Media pembelajaran seputar sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Showing posts with label syirik. Show all posts
Showing posts with label syirik. Show all posts

Wednesday, November 15, 2023

Peringatan Al-Qur'an dari Meminta Bantuan kepada Mayyit atau Bertawassul dengan Kuburan

Peringatan Al-Qur'an dari Meminta Bantuan kepada Mayyit atau Bertawassul dengan Kuburan
Bismillah...

Istighatsah (meminta bantuan) kepada orang yang sudah mati seperti ucapan sebagian orang, "Yaa Shalaahaddin aghitsnaa.." (Wahai Shalahuddin al-Ayyubi bantulah kami) atau bertawassul memohon kepada orang saleh yang sudah wafat termasuk praktek syirik yang menyalahi akidah tauhid. 

✍🏻 Diantara dalilnya sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama, 

1). Mayyit tidak sanggup memenuhi hajat permohonan mereka.

Allah ta'ala berfirman, 

إن تدعوهم لا يسمعوا دعاءكم ولو سمعوا ما استجابوا لكم ويوم القيامة يكفرون بشرككم 

"Apabila kamu menyeru mereka sungguh mereka tiada mendengar seruanmu, dan andaikata mereka mendengar maka mereka tidak dapat mengabulkan permohonanmu, dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu." (QS. Fathir: 14)

📍 Syaikhul Mufassirin Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah mengatakan, 

"Yang diseru oleh kaum musyrikin dalam permohonan mereka adalah ilah-ilah selain Allah dan al-awtsan yaitu semua objek yang dijadikan sekutu bagi Allah (patung, kuburan, mayyit dll)." 🧷 Jami'ul Bayan (20/453) 

2). Meniru kebiasaan kaum musyrikin yang mereka mengakui keesaan Allah dalam hal Penciptaan namun bersamaan dengan itu mereka menyekutukan Allah dalam hal ibadah/penghambaan.

Allah ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

📍 Al-Hafidzh Ibnu Katsir asy-Syafii rahimahullah berkata, 

"Qatadah, as-Suddi, dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dan Ibnu Zaid sehubungan dengan makna firman-Nya, "Melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." Yaitu agar sembahan-sembahan itu dapat menolong kami dengan syafaatnya dan mendekat­kan kami kepada Allah karena kedudukannya di sisi Allah. 

Karena itulah ucapan mereka dalam talbiyahnya sewaktu melakukan ibadah haji pada masa jahiliah, 

"Labbaik laa syariika lak, illaa syariikan huwa lak, tamlikuhu wa maa malak.” 

(Kupenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu kepunyaan-Mu, Engkau memilikinya sedangkan sekutu-sekutu itu tidak memilikinya). 

Syubhat (kerancuan) seperti inilah yang sengaja dilakukan oleh orang-orang musyrik di masa dulu maupun belakangan. 

Tatkala datang kepada mereka para Rasul yang menolak keyakinan mereka itu dan melarang mereka, serta menyeru mereka untuk memurnikan penghambaannya hanya kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan hal itu sebetulnya sesuatu yang dibuat-buat oleh mereka sendiri kaum musyrikin, maka Allah tidak mengizinkan hal itu, tidak pula meridhainya, bahkan murka terhadapnya dan melarangnya.

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah para thaghut  itu.” (QS. An-Nahl: 36) 

🧷 Tafsir Ibnu Katsir (7/84-85) 

3). Para shahabat Nabi sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengalami berbagai macam ujian dan cobaan yang berat, baik fitnah, percekcokan atau peperangan, tetapi tidak ada dari mereka yang beristighatsah kepada beliau dan bertawassul dengan kuburan beliau, padahal itu sangat mungkin mereka lakukan, bahkan mereka orang-orang yang paling mencintai dan meneladani beliau shallallahu 'alaihi wasallam. 

Disamping itu, tersebar hadits-hadits palsu atau riwayat-riwayat tidak akurat yang dinisbatkan kepada para ulama yang membolehkan istighatsah kepada mayyit atau bertawassul dengan kuburan mereka. Seperti hadits yang berbunyi, 

"Jika engkau bingung dalam menyikapi banyak perkara, maka mintalah tolong dari para penghuni kubur!"

Para ulama mengatakan hadits ini palsu dengan kesepakatan ahlul ilmi.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0GdNUaJNFdoyWcqhMKYCZnVxEQ6pQ1FKTyRUBSqECpjKxoSK7SsyeHqQYTSSNPWhnl&id=100001764454087

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, October 20, 2023

Pohon Keramat

Pohon Keramat
Bismillah...

Dongeng jadul yang masih laris manis di kalangan orang yang tidak beriman kepada Allah Ta'ala.

Abu Waqid al Laitsi rodhiyallahu ‘anhu, berkisah: 

Pada suatu hari kami menyertai Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke daerah Hunain. Kala itu kami baru saja masuk Islam dan meninggalkan kekafiran. 

Kaum musyrikin memiliki satu pohon bidara yang mereka keramatkan. Mereka bertapa di sekitarnya, dan menggantungkan senjata-senjata mereka di atasnya. Pohon itu mereka juluki dengan sebutan Dzaatu Anwaath. 

Ketika kami melewati pohon itu, sebagian kami berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:  

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ

Wahai Rosulullah, pilihkan untuk kami satu pohon untuk menggantungkan senjata senjata kami serupa dengan pohon Dzaatu Anwaath mereka.’ 

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam terkejut dan kemudian bersabda:  

سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Maha Suci Allah, sungguh ucapan kalian itu seperti ucapan Bani Isroil yang berkata kepada Musa: 'buatkanlah untuk kami beberapa sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala).’ (Al A'raaf 138)

Kemudian Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh kalian pasti akan meniru jejak/ cara cara orang sebelum kalian.” (Tirmidzi 2180, Abdur Rozzaq, ibnu Jarir).

Hari ini, perilaku semisal ini masih saja laku, padahal pendidikan sudah maju, keterbukaan informasi dan tekhnologi sudah berkembang pesat.

Hingga hari ini kita masih menemui pohon yang disarungi, sedangkan anak dan istrinya dibiarkan telanjang. Bebatuan yang disuguhi sesajian, sedangkan tetangganya dibiarkan menderita kelaparan.

Namun itulah hidayah, bila Allah telah menyesatkan seseorang, maka tiada yang kuasa membukakan pintu hatinya untuk menerima hidayah.

Ya Allah, teguhkan iman kami hingga akhir hayat kelak. AMIIN.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02keHw4aRLsPvjPEXD968gdxymefGnUuaYmHKCdph7dyP8G8YGAdH55Bq6gTpyeRkxl&id=100044302190144

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, October 4, 2023

Paling Buruk Di Sisi Allah

Siapakah Makhluk Paling Buruk Di Sisi Allah
Bismillah...

🌴🌴🌴

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ (٦٧)

Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan..

(Q.S. Az-Zumar ayat 67)

🌴🌴🌴

Langit dan bumi adalah milik Allah..

Mereka semua makhluk yang membutuhkan karunia-Nya..

Maka orang yang mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya..

Adalah orang paling buruk di sisi Allah..

Walaupun ia baik kepada sesama manusia..

Oleh karena itu Allah tidak akan pernah mengampuni orang yang mati diatas kesyirikan..


Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى


🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/64547

=====🌴🌴🌴🌴🌴=====

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah. Didalamnya terdapat gambar-gambar. Mereka menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda,

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya mereka itu apabila diantara mereka terdapat orang yang sholih yang meninggal dunia, maka mereka pun membangun diatas kuburnya masjid (tempat ibadah) dan mereka memasang didalamnya gambar-gambar untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak” (HR. Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528).

