tindakannya dibenarkan?

Karena itu, sekali lagi, benar dan tidaknya perbuatan seseorang, tidak bisa diukur dengan hasil jarak dekat. Karena Allah Yang Maha Kuasa di atas segalanya, bisa saja mengabulkan harapan orang itu, meskipun dia menempuhnya dengan cara melanggar aturan. Bukan karena Allah setuju, namun karena Allah memberikan kenikmatan kepada siapapun.

☑ Kelima, Makna Muslim

Secara bahasa, muslim memang artinya ’orang yang pasrah’ tunduk dan patuh kepada aturan Tuhan.

Namun secara istilah, muslim adalah orang yang patuh terhadap aturan nabi yang diutus kepadanya. Sehingga muslim adalah mereka yang tunduk kepada aturan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menyebutnya sebagai agama Islam.

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 156 – 157).

Ketika nabi itu datang, tidak boleh ada ajaran lain, selain ajaran yang beliau sampaikan. Sebagaimana ketika Nabi Isa datang, semua orang yahudi harus patuh kepada Isa. Dan itulah islam. Jika tidak, apa manfaat Allah mengutus nabi-Nya, sementara mereka bisa bebas mengikuti dan memilih ajaran lainnya?.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 85).

Terakhir, sebelumnya mohon maaf, kami sebenarnya keheranan dengan diskusi ini. Karena anda meminta kajian tentang Nabi Isa, agama islam, sesuai dengan apa yang ada dalam al-Quran.

Sementara kita belum sepakat, apakah keterangan dalam al-Quran bisa diakui bersama ataukah tidak. Karena yang kami dengar, kaum nasrani tidak mengakui al-Quran sebagai kitab Allah.

Jika orang nasrani tidak mengakui al-Quran, bagaimana kami bisa meyakinkan anda dengan jawaban yang bersumber dari al-Quran?

Hampir semua agama dan aliran memiliki kitab suci. Dan bagi kami, satu-satunya kitab suci yang masih otentik dari Tuhan hanya al-Quran. Selain itu, adalah kitab buatan manusia atau kitab Tuhan namun sudah diubah.

Karena itulah, teks asli al-Quran selalu kami jaga. Jika harus diterjemahkan, kami tetap mencantumkan teks asli al-Quran sebagaimana ketika diturunkan.

Tentang injil, kami pernah mendengar bahwa orang nasrani sendiri meragukan keotentikannya. Bahkan sebagian meyakini – bukan lagi ragu – bahwa injil telah diubah. Karena itulah, hampi seluruh umat nasrani tidak pernah tahu teks injil yang aslinya. Mengapa tidak dilestarikan? Bukankah itu kitab Tuhan. Mereka hanya mendapatkan versi terjemahan tanpa teks asli.

Kami lihat, nampaknya orang nasrani sangat tidak rajin membaca kitabnya. Sebagian orang nasrani hanya menyentuh bible setiap minggu saja. Sisanya dia habiskan untuk kegiatan kesehariannya. Hanya beberapa anak didik gereja yang menekuni injil. Itupun karena tuntutan profesinya sebagai calon pastur.

Berbeda dengan kaum muslimin. al-Quran menjadi pegangan keseharian mereka. Tanpa memandang latar belakang. Artinya, tidak hanya tokoh agama. Karena al-Quran diajarkan untuk semuanya, sejak usia bisa bicara hingga usia tua. Apapun profesinya, apapun jenis kelaminnya. Kami mendapatkan banyak kesimpulan berharga ketika mengkaji al-Quran. Dan membacanya saja, kami meyakini akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan.

Mengapa injil di tangan orang nasrani tidak disikapi yang sama oleh umatnya seperti yang dilakukan kaum muslimin terhadap al-Quran?

Jika kami boleh menyampaikan analisis, mungkin bisa jadi itu karena injil tidak mencantumkan bahasa asli kitab itu ketika diturunkan.

Allahu a’lam

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Monday, May 13, 2019

Dakwah Tauhid Akan Terus Berjalan

Dakwah Tauhid Akan Terus Berjalan
Apapun hasilnya, dakwah tauhid akan terus berjalan....
Siapapun pemimpinnya, dakwah tauhid harus terus bergema...
Bagaimanapun keadaanya, dakwah tauhid harus terus bergemuruh....

Sampai kapan?? 
Sampai nafas berhenti berhembus, 
sampai lisan tak mampu bergerak,
Sampai pena tak bisa menggores,
Sampai pedang tak mampu lagi menyayat...

Ketahuilah sebaik apapun pemimpin anda apabila rakyatnya tidak beriman dan bobrok, niscaya Rahmat Allah akan jauh dari negri ini, nestapa akan mudah hinggap dinegeri ini.
Lihatlah bani Israil yang Allah berikan kepada mereka nabi terbaik, nabi Musa alaihi salam, tapi apa yang Allah timpakan kepada mereka, ketika pemimpin baik, tapi rakyatnya bobrok,....

Oleh karena itu, dakwah akan terus berjalan, agar rakyat menjadi hamba yang bertauhid, dan rakyat jadi hamba yang Sholeh.... Niscaya Allah akan berikan kebaikan walaupun pemimpin mereka dzolim, cepat atau lambat....

Ingat lah kawan, kalau kita dipimpin oleh pemimpin yang dzolim sekalipun, janganlah menyalahkan kecuali diri kita sendiri pertama kali....

Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lainnya disebabkan apa yang mereka usahakan" (al an'am:129)

Seharusnya ketika kita ditimpa kedzoliman penguasa, hendaknya kita bertaubat dari segala kesalahan. Bukan malah mengajak masyarakat melakukan kesalahan lain dan melakukan kemaksiatan yang lain dengan mengajak menentang pemerintah, melakukan kudeta, berdemonstrasi, Dan kemaksiatan yang menjauhkan kita dari Allah.

Karena pada hakikatnya kedzoliman penguasa adalah sebab kedzoliman kita sendiri.

