Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label bid’ah. Show all posts
Showing posts with label bid’ah. Show all posts

Saturday, December 30, 2023

Lari Dari Maksiat, Jatuh Ke Kubangan Bid'ah

Lari Dari Maksiat, Jatuh Ke Kubangan Bid'ah
Bismillah...

Sebagian orang sudah banyak rencana di akhir tahun ini untuk menghindari maksiat hingar bingarnya tahun baru dengan ritual dzikir bersama, istighotsah, shalat lail berjamaah atau beragam ibadah lainnya.

Sepintas kegiatan ini kelihatannya baik, namun ragam ibadah yang dilakukan di malam tahun baru tersebut tidak dilandasi dalil dan contoh dari Rasulullah dan para sahabatnya. Akhirnya lari dari maksiat, jatuh kepada amalan bid'ah yang sesat.

Dimana perbuatan bid'ah dalam perkara agama lebih disukai iblis dari pada pelaku maksiat. Karena pelaku maksiat, seperti pezina, peminum khamar, penjudi dan yang lainnya, mereka tahu bahwa perbuatannya itu tidak baik, sehingga mereka lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid'ah merasa bahwa amalannya itu benar, sehingga mereka susah menerima kebenaran dan susah bertaubat, kecuali yang Allah Ta'ala berikan hidayah.

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

إن أهل البدع شر من أهل المعاصي الشهوانية بالسنة والإجماع. 

Sesungguhnya AHLUL BID'AH lebih jelek daripada AHLU MAKSIAT SYAHWANIYYAH berdasarkan sunnah dan ijma'. (Majmu’ Fatawa 30/130). 

Berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullah :

إن البدعة أحب إلى إبليس من المعصية؛ لأن البدعة لا يُتاب منها والمعصية يُتاب منها 

Sesungguhnya BID'AH ITU lebih dicintai IBLIS daripada maksiat. Karena sesungguhnya BID'AH ITU pelakunya (sulit bertaubat) dari (kebid'ahan) nya, sementara maksiat pelakunya akan (mudah) bertaubat dari (maksiat) nya. (Al Hilyah 26/7).

Dan berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullah :

والبدعة أحب إلى إبليس من المعصية لأن العاصي يعلم أنه عاصٍ فيتوب، والمبتدع يحسب أن الذي يفعله طاعة؛ فلا يتوب”.

Dan BID'AH ITU lebih dicintai IBLIS daripada maksiat. Karena sesungguhnya PELAKU MAKSIAT, dia tahu bahwasanya dia bermaksiat, maka dia akan (mudah) bertaubat. Sementara PELAKU BID'AH, dia beranggapan, bahwasanya yang dia kerjakan adalah keta’atan, sehingga dia tidak (mudah) bertaubat. (Majmu Fatawa 11/633). 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0ijhjn8d571wqqBTi1oyNnpDfWiSxxFWgSBkhaX8cnAhjGXHGd2sxeDtwBNTuBur5l&id=100063495759389


AFM


https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2018/12/lari-dari-maksiat-jatuh-ke-kubangan.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, October 27, 2023

Timbangan Kebenaran Bukan Dengan Perasaan

Timbangan Kebenaran Bukan Dengan Perasaan
Bismillah...

Kadang sebagian orang, menimbang kebenaran suatu amalan dalam agama dengan perasaannya. Kalau perasaannya enak, tenang, nyaman, tentram dan sesuai hawa nafsunya serta masuk akalnya, mereka amalkan. Kalau tidak, mereka tinggalkan.

Berkata Syeikh Al-Albani rahimahullah :

الدين ليس بالعقل ولا بالعاطفة إنما بإتباع أحكام الله في كتابه وأحكام رسوله في سنته وفي حديثة سلسلة الهدي والنور٥٣٠

Agama itu bukan dengan akal dan bukan dengan perasaan, akan tetapi dengan mengikuti hukum-hukum Allah di dalam kitab-Nya, dan hukum-hukum rasul-Nya di dalam sunnahnya, dan di dalam haditsnya. (Kaset: Silsilah Al-Huda wa An-Nur 530).