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, July 31, 2023

BOLEH JADI Kita Belum Bertauhid..

BOLEH JADI Kita Belum Bertauhid..
Bismillah...

🗣️ Naik darah ketika melihat praktek riba, khamer, judi, prostitusi, tetapi membisu saat ada orang bodoh yang percaya klenik "orang pintar"..

🔇 Membisu ketika ada yang menggorok leher kerbau untuk dipersembahkan kepada jin penunggu..

☝🏻 ITU TANDA KITA BELUM PAHAM ESENSI TAUHID YANG MENJADI INTI DAKWAH PARA NABI.

🌠 Tauhid bukan cuma ibadah menghambakan diri hanya kepada Allah semata tetapi juga meninggalkan kesyirikan dengan segala macam bentuknya.

📌 Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya." 

(QS. An-Nisa': 48)

✍🏻 Al-'Allamah Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata,

"Ayat tersebut menunjukkan syirik adalah dosa yang paling besar karena Allah mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuni pelakunya selagi tidak bertaubat.

Adapun dosa-dosa selain syirik maka itu di bawah kehendak Allah (selain kezaliman yang menyangkut hak manusia).

Jika Dia berkehendak maka Dia mengampuni pelakunya di akhirat dan jika Dia berkehendak maka Dia akan mengazabnya." 

📚 Fat-hul Majid hlm. 65


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02gz3wH52cB2pcgM3dVoREaDAMjpsvfAkMEba2NJn5MkxDm41SuMHX9x3CdD5wZJwSl&id=100001764454087

____

©️ Share Yuk! 

Join Telegram Channel

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Saturday, April 15, 2023

Khawatir Jatuh Kepada Kesyirikan

Khawatir Jatuh Kepada Kesyirikan
Bismillah...

🌴🌴🌴

Syaikh Muhammad Attamimi rohimahullah berkata,

الشرك قد يقع ممن هو أعلم الناس

‏وأصلحهم وهو لا يدري،

‏كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

‏”الشرك أخفى من دبيب النمل”

Kesyirikan bisa terjadi kepada orang yang paling berilmu dalam keadaan ia tidak tahu. Sebagaimana sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Syirik itu lebih tersembunyi dari langkah semut..”

(Al Jawahir Al Mudhiah, 23)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ

Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya. Sungguh syirik itu lebih tersembunyi daripada jalannya semut.

🌴🌴🌴

Para nabi khawatir dirinya jatuh kepada kesyirikan…

Mereka berlindung kepada Allah darinya..

Karena hati itu mudah berubah ubah..

Nabi Ibrahim alaihissalam yang dikenal sebagai ayahnya para Nabi (Abul-anbiya’) dan sebagai kekasih Allah (Khalilurrahman) pun merasa khawatir kalau-kalau terjatuh pada kesyirikan. Sampai beliau memanjatkan doa,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

(QS. Ibrahim 35).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟ قَالَ: (قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لما لا أعلم

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh kemusyrikan itu lebih tersembunyi daripada jejak semut. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang jika Engkau ucapkan, maka akan hilang kemusyrikan darimu, baik sedikit ataupun banyak? Ucapkanlah, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat menyekutukanmu dalam kondisi aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepadamu dari apa yang aku tidak ketahui.

(HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

🌴🌴🌴

Maka janganlah kita merasa aman dari syirik..

Walaupun kita telah mempelajari tauhid bertahun tahun lamanya..


Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

======🌴🌴🌴🌴🌴======

🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/62576

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, January 25, 2023

Ilmu Laduni

Ilmu Laduni
Bismillah...

Kata Ilmu Laduni, sangat akrab dikalangan tasawuf sufiyyah dan para pencari ilmu kedigjayaan. Ilmu ini terobsesi dengan ilmunya Nabi Khidir ‘alaihissallam, yang bisa menerka dan menebak apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Padahal kalau kita baca al Qur’an dan tafsirnya dari ulama ahlus sunnah, menunjukan bahwa Nabi Khidir bisa berbuat seperti itu karena perintah dan izin Allah Ta’ala.

Nabi Khidir diceritakan bahwa beliau melubangi perahu, membunuh anak kecil, dan membangun rumah yang mau roboh, sampai-sampai Nabi Musa ‘alaihis salam protes dan mempertanyakan perbuatannya. Cerita ini tertuang dalam Al Qur’an surat al Kahfi ayat 70 – 78.

Allah Ta'ala berfirman mengenai lanjutan kisah tersebut :

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; DAN BUKANLAH AKU MELAKUKANNYA ITU MENURUT KEMAUANKU SENDIRI. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (QS. Al Kahfi : 79-82).

Maka sungguh sangat mengherankan ketika ada orang yang bersusah payah mencari dan mendapatkannya dengan berbagai macam cara, agar memiliki ilmu seperti Nabi Khidir ‘alaihis sallam.

Ilmu Laduni atau ilmu gaib ini, khusus hanya diberikan kepada Nabi Khidir. Tidak diberikan kepada manusia biasa seperti kita. Bahkan Nabi shalallahu’alaihi wasallam pun tidak mengetahui yang gaib, kecuali yang Allah kabarkan kepadanya.

Kalau seandainya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengetahui yang gaib, tentu Beliau bisa menghindari dari kemudaratan yang menimpanya.

Misalkan, Beliau akan menghindari pergi ke Thaif untuk mendakwahi karib kerabatnya, karena disana Beliau akan mendapatkan kemudharatan, dilempari batu sampai berdarah-darah. Begitu pula tidak akan ikut pergi perang Uhud, karena beliau akan kena tombak, sampai giginya tanggal. Begitu pula para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, semisal Hamzah radhiyallahu ‘anhu, pamannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau tidak akan pergi perang Uhud, karena akan kena tombak, dirobek perutnya dan dikunyah-kunyah hatinya. Begitu pula Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu yang ditikam, Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang dibunuh ketika membaca al Qur’an, begitu pula Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu yang ditikam, tentu mereka semua akan menghindarinya kalau mereka tahu apa yang akan terjadi.

Manusia semulia Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, tidak memiliki ilmu untuk mengetahui apa yang akan terjadi, apalagi orang di di zaman sekarang ini.

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang tidak mengetahui yang gaib, kecuali yang Allah Ta’ala beritakan kepadanya.

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (الأعراف : 188).

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS. Al A’raf : 188).

Dan Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (الأنعام : 50).

Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepada-mu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)? (Al An’am : 50).

Hanya Allah lah yang mengetahui yang gaib, dan tidak ada seorang pun di permukaan bumi ini yang mengetahui yang gaib.

Allah Ta'ala berfirman :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (النمل : 65 ).

Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS.An Naml : 65).

Dan Allah Ta'ala berfirman :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ. (الأنعام : 59).

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (QS. Al An’am : 59).