Ketika kaum muslimin ditimpa kekalahan dalam Perang Uhud maka Allah subhanahu wa ta'ala menyandarkan dan menyalahkan kekalahan itu kepada orang beriman dan tidak menimpakan kesalahan kepada orang-orang kafir. Karena kekalahan itu disebabkan oleh kemaksiatan mereka. Allah ta’ala berfirman:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah pada peperangan uhud padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh musuh-MU pada peperangan Badar kamu berkata: Dari mana datangnya kekalahan ini KATAKANLAH!: ITU DARI KESALAHAN KALIAN SENDIRI Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Ali Imron 165)

Syeikh Albani berkata: “dalam perkataan (imam Thohawi) ini ada Penjelasan jalan keselamatan dari kedzoliman para penguasa yang warna kulit mereka sama dengan kulit kita, berbicara sama dengan bahasa kita; Bahasa Arab. karena itu Supaya umat Islam selamat maka  hendaklah kaum muslimin;

  1. bertaubat kepada Allah ta'ala 
  2. memperbaiki akidah mereka 
  3. hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka menunggu merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (ar-ra'd: 11) - (lihat ta’liq kitab al-aqidah ath-thohawiyah, hlm. 44)

Dan ingatlah, bahwa pemimpin kita adalah cerminan rakyat dari negeri kita....

Berkata Imam Ibnu qayyim -rahimahullah- Ta'ala:  "Dan perhatikanlah hikmah-Nya -Ta'ala- dalam menguasakan raja-raja manusia, pemimpin-pemimpin mereka, penguasa-penguasa mereka dari jenis amalan mereka sendiri. Bahkan amalan-amalan mereka nampak dalam bentuk kepemimpinan mereka dan kekuasaan mereka. Apabila mereka (para rakyat) Istiqomah maka penguasa-penguasa mereka akan Istiqomah, apabila rakyatnya adil maka penguasanya akan berbuat adil, dan apabila rakyatnya berbuat zalim maka Penguasa dan pemimpin mereka akan berbuat zalim.

Dan apabila nampak pada mereka perbuatan makar dan menipu, maka pemimpin-pemimpin mereka akan berbuat demikian juga. Dan apabila mereka (rakyat) mencegah hak-hak Allah yang ada pada mereka dan mereka berbuat Bakhil terhadap (yang miskin) diantara mereka, maka raja-rajamereka dan pemimpin mereka akan mencegah hak-hak mereka yang ada pada pemimpinnya, dan para pemimpin akan bakhil terhadapnya.

Dan apabila mereka (para rakyat) mengambil dari orang-orang yang lemah apa yang mereka tidak berhak untuk mengambilnya di dalam permasalahan muamalah mereka, maka raja-raja akan mengambil dari mereka apa yang mereka (raja-raja) tidak berhak terhadapnya, dan mewajibkan kepada mereka Pajak Perdagangan dan biaya-biaya dan setiap dari apa yang mereka minta dari orang-orang yang lemah, maka para raja mereka akan meminta nya dari para rakyat dengan kekuatannya. dan para pegawai raja Ini akan nampak dalam bentuk amal-amal mereka (rakyat).

Dan bukanlah merupakan Hikmah ilahiyah ketika Allah memberikan pemimpin terhadap orang-orang yang buruk orang-orang yang jahat kecuali pemimpin tersebut dari jenis mereka sendiri.

Dan ketika generasi yang pertama mereka adalah sebaik-baik generasi, maka pemimpin mereka juga demikian. Maka ketika mereka menipu maka para pemimpin menipu mereka.

Dan hikmah Allah ta'ala enggan untuk memberikan pemimpin terhadap kita yang semisal pada zaman tersebut, seperti: muawiyah -radhiyallahu Anhu- dan Umar bin Abdul Aziz -rahimahullah Ta'ala- terlebih lagi seperti Abu Bakar dan Umar -radhiyallahu Ta'ala anhuma-

Akan tetapi para pemimpin kita sesuai dengan kadar kita. Dan para pemimpin orang yang sebelum kita sesuai atas kadar mereka, dan kedua-duanya tersebut ini merupakan tuntutan dari Hikmah Allah Subhanahu Wa Ta'ala."

[Miftah Daris Sa'adah, (II/177-178), tahqiq Syaikh Ali Hasan, cet. Dar Ibnu Qayyim dan Dar Ibnu Affan)

Apakah dakwah tauhid sudah menemui ajalnya sampai disini....
Tidak kawan, dakwah tauhid justru baru dimulai....

Ditulis oleh : Ust.Dika Wahyudi,Lc

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Sunday, April 28, 2019

Kenapa Kok Tauhid Terus?

Kenapa Kok Tauhid Terus?
"Setiap hari yang didakwahkan kok tauhiiiid melulu nggak ada peningkatan sama sekali, dari awal ngaji sampai sekarang msih aja bahas tauhid tauhid..apa nggak bosen?"

Setidaknya ada 4 bantahan utama tentang opini di atas:

1. Bantahan pertama:

Rasululullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum wafat di hadapan para sahabat yang ahli tauhid, yang beliau didik puluhan tahun tentang tauhid, di ujung hayat beliau masih tetap berwasiat tentang tauhid.

Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, mereka berdua berkata : "Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, beliau menutupkan kain khamishah-nya pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika napasnya semakin terganggu seraya bersabda:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashara yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah berkata : “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan” " [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436 dan Muslim no. 531].

Dalam riwayat yang lain 5 hari menjelang wafat beliau bersabda:

، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim

Lihatlah: dihadapan para sahabat, pemuka-pemuka tauhid, pejuang-pejuang tauhid puluhan tahun bersama nabi, tapi wasiat terakhir nabi masih tentang tauhid, maka jangan pernah anda bosan dengan tauhid, karena anda tidak lebih baik dan tidak lebih mulia dari para sahabat.