Untuk itu, agama kita melarang seseorang membuat suatu keyakinan atau ibadah menurut akal dan perasaannya. Namun wajib untuk mengikuti petunjuk Nabi shollallahu 'alaihi wasallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

ليس لأحد أن يضع للناس عقيدة ولا عبادة من عنده ، بل عليه أن يتبع ولا يبتدع ، ويقتدي ولا يبتدي

"Tidaklah seorangpun diizinkan membuat aqidah maupun ibadah yang bersumber dari pikiran dan perasaannya pribadi. Bahkan (wajib) atasnya untuk  ittiba (mengikuti petunjuk Nabi shollallahu 'alaihi wasallam) bukan ibtida' (membuat perkara baru/mengada-ada), (wajib) meneladani (jalan beliau) dan bukan memulai (membuat perkara baru)" (Majmu' Fatawa 11/490).

Maka dari itu, seandainya kebenaran suatu amalan dalam agama ini ditimbang dengan perasaan, maka semua ahlul bid'ah berada diatas kebenaran. 

Berkata Syeikh Utsaimin rahimahullah :

لو كان الدين بالعاطفة لكان جميع أهل البدع على حق ! » |[ اللقاء الشهري ( ٣٣ ) ]|

Seandainya agama itu dengan PERASAAN, sungguh semua AHLUL BID'AH berada di atas KEBENARAN. (Al Liqausy Syahrii 33).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02rzSir82coKPsBtn9sLDY6a8YHA1Aw74RWJuuzGwBjZF3eJUwP9PzpryY6c2tyE4Wl&id=100009878282155


AFM


https://m.facebook.com/kangfadhelmajalengka/photos/a.904451986557975/977220279281145/?type=3

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, October 21, 2023

Sibuk Memperingatkan Kaum Muslimin

Bismillah...

Sebagian orang mengatakan, "Musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, Sekuler, Atheis dan semisalnya gencar memusuhi dan memerangi kaum muslimin, sedangkan kenapa kalian masih sibuk memperingatkan sebagian kaum muslimin dari kesyirikan dan kebid'ahan?"

Membersihkan umat islam dari amalan syirik dan bid'ah merupakan dasar kekuatan untuk melawan musuh-musuh islam. Bagaimana mungkin bisa menang melawan orang kafir kalau sebagian besar kaum muslimin masih asik bergelut dengan kesyirikan dan kebid'ahan, oleh karena itu, sudah sepatutnya mereka diperingatkan dari segala macam kesyirikan dan kebid'ahan, agar mereka memurnikan tauhidnya dan mengikuti sunnah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Surah An Nur 55).

Disebutkan dalam tafsir Al-Muyassar :

وعد الله بالنصر الذين آمنوا منكم وعملوا الأعمال الصالحة، بأن يورثهم أرض المشركين، ويجعلهم خلفاء فيها، مثلما فعل مع أسلافهم من المؤمنين بالله ورسله، وأن يجعل دينهم الذي ارتضاه لهم- وهو الإسلام- دينًا عزيزًا مكينًا، وأن يبدل حالهم من الخوف إلى الأمن، إذا عبدوا الله وحده، واستقاموا على طاعته، ولم يشركوا معه شيئًا

Allah menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang beriman dari kalian dan mengerjakan amal-amal shalih, dengan mewariskan kepada mereka tanah kekuasaan kaum musyrikin dan menjadikan mereka penguasa padanya, sebagaimana Allah memperlakukan para pendahulu mereka dari kalangan kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan menjadikan agama mereka yang diridhaiNya bagi mereka (yaitu Islam) sebagai agama mulia lagi kuat dan menggantikan keadaan mereka dari ketakutan menuju keadaan aman, bila mereka beribadah kepada Allah semata dan istiqamah di atas ketaatan kepadaNya, tidak mempersekutukan sesuatu pun bersamaNya. (Tafsir Al-Muyassar).

Syekh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah ditanya :

ﻟﻤــﺎﺫﺍ ﺍﻟﺘﺤﺬﻳــﺮ ﻣــﻦ ﺃﻫــﻞ ﺍﻟﺒــﺪﻉ وﺍﻷﻣــﺔ ﺗﺼــﺎﺭﻉ ﺍﻟﻌــﺪﺍﻭﺓ ﻣــﻊ ﺍﻟﻴﻬــﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼــﺎﺭﻯ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﻧﻴﻴــﻦ؟

Mengapa mentahdzir (memperingatkan) dari ahlul bid’ah, sedangkan ummat berseteru (konflik) permusuhan dengan Yahudi, Nashrani (Kristen), dan orang-orang sekuler?