Dan Allah Taala berfirman;

"عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (سورة الحن: 26-27)

(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26-27)

Berkata Al-Qurthubi rahimahullah :

قوله تعالى : عالم الغيب ، عالم رفعا نعتا لقوله : ربي . وقيل : أي هو عالم الغيب والغيب ما غاب عن العباد . وقد تقدم بيانه في سورة ( البقرة ) فلا يظهر على غيبه أحدا إلا من ارتضى من رسول فإنه يظهره على ما يشاء من غيبه ; لأن الرسل مؤيدون بالمعجزات ،

Para ulama rahimahumullah berkata, ‘Ketika Allah Taala memuji dirinya yang mengetahui perkara gaib dan bahwa hal itu merupakan kekhususanNya yang tidak ada pada makhlukNya, maka hal ini menjadi dalil bahwa tidak ada satu pun yang mengetahui perkara gaib selain Dia. Kemudian Dia mengecualikan orang yang Dia ridai dari kalangan para rasul, lalu Dia berikan kepada mereka perkara gaibnya melalui wahyu kepada mereka dan menjadikannya sebagai mukjizat mereka dan petunjuk yang benar atas kenabian mereka.” (Tafsir Al-Qurtubi, 19/28)

Berkata Para Ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah Lil Ifta :

Ilmu gaib merupakan kekhususan Allah Taala, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya dari kalangan makhluk, baik dia jin atau lainnya, kecuali berdasarkan wahyu Allah yang diberikan kepadanya kepada siapa yang Dia kehendaki dari kalangan malaikat dan rasul-rasulNya.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 1/346).

Mudah-mudahan risalah ini bisa menyadarkan sebagian kita yang bersusah payah mencari dan mempelajari ilmu yang tidak mungkin didapatkan. Dan juga menyadarkan sebagian kita yang masih percaya kepada orang yang mengaku memiliki ilmu kasyaf, yang bisa menebak, menerka dan menerawang apa yang akan terjadi.


https://www.facebook.com/903924823277358/posts/pfbid02cn5cSLVLPXBwSzNi2apnfj2jo5YVAWgFc2QSJpDnmKxGmH1teJVFm4ekJ9KiDnWHl/


AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, December 7, 2022

Kafir dan Syirik Bagi Orang Yang Menjadikan Mayyit Sebagai Wasilah

Kafir dan Syirik Bagi Orang Yang Menjadikan Mayyit Sebagai Wasilah
Bismillah...

Kafir dan Syirik Bagi Orang yang menjadikan mayyit sebagai wasilah (jembatan/perantara) doa antara dia dengan Allah..!!

Orang yang mengatakan,

"Kita bertawassul kepada mayyit/ruh mayyit dengan menjadikan mayyit/ruh mayyit sebagai wasilah (jembatan/perantara) doa antara kita kepada Allah agar doa kita didengar dan diijabah oleh Allah Azza Wa Jalla karena kedudukan si Mayyit/ruh mayyit"

Ini sebenarnya sedang mengakui kesyirikannya sendiri, karena makna terselubung dari kata-kata tersebut adalah,

"Saya MEMINTA DAN MEMOHON PERTOLONGAN kepada mayyit/ruh mayyit untuk mendatangkan kemanfaatan menjadi jembatan atau perantara MENGANTARKAN doa kepada Allah, yang dengannya Allah baru mendengar dan mengabulkan permintaan doa"

Ini mengandung Kekafiran dan Syirik Akbar berlapis-lapis dengan 3 alasan,

[1] Ia meminta dan memohon pertolongan kepada selain Allah Azza Wa Jalla Meminta dan memohon pertolongan masuk ke dalam doa istighatsah dan Isti’anah

Istighatsah yaitu meminta/memohon ghauts (penyelamatan) dan dipakai pula dalam makna nushrah (pertolongan)

Isti'anah, meminta/memohon ma’unah (pertolongan) atau kemenangan atas segala sesuatu

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

- QS Al Fatihah [1] : 5

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

بَلۡ إِيَّاهُ تَدۡعُونَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُونَ إِلَيۡهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوۡنَ مَا تُشۡرِكُونَ 

Hanya kepada-Nya kamu minta tolong Jika Dia menghendaki, Dia hilangkan apa (bahaya) yang kamu mohonkan kepada-Nya, dan kamu tinggalkan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".

- QS Al An’am [6] : 41

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ 

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu

- QS Al Anfal [8] : 9

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Bila kau meminta, mintalah kepada Allah dan bila kamu meminta pertolongan, mintalah kepada Allah

- HR Tirmidzi no 2440 | 2516 dan Ahmad no 2537, 2627, 2666 

Dan barangsiapa yang memalingkannya kepada selain Allah Azza Wa Jalla, maka ia telah berbuat Syirik Akbar, KARENA doa adalah ibadah dan ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Azza Wa Jalla

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 

Dan Rabbmu berfirman : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah (beribadah kepada)-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina

- QS Ghafir [40] : 60

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Doa adalah ibadah” Kemudian beliau membaca : “Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina" (QS Ghafir [40] : 60

- HR Abu Dawud no 1264 | no 1479, Tirmidzi no 2895, 3170, 3294 | no 2969, 3274, 3372, Ibnu Majah no 3818 | no 3828 dan Ahmad no 17629, 17660, 17665, 17705, 17709

[2] Dia juga telah melakukan Syirik Akbar dalam perkara Ta'thil (meniadakan) baik itu kepada Dzat-Nya, kekhususan perbuatan-Nya ataupun Sifat-Nya, dengan mengatakan bahwa Allah Azza Wa Jalla itu tuli, YANG baru mengetahui dan mendengar doa seseorang jika diantarkan oleh mayyit, dan mengatakan bahwa Allah Azza Wa Jalla itu pelit, YANG baru mengetahui dan mengabulkan doa seseorang jika diantarkan oleh mayyit Padahal Dia Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Memberi

Kekafiran Syirik Ta’thil (meniadakan) baik itu kepada Dzat-Nya, kekhususan perbuatan-Nya ataupun Sifat-Nya, sebagaimana Fir’aun –laknatullah- yang melakukan Syirik Ta’thil (meniadakan) kepada Allah dengan mengaku dirinya sebagai Allah, Rabb semesta alam, dan melakukan Syirik Ta’thil (meniadakan) dengan meniadakan atau menolak sifat-Nya yang di atas langit, yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sifatkan kepada diri-Nya sendiri

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ (24) فَأَخَذَهُ ٱللَّهُ نَكَالَ ٱلۡأٓخِرَةِ وَٱلۡأُولَىٰٓ (25)

(Fir’aun) berkata : “Akulah Rabbmu yang paling tinggi Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia

- QS An Naziat [79] : 24-25

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي فَأَوۡقِدۡ لِي يَٰهَٰمَٰنُ عَلَى ٱلطِّينِ فَٱجۡعَل لِّي صَرۡحٗا لَّعَلِّيٓ أَطَّلِعُ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ (38)

Fir‘aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Rabb bagimu selain aku Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta

- QS Al Qashash [28] : 38

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا لَّعَلِّيٓ أَبۡلُغُ ٱلۡأَسۡبَٰبَ (36) أَسۡبَٰبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ إِلَّا فِي تَبَابٖ (37)

Dan Fir‘aun berkata, “Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Rabbnya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir‘aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir‘aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian

- QS Ghafir [40] : 36-37

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah (wafat 751 H) berkata,

"Kesyirikan ada dua macam, yang pertama kesyirikan dalam bentuk ta'thil (peniadaan), dan kesyirikan ini merupakan jenis kesyirikan yang paling jelek lagi buruk, seperti kesyirikannya Fir'aun yang mengatakan : "Siapa Rabb semesta alam itu ?” Begitu juga ucapannya kepada Haman yang dinukil oleh Allah ta'ala didalam firmanNya,

“Dan Fir‘aun berkata, “Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Rabbnya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta (QS Ghaafir [40] : 36-37)