2. Bantahan yang kedua

Para rasulpun yang merupakan imam-imam yang memegang panji-panji tauhid masih khawatir tertimpa kesyirikan.

Sampai-sampai Nabi Ibrahim berdoa:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Ya Allah...dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala (shonam).” (QS. Ibrahim: 35).

Lihatlah: nabi ibrahim berdoa agar beliau dan anak cucunya terlepas dari kesyirikan padahal beliau adalah nabi, anaknya beliau Ismail dan Ishaq pun nabi, cucu beliau Ya'qub pun nabi, cicit beliau Yusuf pun nabi...tapi meskipun demikian beliau masih takut tertimpa kesyirikan.

Bahkan nabi terbaikpun Muhammad shallallahu alaihi wasallam berdoa khawatir tertimpa kesyirikan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”. dishahihkan al-Albani dalam shahih al-Jami').

3. Bantahan ketiga:

Masyarakat ahli tauhidpun bisa berubah menjadi masyarakat ahli syirik jika tidak ada da'i yang mengingatkannya, sebagaimana dahulu antara Adam dan Nuh alaihissalam 10 abad manusia di atas tauhid...akan tetapi ketika berlalu manusia pun berubah menjadi penyembah berhala.

4. Bantahan keempat:

Realita ummat mengatakan bahwa mereka sekarang masih membutuhkan dakwah dan pencerahan tentang tauhid, masih banyak orang yang mengagungkan benda2 keramat, mempercayai dukun, tukang sihir dan para tukang ramalan, masih percaya tathayyur (merasa apes atau sia), memintah kepada pohon,penghuni kubur, goa keramat dan dan dan seterusnya.

Wallahu a'lam.

Oleh Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc, MHI حفظه الله تعالى

===============================

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Thursday, October 25, 2018

Dosa 99 Lembar Sejauh Mata Memandang Terhapus dengan TAUHID

Dosa 99 Lembar Sejauh Mata Memandang Terhapus dengan TAUHID
#IndonesiaBertauhid

Iya benar, TAUHID bisa menghapuskan dosa (selain dosa syirik) walapun sangat banyak sekali bahkan  walaupun dia belum bertaubat kepada Allah sebelum meninggal.

Berikut kisah shahih seseorang yang di hari kiamat penimbangan amal, ia memiliki dosa yang sangat banyak, 99 lembar sejauh mata memandang.

Kebaikannya? Hanya 1 lembar kecil SAJA, yaitu kartu (bithaqah) yang bertuliskan kalimat TAUHID (لا إله إلا الله).

Ketika ditimbang, ternyata lebih berat kartu kecil berisi kalimat TAUHID yang ternyata ia sangat IKHLAS dan BERILMU TAUHIDNYA, tentu terjauhkan dari kesyirikan


Berikut haditsnya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata.

Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) pencatat–Ku al-Hafizhun menzhalimimu?”

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?”

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka,

Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi.

Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (kartu) yang bertuliskan:
Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu

(Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya.

Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu.”Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.”

Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.”

Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain.

Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Alah.”

(H.R. Ahmad,  Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Bukan maksudnya meremehkan dosa dan menganggap kecil amalan lainnya, tetapi besarnya keutamaan TAUHID

Bahkan ada ulama yang berpendapat, lafadz “رجلا” (rajulan) berarti seseorang, berarti contoh ini HANYA PADA SATU ORANG SAJA, tidak pada yang lainnya, orang ini TAUHIDNYA sangat ikhlas dan jauh dari syirik

Jadi tidak bisa jadi dalil meremehkan dosa dan mengecilkan amalan yang lain

2. TAUHID memang bisa menghapuskan dosa walaupun sepenuh bumi, dengan syarat TIDAK pernah menyekutukan Allah/ berbuat syirik

dalam hadits qudsi,

ً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

Barangsiapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku (MEMURNIKAN TAUHID), niscaya Aku menemuinya dengan ampunan seperti itu.’” (HR. Muslim)

3. Ingat! dosa yang dihapus adalah dosa kepada Allah, adapun dosa sesama manusia (misalnya memukul dan mencuri), maka akan dibalas dipadang mahsyar dengan seadil-adil, dibalasnya dibayar dengan pahala. Sehingga bisa jadi amal banyak awalnya tetapi ketika penimbangan menjadi sedikit

Rincian nasib manusia nanti:

1. Jika TAUHIDnya bagus, maka bisa jadi langsung masuk surga bisa jadi tanpa hisab dan adzab

2. Amal baiknya lebih banyak dari amal buruk, maka masuk surga

3. Amal buruk lebih banyak dari amal baik, maka dirinci:

A. Bisa jadi Allah ampuni dosa-dosanya walaupun ia belum bertaubat sebelum meninggal, maka ia masuk surga

B. Allah tidak ampuni, bisa jadi TAUHIDnya kurang, maka ia atas izin Allah masuk neraka SEMENTARA dan nanti masuk surga kemudian

4. Ia pernah melakukan kesyirikan dan belum bertaubat setelah meninggal, maka ia masuk nereka kekal selama terhapus amalannya (semoga kita dijauhkan sejauh-jauhnya), jika sudah bertaubat sebelum meninggal alhamdulillah

-Sudah tahu KEUTAMAAN TAUHID kan? Ayo semangat belajar dan mendakwahkan TAUHID, Terutama ke keluarga yang kita cintai dan masyarakat

@Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com
----------------------------------------

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Monday, October 15, 2018

Tauhid Adalah Awal Perintah dan Kewajiban

Tauhid Adalah Awal Perintah dan Kewajiban
Berkata Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab - رَحِمَهُ اللَّـهُ تَعَالَى - :

Dan firman-Nya:

(وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ ) [سورة اﻹسراء 23]

"Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. " [Qs. Al-Isra: 23] Al-Ayat [¹].