Beliau menjawab :

ما يمكن للمسلمين أنهم يقاومون اليهود والنصارى إلا إذا قاوموا البدع التي بينهم، يعالجون أمراضهم أولًا حتى ينتصروا على اليهود والنصارى،

Tidak mungkin bagi kaum muslimin bahwasanya mereka bangkit (melawan) Yahudi dan Nashrani kecuali kalau mereka bangkit (melawan) bid’ah yang ada diantara mereka, mengobati penyakit-penyakit mereka terlebih dahulu sehingga mereka bisa mengalahkan Yahudi dan Nashrani.

أمّا ما دام المسلمون مضيِّعين لدينهم ومرتكبين للبدع والمحرمات ومقصِّرين في امتثال شرع الله فلن ينتصروا على اليهود ولا على النصارى، وإنما سُلِّطوا عليهم بسبب تقصيرهم في دينهم،

Adapun selama kaum muslimin menyia-nyiakan agama mereka, melakukan perbuatan bid’ah dan yang haram dan melalaikan dalam mematuhi syariat Allah, maka mereka tidak akan menang melawan Yahudi dan Nashrani, dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) akan menguasai atas mereka (kaum muslimin) disebabkan kelalaian mereka terhadap agama mereka.

فيجب تطهير المجتمع من البدع وتطهيره من المنكرات ويجب امتثال أوامر الله وأوامر الرسول صلى الله عليه وسلم قبل أن نحارب اليهود والنصارى، وإلا إذا حاربنا اليهود والنصارى ونحن على هذه الحالة فلن ننتصر عليهم أبدًا وسينتصرون علينا.

ﺍﻟﻤﺼﺪﺭ : ﺍﻹﺟﺎﺑــﺎﺕ ﺍﻟﻤﻬﻤــﺔ ﻓــﻲ ﺍﻟﻤﺸﺎﻛــﻞ ﺍﻟﻤﻠﻤّــﺔ

Maka wajib membersihkan masyarakat dari bid’ah dan membersihkan dari kemungkaran-kemungkaran, dan wajib menegakkan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum kita memerangi Yahudi dan Nashara, kalau tidak, apabila kita memerangi Yahudi dan Nasharani sementara keadaan kita seperti ini, maka kita tidak akan menang melawan mereka selama-lamanya, bahkan mereka akan menang atas kita, disebabkan dosa-dosa kita. (Al Ijabaat Al Muhimmah fiil Masyakil Al Mulimmah, Jilid 1, halaman 150 – 151). 

Sumber : https://ar.alnahj.net/audio/695 

Maka untuk itu janganlah marah dan kebakaran kumis kalau ada seseorang yang memperingatkan kaum muslimin dari bahaya kesyirikan dan bid'ah.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02u8ioZeAEj88UG14Qovb1c7HVa9gqtYiFVMLFC6P8PBjEE7CUAPv7yBRFWSJgzUZ7l&id=100063495759389


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, September 30, 2023

Berita HOAX, Nabi Menyelamatkan Anak Muda Yang Ikut (Amalan Bid'ah) Perayaan Maulidnya

Berita HOAX, Nabi Menyelamatkan Anak Muda Yang Ikut (Amalan Bid'ah) Perayaan Maulidnya
Bismillah...

Soal:

Ustadz benarkah apa yang dishare di FB ini?

Merinding bacanya 

Di manakah engkau Hai MUHAMMAD yang mengaku sebagai Nabi?

Assalaamu'alaikum wr.wb.

KISAH NYATA SEORANG ANAK NASRANI YANG TERTEMBAK SAAT PERINGATAN MAULID NABI

Pada saat itu, di Libanon Selatan, kebiasaan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, mereka rayakan secara turun temurun dan selalu dimeriahkan dengan menembakkan senjata api ke atas untuk menunjukkan kegembiraan.

Ketika itu seorang anak Nasrani dari keluarga Ghatas yang terkenal terlihat asyik menonton meriahnya peringatan Itu.

Tanpa disadari, sebuah peluru nyasar menembus kepalanya.

Anak itu pun jatuh tersungkur bersimbah darah dan seketika itu juga ibunya berteriak histeris.

Maka dengan segera anaknya dilarikan ke RS. GHASAN HAMUD.

Tetapi RSGH angkat tangan karena tidak mampu menangani pendarahan yg begitu hebat.

Lantas anak itu dirujuk ke RS. Amerika yang memiliki banyak dokter ahli dan spesialis.

Tapi begitu melihat kondisi anak itu mereka juga angkat tangan.

Karena panik penuh kecewa, ibu sang anak berteriak dengan kerasnya sambil berseru:

"Di manakah engkau Hai MUHAMMAD yang mengaku sebagai Nabi?