Kesyirikan dan Ta'thil adalah dua perkara yang sangat erat kaitannya, karena setiap musyrik pasti mu'aththil (meniadakan), begitu juga sebaliknya setiap mu'athil pasti musyrik Akan tetapi, kesyirikan tidak melazimkan adanya pokok ta'thil, tapi, bisa jadi orang yang berbuat kesyirikan masih mengakui keberadaan Allah Ta'ala dan Shifat-Shifat-Nya, hanya saja, dirinya meniadakan hak pengesaan kepada Allah Sedangkan fondasi kesyirikan serta kaidah yang kembali semua permasalahan padanya ialah melakukan ta'thil"

- Jawabul Kaafi, hlm 310

[3] Kekafiran Kesyirikan ini juga sebagaimana kafirnya Kristen yang meminta dan memohon pertolongan kepada seseorang yang tidak hadir di hadapannya yaitu Nabi Isa alaihissalam, dan juga kafirnya Yahudi yang memohon dan meminta pertolongan kepada Mayyit, yaitu Uzair

Kafirnya Nashrani yang menyeru (berdoa) kepada selain Allah yaitu kepada Nabi Isa alaihis salam dan Maryam agar dapat mendatangkan keberkahan, keselamatan, kemanfaatan, perlindungan dan pertolongan atau menolak kemudaratan, yang secara bersamaan waktunya mereka juga menyeru (berdoa) kepada Allah dan meyakini, membenarkan dan mengimani bahwa Allah adalah Sang Pencipta

SEBAGAIMANA JUGA Kafirnya Yahudi yang menyeru (berdoa) kepada selain Allah yaitu kepada Uzair agar dapat mendatangkan keberkahan, keselamatan, kemanfaatan, perlindungan dan pertolongan atau menolak kemudaratan, yang secara bersamaan waktunya mereka juga menyeru (berdoa) kepada Allah dan meyakini, membenarkan dan mengimani bahwa Allah adalah Sang Pencipta

DAN JUGA SEBAGAIMANA JUGA Kafirnya orang Musyrik yang menyeru (berdoa) kepada selain Allah, yaitu kepada Jin, Malaikat, orang shalih yang telah wafat dan berhala-berhala lainnya agar dapat mendatangkan keberkahan, keselamatan, kemanfaatan, perlindungan dan pertolongan atau menolak kemudaratan, yang secara bersamaan mereka meyakini, membenarkan dan mengimani bahwa Allah adalah Sang Pencipta

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا (56) أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا (57)

Katakanlah (Muhammad), “Panggillah mereka yang kamu anggap sebagai ilah (tuhan) selain Allah, mereka tidak kuasa untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula mampu mengubahnya” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)

- QS Al Isra [17] : 56

Tafsir Muyassar,

Katakanlah Wahai Rasul, kepada kaum Musyrikin, “Sesungguhnya sesembahan-sesembahan yang kalian seru untuk menyingkirkan mudarat dari kalian, mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu, dan tidak kuasa untuk mengalihkannya dari kalian kepada orang lain, dan tidak kuasa memindahkannya dari satu kondisi ke kondisi lainnya Dzat Yang Mahakuasa untuk itu, Dia-lah Allah semata” Ayat ini berlaku umum terhadap semua yang diseru selain Allah, baik yang sudah mati maupun berada di tempat yang jauh, baik dari kalangan para Nabi maupun orang-orang shalih atau lainnya (jin dan malaikat), dengan istilah meminta tolong, doa atau memohon lainnya Tidak ada ilah yang haq untuk disembah dan diibadahi kecuali Allah

- Tafsir Muyassar, I/877

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H), beliau berkata,

Mengenai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Panggilah mereka yang kamu anggap (ilah) selain Allah” Al Aufi bercerita dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Dulu, orang-orang Musyrik berkata, “kami menyembah (beribadah kepada) Malaikat, Isa dan Uzair, dan yang mereka seru (untuk memohon/berdoa) itu adalah Malaikat, Isa Uzair”

Adapun firman-Nya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb” Al Bukhari meriwayatkan dari Sulaiman bin Mahran Al A’masy, dari Ibrahim, dari Abu Mu’ammar, dari Abdullah bin Mas’ud mengenai firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb” ia berkata,

Yakni Sebagian kelompok dari bangsa Jin disembah manusia Lalu bangsa jin tersebut masuk Islam (HR Bukhari no 4345, 4346 | Fathul Bari no 4714, 4715)

As Saddi telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehu­bungan dengan Firman-Nya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) (Al Isra [17] : 57)” Bahwa yang dimaksud ialah ISA, IBUNYA, DAN UZAIR

Mughirah telah meriwayatkan dari Ibrahim bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah ISA, UZAIR, MATAHARI, DAN BULAN

- Tafsir min Ibnu Katsir, V/178-179

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) berkata,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad)” kepada kaum MUSYRIKIN yang telah menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah, mereka beribadah kepada tandingan-tandingan (sekutu-sekutu) itu sebagaimana peribadahan mereka kepada Allah, BERDOA KEPADA TANDINGAN-TANDINGAN (SEKUTU-SEKUTU) ITU SEBAGAIMANA MEREKA BERDOA KEPADA ALLAH DISERTAI TUNTUTAN KEHARUSAN KEPADA MEREKA UNTUK MENGOREKSI APA YANG MEREKA SANGKA DAN YAKINI JIKA MEREKA BENAR “Panggillah mereka yang kamu anggap” Sesembahan selain Allah Lantas, saksikanlah apakah mereka mampu memberi manfaat atau menolak bahaya dari kalian ?”

Kemudian Allah Ta’ala juga memberitahukan bahwasannya sesembahan selain Allah –yang disembah orang-orang musyrik itu- sibuk sendiri sehingga lalai dari mereka, bersamaan dengan perhatian mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari sarana (wasilah) untuk itu (mendekatkan diri kepada Allah) Maka Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang mereka seru itu” Dari KALANGAN PARA NABI, ORANG-ORANG SHALIH MAUPUN MALAIKAT “mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)” maskudnya mereka berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Rabbnya Mereka mengerahkan segala kemampuan berupa amal-amal shalih yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan kepada rahmat-Nya

- Taisir Al Karim Ar Rahman As Sa’di, IV/266-267


Atha bin Yussuf


https://wwwfacebookcom/100081182600047/posts/pfbid02RWDEJgK6fcfLD37BS2dWFVU2JZUkRsUh62dYY81R5JrSx7Hjp7HkxQmSDcBZk3Nsl/

===============================

Wallahu a'lam bishawab

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“ [HR Muslim, 3509]

Jazaakumullahu khairan


Share:

Thursday, November 17, 2022

Awal Mula Terjadinya Kesyirikan Karena Berlebih-lebihan Terhadap Orang Saleh

Awal Mula Terjadinya Kesyirikan Karena Berlebih-lebihan Terhadap Orang Saleh
Bismillah...

Kaumnya Nabi Nuh dahulu berlebih-lebihan mengagungkan orang saleh dengan menggambar wajah mereka, memahat patung mereka hingga akhirnya menjadi sesembahan selain Allah.

Allah telah memperingatkan di dalam Al-Qur'an,

لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونسرا 

"Dan mereka berkata, "Janganlah sekali-kali kamu tinggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu tinggalkan penyembahan (terhadap berhala) Wadd, jangan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nashr." (QS. Nuh: 23)

Sikap berlebih-lebihan ini pula yang menimpa orang-orang Yahudi tatkala mereka melampaui batas mengagungkan Uzair hingga diklaim sebagai anak Allah. 

Begitu pula dengan orang-orang Nashara yang berlebih-lebihan mengagungkan Nabi Isa 'alaihissalam hingga mengangkat kedudukannya mencapai derajat ketuhanan.