▫️ kata قضى (menetapkan): memerintahkan dan berwasiat, dan yang dimaksud dengan ketetapan disini adalah ketetapan syariat agama, bukan ketetapan takdir alam.
▫️ kata ربك (Rabb-mu): Rabb adalah yang menguasai lagi mengatur, yang mengatur seluruh alam semesta dengan kenikmatan-Nya.
▫️ kata ألا تعبدوا إلا إياه (tidak beribadah kecuali kepada-Nya): yaitu agar kalian beribadah kepada-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya.
▫️ kata وبالوالدين إحساناً (dan berbuat baik kepada ibu bapak): yaitu dan Dia telah memerintahkan agar kalian berbuat baik kepada ibu bapak, sebagaimana Dia telah memerintahkan agar kalian beribadah kepada-Nya, dan tidak beribadah selain-Nya.

▪️ Makna global bagi ayat:
Pengkhabaran bahwa Allah - سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ - telah memerintahkan dan berwasiat melalui lisan-lisan para rasul-Nya agar diibadahi semata tidak kepada selain-Nya, dan agar anak berbuat baik kepada ibu bapaknya dengan ucapan maupun perbuatan, dan tidak berbuat jelek kepada keduanya; karena keduanya ini telah menegakkan pembinaan kepadanya di masa kecilnya dan lemahnya, hingga menjadi kuat dan dewasa.

▪️ Kesesuaian ayat bagi bab: bahwa tauhid adalah hak-hak yang paling ditekankan dan kewajiban yang paling wajib; karena Allah telah memulai dengannya dalam ayat tersebut, dan tidaklah Dia memulai kecuali dengan yang paling penting kemudian yang penting.

▪️ Faedah yang dapat diambil dari ayat:
(1). Bahwa tauhid adalah yang pertama dari apa yang diperintahkan Allah dengannya dari kewajiban-kewajiban, dan itu adalah awal hak-hak yang wajib atas seorang hamba.
(2). Apa yang ada di dalam kalimat (لا إله إلا الله) dari peniadaan dan penetapan, maka padanya ada dalil atas bahwasanya tauhid tidak akan tegak kecuali di atas prinsip peniadaan dan penetapan: (meniadakan peribadatan dari selain Allah dan menetapkan peribadatan hanya bagi Allah), sebagaimana telah lalu.
(3). Besarnya hak ibu bapak dimana Allah sambungkan hak keduanya pada hak-Nya, dan datang pada tingkatan kedua.
(4). Wajibnya berlaku baik kepada ibu bapak dengan segala bentuk perbuatan baik, karena Allah tidak mengkhususkan satu bentuk tanpa lainnya.
(5). Haramnya durhaka kepada ibu bapak.

----------
[*]. Judul dari penerjemah, pent.
[¹]. Maka disebutkan dari Abu Bakrah - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - berkata: bersabda nabi ﷺ:
" Maukah aku beritahukan kepada kalian akan dosa besar paling besar? " disebut tiga kali. Mereka menjawab: tentu wahai rasulullah, beliau bersabda:
" Menyekutukan Allah dan durhaka kepada ibu bapak " dan beliau pun duduk sebelumnya beliau bertelekan, kemudian bersabda:
" ketahuilah dan juga ucapan dusta (sumpah palsu) " perawi berkata: maka beliau terus mengulang-ulang ucapannya hingga kami mengatakan: semoga beliau diam. [HR. Bukhari no. (2654) dan Muslim no. (87)].

Al-Mulakkhash Fi Syarh Kitab At-Tauhid, karya As-Syaikh Al-Fawzan (hal. 13 - 14).
------------
 قال الشيخ العلامة صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله تعالى :

ﻭﻗﻮﻟﻪ: {ﻭَﻗَﻀَﻰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺃَﻻَّ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭاْ ﺇِﻻَّ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻭَﺑِﺎﻟْﻮَاﻟِﺪَﻳْﻦِ ﺇِﺣْﺴَﺎﻧًﺎ} [ اﻹﺳﺮاء: 23] اﻵﻳﺔ (1) .

▫️ ﻗﻀﻰ: ﺃﻣﺮ ﻭﻭﺻّﻰ, ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺎﻟﻘﻀﺎء ﻫﻨﺎ اﻟﻘﻀﺎء اﻟﺸﺮﻋﻲّ اﻟﺪﻳﻨﻲّ، ﻻ اﻟﻘﻀﺎء اﻟﻘﺪﺭﻱّ اﻟﻜﻮﻧﻲّ.
▫️ ﺭﺑﻚ: اﻟﺮﺏ ﻫﻮ اﻟﻤﺎﻟﻚ اﻟﻤﺘﺼﺮﻑ، اﻟﺬﻱ ﺭﺑﻰ ﺟﻤﻴﻊ اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﺑﻨﻌﻤﺘﻪ.
▫️ ﺃﻻ ﺗﻌﺒﺪﻭا ﺇﻻ ﺇﻳﺎﻩ: ﺃﻱ ﺃﻥ ﺗﻌﺒﺪﻭﻩ ﻭﻻ ﺗﻌﺒﺪﻭا ﻏﻴﺮﻩ.
▫️ ﻭﺑﺎﻟﻮاﻟﺪﻳﻦ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎً: ﺃﻱ ﻭﻗﻀﻰ ﺃﻥ ﺗﺤﺴﻨﻮا ﺑﺎﻟﻮاﻟﺪﻳﻦ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎً، ﻛﻤﺎ ﻗﻀﻰ ﺃﻥ ﺗﻌﺒﺪﻭﻩ، ﻭﻻ ﺗﻌﺒﺪﻭا ﻏﻴﺮﻩ.