"Lihatlah apa yang dilakukan umatmu kepada anakku karena merayakan hari kelahiranmu"

Pada saat itu dokter kepala yang memimpin perawatan keluar ruangan menemui sang ibu dan memintanya agar melihat anaknya untuk yang terakhir kali.

Ibu nasrani itu dengan lemas dan dipapah masuk ke ruangan, diikuti dengan keluarnya para dokter.

Namun Keajaiban terjadi...

Ketika sang ibu sudah di dalam ruangan, ternyata dia melihat anaknya sedang duduk di tepi tempat tidur sambil berteriak:

"Tutup semua pintu dan jendela nya ibu!! Dia jangan diperbolehkan keluar!!

Antara percaya dan tidak Si ibu mendekati anaknya untuk memastikan kondisi anaknya.

Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal.

Kondisi anaknya begitu sehat dan bugar serta tidak ada bekas luka tembakan sama sekali di kepalanya.

Apalagi bercak darah.

"Anakku apa yang terjadi..?“

"Ibu, dia datang mengelus kepalaku sambil tersenyum.“

“Siapa dia sayang"?

“MUHAMMAD… Muhammad… Ibu.“ jawab anak itu...

Subhanallah.....

Ternyata, teriakan si ibu disambut oleh NABI AGUNG MUHAMMAD SAW.....

Beberapa menit kemudian...

Berkumpullah semua dokter untuk melihat kenyataan di hadapan mereka.

Maka ibu, anak dan semua dokter nasrani yang menyaksikan keajaiban tersebut saat itu juga mengikrarkan syahadat (masuk Islam).

"Kami bersaksi tiada Tuhan yang patut disembah kecuali ALLAH dan Muhammad benar-benar utusan dan Hamba ALLAH"

Ini kejadian nyata yang ditakdirkan oleh ALLAH untuk menunjukkan keagungan junjungan kita Sayyidina Muhammad Shalallaahu 'alaihi wasalam

Tiada yang tidak mungkin bagi ALLAH...!

Shallu 'Alan Nabi…!!!!

Kutipan - ceramah dari Ulama Libanon ...

Jawaban: 

ini BERITA HOAX yang kental kedustaannya.

NABI MUHAMMAD TELAH WAFAT

Nabi Muhammad telah wafat dan tidak akan kembali lagi ke dunia ini. Segala cerita dan berita yang menginformasikan beliau bisa kembali ke dunia adalah hoax bertentangan dengan Alquran, Sunnah dan Ijma Ulama.

Allah berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Qs: Al-Imran 144)

Allah juga berfirman:

{إنك ميت وإنهم ميتون} [الزمر : 30]

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula) (Qs: Az zumar:30)

Maka dua ayat diatas menjelaskan bahwa Nabi itu pasti kan wafat, dan telah sepakat pula sahabat Bahwa Nabi telah wafat di 12 Rabiul Awwal hari Senin pada Tahun 11 H.

Mereka juga sepakat menguburkan beliau dan Abu Bakar menggantikan beliau sebagai Khalifah kaum muslimin.

Kemudian selepas wafatnya Nabi banyak kabilah Arab yang murtad dan enggan membayar zakat, dan kondisi ummat Islam kacau balau bagaikan anak ayam kehilangan induk. Dalam kondisi genting itu Abu Bakar tampil sebagai penyelamat ummat dari kehancuran. 

Sekiranya Nabi masih bisa kembali ke dunia, maka waktu genting itulah seharusnya beliau hadir memberikan bantuan dan masukan tatkala sahabat berdebat untuk memerangi kaum murtaddin. 

Banyak pristiwa dan tragedi berdarah, antara sesama kaum muslimin dimasa para Sahabat, seperti pecahnya perang bersaudara di Shiffin maupun perang Jamal, antara sebagian sahabat disebabkan ijtihad mereka hingga terbunuh Thalhah dan Zubair bin Awwam, namun Nabi tak datang mengunjungi mereka.

Kemudian apakah masuk akal Nabi yang sudah wafat datang lagi menghadiri sebagian acara Maulid yang diyakini sebagian orang? Atau datang menemui sesorang yang sekarat dalam kisah yang di share ini menyembuhkannya dari penyakitnya?

Terus bagaiaman kondisi orang yang mengklaim berjumpa Nabi di zaman ini, apa sebutan untuknya? Apakah layak pula dia disebut sebagai sahabat Nabi ? Tentunya hal ini perkara mustahil karena seluruh sahabat dipastikan telah wafat.?