Allah menceritakan klaim orang yahudi yang menyatakan bahwa Uzair adalah anak Allah dan klaim orang nasranii yang menyatakan bahwa Isa adalah anak Allah– maha suci Allah dari perkataan mereka –.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.” (QS. at-Taubah: 30).

Diantara umat Islam ada yang meniru jejaknya orang-orang Yahudi dan Nashara yang berlebih-lebihan mengagungkan orang saleh dengan menggambar wajahnya, mengultuskannya, mengeramatkan kuburannya.

Semua itu bentuk perbuatan berlebih-lebihan yang telah Allah peringatkan di dalam Al-Qur'an,

لا تغلوا في دينكم

"Janganlah kamu berlebih-lebihan di dalam agamamu." (QS. An-Nisa': 171)

Allah juga mengingatkan,

اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (QS At-Taubah: 31)

Ayat ini ditafsirkan dengan hadits Adi bin Hatim Ath Thoo-i radhiyallahu ‘anhu dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat tersebut kepada beliau. Kemudian beliau berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka”. 

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟

Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?”. 

Beliau (Adi bin Hatim) berkata : “Benar”. 

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فتلك عبادتهم

Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka” 

[Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan mengatakan : “Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan beliau menilainya hasan, ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, dan Ath Thabrani dari banyak jalur”. Fathul Majid hal. 109, Daarus Salam]

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sendiri sudah mewanti-wanti umatnya,

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم؛ إنما أنا عبد فقولوا: عبد الله ورسوله

"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashara berlebih-lebihan memuji Isa bin Maryam, maka ucapkanlah yang semestinya bahwa aku ini hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Al-Bukhari 3445)

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga mengingatkan,

إياكم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين

"Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam beragama karena yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan." 

(HR. An-Nasa'i 3057, Ibnu Majah 3029, Syaikh Nashir "Shahihul Jami' 2680)

Setan memang tidak sekaligus menjerumuskan manusia ke dalam jurang kemusyrikan tetapi dia lakukan secara bertahap dan awal mula terjadinya kesyirikan di dunia ini karena ghuluw (sikap berlebih-lebihan).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0332tKhU8pQVYQywK2DFTHucCKmP7iXdZxQwN5ghRg9Y7MJSaHiRd2dxeLqubY82cSl&id=100001764454087

https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Wednesday, November 2, 2022

Lebih Tersembunyi Dari Langkah Semut Yang Merayap

Syirik, Lebih Tersembunyi Dari Langkah Semut Yang Merayap
Bismillah...

🌴🌴🌴

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan, semoga اللّـﮧ memberikan kefahaman dan manfaat dari hadits Nabi kita berikut :

Dari Ma’qil bin Yasar rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata : “Aku bersama Abu Bakar ash-Shiddieq rodhiyallohu ‘anhu menemui Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Setelah bertemu, beliau berkata, ‘Wahai Abu Bakar! Sungguh perbuatan syirik lebih tersembunyi dari langkah semut yang merayap.’

Abu Bakar berkata, ‘Bukankah syirik itu menjadikan bersama Allah ada sesembahan yang lain?’

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Demi Alloh yang diriku dalam Tangan-Nya, sungguh perbuatan syirik itu lebih tersembunyi dari langkah semut yang merayap. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika engkau ucapkan maka syirik itu baik yang kecil maupun yang besar akan hilang darimu?

Beliau bersabda : ‘Ucapkanlah :

اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَ أَنَا أَعْلَمُ وَ أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

Alloohumma innii a’uudzu bika an-usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka limaa laa a’lam

Artinya :

Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui’”. [HR. Al Bukhori rohimahullah dalam Adabul Mufrod, Shohiehu Adabil Mufrod no. 554]

🌴🌴🌴

Semoga اللّـﮧ melindungi kita semua dari terjatuh kepada kesyirikan dan semua perkara yang mengundang murka dan siksa-Nya. Dan semoga kita termasuk hamba2-Nya yang selamat di dunia dan di akhirat kelak.

Aamiin yaa rabbal 'aalamiin

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad


🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/7416


Oleh, Ustadz Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, September 27, 2022

Berbuat Syirik Dengan Anjingnya

Berbuat Syirik Dengan Anjingnya
Bismillah...

Diantara salah satu perbuatan syirik dalam perkataan adalah ketika seseorang mengatakan, "Seandainya bukan karena anjing ini, niscaya kita kecurian tadi malam."

Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

"Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka dalam keadaan berbuat syirik." (Surah Yusuf 106).

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu anhu : 

إن أحدهم يُشرك حتى يُشرك بكلبه: فيقول لولا الكلب لسُرقنا الليلة. فتح الباري لابن رجب (١٤٧/١).

Sesungguhnya salah seorang dari mereka, ada yang berbuat syirik, sampai ia berbuat syirik dengan anjingnya. Lalu Ia berkata : "Kalau bukan karena anjing ini, niscaya kita kecurian tadi malam." (Fath Al-Baari karya Ibnu Rajab : (1/147)).


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0mjxphJcb8sesSRiWFCC3YDY5sKkahv4JJMhZjer5sU56rzvbZAYuynWm1issTwosl&id=100009878282155

AFM

https://abufadhelmajalengka.blogspot.com/2019/12/berbuat-syirik-dengan-anjingnya.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Monday, September 19, 2022

Belajar Sihir Untuk Membentengi Diri

Belajar Sihir Untuk Membentengi Diri
Bismillah...

Mempelajari ilmu sihir hukumnya haram, baik untuk diamalkan maupun sekedar untuk membentengi diri dari sihir..

Karena Allah ﷻ telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa belajar ilmu sihir merupakan salah satu bentuk kekufuran..

وَ لَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَ مَا أُنْزِلَ على الْمَلَكَيْنِ بِبَابِيْلَ هرُوْتَ وَ مرُوْتَ, وَ مَا يُعَلِّمَانِ من أَحَدٍ حَتَّى يَقُوْلآ إَنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

Mereka (syaithan-syaithan) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) oleh sebab itu janganlah kamu kafir”. (Qs Al-Baqarah 102)

Dan juga sebagaimana disebutkan pada hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المَُوْبِقَاتِ ؟ قَالُوا يَارَسُوْلَ اللهِ وَ مَا هُنَّ ؟ قَالَ الشِرْكُ بِاللهِ وَ السِّحْرُ وَ قَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَ أَكْلُ الرِّبَا وَ أَكْلُ ماَلِ الْيَتِيْمِ وَ التَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَ قَذْفُ الْمحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan..

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa tujuh perkara tersebut?"

Beliau ﷺ menjawab,

Berbuat syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh kecuali dengan haq (benar), makan riba, makan harta anak yatim, lari dari pertempuran dan menuduh zina wanita mukminah yang terhormat serta menjaga kehormatan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi yang membolehkan belajar ilmu sihir hanya sekedar untuk memenbentengi diri, mereka berdalil dengan hadits,

تَعَلَّمُوا السِّحْرَ وَلاَ تَعْمَلُوا بِهِ

Belajarlah kalian ilmu sihir dan jangan mengamalkannya”.

Perlu diketahui bahwa hadits tersebut adalah HADITS PALSU.

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah  1/38)


🌐 https://linktr.ee/Hijrahsalafusshalih

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

 

Share:

Wednesday, September 14, 2022

Tidak Disadari, Lisan Juga Bisa Berbuat Syirik, Padahal Syirik adalah Penghapus Amalan Shalih

Bismillah...

Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)

Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, ”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”

Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.

Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah) dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)

Itulah syirik. 

Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar). 

Syirik seperti ini ada 2 macam.

Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.

Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. 

(Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Syirik, Penghapus Amalan-Amalan Shalih

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an yang mulia:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Qs. Az Zumar: 65).

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebab turunnya ayat ini: “Para salaf menyebutkan sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lainnya, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu: bahwasanya kaum Musyrikin dengan kejahilan mereka, mengajak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk beribadah kepada sesembahan mereka bersama mereka” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/113).

Juga firman Allah Ta’ala:

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan (QS. An An’am: 88)

Contoh Lisan yang Terjatuh dalam Kesyirikan: Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’. Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’Hari ini sangat panas sekali, sehingga kita menjadi capek’-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.

Perbaikilah Diri

Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An Nisa [4]: 116).

Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.

Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam

’Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).


https://pengusahamuslim.com/929-tidak-disadari-lisan-juga-bisa-berbuat-syirik.html

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Friday, September 9, 2022

Takut Sial Karena Nabrak Kucing

Takut Sial Karena Nabrak Kucing
Bismillah...

Takut sial ketika mendengar suara burung tertentu, atau melihat ular melintas di jalan, atau menabrak kucing, atau tanda-tanda yang lain sehingga dia urungkan niatnya dari bepergian atau dia tunda rencananya maka itu tradisi kaum musyrikin jahiliah yang disebut dengan tathoyyur.

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu 'anhu berkata,

الطيرة شرك الطيرة شرك وما منا إلا ولكن الله يذهب بالتوكل

Rosulullah ﷺ mengatakan takut sial itu syirik, takut sial itu syirik dan tidaklah seorangpun diantara kita (kecuali pernah terlintas hal itu dibenaknya) akan tetapi Allah yang menghilangkannya dengan tawakkal." (HR. Abu Dawud 3910, At-Tirmidzi 1614 sanadnya shohih)

Hadits ini secara tegas menunjukkan haromnya tathoyyur dan termasuk perbuatan syirik karena ketergantungan hati kepada selain Allah dan ini bukti lemahnya tauhid seseorang.

Orang yang takut sial dirinya diliputi was-was tatkala ingin mengerjakan sesuatu lantaran melihat pertanda ini dan itu yang sebetulnya tidak ada hubungan sebab akibat baik secara syariat maupun nalar. 

Yang ada dalam hati dan pikirannya hanya sial, sial dan sial dirinya dibayang-bayangi ketakutan dan kekhawatiran yang tidak jelas.

Semestinya yang dilakukan seorang mukmin bergantung kepada Allah dengan tawakkal dan apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya dirinya berdoa,

اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت ولا يدفع السيئات إلا أنت ولا حول ولا قوة إلا بك 

Alloohumma laa ya'ti bil hasanaat illaa anta wa laa yadfa'us sayyi-aat illaa anta wa laa hawla wa laa quwwata illaa bik

"Ya Allah, tidak ada yang kuasa mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang kuasa menolak kejelekan kecuali Engkau, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau." 

Jika nabrak kucing ini di luar kesengajaan manusia, maka dia tidak menanggung resiko apapun. Kecuali jika hewan itu milik orang lain. Maka dia menanggung ganti rugi ke pemiliknya.

Allah berfirman,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Tidak ada dosa bagi-mu untuk perbuatan yang kamu tidak senngaja, tetapi (yang ada dosa) apa yang disengaja oleh hatimu.” (QS. al-Ahzab: 5).

Sehingga tugas bagi mereka yang secara tidak sengaja menabrak kucing hingga mati adalah menguburnya, agar bangkai kucing ini tidak mengganggu orang lain.

Apakah Menabrak Kucing Berpengaruh Pada Janin?

Kami tidak menjumpai adanya satupun dalil yang mengkaitkan antara tindakan membunuh binatang dengan kehamilan istri. Padahal kita sangat yakin, banyak istri sahabat yang hamil bertepatan dengan Idul Adha. Andaikan menyembelih binatang bisa berpengaruh buruk pada janin, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkannya.

Sementara, meyakini sesuatu sebagai sebab terhadap sesuatu yang lain, padahal tidak memiliki hubungan sebab akibat, baik secara ilmiah maupun syariah, maka termasuk perbuatan syirik kecil.

Allahu a’lam.


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid06cZqaDsRU9eLR5f4uYVgHNTubdXLziLbVrD3e1r6oeUc9JKEty2Cb3gHnN3Mw3wrl&id=100001764454087

Join channel telegram : https://t.me/manhajulhaq

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Tuesday, August 23, 2022

Dukun Penglaris

Dukun Penglaris = Penipu
Bismillah...

Akhir-akhir ini viral diberita, bahwa para dukun melaporkan pesulap abang, salah satunya karena jobnya berkurang dan penghasilannya menurun.

Ini menunjukkan kedustaan dan kebohongan publik yang dipertontonkan oleh para dukun. Seharusnya penghasilan dan job mereka terus mengalir, buat apa selama itu jual jimat penglaris kepada masyarakat kalau mereka sendiri mau bangkrut. 

Kalau kang Sule ditanya, apa kiat rizkinya melimpah kepadanya? Dia katakan, menyambung silaturrahim dan berbakti kepada orang tua.

Terlepas profesinya beliau sebagai pelawak, yang dalam islam dilarang banyak tertawa, apalagi membuat orang tertawa dengan perkataan, perbuatan atau cerita yang kadang penuh dusta, namun pernyataannya mementahkan yang namanya ada jimat penglaris dari para dukun.  


Baca juga : Lawakan sebagai mata pencaharian :


Wis, jangan percaya dukun, JUAL PENGLARIS KOK MELAPOR POLISI karena job dan penghasilannya menurun.!!!


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid022nrWn2cUrimsfXTEBvM91qHngNkv5zJbjBaBQcKm5mTkmGMBFSxpPdff4BP4Du2Yl&id=100009878282155

AFM

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya dan dengan tetap menyertakan sumber, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.


Share:

Thursday, January 31, 2019

Jangan Berbuat Kerusakan Di Bumi

Jangan Berbuat Kerusakan Di Bumi
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. [al-A’râf/7:56]

Saat menjelaskan maksud ayat ini, Abu Bakar bin ‘Ayyâsy rahimahullah (wafat th. 794 H) berkata, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi ketika mereka sedang dalam kerusakan, lalu Allâh Azza wa Jalla memperbaiki mereka dengan mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka barangsiapa mengajak kepada sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ia benar-benar termasuk orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.”[1]

Abu Ja’far ath-Thabari rahimahullah (wafat th. 310 H) mengatakan, “Maksud dari firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Adalah janganlah engkau menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dan janganlah engkau berbuat maksiat di muka bumi, karena perbuatan seperti itu adalah pengerusakan yang sebenarnya di muka bumi.

بَعْدَ إِصْلَاحِهَا  yakni setelah Allâh memperbaiki bumi itu untuk orang-orang yang menaati Allâh Azza wa Jalla, dengan mengutus para rasul kepada mereka yang menyeru kepada kebenaran, dan menjelaskan hujjah-hujjah kepada mereka.”

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا  yakni ikhlaskanlah semua doa dan amal hanya untuk Allâh Azza wa Jalla dan janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan apapun juga seperti ilah-ilah, berhala dan lainnya. Serta hendaklah semua yang engkau lakukan itu didasari dengan rasa takut kepada siksa-Nya dan mengharapkan pahala-Nya.”[2]

Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) mengatakan, “Mayoritas ahli tafsir mengatakan, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan mengajak ketaatan kepada selain Allâh Azza wa Jalla setelah Allâh Azza wa Jalla memperbaikinya dengan mengutus para rasul dan menerangkan syariat serta mengajak supaya taat kepada Allâh Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya menyembah selain Allâh, berdoa kepada selain-Nya dan melakukan perbuatan syirik kepada-Nya adalah kerusakan yang paling besar di muka bumi. Bahkan kerusakan bumi pada hakekatnya hanyalah disebabkan oleh syirik kepada Allâh dan menyalahi perintah-Nya”.