▪️ اﻟﻤﻌﻨﻰ اﻹﺟﻤﺎﻟﻲ ﻟﻵﻳﺔ: اﻹﺧﺒﺎﺭ ﺃﻥ اﻟﻠﻪ -ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ- ﺃﻣﺮ ﻭﻭﺻّﻰ ﻋﻠﻰ ﺃﻟﺴُﻦ ﺭﺳﻠﻪ ﺃﻥ ﻳُﻌﺒﺪ ﻭﺣﺪﻩ ﺩﻭﻥ ﻣﺎ ﺳﻮاﻩ، ﻭﺃﻥ ﻳﺤﺴﻦ اﻟﻮﻟﺪ ﺇﻟﻰ ﻭاﻟﺪﻳﻪ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎً ﺑﺎﻟﻘﻮﻝ ﻭاﻟﻔﻌﻞ، ﻭﻻ ﻳﺴﻲء ﺇﻟﻴﻬﻤﺎ؛ ﻷﻧﻬﻤﺎ اﻟﻠﺬاﻥ ﻗﺎﻣﺎ ﺑﺘﺮﺑﻴﺘﻪ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺻِﻐﺮﻩ ﻭﺿﻌﻔﻪ، ﺣﺘﻰ ﻗﻮِﻱ ﻭاﺷﺘﺪ.

▪️ ﻣﻨﺎﺳﺒﺔ اﻵﻳﺔ ﻟﻠﺒﺎﺏ:

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Wednesday, August 22, 2018

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah - Bag.4

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah
Lanjutan dari Bagian-3...

Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi

Urgensi Tauhid 
   
Tauhid adalah sesuatu yang sudah akrab di telinga kita. Namun tidak ada salahnya kita mengingat beberapa keutamaannya. Karena dengan begitu bisa menambah keyakinan kita atau meluruskan tujuan sepak terjang kita yang selama ini mungkin keliru. Karena melalaikan masalah tauhid akan berujung pada kehancuran dunia dan akhirat

Tujuan Diciptakannya Makhluk Adalah untuk Bertauhid 

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ 

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yaitu tujuan mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Adzhim, Tafsir surat Adz-Dzariyaat). Makna menyembah-Ku dalam ayat ini adalah mentauhidkan Aku, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama salaf.

Tujuan Diutusnya Para Rasul Adalah untuk Mendakwahkan Tauhid 

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ 

Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Thoghut adalah sesembahan selain Allah. Syaikh As-Sa’di berkata, “Allah Ta’ala memberitakan bahwa hujjah-Nya telah tegak kepada semua umat, dan tidak ada satu umatpun yang dahulu maupun yang belakangan, kecuali Allah telah mengutus dalam umat tersebut seorang Rasul. Dan seluruh Rasul itu sepakat dalam menyerukan dakwah dan agama yang satu yaitu beribadah kepada Allah saja yang tidak boleh ada satupun sekutu bagi-Nya.” (Taisir Karimirrahman, Tafsir surat An-Nahl). Beribadah kepada Allah dan mengingkari thoghut itulah hakekat makna tauhid.

Tauhid Adalah Kewajiban Pertama dan Terakhir 

Rasul memerintahkan para utusan dakwahnya agar menyampaikan tauhid terlebih dulu sebelum yang lainnya. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhori dan Muslim). Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illAllah niscaya masuk surga.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Tauhid Adalah Kewajiban yang Paling Wajib 

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi orang-orang yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisaa’: 116)

Sehingga syirik menjadi larangan yang terbesar. Sebagaimana syirik adalah larangan terbesar maka lawannya yaitu tauhid menjadi kewajiban yang terbesar pula. Allah menyebutkan kewajiban ini sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh hamba. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا 

Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.” (QS. An-Nisaa’: 36).

Kewajiban ini lebih wajib daripada semua kewajiban, bahkan lebih wajib daripada berbakti kepada orang tua. Sehingga seandainya orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati. Allah berfirman,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا 

Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman: 15)

Hati yang Saliim Adalah Hati yang Bertauhid 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ (٨٨)إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ 

Hari dimana harta dan keturunan tidak bermanfaat lagi, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang saliim (selamat).” (QS. Asy Syu’araa’: 88-89)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yaitu hati yang selamat dari dosa dan kesyirikan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Adzhim, Tafsir surat Asy Syu’araa’). Maka orang yang ingin hatinya bening hendaklah ia memahami tauhid dengan benar.

Tauhid Adalah Hak Allah yang Harus Ditunaikan Hamba 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang harus ditunaikan hamba yaitu mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun...” (HR. Bukhori dan Muslim)

Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya artinya mentauhidkan Allah dalam beribadah. Tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam beribadah, sehingga wajib membersihkan diri dari syirik dalam ibadah. Orang yang tidak membersihkan diri dari syirik maka belumlah dia dikatakan sebagai orang yang beribadah kepada Allah saja (diringkas dari Fathul Majid).

Ibadah adalah hak Allah semata, maka barangsiapa menyerahkan ibadah kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Maka orang yang ingin menegakkan keadilan dengan menunaikan hak kepada pemiliknya sudah semestinya menjadikan tauhid sebagai ruh perjuangan mereka.

Tauhid Adalah Sebab Kemenangan di Dunia dan di Akhirat 

Para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor radhiyallahu ta’ala ‘anhum adalah bukti sejarah atas hal ini. Keteguhan para sahabat dalam mewujudkan tauhid sebagai ruh kehidupan mereka adalah contoh sebuah generasi yang telah mendapatkan jaminan surga dari Allah serta telah meraih kemenangan dalam berbagai medan pertempuran, sehingga banyak negeri takluk dan ingin hidup di bawah naungan Islam. Inilah generasi teladan yang dianugerahi kemenangan oleh Allah di dunia dan di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 

Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridho kepada mereka dan merekapun telah ridho kepada Allah.;Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Namun sangat disayangkan, kenyataan umat Islam di zaman ini yang diliputi kebodohan bahkan dalam masalah tauhid!;Maka pantaslah kalau kekalahan demi kekalahan menimpa pasukan Islam di masa ini. Ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam akidah mereka.

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah - Bag.3

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah
Lanjutan dari Bagian-2...

Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi

Laa Ilaaha Illallah - Makna, Rukun dan Konsekuensinya

Sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk memahami apa makna (pengertian) kalimat Laa ilaaha illallah yang benar itu, juga paham rukun-rukunnya dan konsekuensi (tanggung jawab moral) bagi orang yang mengucapkan atau mengikrarkan kalimat tersebut. In syaa Allah, uraian ringkas ini memberikan jawaban atas tiga masalah tersebut di atas.

Saudaraku kaum muslimin, bila anda ditanya apa makna kalimat Laa ilaaha illallah itu, maka jawablah dengan tegas “Tidak ada yang berhak di sembah kecuali Allah” atau “ Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah

Jadi, segala sesuatu yang di jadikan sesembahan oleh manusia, baik itu berupa berhala-berhala atau patung-patung, pepohonan, batu-batuan atau kuburan-kuburan yang di keramatkan, jin-jin dan setan, atau orang-orang sholih yang telah mati baik berupa para Nabi atau para Wali, maka itu semua adalah sesembahan yang bhatil (salah).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam firman Nya : “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah Dia-lah (sesembahan) yang Haq, dan sesungguhnya apa yang mereka sembah selain Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. “ (QS. Al-Hajj : 62 dan Luqman : 30).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman : “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada yang berhak di sembah kecuali Allah. “ (QS.Muhammad : 19)

Syaikh Sholih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafidhahullah menjelaskan bahwa makna kalimat tersebut secara global adalah “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) selain Allah !” Hal ini karena khobar “Laa” dalam kalimat Laa ilaaha illallah harus di takdirkan dengan “Bi haqqin” (Yang haq), tidak boleh hanya di takdirkan dengan “Maujuudun” (Ada). Karena kalau hanya ditafsirkan dengan “Tidak ada sesembahan lain selain Allah”, hal ini menyalahi kenyataan yang ada, karena kenyataannya justru tuhan-tuhan selain Allah yang di sembah oleh manusia itu banyak sekali. Hal itu juga akan mengandung arti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah beribadah juga untuk Allah, hal ini tentu merupakan kbathilan yang nyata!.

Kemudian, kalimat Laa ilaaha illallah itu ternyata telah di tafsirkan dengan beberapa penafsiran yang bathil di antaranya :

Pertama : Laa ilaaha illallah diartikan dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Ini adalah penafsiran yang bathil, karena hal itu mengandung pengertian : Sesungguhnya setiap yang disembah atau diibadahi, baik yang haq atau yang bathil, hal itu adalah Allah. Tentu hal ini tidak bisa di terima !

Kedua : Laa ilaaha illallah diartikan dengan “Tidak ada pencipta selain Allah”. Sesungguhnya ini adalah sebagian saja dari arti kalimat laa ilaaha illallah tersebut. Akan tetapi bukan ini yang di maksud, karena arti ini hanya mengakui Tauhid Rububiyyah saja, dan hal ini belum cukup.

Ketiga : Laa ilaaha illallah diartikan dengan “Tidak ada Hakim (Penentu Hukum) selain Allah”. Ini juga sebagian saja dari makna kalimat Laa ilaaha illallah, tetapi bukan itu yang di maksud, karena makna tersebut belum cukup.

Jadi semua tafsiran tersebut diatas adalah bathil atau kurang sempurna. Sedang tafsir ( penjelasan makna ) yang benar menurut para ulama salaf dan para Muhaqqiq (Ulama peneliti) adalah “Laa Ma’budu bii haqqin illallah” (Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah atau Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah) Wallahu a’lamu bish showwab.

Kemudian, jika ditanya juga tentang apa Rukun Laa ilaaha illallah itu ? Maka jawablah dengan tegas : Laa ilaaha illalloh itu mempunyai dua rukun, yaitu :

Pertama : An-Nafyu (peniadaan / meniadaan), yaitu meniadakan atau meninggalkan seluruh bentuk sesembahan yang di agungkan dan di puja oleh umat manusia selain Allah. Hal ini tercermin dalam lafadz “Laa ilaaha” (Tidak ada sesembahan yang benar),

Kedua : Al-Istbaat (Menetapkan), yaitu menetapkan dengan penuh keyakinan bahwa satu-satunya yang berhak di ibadahi atau di sembah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini tercermin dalam lafadz “illallah” (kecuali Allah).

Dua rukun tersebut diatas, banyak disebut-sebut dalam Al-Qur’an, misalnya firman Allah Ta’ala : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat. Karena itu barang siapa ingkar kepada thoghut (yakni setan atau apa saja yang di sembah selain Allah, ed) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh) yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. “(QS. Al-Baqoroh : 256)

Dalam ayat tersebut diatas, firman Allah yang berbunyi “Barang siapa ingkar kepada thoghut” ini adalah makna dari “Laa ilaaha”, sebagai rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah “Dan beriman kepada Allah”, ini adalah makna dari “illalloh”, sebagai rukun yang kedua.

Contoh lainnya adalah seperti dalam ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang diabadikan dalam firman Allah : “...sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kalian sembah, tetapi (aku hanya menyembah) kepada Tuhan yang menjadikanku, karena sesungguhnya Dia yang memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az-Zuhruf : 26-27).

Dalam ayat tersebut, firman Allah yang berbunyi “Sesungguhnya aku berlepas diri”, ini adalah makna An-Nafyu (peniadaan), sebagai rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah “Tetapi (aku hanyalah menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, ini adalah makna Al-Istbaat (penetapan), sebagai rukun yang kedua ! Wallahu a’lam.

Kemudian, apa konsekuensi (tanggung jawab moral) bagi orang yang mengucapkan kalimat tersebut ? Jawabannya pasti, yaitu wajib baginya untuk meninggalkan semua bentuk peribadatan kepada selain Allah, dan hanya beribadah secara murni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan : “Dengan demikian jelaslah, bahwa mengucapkan Laa ilaaha illallah itu haruslah yakin dengan kewajiban ibadah yang hanya di tujukan kepada Allah Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mengikrarkannya baik secara lisan maupun keyakinan. Disamping keharusan ibadah kepada Allah saja, tunduk dan taat kepada-Nya juga harus baro’ ( berlepas diri ) kepada selain-Nya dalam hal ibadah, ketaatan dan ketundukan...”