Kemudian perayaan Maulid Nabi, adakah dirayakan oleh Nabi sebagaimana yang di rayakan sebagian umatnya? Adakah pula di rayakan maulid beliau oleh Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, atau adakah dirayakan oleh Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i dan Ahmad?

Sangat mustahil Nabi hidup kembali membenarkan perayaan maulid yang tidak pernah dia lakukan, karena agama telah sempurna, tidak ada yang bertambah ataupun berkurang.

Perayaan Maulid sendiri baru ada sekitar tahun 322 Hijriyah setelah wafatnya Nabi , diadakan oleh Dinasti Fatimiyyah di era penguasa Al-Muis li dinillah yang berakidah Syiah Bathiniyyah Ubaidiyyah.

Jadi jelaslah hoaxnya kisah kedatangan Nabi pada pemuda yang tertembak kepalanya ini dan Nabi menyembuhkannya, yang tak jelas ini, tak jelas sumbernya, darimana asal-usulnya, siapa yang meriwayatkannya.

Terakhir dalam Islam dilarang meminta kepada Makhluk, apalagi bila ia telah wafat. Karena dalam Islam siapa saja yang telah wafat terputuslah amalnya dan takkan mampu melakukan amalan apapun lagi di dunia, baik amalan yang kembali manfaatnya bagi dirinya maupun untuk orang lain.

Kata Nabi: ”Bila anak Adam wafat terputuslah segala Amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat maupun anak yang sholeh yang mendoakannya”. HR Muslim. 

Bagaimana pula Nabi hidup kembali memberikan manfaat bagi orang yang hidup, datang mengabulkan doanya, padahal doa adalah ibadah yang hanya layak diberikan hanya kepada Allah. 

Kata Nabi pada Ibnu Abbas: ”Bila kau meminta maka mintalah pada Allah, bila kau berharap bantuan maka berharaplah pada Allah”. HR. Tirmizi. 

Maka Nabi suruh ummatnya berdoa meminta pada Allah, bukan pada dirinya. 

Akhirnya, menunjukkan Nabi itu ada tak perlu dengan membuat kisah-kisah dongeng semacam ini, Quran yang dia bawa ada sebagai saksi kebenaran ajarannya, sunnah Nabi juga ada sebagai warisan yang dia tinggalkan, dapat dipelajari dan teliti kebenarannya.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02aArYbDxFT6qTRBBCgC898fLCuthwyKLJe4fR3NTj7Hn8PYWis1kdSjwRHBzwvLHol&id=100001105385773


Batu pahat, 14 Rabiul Awwal 1444/ 30 Sept 2023

Abu Fairuz Ahmad Ridwan My

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Apakah Perayaan Maulid Nabi Sesuatu Yang Baik Yang Bisa Mendekatkan Diri Kepada Allah Dan Surga?

Apakah Perayaan Maulid Nabi Sesuatu Yang Baik Yang Bisa Mendekatkan Diri Kepada Allah Dan Surga?
Bismillah...

Sekiranya acara perayaan maulid itu sesuatu yang baik yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan surga, tentulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan atau menyampaikan kepada para sahabat dan umatnya untuk mengadakan peringatan acara perayaan Maulid Nabi. 

Karena segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah dan kepada surga telah diperintahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan segala sesuatu yang menjauhkan dari Allah dan mendekatkan kepada neraka telah beliau melarangnya. Dan segala sesuatu kebaikan semuanya sudah ditunjukkan dan segala keburukan, semuanya sudah diperingatkan. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

ما تركت شيئاً يقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به، وما تركت شيئاً يبعدكم عن الله إلا وقد نهيتكم عنه .

"Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan telah aku perintahkan kalian dengannya dan tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan kalian dari Allah melainkan sungguh telah aku larang kalian darinya." (Riwayat At-Thabrani - Shahih Lighoirihi). 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

ما تركت من شيء يقربكم إلى الجنة إلا وقد حدثتكم به، ولا تركت من شيء يبعدكم عن النار إلا وقد حدثتكم به

"Tidaklah aku tinggalkan dari sesuatu yang mendekatkan kalian kepada surga melainkan sungguh aku telah menyampaikan kepada kalian dengannya dan tidaklah aku tinggalkan dari sesuatu yang menjauhkan kalian dari surga melainkan sungguh telah aku sampaikan kepada kalian dengannya." (Riwayat Baihaqi. Isnad Shahih). 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

إنَّهُ ليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى الجنةِ إلَّا قد أَمَرْتُكُمْ بهِ ، و ليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى النارِ إِلَّا قد نَهَيْتُكُمْ عنهُ .