Dengan demikian perbuatan syirik, berdoa kepada selain Allâh Azza wa Jalla , mengagungkan sesembahan selain-Nya dan mentaati selain Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kerusakan terbesar di muka bumi. Semua ini tidak mendatangkan kebaikan sama sekali untuk bumi dan juga untuk penduduknya kecuali kalau Allâh menjadi satu-satunya Dzat yang mereka ibadahi dan taati, memohon kepada-Nya dan tidak taat kepada selain Allâh Azza wa Jalla , kemudian selalu menaati rasul-Nya dan mengikuti (petunjuk)nya, bukan yang lain. Makhluk selain Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya wajib ditaati jika menyerukan ketaatan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun jika menganjurkan perbuatan maksiat dan menyuarakan hal-hal yang menyalahi syariat-Nya, maka ia tidak boleh didengar dan ditaati.

Barangsiapa memperhatikan kondisi alam, maka ia akan dapati bahwa setiap kebaikan di muka bumi ini bersumber pada tauhidullâh (mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla ), beribadah kepada-Nya dan menaati Rasul-Nya. Sebaliknya, setiap kejahatan, fitnah, malapetaka, kekeringan, berkuasanya musuh atas umat Islam dan bencana lainnya, penyebabnya adalah menyalahi Rasul-Nya dan menyeru kepada selain Allâh dan Rasul-Nya.”[3]

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan tentang ayat ini, “Allâh Azza wa Jalla melarang perilaku merusak dan hal-hal yang membahayakannya, setelah Allâh Azza wa Jalla melakukan perbaikan di muka bumi. Karena jika berbagai macam urusan sudah berjalan dengan baik dan setelah itu terjadi kerusakan, maka kondisi demikian ini lebih berbahaya bagi umat manusia. Maka, Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal itu, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya agar beribadah, berdoa, merendahkan diri kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Oleh karena itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman ( وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ), “…Berdoalah kepada-Nya dengan penuh rasa takut dan penuh harap…” Maksudnya, Takut terkena siksa Allâh Azza wa Jalla dan berharap bisa meraih pahala melimpah di sisi-Nya.

Kemudian Allâh berfirman ( إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ), “…Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” Allâh menggunakan kata قَرِيبٌ  dan bukan قَرِيْبَةٌ  (padahal kata رحمة  itu untuk muannats, mestinya menurut bahasa harus menggunakan قَرِيْبَةٌ –red), karena yang dijelaskan adalah kandungan dari kalimat rahmat yaitu tsawâb (pahala), atau karena kata rahmat itu disandarkan kepada Allâh Azza wa Jalla. Oleh karena itu, Allâh mengatakan :

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik [4]

FAWAID AYAT INI

Dari uraian di atas, kita bisa mengambil beberapa faidah[5] :
  • Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan perbuatan syirik, maksiat dan kerusakan lainnya.
  • Sesungguhnya perbuatan maksiat itu merusak akhlak, amal dan rezeki
  • Para rasul diutus untuk memperbaiki kehidupan di muka bumi
  • Wajib berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla dengan penuh keikhlasan, karena doa adalah ibadah
  • Beramal dan berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla harus dilandasi dengan rasa takut dan penuh harap
  • Dianjurkan untuk berbuat ihsan (berbuat kebaikan)

-------------------------

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Tafsîr Ibnu Abi Hâtim ar-Râzi 4/124 cet. Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah
[2] Tafsîr ath-Thabari 5/515 cet. Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah
[3] Badâi’ul Fawâid, hlm. 385, tahqîq Basyîr ‘Uyûn dan lihat juga Badâi’ut Tafsîr hlm 1/404 oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, dikumpulkan oleh Yusra as-Sayyid Muhammad
[4] Tafsîr al-Qurânil ‘Azhîm 3/429, tahqîq Sâmi bin Muhammad Salâmah, cet. Ke-IV Dârut Thayyibah th. 1428 H
[5] Taisîr Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân oleh Syekh Abdurrahmân as-Sa’di t dan Aisarut tafâsîr oleh Syekh Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri dan kitab-kitab lainnya).

Read more https://almanhaj.or.id/9963-jangan-berbuat-kerusakan-di-bumi.html

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Tuesday, January 15, 2019

Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah

Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah
Ritual mempersembahkan tumbal atau sesajen kepada makhuk halus/jin yang dianggap sebagai penunggu atau penguasa tempat keramat tertentu adalah kebiasaan syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk) yang sudah berlangsung turun-temurun di masyarakat kita. Mereka meyakini makhluk halus tersebut punya kemampuan untuk memberikan kebaikan atau menimpakan malapetaka kepada siapa saja, sehingga dengan mempersembahkan tumbal atau sesajen tersebut mereka berharap dapat meredam kemarahan makhluk halus itu dan agar segala permohonan mereka dipenuhinya.

Kebiasan ini sudah ada sejak zaman Jahiliyah sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan tauhid (peribadatan/penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata) dan memerangi syirik dalam segala bentuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasannya ada beberapa orang dari (kalangan) manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. al-Jin: 6).

Artinya, orang-orang di zaman Jahiliyah meminta perlindungan kepada para jin dengan mempersembahkan ibadah dan penghambaan diri kepada para jin tersebut, seperti menyembelih hewan kurban (sebagai tumbal), bernadzar, meminta pertolongan dan lain-lain.

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ، وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا، قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Dia berfirman), ‘Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah teman-teman dekat mereka dari golongan manusia (para dukun dan tukang sihir), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan/manfaat dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, sedang kalian kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’aam:128).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Jin (syaitan) mendapatkan kesenangan dengan manusia menaatinya, menyembahnya, mengagungkannya dan berlindung kepadanya (berbuat syirik dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sedangkan manusia mendapatkan kesenangan dengan dipenuhi dan tercapainya keinginannya dengan sebab bantuan dari para jin untuk memuaskan keinginannya. Maka, orang yang menghambakan diri pada jin, (sebagai imbalannya) jin tersebut akan membantunya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.”

Hukum Tumbal dan Sesajen dalam Islam

Mempersembahkan kurban yang berarti mengeluarkan sebagian harta dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah suatu bentuk ibadah besar dan agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (Qs. al-An’aam: 162-163).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berkurbanlah.” (Qs. al-Kautsar: 2).

Kedua ayat ini menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkurban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih kurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, maka mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (baik itu jin, makhluk halus ataupun manusia) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah tumbal atau sesajen, adalah perbuatan dosa yang sangat besar, bahkan merupakan perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (Qs. al-Baqarah: 173).

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Artinya, sembelihan yang dipersembahkan kepada sembahan (selain Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berhala, yang disebut nama selain-Nya (ketika disembelih), atau diperuntukkan kepada sembahan-sembahan selain-Nya.

Dalam sebuah hadits shahih, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya.

Hadits ini menunjukkan ancaman besar bagi orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya, dengan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dijauhkan dari rahmat-Nya. Karena perbuatan ini termasuk dosa yang sangat besar, bahkan termasuk perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pelakunya pantas untuk mandapatkan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijauhkan dari rahmat-Nya.[8]

Penting sekali untuk diingatkan dalam pembahasan ini, bahwa faktor utama yang menjadikan besarnya keburukan perbuatan ini, bukanlah semata-mata karena besar atau kecilnya kurban yang dipersembahkan kepada selain-Nya, tetapi karena besarnya pengagungan dan ketakutan dalam hati orang yang mempersembahkan kurban tersebut kepada selain-Nya, yang semua ini merupakan ibadah hati yang agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.

Oleh karena itu, meskipun kurban yang dipersembahkan sangat kecil dan remeh, bahkan seekor lalat sekalipun, jika disertai dengan pengagungan dan ketakutan dalam hati kepada selain-Nya, maka ini juga termasuk perbuatan syirik besar.

Dalam sebuah atsar dari sahabat Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat, ada dua orang yang melewati (daerah) suatu kaum yang sedang bersemedi (menyembah) berhala mereka dan mereka mengatakan, ‘Tidak ada seorangpun yang boleh melewati (daerah) kita hari ini kecuali setelah dia mempersembahkan sesuatu (sebagai kurban/tumbal untuk berhala kita).’ Maka, mereka berkata kepada orang yang pertama, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’ Tapi, orang itu enggan –dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak akan berkurban kepada siapapun selain Allah Subhanahu wa Ta’ala’–, maka diapun dibunuh (kemudian dia masuk surga). Lalu, mereka berkata kepada orang yang kedua, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’, -dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu untuk dikurbankan.’ Maka mereka berkata lagi, ‘Kurbankanlah sesuatu meskipun (hanya) seekor lalat!’, orang itu berkata (dengan meremehkan), ‘Apalah artinya seekor lalat’, lalu diapun berkurban dengan seekor lalat, –dalam riwayat lain: maka merekapun mengizinkannya lewat– kemudian (di akhirat) dia masuk neraka.’

Hukum Berpartisipasi dan Membantu dalam Acara Tumbal dan Sesajen

Setelah kita mengetahui bahwa melakukan ritual jahiliyyah ini adalah dosa yang sangat besar, bahkan termasuk perbuatan syirik kepada Allah, yang berarti terkena ancaman dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni (dosa) perbuatan syirik (menyekutukan-Nya), dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (Qs an-Nisaa’: 48).

Maka, ikut berpartisipasi dan membantu terselenggaranya acara ini dalam segala bentuknya, adalah termasuk dosa yang sangat besar, karena termasuk tolong-menolong dalam perbuatan maksiat yang sangat besar kepada Allah, yaitu perbuatan syirik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Qs. al-Maaidah: 2).

Imam Ibnu Katsir berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling tolong-menolong dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, yang ini adalah al-birr (kebajikan), dan meninggalkan perbuatan-perbuatan mungkar, yang ini adalah ketakwaan, serta melarang mereka dari (perbuatan) saling membantu dalam kebatilan dan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan maksiat.

Dan dalam hadits shahih tentang haramnya perbuatan riba dan haramnya ikut membantu serta mendukung perbuatan ini, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba, orang yang mengusahakannya, orang yang menulis (transaksinya), dan dua orang yang menjadi saksinya, mereka semua sama (dalam perbuatan dosa).

Imam an-Nawawi berkata, “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) diharamkannya menolong/mendukung (terselenggaranya perbuatan) batil (maksiat).”

Hukum Memanfaatkan Makanan/Harta yang Digunakan untuk Tumbal/Sesajen

Jika makanan tersebut berupa hewan sembelihan, maka tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apapun, baik untuk dimakan atau dijual, karena hewan sembelihan tersebut dipersembahkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dagingnya haram dimakan dan najis, sama hukumnya dengan daging bangkai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (Qs. al-Baqarah: 173).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Semua hewan yang disembelih untuk selain Allah tidak boleh dimakan dagingnya.

Dan karena daging ini haram dimakan, maka berarti haram untuk diperjual-belikan, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala jika mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia (juga) mengharamkan harganya (diperjual-belikan).”

Adapun jika makanan tersebut selain hewan sembelihan, demikian juga harta, maka sebagian ulama ada yang mengharamkannya dan menyamakan hukumnya dengan hewan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akan tetapi pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, insya Allah, adalah pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz yang membolehkan pemanfaatan makanan dan harta tersebut, selain sembelihan, karena hukum asal makanan/harta tersebut adalah halal dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “(Pendapat yang mengatakan) bahwa uang (harta), makanan, minuman dan hewan yang masih hidup, yang dipersembahkan oleh pemiliknya kepada (sembahan selain Allah, baik itu) kepada Nabi, wali maupun (sembahan-sembahan) lainnya, haram untuk diambil dan dimanfaatkan, pendapat ini tidak benar. Karena semua itu adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan telah ditinggalkan oleh pemiliknya, serta hukumnya tidak sama dengan bangkai (yang haram dan najis), maka (hukumnya) boleh diambil (dan dimanfaatkan), sama seperti harta (lainnya) yang ditinggalkan oleh pemiliknya untuk siapa saja yang menginginkannya, seperti bulir padi dan buah korma yang ditinggalkan oleh para petani dan pemanen pohon korma untuk orang-orang miskin.

Dalil yang menunjukkan kebolehan ini adalah (perbuatan) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika) beliau mengambil harta (yang dipersembahkan oleh orang-orang musyrik) yang (tersimpan) di perbendaharaan (berhala) al-Laata, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (memanfaatkannya untuk) melunasi utang (sahabat yang bernama) ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam hadits ini) tidak menganggap dipersembahkannya harta tersebut kepada (berhala) al-Laata sebagai (sebab) untuk melarang mengambil (dan memanfaatkan harta tersebut) ketika bisa (diambil).

Akan tetapi, orang yang melihat orang (lain) yang melakukan perbuatan syirik tersebut (mempersembahkan makanan/harta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala), dari kalangan orang-orang bodoh dan para pelaku syirik, wajib baginya untuk mengingkari perbuatan tersebut dan menjelaskan kepada pelaku syirik itu bahwa perbuatan tersebut adalah termasuk syirik, supaya tidak timbul prasangka bahwa sikap diam dan tidak mengingkari (perbuatan tersebut), atau mengambil seluruh/sebagian dari harta persembahan tersebut, adalah bukti yang menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut dan bolehnya berkurban dengan harta tersebut kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena perbuatan syirik adalah kemungkaran (kemaksiatan) yang paling besar (dosanya), maka wajib diingkari/dinasihati orang yang melakukannya.

Adapun kalau makanan (yang dipersembahkan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala) tersebut terbuat dari daging hewan yang disembelih oleh para pelaku syirik, maka (hukumnya) haram (untuk dimakan/dimanfaatkan), demikian juga lemak dan kuahnya, karena (daging) sembelihan para pelaku syirik hukumnya sama dengan (daging) bangkai, sehingga haram (untuk dimakan) dan menjadikan najis makanan lain yang tercampur dengannya. Berbeda dengan (misalnya) roti atau (makanan) lainnya yang tidak tercampur dengan (daging) sembelihan tersebut, maka ini semua halal bagi orang yang mengambilnya (untuk dimakan/dimanfaatkan), demikian juga uang dan harta lainnya (halal untuk diambil), sebagaimana penjelasan yang lalu, wallahu a’lam.

Penutup

Demikianlah tulisan ringkas ini, semoga bermanfaat bagi semua orang yang membacanya untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A (muslim.or.id)

===============================

Wallahu a'lam bishawab.

Silakan disebarluaskan tanpa mengubah isinya, semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita. “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya“. [HR Muslim, 3509].

Jazaakumullahu khairan.

Share:

Popular Posts

Blog Archive