Walhasil, orang yang telah mengikrarkan kalimat Laa ilaaha illallah, dia adalah orang yang mantap ibadanya kepada Allah, tidak punya keinginan sedikitpun untuk beribadah kepada selain-Nya. Dan orang seperti ini, akan di jamin masuk surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, lalu mengingkari apa saja yang di sembah selain Allah, maka dia akan masuk surga. “ (HR. Muslim, Ahmad dan Thabrani).

Saudaraku muslimin, semoga kita semua di jadikan-Nya termasuk orang-orang yang di sabdakan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadist tersbut diatas.

Wallahu waliyyut taufiq.

Maraji’ :
1. Makna Laa ilaaha illallah, karya syaikh Dr. Sholih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
2. At-tauhid, lish Shoffil Awwal Al-‘Aliyya, karya syaikh Dr. Sholih Fauzan
3. Al-Qoulus Sadid fii Adillatit Tauhid, karya syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
4. Al-Qaulul Mufid fii Adillatit Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdil Ali Al-Washobi.


Bersambung ke Bagian-4...

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah - Bag.2

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah
Lanjutan dari Bagian-1...

Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi

Hakekat dan Kedudukan Tauhid 

Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Namun, sangat disayangkan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang ini tidak mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Padahal tauhid inilah yang merupakan dasar agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu sangatlah urgen bagi kita kaum muslimin untuk mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Hakekat tauhid adalah mengesakan Allah. Bentuk pengesaan ini terbagi menjadi tiga, berikut penjelasannya.

1. Mengesakan Allah dalam Rububiyah-Nya 

Maksudnya adalah kita meyakini keesaan Allah dalam perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, seperti mencipta dan mengatur seluruh alam semesta beserta isinya, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat dan lainnya yang merupakan kekhususan bagi Allah. Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).“ (Ath-Thur: 35-36)

Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al-Mu’minun: 86-89). Dan yang amat sangat menyedihkan adalah kebanyakan kaum muslimin di zaman sekarang menganggap bahwa seseorang sudah dikatakan beragama Islam jika telah memiliki keyakinan seperti ini. WAllahul musta’an.

2. Mengesakan Allah Dalam Uluhiyah-Nya 

Maksudnya adalah kita mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah mengenai perkataan mereka itu “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad: 5). Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Allah semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Allah dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

3. Mengesakan Allah Dalam Nama dan Sifat-Nya 

Maksudnya adalah kita beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Dan kita juga meyakini bahwa hanya Allah-lah yang pantas untuk memiliki nama-nama terindah yang disebutkan di Al-Qur’an dan Hadits tersebut (yang dikenal dengan Asmaul Husna). Sebagaimana firman-Nya “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna.” (Al-Hasyr: 24)

Seseorang baru dapat dikatakan seorang muslim yang tulen jika telah mengesakan Allah dan tidak berbuat syirik dalam ketiga hal tersebut di atas. Barangsiapa yang menyekutukan Allah (berbuat syirik) dalam salah satu saja dari ketiga hal tersebut, maka dia bukan muslim tulen tetapi dia adalah seorang musyrik.

Kedudukan Tauhid 

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama ini. Pada kesempatan kali ini kami akan membawakan tentang kedudukan Tauhid Uluhiyah (ibadah), karena hal inilah yang banyak sekali dilanggar oleh mereka-mereka yang mengaku diri mereka sebagai seorang muslim namun pada kenyataannya mereka menujukan sebagian bentuk ibadah mereka kepada selain Allah, baik itu kepada wali, orang shaleh, nabi, malaikat, jin dan sebagainya.

Tauhid Adalah Tujuan Penciptaan Manusia 

Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56) maksud dari kata menyembah di ayat ini adalah mentauhidkan Allah dalam segala macam bentuk ibadah sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas rodhiyAllahu ‘anhu, seorang sahabat dan ahli tafsir. Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah saja. Tidaklah mereka diciptakan untuk menghabiskan waktu kalian untuk bermain-main dan bersenang-senang belaka. Sebagaimana firman Allah “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian.” (Al Anbiya: 16-17). “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun: 115)

Tauhid Adalah Tujuan Diutusnya Para Rosul 

Allah berfirman, “Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36). Makna dari ayat ini adalah bahwa para Rosul mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi terakhir Nabi kita Muhammad shollAllahu alaihi wa sallam diutus oleh Allah untuk mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak memepersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Maka pertanyaan bagi kita sekarang adalah “Sudahkah kita memenuhi seruan Rosul kita Muhammad shollAllahu alaihi wa sallam untuk beribadah hanya kepada Allah semata? ataukah kita bersikap acuh tak acuh terhadap seruan Rosululloh ini?” Tanyakanlah hal ini pada masing-masing kita dan jujurlah…

Tauhid Merupakan Perintah Allah yang Paling Utama dan Pertama 

Allah berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa: 36). Dalam ayat ini Allah menyebutkan hal-hal yang Dia perintahkan. Dan hal pertama yang Dia perintahkan adalah untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Perintah ini didahulukan daripada berbuat baik kepada orang tua serta manusia-manusia pada umumnya. Maka sangatlah aneh jika seseorang bersikap sangat baik terhadap sesama manusia, namun dia banyak menyepelekan hak-hak Tuhannya terutama hak beribadah hanya kepada Allah semata.

Itulah hakekat dan kedudukan tauhid di agama kita, dan setelah kita mengetahui besarnya hal ini akankah kita tetap bersikap acuh tak acuh untuk mempelajarinya?


Bersambung ke Bagian-3...