"Sesungguhnya tidaklah sesuatu yang mendekatkan kalian kepada surga melainkan sungguh aku telah memerintahkan kepada kalian dengannya dan tidak lah sesuatu yang mendekatkan kalian kepada neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya." (Riwayat Thabrani - Isnad Shahih). 

Berkata Syekh Al Albani rahimahullah, 

قوله عليه الصلاة والسلام (ما تركت شيئاً يُقربكم إلى الله إلا وأمرتكم به) إذا كان المولد خيراً، وكان مما يقربنا إلى الله زلفى فينبغي أن يكون رسول الله ﷺ قد دلّنا عليه. 

Ucapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam (Tidaklah aku tinggalkan sesuatu, yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan aku telah perintahkan kepada kalian dengannya). Apabila (perayaan) maulid itu baik dan ia adalah apa-apa yang mendekatkan kita kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, maka seharusnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan kepada kita atasnya (tentangnya).  (Al Hudaa wa An-Nuur 94).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0iqaBsWGHdyxaGNXLAbYnTTf3tB5ypsnSQ8uyrzq93FufDL8HCM2Xosw3gMKNjMdl&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, September 29, 2023

Jangan Biarkan Bid'ah Tumbuh Berkembang

Jangan Biarkan Bid'ah Tumbuh Berkembang
Bismillah...

AHLUL MAULID dari kalangan orang awamnya dan tokoh-tokohnya gencar sosialisasi dan menyebarkan tentang keutamaan mengadakan perayaan MAULID, baik di media elektronik, media sosial, mimbar-mimbar dan dalam setiap kesempatan. Seharusnya para ustadz dan ikhwah yang sudah mengenal SUNNAH, lebih gencar lagi menjelaskan tentang BID'AHnya perayaan MAULID NABI. 

Karena apabila satu BID'AH tumbuh, maka akan mematikan satu SUNNAH. Dan apabila cahaya SUNNAH menyinari, maka kabut BID'AH akan menyingkir. Untuk itu, sebarkan terus matahari SUNNAH, agar kabut tebal BID'AH semakin sirna dan hilang.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah :

إذا طلعت شمس السنة في قلب العبد قطعت من قلبه ضباب كل بدعة (الإمام ابن القيم، مدارج السلكين 374/1)

Jika telah terbit matahari SUNNAH di dalam hati seorang hamba, maka kabut segala BID'AH akan menyingkir dari hatinya.” (Madarij Salikin, 1/374).

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

مَا يأَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَن

Tidaklah setiap tahun datang atas manusia, melainkan mereka mengadakan BID'AH padanya dan mereka mematikan SUNNAH, sehingga yang hidup adalah BID'AH dan SUNNAH akan mati.” (Al Ibanah Kubro Ibnu Bathah).

Berkata Hasan bin ‘Athiyah rahimahullah:

ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله من سنتهم مثلها ولا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة

Tidaklah suatu kaum melakukan BID'AH dalam urusan agama mereka, melainkan Allah akan mencabut suatu SUNNAH yang semisal dari lingkungan mereka. Allah tidak akan mengembalikan SUNNAH itu kepada mereka sampai kiamat” (Lammud Durril Mantsur, hal. 21).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02o2kzGyWkY6b9QYkScaYkqtjJ1auxDHfHff8v3g1b7umHd9ZGMUHVq8FYdy6nBaSol&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Keterikatan Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid Nabi

Keterikatan Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid Nabi
Bismillah...

Dalam beberapa buku sejarah disebutkan bahwa Tsuwaibah dimerdekakan oleh Abu Lahab karena sebab Tsuwaibah telah menyampaikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam. 

Dalam masalah ini perlu diberi catatan : 

[a] Syaikh Abdullah At Tuwaijiri -hafidzahullah- berkata : “Tsuwaibah adalah budak wanita milik Abu Lahab, Ia seorang wanita yang pertama kali menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itulah beliau sering mengunjunginya ketika masih di Makkah. Khadijah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga amat menghormatinya. Ketika masih menjadi budak, Khadijah radhiyallahu ‘anha pernah meminta Abu Lahab untuk menjualnya untuk dimerdekakan, akan tetapi paman nabi itu menolak, ia baru dimerdekakan oleh Abu Lahab pada waktu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah. Pada saat itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan pemberian dan pakaian kepadanya. Hanya saja keislaman dirinya masih diperselisihkan, ia wafat tahun 7 Hijriyah”. (Al Bida’ Al Hauliyyah, hal. 165, dinukil dari kitab Thobaqat Ibnu Sa’ad 1/108, Al Ishabah 4/250 no biografi : 213) 

[b] Ada riwayat yang dijadikan dasar oleh orang orang yang merayakan maulid Nabi khususnya dari kalangan sufiyah (orang-orang tasawwuf) bahwa Diantara kerabat Abu Lahab ada yang bermimpi melihat Abu Lahab lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Abu Lahab menjawab, “Aku di neraka, namun setiap malam senin siksaanku dikurangi. Aku menghisap air kira-kira sebanyak ini diantara jari-jemariku”, Dia memberikan isyarat ke ujung jari jarinya. Hal itu disebabkan aku telah memerdekakan Tsuwaibah” (Al Haawi 1/196) 

Riwayat itu bersumber dari Atsar yang disebutkan oleh Imam Bukhari rahimahullah setelah menyampaikan hadits tentang persusuan.

Imam Bukhari rahimahullah berkata :

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ 

Urwah berkata; Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, “Apa yang telah kamu dapatkan?” Abu Lahab berkata ”Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah.” (HR Bukhari : 5101) 

Atas dasar riwayat diatas mereka mengatakan, Kalau Abu Lahab yang kafir saja diringankan siksanya di Neraka karena bergembira pada malam lahirnya Nabi shalallahu alaihi wasallam maka apalagi seorang Muslim yang mencintai dan bergembira dimalam kelahirannya dan diantara bentuk menampakkan kegembiraan itu adalah dengan merayakannya hari kelahirannya. Inilah syubhat para pelaku amalan bid’ah merayakan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Syubhat ini dibantah dengan beberapa bantahan diantaranya : 

[1] Hadits diatas adalah mursal (terputus sanadnya), hadits ini dinukil secara mursal oleh ‘Urwah tanpa menyebutkan siapa yang menceritakan riwayat itu kepadanya. Hal ini menunjukan bahwa ia bukanlah ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bukan pula ucapan sahabat radhiyallahu ‘anhum. 

[2] Kalaupun statusnya muttashil (bersambung sanadnya), kandungan hadits itu hanya menunjukan mimpi yang tidak bisa di jadikan hujjah atau dalil. Sebab bisa jadi orang yang yang mengalami mimpi tersebut belum masuk islam, sehingga dengan sendirinya hadits itu tidak bisa dijadikan hujjah (Fathul baari 9/145) 

[3] Dalam hadits ‘Urwah yang mursal tadi dijelaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebelum menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dalam hadits yang dituturkan oleh Ibnu Jauzi disebutkan bahwa Abu lahab memerdekakkan Tsuwaibah ketika menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian riwayat-riwayat tersebut bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh para ahli sejarah, mereka menyatakan bahwa Abu lahab memerdekakan Tsuwaibah beberapa tahun setelah ia menyusui Nabi shalallahu ‘alahi wasallam. 

Bahkan Al Hafidz Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata dalam biografi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah menyebutkan bahwa Tsuwaibah yang menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

وأعتقها أبو لهب بعدما هاجر النبي صلى الله عليه وسلم إلى المدينة 

Dan Abu Lahab memerdekakkan Tsuwaibah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah” (Al Isti’ab 1/12) 

Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :

وكانت ثويبة تدخل على رسول الله صلى الله عليه وسلم بعدما تزوج خديجة فيكرمها رسول الله صلى الله عليه وسلم وتكرمها خديجة ، وهي يومئذٍ أمة ، ثم أعتقها أبو لهب 

"Tsuwaibah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau menikah dengan Khadijah. Tsuwaibah masih berstatus budak ketika itu sebelum akhirnya di merdekakkan oleh Abu Lahab” (Al Wafa Bi Ahwalil Musthafa 1/178) 

[4] Tidak ada riwayat yang shahih tentang Abu Lahab bergembira dengan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau Abu Lahab diringankan siksanya di neraka karena sebab memerdekakan Tsuwaibah, bahkan hal ini bertentangan dengan dzahirnya dalil dalil dari Al Quran dan Sunnah bahwa orang kafir tidak akan diringankan siksanya di akhirat, sebagaimana amalan orang kafir tidak bermanfaat di akhirat. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا 

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (QS Fathir : 36)

Allah Ta’ala juga berfirman ;

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْماً مِنَ الْعَذَابِ . قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلالٍ 

Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari”. Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdo’alah kamu”. Dan do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (QS Ghofir : 49-50) 

Adapun amalan kebakan orang kafir didunia bisa saja dibalas dengan kesehatan, rizeki, dan kenikmatan dunia, akan tetapi di akhirat mereka tidak mendapatkan apapaun selain adzab yang pedih, amalan mereka berhamburan seperti debu yang berterbangan. 

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman ;

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا 

"Dan kami hadapi segala amal yang mereka (orang kafir) kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS Al Furqon : 23) 

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ ؟ قَالَ : لَا يَنْفَعُهُ ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, wahai rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyyah adalah orang baik suka silaturahim, memberi makan fakir miskin, maka apakah yang demikian itu bermanfa’at (di akhirat)” Beliau menjawab, ‘tidak bermanfa’at, karena ia tidak pernah mengatakan suatu haripun, wahai Rabbku ampuni dosa dan kesalahanku pada hari kiamat” (HR Muslim : 214) 

Demikian semoga mencerahkan. Wallahu A’lam.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02PSMdjYgg4bcazjtyDn5zUGhZjh4G6N36YsdnMQhP78BbVReH5eBnXcbjj9PzHTmfl&id=100066953493857


https://abughozie.com/keterkaitan-antara-abu-lahab-dengan-perayaan-maulid-nabi/


Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie

➖➖➖➖➖➖➖➖

📲 Abu Ghozie Official

www.abughozie.com

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Merayakan Wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم

Merayakan Wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم
Bismillah...

Para ulama mengatakan, tanggal 12 Rabiul Awal merupakan saat wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Al Lajnah Ad Diamah ditanya, 

متى توفي النبي صلى الله عليه وسلم؟ 

Kapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat? 

Mereka menjawab

وتوفي بالمدينة يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة. (فتاوى اللّجنة الدائمة 381/4).

Wafat di Madinah hari senin tanggal 12 Rabiulawal tahun 11 Hijriah. (Fatawa Al Lajnah Ad Diamah 4/381).

Disebutkan juga dalam Fatwa No 19239 di situs islamweb, tentang wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, 

فقد توفى النبي صلى الله عليه وسلم حين اشتد الضحى من يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من السنة الحادية عشرة للهجرة

Maka sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat pada saat waktu dhuha mulai memanas, hari Senin tanggal dua belas Rabi' al-Awwal tahun kesebelas Hijrah

Sumber : https://www.islamweb.net/ar/fatwa/19239/

Sedangkan lahirnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam para ulama berbeda pendapat. Tidak sepakat tentang tanggal kelahirannya. 

Disebutkan dalam Al Islam Sual Wa Jawab No 128530,

ليُعلم أولاً أن العلماء مختلفون في تحديد تاريخ ولادة النبي صلى الله عليه وسلم على أقوال ، فابن عبد البر رحمه الله يرى أنه صلى الله عليه وسلم وُلد لليلتين خلتا من شهر ربيع الأول ، وابن حزم رحمه الله يرجح أنه لثمانٍ خلون منه ، وقيل : لعشرٍ خلون منه ، كما يقوله أبو جعفر الباقر ، وقيل : لثنتي عشر منه ، كما يقوله ابن إسحاق ، وقيل : وُلد في شهر رمضان ، كما نقله ابن عبد البر عن الزبير بن بكَّار . انظر " السيرة النبوية " لابن كثير ( ص 199 ، 200 ) .

Hendaknya diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang tanggal persisnya kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan beberapa pendapat. Ibnu Abdul Bar rahimahullah berpendapat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tanggal 2 bulan Rabi'ul Awal. Ibnu Hazm rahimahullah menguatkan pendapat bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 8 Rabiul Awal. Ada pula yang berpendapat tanggal 10 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Abu Ja'far Al-Baqir. Ada pula yang berpendapat tanggal 12 Rabiul Awal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ishaq. Adapula yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadan sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abdul Bar dari Zubair bin Bakar. (As-Sirah An-Nabawiah, Ibnu Katsir, hal. 199-200).

Oleh karena itu, sungguh sangat mengherankan, ada sebagian orang yang bergembira, bersuka cita, menabuh rebana dan pesta makanan di hari kematiannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan mengatasnamakan perayaaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal itu merupakan saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat. 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid022YLow6zmBLVugeLeLzkGSn9JvmYxDDw7bsu5x5UGhcjtSUSKEGfHNo1KYWBVhqxel&id=100009878282155


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Popular Posts

Blog Archive