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah - Bag.1

Penjelasan Tentang Makna Tauhid Dan Syahadat La Ilaha Illallah
Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi

Firman Allah Subhanahu wata' ala :

اُولٰۤئِكَ  الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ  رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗ ۗ  اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا 

"ulaaa`ikallaziina yad'uuna yabtaghuuna ilaa robbihimul-wasiilata ayyuhum aqrobu wa yarjuuna rohmatahuu wa yakhoofuuna 'azaabah, inna 'azaaba robbika kaana mahzuuroo"

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 57)

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖۤ اِنَّنِيْ  بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُوْنَ 
اِلَّا الَّذِيْ فَطَرَنِيْ فَاِنَّهٗ سَيَهْدِيْنِ 

"wa iz qoola ibroohiimu li`abiihi wa qoumihiii innanii barooo`um mimmaa ta'buduun
illallazii fathoronii fa innahuu sayahdiin"

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah," "kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku; karena sungguh, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 26-27)

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ  ۚ  وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّاحِدًا  ۚ  لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ  ۗ  سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ 

"ittakhozuuu ahbaarohum wa ruhbaanahum arbaabam min duunillaahi wal-masiihabna maryam, wa maaa umiruuu illaa liya'buduuu ilaahaw waahidaa, laaa ilaaha illaa huw, sub-haanahuu 'ammaa yusyrikuun"

"Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. At-Taubah 9: Ayat 31)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ  وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۗ  وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ ۙ   اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ  وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ 

"wa minan-naasi may yattakhizu min duunillaahi andaaday yuhibbuunahum kahubbillaah, wallaziina aamanuuu asyaddu hubbal lillaahi walau yarollaziina zholamuuu iz yarounal-'azaaba annal-quwwata lillaahi jamii'aw wa annalloha syadiidul-'azaab"

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 165)

Diriwayatkan dalam Shoheh Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu' alaihi wasallam bersabda :

"من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله" 

"Barang siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله, dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya adalah terserah kepada Allah". 

Keterangan tentang bab ini akan dipaparkan pada bab-bab berikutnya.

Adapun kandungan bab ini menyangkut masalah yang paling besar dan paling mendasar, yaitu pembahasan tentang makna tauhid dan syahadat.

Masalah tersebut telah diterangkan oleh bab ini dengan beberapa hal yang cukup jelas, antara lain :
  1. Ayat dalam surat Al Isra. Diterangkan dalam ayat ini sanggahan terhadap orang-orang musyrik, yangmemohon kepada orang-orang yang sholeh, oleh karena itu, ayat ini mengandung suatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik besar([1]). 
  2. Ayat dalam surat At Taubah. Diterangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang ahli kitab telah menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan dijelaskan pula bahwa mereka hanya diperintahkan untuk menyembah kepada satu sesembahan, dan menurut penafsiran yang sebenarnya mereka itu hanya diperintahkan untuk taat kepadanya dalam hal-hal yang tidak bermaksiat kepada Allah, dan tidak berdoa kepadanya. 
  3. Kata-kata Nabi Ibrahim kepada orang-orang kafir : "Sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (saya hanya menyembah) Dzat yang menciptakanku". 
Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sesembahan.

Pembebasan (dari segala sembahan yang batil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang haq, yaitu : Allah) adalah makna yang sebenarnya dari syahadat La Ilaha Illallah. 

Allah Subhanahu wata' ala berfirman :

وَ جَعَلَهَا كَلِمَةًۢ بَاقِيَةً فِيْ عَقِبِهٖ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

"wa ja'alahaa kalimatam baaqiyatan fii 'aqibihii la'allahum yarji'uun"

"Dan (Ibrahim) menjadikan (kalimat tauhid) itu kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu) (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 28)

Ayat dalam surat Al Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firmanNya :

]وما هم بخارجين من النار[ 

"Dan mereka tidak akan bisa keluar dari neraka"

Disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa mereka menyembah tandingan tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, meskipun demikian kecintaan mereka ini belum bisa memasukkan mereka kedalam agama Islam ([2]).

Lalu bagaimana dengan mereka yang cintanya kepada sesembahan selain Allah itu lebih besar dari cintanya kepada Allah ?

Lalu bagaimana lagi orang-orang yang cuma hanya mencintai sesembahan selain Allah, dan tidak mencintai Allah?

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :

"من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله " 

"Barang siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله, dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haram darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya kembali kepada Allah."

Ini adalah termasuk hal yang penting sekali yang menjelaskan pengertianلا إله إلا الله . Sebab apa yang dijadikan Rasulullah sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat itu dengan lisan atau memahami arti dan lafadznya, atau mengetahui akan kebenarannya, bahkan bukan pula karena tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya, akan tetapi  harus disertai dengan tidak adanya penyembahan kecuai hanya kepadaNya.

Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.

Betapa besar dan pentingnya penjelasan makna لا إله إلا الله yang termuat dalam hadits ini, dan betapa jelasnya keterangan yang dikemukakannya, dan kuatnya argumentasi yang diajukan bagi  orang-orang yang menentangnya.


([1])  Dapat diambil kesimpulan dari ayat dalam surat Al Isra tersebut bahwa makna tauhid dan syahadat La Ilaha Illallah yaitu : meninggalkan apa yang dilakukan oleh orang orang musyrik, seperti menyeru (memohon) kepada orang orang sholeh dan meminta syafaat mereka.

([2])  Dari ayat dalam surat Al Baqarah tersebut diambil kesimpulan bahwa penjelasan makna tauhid dan syahadat La Ilaha Illallah yaitu : pemurnian kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepadaNya


Bersambung ke Bagian-2...

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Thursday, August 16, 2018

Kejayaan Islam Dengan BerTauhid dan Meninggalkan Syirik

Kejayaan Islam Dengan BerTauhid dan Meninggalkan Syirik
Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia akan benar-benar menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” (QS. An-Nuur [24]: 55).*

Islam akan berjaya dan berkuasa di bumi jika para pengikutnya "tetap menyembah Allah dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun".

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive